Naskah 1 – Dandelion Beku

Tetes-tetes air dari stalagtit terdengar menggema bersama dengan langkah kaki pria paruh baya yang menyentuh lantai beku gua purba. Tembakan sinar lampu dioda berkekuatan sedang yang berayun-ayun membuat sejumlah terang yang cukup di depan, namun tidak terlalu bermakna karena terhalang padatnya stalagmit dam stalagtit yang cukup membuat si pria merunduk dan berjingkrak berkali-kali untuk melewatinya dengan tergesa-gesa.

Sementara si pria yang menyerupai petualang Jones itu masuk semakin dalam ke pusat labirin alam, sepasang mata tidak bisa lepas mengawasinya. Tentu saja, sangat mustahil bagi si pria itu untuk mengetahui bahwa ada yang bisa mengawasinya, bahkan ketika sinar lampunya semakin redup ditelan kegelapan gua yang tidak ditembus oleh sinar alam.

Dan di pusat labiran tua, air menggenang membentuk kolam melingkar, dan di tengahnya sebuah stalagmit mencuat tinggi dan tampak bertemu dengan stalagtit penciptanya. Pria itu masuk ke dalam kolam yang pada sisi stalagmit kedalamannya mencapai setinggi lutut. Tentu saja tidak ada yang tahu apakah tempat itu memang pusat dari labirin tua, tapi sesuatu di dalam diri si pria berkata, ini adalah tempat yang paling mungkin ia cari-cari selama ini.

Sepertinya, alam tidak sepenuhnya jadi pencipta di sini…’

Pria tersebut berpikir sesuatu dan berusaha mencari tanda lain dengan melihat kiri dan kanan sambil mengarahkan pancaran lampu diodanya. Tapi ia tidak melihat tanda lain yang bermakna, dan tangannya pun kembali menyentuh stalagmit yang tampak dingin di hadapannya.

Sinar lampu dioada yang mulai berkedip-kedip kadang menghantam pelbagai sudut gua dengan acak, seakan-akan menimbulkan siluet dari tarian suku-suku primitif yang mungkin pernah menghuni tempat tersebut di masa lalu; ataukah mereka justru yang akan melihat pendatang di masa ini sebagai spesies yang lebih primitif?

Tapi tidak ada bukti bahwa gua purba tersebut pernah dihuni sebelumnya! Setidaknya tidak sampai saat ini.

Suasana menjadi semakin hening, si pria menyeka keringat dengan tangannya; dia memang sampai dengan tergesa. Kembali diperhatikannya stalagmit itu dengan seksama, dan kemudian memutuskan bergerak memutari tugu alam dengan diameter hampir dua meter itu searah jarum jam.

Tidak ada yang tahu apa yang ada dalam pikiran pria itu, termasuk tidak juga sepasang mata yang mengawasinya tanpa lepas, seperti pemangsa yang sedang menguntit buruannya dengan penuh kewaspadaan. Sepasang mata yang tidak menunjukkan hal lain kecuali suatu rasa ingin tahu yang tinggi.

Ini benar-benar menghabiskan setidaknya tiga lembar naskah dengan percuma” – Div mengeluarkan keluhan pelan seraya menggelengkan kepalanya.

Anak itu duduk di atas sofa lembut dengan pegangan dari kayu mahogani berulir. Berusia sekitar 10 tahun, rambut hitam lurus yang dipotong terlalu pendek, sehingga beberapa mencuat seperti jarum tidak beraturan. Mata coklatnya dengan tajam menatap layar lebar berosulisi tinggi di dalam sebuah ruangan gelap.

Sebentar lagi adegan utama akan dimulai.” Dia tersenyum sambil menutup matanya sejenak, “Entah kali ini berapa banyak lagi …”

Ingatkan kembali membawanya ke dalam medan perang lebih dari enam tahun yang lalu, di mana mesiu berbasuh darah membuat banyak lubang di tanah dan bangunan, di mana api menyala-nyala dan melahap peradaban yang lemah, dan jeritan serta aroma kematian yang mendesak yang mereka yang masih bernapas untuk berusaha merangkak ke luar dari neraka dunia.

