Naskah 13 – Kidung Napas Kehidupan

Malam turun larut di Desa Buido, namun suasana tidak mencerminkan malam-malam seperti biasanya. Obor-obor menyala di sepanjang jalan, rumah-rumah diterangi lampion dan lilin. Suara warga yang bekerja dengan peralatan pertukangan bedenting dan bertalu, dengan diiringi nyanyian serangga malam dengan sesekali diselingi suara kokokan ayam yang mungkin salah menduga hari telah pagi.

Puluhan warga sibuk membenahi atap-atap bantungan di sisi Timur yang rusak sejak sehari sebelumnya. Kini mereka sudah bisa bernapas lega, karena suasana tegang yang menyelimuti Buido sudah berakhir ketika seorang anak yang asing muncul dan menunjukkan kemampuan layaknya adiinsan.

Sementara, jauh dari keramaian, di bagian Utara dari Buido, sebuah bangunan dua lantai tampak senyap di sekitarnya terkecuali dua orang berjaga mengenakan zirah ringan dengan tombak di tangan mereka.

Bangunan tersebut seluas lima ratus meter persegi, dan bagian bawahnya adalah aula yang dikosongkan dengan meninggalkan sebuah meja persegi panjang yang cukup untuk sepuluh kursi di masing-masing sisi panjangnya, dan satu kursi di masing-masing sisi lebarnya. Meja ini memanjang pada arah Utara – Selatan.

Di sisi Barat duduk kelima murid dari Gatto Celeste, sementara Vasu, Christine, Ellena – sambil memangku Renatta, dan seorang tetua desa duduk di sisi Timur. Di antara mereka adalah sejumlah hidangan santap malam yang masih hangat beruap, diselingi pelbagai buah segar di atas nampan dan piring perak.

Honos mengunci pandangannya pada Vasu, namun Vasu tampak tak acuh. Dia hari ini melihat betapa luasnya dunia, dan menyaksikan langit di atas langit dari tubuh kecil Vasu. Bagi Honos selama ini ketua muda adalah anak paling berbakat yang pernah dia temui, bahkan mendapatkan julukan si jenius muda dari pusat Ema.

Kali ini, Honos mau tidak mau menimbang dan membandingkan antara ketua mudanya dan Vasu. Mereka bagaikan bumi dan langit, tentu saja Vasu adalah bumi yang rendah dengan potensi yang kecil, tapi saat bergerak Vasu bisa menjadi bumi yang sanggup melahap seluruh langit.

Honos sering mengikuti ketua mudanya, melalang buana bersama para tetua perguruan untuk melihat dunia luas. Terjun dalam pertempuran yang membuat darah mendidih, menahlukan hewan dan monster di alam liar, menghadapi situasi hidup dan mati. Namun belum pernah dia bertemu situasi seperti ketika menghadapi Vasu, seakan-akan kematian menjelma ke muka bumi dan meniadakan seluruh harapan.

“Apa ada sesuatu di wajahku?” Vasu bertanya dengan bodohnya pada Honos.

“Tidak. Tapi bolehkah aku tahu, apakah Pendekar Vasu berasal dari Puncak Benderang? Karena kami tidak pernah mendengar nama pendekar sebelumnya. Dan apakah nona ini juga berasal dari Puncak Benderang?” Honos melirik ke arah Christine, kini setelah pikirannya mulai jernih lagi, dia baru menyadari bahwa Christine tidak pernah berada jauh dari Vasu.

Vasu meletakkan sendok dan garpunya, dia menatap pelan ke arah lima remaja di hadapannya satu per satu.

“Aku memang tinggal beberapa lama di Puncak Benderang, tapi bukan murid Puncak Benderang. Dan ini adalah Christine, dia berkunjung ke Puncak Benderang saat perayaan Festival Jalan Emas dan sekarang ikut bersamaku sejak aku meninggalkan Yoria beberapa hari yang lalu.”

Kata-kata Vasu ini tentu seperti mengupas bawang merah, terlihat nyata, namun tersembunyi di balik kepolosan.

Kecuali ketika pernyataan tersebut dikupas secara cermat dan perlahan, maka orang baru tahu apa makna asli di baliknya.

Sayangnya Honos bukan orang cermat ini, dia langsung menilai bahwa Vasu mungkin tamu di Puncak Benderang dan gadis perempuan di sebelahnya adalah seseorang yang kebetulan lewat di Yoria dan kini ikut dengan Vasu.

