Eiwa 22 – Langit kan Membuka Jalan

Apakah Nona Snotra seorang kesatria sihir? Tapi bukankah Nona Snotra sendiri yang berkata bahwa dia seorang penyihir? Sementara aura pedang yang kurasakan tadi, mau tidak mau tidak akan muncul jika seseorang tidak berlatih pedang selama puluhan atau ratusan tahun hingga mencapai kesempurnaan dan tahap tertinggi – Seraf Pedang.

Tampaknya Nona Snotra memahami pertanyaan yang muncul dalam benakku, dia membelai kelapaku dan berkata, “Eiwa, saat waktunya tiba, kamu akan belajar pedang dari yang terbaik. Namun saat ini, manfaatkan waktu untuk berlatih sihir dengan sepenuh hati. Bukankah kamu ingin menolong negerimu yang diambang bahaya? Berusaha menangkap dua merpati sekaligus bisa membuat kehilangan kesempatan mendapatkan seekor merpati.”

Aku terdiam, aku paham apa yang disampaikan oleh Nona Snotra. Dengan bahaya yang masih mengancam Glaedwine hanya tinggal beberapa belas hari saja. Aku harus berlatih sebaik-baiknya. Walau pun dengan kemampuanku saat ini setara Santomagi, namun tidak ada jaminan pihak musuh juga tidak memiliki kartu mereka sendiri.

Aku mungkin memiliki kekuatan, keahlian dan pengetahuan, namun lawan juga memiliki kekuatan, taktik dan yang paling penting adalah mereka memiliki pengalaman – sesuatu yang dalam setiap pertempuran tidak bisa diremehkan.

 

Lima hari terlewati, suasana tenang di danau Sembilan Warna dan sekitarnya tetap tak berubah, seperti merangkul keabadian dalam dekapannya.

Kadang aku duduk bersila di tepi danau, kadang aku berdiri di tengah permukaan danau, berusaha untuk memahami sesuatu yang tak bisa kupahami.

Satu lambaian tangan Nona Snotra malam itu kembali diputar dalam ingatanku, seakan-akan aku melihatnya kembali. Namun semakin kuperhatikan, semakin tidak kupahami, seakan-akan aku melihat ke dalam palung lautan yang pada dasarnya cahaya menjadi sirna.

“Jika Eiwa berjodoh dengan jalan yang kakak tunjukkan, maka langit akan membukakan jalan bagi Eiwa dengan sendirinya, ketika saat itu tiba – Eiwa akan paham dengan sendirinya.”

Kata-kata Nona Snotra tersebut kembali terngiang dalam benakku.

Jalan mana yang ditunjukkan oleh Nona Snotra?

Saat itu, Nona Snotra hanya berdiri sebagai manusia biasa, dia hanya mengibaskan tangannya seperti seorang gadis yang menghela debu dari pandangannya – dan hanya dengan itu dia mampu membelokkan mantra api senyap dari Santomagi.

Gerakan itu … tangan itu… gerakan itu… tangan itu…

Dua hari kembali berlalu tanpa kusadari, sampai pada akhirnya batinku seperti terasa tersengat!

Ah!… Ha … ha … ha…., aku tertawa lepas. “Itu hanya bungkus, itu hanya wujud. Seperti jurus pedang, wujudnya dapat beragam, namun intisarinya adalah yang paling bermakna!”

Aku sudah mempelajarinya, namun aku tidak memahaminya sejauh ini. Setapak Pono memang penuh misteri yang begitu dalam.

Hukum alam dan kesadaran semesta, akua dan ‘aina, bumi dan langit, walau terlihat berbeda – semua pada dasarnya adalah satu, mana dan materi walau dikenali sebagai sesuatu yang berbeda namun pada hakikatnya sama, yang membedakan mereka semua hanyalah wujud. Ini petunjuk paling umum dalam Setapak Pono.

