Setelah percakapannya dengan Hiwi, Vasu membiarkan hewan sakral itu kembali ke langit. Kepakan kedua sayap yang kokoh seakan membuat seluruh hutan bergetar, dan hewan-hewan bersembunyi semakin ke dalam di liang mereka masing-masing.

“Apa yang kalian bicarakan?” Christine masih memandang Wiverna Hitam tersebut menghilang di langit malam.

“Kurasa dia ingin mengikuti kita, jadi kubiarkan saja begitu.”

Nada Vasu seakan-akan tidak terlalu peduli. Dalam pandangannya, kehidupan memiliki jalan mereka masing-masing, dan dia adalah anak yang bisa selamat bertahan hidup dari masa-masa pelarian dan perang tanpa akhir di dunia asalnya. Apakah kamu mau mengikuti seseorang atau berjalan sendiri, Vasu sudah pernah mengalami semuanya.

Sementara Christine sendiri tidak terlalu memedulikannya, walau sebenarnya dia masih penasaran dengan teknik taut sukma yang digunakan oleh Vasu.

“Apa yang akan kita lakukan sekarang?”

“Bagaimana kalau kita mencari tempat beristirahat, jika tidak salah seperempat hari ke arah Utara ada sebuah desa kecil, Desa Buido namanya.”

Mendengar ucapan Vasu, wajah kelompok pemburu yang bersembunyi tampak ekspresi yang penuh kesulitan. Mereka tahu anak kecil di hadapan mereka bukanlah anak sembarang, karena mereka tidak bisa menyangkal, sosok yang bisa membuat hewan sakral ketakutan dan tahkluk adalah sosok yang mengerikan meskipun terbungkus oleh tubuh mungil dan raut muka nirmala.

Mereka tidak tahu, apakah kedatangan kedua anak ini akan membawa bencana atau membawa berkah, pun demikian – mereka tahu bahwa jika keduanya hanya sekadar lewat saja di desa mereka, itu sudah merupakan sebuah keberuntungan.

Akhirnya, pimpinan dari rombongan pemburu tersebut memberanikan diri untuk maju.

“Tuan dan Nona Muda, perkenalkan saya adalah Ellena, saya membawa rekan-rekan saya dan kami adalah kelompok pemburu dari Desa Buido. Maafkan kelancangan saya, karena saya mendengar Tuan dan Nona Muda hendak singgah ke desa kami, saya menawarkan diri sebagai pemandu.”

Ellena bisa dikatakan mengambil keputusan yang tepat, jika kedua anak di hadapannya memilih untuk datang ke desa mereka, maka tidak ada yang bisa menghalangi, tidak juga mereka dapat dikelabui. Maka meninggalkan kesan baik melalui keramahan adalah hal yang paling dapat dilakukan untuk mencegah hal-hal yang tidak diharapkan. Dan Ellana, dari pengalamannya bertahun-tahun, merasakan bahwa berhubungan dengan kedua anak tersebut ‘tidak’ akan ‘berakhir buruk’.

Vasu dan Christine menoleh ke arah Ellena dan para pemburu lain yang ikut keluar dari tempat tersembunyi mereka. Walau dikatakan tersembunyi, tentu saja Vasu dan Christine telah mengetahui keberadaan mereka sejak awal – seawal sebelum mereka tiba di tempat ini.

“Senior Ellena, kita sama-sama berjalan di jalan yang sama, tidak perlu menyebut kami Tuan dan Nona Muda. Perkenalkan, saya adalah Vasu, dan teman saya ini bernama Christine.”

Vasu memberikan salam ramah, dan semua orang paham bahwa maksudnya adalah mereka semua berada dalam ‘jalan yang sama’ – menempa diri dalam ilmu kanuragan masing-masing. Para ahli olahdiri yang menggembleng jiwa dan raga mereka untuk mencapai tahapan yang melebihi manusia biasa bak pasir di tepi pantai di seluruh Ema – mulai dari kelompok-kelompok pemburu kecil seperti yang dipimpin Ellena, lalu prajurit sebuah negara atau pasukan perang dari kerajaan, hingga pertapa-pertapa penyendiri – dan mungkin untuk yang terakhir ini, mahaguru Lutz masuk ke dalamnya.

