MRN 6 – Hadapi Amarah Ayahku

Di bawah sinar rembulan, tato sisik naga di lengan Hao Ren mulai menjadi lebih pudar setelah beberapa kali dicuci. Sepertinya itu berpendar dan memiliki kekuatan misterius.

“Legenda tentang naga yang nenekku bicarakan tidak akan benar, kan?”

“Ren! Ayo main kartu!” Zhao Jiayi berteriak, membangunkan Hao Ren dari lamunan yang dalam.

Setelah bermain kartu hampir sepanjang malam, akhir pekan telah berlalu. Esok akan menjadi hari Senin ketika mereka membuka mata lagi.

“Ren, aku dengar kamu main mata dengan seorang gadis dan sekarang dia memburumu?”

“Aku dengar gadis ini sangat gila, memasang poster buronan di seluruh sekolah. Ah, sayang sekali aku pulang pada hari Sabtu …”

“Aku di kafetaria. Gadis itu cantik, dan dia bahkan menyentuh perut Ren!”

“Hei, Ren. Apa yang kamu lakukan pada gadis kecil itu?”

“Berhentilah menuduh Ren, dia orang yang baik …”

“Tentu saja, Hao Ren adalah pria yang baik! Dia telah mendapatkan Kartu Anak Baik (cuma diterima sebagai teman, tidak lebih) enam kali dalam semester ini!”Read more

MRN 5 – Waktunya Mencari Kekasih Hati

Keesokan harinya, Hao Ren bangun pagi-pagi buta. Dia melakukan beberapa latihan dan memasak sarapan untuk neneknya. Kemudian dia berjalan-jalan di sepanjang pantai bersama neneknya di pagi yang cerah dan menyenangkan.

“Ren, kamu terlihat jauh lebih energik akhir-akhir ini,” kata Nenek kepada Hao Ren dengan ramah sambil menikmati semilir angin laut.

“Nafsu makanku menjadi lebih besar dari sebelumnya juga.” Hao Ren tersenyum.

“He he, apa kamu berkencan dengan seseorang di kampus?” Nenek tersenyum dan bertanya.

“Tidak …” Hao Ren menyanggah.Read more

Magi 31 – Not A Magus

Night and Chaos, what a delightful combination. If someone is looking for the taste of agony and the smell of death, then this was a perfect moment.

We saw that creature who called himself Volos was fighting desperately but without any loss of bravery. The sky was full of sparkling lightning bolts and rumbling thunders. Every few seconds, the night sky was no longer like a night sky.

“Eiwa, think something. It seems we have no more time.”

‘Girl, why you suddenly fall pessimistic?’

“Because I cannot be sure to win that big dragon.”

‘….’

Then why would you act like above the air before?Read more

MRN 4 – Pondok di Tepi Pantai

Setelah meninggalkan gadis kecil yang misterius, Hao Ren pergi ke lantai dua perpustakaan untuk mencari beberapa informasi. Pada akhirnya, dia meminjam beberapa buku yang dia temukan relevan dan berjalan keluar dari perpustakaan.

Seperti yang dia harapkan, gadis kecil itu tidak terlihat ketika dia keluar

Menatap langit yang suram, Hao Ren masih memikirkan seluruh insiden yang melibatkan gadis kecil ini. Dia bertanya-tanya apakah dia akan habis minggu depan.

Jika orang tuanya benar-benar datang menemuinya tentang hal itu, betapa menjengkelkannya itu … Semua itu adalah murni kesalahan si gadis kecil sendiri karena kehilangan harta bendanya. Namun, dia menyalahkan Hao Ren untuk itu supaya dia bisa mengelak dari tanggung jawabnya sendiri.Read more

MRN 3 – Aku Bukanlah Orang Baik?

Tidak ingin mengungkap tato aneh yang muncul pada dirinya, Hao Ren segera menarik tangannya.

Tiba-tiba, gadis kecil yang cantik itu mengulurkan tangannya lagi dan meletakkannya di perut Hao Ren seolah-olah dia sedang mencoba merasakan sesuatu.

“Kita di depan umum, apakah benar-benar perlu bagimu untuk menyentuh perutku?” Menapuk tangan si gadis, Hao Ren tampak tak berdaya.

