Sekte Cucuran Sukma bertempat di Tanah Belantara Timur pada cabang hulu Sungai Bentang Langit, dan terbagi antara tepian Utara dan tepian Selatan. Riwayatnya dapat ditelusur mundur hingga zaman dahulu kala, dan sangat termasyhur di wilayahnya.

Delapan pegunungan bermandikan mega-mega menjulang tinggi menaungi Sungai Bentang Langit. Empat gunung tersebut bertempat di tepian Utara sungai, sementara tiga lagi berada di tepian Selatan. Menakjubkannya, satu gunung, yang teragung di antara semuanya, menjulang di tengah-tengah sungai itu sendiri.

Separuh bagian gunung tersebut dari puncaknya diselimuti oleh salju putih nan cemerlang, dan menjulang begitu tinggi hingga puncaknya bahkan tak tampak dalam pandangan. Bagian tengah gunung berongga, sedemikian hingga membiarkan air sungai yang keemasan mengalir melaluinya, dan menyebabkan gunung itu sendiri menyerupai sebuah jembatan.

Saat ini, seberkas cahaya melesat sepanjang tepian Selatan Sekte Cucuran Sukma. Tidak lain adalah Li Qinghou dan Bai Xiaochun. Saat mereka mencapai pondok-pondok para abdi di bawah puncak ketiga, terdengarlah teriak ketakutan Bai Xiaochun.

Dia sangat takut mati akibat terbang. Mereka telah melewati pegunungan yang terhitung jumlahnya, dan setiap saat, dia merasa seperti dia kehilangan cengkeraman pada kaki Li Qinghou.

Pada akhirnya, semua memudar. Saat semuanya kembali menjadi jernih, dia menyadari bahwa mereka telah menjejakkan kaki di luar sebuah bangunan. Dia berdiri di situ, kakinya gemetar, melihat kiri kanan pemandangan yang sangat berbeda dengan apa yang biasa dilihatnya di desa.

Menjulang di hadapan bangunan adalah sebuah batu besar, dengan tiga karakter yang tertulis dalam kaligrafi yang semarak.

Jawatan Urusan Abdi

Duduk di sebelah batu, tampak seorang perempuan berwajah penuh bercak. Begitu dia melihat Li Qinghou, dia berdiri dan mencakupkan tangan memberikan salam.

“Kirim anak ini ke Perapian,” perintah Li Qinghou. Tanpa kata tambahan, dan tanpa mengacuhkan lagi Bai Xiaochun, dia menjadi seberkas sinar yang melesat ke kejauhan.

Ketika perempuan berwajah penuh bercak mendengar dia menyebut Perapian, si perempuan terpana. Dia memandangi Bai Xiaochun, lalu memberikannya sebuah kantung yang memuat sebuah seragam abdi dan barang-barang lainnya. Dengan wajah datar, dia memandu Bai Xiaochun meninggalkan bangunan menuju setapak terdekat, bersamaan menjelaskan pelbagai aturan dan norma dasar sekte. Setapak tersebut dilapisi dengan batuan gamping kehijauan, dan menembus sejumlah bangunan serta halaman. Aroma wewangian tumbuhan dan bunga semerbak memenuhi udara, dan seluruh tempat seperti Swarga Loka. Saat dia memandang sekeliling, jantung Bai Xiaochun mulai berdegup dengan perasaan meluap-luap, kegugupan dan kegelisahannya perlahan memudar.

“Tempat ini luar biasa,” pikirnya. “Jauh lebih bagus dibandingkan desa!” Matanya bersinar-sinar penuh harapan sepanjang dia mengikuti perempuan di depannya. Pemandangan sepanjang jalan semakin menakjubkan. Dia bahkan melihat sejumlah wanita cantik di sepanjang jalan, yang seketika membuat hatinya berbunga-bunga.

Segera, Bai Xiaochun menjadi lebih gembira. Ini karena dia melihat apa yang tampaknya menjadi tujuan mereka; pada ujung setapak tampak sebuah bangunan tujuh lantai yang berpendar seperti kristal. Bahkan terdapat sejumlah bangau kahyangan membumbung di atasnya.

“Apakah kita sudah sampai, Kakak?” Bai Xiaochun bertanya dengan gembira.

“Ya,” dia menjawab dengan dingin, wajah datar seperti biasanya. Dia menunjuk sebuah setapak kecil ke salah satu sisi. “Kita akan menuju ke sana.”