Aku mengibaskan tanganku, dan … wushh… air danau serentak membeku dalam jarak sekitar seratus langkah.

“Oh, tampaknya Eiwa sudah menemukannya.” Suara Nona Snotra tampak gembira dari belakang.

Aku tersenyum lebar, “Mungkin. Hanya saja ini adalah dimensi yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, sekarang aku paham mengapa kakak tidak menjelaskan apapun pada Eiwa. Karena semakin dijelaskan, dapat membuat Eiwa semakin tersesat.”

Nona Snotra tertawa riang, “Inilah Pono, setapak kecil sekaligus jalan agung bagi para penyihir. Bagi mereka yang menghubungkan diri dengan semesta, memahami semesta bermakna melampaui gambaran akan semesta yang bisa diuraikan oleh kata-kata manusia. Kamu begitu muda Eiwa, kukira akan perlu beberapa puluh tahun untukmu bisa memahami ini, tapi kurasa bakat dan daya wawasanmu sungguh mengejutkan.”

“Apakah dengan ini bermakna Eiwa akan sanggup menyetarai angelomagi?” Tanyaku ingin tahu.

“Ha ha ha… Eiwa, kamu baru saja belajar merangkak, dan kini sudah ingin berlari. Berlatihlah lebih tekun lagi, kamu masih memiliki jalan yang panjang di depan.”

“Baik kakak.”

 

Lima hari berikutnya aku kembali membenamkan diri dengan latihan yang berkelanjutan. Aku menghabiskan banyak waktu di perpustakaan putih, mempelajari sejumlah mantra tingkat tinggi dan mantra terlarang. Pengalamanku di area terlarang perpustakaan akademi agung membuat menjelajahi dan mencerna isi perpustakaan putih menjadi lebih mudah.

Karena Nona Snotra tidak melarangku berlatih ilmu pedang di sela-sela latihan sihir, aku pun berlatih untuk tetap menjaga ketajaman naluriku.

Aku tidak lagi berburu untuk mendapatkan menu makanan, karena ada Putih Salju yang kini ketagihan dengan ikan dan daging asap – dia selalu kembali dengan membawa hewan hasil buruannya. Jika dia hanya datang membawa ikan atau kelinci aku mungkin tidak heran, namun ada kalanya dia kembali membawa piton sisik merah sepanjang lima puluh meter atau raja kepiting air tawar yang tinggi badannya mencapai satu meter. Kurasa Putih Salju memiliki selera yang sedikit eksotik.

Sementara Nona Snotra akan asyik memasak menu makanan kami, sehingga aku pun bisa fokus untuk latihan.

Semua berjalan dengan menyenangkan, tidak seperti hari-hari selama dua setengah abad di kawah candradimuka. Semuanya terasa tenteram dan aku menghabiskan waktu untuk bermeditasi, memperdalam wawasanku akan Setapak Pono, hinga pada suatu sore…

Bhuummm….!

Langit menggelegar, angin bertiup kencang seakan badai topan baru saja tiba. Awan keemasan berkumpul di langit tepian danau Sembilan Warna. Dalam satu hembusan napas, sebuah diagram sihir raksasa disertai mandala keemasan bergetar hebat di pusatnya.

Aku mengenalinya, itu mandala ruang dan waktu. Tapi saat aku menoleh ke arah Nona Snotra, dia hanya mengangkat bahunya. Jika bukan dia, siapa yang bisa membuka mandala ruang dan waktu di langit?

Apakah ini pertanda langit membukakan jalan untukku? Atau…

Sebelumnya

Eiwa 21 - Tiada Sihir yang Tak Retak

Alkisah seorang laki-laki perkasa bediri dengan gagahnya, rambut panjangnya terbuai dalam tiupan angin yang bercampur ... Read more

Selanjutnya

Eiwa 23 - Kewaskitaan Eileen

Pandangan Nona Snotra begitu tajam ke arah langit yang kini bergema dengan tarian cahaya keemasan. ... Read more