Malam pekat menyelimuti wilayah hutan yang lebat. Beberapa bayangan melesat cepat di bawah langit mendung yang gelap, meliuk di antara pepohonan yang menebar aroma hutan hujan. Dengan suara derap menderu, tanah basah terlempar ke udara, ranting serta perdu yang malang patah dengan suara yang lirih dan bersahut-sahutan.

“Ngiikkk…!”

Suara dari bayangan paling besar di depan, melaju seakan menolak untuk berhenti.

“Di depan akan ada rintangan bukit terjal, dia pasti akan menikung dan gunakan saat itu satu serangan lagi.”

“Ya!”

Suara percakapan dari sekitar lima bayangan yang lebih kecil yang menyusul cepat di belakang. Mereka adalah kelompok pemburu yang umum ditemukan di hutan-hutan, mencari hewan buruan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Kali ini lima orang yang membentuk satu kelompok pemburu sedang mengejar sasaran mereka – seekor babi hutan sepanjang satu pedati dengan berat sekitar seribu kati. Hewan malang ini sudah lama diendus oleh kelompok pemburu, ketika jejak dalamnya ditemukan di salah satu permukaan tanah basah hutan – dan tentu saja tidak ada pemburu yang tak berliur melihat jejak babi hutan yang begitu dalam menandakan kemontokan tubuh sang babi dalam bayangan mereka.

Salah satu dari pemburu menyiapkan busur dan anak panahnya sambil tetap berlari, dia seorang laki-laki remaja berusia sekitar empat ratus dua puluh tahun, atau delapan belas tahun jika melihat dari ukuran usia manusia di Bumi. Usia yang belia untuk turut dalam kelompok pemburu, karena umumnya mereka yang ikut berburu di alam liar rata-rata dimulai pada usia lima ratus tahun.

Remaja tersebut berlari sambil mulai mengarahkan bidikannya pada bayangan hitam yang melesat sekitar seratus langkah di depan mereka. Matanya menatap tajam sasaran, napasnya dalam dan teratur meski langkah kakinya bertambah cepat. Dia memiliki kontrol yang baik terhadap situasi, dan berbekal pengalaman dan bakat, ‘wuss’, anak panah melesat lepas dari busurnya – nyaris tak bersuara membelah udara.

“Sial…!” Remaja itu menggerutu ketika anak panahnya hanya menggores punggung babi hutan. Pun demikian, darah tampak mengucur dari luka tersebut – tentu saja karena anak panah sudah dioleskan reacun yang bersifat mencegah darah membeku.

Mereka lanjut mengejar hewan tersebut hingga masuk lebih jauh ke hutan. Biasanya mereka jarang masuk ke dalam hutan, karena bukan hanya hewan buruan saja yang ada di dalamnya, namun juga hewan buas seperti harimau atau macan yang bisa berukuran sangat besar. Namun karena buruan kali ini bukan buruan biasa namun babi hutan sebesar satu pedati dan seberat seribu kati, mereka berani mengambil risiko.

Sayangnya, orang-orang ini mungkin lupa, darah yang berceceran dari babi hutan tersebut menyebarkan aroma amis yang cepat mencapai jarak yang jauh di bawah angin malam yang lembap. Aroma darah ini segera menarik perhatian hewan-hewan pemangsa.

“Braaakk…” “Kooowak… kooowak…”

Suara dentuman di tanah menyebar ke arah pemburu dan yang diburu, datang dari ke dalam hutan. Suara burung-burung yang kaget ketakutan terbang membabi buta di gelapnya malam.

Semua berhenti, para pemburu menghentikan langkahnya, peluh sudah membasahi tubuh mereka karena berlari cukup jauh, namun kini keringat dingin mulai menetes di kening mereka. Sesuatu tidak jauh dari hadapan mereka membuat bulu kuduk berdiri, naluri pemburu mereka mengatakan ada sesuatu yang sangat berbahaya di depan.

Babi hutan malang yang sudah kehilangan banyak darah pun turut kaget, namun saat berusaha berhenti berlari, hewan ini justru terpeleset dan tubuhnya menabrak batang pohon yang cukup besar. Serta merta dia terkapar, karena teramat lelah, dan karena naluri binatang di dalam dirinya berkata – jika dia bergerak dia akan mati oleh sesuatu yang ada di depannya.

“Braakk” “Braakk” “Braakk”

Suara tanah dihujam berkali-kali mendekat ke arah kelompok pemburu dan babi hutan yang kini hanya bisa mengambil posisi mendekap bumi. Tidak ada yang bernapas, bukan karena suara semacam langkah raksasa atau pepohonan yang tumbang semakin mendekat, namun karena aura amarah yang mengerikan yang menjalar ke penjuru hutan di sekitar mereka.

