Bagaimanakah kalian menghabiskan musim panas? Dengan berjemur di tepi danau sambil membakar ikan atau jamur merang? Atau mengunjungi keluarga jauh sambil bergunjing gosip-gosip yang murah nan meriah? Kadang aku berpikir, mungkin itu menyenangkan, hanya saja sepertinya musim panasku kali ini tidak demikian.

“Awas belakangmu!” … “Refleksmu buruk sekali!” … “Ulangi! Ini memalukan!” … “Itu hanya kadal kecil, kenapa ragu?!” … “Punya ribuan gulungan sihir, tapi tidak bisa menggunakan satupun dengan baik, apa saja yang kamu pelajari selama ini?!”

Ah…, tiba-tiba bidadariku berubah menjadi malaikat kematian.

Memangnya aku punya mata di belakang kepalaku? Bagaimana membuat perisai sihir tepat waktu dari serangan halilintar di jarak sejengkal menjadi penanda refleks yang buruk? Setelah ratusan ribu kali mengulangi sihir yang sama, apa tidak cukup? Bagaimana raja salamander api – salah satu penguasa belantara – dikatakan sebagai kadal kecil yang imut? Sial, bahkan menguasai sejuta gulungan sihir tidak akan membuatku bisa menarik napas lega di atas neraka ini.

 

Biar kukatakan lagi, jika aku lupa sudah pernah menyampaikannya. Ini adalah sebuah dimensi khusus yang diciptakan oleh Nona Snotra setelah dia membayangkan beberapa hal sambil tersungging senyuman yang ‘mengerikan’ di wajah manisnya. Dimensi ini bisa dikatakan sebagai sebuah mikrokosmos – semesta kecil, di mana alam bisa dibentuk sesuai kehendak penciptanya. Dan waktu bisa dikontrol sesuai dengan keinginannya juga.

Sudah sekitar dua ratus lima puluh tahun sejak aku terakhir kali melihat matahari ‘asli’ di luar sana. Ketika Nona Snotra berkata, “Kita akan berlibur dalam waktu yang agak lama Eiwa, dan ini akan sangat menyenangkan!”.

Bahkan ketika berlangsung selama dua ratus lima puluh tahun, aku tidak merasa tubuhku bertambah besar, apalagi menua. Aku masih terkurung dalam tubuh anak usia enam tahun. Jika bukan karena penjelasan Nona Eiwa mengenai mikrokosmos, aku sendiri sudah akan menyangka diriku menjadi bagian dari ras baru – yaitu vampir.

Sayangnya, merasa agak abadi tidak sempat membuat terkesima akan kehebatan seorang Angelomagi Ruang dan Waktu. Hari pertama sudah menjadi kawah candradimuka, dan semakin hari semakin berat latihan yang diberikan oleh Nona Snotra.

Di sini, mendaki gunung pedang dan menyeberangi lautan api adalah sarapan sehari-hari – dalam makna yang sesungguhnya! Mendaki gunung pedang tanpa boleh tergores, dan menyeberangi lautan api tanpa boleh terbakar – setiap pagi, bayangkan! – setiap pagi!

Bahkan ketika Nona Snotra tidak berkata banyak, lambat laun aku menemukan bahwa latihan ini memberikan peningkatan pada kepekaan inderaku dan juga kemampuan serta refleksku dalam mengontrol mana ketika melindungi tubuhku dari bahaya.

Ketika ini menjadi awal dari setiap latihan, aku menjadi paham, Nona Snotra pasti ingin menjadikanku mampu melindungi diriku terlebih dahulu. Setidaknya itu yang kupikirkan hingga suatu ketika dia berkata, “Ah, itu karena aku belum pernah melihat orang benar-benar mendaki gunung dan menyeberangi lautan api, kukira tidak ada orang yang cukup bodoh untuk melakukannya, sehingga rasanya menarik jika bisa melihat itu dalam kenyataan.”

