Dalam menghadapi peperangan, dua hal menjadi sangat penting bagi sebuah negeri, pertama adalah informasi, sementara yang kedua adalah strategi. Perang bisa menjadi seperti tarian yang tidak pernah disaksikan sebelumnya, atau seperti angin yang membumbungkan layang-layang, kadang arah geraknya tidak selalu bisa sekadar diduga terlebih dahulu.

“Jadi, apa masukan Nona?”

Mayor Bram tampak bertanya-tanya.

Dan aku pun bisa menduga apa yang terjadi selanjutnya.

“Eiwa, temukan di mana mereka berada.”

Nona Snotra melemparkan sesuatu ke arahku, yang segera kutangkap dengan sigap. Dalam genggamanku, ada sebuah ‘mutiara’ yang tidak asing lagi. Jika tidak salah, Nona Snotra menyebutnya dengan nama ‘Mata Selaksa Semesta’.

Bentuknya bulat seperti mutiara, namun tidak sehalus mutiara. Terdapat guratan-guratan yang kecil yang hampir tidak kentara jika tidak diamati dengan saksama. Sebelumnya aku tidak terlalu memerhatikan, karena benda ini selalu melayang jauh di atasku. Nona Snotra kerap menggunakannya untuk memantau latihanku ketika kami berada di dalam dimensi yang terpisah.

Dalam sejumlah kepustakaan, benda ini dikenal dengan banyak nama selain dengan nama “Mata Selaksa Semesta’, ada juga yang menyebutnya dengan ‘Mutiara Mata Langit’, ‘Bola Mata Sihir’ dan sebagainya.

Namun kata ‘mata’ tak pernah hilang dari dalam penamaan benda ini. Karena guratan relief halus pada permukaannya menggambarkan mata yang jumlahnya tidak pernah ada yang menghitung. Dengan menggunakan benda sihir ini, seseorang bisa melihat ke arah mana pun pada enam sisi yang berbeda pada saat yang bersamaan. Hanya saja, nama ‘Mata Selaksa Semesta’ terasa memberikan kesan yang berbeda dibandingkan nama-nama lainnya.

Setelah sejenak memandang Mata Selaksa Semesta yang ada dalam genggamanku, kini justru banyak pasang mata yang mengarah padaku.

Memang menyenangkan menjadi pusat perhatian, namun ketika salah satu pemerhati adalah seorang penguji, niscaya aku tidak ingin melakukan kesalahan apa pun. Jika tidak aku tidak bisa membayangkan ‘latihan’ selanjutnya yang akan diberikan.

Aku melangkah pelan, dengan keyakinan, menuju ke arah meja bundar di tengah-tengah ruangan.

Atas meja bundar di hadapanku terdapat sebuah gambaran hutan pinus yang terselimut salju abadi. Dalam ingatanku, sejumlah buku tua di perpustakaan kerajaan memuat penggambaran seperti ini, hanya sejumlah tempat di seluruh Glaedwine, salah satunya adalah lembah Celah Tefvik.

Telapak tangan kiri kuletakkan di atas meja tersebut, dan gambaran itu berubah menjadi relief timbul yang tampak hidup. Walau tampak seperti meja kayu biasa, namun meja ini terbuat dari kayu pohon Euphrosyne. Mitos menyebutkan di era yang tidak terlacak jauh ke belakang peradaban sihir saat ini, selain Pohon Dunia Lerao, maka Pohon Euphrosyne merupakan salah satu dari sembilan pohon langit, bedanya hanyalah Learo hanya terdapat satu, sedangkan Euphrosyne terdapat banyak dan menyebar di tiga ribu semesta. Pohon ini dikatakan sebagai pohon pembawa kebahagiaan, karena kemampuannya berinteraksi dengan mana dan sihir dan membuatnya menjadi komoditas dalam pelbagai peralatan sihir. Kayu Euphrosyne dapat dibentuk menjadi meja, kursi, papan, bahkan rumah tanpa perlu membelah dan menyambung-nyambung, cukup mengalirkan mana dan memerintahkan bentuk yang dikehendaki, mereka akan berubah bentuknya. Dan semakin lama semakin tergantunglah manusia dengan keberadaan Pohon Euphrosyne.

Selanjutnya mitos menyebutkan bahwa, Kayu Euphrosyne menjadi semakin langka karena semakin banyak diburu. Pada akhirnya, peradaban pada masa itu lenyap bersama ketika dikabarkan bahwa Euphrosyne juga punah akibat diburu oleh manusia.

Kini orang hanya bisa menemukan Euphrosyne dari situs arkeologi atau secara tidak sengaja, dan harganya juga mahal.

Dan di hadapanku saat ini adalah salah satu dari keajaiban Euphrosyne. Meja ini membuat permukaannya berubah-ubah seperti sebuah pahatan alam yang hidup. Aku bisa merasakan gambaran yang ditampilkan oleh meja ini adalah gambaran celah Tevfik. Dengan formasi sihir Menara Mata Tevfik, semua ini dimungkinkan, hanya saja jarak wilayah yang ditampilkan sangat terbatas. Tampilan ini sekitar delapan puluh kilometer masuk ke dalam Celah Tevfik.

Aku membuka seluruh kanal dan jaringan ethereal, dan mana mengalir dengan penuh harmoni di dalam ragaku. Mana dalam ragaku selanjutnya mengalir ke telapak tangan kiri yang kusentuhkan di atas permukaan meja, dan dengan segera aku bisa merasakan bangun sistem mana baik di meja maupun di seluruh menara.

Seluruh energi sihir di dalam menara menjadi tenang, dan bergerak pelan seirama dengan gerak napasku.

Aku melepaskan Mata Selaksa Semesta yang melayang menuju ke tengah-tengah meja, dan setelah sejenak berputar-putar, mutiara tersebut lenyap pindah ke langit di atas menara Tevfik.

Gambaran hutan pinus di atas permukaan meja mulai berubah dengan cepat. Seperti sebuah pemandangan yang dilihat oleh raja elang yang melayang makin tinggi. Pinus-pinus tampak semakin kecil, lalu Kota Rokus mulai tampak, dan makin lama ikut mengecil bersama Pegunungan Glyndwr dan tentunya celah Tevfik.

“Ini tidak mungkin! Ini sungguh mengagumkan”

Aku bisa mendengar pekikan Mayor Bram.

“Kurasa, bahkan seorang Granomagi pun tidak akan mampu melakukan sihir seperti ini. Jumlah mana yang dibutuhkan untuk menampilkan gambaran seperti ini di luar…”

Suara Nona Kamryn semakin pudar. Ya, tentu saja Granomagi tidak memiliki kemampuan seperti ini. Tapi untuk sampai ke dalam tahapan ini tentu saja tidak mudah, menjadi hebat itu tidak mudah, dan menjadi …

PLAK! – seketika aku merasa sakit di kepalaku.

“Mengapa kamu begitu bodoh!”

Sial, ini hantaman bola salju spasial, berserta lengkingan suara yang khas pertanda sang murid gagal di mata gurunya.

Sebelumnya

Eiwa 32 - Pilar-Pilar Rokus

Bunga-bunga cermin tertanam rapi mengelilingi areal menara dalam bentuk heksagramagi. Bunga dengan seribu kelopak menyerupai cermin ini merupakan fondasi bagi sihir kamuflase. Formasi sihir juga bisa kurasakan tertata rapi di bawah permukaan tanah, persis seperti teori dalam buku-buku sihir tingkat ... Read more