Hampir tidak ada tempat untuk bersembunyi. Kematian selalu mengincar di mana-mana! Dan ketika dia menemukanmu, maka kadang kamu akan merasa lega tidak perlu berlari atau bersembunyi lagi.

Div tidak pernah ingat di mana dia berasal, ingatan hanya ia mengikuti rombongan pengungsi untuk lari dan bersenyembunyi dari puing-puing kota hingga hutan-hutan dan sebaliknya. Tidak ada keluarga, hanya ada beberapa kenalan, sepanjang dia mengingat.

Semua orang kadang berebut sisa makanan yang diselundupkan dari luar, atau ditemukan di puing-puing yang mereka lewati. Yang beruntung menemukan sendiri bisa memakan tanpa dibagi sembari menahan lapar.

Keberadaannya dalam rombongan pengungsi mungkin antara ada dan tiada, tidak ada yang terlalu peduli. Si kecil itu hanya tahu, mencoba untuk tidak kelaparan, tidak kehausan, dan tidak terlalu kelelahan. Serta menjauh dari pengungsi lain yang tampak sakit.

Bahkan jika diingat lagi, dia tidak tahu bagaimana ia mengetahui hal-hal mendasar itu. Insting yang kuat membuatnya tahu apa yang harus dilakukan untuk tetap bertahan hidup.

Tapi suatu ketika semuanya berubah, dan dia yakin bahwa itulah saat akhir kehidupannya.

Div kecil terpisah dari rombongannya ketika tertidur di pinggiran sebuah kota, di mana para pengungsi lainnya juga. Mereka tidak berani memasuki kota, sebelum mengirim orang untuk melihat apakah kota yang tampak mati itu masih memiliki nyawa atau bahkan mungkin bahaya.

Dalam pengungsi pun masih banyak di antara orang dewasa yang membawa senjata, mulai dari pistol tua kecil, hingga roket yang bisa menembus sebuah tank atau menjatuhkan pesawat nirawak.

Sekitar 10 dari 50-an pengungsi yang bersenjata ini memasuki kota untuk menyusuri dan mencari informasi tentang kota tersebut. Div, tidak terlalu peduli, dia sudah melihat ini beberapa kali sejak mereka berjalan entah beberapa lama, untuk anak kecil seperti dia, biasanya akan menumpang pada gerobak yang berisi jerami yang ditarik oleh sapi atau kuda. Anak yang lebih besar, sekitar dua atau tiga tahun darinya akan berjalan kaki, dan yang empat tahun atau lima tahun akan berjalan kaki dengan membawa serta sejumlah perbekalan kelompok pengungsi. Jika Div terlambat naik ke atas gerobak atau pedati, maka dia akan ditinggal oleh rombongan, tidak akan ada yang peduli.

Dulu ada sekitar dua ribuan pengungsi, dan ingatan Div yang pendek hanya menyebut itu sangat banyak, dan kemudian hanya tersisa seperempat dari jumlah semula, yang dia ingat sebagai sangat sedikit sebelum memasuki kota.

Hujan deras di pinggiran kota, Div menutup dirinya dengan beberapa papan kotor di pinggir sebuah reruntuhan sekolah yang dijadikan pemberhentian sementara rombongan sambil menunggu kabar dari orang yang mereka kirim memasuki kota. Biasanya antara tiga atau empat jam, tergantung luas dan kerumitan struktur kota, tim sudah datang dengan rencana perjalanan melewati kota tersebut dengan aman.

Sudah beberapa kali purnama terlewati tanpa ada yang mencegat atau menyerang rombongan pengungsi, mereka mereasa cukup aman.

Div kecil pun tertidur dengan pulas, dia berharap bisa menemukan setidaknya makanan, untuk minum, kemungkinan hujan yang menggenang di kota akan cukup.

Anak kecil ini belum paham tentang kesehatan, tapi dia cukup beruntung sejauh ini tidak jatuh sakit. Beberapa di antara anak usianya meninggal karena sakit, dan mungkin sama banyaknya dengan mereka yang tewas terkena peluru, ranjau atau di ujung bayonet.

Sepi …

Ketika Div terbangun, suara hujan sudah mereda, namun tidak ada siapapun di sekitarnya.