Pada saat ini, kerumunan belum sepenuhnya bubar. Banyak yang masih menunggu kejadian selanjutnya. Bagi gadis kecil pada seusia itu menggunakan langkah-langkah mengejutkan guna menemukan seseorang di kampus akan membuat yang lain memikirkan segala macam hal.Read more

MRN 2 – Gadis Angkuh nan Cantik

Saat Zhao Jiayi dan yang lainnya di asrama meramalkan bahwa tidak akan ada gadis yang akan melirik Hao Ren dalam tiga tahun ke depan, Hao Ren sudah meninggalkan sekolah dengan panik. Dia melambaikan memanggil taksi dan sedang dalam perjalanan ke rumah sakit yang memiliki departemen dermatologi terbaik – Rumah Sakit Huaxi.

Di sana, Hao Ren menjalani serangkaian prosedur administrasi yang bertele-tele dan pemeriksaan yang melelahkan. Setelahnya, sembari memelajari setumpuk laporan dari peralatan medis, ahli kulit ahli dengan tegas mengatakan kepada Hao Ren bahwa goresan pada lengannya disebabkan oleh sejenis pewarna, seperti dalam lunturnya warna sejumlah seprei berkualitas buruk.

Menurut laporan itu, tidak ada mutasi pada sel-sel di tubuhnya. Semua hasil dari pelbagai tes menunjukkan tidak ada kelainan. Apalagi warna hijau itu bukan hasil pigmentasi. Adapun pola sisik, itu hanya kebetulan – warna kebetulan menyebar dalam pola yang relatif teratur. Yang paling penting, itu pastinya tidak menular.Read more

MRN 1 – Menelan Permen

Mendung gelap menutupi seluruh langit dan menjatuhkan bayangan mereka ke muka bumi. Suara guntur samar bergema di langit saat kilat menyambar-nyambar.

Rasanya seperti sang kilat telah siap untuk melesat menembus awan dan memecah-belah langit.

“Sial!” Hao Ren menatap cuaca buruk sambil menghela nafas; dia tahu badai mendekat. Dia menghirup udara lembab saat dia melangkah menuju toko pojok yang berjarak sekitar 300 meter.

Jika swalayan di area asrama tidak sedang dibenahi, jika dia tidak menggunakan tiga gunting berturut-turut pada pertandingan suit, dia tidak akan berada di sini dengan piama dan sandal. Dia tengah berbaring di tempat tidurnya membaca buku, tetapi teman sekamarnya ingin bermain kartu.

Jedar! Guntur yang keras terdengar, dan Hao Ren mulai berlari ketika dia mencoba menghindari badai.Read more

Magi 30 – The Descent of Chaos

From the orange skyline into the dark night sky, tonight pictures only came twice in a millennium. People call it the Celestial Parade of Ten Thousand Auroras.

Why? Since each dragon became a luminous object with different pattern and colors.

Some will have a pattern of bright light on their abdomens, and some were strip lucent on their dorsal, or some bright dots around their neck through to the tails.

Stronger dragons would have a blinding glow of lights, and they would make the moon became shy on the night.

***

“Brat stop right there!”

“D**n you, old lizard. This is a family business. Stay out of it!”

“Family your a*s you little imp! Return the Her Majesty’s Child right now!”

“Bah, this is my little sister. I must protect her. Do you want to take her away? Step over my dead body!”

“You b*****d. If not because I give a face to the late Queen, I am already skinned you alive! You are not even part of the clan. So, you wish to create a commotion on this sacred pilgrim?”

“I am not, it is you, old lizard!”

Between the lights, those were dancing in the night sky. Two dots seemed flying fast. One gave chase to the other.Read more

Magi 29 – The Feelings

Became a victim from someone else quarrels were one of the pathetic things in this world. I touched my swollen checks, and the pain will remain for some hours for this kind of bruises.

This girl is unbelievably terrible when she out of her mind.

People from Black Antlers Sect already left. They left just like that. I have a feeling that next time our meeting would be the battlefield.

“They came at the worst timing,” Ione grumbled.

‘Bad thing always come at a bad time, if not why people call it a bad thing?’

Both of us sit under the Golden Spruce. Ione sipped her tea while I enjoyed my milk. The warm fragrance of tea and honey danced around us.Read more

Magi 28 – Rage of a Grand Magus

Ancient people of the East said used to say, ‘You can easily enter the doorway of heaven, but instead you pushed yourself to the gateless hell. Whom would you blame for your own foolishness?’

“Yo Brats!” The senior brother yelled at us, “Where is your old man? Call him here; we must have this place.”

Ione stood there in front of me.

Her silence was more than a thousand words.

The three teenager girls didn’t like how Ione acted.

“Senior Brother, she is around five or six. Moreover, there is no other here. Perhaps their parents left them here. Just kick them out, we would only be wasting time to try to speak to them.”

The senior brother nodded, the snapping his finger. The two elders directly moved towards us.Read more

1 2 3 11