Naskah 12 – Karma Dua Dunia

“Vasu… siapa Vasu…?” Kelima murid dari Gatto Celeste tersebut membantin. Jika ada pendekar muda hebat – setidaknya dalam seratus atau seribu daftar pendekar muda windu ini – mereka pasti sudah pernah mendengar namanya meski tidak pernah berjumpa.

Namun nama Vasu terdengar asing di telinga mereka. Tentu saja warga desa yang hanya orang-orang biasa tidak paham sama sekali, siapa anak tersebut. Tapi dengan melihat apa yang baru saja terjadi, mereka bisa menerima kemungkinan bahwa anak yang bernama Vasu tersebut sama seperti para remaja dari Gatto Celeste.

“Pendekar Vasu, kami mohon maaf tidak mengenal pendekar muda sebelumnya.”

Kini Honos tidak berani gegabah. Serangnnya mungkin sederhana, tapi bagi orang biasa sangat mematikan, dan bagi orang yang memiliki kemampuan beberapa dasa bala – setidaknya orang itu akan dibuat cedera sedang hingga berat. Namun Vasu tidak berakhir ke dalam dua kategori tersebut.

Mendengar kata-kata Honos, Vasu mengerutkan dahinya. Dia tahu maknya ‘hajar dulu, bicara belakangan’ adalah cara menyelesaikan perkara bagi orang-orang seperti Honos ketika mereka menemukan lawan yang dinilai lebih lemah dari dirinya. Vasu bukan tidak suka karakter seperti ini, hanya saja kadang membuatnya sebal.

“Kalian pasti dari perguruan Gatto Celeste. Apa maksud kalian membuat kekacauan di sini? Sama sekali tidak memandang keberadaan pemerintahan Candragatha dan perguruan Puncak Benderang!”

Vasu sama sekali tidak membuang waktu untuk basa-basi. Ini membuat kelima remaja dari Gatto Celeste terhenyak, bahwa anak ini meski tahu mereka berasal dari perguruan ternama justru berusaha menekan mereka dengan nama perguruan lain. Memang mereka sedang berada di wilayah kerajaan Candragatha, namun tidak berarti perguruan Puncak Benderang memiliki kekuasaan di sini.

Warga yang mendengar kata-kata Vasu juga kaget, mereka mulai berpikir bahwa anak ini bukan anak sembarang. Sementara Ellena mulai berpikir, Vasu dan Christine memang tidak pernah menyebut asal mereka, tapi apakah mungkin kedua anak ini berasal dari Puncak Benderang?

“Pendekar Vasu, kami memang dari Gatto Celeste. Tapi kami tidak membuat kekacauan di sini.”

Honos berusaha mencegah masalah jadi lebih besar lagi, mereka hanya datang untuk mendapatkan anak kecil bernama Renatta karena perintah ketua muda – mereka harus berusaha menghindari masalah yang tidak perlu.

“Omong kosong! Kalian datang dengan merusak bangunan desa, lalu ingin mengambil anak dari tempat ini dengan paksa. Jika Ellena terlambat datang, anak ini pasti sudah kalian bawa paksa tanpa sempat mengucapkan perpisahan.”

“Kamu…!” Honos tidak bisa lagi mengontrol emosinya.

Kata-kata Vasu memang tajam dan menusuk, tapi tidak keliru. Karena bagaimana pun juga Honos berencana membawa paksa anak yang bernama Renatta hari ini.

“Memangnya kenapa jika aku membawa anak itu! Kamu bisa apa? Seharusnya warga desa ini justru bersyukur bahwa salah satu dari mereka terpilih memasuki perguruan nomor satu dari pusat Tanah Ema. Masa depan cerah menanti anak ini, dan kamu berani mengatakan bahwa kami mencari masalah! Nyalimu sungguh besar, sayang matamu buta.”

Warga desa kini berpikir kembali, yang dikatakan Vasu benar – mereka sendiri merasa murid-murid dari Gatto Celeste arogan, namun murid-murid ini juga benar jika salah satu dari mereka memasuki perguruan besar, adalah nasib baik bagi seluruh desa.

“Kamu berkata bahwa dengan masuk ke Gatto Celeste adalah nasib baik? Bualan apa itu? Warga biasa mungkin tidak tahu – dalam pandangan mereka menjadi pendekar atau ahli olahdiri adalah suatu kebanggaan termasuk bagi orang-orang di sekitarnya – namun kenyataan jalan yang ditempuh selalu penuh dengan setapak di batas hidup dan mati merupakan hal yang tidak terbantahkan. Kalian ingin anak kecil ini, tanpa mengerti keinginannya, untuk menempuh batas antara hidup dan mati? Jika kalian memaksanya, berarti kalian adalah kriminal! Jika ada warga yang menyetujui, berarti mereka bersekongkol dengan kejahatan!”