Semuanya sudah pergi, entah berapa lama dia tertidur. Tidak ada orang yang tersisa. Tapi kenapa semua orang pergi?

Dia melihat jejak di atas tanah yang becek, rombongan sudah meninggalkan tempat itu! Dan ketika melihat ke belakang, dia melihat tempatnya tadi tertidur, sepertinya tidak akan ada orang yang sadar bahwa di balik papan tersebut anak kecil yang tertidur.

Tubuhnya otomatis berlari kencang mengikuti jejak tadi. Dia tertinggal, dan dia tahu harus segera berlari, tidak boleh menangis, karena menangis tidak akan membantunya menemukan rombongannya.

Matahari sudah hendak terbenam, langit Barat Daya sudah menjingga dengan awan-awan merah yang mulai bertambah gelap seperti warna darah yang menggenangi langit.

Tubuh kecilnya beberapa kali terjatuh dan terseret, penuh lumpur dan luka lecet, nyeri serta perih sudah tak lagi terkira. Mesti tertatih, si kecil ini tak mau langkahnya bertambah lambat.

Bayangan pinggiran kota yang telah menjadi puing dan dirambah oleh hutan dan belukar tidak dipedulikannya. Karena semakin lambat dia berlari, maka akan semakin sulit melihat jejak dalam suasana yang bertambah gelap.

Tiba-tiba langkahnya terhenti, dia sudah tiba diujung jalan, dan dihadapannya adalah bentangan bayangan kota yang telah berubah menjadi puing-puing pada dataran yang lebih rendah. Beberapa bangunan yang masih menjulang tinggi bisa dilihat, namun tidak banyak. Dia ingat cerita orang-orang dewasa, bahwa sebentar lagi mereka akan memasuki kota yang sekitar seabad yang lalu merupakan salah satu pusat kebudayaan di tanah mereka – dikenal sebagai kota mangkuk seni, tapi perang seabad tampaknya membuat gambaran kota dalam kisah dan kenyataan bagaikan siang dan malam. Tidak ada lagi kehidupan meriah dan riang seperti dalam kisah.

Di kejauhan ia melihat siluet orang-orang yang bergerak dalam jumlah besar dengan senyap. Dia tahu, selama rombongan bergerak di dalam kota, mereka hanya berbisik antara sesama, dan berusaha tidak membuat suara.

Wajah si kecil Div menjadi ceria, seakan rasa sakit tidak lagi berarti. Dia tahu, dia bisa segera kembali ke rombongan.

BOOM…! BOOM…! BOOM…!

Tiba-tiba suara-suara dentuman bergelegar di langit, disertai dengan suara-suara desingan khas yang membalut angin, itu adalah… suara-suara kematian.

Wajah Div langsung berubah pucat, tangan dan kakinya menjadi dingin dan lemas, seakan darah ditarik semua ke dalam pusat tubuh untuk bersiap melindungi seluruh organ vital di dalam tubuh mungilnya.

Dalam sekejap, teriaknya muncul dari dataran rendah di bawah. Dan …

DUAR…!

Ledakan pertama tepat di tengah rombongan, ledakan kedua, ketiga dan selanjutnya tanpa henti memunculkan neraka di atas muka bumi.

Tiba-tiba Div berlari kencang, dia tidak berlari pergi menjauh, namun menuruni lereng terjal dan menuju ke rombongan, menuju pusat ledakan-ledakan tersebut.

Dia sudah pernah melihat ini berulang kali, pemandangan yang sama, aroma yang sama, suara yang sama, semuanya hanya menuliskan kematian yang mengerikan – jauh dari kematian manis yang didongengkan para dewasa untuk menenangkannya dan anak-anak lain di rombongannya.

Dia tidak tahu kenapa berlari, dia tidak tahu dunia lain selain mereka yang bersamanya selama ini. Dia tidak tahu dunia di dalam dongeng mereka para dewasa. Dia hanya tidak mau terpisah dari dunianya.

Petang itu begitu mengerikan, begitu memilukan, namun si kecil yang baru setahun lalu mulai tahu cara berlari kencang, kini sudah berlari secepat rusa yang dikejar harimau; hanya saja – aneh – tanpa ada ekspresi takut di wajahnya.

