Sekitar sejam kami berjalan kaki menyusuri setapak ke arah Utara. Alasan kami datang ke Rokus tentunya adalah ancaman invasi militer Aelfwine ke Glaedwine. Pada awalnya, aku berpikir bahwa kedatangan kami dengan adanya Nona Snotra dapat mengatasi masalah dengan mudah. Namun apa yang disampaikan oleh Bunda, ternyata di luar dugaanku sebelumnya.

Kapten Ning sendiri saat ini sedang memandu kami di depan, melewati sejumlah bagian yang tampaknya merupakan setapak yang dirahasiakan.

Walau aku berkata bahwa kami ‘berjalan’, aku sendiri sebenarnya tidak berjalan kaki, karena tidak mungkin langkah kaki kecilnya bisa melangkah normal dibandingkan ketiga orang dewasa lainnya. Aku menggunakan sedikit trik mana untuk membuat tubuhku melayang. Tentu saja, sambil menggandeng tangan Eileen, aku memberlakukan trik yang sama. Kami berdua melayang di antara tiga pasang langkah kaki yang gegas.

Hutan pinus lebat yang lembap dan dingin. Tidak heran jika hembusan napas kami mengembun dengan seketika. Ditambah dengan sedikitnya sinar matahari yang bisa menembus hingga ke lantai hutan, menyebabkan suasana gelap yang agak seram.

Aku bisa merasakan tangan Eileen menggenggam lebih kuat dengan kadang tersentak dari waktu ke waktu.

“Apa Eileen takut?” bisikku pelan padanya.

Uhh.. Gadis  kecil di sebelahku mengangguk pelan.

Melihat dari raut wajahnya, dia berusaha mengendalikan rasa takutnya. Atau lebih tepatnya, Eileen merasa takut, namun ada sesuatu yang jauh lebih mengganggunya dari rasa takut.

“Eiwa, apakah perang benar-benar akan terjadi?”

Rupanya, ini yang mengganggu pikiran Eileen.

Aku terdiam sebentar sebelum menjawab, “Entahlah.”

“Eileen tidak suka perang.”

“Eiwa juga.”

Aku merenung, dan pikiranku kembali ke dalam percakapan kami berempat sebelumnya saat masih berada di kedai teh.

Bunda menanyakan ulang pengalaman Eileen dan pengalamanku secara rinci. Tentu saja Eileen bercerita tentang mulai dari kegaduhan dan serangan di istana, hingga dia bertemu denganku. Lalu aku menceritakan tentang bagaimana aku menemukan informasi mengenai rencana invasi dari Celah Tevfik.

Lalu Bunda memberikan analisanya, bahwa jika informasi yang kutemukan adalah informasi tunggal yang beredar saat ini, maka bisa dikatakan kita sudah menang satu langkah. Sayangnya, informasi mengenai invasi tidak hanya satu.

Setidaknya ada beberapa informasi terpisah mengenai potensi invasi.

Selain dari Celah Tevfik, maka yang lain adalah arah invasi dari Hutan Hemera yang merupakan sisi Timur Glaedwine. Tentu saja banyak yang tidak mendukung kemungkinan ini di tingkat para penasihat militer kerajaan. Pertama untuk dapat menjangkau Hutan Hemera, maka harus melalui Sungai Giselle yang merupakan batas terluar Glaedwine di bagian Timur.

Namun karena Sungai Giselle sendiri menjadi jalur lalu lintas yang padat dari banyak kerajaan dan saudagar yang berhubungan baik dengan Kerajaan Glaedwine, maka hampir tidak mungkin menyembunyikan pasukan yang akan menginvasi Glaedwine atas di mana banyak mata menjadi saksi.

Informasi lain mengatakan bahwa invasi akan datang dari sisi Barat, antara wilayah Gurun Eira dan Bukit-Bukit Batu Xena. Meskipun bukan wilayah ekonomi dan jalur padat aktivitas perdagangan, namun sisi Barat cukup ramai dengan adanya para pengelana dan petualang, juga para kesatria pemula dan penerus, atau para magi pewaris yang berlatih di wilayah yang penuh dengan tantangan dan bahaya. Kondisi ini juga tidak memungkinkan jika ingin melakukan invasi secara mendadak.

Meski Glaedwine berada dalam masa-masa damai, bukan berarti pengawasan perbatasan tidak diacuhkan.

Lalu tentunya sejumlah informasi lainnya, termasuk informasi dariku yang tampaknya cukup baru dan tidak termasuk dalam informasi sebelumnya. Namun informasi-informasi tersebut mengandung komponen yang sama, yaitu pasukan Aelfwine akan terdiri dari ratusan ribu kesatria pemula, ribuan kesatria penerus, serta puluhan ribu magi.

Perbedaannya dengan informasi yang kumiliki adalah, hanya informasiku yang menyebutkan bahwa serangan dilakukan melalui udara. Dan hanya informasiku yang bersifat tunggal sampai saat ini, serta tidak ada sumber lain yang menyebutkan informasi serupa.

Aku belum tahu apakah pihak Aelfwine ingin bahwa Glaedwine percaya bahwa jumlah pasukan yang menyerang cukup banyak dengan potensi jalur invasi yang beragam dan membuat kami kebingungan harus memprioritaskan posisi utama pertahanan.

Jumlah atau kekuatan lawan, arah serangan, dan waktu serangan adalah tiga dari empat informasi vital dalam menghadapi invasi, selain pola atau strategi serangan. Hanya saja ketika tiga dari empat informasi vital ini saja tidak dapat dipercaya, maka sudah menjadi langkah awal yang cerdas oleh lawan.

Aku melihat ke arah Bunda yang melangkah dengan gegas namun tetap tenang.

“Bunda, kira-kira mereka akan datang dari mana?”

Bunda melihatku dengan tersenyum.

“Eiwa, dalam semesta strategi, semuanya penuh dengan perubahan. Akan menjadi sangat bagus bagi kita jika kita bisa menduga semuanya secara pasti. Tapi akan jauh lebih baik jika kita mampu beradaptasi dengan situasi apa pun. Jika ayahmu ada di sini sekarang, dia mungkin bisa memberikanmu jawaban yang lebih memuaskan.”

“Ayah?” Aku bertanya agak ragu.

“Ya, mereka menjulukinya Raja Semesta Strategi.”

Sebelumnya

Eiwa 29 - Perjalanan Tanpa Batas

Menjadi kanak-kanak, bermain dengan bebas, bersekolah, bertemu dengan orang-orang baru, berkenalan dan menjalin pertemanan, tumbuh besar, hingga kemudian menghabiskan hari tua bersama dengan orang-orang yang dikasihi. Ini adalah pedoman hidup yang adiluhung sejak zaman dahulu kala. Tapi mengapa aku merasa ... Read more

Selanjutnya

Eiwa 31 - Menara Mata Tevfik

Untuk mendapatkan sebuah julukan atau sebutan yang unik di sebuah wilayah kerajaan, seseorang harus memiliki keahlian eksklusif, atau keahlian umum pada tingkatan maestro. Tentu saja seseorang bisa memberi julukan pada dirinya sendiri, tapi siapa yang akan mengakui itu? “Raja Semesta ... Read more