Remaja yang melepas anak panah tadi bersembunyi di balik sebuah pohon, dan sedikit mengintip ke arah suara tersebut.

Sesaat suasana tenang, awan mendung tersibak dan seberkas sinar rembulan jatuh ke hutan di sekitar mereka. Bersamaan juga batang pohon besar di hadapan mereka tiba-tiba digenggam oleh sepasang cakar-cakar raksasa lalu diremukkan seperti orang yang membuka paksa pintu geser dari bambu dan kertas.

“Oh tidak…! Itu Wiverna Hitam.”

“Mengapa ada hewan sakral di hutan ini? Ini bencana…!”

Para pemburu langsung merasakan kekerdilan nyali mereka. Terbiasa memburu hewan liar, mereka masih akan berani menghadapi hewan buas sebagai risikonya, namun siapa sangka mereka akan bertemu salah satu hewan sakral di sini.

Hewan sakral bagi para pemburu dari desa-desa kecil hanyalah legenda dan mimpi buruk. Jangankan desa, sebuah kota kecil akan hancur lebur jika salah satu hewan sakral muncul di sana. Bagi mereka, mendengar kisah tentang hewan sakral adalah mendengar legenda, dan bisa tetap hidup setelah bertemu hewan sakral bisa dikatakan tidak mungkin – jika seseorang tetap bisa hidup, dia akan menjadi legenda.

Meski para pemburu ini mengutuk hewan sakral yang muncul itu, mereka lebih mengutuk nasib buruk mereka. Jika mereka tidak terlalu berambisi mendapatkan buruan yang gemuk, mereka tidak akan masuk sampai terlalu dalam. Tapi nasi telah menjadi bubur, ketika muka ganas Wiverna Hitam mencuat dari antara rerimbunan dan diguyur cahaya rembulan, mereka bisa melihat bahwa nasi mereka tidak hanya menjadi sekadar bubur – tapi menjadi bubur yang teramat pahit.

“Ya dewata, jika aku bisa selamat dari situasi ini, aku akan memilih jadi petani di kampung.”

Tahu bahwa situasi buruk, mereka tidak berani bergerak, hanya berharap keajaiban runtuh dari langit – sebagaimana sinar rembulan malam itu menerangi bayangan mimpi buruk mereka.

Saat Wiverna Hitam akan melangkah ke arah mereka, tiba-tiba dia menoleh ke langit seperti melihat rembulan. Dan seketika itu, ekspresi Wiverna Hitam menjadi penuh ketakutan, seakan-akan neraka pindah ke atas langit – ekspresi Wiverna Hitam saat melihat rembulan sama seperti raut wajah para pemburu ketika melihat hewan sakral itu sendiri – ketakutan dan keputusasaan.

“Eh…, apa yang terjadi dengannya?”

Remaja muda yang jeli melihat keanehan pada Wiverna Hitam, dan bertanya pada pimpinan kelompok pemburu di sebelahnya – seorang perempuan muda berusia sekitar tujuh ratus lima puluhan.

Tapi raut wajah wanita tersebut justru bertambah buruk. Apa yang bisa membuat takut hewan sakral kecuali hewan sakral sejenisnya yang lebih kuat? Tapi Wiverna Hitam adalah hewan sakral yang terkenal dengan kecepatan terbangnya, hampir tak ada hewan sakral lain yang dapat menyamai kemampuan terbangnya. Jika pun ada hewan yang lebih kuat, maka dia tidak serta merta tidak dapat melarikan diri. Tapi jelas Wiverna Hitam di hadapan mereka sedang ketakutan, dan tak dapat lari, apa mungkin…

“Tidak… tidak mungkin.” Perempuan tersebut menggelengkan kepala.

“Apa yang tidak mungkin?”

“Jika Wiverna Hitam tersebut ketakutan seperti halnya kita yang ketakutan melihatnya, maka bayangkan apa yang bisa membuat itu.”

“Tapi aku tidak pernah mendengar apa yang bisa membuat hewan sakral ketakutan.”

“Kamu tidak pernah mendengar, karena kita di desa tidak pernah membicarakannya, bahkan menyebut nama mereka sudah menjadi sesuatu yang tabu.”

“Siapa mereka?”

“Bagi kita yang terikat kefanaan, hewan sakral adalah satu puncak piramida kekuatan. Namun bagi mereka yang sudah melatih diri hingga melampaui dunia kita, keberadaan mereka seperti para dewata.”

“Maksudmu seperti Mahaguru dari Puncak Benderang, atau Kaisar Bren yang Perkasa?”