Tentu saja Vasu dan Christine juga masuk ke dalam kategori ini. Hanya saja tidak semua yang disebut ahli kanuragan ini bisa mencapai apa yang dicapai oleh Vasu dan Christine. Mereka tidak memiliki bakat seperti Christine, dan mereka juga tidak memiliki ‘keberuntungan’ seperti Vasu. Oleh karenanya, walau sesama ahli olahdiri, keberadaan satu dan yang lain bisa menjadi seperti antara bumi dan langit.

 

Dalam sekejap, kelompok pemburu dan kedua anak kecil tersebut menjadi teman seperjalanan yang ramah. Ellena memimpin rombongan lima orang, perempuan muda yang juga kapten tim pemburu. Lalu seorang pemanah belia – Edward; pelacak jejak – Thomas; ahli perangkap – Justin; petarung jarak dekat – Carmel, serta pendukung dan ahli peralatan – John. Di antara semuanya, John tampak paling besar, tubuhnya gegap setinggi dua setengah meter dan paling susah disembunyikan, tapi dia dengan mudah mampu mengangkat babi buruan seberat seribu kati dengan mudah.

Sepanjang perjalanan mereka saling bertukar percakapan, Vasu mengetahui dunia para pemburu lebih dalam dibandingkan yang selama ini dia tahu dari narasi-narasi pendek di buku-buku perpustakaan kota Yoria. Sementara para pemburu mendapatkan wawasan mengenai mengembangkan prana di dalam diri mereka.

Seminggu kemudian mereka tiba di batas tepi hutan, pemandangan berganti dengan savana yang membentang luas dan sejumlah bukit yang sehijau zamrud. Kanopi-kanopi gelap berganti dengan langit biru cerah dengan tarian awannya, dan udara lembap disulap menjadi angin sepoi-sepoi yang menghantarkan kenikmatan di bawah terik matahari siang.

“Vasu, Christine, setelah melewati satu bukit, sekitar sore nanti kita sudah akan tiba di Desa Buido.” Ellana menjelaskan pada kedua anak di hadapannya.

Vasu dan Christine memandang ke arah bukit, secara bersamaan – tanpa sengaja, mereka melepas gelombang sukma lembut untuk melihat area sekitar. Perbedaanya, gelombang sukma milik Vasu dengan mudah mencapai Desa Buido, seakan-akan sebuah peta hologram empat dimensi hadir di hadapannya yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Di sisi lain, Christine hanya bisa merasakan aura kehidupan di kejauhan – yang dia perkirakan itulah yang dimaksud sebagai Desa Buido. Gelombang sukma seperti ini adalah bentuk penginderaan spiritual yang hanya muncul ketika seseorang telah mencapai kualitas sukma besi.

Vasu mengangguk dan tersenyum pada Ellena, dan mereka melanjutkan kembali perjalanan mereka. Edward – terutama – sangat dekat dengan Vasu dan Christine, mungkin karena dia masih muda dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

Sejak Vasu memberikan teknik dan jurus ‘Rajawali Emas di Bawah Mentari’ – yang Vasu temukan tanpa sengaja di sudut perpustakaan kota Yoria – kepada Edward dan Thomas, kemampuan dua orang meningkat pesat dalam beberapa hari. Daya pandang mereka menjadi setajam rajawali emas, melihat dengan jelas anak kelinci pada jarak lima ribu elo dari sebelumnya hanya lima ratus elo, dengan bandingan manusia pada umumnya hanya bisa melihat secara jelas paling jauh pada kisaran lima puluh hingga seratus elo.

Ellena kagum dengan bagaimana Vasu mengarahkan mereka bagaimana mengarahkan prana dalam tubuh pada nadhi-nadhi tertentu untuk mendapatkan efek yang diinginkan, serta kontrol prana yang tidak pernah mereka saksikan sebelumnya – dan ajaibnya dilakukan dengan begitu mudah. Bertemu dengan anak-anak ini seperti bertemu dengan para pertapa yang sudah menghabiskan ribuan tahun memahami esensi langit dan bumi, Ellena sungguh merasa seperti katak dalam tempurung – dia tak bisa membayangkan bagaimana guru yang membimbing kedua anak ini, seperti apa kemampuannya.

