Berwajah bulat dan tubuh yang lebih bulat lagi, matanya nyaris tersembunyi di balik lemak apalagi ditambah dengan senyumnya yang lebar memperlihatkan gigi geligi yang juga berukuran besar. Dia menepukkan tangan sambil tertawa lebar.

“Sungguh lucu sekali.” Kata pria gemuk ini.

“Tuan…, Anda adalah?” Kapten Ning Teófilo mencoba bertanya dengan sopan. Walau dia seorang kapten, namun terlihat dari sikapnya, dia cukup tenang dan tidak terbawa oleh rasa tinggi hati.

Pria gemuk itu melambaikan tangannya, “Tidak penting siapa saya, tapi Kapten. Mendengarkan ucapan bocah, Anda tampaknya langsung percaya. Jika besok keponakanku yang masih bau kencur datang ke sini dan berkata di salah satu kedai sebelah bahwa mereka adalah mata-mata Aelfwine karena mereka berasal dari suku asing, apa Anda akan menangkap mereka juga?”

“Maksud Anda Tuan?”

“Aku hanyalah seorang saudagar, seorang pedagang, hitunganku hanya untung dan rugi. Aku tidak berminat mencampuri masalah keamanan, karena itu adalah tanggung jawab dan wewenang Anda Kapten. Tapi aku melihat jika hal ini terjadi, maka sebagai pengusaha, aku akan merasa terancam, bagaimana mungkin aku bisa berdagang dengan tenang di wilayah Aelfwine. Hanya karena aku suku asing. Ah… ini…” Dia menggelengkan kepalanya menunjukkan raut wajah penuh keprihatinan.

Dalam hatiku berbisik, ‘Ah, musang tua ini justru membuka kedok sendiri. Baru hidup beberapa dasawarsa sudah seolah pandai bersilat lidah.’

“Kami memahami kekhawatiran Tuan, namun ini tidak selalu terjadi. Ada banyak pedagang dan saudagar suku asing lain yang menjalankan usaha di wilayah Glaedwine, dan jika tidak ada yang mencurigakan, kami tidak pernah mempersalahkannya. Tapi jika ada yang mencurigakan, kami tidak akan segan menindaknya demi keamanan negeri ini.”

Kata-kata Kapten Ning Teófilo terdengar sopan, namun tegas. Tampaknya tidak pernah berkompromi masalah keamanan yang menjadi tanggung jawabnya.

“Bagaimana Kapten dapat membuktikan jaminan kebebasan pada kami?” Marcellin melontarkan pertanyaan dengan nada tidak puas.

“Saudara sekalian!” Sahut Kapten Ning dengan lantang, “Sebagian dari saudara mungkin bukan penduduk Glaedwine. Tapi aku mengenal beberapa di antara kalian, dan beberapa asing dalam pandanganku. Ketika aku dan bawahanku masuk ke dalam kedai ini, maka tujuanku tidak berbeda dengan saudara sekalian, hendak menikmati secangkir dua cangkir teh untuk menghilangkan dahaga dan kepenatan. Ini sudah terjadi selama bertahun-tahun, dan banyak dari saudara dapat menjadi saksi. Kami pasukan keamanan kota tidak pernah mencari permasalahan yang tidak berdasar, mengganggu urusan orang lain sesuka kami, atau mengacaukan usaha dagang seseorang. Jika kami melakukan ini, maka Rokus telah akan lama kehilangan kepercayaan kalian semua. Kota kami ini ada di perbatasan yang menggantungkan kehidupan dari perdagangan. Jika kami mengacaukan usaha para saudagar, itu bermakna kami mencari akhir bagi keberadaan kota Rokus. Kami tidak bodoh, sehingga saudara sekalian dapat saksikan bahwa kota kami sangat terbuka bagi siapa pun dan dari latar mana pun. Tapi kami tidak lebih bodoh lagi jika membiarkan hal-hal mencurigakan terkait dengan aktivitas musuh negeri ini melenggang begitu saja di hadapan kami. Kami berjanji, jika paman pramusaji ini tidak terkait dengan hal-hal yang merugikan atau mengancam negeri kami, maka kami akan meminta maaf atas kelancangan kami dan memulihkan nama baiknya. Bahkan jika dia ternyata dia berasal dari Aelfwine.”

