Pria gemuk tersebut berdiri dari tempat duduknya, dan sembari membungkukkan badan ke arah kami, dia memandang ramah ke arah Eileen – namun tersembunyi niat keji di baliknya, yang walau dia sembunyikan, tidak akan bisa lolos dari pandanganku, apalagi dari kejelian Nona Snotra – aku bisa merasakan walau dia tampak santai namun auranya menjadi tajam seperti belati yang terhunus – yang membuatku turut merinding teringat hari-hari dalam kemah candradimuka.

“Maafkan hamba yang tidak mengenali Putri Kerajaan Glaedwine ini. Hamba harap Tuan Puteri memaafkan tindak tanduk hamba yang kurang patut dipertontonkan ini.”

Marcellin tampak benar-benar seperti seorang tamu santun yang menyapa penguasa negeri. Jika sekilas dilihat, dia bak saudagar terpandang.

Eileen menatapnya dalam-dalam, kemudian berkata, “Tuan, Anda berbohong.”

Ups.. Kamu ketahuan. Aku menyindir pria gemuk dalam hati.

Dia pastinya sudah tahu bahwa Eileen memiliki kewaskitaan yang bisa membaca kebohongan. Dia masih berani berulah di hadapan Eileen.

“Tuan Putri, hamba tidak paham maksud Tuan Putri.”

Ahemm… aku menyelanya. “Aku pernah mendengar ada orang yang bisa melempar dusta dengan wajah polos. Tapi melihatnya langsung menjadi pengalaman yang berbeda.”

Wajah Marcellin menjadi pucat pasi. Dia menatapku dengan pandangan, seakan-akan melihat tikus kecil yang makan kenyang di dalam lumbung tanpa memedulikan pemilik lumbung yang kebakaran jenggotnya.

“Nak, kamu tidak bisa menuduh orang sembarangan.”

“Lalu, apa menurutmu Putri Taner berbohong?”

“Kau…”

Wajah bundarnya menjadi bertambah merah. Heh.., tentu saja dia tidak akan berani langsung menuduh putri kerajaan berbohong untuk menyelamatkan pendapatnya. Meski keluarga kerajaan salah, orang biasa tidak akan dapat seta merta menuduh mereka salah! Ini etika tidak tertulis di seluruh negeri.

Marcellin mungkin seorang mata-mata yang menyamar sebagai saudagar, atau sebaliknya – saudagar yang menjadi mata-mata. Yang mana pun itu, Marcellin sudah melakukan kesalahan yang cukup fatal. Dia meremahkan sistem pendidikan di dalam keluarga kerajaan Taner, setiap anak dibesarkan untuk segera menjadi dewasa.

Putri Priscila Eileen Taner, mungkin hanya kanak-kanak di mata banyak orang. Namun sebagian masa kecilnya telah ‘terampas’ untuk mempersiapkannya menghadapi masa-masa terburuk yang bisa terjadi pada seorang putri kerajaan. Batinnya telah lama diperkenalkan dengan hitam dan putih dunia, beserta kekejamannya baik di meja politik maupun di medan perang.

Aku telah bertemu beberapa kali dengan Eileen, dan setiap kali bertemu, dia tampak bertambah dewasa jauh dari raut wajah mungilnya. Aku yakin, bahkan dia akan bergeming bahkan jika perang berdarah terjadi di hadapannya. Entah apa yang dilaluinya hingga bisa seperti ini, aku tak berani membayangkannya. Hanya ketika bersama Pangeran Loke aku sesekali bisa melihat Eileen tersenyum layaknya kanak-kanak.