Sementara Christine sendiri menemukan sesuatu yang baru, yaitu aktivitas rutin Vasu setiap pagi di puncak-puncak kanopi ketika anak laki-laki tersebut membersihkan jalur prana dalam tubuhnya. Christine mencoba teknik ini, dan menemukan energi di dalam tubuhnya menjadi jauh lebih teratur dan murni. Gadis kecil ini hanya tersenyum – perjalanan ini memang layak – dalam benaknya dia seperti anak yang kembali menemukan kegemaran baru.

Matahari beranjak ke cakrawala Barat. Setelah melewati satu bukit dan dataran panjang yang menghampar, di kejauhan tampak seperti gundukan batu mencuat di batas pandang, mengingatkan Vasu saat dia melihat peninggalan era megalithik dari kejauhan.

“Kak Elle…” Demikian Vasu dan Christine menyebut Ellena, “Tolong sampaikan saja bahwa kami hanya dua anak yang sedang bepergian ke wilayah Utara, dan kebetulan tiba di Buido.”

Ellena menggangguk, dia paham setelah beberapa hari bersama Vasu dan Christine, kedua anak ini tidak menyukai penerimaan yang berlebihan, lebih suka bentuk interaksi sosial yang sederhana.

Di Tanah Ema, anak-anak yang berbakat dan datang dari perguruan atau sekte besar umumnya selalu haus akan pengakuan – dan memandang rendah atau remeh orang-orang lain yang kemampuannya biasa-biasa saja. Hal ini membuat dunia olahdiri di Tanah Ema membentuk hukum yang terselebung, di mana yang kuat akan berada di puncak, dan yang lemah – jika tidak beruntung – akan tertindas di bawah.

Apa yang Ellena temukan dalam diri Vasu dan Christine jauh dari paradigma tersebut, kerendahan hati, kesederhanaan, dan penerimaan adalah hal yang langka pada anak-anak berbakat seusia mereka.

Christine menjalani didikan keluarga bangsawan yang ketat, menyebabkannya sering menemukan dirinya dalam kesendirian. Maka tak jarang gadis ini akan ‘kabur’ dari istana untuk membaur ke wilayah-wilayah pemukiman warga biasa, di sana Christine menemukan dunia yang membuatnya memahami kehidupan di luar dinding yang berornamen mahal – dengan masuk ke dalam gubuk-gubuk yang sederhana. Dia adalah sosok anak perempuan berdarah biru yang dekat dengan rakyat jelata.

Sementara Vasu sendiri berasal dari dunia yang berbeda, perbedaan dimensi ruang dan waktu membuat perubahan pematangan pada karakternya. Jiwa penghuni Ema akan bertambah dewasa dalam jangka waktu ratusan tahun, sedangkan Vasu yang memiliki jiwa dari Bumi hanya memerlukan pendewasaan dalam puluhan tahun saja. Sekarang Vasu sudah menghabiskan puluhan bahkan mungkin seratus tahun lebih di Tanah Ema sejak ia pertama kali datang, maka tidak heran bagi manusia Bumi – jiwa Vasu sudah menjadi terlalu ranum.

Mereka berjalan dengan santai menuju Desa Buido yang tampak semakin jelas dalam pandangan mereka.

“Sesuatu tidak beres…” Edward dengan daya pandangnya saat ini bisa melihat kondisi Desa Buido lebih awal dari rekan-rekannya yang lain.

Ellena mengangkat kepalan tangan kirinya, dan rombongan berhenti.

“Apa kamu melihat sesuatu?” Ellena berusaha menyipitkan matanya, namun tidak bisa melihat dengan jelas.

“Ada beberapa atap rumah yang rusak di sisi Timur, dan tampaknya tidak ada penjaga di pintu gerbang desa.”

Para pemburu itu menahan napas mereka, mereka melihat ke arah Ellena, sementara Ellena melihat ke arah Vasu dan Christine. Vasu menggangguk menandakan dia paham akan situasi ini – walau dia sudah tahu ada masalah di Desa Buido dengan penginderaan spirtual gelombang sukma sebelumnya, tapi apapun yang terjadi di Desa Buido, Vasu melihat situasi desa cukup tenang walau mencekam. Dan membiarkan para pemburu menemukan sendiri situasi ini ketika mereka sudah cukup dekat untuk menghindari kepanikan yang tidak perlu. Jika memang sesuatu buruk terjadi, dia sudah memutuskan akan langsung melesat ke sana.