Oh, luar biasa. Aku kagum dengan kapten yang satu ini. Dia bisa berbicara sangat lantang tanpa tersendat-sendat. Bahkan aku bisa melihat sejumlah pengunjung kedai mengangguk-angguk setuju dengan kata-kata sang kapten. Hanya para pelayan kedai yang tampak pucat pasi.

“Kapten Ning, saya kagum pada Anda.” Aku mengangkat kedua jempol tanganku tinggi-tinggi.

“Adik, saya tidak mengenal siapa adik. Namun jika yang adik sampaikan adalah benar, kami akan melindungi adik sepenuhnya. Sedangkan jika yang adik sampaikan keliru, maka kami juga akan memproses adik sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kami tidak memilah-milah, siapa pun tidak bisa menciptakan kekacauan di wilayah kami.”

“Ha ha…” Aku tertawa ringan, “Kapten, jika memang harus, maka bukan saya yang harus Kapten lindungi.”

“Maksud adik?”

“Tidakkah kapten mengenal nona kecil di samping saya ini?”

Sesaat kemudian Kapten Ning berusaha melihat dan mengenali sosok Eileen. Sementara Eileen tersenyum ramah pada sang kapten. Hanya sekejap, tubuh sang kapten tampak bergetar, ekspresinya seperti orang yang tersambar petir. Demikian juga ekspresi prajurit lainnya yang mendampingi sang kapten, mereka menyadari siapa yang ada di hadapan mereka.

Brak! Brak! Brak!

Tubuh mereka jatuh setengah berlutut, dengan tangan kanan terkepal melekat di dada kiri.

“Kami divisi kedua prajurit pertahanan kota Rokus memberi salam hormat pada Tuan Puteri, semoga Tuan Puteri panjang umur, Glaedwine berjaya selamanya!”

Suara mereka serempak, laksana halilintar, hingga memekakkan telinga. Uh, apa mereka harus selalu seperti ini? Tapi dilihat dari ekspresi para prajurit ini, aku tahu bahwa mereka setulus hati setia pada kerajaan dan keluarga kerajaan. Ah, aku menghela napas panjang, setelah ini sepertinya pertumpahan darah tidak dapat dielakkan.

“Bangunlah kalian semua.” Eileen, “Kami, Priscila Eileen Taner, menerima salam kalian. Berdirilah wahai para kesatria.”

Meski usia sangat belia, aku bisa melihat Eileen sangat cemerlang dalam tata krama kerajaan. Membuatnya tampak cemerlang seperti bangsawan dari langit.

“Terima kasih Tuan Puteri.”

Lalu Eileen melihat ke arahku, dan aku balas mengangguk ke arahnya, dan dia kembali berkata, “Kapten Ning, sebagaimana yang dikatakan oleh Tuan Muda Eiwa, saat ini nyawaku dalam bahaya. Dan aku datang ke tempat ini untuk menemukan jawaban dari penyerangan atas Istana Kerajaan Glaedwine beberapa hari yang lalu.”

“Kami akan melindungi Tuan Puteri dengan segenap upaya dan seluruh hidup kami!”

Inilah yang kusebut dengan orang yang berprinsip.

Tapi tiba-tiba aku merasakan aura nafsu membunuh yang kuat, ini tidak bagus!

Sebelumnya

Eiwa 24 - Brigade Bulan Salju

Mandala ruang dan waktu kembali bersinar cemerlang, kali ini karena Nona Snotra yang membukanya di hadapan kami. Aku dan Eileen ikut berjalan di belakang Nona Snotra memasuki bola cahaya yang mengapung di udara dengan anggunnya. Dengan menggenggam tangan Eileen yang ... Read more

Selanjutnya

Eiwa 26 - Kemalangan Sang Saudagar

Pria gemuk tersebut berdiri dari tempat duduknya, dan sembari membungkukkan badan ke arah kami, dia memandang ramah ke arah Eileen – namun tersembunyi niat keji di baliknya, yang walau dia sembunyikan, tidak akan bisa lolos dari pandanganku, apalagi dari kejelian ... Read more