Bai Xiaochun melihat ke arah yang ditunjuknya, hatinya dipenuhi penantian. Namun kemudian, seluruh tubuhnya menjadi kaku, dia mengucek matanya berkali-kali. Dia melihat lagi, sedikit lebih dekat, dan melihat setapak beralas kerikil yang dibatasi oleh gubuk-gubuk beratap jerami yang didirikan sembarangan yang tampak bisa roboh setiap saat. Aroma aneh menyeruak dari wilayah tersebut.

Bai Xiaochun ingin menangis, namun tiada air mata yang dapat menetes. Masih bergantung pada seutas harapan, dia bertanya pada perempuan berwajah penuh bercak pertanyaan lainnya.

“Kakak, apakah kamu menunjuk ke arah yang keliru baru saja?”

“Tidak,” Dia menjawab dengan dingin, dan melangkah ke arah setapak kerikil. Ketika Bai Xiaochun mendengar jawabannya, semua keindahan tempat tampaknya lenyap. Raut pahit tampak muncul di wajahnya sebagaimana dia berlanjut mengikuti sang perempuan.

Tidak lama kemudian, dia memandang ujung setapak yang rungkuh, di mana dia melihat sejumlah wajan hitam legam besar berseliweran. Sesaat kemudian, dia menyadari bahwa wajan-wajan tersebut menempel pada punggung-punggung sejumlah pria yang amat gemuk. Para pria ini begitu gemuknya sedemikian rupa tampaknya dengan memeras mereka akan bisa menyebabkan lemak murni merembes keluar. Satu pria bahkan lebih gemuk dibandingkan yang lainnya, begitu gemuk sehingga dia tampak seperti bukit lemak. Bai Xiaochun bahkan lebih khawatir jika pria akan meledak akibat kelebihan lemak.

Seluruh tempat dipenuhi dengan ratusan wajan masak besar, yang di dalamnya para pria gemuk ini menanak nasi.

Merasakan ada yang datang mendekat, para pria ini menengok dan melihat perempuan berwajah penuh bercak. Pria yang paling gemuk, yang tampak seperti bukit lemak, menjatuhkan sendok masaknya dan segera menghampiri. Tanah bergetar seiring dia melangkah, lemaknya berlompatan dan bergoyang-goyang menjadi gambaran yang membuat Bai Xiaochun melotot terkaget. Bahkan tanpa perlu memikirkannya, dia mulai meraba-raba mencari sebilah kapak.

“Gagak Pica berkicau kidung indah sepanjang pagi ini, dan kini aku tahu mengapa,” bukit lemak berlari sambil setengah berteriak riang. Matanya bersinar dengan pendaran penuh nafsu. “Itu semua karena kamu datang, Kakak Besar. Jangan-jangan kamu sudah berubah pikiran? Kamu akhirnya menyadari betapa berbakatnya aku, dan hendak menjadikan hari yang indah ini sebagai saksi menjadi pasangan terkasihku?”

Perempuan berwajah penuh bercak melihat si bukit lemak dengan muak dan marah.

“Aku hanya datang untuk mengantar anak ini ke Perapian,” katanya. “Tugasku sudah selesai. Aku akan pergi sekarang.” Lalu dia bergegas pergi.

Bai Xiaochun terkesiap. Ia tadi sempat mengamati perempuan tersebut sepanjang jalan kemari, dan tampak seperti sosok yang aneh. Dia tidak habis pikir selera seperti apa yang dimiliki oleh pria gemuk ini. Bahkan seorang perempuan dengan wajah seperti itu bisa membuatnya bergairah sekaligus gundah.

Sebelum Bai Xiaochun mempertimbangkan hal ini lebih jauh, si bukit lemak tiba-tiba berdiri di hadapannya, dengan sedikit terengah-engah. Pria ini begitu besar sedemikian hingga Bai Xiaochun tertutup oleh bayangan si gemuk sepenuhnya.

Bai Xiaochun memandang pria yang teramat besar ini beserta tumpukan lemaknya yang bergulung-gulung, dan akhirnya menelan ludah sendiri. Sungguh ini pertama kali baginya melihat orang yang begitu gemuk.

Si bukit lemak memandang dengan sesal ke arah perempuan berwajah penuh bercak, yang sedang balik pergi melalui setapak berkerikil, lalu menoleh ke arah Bai Xiaochun.

