Saat aku membuka kembali mataku, udara segar Danau Sembilan Warna kembali menyambutku. Setelah mengunjungi dunia yang serba putih, kembali ke dunia yang penuh warna di bawah langit biru memberikan rasa nyaman tak terkira dalam diriku.

Selain pemandangan lepas yang selalu didambakan oleh mereka yang dekat dengan semesta, di hadapanku juga berdiri dalam jubah putih yang berkibar-kibar diterpa angin – tampak punggung tegap dari remaja perempuan yang namanya pernah bergema di seluruh daratan dua ribu tahun yang lalu.

Jika bukan aku sendiri yang menyaksikannya, aku tidak akan percaya akan sosok yang ada di hadapanku ini.

“Ah, sudah cukup lama aku tidak menghirup udara luar.” – Aku bisa melihat pundak yang naik dan diikuti dengan hembusan napas yang kuat.

Mungkin ada secarik senyuman dari wajahnya yang tidak tampak olehku?

“Kak Snotra, apakah kakak selalu ada di dalam perpustakaan?”

“Kebanyakan waktu, dan membaca itu menyenangkan tahu.” Lalu dia berbalik dan menatapku, sungguh – wajah seperti malaikat itu – bisa membuat setiap orang berhenti bernapas. “Eiwa, kamu harus banyak membaca, untuk menjadi penyihir, seseorang tidak hanya cukup dengan bakat, pengetahuan dan latihan adalah bagian yang tidak terpisahkan.”

“Baik.”

“Sekarang aku harus melihat dulu, sampai mana kemampuanmu.”

Nona Snotra mengangkat tangannya dan sebuah bola kristal sebesar telur burung unta muncul begitu saja. Lalu dia melepas bola tersebut, dan pelan-pelan bola tersebut melayang di udara hingga setinggi dadaku.

“Setiap sekolah memiliki cara tersendiri dalam menguji murid baru, dan melihat potensi serta pencapaian mereka sebelum dan setelah melatih diri. Ini hanyalah bola kristal yang umum digunakan untuk melihat kemampuan siswa. Coba letakkan kedua tanganmu di atas bola tersebut Eiwa.”

Aku menurut apa yang dikatakan oleh Nona Snotra, sehingga aku dengan tenang aku meletakkan kedua tanganku di atas bola kristal yang melayang di hadapanku. Dengan seketika aku bisa merasakan seperti menyentuh permukaan air yang hangat, dan rasa hangat ini masuk masuk ke dalam seluruh tubuhku melalui jalur-jalur ethereal yang terbuka dengan bebasnya.

“Hmm… bagus… bagus…” Aku mendengar Nona Snotra bergumam, “Oh … lumayan…” lanjutnya, walau aku tidak begitu tahu apa yang dilihatnya karena aku sepenuhnya menutup mataku; “Eh…?” dia terdengar seperti agak terkejut, “Eh…? Eh….? EEEHHH……!?” Kali ini suaranya menjadi sangat keras.

Aku membuka mataku segera, dan melihat eskpresi kaget dari paras cantik di hadapanku.

“Eiwa…! Iblis macam apakah dirimu?”

“Apa…?!” Aku kaget sekali dengan pertanyaan mendadak itu.

“Usiamu berapa?”

“Sedikit lebih dari enam tahun…, kurasa?”

“Enam tahun…, bagaimana mungkin kamu sudah mencapai setidaknya Maestromagi Bintang Lima, dan dengan kemampuan tempur setara seorang Kesatrian Penerus Tahap Puncak. Belum lagi kamu menguasai banyak teknik sebagai kesatria dan penyihir, setidaknya sepuluh ribu gulungan sihir, dan puluhan teknik beladiri dan tempur – yang beberapa di antaranya langka. Eiwa bahkan menguasai Gelombang Sembilan Kesadaran. Ini sungguh berlebihan.” Nona Snotra menggelengkan kepalanya.

Rasanya tidak ada yang bisa kusembunyikan darinya.

“Eiwa, usia berapa kamu menjalani kebangkitan Imihaku?”

“Tepat saat aku lahir.”

“Usia berapa kamu berkenalan dengan Pono?”

“Tepat setelah ulang tahun pertamaku.”

“….”

“Ada apa Kak Snotra.”

“Eiwa, kamu tahu…” Dia menepuk pundakku dengan halus. “Memiliki bakat kadang harus ada batasannya.”

“Eh… kenapa?”

“Karena memunculkan kecemburuan mereka yang tidak berbakat itu adalah dosa!”

“….”

Lihat siapa yang berbicara padaku, Nona Snotra sendiri dikenal sebagai Angelomagi Ruang dan Waktu ketika sejak remaja. Untungnya saja aku bukan mereka yang berlatih berpuluh tahun hingga menjadi renta, dan belum beranjak ke manapun hingga kemudian melihat gadis remaja yang mencapai puncak ilmu sihir, maka mereka pasti merasakan kecemburuan dari orang-orang yang tidak berbakat.

“Eiwa, karena kondisimu berbeda dari kebanyakan anak. Aku akan mengajarimu dengan cara yang berbeda.”

Hei hei…, Nona Snotra sendiri masih anak-anak! Kecuali mungkin dia sudah menjadi anak-anak selama lebih dari dua milenia.

“Ini sebenarnya bukan metodeku, tapi aku pernah melihat seseorang melatih dengan cara ini. Dan hasilnya sangat bagus. Walau aku tidak suka, tapi kurasa ini manjur untukmu.”

“Apa ada yang istimewa dari metode ini?”

“Tidak ada, hanya saja ini memberikan hasil yang terbaik bagi mereka yang memiliki bakat luar biasa, hanya saja…” Nona Snotra tampak sedikit ragu.

“Ya…?” Aku menjadi penasaran.

“Ini akan menjadi sedikit tidak manusiawi.” Dia tersenyum kecil. Tapi apakah aku baru saja melihat malaikatku berubah menjadi iblis?

“….”

Oh tidak, sekarang aku sungguh merasa bahwa berbakat memang dapat mendatangkan bencana.

Sebelumnya

Eiwa 18 - Eiwa Sang Penyihir

Untungnya Nona Snotra hanya tertawa mendengar pertanyaanku. Sepertinya dia paham bahwa aku mungkin terlalu gugup dalam pertemuan mendadak kami. Aku sendiri menjadi salah tingkah, karena sama sekali tidak menyangka ada pertemuan seperti. Sepertinya ini pertama kali aku bertemu seseorang yang ... Read more

Selanjutnya

Eiwa 20 - Neraka? Aku Berlibur di Sana

Bagaimanakah kalian menghabiskan musim panas? Dengan berjemur di tepi danau sambil membakar ikan atau jamur merang? Atau mengunjungi keluarga jauh sambil bergunjing gosip-gosip yang murah nan meriah? Kadang aku berpikir, mungkin itu menyenangkan, hanya saja sepertinya musim panasku kali ini ... Read more