Tampaknya, Marcellin benar-benar malang kali ini. Mungkin dia hendak memanfaatkan ketidaktahuan penguasa lokal tentang keberadaan Eileen di Rokus, dia berharap bisa melanjutkan misi yang tertunda di istana Glaedwine. Melihat Eileen hanya ditemani aku yang juga anak-anak sebaya, dan seorang remaja putri lainnya, mungkin siapa pun agen Aelfwine akan berpikir bahwa kami akan sangat gampang ‘ditangani’. Sayangnya, Eileen bukanlah kanak-kanak biasa, perang psikologi tidak mempan terhadapnya, apalagi dengan ‘kewaskitaan’ yang baru saja bangkit di dalam dirinya – dia serupa benteng batin yang tidak dapat ditembus. Sedangkan untuk perang… ah, aku melirik Nona Snotra, bahkan jika aku memiliki selaksa nyawa dan sejuta bala tentara, tetap saja tidak akan berani aku mencari masalah dengannya.

Aku kembali menatap Marcellin dengan dingin.

“Aku masih penasaran, bagaimana kalian bisa menembus istana, apakah berkat Liv Wilhe…”

“Kau….!!!”

“Dan aku percaya, penyerangan ke dalam istana bukan termasuk dalam agenda kalian sebelumnya. Mengapa berubah? Apakah karena Tuan Puteri mengalami kebangkitan kewaskitaannya, dan ….”

“Diam…!!!”

Marcellin berteriak dengan mata terbelalak. Tentu saja dia tahu, siapa nama yang kumaksudkan, namun dia tidak tahu bagaimana aku bisa menyebut nama itu. Dan aku akan membiarkannya penasaran. Dan biarkan saja dia penasaran menebak-nebak apakah sesungguh aku mengetahui rencana mereka atau tidak.

“Siapa kamu?”

“Siapa aku…?” Aku memperlihatkan dua tanda pengenal yang kubawa.

“Ah… Cyril … dan… Yvonne….” Marcellin tidak menyadari tubuhnya tampak terguncang dan mengambil langkah mundur.

Tidak hanya Marcellin yang tampak kaget, namun juga Kapten Ning bersama para prajuritnya. Serta banyak orang yang ada di dalam kedai tersebut.

Nona Snotra tampak keheranan, dia mungkin memiliki pengetahuan akan sejarah masa lampau tentang leluhur Cyril, tapi tidak tentang masa kini.

“Eileen…” Nona Snotra memanggil Eileen dengan suara pelan, “Ada apa dengan keluarga Eiwa?”

Tentu saja tanda pengenal yang dibawa seorang anak, pastinya berasal dari keluarganya.

Eileen menghela napas panjang, “Ada kata-kata rakyat di kerajaan Glaedwine, orang bisa menantang bangsawan kerajaan, tapi jangan pernah menantang Cyril dan Yvonne, puncak tertinggi kekuatan militer dan sihir Glaedwine. Hidup dan mati kerajaan Glaedwine konon ada di tangan Cyril dan Yvonne.”

“Mereka adalah Naga dan Feniks, tidak ada seorang pun yang ingin membuat masalah dengan Naga dan Feniks” – Tanpa sengaja, Kapten Ning ikut dalam percakapan mereka.

“Oh… itu berarti, si saudagar tersebut sedang sangat sial.” Nona Snotra ikut mencibir.

Sebelumnya

Eiwa 25 - Kapten Ning dan Prinsipnya

Berwajah bulat dan tubuh yang lebih bulat lagi, matanya nyaris tersembunyi di balik lemak apalagi ditambah dengan senyumnya yang lebar memperlihatkan gigi geligi yang juga berukuran besar. Dia menepukkan tangan sambil tertawa lebar. "Sungguh lucu sekali." Kata pria gemuk ini. ... Read more

Selanjutnya

Eiwa 27 - Floretta Yvonne

Sepoi angin yang dingin dan tenang menyapu Kota Rokus silir demi silir, memberikan rasa sebuah kota di dataran tinggi yang penuh kesejukan. Namun suasana sebuah kedai teh di dalamnya saat ini sungguh jauh dari kata sejuk. Sang Saudagar Marcellin tampak ... Read more