Ketika Vasu mengatakan ini dengan lantang, sebagian besar yang mendengar menjadi merinding. Murid-murid dari Gatto Celeste seakan tak bisa menahan lagi murka mereka, kata-kata Vasu tepat menampar wajah mereka. Sementara warga yang mendengar menjadi tertunduk malu, terutama mereka yang sempat berpikir bahwa mereka cukup beruntung jika memiliki seseorang yang dikenal di sebuah perguruan ternama.

“Pendekar Vasu, Anda sudah keterlaluan. Maksud kami baik untuk membawa anak ini. Di Gatto Celeste dia akan dilindungi oleh ketua muda – karena ketua muda sendiri yang meminta kami, pengawal pribadinya, untuk menjemput anak ini. Jika Pendekar Vasu mempersulit kami, mohon jangan salah kami jika tidak bersikap sopan!”

Honos mengerahkan prananya, demikian juga keempat murid yang lain. Aura buas terpancar dari kelima remaja tersebut, membuat dedaunan putih yang beterbangan di udara. Anak ini harus diberi pelajaran – mereka semua membatin hal yang sama.

Vasu mengibaskan tangan kanannya, sebilah pedang dalam sarungnya muncul – Ikcr – dipanggil untuk menemani Vasu, pertama kali dalam pertarungan dengan sesama ahli yang sesungguhnya.

Ellena mendekat Renatta dan membawanya agak menjauh ke pinggir, warga desa yang lain juga ikut mundur secara bertahap – bahkan ada yang lari. Sementara tim pemburu yang lain walau berdiri cukup jauh dari kelima murid Gatto Celeste, mereka merasakan aura yang mengerikan, seperti menghadapi seribu harimau buas sekaligus – aura haus darah yang mengerikan.

Christine berdiri tenang tidak jauh dari Vasu. Rambut keemasan dan jubah biru langitnya berkibar tertiup angin liar yang diakibatkan oleh tekanan prana kelima remaja di hadapannya. Namun dia lebih tertarik pada pedang yang muncul di tangan Vasu, pedang itu tampak biasa, hanya saja auranya tidak biasa. Christine bisa melihat pedang, namun tidak auranya, seakan-akan jika dia menutup matanya – di situ tidak ada pedang sama sekali. Dengan kata lain, Christine tidak bisa merasakan keberadaannya.

Hal ini membuat Christine sedikit merinding. Senjata yang tidak bisa dirasakan keberadaannya adalah senjata yang paling berbahaya. Bayangkan jika ada yang melepas panah, namun seorang pendekar tidak bisa merasakannya? Orang itu pasti tamat.

Hanya ada dua kemungkinan mengapa Christine tidak bisa merasakan keberadaan pedang yang digenggam oleh Vasu. Pertama pedang tersebut adalah pusaka kelas atas, pusaka agung, sehingga Christine belum memiliki cukup kemampuan untuk merasakan keberadaannya. Kedua, adalah Vasu sudah mencapai tingkatan di mana dia telah menyatu dan dapat mengendalikan pedang dengan hatinya, yang mana hanya bisa dicapai oleh seorang ahli tingkat atas. Namun bagi Christine, kemungkinan kedua lebih masuk akal karena potensi cakrawala elemental memungkinkan situasi ini. Sayangnya Christine tidak tahu riwayat Ikcr, jika tidak – gadis kecil ini akan lebih terkaget lagi.

Di depan kelima remaja tersebut, lima harimau putih berdiri tegap, aura kelimanya juga tidak kalah garang. Ketika lima harimau putih ini berdiri, mereka setinggi orang dewasa. Semua yang melihat merasa terintimidasi – kecuali dua pasang anak, Vasu dan Christine.

Vasu menarik napas panjang, memejamkan matanya…

Seluruh prana dalam tubuh Vasu melaju dengan cepat memasuki nadu sushumna yang turut mengembang. Prana mengisi dan berotasi dengan cepat dari muladhara hingga sahasrasa. Ini membuat tubuh dan sukma Vasu memendarkan cahaya yang tak kasat mata.

