Sepoi angin yang dingin dan tenang menyapu Kota Rokus silir demi silir, memberikan rasa sebuah kota di dataran tinggi yang penuh kesejukan. Namun suasana sebuah kedai teh di dalamnya saat ini sungguh jauh dari kata sejuk.

Sang Saudagar Marcellin tampak mengepalkan tinjunya dengan erat. Sementara Kapten Ning menyadari sesuatu yang ‘tidak beres’ dan mengambil posisi untuk bertindak. Aku sendiri tidak bisa melepas kewaspadaanku, tidak hanya kepada Marcellin, namun juga pada kelompok lainnya, saat ini aku bisa mengawasi enam sosok yang bergerak di balik bayangan – masih kurang empat orang lagi jika benar yang disampaikan oleh Nona Snotra.

Aku melirik ke arah Nona Snotra, ‘Ah…, dia masih sempat menikmati seteguk teh hangat’ – aku menggelengkan kepala dalam batin. Kurasa memang tidak ada yang dapat membuatnya khawatir dalam situasi seperti ini.

“Sungguh perkembangan yang di luar dugaan.” Marcellin tampaknya sudah mengambil keputusan.

“Situasi berubah, namun itu bukanlah yang terpenting.”

“Oh demikian-kah, lalu apa yang terpenting menurut Tuan Muda Cyril?”

“Setiap orang akan memberikan jawaban yang berbeda, tapi bagiku yang terpenting saat ini adalah menghentikan usaha kalian.”

Tentu saja, aku tidak akan menjawab dengan jawaban lainnya. Untuk apa aku meninggalkan rumah menuju kemah candradimuka, hingga akhirnya menempuh neraka berlapis-lapis di dalam dimensi waktu yang entah berada di mana, menghabiskan ratusan tahun waktu batinku terperangkap di sana. Semua itu adalah untuk ini.

“Jika aku sendiri, kurasa dalam bisnis, ini saatnya mempercepat jual beli.”

“Silakan…” Jawabku dengan tenang, walau sebenarnya detak jantungku mulai bertambah kencang.

Ctak!

Marcelling menjentikkan jari tengahnya.

Aku bisa merasakan sejumlah gerakkan mendekat dengan cepat ke arah kami, bahkan sangat cepat.

‘Caerula quem ventus’

Aku menggebrak aliran-aliran etheral di dalam tubuhku, menajamkan indraku, menyiapkan jiwa dan raga untuk situasi ini. Sihir angin langit adalah salah satu yang bisa digunakan dengan cepat dan dalam rapalan yang pendek, dapat menjadi perisai sekaligus penyerang ketika elemen yang lain belum tentu dapat dimanfaatkan.

Tiba-tiba, tubuhku merinding, ini adalah tanda bahaya yang sudah biasa kualami. Aku menenangkan pikiranku, dan melihat arah datangnya bahaya.

Wuss wuss wuss

Desiran senjata rahasia melesat dengan cepat ke arah kami. Aku menggerakkan sihir anginku dan membentuk perisai angin untuk orang-orang di sekitarku.

‘Apocalypsis!’

Tiba-tiba sebuah suara merdu datang tepat dari belakangku. Membuat jantungku berhenti.

‘Evorsio!’

Suara itu menggema lantang seperti ratu kahyangan. Aku tidak mungkin bisa lupa akan suara itu.

Selanjutnya, sejumlah bola cahaya putih terbang meliuk dengan elok dari belakangku ke pelbagai arah. Cahaya-cahaya tersebut bagi banyak orang tampak memikat dan dengan segera seperti membentur sesuatu yang tak kasat mata lalu sirna begitu saja.

Namun aku tahu bahwa yang baru saja berbenturan tersebut adalah semua senjata rahasia lawan yang diarahkan ke kami.

Aku tidak berani menoleh ke belakang, keringat dingin membasahi punggungku. Dan aku melihat ke arah Marcellin, dia jauh tampak lebih pucat dariku. Karena yang baru saja terjadi, di luar dugaan kami berdua.