Div tahu, dia selama ini ikut orang dewasa untuk lari dari sesuatu, dan untuk terus tetap hidup. Tapi setiap hari ia melihat ada kematian, dan mereka masih tetap selalu berlari.

Bibi Petra, kapan kita akan sampai…” Div bertanya pada seorang yang sering membagikan roti dan kadang manisan pada anak-anak di rombongan.

Wanita muda dengan banyak kerutan di wajah itu hanya tersenyum dan tertawa kecil, “Nak, hanya langit yang bisa menjawab pertanyaanmu.”

Dia ingat, bahwa dia tidak pernah mengerti apa yang sedang terjadi. Langkahnya semakin pelan ketika mendekatnya tujuannya. Semua orang yang dia tahu ada di depan sana. Tapi semuanya berada di dalam nyala api yang berkobar-kobar, bahkan panasnya terasa sampai jauh.

Dalam pandangannya, dia bisa melihat orang-orang menjerit dan menangis kesakitan, banyak yang berguling di tanah dengan tubuh yang dilalap api, banyak yang telah tak bergerak dan dia tak bisa bisa mengenali mereka lagi, karena tubuh-tubuh itu tak semuanya utuh.

Si kecil Div jatuh bersimpuh, dia tersenyum, hanya saja guratan tipis itu menyiratkan kelelahan yang mendalam. Bukan tubuh, tapi jiwa yang lelah, jiwa kecil yang lelah.

Dia bisa mendengar suara jeritan, kobaran api, hingga suara ledakan serta bangunan yang runtuh kembali. Dia menutup matanya, dan dan membiarkan telinganya mendengar, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Suara angin, suara serangga malam di kejauhan, dan lolongan serigala di puncak bukit dan jauh dari semua itu. Entah bagaimana ia bisa mendengar semua itu, seakan-akan dia bisa mendengar semua suara yang berada di bawah langit yang sama.

Di bawah hujan artileri kelas berat yang menghancurkan, dan mata yang tertutup. Jiwa mungil itu merasa, mungkin inilah yang dicari ketika mereka berlari, dia tahu apa yang sedang meluncur dengan cepat ke arahnya, namun ia tidak menemukan ada rasa takut, rasa khawatir, sedih, atau bahkan gembira. Di saat menutup matanya, dia sudah membuang semua itu, dan merasa seperti berada dalam laut yang begitu damai tanpa tepi.

Langit Barat Daya tiba-tiba mencuatkan cahaya lembayung yang gemilang, dan segera menyebar melingkupi seluruh cakrawala. Dan cahaya yang sama mulai menyelimuti tubuh si kecil Div, tanpa suara, tanpa rasa. Tidak ada seorang pun yang tampak menyadari hal ini. Karena terjadi lebih cepat daripada kedipan mata, sebelum tempat bersimpuh di kecil akhirnya meledak dengan dashyat bersama beberapa tempat di sekitarnya. Gempuran artileri yang dashyat.

Badai salju belum berakhir, di antara pohon pinus sejumlah bayangan kembali menerjang ke luar menuju jalan yang tertutup salju tebal.

Beberapa suara kecil tembakan nyaris tidak terdengar berkat peredam dan suara angin dari badai yang sudah beberapa jam menerjang wilayah itu.

Sebuah tubuh melompat dan meliuk beberapa kali di atas salju. Badan besar setinggi 2,1 meter itu dengan mudah memberikan hantaman dan tendangan ke beberapa orang yang menyerangnya.

Arrggghh…”

Beberapa suara rusuk yang patah terdengar beserta jeritan dari seorang penyerang yang mengenakan pakaian serba putih dan topeng putih.

Sial, mereka berdatangan tak habis-habis seperti ngengat yang mencari cahaya lampu.” Afon’ka tersenyum sinis melihat sejumlah bayangan yang bergerak ke arahnya.

Di sekitar lelaki bertubuh kekar ini, setidaknya ada sekitar lebih dari selusin tubuh yang bergelimpangan. Dan masih ada selusin lagi yang bergerak ke arahnya.

Dan beberapa di antaranya tiba-tiba terjatuh dengan darah yang muncrat dari kepala mereka. Membuat mereka bertambah beringas.