Penderitaanku tidak pernah selesai atau berkurang. Kadang aku menemukan diriku berendam di dalam kawah vulkanik yang aktif, atau bersemedi tanpas sandang di dalam gua es abadi.

Sungguh, latihan dari Nona Snotra tidak penah menjadi bertambah mudah. Hanya saja, ketika satu abad pertama berlalu, tempat-tempat yang sebelumnya kugunakan pertama kali untuk berlatih dan melihatnya sebagai kawah candradimuka ketika masa itu, aku melihatnya kembali dan tak bisa menahan diri untuk berkata, “Ah, seandainya aku bisa menghabiskan waktu sehari di sana, pasti akan menjadi liburan yang menyenangkan.”

Dalam satu abad, tingkat latihan sudah berjarak bagaimana bumi dan langit. Aku merasa menjadi hebat luar biasa berkat latihan yang mengerikan yang telah kujalani.

Hanya saja perasaan itu tidak berlangsung lama. Abad berikutnya aku kembali merasakan de’ javu yang kurasakan seabad sebelumnya.

Haruskah aku melihat diriku berbangga akan pencapaianku? Sebenarnya apa yang sudah kucapai?

“Apa yang kamu pikirkan Eiwa?” Saat itu Nona Snotra bertanya melihat ekspresi galauku.

“Kak Snotra, apakah maknanya mencapai puncak bagi seorang penyihir? Semakin banyak aku berlatih, semakin jauh aku melampaui diriku yang dulu, semakin aku tidak bisa melihat puncak yang hendak kucapai.”

“Ah…” Nona Snotra tersenyum, “Jika kamu bertanya seperti itu, berarti latihanku selama ini tidak sia-sia.”

“Benarkah?”

“Ya, tentu saja. Hanya ketika seseorang tidak memiliki langit untuk dijangkau, dia akan bisa terbang menjelajah langit yang lebih tinggi lagi.”

“Apakah itu bermakna, aku akan harus terus berlatih.”

“Jika kamu masih memiliki hasrat.”

“Tapi bagaimana jika aku bosan berlatih?”

“Maka berhentilah, kehidupan akan membosankan jika kamu hanya berpusat pada hal yang itu-itu saja. Bersenang-senanglah, aku juga melakukan hal yang sama.”

“Eh… benarkah?”

“Tentu saja.”

“Kak Snotra, kalau begitu, bolehkah kita sekarang berhenti berlatih dan bersenang-senang saja?” Aku memelas dengan penuh harap.

“Eiwa, bukankah dua ratus tahun ini kita hanya bersenang-senang? Apa kamu sudah mulai bosan? Ah, jika kamu mulai bosan dengan bersenang-senang, maka kurasa sudah saatnya kita mulai berlatih dengan cara yang sesungguhnya.”

“Eh…..!?”

Dan demikianlah, takdirku tiba-tiba tertulis dengan jelas, dalam lima puluh tahun berikutnya, apa yang kurasakan dua abad sebelumnya bagaikan tidur lelap di atas kasur dari bulu angsa sutra.

Kalian menyebutnya neraka? Heh…, aku bahkan berlibur di sana! Dua setengah abad!

Sebelumnya

Eiwa 19 - Bakat, Dosa, dan Bencana

Saat aku membuka kembali mataku, udara segar Danau Sembilan Warna kembali menyambutku. Setelah mengunjungi dunia yang serba putih, kembali ke dunia yang penuh warna di bawah langit biru memberikan rasa nyaman tak terkira dalam diriku. Selain pemandangan lepas yang selalu ... Read more

Selanjutnya

Eiwa 21 - Tiada Sihir yang Tak Retak

Alkisah seorang laki-laki perkasa bediri dengan gagahnya, rambut panjangnya terbuai dalam tiupan angin yang bercampur aroma darah. Tampak tiga sayatan dalam yang merobek dadanya, sementara darah segar mengucur di ke atas tanah yang luluh-lantah. Tak jauh darinya, terbaring seekor naga ... Read more