Tanpa terasa, sudah empat puluh hari berlalu di Wasswa. Berarti hanya dalam lima hari lagi, separuh dari waktu yang kumiliki sudah digunakan. Dan terus terang, sampai saat ini, semua masih berjalan sebagaimana yang kuharapkan.

Tubuhku sedang melesat ringan di antara rerimbunan Wasswa, dan beberapa belas meter di belakangku terdengar lengkingan tinggi dan suara gemeresak, yang dengan cepat mendekat.

“Ah…, kupikir akan bertemu panda yang imut, tapi mengapa mereka yang muncul?”

Aku bergumam kesal. Sekelompok kalajengking abu yang masing-masing berukuran sepanjang delapan meter sepertinya mengira aku mangsa yang lesat, atau mungkin mereka kesal ketika upayaku memetik sejumlah beri menggagalkan perburuan mereka pagi ini.

Tak ingin berpikir banyak, aku hanya melesat sejauh mungkin. Menangani satu ekor kalajengking abu tidaklah sulit, selama waspada terhadap sengatnya yang dapat mengubah apapun menjadi abu dengan seketika. Tapi menghadapi dua lusin kalajengking abu yang marah akan terlalu menyita waktu.

Aku harus mencari beri dan beberapa buah lain, serta herbal dan ikan untuk cadangan makanan dalam beberapa hari ke depan, tidak memiliki waktu untuk bermain dengan para serangga beracun ini.

 

Dalam beberapa hembusan napas, aku telah melesat jauh beberapa puluh kilometer meninggalkan kelompok menyebalkan itu.

Senyum simpul muncul di wajahku, teknik meringankan tubuh “Kepakan Perak Peregrinus” memang bisa dikatakan luar biasa. Entah kenapa teknik ini terbengkalai berdebu di salah satu pojok area terlarang akademi. Meskipun tidak sepopuler “Sayap Elang Emas” dan “Balet Kelinci Petir”, teknik “Kepakan Perak Peregrinus” bisa dibilang terbaik. Hanya saja memang datang dengan harga yang mahal, yaitu tahap dasar hanya bisa digunakan oleh mereka yang memiliki fisik setara kesatria penerus dan sistem ethereal dengan sembilan kanal terbuka.

Jika ada yang ingin mencoba teknik ini, mereka akan terburu ditakhlukan oleh usia sebelum mampu menguasainya.

Aku bisa dengan mudah bermanuver di antara lebatnya hutan Wasswa dengan teknik meringankan tubuh ini. Sesekali aku melompat ke puncak kanopi untuk melihat wilayah-wilayah yang agak terbuka, di mana kemungkinan beri dan tanaman herbal dapat tumbuh. Di wilayah kanopi yang tertutup rapat, aku hanya bisa mengumpulkan sejumlah jamur. Aku hanya berharap, tidak ada yang beracun yang salah kupetik.

 

Aku meletakkan pancing buatanku di tepi danau sembilan warna. Sejumlah cacing gemuk berhasil kukumpulkan dari tumpukan kaya humus di Wasswa, dan mereka menjadi korban atas perut laparku dan imajinasiku akan ikan asap yang gurih.

Bulan menggantung tinggi, ini adalah purnama kedua yang kulewatkan sejak aku meninggalkan rumah. Aku memikirkan kembali, bagaimana kabar kakek, nenek dan ibu. Kuharap mereka baik saja. Setidaknya saat ini mereka pasti tahu aku tidak bersama kelompok anak-anak yang pergi berkemah. Dan karena aku tidak mengirimkan pesan bahaya, setidaknya mereka tahu bahwa aku baik-baik saja.

 

Malam larut, dan dingin semakin kentara bersama dengan suara-suara malam yang merindukan bulan dan bintang.

Jika bukan karena nyala api unggun yang menghangatkan, aku mungkin sudah lama kembali ke dalam tenda. Walau tubuhku tidak masalah dengan udara dingin berkat latihan yang mengerikan dengan diagram sihir beban langit, tapi dingin tetaplah sesuatu yang bukan kunikmati secara alami.