“Wah, wah, wah, kita punya seorang pendatang baru. Kita sudah menyisakan sebuah tempat lowong bagi Xu Baocai untuk bergabung, ini menjadi masalah yang rumit.

Bai Xiaochun menjadi gugup hanya dengan memandang tubuh besar pria tersebut, dan tanpa sadar melangkah mundur. “Kakak Besar, saya adalah ab.. er, abdi Anda yang hina, Bai Xiaochun….”

“Bai Xiaochun? Hmmm…. Kulit putih, ramping dan mungil. Kamu tampak cukup polos. Bagus, bagus. Namamu sangat pas dengan seleraku.” Si bukit lemak memandangnya dengan saksama, lalu menepuk bahu Bai Xiaochun, yang nyaris melempar Bai Xiaochun ke tepian.

“Uh, siapakah namamu, Kakak Besar?” Bai Xiaochun mengambil napas dalam dan memperhatikan dengan saksama bersamaan dengan bersiap-siap mengolok-olok nama si pria.

Si bukit lemak tertawa dan menepuk dadanya, membuat lipatan lemak bergetar maju dan mundur. “Aku adalah Zhang si Gemuk Tertua. Itu adalah Huang si Gemuk Kedua, dan itu adalah Hei si Gemuk Ketiga…”

“Dan untukmu,” Zhang si Gemuk Tertua melanjutkan, “mulai dari sekarang, kamu akan menjadi Bai si Gemuk Kesembilan! Er… Tunggu sebentar, Adik Kecil. Kamu begitu kurusnya! Jika kamu pergi berkeliling seperti itu, kamu akan membuat Perapian kehilangan muka! Ah, Kurasa itu tidak masalah untuk saat ini. Jangan khawatir. Setelah beberapa tahun, kamu akan menjadi gemuk juga. Lalu kita akan memanggilmu Bai si Gemuk Kesembilan.”

Saat Bai Xiaochun mendengar nama julukan Bai si Gemuk Kesembilan, dia meringis.

“Baiklah, oleh karena kamu sudah menjadi Adik Kesembilan kami, kamu bukanlah lagi orang luar. Di sini adalah Perapian, kita memiliki tradisi maha-panjang mengusung wajan di punggung kita. Lihat wajan di punggungku ini?” Dia menepuk wajan sambil lanjut membanggakan: “Inilah raja para wajan, ditempa dari bijih besi kualitas terbaik dan dipahat dengan mandala mantra nyala api bumi. Saat kamu menggunakan wajan ini untuk menanak nasi sakral, cita rasanya akan jauh, jauh lebih baik daripada nasi yang ditanak dengan wajan lainnya. Ngomong-ngomong, kamu juga harus memilih sebuah wajan dan menggendongnya di punggungmu. Maka kamu akan terlihat sangat keren.”

Melirik wajan Zhang si Gemuk Tertua, dan menyadari bahwa yang lainnya di Perapian juga sama persis berhiaskan wajan, Bai Xiaochun mendadak mengkhayal dirinya sedang berkeliling dengan tampilan serupa.

“Kakak Tertua,” dia buru-buru berucap, “apakah bisa untuk memilih tidak menggendong wajan…?”

“Apa kamu sedang bergurau? Menggendong wajan adalah sebuah tradisi penting di Perapian! Nanti ketika kamu berkeliling sekte, orang-orang akan melihat wajan di punggungmu dan seketika mengenali bahwa kamu berasal dari Perapian! Begitu mereka tahu itu, mereka tidak akan berani mengganggumu. Perapian memiliki banyak pengaruh di sekitar sini, kau tahu!” Zhang si Gemuk Tertua berkedip pada Bai Xiaochun. Tidak membiarkan pembicaraan lebih jauh mengenai masalah ini, dia mengajak Bai Xiaochun ke salah satu pondok beratap jerami, yang di dalamnya menumpuk ribuan wajan, yang kebanyakan tertutup dalam selimut debu. Jelas sekali, tidak ada yang masuk ke sini belakangan ini.

“Ayo pilihlah satu, Adik Kesembilan, lalu kembali dan bantu menanak nasi. Jika nasi terbakar, maka para murid Tepi Sekte akan membuat ulah lagi.” Sembari berteriak, Zhang si Gemuk Tertua berbalik dan berlari untuk bergabung kembali dengan pria gemuk lainnya ketika mereka bersibuk ria di antara lebih dari seratus wajan masak.