“Mohon maafkan, kami terlewat emosional tadi.”

“Jangan khawatirkan itu. Aku akan mengajukan protes pada pimpinan kalian. Bukankah dia yang memerintahkan kalian datang ke sini? Kurasa sebentar lagi dia akan tiba.”

Seketika kata-kata Vasu itu mengagetkan kelima remaja tadi. Wajah mereka menjadi lebih pucat. Salah satu dari mereka memang sempat mengirimkan pesan melalui gulungan telepati ketika merasa situasi buruk saat berhadapan dengan Vasu. Namun tentu ini hanya diketahui oleh mereka berlima, karena penggunaan gulungan telepati sangat rahasia dan tidak mungkin kentara dengan mudah.

Kelima remaja ini bertanya-tanya, apa mungkin Vasu memiliki ‘mata yang melihat semua’?

Apa yang kelima remaja ini tidak ketahui adalah Vasu tidaklah mahamengetahui. Namun sebagai cakrawala elemental, tidak ada riak energi dan elemen yang lolos dari pengawasannya ketika berada dalam jarak yang dekat.

Vasu tahu ketika sebuah pesan sihir terkirim, namun dia pun memiliki keterbatasan untuk bisa mengetahui isi pesan tersebut – seperti bintang jatuh, pesan sihir sangat cepat untuk bisa dibaca secara seketika. Vasu hanya bisa mengetahui arah pesan tersebut dikirimkan, dan meminta Hi’wi melalui telepati untuk melihat ke arah tujuan pesan.

Dari Hi’wi, Vasu bisa tahu sebuah bahtera langit dengan panji Gatto Celeste sedang bergerak menuju Buido dan kemungkinan sampai besok pagi.

Vasu tidak banyak bicara, dia hanya menjelaskan bahwa kelima remaja tersebut sementara akan tinggal di tempat tersebut sampai ‘jemputan’ mereka tiba besok pagi. Dan dia tidak menyalahkan kelima remaja tersebut, karena prinsip Vasu adalah ‘tidak ada prajurit yang keliru, hanya ada jenderal yang tidak becus’. Vasu juga memastikan bahwa tetua Desa Buido menjamu kelima tamu tersebut dengan baik, karena akan memengaruhi kemungkinan di masa mendatang bagi Desa Buido.

Setelahnya Vasu meminta Ellena mengajak Renatta mengikutinya ke sebuah bukit kecil di bagian Barat dari Desa Buido.

 

Malam larut, dan rembulan tampak menggenang di langit yang tak berdosa. Masyarakat Buido menyebut bukit kecil ini dengan sebutan Bukit Mentari, karena merupakan bagian dari Desa Buido yang pertama kali bermandikan cahaya matahari setiap pagi.

Wajah Vasu dibasuh cahaya rembulan, duduk bersimpuh dengan memangku Renatta kecil yang asyik bermain dengan kupu-kupu salju bercahaya yang diberikan oleh Vasu. Di sebelahnya ada Christine yang bertanya-tanya mengapa Vasu membawa mereka ke tempat yang terpencil.

“Kak Elle…” Vasu berkata pelan, berusaha agar suaranya terdengar jelas kata per kata, “Mohon jangan khawatir. Kak Elle pasti ingin tahu mengapa mereka ingin mengambil bukan?” – senyum dan tawa kecil menghiasi wajah Vasu.

Ellena terkejut, namun segera merasa kembali tenang karena Vasu memberikan kesan ‘tidak perlu khawatir’. Ellena sendiri hampir lupa masalah ini, apa alasan orang-orang dari Gatto Celeste menginginkan putrinya.

“Apa karena aura milik Renatta?” Kini Christine yang balik bertanya.

“Oh, kamu bisa melihatnya?”

“Tentu saja. Renatta memiliki sejenis aura yang murni dan kuat. Kelima anak tadi mungkin tidak mengetahuinya, jika tidak mereka pasti tidak akan menunggu sehari semalam hanya untuk membawa Ellena pergi. Dan sepertinya si gendut kecil juga tidak memberi tahu mereka akan hal ini.”

“Si gendut kecil?”

“Yup, jika mereka menyebut ‘ketua muda’, pastilah yang dimaksud si gendut kecil yang menyebalkan itu. Jika kamu mengatakan dia akan kembali ke sini menjemput orang-orangnya, kamu akan melihat sendiri.”

Christine tertawa, seakan-akan membayangkan badut yang berguling-guling. Ini membuat Vasu mengerutkan dahinya.

