Eiwa 23 – Kewaskitaan Eileen

Pandangan Nona Snotra begitu tajam ke arah langit yang kini bergema dengan tarian cahaya keemasan. “Oh…, jimat penyelamat satu jiwa ribuan tahun. Aku hampir lupa tentang benda itu.” Kali ini Nona Snotra menggaruk-garuk kepalanya seakan mencoba mengingat sesuatu.

“Kak Snotra tahu itu diagram sihir apa?” Aku nyaris berteriak, karena suara angin begitu memekakkan telingan.

“Tentu saja aku tahu, kurasa Eiwa juga sudah bisa menduga kan?”

“Ya, tapi itu apa sebenarnya?”

“Entahlah, kita akan lihat nanti.”

 

Bhuurrrmmm….

Diagram sihir itu melepas suara keras bersama dengan sinar yang menyilaukan. Dan aku bisa memandang sebuah bola cahaya jatuh dari langit ke arah kami dengan cepat seperti meteor.

“Eiwa, tangkap, jangan biarkan jatuh ke tanah!”

Hupp…!!!

Aku melompat sekuat tenaga menangkap bola cahaya keemasan, namun sebelum tanganku sempat menyentuh bola cahaya tersebut, ia pecah berkeping-keping, dan dari dalamnya sebuah tubuh melayang ke arahku.

Nyaris! Aku menangkap tubuh tersebut, namun tubuhku sendiri terpental ke belakang, jatuh terseret di pinggir danau hingga hampir mendekati batas hutan bambu ungu. Jika aku tidak menangkap dan mendekapnya erat, pasti tubuh ini sudah remuk bersama sebuah kawah kecil di sekitarnya.

Eh… yang benar saja!

Aku merasa ada sensasi dingin tajam memanjang menekan pada leherku. Yang benar saja, aku menyelamatkannya, mengapa ada belati menempel di leherku?

“Jangan bergerak, atau nyawa melayang!”

Terdengar di dekat telingaku suara anak perempuan yang bergetar penuh emosi. Aku tak tahu harus berkata apa, bukan karena mata belati yang menempel di leherku, namun karena suara yang begitu kukenal.

“Kak Eileen, tolong jauhkan belatimu. Ini aku adikmu yang imut.” Aku berbisik balik di telinganya.

Pelan-pelan wajahnya diangkat di dekat dan tepat berada di depan wajahku.

“Eiwa…? Eiwa…!”

“Ya ya… ini aku Kak Eileen. Kakak tidak perlu berteriak.” Aku tersenyum padanya.

“Eiwa… wa… hwa… hwa…!!!”

Tiba-tiba tubuhnya kembali jatuh dan memelukku erat, serta menangis sejadi-jadinya. Entah situasi apa yang baru saja dilewatinya, sehingga membuat anak kecil ini begitu sedih dan ketakutan. Hah…, jika aku berpikir seperti ini, aku sendiri hanyalah anak-anak yang berusia setahun lebih muda dibandingkan Putri Eileen – Priscila Eileen Taner, putri kerajaan Glaedwine.

Aku mungkin tidak begitu dekat dengannya. Namun dari sisi Eileen sendiri sebagai putri kerajaan, seberapa banyak teman yang dia miliki? Beberapa putra putri keluarga bangsawan mungkin akan bertamu ke istana kerajaan, hanya saja itu sekadar formalitas – basa-basi politik. Sehingga Eileen setidaknya setiap bulan sekali atau dua kali akan bermain ke tempatku, hanya untuk menemukan teman, sayangnya aku kadang menjadi teman yang tidak terlalu acuh akan ceritanya – tapi entah kenapa, Eileen sangat dekat denganku – mungkin karena aku tampan?

Setelah sekitar sepuluh menit Eileen menangis, akhirnya dia tenang.

“Kak Eileen, sekarang kakak aman di sini. Ada aku di sini.” Aku memastikan agar dia tenang terlebih dahulu.

“Uhh…” Dia mengangguk.

“Sekarang ceritakan padaku, apa yang terjadi?”

Lalu Eileen menceritakan, bahwa dua hari yang lalu, dia mengalami kebangkitan imihaku. Seluruh istana bergembira, dan mengadakan pesta. Aku sebenarnya diundang, namun karena aku tidak ada di rumah, tentu saja aku tidak tahu masalah ini – dan sebenarnya Eileen tidak perlu menambahkan ekspresi cemberut ketika aku tidak memenuhi undangannya.

Lalu entah kenapa, dini hari tadi, sekelompok pasukan asing menyerang istana raja. Walau pun berhasil dihadang, namun ketika kekacauan masih berlangsung ada beberapa yang berhasil menyusup ke dalam istina, salah satunya menuju ke kamar Eileen. Oleh penjaga pengawal elit keluarga kerajaan, Eileen dilarikan melalui terowongan rahasia.

Entah kenapa, sepertinya musuh mengetahui keberadaan terowongan rahasia tersebut dan satu per satu pengawal Eileen tewas saat melindunginya. Eileen sendiri sudah bersiap menghadapi kematian dengan menghunus belatinya, dia tidak mau mati tanpa perlawannya. Hingga akhirnya Eileen hampir juga tewas di bawah tebasan pedang musuh.

Namun di saat-saat terakhir, liontin pemberian ayah dan ibunya bersinar terang. Hal berikutnya yang dia ingat adalah jatuh dalam dekapan seorang asing, yang ternyata itu Eiwa.

 

Setelah mendengar cerita itu, aku berpikir sejenak.