“Ya, tapi mereka hanyalah contoh dari yang muncul ke permukaan. Dunia mereka, para elementalis, pendekar, penyihir dan sebagainya sangat banyak dan beragam. Dan tidak semua dari mereka memiliki karakter yang lurus. Wiverna Hitam adalah contoh hewan sakral yang senang ketenangan, waktu mereka dihabiskan untuk menjelajah langit, sehingga mereka dikenal sebagai Permaisuri Langit, tapi jika ada yang berniat memburu mereka, maka kurasa orang-orang ini tidak akan meninggalkan saksi hidup. Bagi orang-orang yang menempuh jalan menantang langit ini, keberadaan kita manusia dan makhluk fana lainnya di mata mereka seperti halnya kita memandang semut di bawah kaki kita”

Setelah mendengar pandangan sang pimpinan, remaja dan ketiga anggota kelompok pemburu lainnya menelan air liur mereka. Bertemu hewan sakral mereka masih bisa berharap langit runtuh dan memberi keajaiban, namun bertemu kelompok ahli yang bisa memberikan teror pada hewan sakral – maka pupus sudah harapan mereka.

“Kita tidak bisa bersembunyi dari mereka – mari berharap ahli yang datang akan menganggap keberadaan kita hanya sebagai angin lalu.”

Para pemburu ini terdiam, walau hati mereka tidak tenang, namun mereka tidak berani tak bergeming. Ini adalah situasi yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

“Wuuiii…!”

Wiverna Hitam mengeluarkan lengkengin keputusasaan ke arah rembulan, lalu meringkuk di tanah, menutup kepalanya dengan kedua belah sayap lebar. Tidak akan ada yang pernah membayangkan bahwa Permaisuri Langit akan meringkuk tidak berdaya seperti ini.

Lambat laun, dari siluet rembulan yang samar-samar silih berganti tertentu mendung yang tertiup angin, dua bayangan turun ke arah hutan. Satu bayangan abu-abu, dan satu lagi bayangan biru langit yang berpendar.

Kelompok pemburu masih tetap tidak begerak, walau bayangan yang turun dari langit tidak memberikan aura mengerikan seperti Wiverna Hitam yang sedang meringkuk di hadapan mereka. Namun aura kedua bayangan ini dalam tidak terukur. Kelompok ini tidak pernah bertemu ahli elemental sebelumnya, jadi mereka tidak tahu apakah wajar para ahli olahdiri tidak menunjukkan aura apapun?

Tapi orang-orang ini tidak tahu, bahwa dua pemilik bayangan berpendar tersebut sengaja menyembunyikan aura mereka.

“Ah itu dia di sana?” pemilik bayangan abu-abu tampak gembira, dia melayang turun dari antara awan-awan bermandikan cahaya rembulan, bak dewata yang turun di antara mahluk fana, wajah kecilnya lembut memesona setiap orang yang melihatnya. Tampak keagungan nan lembut terpancar dari ekspresi matanya, namun bagi mereka yang mengenalnya – mereka akan gemetar gentar hingga tungkai mereka lunglai.

“Lihat apa kubilang, jika kita mencarinya dengan teliti, dia tidak akan pergi jauh.” Gadis kecil berjubah biru langit berjalan di sampingnya ketika mereka telah menyentuh tanah di antara pohon-pohon yang tumbang oleh Wiverna Hitam.

“Kadal kecil, jangan lari lagi.” Anak laki-laki itu tersenyum mendekati hewan sakral yang tampak gemetar di dengan menutupkan sayap-sayapnya yang kokoh ke atas kepalanya.

Siapa anak-anak ini? Bahkan seekor Wiverna begitu ketakutan – hewan sakral yang konon dapat meluluhlantahkan sebuah ibu kota provinsi bisa begitu tak berdaya. Mereka yang menyaksikan pemandangan ini tak bisa tidak dibuat takjub sekaligus gentar.

Di depan seekor Wiverna Hitam yang meringkuk di atas batang-batang pepohonan yang roboh, Vasu berjalan pelan, mengangkat tangan kanannya dan menggoreskan mandala tak berwujud di udara. Cahaya seputih salju muncul di antara Vasu dan Wiverna Hitam, membuat Wiverna Hitam itu mendongakkan kepalanya melihat sosok di hadapannya.

Ah…! Inikah taut sukma yang melegenda itu? Tampaknya, mengikuti Vasu benar-benar tidak sia-sia. Christine tersenyum tipis, namun batinnya berseri-seri. Dia tahu tampaknya Vasu memiliki sejumlah rahasia yang kemudian berbuah kejutan. Tidak banyak orang, baik orang biasa maupun mereka yang menempuh jalan kedigjayaan tahu tentang taut sukma, dan dari yang tahu hanya sedikit yang mampu melakukannya, dan ketika menautkan sukma – hanya sedikit yang dapat melakukannya dengan sempurna. Tapi yang Christine tidak tahu adalah, Vasu tidak tahu menahu mengenai taut sukma, dia hanya pernah membaca sebuah buku berjudul ‘Kamu dan Dia, Ketika Kalian Tidak Saling Bicara!’ di perpustakaan para naga. Tentu saja Vasu tak pernah menyangka, isi buku itu akan dia gunakan seperti ini.