“Apa si gendut kecil ini bisa melihat aura Renatta?”

“Kemungkinan besar iya. Dia sama sepertiku, walau tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan monster seperti ini. Jika aku bisa melihat, ada kemungkinan besar dia juga.”

“Hei hei… aku bukan monster.”

“Di mataku ‘iya’.”

Kata-kata santai Christine hanya membuat Vasu menggelengkan kepalanya. Jika Christine yang dimata praktisi dan pendekar biasa adalah monster karena bakatnya yang mengerikan, dan orang mengerikan ini menyebut orang lainnya sebagai monster, Vasu tidak bisa membayangkan orang itu seperti apa – dan dia tentu merasa dirinya tidak semengerikan itu.

Tapi dari apa yang dikatakan Christine, Vasu bisa menduga siapa ketua muda ini. Dia orang yang sama seperti Christine, berarti dia adalah salah satu jenius muda – Nandha – putra angkat dari keluarga kerajaan Tigerheart.

Ada isu bahwa Bavana dulunya adalah negeri kuno yang runtuh oleh kudeta. Dan keluarga kerajaan saat ini adalah keturunan dari Istana Gatto yang melakukan kudeta ribuan tahun yang lalu. Keluarga Bavana sendiri sudah lama hilang, dan keluarga kerajaan saat ini menggunakan nama Celeste dan gelar Tigerheart. Hingga suatu hari Raja Mora Celeste mengangkat seorang putra, hanya saja sang raja tidak memberikan nama belakang Celeste – namun Bavana. Nandha Bavana, tidak hanya terkenal karena bakat yang menakjubkan, namun rumor-rumor memesona di balik kemisteriusan namanya dengan masa lalu negeri Bavana.

Kini, hanya Ellena yang masih bingung dengan pembicaraan kedua anak tersebut. Dia adalah satu-satunya orang dewasa di sana, namun merasa seperti anak-anak.

“Aura apa yang dimiliki oleh putriku?”

“Itu seperti aura yang lembut namun kuat, murni namun juga liar. Aku sendiri tidak pernah melihat aura seperti ini, jika aku memiliki perguruan sendiri – pasti aku juga berminat mengambil Rentta kecil ini Kak Elle. Tapi mungkin Vasu tahu lebih banyak.”

Kini dua pasang mata melirik pada Vasu.

Vasu berdehem ringan… “Kak Elle, sebelumnya aku hendak bertanya. Apakah Kak Elle pernah memerhatikan jika Renatta sedih – langit menjadi mendung, atau ketika gembira – serangga malam ‘bernyanyi’ riang seperti malam ini?”

“Ah ya…” Ellena mengangguk, tanda ia menyadari maksud Vasu. Dia sudah lama melihat ini terjadi pada putrinya, namun tidak terpikir berhubungan dengan kejadian saat ini. Di sisi lain, Christine menyadari bahwa serangga malam lebih nyaring daripada seharusnya – mengingat ini adalah musim pergantian tahun, di mana banyak serangga akan memilih ‘tidur panjang’.

“Kak Elle mungkin tidak pernah mendengar. Tapi Christine mungkin pernah mendengar tentang ‘elemental jiwa’ bukan?”

“Tidak mungkin…!” – Christine nyaris menjerit mendengar pertanyaan Vasu.

“Apa itu?” Ellena kaget, namun lebih pada kaget melihat ekspresi Christine.

“Itu…” Christine terdiam sejenak, lalu melanjutkan. “Kita mengenal ada ribuan elemen wujud dan energi, seperti api, air, angin, dan sebagainya. Elemen-elemen ini berdiri secara terpisah, namun terhubung satu sama lainnya. Sejak dulu banyak ahli yang menyelidiki hubungan antara elemen ini, namun tidak ada yang berhasil. Menurut legenda, puluhan ribu tahun yang lalu, seorang penyihir centagon – penguasa seratus elemen, mengeluarkan pendapat – bahwa terdapat satu lagi elemen yang menjadi penghubung seluruh elemen ini. Ahli ini menyebutnya sebagai ‘elemental jiwa’ – karena sifat elemen teoritis ini menghubungkan semua elemen seakan-akan menjadi jiwa seluruh elemen yang kita kenal. Kudengar, ahli ini memiliki seorang murid, dan kembali menurut legenda, muridnya adalah seorang pemilik elemental jiwa yang kemudian menjadi pendiri Gerbang Ungu yang merupakan pusat kekuatan paling misterius di belantara belahan Barat Ema.”