Ketika Vasu membuka matanya, dunia mendadak senyap. Angin yang berkecamuk dan tanah yang bergetar akibat aura ganas dari kelima remaja dan kelima harimau putih – menjadi sirna. Dedaunan putih kembali berjatuhan ke bawah dengan anggun. Seluruh elemen yang membangun alam tiba-tiba memasuki dimensi kedamaian yang tidak biasa.

Hening…

Kecuali Christine, maka semua orang di sana tidak paham bahwa Vasu yang menaungi cakrawala elemental mampu menegasi seluruh konflik pada semua elemen. Tak satupun elemen dapat bergerak tanpa ‘titah’ sang cakrawala elemental.

Vasu bisa melihat bahwa saat ini efek cakrawala elemental berada pada radius sekitar setengah pal, meskipun melalui penginderaan spiritual Vasu bisa merasakan keberadaan dan dunia elemental dalam radius yang ratusan kali lebih luas. Sama seperti mata bisa melihat jauh, namun yang dapat dijangkau tangan hanya sebatas ujung jari.

Ikcr berpindah ke tangan kiri Vasu, tangan kanannya menggenggam gagang pedang – tubuhnya mengambil bentuk kuda-kuda yang matang.

Kesenyapan menjadi semakin pekat, Christine melihat Vasu berubah menjadi sosok yang berbeda – bukan sosok yang pernah dia hadapi di atas Danau Bulan Sabit. Vasu yang sekarang tidak memperlihatkan gejolak elemen, aura ataupun energi spiritual – berbeda ketika dia menunjukkan ranah Dandelion Beku. Vasu terasa begitu misterius.

TING

Suara dentingan kecil terdengar, Vasu sudah tidak berada lagi di posisi awalnya. Kekagetan yang melihat belum berakhir ketika semburat sensasi kematian yang pekat berhembus kencang dari arah area perseteruan. Hingga akhirnya Vasu tampak berdiri di belakang dan membelakangi kelima remaja dari Gatto Celeste dengan pedang terhunus menghadap bumi di tangan kananya.

Semua itu hanya terjadi dalam sekejap mata.

Kelima harimau tiba-tiba mengeluarkan suara lirih dan tersungkur ke tanah. Kelima remaja juga tidak menunjukkan keadaan yang lebih baik, mereka memegang dada dan perutnya – wajah mereka memperlihatkan ekspresi ketakutan hebat, dan pada akhirnya juga tersungkur tak sadarkan diri.

Setelah beberapa hembusan napas, barulah orang-orang mulai kembali tersadar dengan apa yang baru saja mereka saksikan. Bisik-bisik dengan cepat menyebar di antara kerumunan.

“Siapa anak ini? Hanya dengan sekejap lima hewan buas dan lima jagoan dilumpuhkan.”

“Apa kamu melihat apa yang baru terjadi? Aku sama sekali tidak bisa melihat.”

“Apa aku baru saja bermimpi? Bagaimana ini bisa terjadi?”

“Aku masih merasa badanku terasa lemas, sesaat kematian terasa begitu dekat, aku tidak pernah ketakutan seperti ini sebelumnya.”

Bahkan kelima pemburu dari Buido tidak bisa mempercayai yang mereka lihat. Walau beberapa bersama Vasu dan Christine, mereka tidak menyangka – Vasu tidak pernah memperlihatkan sesuatu seperti ini. Kini mereka sedikit paham, jika Vasu bisa menang dengan mudah melawan murid-murid elit dari perguruan elit, maka tidak keliru jika mereka melihat hari itu bahkan Permaisuri Langit tampak ketakutan di hadapan Vasu.

Sensasi mencekam dirasakan juga oleh Christine, membuat dia bertanya-tanya – Vasu siapa kamu sebenarnya? Sensasi kematian tadi bukan berasal dari luapan haus darah, namun dari ketenangan yang lahir dari baptis dalam sungai darah dan gunung mayat. Dulu Christine pernah diajak gurunya menyaksikan pertarungan antara dua pembunuh bayaran elit di luar batas Bren, dan yang dia rasakan dari kedua pembunuh tersebut bahkan tidak sepekat yang dirasakan dari Vasu.

Christine mengakui sejak mengetahui bahwa Vasu adalah cakrawala elemental, dia tidak mungkin menang jika berhadapan langsung. Tapi kini, bahkan tanpa memanfaatkan cakrawala elemental untuk menyerang pun tampaknya Vasu tetap berada di atas Christine.

 

“Bos… tadi itu luar biasa!” Ikcr berkata-kata melalui batin Vasu, seakan-akan dia baru saja ikut dalam sebuah pertunjukkan kolosal.

Vasu tidak bisa menyembunyikan senyum gelinya, “Oh benarkah?”