Tidak seperti kita yang merupakan tentara bayaran, sepertinya mereka adalah pasukan khusus yang cukup terlatih” – Melalui alat komunikasi nirkabel yang terhubung dengan tubuhnya, Akilina memberikan pendapat singkat pada rekannya.

Afon’ka diam sejenak, “Ya, pastinya. Jika tidak, bagaimana mungkin utusan sang ratu menyewa kita bertiga hanya untuk memancing beberapa dari mereka ke kota bawah.”

Kita hanya menjadi bait, namun yang sebagian yang dipancing ternyata memang para kesatria sungai. Afon’ka tidak bisa menyembunyikan keheranannya, membandingkan para penyerangnya dengan sebutan ikan besar yang didapat dari hobi memancingnya.

Kemudian pertarungan berlangsung lagi, dan dalam dua jam suasana kembali tenang. Tidak ada lagi aura pembunuh yang terasa di udara yang dingin itu.

Dan tiga orang kembali duduk di kedai sambil menikmati bir mereka.

Mereka dikenal sebagai TriA, Afon’ka – sang penjagal, Akilina – si penembak jitu, dan Avgustin – pembunuh bayangan.

Mereka semua lebih banyak diam, karena memikirkan apa yang baru mereka lalui.

Aku dapat sekitar delapan belas. Akilina, setidaknya kulihat menembak sekitar dua belas.” Lalu Afon’ka melihat rekan satunya lagi, “Avgus…, berapa yang kamu temukan?”

Dua puluh.” Jawab lelaki kurus itu dengan singkat.

Berarti sekitar lima puluh pasukan khusus. Dan mereka luar biasa berbahaya. Jika kelompok lain yang menerima tugas menjadi umpan ini, mereka mungkin tidak akan berhasil tanpa korban.” Seteguk bir kembali menghangatkan tenggorokan Afon’ka sebagai pimpinan kelompok.

Kelompok mereka ahli dalam penyerangan, perang gerilya, hingga sabotase kekuatan militer. Tentu saja menghadapi kekuatan militer terlatih seperti tadi bukan hal asing. Tapi mengapa pasukan seperti itu ada di sini, adalah pertanyaan.

Akilina melihat kedua rekannya, dia pun merasakan kegelisahan yang sama. “Mereka tidak seperti pasukan yang pernah kita lihat, dari jauh saat membidik, aku bisa pastikan semua ciri pasukan khusus yang pernah kulihat. Metode mereka, tidak satu pun yang sesuai dengan pergerakan pasukan khusus di sekitar sini. Jangankan di wilayah ini, bahkan tidak di lima negara terdekat.”

Mereka datang dengan seorang anak kecil, dan tinggal di sebuah vila di puncak bukit bersalju selama tiga hari. Kemudian mereka turun dengan mobil penuh senjata, sambil memancing kelompok asing bersenjata ke kota di bawah bukit.

Dan kini, mereka menyadari, setidaknya ini tidak sesedarhana itu. Pasukan khusus tidak menjadikan mereka target utama, pastinya hanya melenyapkan yang kemungkinkan menghalangi misi mereka.

Tapi mereka bertiga tidak pernah mendapatkan perintah kembali ke puncak bukit untuk melindungi anak yang mereka tinggal. Perintah mereka hanya berbunyi, “Tetap di kota sampai besok pagi, dan tugas akan selesai.”

Mereka adalah tentara bayaran, tidak berani bertanya lebih banyak lagi. Apalagi yang mempekerjakan mereka adalah utusan ratu.

Mereka sudah biasa melihat intrik dan keanehan. Tapi mereka baru saja diserang oleh setidaknya sepuluh regu pasukan elit. Dan lebih banyak lagi masih ada di atas sana, entah apa yang akan terjadi.

Sebuah vila menjadi bintik hitam di puncak bukit yang tampak langsung dari tempat TriA menghabiskan bir mereka.

Div bosan melihat tayangan di layar yang belum berubah sejak sejam sebelumnya.

Dia pun mengambil tablet elektronik berlayar 12 inci yang ada di meja di hadapannya.