Aroma ikan bakar yang terbawa embun malam menambah sedap suasana. Aku sudah menghabiskan dua ekor ikan seukuran lenganku, dan kini masih ada dua ekor lagi tertancam dengan dahan tegak lurus di sekitar api unggun.

Aku meneguk jus yang kubuat dari buah beri, rasanya luar biasa segar. Inilah apa yang kusebut dengan kemah!

 

Bayangan rembulan perak terpantul di permukaan danau yang tenang dengan sempurna, membuatku kadang berpikir, seandainya kehidupan dapat setenang ini – maka semuanya mungkin akan tampak indah.

Sayangnya dunia, di mana konon peradaban telah maju, justru hukum rimba akan semakin maju, mereka yang memiliki kekuatan – menentukan nasib dunia. Hanya dengan bertambah kuat, maka seseorang bisa memiliki kemungkinan untuk turut menentukan nasib dunianya.

“Eh…”

Tiba-tiba bayangan rembulan di danau tersobek…, ada sesuatu di bawah air…, dan sesuatu itu bergerak mendekat ke arahku.

SWUUSSHH…

Sesuatu melesat dengan cepat – melewati celah antara tubuhku yang terkejut dan api unggun – lalu berhenti di sebuah batu datar tak jauh dari api unggun.

Mataku tidak berbohong, aku melihat seekor kucing berwarna putih salju sedang melahap ikan asap sedapku. Tapi bukankah kucing itu baru keluar dari air, tapi kenapa bulunya tidak basah sama sekali.

Aku bisa melihat mata keemasan yang indah, dengan bulu putih panjang yang dimainkan angin dan cahaya dari api unggun. Tidak tampak seperti kucing yang baru keluar dari dalam air. Terutama rambut di keempat kakinya menjuntai lebih panjang, jika saja kedua cakar depannya muncul mencengkram daging, aku mungkin ragu kucing tersebut memiliki kaki. Pada keningnya terdapat kristal bercahaya bermotif tiga sisik naga. Aku tidak pernah melihat kucing seperti ini, tidak juga pernah membaca atau mendengar tentangnya.

Dan yang paling menarik adalah benda seperti kunci tua yang menggelantung di lehernya. Apakah kucing ini memiliki pemilik?

Aku mengambil ikan asap yang masih tersisa satu ekor. Namun si kucing melihat ke arahku, tampaknya dia sudah selesai makan, dan tatapan mata manisnya seakan-akan menginginkan apa yang ada di tanganku.

“Eh…? Kamu masih lapar?” Aku terdiam sejenak, sebelum kemudian melemparkan ikan asap tersebut ke arahnya. “Oh.., tampaknya kamu suka ikan ini.”

Meoooww…

“Ha ha ha…, makanlah. Anggap traktiran dariku. Tapi jika kamu masih mau, kamu harus membawa sendiri ikanmu, aku akan bantu mengasapkannya.”

Dan demikianlah malam kami berdua berlalu.

Sebelumnya

Eiwa 14 - Gelombang Sembilan Kesadaran

Setelah menyelesaikan santap malam dan menyegarkan badan dengan mandi singkat. Aku melompat keluar dari tenda dan duduk di puncak kanopi yang kini dihiasi oleh lautan bintang dan benda-benda angkasa dengan cahaya yang berkelap-kelip. Kehidupan bisa saja memaksa seseorang untuk menghadapi ... Read more

Selanjutnya

Eiwa 16 - Perpustakaan Putih

Enam puluh hari berlalu di Wasswa. Rutinitas yang kulalui menjadi begitu teratur. Berlatih dengan diagram sihir beban langit dari pagi hingga sore. Meditasi melalui teknik Gelombang Sembilan Kesadaran pada malam hari. Ditambah dengan melatih teknik pedang dan bertarung di antaranya. ... Read more