Menghela napas pasrah, Bai Xiaochun melihat wajan-wajan, dan tertekan antara yang mana yang harus dipilih ketika tiba-tiba dia menyadari sebuah wajan tertentu tergeletak di sudut, terkubur di antara banyak tumpukan.

Adalah sebuah wajan yang unik, yang bukannya bundar, namun berbentuk lonjong. Bahkan tidak pas tampak lonjong, namun lebih pasnya, seperti sebongkah cangkang penyu. Terdapat juga penanda yang tampak samar-samar pada permukaannya.

“Eee?” Sepasang mata Bai Xiaochun semakin bersinar, dan dia segera melangkah mendekat serta berjongkok untuk melihat wajan dengan lebih dekat. Setelah menyeretnya keluar dan mengamati dengan lebih saksama, matanya mulai bersinar dengan kepuasan.

Dia menggemari penyu sejak dia kecil, alasan terbesarnya karena penyu melambangkan dirgahayu, usia panjang. Mempertimbangkan bahwa dia datang untuk belajar mengenak latihan kedewataan dengan tujuan hidup abad, saat dia melihat wajan cangkang penyu, maka dia tahu ini adalah tanda yang sangat jelas, sebuah pertanda baik.

Setelah dia keluar dengan wajan, Zhang si Gemuk Tertua melihatnya dan bergegas mendatanginya, dengan sendok nasi masih di tangan.

“Adik Kesembilan, mengapa kamu memilih yang itu?” dia bertanya dengan tulus, sembari mengelus perut buncitnya. “Wajan itu sudah ada di sana selama bertahun-tahun, dan tak seorang pun pernah menggunakannya, karena tampak seperti cangkang penyu dan orang-orang tidak ingin menaruh itu di punggung mereka. Umm… apa kamu yakin Adik Kesembilan?”

“Aku yakin.” Bai Xiaochun menjawab dengan kebulatan hati, menatap wajannya dengan bangga. “Inilah wajan untukku.”

Zhang si Gemuk Besar berusaha untuk membujuknya beberapa kali lagi, namun akhirnya menyadari bahwa Bai Xiaochun sudah membulatkan tekad. Akhirnya, dia hanya memandang dengan rasa aneh dan akhirnya berhenti berusaha. Setelah memberikannya salah satu gubuk beratap jerami di wilayah Perapian untuk tempat tinggal Bai Xiaochun, dia kembali bekerja.

Segera, senja pun tiba. Bai Xiaochun duduk di dalam gubuk beratap jeraminya, mengamati wajan berbentuk cangkang penyu. Satu hal yang menonjol baginya adalah desain yang teraba di balik wajan, yang begitu samar sedemikian hingga orang tak akan bisa melihat kecuali mengamati secara dekat.

Dia langsung bisa tahu bahwa ini bukanlah wajan biasa. Dengan perlahan menempatkannya di atas tunggu, dia memandang ke sekitar gubuk kecil. Sungguh sangat sederhana. Selain tungku, terdapat sebuah ranjang, meja, dan sebuah cermin tembaga bergantung di dinding. Saat Bai Xiaochun memalingkan kepalanya, wajan yang tampak biasa di belakangnya tiba-tiba memancarkan semburat sinar lembayung!

Sejauh yang menjadi perhatian Bai Xiaochun, ini menjadi hari yang padat dengan pelbagai kejadian bermakna. Dia akhirnya tiba di negeri impiannya, dunia para Batara. Pada saat ini, dia masih sedikit terpukau dalam lamunan.

Setelah beberapa saat, dia menarik napas dalam, dan matanya bersinar penuh harap.

“Aku akan hidup selamanya!” Begitu dia duduk di sana, dia mengeluarkan kantung yang diberikan oleh perempuan berwajah penuh bercak.

Di dalam tas terdapat sebuah pil obat, sebuah pedang kayu, sejumlah hio, dan sebuah seragam abdi, serta sebuah medali perintah. Akhirnya, ada sebuah gulungan bambu dengan sejumlah karakter yang tertulis pada sampulnya.

“Seni Kendali Belanga Chi Lembayung. Pedoman Pengembunan Chi.”

Petang tiba, Zhang si Gemuk Tertua dan yang lainnya di Perapian sedang sibuk. Sementara, Bai Xiaochun mengamati gulungan bambu, matanya bersinar penuh harap. Dia datang ke sini dengan tujuan belajar bagaimana caranya hidup selamanya, dan dia tengah menggenggam kunci mencapai tujuan ini tepat di tangannya saat ini Setelah mengambil napas dalam, dia membuka gulungan tersebut.