Siapa namamu?

Putri kecil ini tak memiliki nama, Tuan Muda bisa memanggil Putri Kecil ini dengan sebutan yang Tuan Muda inginkan.

Kalau begitu aku akan memanggilmu dengan nama Hi’wi.

Hi’wi, maafkan sebelum jika kami mengagetkanmu. Biar kusembuhkan lukamu, dan setelah itu kamu dapat terbang lagi menjelajah langit dengan bebas.

Tentu saja percakapan tersebut tidak bisa didengar oleh orang lain, hanya di antara dua batin dan dua jiwa yang saling berkomunikasi.

Cahaya keemasan menyelimuti Wiverna Hitam tersebut, tubuhnya terangkat ke udara memperlihatkan sisik-sisik hitam yang mengkilap dengan lebih jelas – tampak secemerlang mutiara hitam ribuan tahun. Konon sisik ini sama kerasnya dengan mereka yang memiliki Raga Vajra, tidak ada senjata fana yang dapat menggoresnya, apalagi menembuskan.

Namun ketika kedua sayap Wiverna Hitam terangkat, tampak luka robek memanjang di bawah sayap kanannya. Luka yang tegas dan lurus, tidak ada sisik hitam yang tersisa di batas itu, hanya daging merah segar yang menganga dengan darah masih mengucur pelan, seakan jika saja tempat luka tersebut bergeser sedikit ke arah dalam, mungkin nyawa Wiverna Hitam ini sudah melayang.

Tentu saja Christine tahu bagaimana luka itu bisa terjadi. Tapi para pemburu yang mengintip dari balik persembunyian mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu bagaimana sisik yang bahkan tidak bisa digores oleh pusaka kerajaan bisa tersobek lebar. Dan mereka lebih heran lagi ketika cahaya keemasan mulai menari di antara luka itu, seperti menyulam keajaiban, luka tersebut menutup dengan cepat, dan seperti sedia kala, sisiknya telah kembali sepurna.

Uh, sangat hebat! Sifat penyembuhan dari elemen cahaya. Inikah wujud kemampuan cakrawala elemental? – Christine tidak habis pikir, bahkan pengguna elemen cahaya terbaik di Kekaisaran Bren akan memerlukan waktu beberapa hari ini menyembuhkan luka, bukan karena mereka kemampuan mereka tergolong kelas rendah, tapi ketika objek yang menderita luka tersebut adalah hewan sakral, maka tidak akan pernah semudah menyembuhkan luka prajurit di medan perang. Dan di hadapan Christine, Vasu baru saja melakukannya dalam kurang dari tiga puluh tarikan napas – dan anak tersebut tidak tampak terlalu serius.

Nah Hi’wi, aku sudah menyembuhkan lukamu. Kamu bisa kembali ke angkasa.

Apa masih ada bagian yang sakit?

Ti… tidak…, daripada kembali ke angkasa, bisakah Hi’wi mengikuti Tuan Muda. Hi’wi akan mengikuti Tuan Muda ke mananpun.

Vasu tidak habis pikir, apa ada sesuatu yang salah dengan salah satu spesies naga kecil ini?

Tapi bagi si Wiverna Hitam, dia sendiri merasa bahwa dia sudah agak bosan dengan terbang mengarungi angkasa sendiri. Dan dari anak kecil di hadapannya yang tadi memberikan rasa takut luar biasa, kini setelah dia perhatikan, anak ini justru memberikan perasaan aman dan tenang. Bahkan anak kecil tersebut memberinya nama ‘Hi’wi’.

Sekarang Hi’wi ingin mengikuti Vasu ke manapun.

Sebelumnya

Naskah 9 - Menuju Dunia Membentang

Sejauh mata memandang adalah hamparan hutan pinus hampir seluas seribu kilometer persegi dan dikelilingi oleh hutan subtropis yang membentang hingga ke cakrawala. Di tengah hutan punius, terdapat sebuah bukit yang hanya ditumbuhi oleh tumbuhan perdu, terkecuali di puncak bukit terdapat ... Read more

Selanjutnya

Naskah 11 - Desa Buido

Setelah percakapannya dengan Hiwi, Vasu membiarkan hewan sakral itu kembali ke langit. Kepakan kedua sayap yang kokoh seakan membuat seluruh hutan bergetar, dan hewan-hewan bersembunyi semakin ke dalam di liang mereka masing-masing. “Apa yang kalian bicarakan?” Christine masih memandang Wiverna ... Read more