Suasana hening tidak berlangsung lama. Dekapan hangat segera merambah tubuh mungilku. Pelukan erat mencegahku dari menarik napas dalam oleh rasa kagetku. Seakan seluruh waktu di dunia ini terhenti, dan hanya ada detak jantung kami yang saling bertepuk satu sama lain.

“Apa kamu tahu betapa ibu mengkhawatirkanmu? Kami mencoba menghubungimu, namun kamu tidak ada dalam rombongan.”

“Bunda…, Eiwa baik saja. Jangan khawatir lagi.”

Aku tahu dia ingin menangis, tapi dia ‘tidak bisa’ menangis di sini, tidak dalam situasi seperti ini. Walau matanya kering, namun degup jantungnya seakan berteriak dan merekah di dalam keperihan dan kepedihan. Bahkan tanpa kata-katanya, aku dapat tahu, karena bagaimana tidak, dari dialah aku hadir ke dunia ini.

“Apa kamu yakin kamu baik-baik saja? Lihatlah dirimu, kamu menjadi kurus… Apa yang harus ibu bilang pada kakek dan nenekmu…”

Dan demikianlah sederet pertanyaan lanjutan seorang ibu kepada anaknya berlanjut.

Sementara itu, Kapten Ning dan anak buahnya berinisiatif untuk mengamankan semua mata-mata dan pasukan Aelfwine. Walaupun kedua negara sedang tidak (lagi) dalam kondisi perang, namun kejadian ini tidak bisa dianggap remeh. Mereka pamit pada kami sambil membawa para tahanan untuk melapor pada Mayor Edmé Bram di Balai Kota Rokus. Tentunya, tidak lupa, pemilik kedai dan para pelayan juga tidak luput digiring menuju balai kota oleh sebab percakapanku dengan mereka pada awalnya yang juga menarik perhatian sang kapten.

Niscaya kedai segera menjadi sepi, para pengunjung lain dengan pengertian satu per satu meninggalkan kedai, hanya tersisa kami berempat di sini.

Kami duduk mengitari meja bambu persegi di salah satu sisi beranda lantai dua kedai tersebut.

“Eiwa, dapatkah kamu perkenalkan pada ibu, siapakah gadis cantik ini?”

Aku memandang ke arah Nona Snotra.

“Ini adalah Kak Snotra, kami bertemu sebelum tiba bersama-sama di Rokus.”

Lalu Bunda menuangkan secangkir teh untuk Nona Snotra. “Terima kasih Nona sudah menjaga putra dan kemanakan saya. Saya harap mereka tidak memberikan banyak masalah bagi Nona.”

“Bibi tidak perlu khawatir tentang hal ini, mereka berdua anak yang baik dan penurut.”

“Ho ho…, jangan memanggil saya ‘bibi’, saya rasa tidak cukup layak untuk panggilan itu. Tidak oleh seorang dewi seperti Nona.”

“Ha ha ha….”

Oh, apa hanya aku, atau tiba-tiba suasana berubah menjadi mencekam?

“Eiwa…”

“Ya Bunda?”

“Apakah kamu akan ikut ibu kembali pulang, apa kamu akan tetap ikut Nona Snotra.”

“Eh…, maksud Bunda?”

Aku bingung, apa yang sebenarnya terjadi. Jika hari ini berjalan seperti yang kuperkirakan, maka selanjutnya aku memang berencana untuk tetap mengikuti Nona Snotra. Tapi jika mendadak ditembak dengan pertanyaan senada pada waktu yang tidak diduga? Aku bahkan tidak tahu apa arti semua ini.

“Eiwa…” Kini Nona Snotra yang memanggilku. “Aku juga hendak bertanya padamu.”

“Eh…?”

Mengapa semua orang mendadak mengajukan pertanyaan?

“Apa kamu tahu sebelumnya bahwa ibumu adalah seorang Angelomagi juga?”

“Eeeehhhh….?!”

Tunggu dulu! Aku menghabiskan waktu puluhan hingga ratusan tahun di dalam neraka yang mengerikan, ditemani kadal raksasa Nowell, dan hanya bergerak dari Maestromagi menuju Santomagi. Dan Nona Snotra berkata bahwa ‘mama muda’ yang tampak berusia jauh dari kepala tiga ini adalah seorang Angelomagi? Nona Snotra sendiri sepertinya mencapai Angelomagi bahkan sebelum dia mencapai kepala dua. Aku pikir diriku adalah jenius yang lahir ke dunia dan hendak membiarkan dunia silau akan kemampuanku. Tapi kini rasa percaya diriku remuk redam. Jika perempuan bisa melesat ke puncak tertinggi dengan cepat, mungkinkah semestinya dulu aku mengambil jalur perempuan saat lahir ke dunia?

“Eiwa?” “Eiwa!”

Keduanya memanggilku.

Tampaknya aku termangu cukup lama.

“Bunda, Eiwa tidak paham maksud Bunda sepenuhnya.”

“Oh, tidak kaget mengetahui bahwa ibu seorang Angelomagi?”

Aku mengangguk. “Tidak mungkin Eiwa tidak kaget. Tapi Bunda adalah Bunda, apakah Bunda seorang Angelomagi ataukah seorang pustakawan.”

Bunda tersenyum setelah mendengar jawabanku.

“Yang mana kamu suka?”

Ah… tiba-tiba kepalaku pusing, yang mana pun adalah kabar baik dan kabar buruk.

Sebelumnya

Eiwa 27 - Floretta Yvonne

Sepoi angin yang dingin dan tenang menyapu Kota Rokus silir demi silir, memberikan rasa sebuah kota di dataran tinggi yang penuh kesejukan. Namun suasana sebuah kedai teh di dalamnya saat ini sungguh jauh dari kata sejuk. Sang Saudagar Marcellin tampak ... Read more

Selanjutnya

Eiwa 29 - Perjalanan Tanpa Batas

Menjadi kanak-kanak, bermain dengan bebas, bersekolah, bertemu dengan orang-orang baru, berkenalan dan menjalin pertemanan, tumbuh besar, hingga kemudian menghabiskan hari tua bersama dengan orang-orang yang dikasihi. Ini adalah pedoman hidup yang adiluhung sejak zaman dahulu kala. Tapi mengapa aku merasa ... Read more