Ellena memimpin rombongan bergerak cepat. Jarak yang biasanya mereka tempuh dengan berjalan kaki selama tiga jam, kini mereka telah sampai dalam sepuluh menit saja. Ilalang dan debu beterbangan di jalur yang dilalui oleh rombongan tersebut.

 

Di tengah-tengah Desa Buido terdapat sebuah pohon raksasa, tampak seperti banyan atau beringin putih, tapi lebih tepatnya merupakan ahuehuete salju selaksa warsa. Berdiri perkasa dengan batang yang mungkin memerlukan bentangan lengan dari sepuluh orang dewasa untuk mengelilinginya, dengan tinggi menyamai bangunan lima lantai – pohon laksana ikon purba bagi Desa Buido, ditambah dengan daun-daunnya yang gugur berwarna putih salju menutupi seluruh tanah di sekitarnya bak permadani dari kahyangan. Tak salah jika Desa Buido mendapat julukan Tanah Salju Kahyangan karenanya.

“Berapa lama lagi kami harus menunggu?”

Seorang remaja laki-laki mengenakan busana sebuah perguruan duduk bersila di bawah pohon raksasa itu, di belakangnya dua orang remaja putra dan dua orang remaja putri juga duduk bersila memejamkan mata mereka. Di hadapan kelima remaja ini, lima ekor harimau putih berbaring di atas perut mereka dan tampak malas – namun di atas punggung masing-masing harimau terdapat pelana kulit yang indah.

“Tuan Muda Honos, mohon menunggu sebentar lagi. Biasanya rombongan mereka akan kembali segera. Mereka pasti kembali segera…”

Jawaban itu datang dari sebuah suara renta yang bergetar dalam kekhawatiran, sosoknya bungkuk berdiri sekitar seratus langkah di hadapan kelima remaja tersebut, dengan tongkat kayu yang menopang tubuh lapuknya. Namun ia tidak berani duduk, jika ia salah bertingkah maka ia khawatir Desa Buido hanya tinggal sejarah.

Kakek ini adalah kepala Desa Buido. Sehari yang lalu, sebuah bahtera langit melintas dari Barat ke Timur di atas desa kecilnya. Namun sesaat setelah terbang ke Timur, lima berkas cahaya melesat dari arah bahtera langit tersebut dan terjun menuju ke desa, beberapa atap rumah dan bangunan di sisi Timur yang sebenarnya kokoh jadi remuk redam begitu saja, dan kini lima berkas cahaya adalah lima remaja yang menunggang harimau putih.

Semua orang di Tanah Ema tahu sebuah legenda, tentang Kerajaan Bavana, sebuah kerajaan di pusat Tanah Ema – penguasa absolut di tengah-tengah Ema – yang walau kekuatan militernya tidak sebesar Bren, namun Kerajaan Bavana juga memiliki sebuah perguruan tunggal, yaitu Gatto Celeste. Meskipun nama perguruan itu terdengar konyol, namun tidak ada yang berani meledek secara terang-terangan, karena hasil didikan dari perguruan ini terkenal buas dan berdarah dingin.

Gatto Celeste adalah pilar Kerajaan Bavana, seperti halnya Puncak Benderang bagi Kerajaan Candragatha. Perbedaannya adalah, Puncak Benderang dikenal dengan keramahan dan kehangatannya, sementara Gatto Celeste merekam sejarah dengan sungai darah dan bukit jenazah.

Hanya saja, Desa Buido masih berada dalam wilayah Candragatha, dan permasalah kecil dengan sejumlah remaja dari Gatto Celeste bisa memercik bentrokan antara dua buah kerajaan. Karenanya kepala desa begitu berhati-hati.

Sehari yang lalu kelima remaja ini datang atas nama ketua muda Gatto Celeste untuk mengundang salah satu warga Desa Buido menjadi murid di Gatto Celeste. Tampaknya ketika sekilas melintas di atas Desa Buido, sang ketua muda merasakan aura istimewa dan ingin pemilik aura ini menjadi bagian dari perguruannya. Hanya saja sang ketua muda sedang terburu-buru, sehingga dia memerintahkan lima orang murid perguruan untuk merekrut calon murid ini.