Dengan segera, sejumlah bayangan menjelma di sekitar Marcellin dengan nyaris tanpa suara, mereka semua mengenakan pakaian pengintaian serba tertutup dengan tersemat pin berlambang sayap dan anak panah pada dada kiri – pasukan elite Aelfwine.

“Apa yang pasukan kesayangan Yang Mulai Raja Aelfwine lakukan di pinggiran perbatasan negeri kami?”

Kata-kata itu diucapkan tidak terlalu pelan, namun sangat jelas. Pun demikian, suasana di sekitar kami tetap hening.

“Kalian tidak hendak menjawab?” Kembali suara itu berucap, hanya saja kali ini terdengar lebih dingin. “Jika demikian, kalian semua harus ikut denganku ke kota raja, Yang Mulia Raja Glaedwine pasti akan senang bertemu dengan kalian, dan…,” Dia berhentik sejenak, “Jika pun yang mulai tidak dapat menemui kalian, aku yakin, Nyonya Flamecape sangat ingin mendengar beberapa patah kata dari kalian.”

Marcellin bermuka masam mendengar kata-kata itu. Dia hanya berpikir satu hal, dan itu langsung terucap dari mulutnya, “Semuanya, mundur!”

Sekonyong-konyongnya, semua berubah menjadi bayangan, termasuk Marcellin, salah satu pasukan bayangan memegang bahunya dan segera mereka melesat keluar beranda kedai di lantai dua.

“Hmm…!”

Aku bisa merasakan ledakan mana dalam jumlah besar yang berpusat di belakang tubuhku. Beberapa rapal mantra yang tidak kukenal terucap dengan cepat, kilatan cahaya kembali berpendar dan melesat ke pelbagai arah. Dan segera setelahnya, sejumlah teriakan kesakitan muncul dari jalan dan gang Kota Rokus. Salah satunya berasal dari sosok tubuh yang terjatuh dari langit dengan sekujur tubuhnya terbelit cahaya benderang menyerupai jaring ikan. Sial, di hadapan seorang magi, seberapa pun hebatnya petarung, nasib mereka tidak berubah layaknya pindang.

“Eileen, apa kamu baik saja?”

Suara tadi berubah lembut.

“Ya, Eileen baik-baik saja. Ada Eiwa di sini, Eileen tidak takut.”

Ah, aku lupa, kadang Eileen bisa langsung berubah sikap menjadi anak-anak yang terdengar manis.

“Aawwwooo….!!!”

Aku berteriak dengan kencang, rasa sakit menjalar di telinga kananku. Ini pasti mimpi buruk, jika bisa memilih, aku akan memilih masuk ke dalam dimensi waktu tempat berlatih Nona Snotra dibandingkan berada di sini, dan pada saat ini.

“Eiwa, sepertinya aku terlalu memberikanmu banyak kebebasan.”

Suara itu terdengar ramah di telingaku yang mulai menjadi merah pedas, namun membuat seluruh badanku merinding.

“Ha ha…” Aku tertawa lirih dan berbalik ke arah suara itu sambil memegangi telingaku yang kesakitan, “Ibu pasti sedang bercanda.” Ucapku.

“Apa aku terlihat sedang bercanda?”

“Ah… itu….”

Aku hanya bisa menunduk. Wanita ini tidak pernah marah, namun sekali emosinya meluap, konon Floretta Yvonne adalah sosok yang pralaya yang berjalan. Ah, bagaimana nasibku sekarang.

Sebelumnya

Eiwa 26 - Kemalangan Sang Saudagar

Pria gemuk tersebut berdiri dari tempat duduknya, dan sembari membungkukkan badan ke arah kami, dia memandang ramah ke arah Eileen – namun tersembunyi niat keji di baliknya, yang walau dia sembunyikan, tidak akan bisa lolos dari pandanganku, apalagi dari kejelian ... Read more