Dalam sekejap, matanya berseri-seri dengan suka cita. Gulungan bambu memiliki tiga gambar, dan disertai dengan tulisan yang menjelaskan bagaimana latihan dibagi ke dalam dua tahapan Pengembunan Chi dan Peletakan Dasar. Seni Kendali Belanga Chi Lembayung terbagi ke dalam sepuluh tingkatan, dan tiap-tiapnya terkait dengan sepuluh tingkat Pengembunan Chi.

Dengan menerapkan pelatihan hingga tingkat yang diberikan, akan memungkinkan untuk mengendalikan benda-benda yang berwujud. Setelah mencapai tingkat ketiga, orang dapat mengendalikan separuh belanga kecil. Pada tingkat keenam, menjadi separuh belanga besar. Pada tingkat kesembilan, menjadi sebelanga penuh. Untuk siklus purna terakhir, seseorang bisa mengendalikan dua belangan penuh.

Sayangnya, gulungan ini hanya menjelaskan hingga tingkatan ketiga seni tersebut, tanpa penjelasan lebih lanjut mengenai tingkatan selanjutnya. Kunci dari semuanya adalah pelatihan, menggunakan tata cara Prana yang telah ditetapkan untuk mengembangkan Seni Kendali Belanga Chi Lembayung.

Bai Xiaochun menjernihkan batinnya dan mulai mengatur napasnya. Lalu ia menutup mata dan meniru sikap raga yang dilukiskan oleh gambar pertama pada gulungan bambu. Dia mampu bertahan selama tiga rangkaian napas sebelum nyeri hebat menyerangnya. Akhirnya, dia berteriak dan menyerah. Yang dapat dia ketahui, menggunakan tata cara Prana nyatanya menguras seluruh udara keluar dari raganya, membuat tak mungkin untuk bernapas.

“Ini terlalu sulit,” pikirnya. “Menurut penjelasan di bawah gambar, ketika orang berlatih jenis latihan ini, ia seharusnya merasakan sehelai Chi mengalir melalui raganya. Namun tadi, aku hanya merasakan nyeri hebat.” Dia mulai menjadi kecewa. Namun, demi hidup selamanya, dia mengeretakan geligi dan mencoba lagi. Dia mengulangi proses lagi dan lagi hingga sekitar tengah malam. Sepanjang waktu tersebut, tak sekali pun ia merasakan ada Chi melewati raganya.

Namun bagaimana dia bisa tahu, bahwa seseorang dengan bakat terpendam yang istimewa pun yang mencoba melatih tingkat awal Seni Kendali Belanga Chi Lembayung akan memerlukan setidaknya sebulan untuk berhasil, kecuali mereka mendapatkan bantuan dari luar. Mempertimbangkan itu, gampangnya adalah mustahil baginya untuk bisa berhasil hanya setelah beberapa jam.

Tubuh yang ngilu dan nyeri, Bai Xiaochun pada akhirnya meluruskan badan, dan ketika dia hendak mencuci muka, tiba-tiba, dia mendengar keributan di luar. Dia menjulurkan kepalanya ke luar jendela dan seketika menengok seorang remaja laki-laki berwajah biasa saja berdiri di pintu halaman utama Perapian. Dia tampak murka.

“Aku adalah Xu Baocai! Siapa pun yang telah mengambil tempatku di sini, segera keluar sekarang juga!”

Sebelumnya

Kehendak Abadi 1 - Aku adalah Bai Xiaochun

Gunung Puncak membentang di Rangkaian Pegunungan Belantara Timur, dan di kakinya terdapat sebuah desa kecil yang unik. Penduduk desa bergantung hidup dari bumi sekitarnya, dan tidak memiliki banyak hubungan dengan dunia luar. Saat ini fajar menyingsing, dan penduduk desa berkumpul ... Read more

Selanjutnya

Kehendak Abadi 3 - Enam Untai Kesejatian

Dengan melongoknya Bai Xiaochun keluar jendela seketika menarik perhatian pemuda berwajah biasa saja itu. Dengan marah, dia berteriak, “Jadi, kamulah bocah yang mencuri posisiku!” Sudah terlambat bagi Bai Xiaochun untuk menarik masuk kembali kepalanya dari jendela. Dia segera memasang raut ... Read more