“Maafkan saya Tuan Muda Honos, kami yang tersisa di desa saat ini tidak paham mengenai olahdiri dan masalah perguruan di luar sana. Mohon kebesaran Tuan Muda Honos untuk menunggu Pejuang Buido kembali, serta anak yang membuat Tuan Muda Honos berminat adalah anak angkat dari pimpinan Pejuang Buido.”

Kata-kata ini sudah beberapa kali diucapkan oleh kepala desa sejak tadi pagi. Sambil memerintahkan beberapa warga untuk menyuguh para pendekar remaja tersebut.

“Kami menunggu…, kami akan menunggu. Namun kami tidak akan menunggu lebih dari matahari terbenam, karena kami harus menyusul ketua muda kami.”

Honos yang merupakan pimpinan para remaja tersebut berkata dengan nada datar. Namun dalam hatinya dia bingung, mengapa ketua muda berminat pada seorang anak dari desa kecil seperti ini, dan anak ini tidak tampak memiliki keistimewaan apapun.

TENG … TENG… TENG…

Suara lonceng di menara pengawas desa berbunyi lantang. Tanda bahwa kelompok pemburu – para pahlawan bagi Desa Buido telah kembali.

“Ah… mereka datang…”

“Akhirnya mereka pulang…”

Suara para warga yang semenjak kemarin merasakan kecemasan tanpa jawaban menandakan kelegaan bak kemarau yang dihapus hujan sehari.

“Tuan Muda Honos, mereka telah tiba, saya akan memanggil mereka segera untuk bertemu dengan Tuan Muda.”

“Hmmh…” Honos hanya mengangguk saja.

 

“Apa yang sebenarnya terjadi?” Thomas keheranan.

“Ada kerusakan, tapi tidak tampak ada yang memperbaiki. Dan aku tidak melihat ada warga juga yang berada di sekitar desa. Ini sangat aneh…” rasa was-was Carmel pun tidak bisa disembunyikan.

“Mereka semua berkumpul di tengah desa, di sekitar sebuah pohoh ahuehuetu.” Vasu memberikan gambaran singkat untuk mereda rasa panik.

“Vasu, kamu bisa mengetahui itu?” Kini Ellena mengernyitkan alisnya, “Bisa beri tahu kami, apa yang terjadi.”

Vasu memberi penjelasan secara singkat, detil yang ia ketahui, termasuk kemungkinan ada lima orang luar yang berasal dari Getto Celeste. Hal ini juga diiyakan oleh kelompok pemburu, oleh karena mereka tidak mengenal kelima orang yang digambarkan oleh Vasu.

“Ketua apa yang harus kita lakukan?” Eward bertanya pada Ellena.

“Dari penggambaran Vasu, sepertinya mereka menunggu kita. Dan karena tampaknya kelima orang itu tidak menyerang desa, kurasa kita memiliki kesempatan untuk menghindari hal-hal yang buruk, tapi aku tidak yakin. Yang terpenting, kita harus tiba di sana terlebih dahulu.” Ellena mengakhiri pendapatnya sementara yang lain menggangguk. “Christine, bagaimana pendapatmu?” Kini Ellena memandang Christine yang tampak melayang di atas rerumputan – berkat teknik Naga Meliuk di Awan – dengan santai.

“Aku bisa merasakan aura mereka, paling tidak empat di antaranya mencapai beberapa sata bala, dan satu orang tampaknya mencapai tiga atau empat sahasra bala.”

“Ah…!?” Beberapa orang kelompok pemburu menjerit kaget. Bahkan jika ada sepuluh mereka, belum tentu bisa mengimbangi kelompok tersebut. Jika nanti situasi berkembang menjadi perseteruan, mereka tidak bisa membayangkan akibatnya.

“Kak Elle, jangan khawatir. Mereka paling-paling hanya murid nirta atau madya dari Gatto Celeste, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Christine memberikan senyum geli.

Ellena hampir tidak percaya apa yang didengarnya. Apa ‘hanya murid nirta atau madya’ itu sesuatu yang tidak mengkhawatirkan? Mereka bisa membalik bumi dan langit.

Tapi kemudian pimpinan pemburu itu kembali pada akal sehatnya. Dia hampir lupa bahwa kedua anak ini tidaklah sembarangan. Tapi karena keduanya tampak begitu polos dalam beberapa hari mereka bersama, dia hampir lupa teror yang dia alami ketika pertama kali berjumpa Vasu dan Christine. Jika kedua anak ini bersama kelompoknya, dia tidak khawatir.