Hmm… mereka sudah selesai?” Dia melihat citra satelit, yang anehnya bisa menembus wilayah berbadai salju. Dan dengan sedikit hapusan jari, dan sentuhan di beberapa tempat, gambar berpindah pada tiga orang yang sedang menikmati bir di pinggir jendela. Tampak gambar-gambar tersebut diambil dari CCTV di jalan dan di dalam kedai.

Lalu dia melihat kembali beberapa gambar lain, “Hmm… sepuluh?” Lalu melihat dengan lebih teliti, cara kelompok itu bergerak menembus malam dan di antara tumpukan salju dan pinus. Lalu Div hanya bergumam, “Elit … bahkan elit di antara elit.”

Waktunya naik ke panggung pentas – Div hanya tersenyum, dia berdiri dengan pakaian putih dan segera mengenakan perlengkapan seperti akan mendaki gunung.

Dengan menempelkan alat komunikasi nirkabel di telinga, mengenakan kaca mata pelindung yang tebal, dan topi beludru putih. Maka persiapan terakhir selesai sebelum mengambil papan seluncur.

Sepuluh orang tadi bergerak, mendekat sebuah vila berlantai empat di puncak bukit bersalju.

Sersan, bagaimana situasinya?” Tanya seseorang yang bergerak paling depan.

Hanya satu orang Letnan, pemindai panas tubuh hanya menunjukkan satu orang yang sejak sejam lalu di ruangan bagian Timur di lantai empat. Dan belum berubah.” Orang kedua memberikan laporan singkat.

Sama seperti setiap lima belas menit, tidak ada yang berubah. Hanya saja, lima belas menit yang lalu, kontak terputus dengan tim yang bergerak ke bawah bukit.

Mereka tahu, lima puluh orang elit tidak akan mampu menghadapi TriA yang sudah menjadi legenda. Tapi setidaknya mereka memberi waktu sepuluh orang untuk bisa bergerak cepat mendekati sasaran.

Dan mereka hanya berada sekitar seratus meter dari perimeter target.

Oke, jangan buang waktu waktu, semua bergerak sesuai rencana. Ingat, cepat dan senyap. Kita hanya punya kesempatan ini.” Sang letnan memberikan aba-aba.

Kesepuluh orang langsung menerobos masuk. Pergerakan mereka begitu tepat guna, mengalir seperti angin, mengamankan satu per satu ruangan, hingga tiba di lantai empat.

Bruakk…!

Pintu ruangan didobrak dan sekitar lima senapa semi otomatis mengarah pada sosok yang duduk di atas sofa.

Wajah sang letnan yang sebelumnya penuh semangat, tiba-tiba menjadi pucat. “Android replacement body” – atau raga sintetis – ARB, hal paling sederhana dalam taktik perang seperti orang-orangan sawah, hanya saja dalam bentuk yang lebih modern dengan kemampuan memancarkan radiasi panas mirip tubuh manusia sebagai salah satu poinnya.

Tentu saja, letnan tahu tentang ARB. Tapi tidak pernah tahu jika ARB dalam bentuk anak usia sepuluh tahun juga ada. Dan mungkin tidak pernah mempertimbangkan itu.

Apa-apaan ini?!” Dia menjadi sangat geram, dan suaranya menggelegar. Ini adalah tipu muslihat paling dasar, dan dia bahkan tampak lebih bodoh keledai saat ini.

Namun pada saat dia hendak berpaling, kedua mata ARB tiba-tiba menyala biru terang. Dan …

BOOM!”

Vila tersebut meledak dengan dashyat, api biru menggelegar ke angkasa. Sebelum digantikan reruntuhan vila yang dijilati oleh si jago merah. Lalu semuanya menjadi hening lagi, kecuali nyala api dan hembusan angin malam.

Di seberang ngarai tidak jauh dari amukan api merah yang melahap sebuah vila. Dari sebuah pondok kecil, sosok Div muncul muncul membawa papan seluncurnya.

Sebaiknya pergi sebelum pesawat pengintai nirawak memenuhi langit di sini.” Dia hanya tersenyum.

Sekitar empat kilometer kemudian, Div tidak lagi menggunakan papan seluncur. Ia melompat di ngarai berikutnya dan membuka layang gantung bersayap putih, dan menyusuri ngarai menuju lautan terbuka di bagian Utara.

