Hei, di sini Eiwa! Ya, benar, sang jenius yang telah lahir ke dunia.

Sudah ada yang mendengar puisi yang kugubah begitu aku lahir ke dunia? Jika belum, berarti dia sudah melewatkan satu bab dari kisah ini, silakan lihat bab sebelumnya.

Katanya, orang yang meninggal akan memasuki seperti lorong cahaya ke dunia yang lain.

Aku berpikir sebelumnya, bahwa aku mungkin meninggal. Karena saat itu aku merasa melewati sebuah terowongan yang sempit.

Apakah aku akan masuk ke neraka – pikirku ketika itu, karena terowongan tersebut begitu gelap.

Namun entah mengapa, aku merasa sebuah kehangatan dan rasa nyaman yang tak terkira – seakan ini adalah sesuatu yang telah dinanti-nantikan.

Lalu tiba-tiba, di ujung terowongan yang gelap itu, tiba-tiba aku disambut sebuah ruang yang bermandikan cahaya.

‘Oh yeah…, aku tidak masuk ke neraka!’ – Aku bahagia, dan kemudian aku melihat samar-samar, dua bayangan tangan raksasa menghampiriku, ‘inikah tangan sang maha pengasih’ – pikirku. Begitu gembiranya diriku, sehingga aku kemudian menggubah puisi tiga kata itu yang kuulang kubacakan berkali-kali!

Kemudian setelah beberapa lama berselang, aku baru tahu itu adalah tangan pembantu persalinan yang membantu aku lahir kedunia ini.

Aku tahu ini setelah sekitar tiga bulan yang lalu, dia datang ke rumahku, memberikan bundaku selamat untuk masa enam bulan setelah melahirkanku. Dan sepertinya memang tugasnya memastikan apakah aku telah disusui tanpa dibantu dengan makanan tambahan dalam enam bulan ini.

Ketika aku lihat-lihat lagi, dia adalah perempuan usia sekitar awal dua puluhan, dan dia sangat cantik.

Aku membayangkan dia mungkin tampak lebih menarik ketika mengenakan seragam kerjanya saat membantu persalinanku. Sayang, takdir setiap bayi baru lahir, walau pun sang jenius seperti diriku ini, tidak bisa dielakkan, yaitu memiliki refraksi mata yang belum sempurna – sehingga dalam beberapa hari aku hanya bisa melihat samar-samar. Baru ketika dibawa pulang aku mulai dapat melihat dengan jelas.

Tapi bagaimana aku tahu itu perempuan yang sama padahal aku tidak bisa melihatnya?

Apa ada yang lupa bahwa aku jenius?

Aku mungkin tidak bisa melihat dengan jelas, tapi aku bisa merasakan fibrasi mana yang sama dari perempuan tersebut.

Oh ya, aku lupa mengatakan – mereka yang mengalami imihaku akan mulai bisa merasakan mana di sekitar dirinya. Sama seperti mata yang melihat, telinga yang menerima suara, atau kulit yang merasakan panas dan sentuhan, maka batin bisa melihat dan merasakan mana – bisa dikatakan ini adalah indera keenam yang lahir setelah mengalami kebangkitan imihaku.

Batin melihat warna mana yang berbeda-beda di alam semesta, tapi spektrum warna mereka tidak terlalu jauh berbeda dengan kenyataannya. Dan batin juga merasakan densitas atau ‘kepadatan’, struktur, dan sifat mana – lebih tepatnya merasakan karakter mana. Ketika warna dan karakter mana dipadukan, maka akan dikenal sebagai konsep aura mana.

Misalnya, hijau lembut adalah auran mana dari kehidupan yang tenang. Mereka yang menjalani masa pensiun di pedesan dan jauh dari hiruk pikuk metropolitan memiliki warna seperti ini.

Biru pekat adalah warna gairah yang penuh misteri. Mereka yang selalu aktif dalam pelbagai unsur kehidupan, namun selalu bertindak dengan pertimbangan yang melampaui daya imajinasi kebanyakan orang memiliki aura mana ini.

Dan tentunya yang terkenal adalah emas berkilau. Mereka dengan jiwa agung memiliki menganyomi seluruh kebijaksanaan. Mereka biasanya dipuja oleh peradaban manusia. Tapi kebanyakan orang yang memiliki aura ini adalah kakek-kakek tua, dan aku tentu saja tidak berminat dengan kakek-kakek tua.