“Benar Kak Elle, jangan khawatir – kakak akan bertambah tua dengan cepat jika terlalu banyak khawatir.”

Kata-kata terakhir Vasu membuat kelompok pemburu itu kembali tenang.

 

Beberapa orang warga desa menyambut kelompok pemburu, menyampaikan kondisi dan situasi desa. Tapi karena kecemasan di wajah dan pikiran mereka. Mereka tidak sempat memerhatikan bahwa ada dua anak kecil yang mengikuti kelompok pemburu dengan jarak beberapa langkah di belakang.

Bagi warga desa, kelompok pemburu ini adalah pejuang dan ksatria di desa mereka, pelindung yang bisa dihandalkan. Mereka tidak paham perbedaan kekuatan dan kemampuan antara remaja yang datang ke desa mereka dengan pahlawan mereka, namun setidaknya mereka dapat bernapas lebih lega sekarang.

Kelompok pemburu tersebut kini tahu maksud kedatangan para remaja itu.

“Salam Tuan Muda Honos, saya adalah Ellena yang memimpin kelompok pemburu dari Desa Buido. Adalah kehormatan bagi saya dapat bertemu Tuan Muda.”

“Hmm…” Honos yang menggangguk, dia bahkan bergeming di tempatnya. “Apakah kamu orang tua dari anak itu?”

Honos menunjuk pada salah satu anak perempuan yang bersembunyi di balik kepala desa.

“Ya, saya adalah yang mengasuh Renatta sejak kecil.”

“Bagus… aku sudah lelah menunggu.” Honos berdiri seraya berjalan ke arah warga dengan tangan menyilang di belakang punggungnya, murid-murid Gatto Celeste lain ikut berdiri. “Terus terang aku tidak tahu mengapa ketua muda berminat dengan anak ingusan itu. Tapi karena ketua muda sudah memberi perintah, aku harus membawa anak itu ke Istana Gatto. Sekarang kuharap kalian semua bisa paham.”

Kata-kata Honos terdengar datar, namun aura angkuh dan penuh intimidasi tidak bisa disembunyikan – atau tepatnya sengaja ditampilkan.

Ellena yang berdiri tidak jauh di depan Honos mulai berkeringat dingin. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Jika Renatta bisa menjadi murid perguruan ternama, tentu saja dia bangga – namun ketika kesempatan itu tiba dengan cara seperti ini, ada banyak hal yang sungguh terasa salah.

Sebelum Ellena memberikan jawaban, suara anak kecil menyahut kencang di belakangnya.

“Ah… manisan…! Terima kasih kakak!”

Pandangan semua orang tertuju pada suara itu.

Renatta yang menjadi pusat dari situasi tegang di Desa Buido tampak menggenggam manisan dengan wajah berseri-seri. Dia tidak begitu paham dengan apa yang sedang terjadi. Tapi gadis kecil ini paham ketika Vasu memperlihatkan manisan dan memanggilnya melalui gerakan tangan – maka ia tidak bisa menolak untuk menghampiri Vasu.

Warga desa yang melihat kejadian ini merasa berang dengan anak kecil yang tidak paham situasi. Bagaimana mungkin di tengah orang dewasa yang sedang bercakap, dia malah memikat gadis kecil dengan permen. Bagaimana jika tindakan ini mengundang ketidakpuasan di hati Honos dan para saudara seperguruannya, apakah tidak mungkin Desa Buido akan berakhir dengan bencana?

Benar saja, pandangan Honos yang merendahkan itu jatuh pada Vasu. Dia sekilas melihat Vasu hanya memiliki potensi beberapa dasa bala. Bagi Honos, walau anak ini lumayan bagus untuk golongan rakyat jelata, namun sampah tetaplah sampah, mana bisa dibandingkan dengan mereka yang menempa diri sebagai pendekar.

“Hei Nak! Simpan barangmu, jangan membuat kegaduhan di saat Tuan Muda ini sedang berbicara. Tuan Muda ini sudah mulai habis kesabarannya.” Nada Honos sedikit menghardik, dan di saat bersamaan melepas gelombang energi yang membuat warga merasa seperti tercekik.

Wajah orang-orang mulai pucat, namun bukannya protes pada yang menyebabkannya – mereka dalam hati mulai menyalahkan anak laki-laki yang mendatangkan petaka ini.

