Suasana ruangan menjadi begitu senyap, seperti pemakaman di malam hari. Bahkan kuburan pun masih diramaikan oleh suara jangkrik atau burung hantu. Di ruangan ini justru suasana terasa lebih mencekam, bahkan dentingan sendok kue yang jatuh dari tangan gemetar salah satu tamu pun jadi terdengar dengan jelas.

Oi… oi…, apakah kita memang sedang melihat hantu?

“Ehem…, tolong kalian jangan melihatku demikian. Aku orangnya pemalu.”

Tidak Kek, Anda bukan pemalu, tapi sebuah bom. Tiba-tiba muncul dan membuat suasana menjadi senyap.

“Senior Aristides, silakan… silakan…, maafkan kami terlambat menyambut.”

Wow…, bahkan kakek pun sangat ramah pada orang ini.

“Salam kakek.” , “Selamat datang ayah mertua.” Kini giliran Loke dan Eileen, serta laki-laki yang bernama Archelaos itu yang menyambut tamu terakhir ini. Dan orang tua itu hanya mengangguk-angguk saja.

Berarti kakek ini adalah kakek dari Loke dan Eileen dari garis ibu mereka.

“Oh, Euthymius…, aku tidak menduga kamu akan datang.”

“Corinne, hanya kamu di seluruh kerajaan yang berani memanggilku dengan nama depanku. Heh.., tapi siapa aku, bahkan raja pun aku yakin tidak akan protes jika kamu memanggilnya dengan nama depannya. Apa dia masih sakit? Aku tak melihatnya di sini.”

“Iya ayah mertua, ayah masih sakit.”

“Hah…, bagaimana mungkin di usia mudanya dia sudah sakit-sakitan. Aku khawatir, cucu-cucuku juga akan jadi mudah sakit.”

Eh…?! Orang ini bahkan tidak memberi muka pada raja kerajaan sendiri, siapa dia?

Tunggu dulu, Archelaos memanggil orang ini ayah mertua, dan menyebut raja sebagai ayah. Berarti kakek ini adalah besan raja? Dan ini berarti pria paruh baya yang kucurigai mengejar bunda adalah putra mahkota Kerajaan Glaedwine? Dan berarti juga Loke dan Eileen adalah pangeran dan puteri kerajaan?

Jika mereka adalah keluarga inti kerajaan, jangan katakan tamu-tamu lainnya adalah pejabat dan bangsawan? Kakek, nenek, bunda… pesta seperti apa yang telah kalian buat kali ini?

Hmm…, sepertinya aku melewatkan sesuatu yang penting.

Bukankah tadi Loke dan Eileen diminta untuk menjagaku, berarti dalam usia setahun aku mendapatkan pengawal pribadi yang terdiri dari pangeran dan puteri kerajaan Glaedwine?

Aku bisa membayangkan, jika suatu saat nanti ada yang menakali aku, maka aku tinggal memanggil paladin atau penyihir agung kerajaan untuk membereskan mereka… he he he….

Tanpa kuduga, senyuman nakal menghiasi bibirku.

 

“Jadi ini si kecil Eiwa?”

Oh, dia datang padaku. Ini adalah orang yang sangat berpengaruh di kerajaan. Jika suatu saat sang jenius ini ingin mempermudah jalannya ke puncak popularitas, maka aku harus memberikan kesan baik pada kakek ini.

Aku melompat dari pangkuan nenek, dan menghadap si kakek yang setengah berlutut di hadapanku.

“Eiwa membe’li salam pada Tuan Euthymus Aristides.”

Hmm…, bagaimana penampilanku? Dengan mata bulat, dan pipi kental, siapa pun tidak akan bisa mengelak dari ‘serangan maut’ ekspresi manisku.

Tiba-tiba aku mendengar lebih banyak suara sendok jatuh ke lantai.

Eh…, kali ini aku melihat sekelilingku. Semua orang memiliki ekspresi heran, bahkan bunda ekspresi kagetnya sangat kentara.

Memangnya ada apa? Aku memasang wajah polos tak paham.

“Ho ho ho….” Tiba-tiba suara tawa meledak di hadapanku, dan membuat jantungku hampir copot, “Eiwa ternyata memang cerdas, tidak salah memang dia darah dari klan Cyril. Bahkan cucu-cucuku saja tidak bisa secerdas Eiwa ketika mereka berusia setahun.”

Ups, seperti aku terlalu berlebihan. Aku lupa, anak usia setahun seharusnya belum bisa merangkai kata.

“Apa boleh buat, itu ka’lena Eiwa jenius.” katanya sampil tersipu malu, kepalang basah, sekalian saja aku tunjukkan kejeniusanku.

“Bagus. Aku datang untuk memberikanmu hadiah ulang tahun. Awalnya tidak yakin apakah ini cocok untukmu. Tapi kurasa sekarang tidak masalah. Hanya saja, mulai sekarang, panggil aku Kakek Euth, aku tidak suka nama panjang.”

“Terima kasih Kakek Euth.”

Kakek Euth mengangguk, lalu memberikanku sebuah buku tua yang diambil dari balik jubahnya.

“Kamu tahu buku apa ini?”

Aku memandang tulisan di atasnya, beberapa adalah aksara kuno yang sering kulihat di koleksi buku kakek dan nenek di ruangan mereka. Dan aku pelan-pelan membaca judulnya.

“Setapak Pono di Langit Akua dan Bumi ‘Aina” Aku agak bergumam membacanya.

“Oh…” Kakek Euth tampak kaget, “Ha ha ha…, Corinne, aku tidak menyangka kamu bahkan tidak menahan diri dalam membesarkannya, jika ada yang bisa mengajarkannya membaca aksara yang hilang, maka orang itu hanya kamu. Bagus… bagus…, Eiwa, kakek sudah memberikanmu apa yang ingin kakek berikan, gunakanlah dengan baik. Mungkin aku akan bisa melihat Mo’i Agung selanjutnya.”

Kakek Euth tertawa lepas, dan kemudian pergi meninggalkan pesta. Sepertinya sejak awal dia memang tidak berminat dengan pesta.

Aku memandang buku kumal di tanganku, tidak tahu harus bagaimana. Lalu aku memandang ke arah nenek, kakek dan ibu yang ada di belakangku. Mereka hanya tersenyum dan mengangguk, seakan berkata ‘selamat untuk hadiahnya’.

Tapi aku sendiri tidak tahu aku, apa buku tua ini ada manfaatnya.

Sebelumnya

Eiwa 4 - Tamu Istimewa

Tiga kali suara ketukan terdengar di pintu. Kakek bergegas ke depan untuk membukakan pintu. Sepertinya tamu telah mulai datang. Aku tidak yakin berapa banyak yang diundang ke acara pesta ini. “Oh... Archelaos. Senang kamu bisa datang, ayo masuklah. Kalian juga ... Read more

Selanjutnya

Eiwa 6 - Bayi yang Terbang

Malam itu aku sendiri di kamar pribadiku – hadiah ulang tahun – yang ada di lantai dua. Tampaknya tidak ada yang bertanya lebih jauh setelah pesta ulang tahun selesai. Yah..., jenius memang hanya bisa membuat orang terbelalak tanpa bisa berpikir ... Read more