Lalu bagaimana dengan si jenius ini?

Sayangnya, tidak ada aura mana istimewa yang dimiliki sang jenius ini. Setelah aku melihat diriku sendiri, aku hampir yakin aku memiliki aura mana yang dimiliki setiap bayi baru lahir – yaitu ‘tabula rasa’.

Oleh karena aku adalah cangkir yang kosong, maka aku mendapatkan banyak keuntungan.

Satu bulan setelah kelahiranku, ketika aku berpura-pura dan berusaha keras menyembunyikan fakta bahwa aku sudah bisa telungkup dan tengadah sendiri, aku juga menyembunyikan fakta bahwa aku berhasil mempelajari bahasa – alat komunikasi paling vital yang merupakan salah satu ciri peradaban mahluk berakal.

Dua bulan setelah kelahiranku, aku berupaya menyembunyikan fakta bahwa aku memiliki kemampuan baru – yaitu deduksi. Aku tahu siapa yang datang dari balik pintu dengan mendengarkan suara langkah kaki, adalah yang paling sederhana. Jika ditambah dengan merasakan aura mana di sekitarku, aku bisa mengetahui lama dan intensitas hujan semalam dengan melihat basahnya rumput di halaman ketika aku diajak jalan-jalan dalam gendongan pasca bangun pagi.

Saking ngerinya kejeniusanku, aku merasa bisa menjadi detektif handal – yang bahkan bisa menyelesaikan kasus dengan menutup mata. Aku bisa membayangkan namaku terkenal sebagai Detektif Eiwa Tidur, memecahkan semua kasus walau dalam tidur.

Oke, sekali lagi, Eiwa bukan nama perempuan!

Tapi karena setahun kurang sehari ini, aku hanya terkurung di rumah dalam keranjang bayiku. Batas pengetahuan yang kuserap sangat terbatas. Ini membuatku merasa seperti kaktus yang tumbuh kerdis di padang tandus.

Besok adalah hari yang kunanti.

Karena Bunda berkata pada rekan-rekannya, setelah usiaku setahun, dia akan mulai mengajakku ikut serta ke tempat kerjanya – Perpustakaan Akademi Utama Kerajaan Glaedwine.

Perlu diketahui bahwa Akademi Utama adalah sekolah tinggi yang memberikan pelajaran mengenai ilmu sihir, militer, bela diri, ekonomi, hukum, hubungan internasional, sosial dan budaya paling baik di seantero Glaedwine.

Heh… lihat saja, sang jenius ini sudah terkukung setahun kurang sehari. Setelah besok, maka sang jenius ini akan menjadi naga yang lepas ke laut, kembali ke wilayah kejayaannya. Aku akan menghisap habis semua pengetahuan dan ilmu di sana.

Dunia…! Bersiaplah sang jenius ini akan mengguncangmu dengan dahsyatnya!

Ya… tunggu saja.

Oh, sebelum aku lupa. Glaedwine adalah wilayah kerajaan dan sekaligus nama ibu kota kerajaan tempatku lahir dan tinggal.

Ada yang pernah mendengarnya? Ah, mungkin itu bermakna kita tidak hidup di planet yang sama. Sayang sekali, kalian tidak akan pernah berjumpa jenius rupawan sepertiku ini.

Sebelumnya

Eiwa 1 - Puisi Sang Bayi

Eiwa, itulah nama yang diberikan padaku. Siapa yang memiliki ide pertama kali memberikan nama itu? Aku tak tak tahu – tapi orang itu pasti ada masalah dengan otaknya. Mengapa? Karena Eiwa bermakna ‘awal dari seberkas cahaya harapan’ menurut jawaban yang ... Read more

Selanjutnya

Eiwa 3 - Keluarga Kecil

Hari ini adalah hari ulang tahunku yang pertama, sementara aku menikmati adonan hangat dari kokoa dan avokado yang sangat bermanfaat dalam menambah kesempurnaan bulatnya pipi mungilku, Bunda tampak sibuk membersihkan rumah dan memasak sejumlah hidangan. Beberapa koleganya dari perpustakaan akademi ... Read more