Alexander.” Div berkata cukup terdengar pada alat komunikasinya.

Ya Tuan.” suara bernada berat namun santun menjawabnya.

Hubungkan aku dengan Lex, ini sudah waktunya.”

Baik Tuan.”

Beberapa saat kemudian. Suara lain menyahut di telinganya, suara yang sangat dia kenal, suara yang sebaya dengannya.

Hai, Div…” pemilik suara ini terdengar sangat riang. “Aku dengar kamu meledakkan sebuah bukit malam ini. Wah, kawan, aku sampai khawatir.” Kemudian suaranya terdengar agak ditahan.

Tidak masalah, mereka memang berbahaya. Tapi setidaknya ini memberimu waktu sampai beberapa pekan.” Div meluncur melalui ngarai dan berusaha tidak naik ke permukaan ngarai.

Angin di ngarai lebih kencang dibandingkan di permukaan. Untungnya, arahnya saat ini sedang berada dalam bantuan angin, jika tidak, layang gantungnya pasti sudah remuk sejak tadi.

Maaf kawan, aku tidak menyangka, menjadi saksi pembunuhan penerus tahta itu akan begitu mengerikan. Meskipun keluargaku memiliki pengaruh, tapi orang-orang itu terlalu mengerikan.”

Div hanya diam sejenak, dia tahu malam ini dia menyamarkan diri seolah-olah menjadi Lex yang sedang berada dalam perlindungan saksi, dan dilindungi oleh elit TriA. Dan untuk membuat orang-orang itu berhenti mengejar Lex, maka mereka harus percaya, antara Lex sudah tidak ada di dunia ini, atau Lex tidak bisa dibuktikan ada di dunia ini.

Api biru itu seharusnya tidak menyisakan apapun dalam radius 10 meter. Bahkan jika pun orang-orang curiga, mereka akan tetap ragu. Itu akan cukup hingga sampai … Div tahu apa saja kemungkinan pentas berikutnya. Dia hanya tidak ingin memikirkannya.

Lex…, aku akan pergi sekarang. Ini hanya satu-satu cara untuk membantu situasi kita.” Div dan Lex sudah seperti saudara, kesulitan satunya, adalah kesusahan juga bagi yang lainnya.

Berapa lama kamu akan pergi?”

Sekitar enam bulan…”

Apa…?” Suara Lex begitu kaget. “Tapi…, tapi itu berarti kamu akan menghabiskan hampir dua belas tahun di sana?” Lex sangat tahu apa artinya pergi selama enam bulan.

Ha ha…, tidak masalah. Ini juga bukan pertama kalinya aku pergi. Tapi mungkin ini pertama kalinya aku akan berlibur panjang.”

Tidak…! Sebelumnya kamu pergi hampir 2,5 bulan. Kamu tahu, aku harus mengerjakan semua catatan sekolah untukmu, dan mengerjakan semua pekerjaan rumahmu. Dan sekarang, aku pun tidak bisa keluar dari tempat rahasia ini. Kamu tahu kan siapa yang akan marah… dalam artian, amat … sangat… marah…?”

Ups…” wajah Div tiba-tiba pucat.

Tapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Dia sudah membuat keputusan. Dia tidak tahu bahaya yang mungkin melebihi perkiraannya. Jadi, setidaknya untuk menghapus jejak, dia yakin harus pergi selama enam bulan, karena metode yang dia gunakan, mungkin tidak bisa atau lebih tepatnya, tidak seorang pun bisa menggunakan.

Mau bagaimana lagi.” Suara Lex menjadi lebih tenang, tampaknya dia sudah menyelesaikan periode kagetnya. “Terima kasih sudah membantuku. Jika memang besok saat itu tiba. Kita akan hadapi bersama-sama.” Kini kata-katanya mengandung tawa.

Iya, sampai jumpa lagi.” Div pun tertawa. Dia paham sekali maksud sahabatnya.

Dia memejamkan matanya.

Dua belas tahun, apa yang harus kulakukan dalam dua belas tahun mendatang? Ah, sudahlah. Aku rasa hadiahku pasti akan membuat kakek senang.

Pikiran Div sempat dipenuhi tanda tanya. Namun dengan segera menjadi tenang.

