Menjadi kanak-kanak, bermain dengan bebas, bersekolah, bertemu dengan orang-orang baru, berkenalan dan menjalin pertemanan, tumbuh besar, hingga kemudian menghabiskan hari tua bersama dengan orang-orang yang dikasihi.

Ini adalah pedoman hidup yang adiluhung sejak zaman dahulu kala.

Tapi mengapa aku merasa bahwa, pedoman tersebut tidak berlaku bagiku. Lahir jenius, mengakses seluruh informasi dan pengetahuan hingga ke wilayah terlarang, berlatih bersama seekor naga, mencoba menggagalkan invasi negeri asing.

Tidak satu pun rentetan dari periode tersebut merupakan cerminan masa kanak-kanak yang adiluhung. Ah, lebih dari seratus tahun pengalaman, aku menggelengkan kepala aku masih bisa disebut kanak-kanak?

Dan sekarang aku merasa menemukan kunci atas situasi ini.

Aku lahir dari seorang Angelomagi!

“Eiwa, dengarkanlah Bunda.”

“Ya Bunda.”

“Aya ya…, Bunda tak berpikir bahwa akan menyampaikan ini pada Eiwa sekarang, setidaknya tidak hingga kira-kira sepuluh tahun lagi.

Sebenarnya Bunda, ayahmu, Kakek Albert dan Nenek Corinne menginginkan Eiwa tumbuh seperti anak-anak lain, jauh dari pergulatan dan konflik antar negeri, atau pun antara para magi.

Tapi mungkin karena Eiwa adalah seorang Cyril, dan juga seorang Yvon. Eiwa membawa takdir yang tidak bisa dihindarkan. Bunda, Kakek dan Nenek memerhatikan Eiwa sejak kecil, bagaimana pun juga, Eiwa tidak tampak tumbuh sebagaimana anak-anak lainnya. Awalnya kami mengira penyebabnya adalah karena Eiwa jarang berkumpul dengan anak lainnya, tapi kenyataannya tidak demikian, Eiwa lebih suka pada hal-hal yang justru tidak menarik banyak minat anak.”

He he…, aku tersipu malu mendengarkan Bunda. Ya, mungkin tidak ada anak-anak yang gemar menyusup mencuri baca gulungan dan naskah rahasia di dalam perpustakaan.

“Eiwa, kamu berada dalam usia di mana seharusnya yang lebih tua bisa membimbing dan mengarahkanmu. Tapi sungguh, Bunda bisa melihat bahwa rasa ingin tahu Eiwa sangat sulit dibendung. Dan Eiwa sekarang adalah seorang Santomagi mungil yang mungkin sudah haus untuk ingin menjelajah dunia.

Ingatlah Eiwa, harimau tidak kalah oleh manusia dikarenakan dia lebih lemah, namun karena manusia lebih mampu memanfaatkan akalnya dalam melawan harimau. Hanya karena kita lebih kuat dibandingkan orang lain, baik kawan maupun lawan, bukan berarti kita akan menang jika saling berhadapan dalam medan perang.

Apa yang Eiwa kurang, bukanlah kekuatan, namun pengalaman yang melahirkan kebijaksanaan. Eiwa beruntung karena selama ini sudah ditemani oleh Nona Snotra, bahkan jika Eiwa terjatuh, akan ada tangan yang menggapai.

Sehingga, Eiwa bisa memilih, apakah akan ikut Bunda pulang dan belajar lebih banyak lagi sebelum Bunda sendiri yakin Eiwa siap melihat dunia luar yang lebih luas. Atau Eiwa ingin bersama Nona Snotra, melihat sendiri dunia, dan mengalami sendiri perjalanan di semesta yang tanpa batas?”

Aku kembali terdiam.

Kini aku sedikit banyak bisa melihat gambaran dari pertanyaan awal Bunda. Seperti pepatah – yang kubuat sendiri – mengatakan bahwa ‘Berjalan ke seratus negeri lebih baik dibandingkan hanya membaca tentang seribu negeri’. Aku tak akan mengelak bahwa aku memang ingin melihat dunia luas.

Saat aku membaca koleksi Perpustakaan Putih, aku merasa seperti katak di dalam tempurung. Laksana anak elang yang tak sabar mengepakkan sayapnya untuk pertama kali menari bersama angin, kehausanku akan petualangan tak bisa dipenuhi hanya melalui aksara dan lukisan.

Pun demikian, aku menatap ke arah Bunda, dan menatap kembali ke arah Nona Snotra. Ini pilihan yang sulit. Tapi aku sudah membulatkan tekadku, maka …

“Bunda, bolehkah Eiwa bertanya sebelumnya?”

“Tentu saja sayangku.”

“Eiwa tahu bahwa Bunda khawatir tentang Eiwa. Tapi apakah Eiwa harus memilih di antara keduanya. Tidakkah keduanya bisa berjalan secara selaras?”

“Itu….”

Bunda terdiam, aku juga ikut terdiam.

Tapi Nona Snotra justru tertawa.

“Ha ha ha…, aku tidak bisa berharap jawaban lain dari Eiwa. Walau aku belum lama mengenal Eiwa, tapi sudah seperti adik sendiri. Tentu saja, jika memang Eiwa ingin demikian, aku tidak akan sungkan direpotkan.”

Ya! Aku senang sekali mendengarnya. Tapi Nona Snotra, apa seabad lebih bersama masih termasuk baru saja kenal?

Jika Nona Snotra tetap mendampingiku, dan aku bisa – sementara – tindak meninggalkan rumah, mungkin … ya mungkin Bunda tidak akan terlalu khawatir.

“Eiwa, baik bagi seorang magi maupun kesatria, selama mereka tidak berhenti di sebuah titik dalam kehidupan mereka, maka perjalanan mereka adalah perjalanan yang tanpa batas. Banyak di antara mereka yang mencoba mengikuti jejak langkah pendahulu mereka, mencoba melangkah lebih jauh dari generasi terdahulu. Tapi kamu Eiwa, kurasa bisa membuat jalanmu sendiri tanpa mengikuti siapa pun, dan ini akan menjadi hakikat dari menikmati perjalanan tanpa batas.”

Oh, Nona Snotra sungguh bijak. Aku jadi bertambah bersemangat.

Eh, tunggu sebentar, sepertinya kita tengah melupakan sesuatu yang penting?

Sebelumnya

Eiwa 28 - Kabar Baik dan Buruk

Suasana hening tidak berlangsung lama. Dekapan hangat segera merambah tubuh mungilku. Pelukan erat mencegahku dari menarik napas dalam oleh rasa kagetku. Seakan seluruh waktu di dunia ini terhenti, dan hanya ada detak jantung kami yang saling bertepuk satu sama lain. ... Read more

Selanjutnya

Eiwa 30 - Semesta Strategi

Sekitar sejam kami berjalan kaki menyusuri setapak ke arah Utara. Alasan kami datang ke Rokus tentunya adalah ancaman invasi militer Aelfwine ke Glaedwine. Pada awalnya, aku berpikir bahwa kedatangan kami dengan adanya Nona Snotra dapat mengatasi masalah dengan mudah. Namun ... Read more