“Ini aneh…” Celetukku.

Karena bagaimana pun juga rencana menculik Eileen baru akan dilakukan pasca serangan armada langit musuh dimulai. Apakah mereka melakukan perubahan rencana hingga menyebabkan percobaan pembunuhan?

“Ini tidak aneh.”

Aku hampir lupa ada Nona Snotra di samping kami. Walau dia hanya bergumam sambil asyik menyiapkan daging bakar dan sup jamur, dia masih sempat mendengarkan pembicaraan kami.

Aku bergegas memperkenalkan Nona Snotra dan Putri Eileen. Putri Eileen tampak langsung bisa percaya dan dekat dengan Nona Snotra, padahal biasanya dia susah dekat dengan orang lain – apalagi mengingat situasinya. Apa karena Nona Snotra adalah orang yang kuperkenalkan?

“Mengapa menurut Kak Snotra tidak ada yang aneh dalam situasi ini?”

“Ketika orang merencanakan penyerangan pada suatu wilayah, persiapan mereka harus sematang mungkin, dan rencana yang disusun dengan baik harus dilaksanakan tanpa cacat. Jika membrangus keluarga kerajaan adalah salah satu rencana mereka saat penyerangan, maka rencana itu harus dilakukan saat penyerangan. Tapi jika rencana tersebut dilakukan lebih awal, maka itu bermakna ada sesuatu yang mungkin akan menggagalkan seluruh rencana besar.”

“Jadi di dalam istana ada sesuatu yang mengancam rencana mereka?”

“Iya, walau tentu saja ada kemungkinan lain, seperti penyerangan oleh musuh yang berbeda. Tapi serangan ini jika tidak memiliki tujuan yang lebih besar, justru dapat menggagalkan serangan utama.”

“Jadi apakah kira-kira tujuan yang lebih besar ini.”

“Tidakkah kamu dapat menduganya?”

Aku terdiam sejenak. Memikirkan ulang kisah yang disampaikan oleh Eileen. Target mereka jelas adalah keluarga kerajaan. Jika tujuan mereka adalah barang, maka mereka tidak perlu sampai mengejar Eileen yang lari bersama pengawal elitnya. Sedangkan jika yang diincar adalah informasi, maka cara ini adalah cara yang paling ceroboh, musuh tentu saja tidak akan sebodoh itu, apalagi mereka memiliki ‘tikus’ di dalam istana.

Pertanyaannya, mengapa mereka mengincar keluarga kerajaan? Apa ada sesuatu yang berubah?

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku.

Aku memandang ke arah Nona Snotra, dia tersenyum dan menunjuk ke arah Eileen yang duduk bersimpuh di sebelahku. Eileen yang merasa dirinya ditunjuk, jadi kebingungan.

“Apakah ada yang pernah mendengar tentang bakat atau kemampuan khusus yang kadang menyertai kebangkitan imihaku?”

“Maksud Kak Snotra, seperti kemampuan meramal masa depan, atau seperti kemampuan berbicara dengan pelbagai jenis binatang atau tumbuhan?”

“Ya, kewaskitaan adalah salah satu hal langka yang bisa muncul ketika seseorang mengalami kebangkitan imihaku.” Lalu dia memandang ke arah Eileen, “Eileen, apakah kamu merasakan sesuatu yang berbeda? Bisa ceritakan pada kami tentang kebangkitan imihaku-mu?”

Eileen terdiam sejenak, lalu dia menggangguk, “Eileen bisa melihat apakah seseorang berbohong atau tidak.”

“Eh…!” Aku kaget, “Apa ada kemampuan seperti itu?” – mengerikan sekali pikirku.

“Eiwa…!” Eileen mencubitku, mungkin dia merasa teranggu dengan keterkejutanku.

“Ehem…!” Nona Snotra berdehem. “Eiwa, apakah kamu bisa menduga, apa kira-kira sasaran mereka?”

Aku menggangguk. Jika di dalam istana ada seseorang yang bisa melihat ke dalam semua kebohongan, maka tidak ada intrik yang tidak bisa terungkap.

“Kak Eileen, siapa lagi yang tahu tentang kewaskitaanmu ini?”

Eileen menggeleng, tampaknya dia belum memberitahukan siapapun. Berarti seseorang menemukan Eileen memiliki kewaskitaan ini, dan malangnya – orang ini berada di pihak lawan, serta sepertinya memiliki pengaruh di dalam istana.

“Apa rencanamu sekarang penyihir muda?” Nona Snotra menatap tajam ke arahku, seakan sudah membaca jalan pikiranku.

“Jika aku adalah musuh, maka aku akan berpikir sejumlah informasi penting sudah terbuka, maka penyerangan akan dimajukan, atau dibatalkan sama sekali. Pilihan kedua lebih kecil kemungkinannya, dan pilihan pertama selain lebih besar kemungkinannya – juga dampaknya lebih besar.” Aku menghela napas panjang. “Kak Snotra, aku akan berangkat ke celah Tefvik.”

Nona Snotra tersenyum, “Kakak akan menemanimu.”

Ya, saatnya berangkat ke medan perang!

Sebelumnya

Eiwa 22 - Langit kan Membuka Jalan

Apakah Nona Snotra seorang kesatria sihir? Tapi bukankah Nona Snotra sendiri yang berkata bahwa dia ... Read more

Selanjutnya

Eiwa 24 - Brigade Bulan Salju

Mandala ruang dan waktu kembali bersinar cemerlang, kali ini karena Nona Snotra yang membukanya di ... Read more