Vasu tahu apa yang ada dalam pikiran Honos, juga apa yang ada pada pikiran para warga. Tapi dia tak acuh, dia juga mengeluarkan manisan lain dari balik jubahnya.

“Kamu mau yang ini?” Katanya ramah.

“Ya… Renatta suka manisan.” Jawab anak kecil itu.

Ah – ini bencana. Pikiran warga mulai berkecamuk. Mengapa anak laki-laki ini tidak mengerti situasi.

Honos menjadi murka, dia mengangkat tangannya untuk memberi pelajaran, sebuah tongkat pendek muncul digenggamannya dan dengan kibasan ringan sebuah kilat melesat cepat ke arah Vasu. “Ini akan memberimu pelajaran.” Honos sengaja berkata agar juga dapat didengar oleh warga lainnya.

Semua warga menahas napasnya, karena mereka bisa merasakan kengerian dari kilat yang melesat itu, walau kurang dari sekejap mata. Habis sudah anak itu – semua orang sependapat, kecuali beberapa.

Vasu tersenyum ke arah Renatta, tidak melihat sama sekali ke arah datangnya kilat, dia hanya mengangkat tangan kirinya dan dengan gerakan pergelangan tangan yang lembut seakan-akan menangkap sesuatu di udara.

Apa yang terjadi kemudian mengagetkan semua orang…

“Bagaimana ini mungkin…?” Salah satu murid perempuan dari Gatto Celeste kaget sekaget-kagetnya.

“Ini sama sekali tidak masuk akal!” Honos akhirnya berespons dari kekagetannya.

Sementara warga desa saling berbisik tanpa memandang orang di sekitarnya, mempertanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Dengan mudah Vasu menangkat kilat yang datang menggunakan tangan kirinya, dan sekarang dia menimang kilat tersebut yang berbentuk bola petir. Dengan sentuhan darri jari jemari tangan kanannya, dia membuat sejumlah gerakan sebelum bertanya pada Renatta… “Kamu suka kupu-kupu?”

“Ya… sangat suka!” Anak perempuan itu melompat-lompat kegirangan dengan suara renyah memikat melihat bola petir yang menjadi sejuk di tangan Vasu. Seolah-olah ‘mainan’ itu menarik.

Lalu bola petir itu mulai melahirkan kupu-kupu bercahaya, semakin lama semakin banyak, hingga mencapai ratusan dan pada akhirnya selesai saat bola petir itu tidak lagi tersisa. Renatta yang melihat ini melompat-lompat kegirangan.

Tidak ada yang percaya apa yang sedang mereka saksikan. Apakah ini sejenis sulap? Ataukah sihir?

Christine juga tidak bisa menyembunyikan ketakjubannya, ia telah memerhatikan dengan seksama gerakan tangan Vasu, tapi beberapa mudra tidak ia kenali.

Sementara di sisi Gatto Celeste, mereka merasakan sebuah firasat buruk. Seperti firasat seseorang yang berjalan di hutan dan menginjak ekor macan ketika mengira itu hanya ranting rapuh di balik remrumputan.

“Saudara pendekar, bolehkah kami tahu siapa gerangan nama dan gelar saudara?”

Honos tiba-tiba mengubah sikapnya, kini dia lebih berhati-hati dan awas, tidak lagi berani memamerkan keangkuhan.

“Aku…? Aku adalah Vasu.”

Setelah menjawab, Vasu merasa seperti mengalami de’ javu.

Sebelumnya

Naskah 10 - Hi'wi

Malam pekat menyelimuti wilayah hutan yang lebat. Beberapa bayangan melesat cepat di bawah langit mendung yang gelap, meliuk di antara pepohonan yang menebar aroma hutan hujan. Dengan suara derap menderu, tanah basah terlempar ke udara, ranting serta perdu yang malang ... Read more

Selanjutnya

Naskah 12 - Karma Dua Dunia

“Vasu... siapa Vasu...?” Kelima murid dari Gatto Celeste tersebut membantin. Jika ada pendekar muda hebat – setidaknya dalam seratus atau seribu daftar pendekar muda windu ini – mereka pasti sudah pernah mendengar namanya meski tidak pernah berjumpa. Namun nama Vasu ... Read more