Segera kemudian, langit Barat Daya mencuat sinar lembayung, yang segera menyebar ke semua cakrawala dan menutupi tubuh Div. Lalu bersama dengan layang gantungnya, dalam sekejap mata hilang tak berbekas.

Angin masih bertiup kencang di dalam ngarai, namun tidak ada kehidupan.

Di luar gerbang batas Kota Yoria, orang-orang berjejer mengantri untuk masuk kota. Beberapa prajurit dengan pedang dan tombak tampak berdiri di tepi gerbang.

Pak, ada urusan apa Anda datang?” tanya seorang petugas pencatat yang didampingi oleh dua prajurit yang memegang tombak.

Kami mengantarkan kiriman jamur embun seribu tahun untuk guru besar yang berulang tahun.” Sembari membuka kotak hitam, seorang yang tampak seperti saudagar kaya.

Setelah mencatat mereka yang akan masuk ke kota, petugas juga meminta satu keping koin perunggu sebagai biaya masuk. Ini termasuk murah, kota lain kadang meminta hingga dua keping koin perak.

Tidak jauh dari barisan depan, angin tiba-tiba berhembus memutar bersama dengan bumi bergetar halus. Seorang anak membuka matanya, dan sinar lembayung sesaat berpendar lembut. Tapi tidak seorang pun menyadari hal ini.

Anak kecil ini membawa seekor keledai yang menarik gerobak berisi sebuah kotak papan kayu yang panjang, sehingga melebihi panjang gerobak itu sendiri. Lebarnya sekitar setengah meter, sementara panjangnya sekitar lima meter, dari gerobak yang hanya sepanjang tiga meter.

Tidak ada yang peduli pada padanya, karena pakaiannya yang dekil. Orang-orang akan melihat anak ini mungkin sebagai pesuruh yang sedang diberi pekerjaan oleh majikannya.

Dan gilirannya tiba di depan meja petugas pemeriksa. Petugas tersebut dengan santai melemparkan pertanyaan yang sama pada anak kecil ini.

Anak itu mengambil sesuatu dari kantung kulit di pinggangnya, dan memperlihatkannya kepada petugas tadi.

Niscaya petugas tersebut dan dua prajurit di samping terbelalak. Petugas itu berdiri dan membungkuk.

Tuan muda, mohon maaf, silakan masuk…” Kata-katanya tergagap.

Anak kecil itu hanya tersenyum sambil melenggang masuk, bahkan si keledai pun mengangkat kepalanya penuh wibawa. Sementara orang-orang yang kaget melihat petugas, mereka mulai berbisik-bisik. Anak yang tidak tampak penting di hadapan mereka, tampaknya bukan anak kecil sembarangan.

Siapa tuan muda itu…?” Salah satu prajurit bertanya pada petugas.

Aku tidak tahu…”

Prajurit itu kaget, “Apa..? Bahkan ketika tuan tidak tahu tapi masih membiarkan anak itu masuk?”

Tanda pengenal itu…, bagaimana mungkin aku tidak membiarkannya lewat. Bahkan menahan sebentar untuk menanyakan siapa gerangan tuan muda itu saja aku tidak berani.”

Mereka paham sekali situasi ini. Tanda pengenal dari batu giok putih salju, di dalamnya terpahat pola randa tapak sempurna – Dandelion Beku – tanda dari Istana Puncak Benderang, mewakili kehadiran mahaguru sendiri.

Bahkan jika kaisar sendiri yang melihat tanda itu, dia akan tetap tunduk. Dia tidak akan berani menentang kehadiran perwakilan mahaguru.

Dari Istana Puncak Benderang, semua orang tahu ada tujuh orang pendekar murid utama mahaguru yang memegang tanda pengenal Dandelion Beku. Dan mereka sangat terkenal.

Tapi siapa anak kecil ini? Apakah keluarga salah satu murid utama? Ataukah dia anggota keluarga kerajaan yang dekat dengan Istana Puncak Benderang?

Selanjutnya

Naskah 2 - Vasu

Milenium ke-600, Abad ke-54, Tahun ke-10, Bulan terakhir, Tanggal terakhir. Keledai itu bersantai di pinggir ... Read more