“Ya, tidak satu pun dari pendahulu Lembayung Ema sepertimu Bos. Bagaimana kamu melakukannya Bos?”

“Ikcr, kamu sendiri lihat kan aku hanya menggunakan sedikit tenaga untuk menyegel nadi dan menghentikan aliran prana di tubuh mereka. Ini adalah teknik paling sederhana dalam menghadapi banyak lawan ketika kita ingin membuang tenaga berlebihan.”

“Tapi Bos, sesaat aku merasakan aura-mu sangat pekat mengerikan. Aku tahu Bos bisa membunuh dengan mudah. Tapi aura itu tidak bisa didapat hanya dari sekadar membunuh. Bos, apa yang sudah terjadi padamu?”

“Ah…” Vasu menyarungkan kembali Ikcr, “Ikcr… ini yang disebut sebagai karma. Ketika aku lebih jauh lebih kecil dari usiaku sekarang – aku hanya tahu bahwa aku selalu lari dari sesuatu di tanah yang terkoyak oleh perang, aku bahkan tidak tahu perang antara siapa dengan siapa. Kemudian bersamaan dengan kedatanganku di Ema, di dunia asliku aku juga mendapat kesempatan untuk mengubah diriku – menjadi sesuatu yang bisa membuatku tidak hanya lari, atau menjaga orang-orang yang dekat denganku. Apa yang kamu lihat tadi adalah bagian kecil yang kulatih selama bertahun-tahun di duniaku dan puluhan tahun di Ema, di Ema mungkin teknik ini tidak ada, bahkan di duniaku sendiri sudah hampir punah – teknik ini di peradaban lama disebut dengan iaijutsu dan battojutsu. Gerakan-gerakan yang memang dirancang untuk melumpuhkan dan membunuh dengan seketika. Dengan berhenti lari, akhirnya aku masuk ke dalam dunia yang aku tak mungkin ke luar dari dalamnya – setidaknya tidak untuk saat ini. Sebuah dunia di mana darah mengalir adalah pemandangan yang umum seperti sungai yang mengalir. Di duniaku, aku hanyalah anak berusia sepuluh tahun, di mana kebanyakan anak seusiaku sibuk belajar atau bermain; sementara aku sendiri telah membuat ratusan sungai darah terbentuk. Mereka yang mendengar aliasku akan gemetar ketakutan. Dan inilah karma yang tumbuh dalam diriku. Di Ema aku bisa menemukan beberapa ratus tahun ketenangan, dan jiwaku tumbuh dan berkembang lebih cepat dibandingkan jiwa asli dari Eon. Dan pada akhirnya aku paham, keterikatan antara karma ini dan diriku.”

“Bos… aku yakin Bos melakukannya bukan tanpa pertimbangan kan?” – Ikcr mencoba menghibur Vasu yang tampak sedang teringat akan sesuatu yang memberatkan batinnya.

“Setidaknya aku tidak menyesal. Setidaknya sungai darah tidak mengalir selamanya, tapi hutan kehidupan yang tumbuh akan menghasilkan kehidupan-kehidupan baru yang bisa bermimpi akan dunia yang damai. Tapi, itu semua juga masih mimpi. Masa depan sungguh tak bisa diperkirakan, karenanya tidak ada guna menyesali masa lalu.”

Bagi Vasu, ini adalah karma dua dunia. Di dunia aslinya, setelah menyaksikan kekacauan dan perang berkecamuk di mana-mana, dia berniat menghentikannya, namun justru menciptkan sungai darah di pelbagai belahan dunia. Kini dia berjalan acak mencari di Tanah Ema untuk mencari tahu mengapa dia datang ke dunia ini, dan tidak pernah tahu apakah sungai darah akan mengalir lagi di Tanah Ema.

Berjalan ke arah Christine, Vasu tersenyum tipis. Christine hanya menghela napas lega, perempuan kecil itu seperti baru saja seperti menyaksikan kengerian mahasura turun ke bumi, dan entah mengapa kini dia hanya bisa melihat seorang anak laki-laki polos berjalan ke arahnya.

Sebelumnya

Naskah 11 - Desa Buido

Setelah percakapannya dengan Hiwi, Vasu membiarkan hewan sakral itu kembali ke langit. Kepakan kedua sayap ... Read more

Selanjutnya

Naskah 13 - Kidung Napas Kehidupan

Malam turun larut di Desa Buido, namun suasana tidak mencerminkan malam-malam seperti biasanya. Obor-obor menyala ... Read more