Ellena terdiam, tentu saja dia tahu beberapa nama yang disebutkan seperti Gerbang Ungu di Barat, setara dengan Istina Gatto Celeste di Tengah, Akademi Ksatria dan Sihir Agung Bren di Timur, dan Paviliun Lembah Abadi di Utara. Tidak ada yang tidak pernah mendengar nama-nama besar itu. Dan kini, entah kenapa dia merasa putri angkatnya terhubung dengan nama-nama besar tersebut.

“Tapi itu hanya legenda Kak Elle, puluhan ribu tahun kemudian di Gerbang Ungu, tidak pernah muncul lagi ‘Elemental Jiwa’ – tidak juga di seluruh Ema. Entah itu benar atau tidak, itu hanyalah legenda.” Lalu Christine menatap Vasu, “Bagaimana kamu bisa yakin bahwa ini terkait dengan ‘Elemental Jiwa’?”

Vasu mengangkat telapak tangannya mengarah ke atas.

“Ah…” Christine menghela napas panjang. Ellena mungkin tidak melihat, namun Christine bisa melihat aura tersebut. Itu adalah aura yang sama dengan yang dilihatnya pada Renatta, – Bagaimana aku bisa lupa, monster kecil ini adalah cakrawala elemental, tentu saja dia bisa mengenali elemental jiwa dengan mudah karena dia sendiri memilikinya. Hah … membuat orang iri saja.

Melihat Christine menggelengkan dan menundukkan kepalanya, Vasu tersenyum geli, tapi Ellena masih tidak mengerti apa yang terjadi.

“Kak Elle, Renatta adalah anak yang istimewa. Di dalam dirinya ada elemental jiwa yang sudah aktif dan akan berkembang dengan sendirinya. Seperti yang Kak Elle sudah dengar dari Christine, mereka yang mengontrol elemental jiwa bisa dikatakan hanya legenda. Tapi ini juga adalah kabar baik dan buruknya.”

Ellena hanya mengangguk, tentu dia merasa bangga putrinya memiliki bakat yang tidak semua orang miliki. Tapi di sisi lain, banyak ahli dan perguruan akan berminat pada putrinya dan ini bisa mengundang bencana. Kejadian dengan Gatto Celeste adalah bukti nyata, dan bukannya tidak mungkin hal yang sama atau lebih buruk terjadi di masa mendatang.

“Dik Vasu, apa pendapatmu mengenai masalah ini? Jujur kakakmu ini tidak bisa melihat jalan keluar bagi Renatta, kakak hanya ingin melihat Renatta tumbuh besar seperti anak lainnya.”

“Aku tidak tahu apa takdir yang dibawa oleh Renatta, potensi kekuatan yang besar akan selalu memiliki dua sisi yang berbeda – keselamatan atau kehancuran. tapi karena kita telah dipertemukan saat ini, kurasa aku tidak bisa tidak membantu. Akan apa yang terjadi di masa mendatang, biarkan waktu yang menjawabnya, untuk masa ini – biarkan Renatta menikmati masa-masa indahnya.”

Vasu melihat wajah Renatta yang kini terlelap di pangkuannya. Dia menjadi terkenang dengan masa lalunya, ketika ia harus lari dan terus berlari untuk mempertahankan hidupnya bersama para pengungsi perang. Dia hanya tidak bisa melihat gadis kecil di pangkuannya juga menghadapi nasib yang sejenis.

“Pertama-tama, mari kita berikan Renatta masa-masa aman dari mata dunia.”

Vasu menengadahkan kedua tangannya, sinar-sinar menari di atas kedua telapak tanggannya, seribu warna yang berpendar lembut membentuk teratai berkelopak bunga seribu. Dan kemudian teratai tersebut mengecil hingga seukuran jempol bayi, lalu turun ke antara alis Renatta yang masih terlelap dan masuk terserap ke dalam tubuhnya.

“Apa yang baru kuberikan adalah segel sahasrara, ini akan menyembunyikan aura Renatta dari orang-orang di sekitarnya, meskipun itu seorang ahli.”

Christine mengangguk sepakat, karena dia kini tidak bisa melihat lagi aura istimewa itu dari tubuh Renatta.

“Namun segel ini memiliki keterbatasan, segel ini paling cepat lima puluh tahun dan paling lama seratus tahun dari sekarang, akan pudar dengan sendirinya. Renatta dengan sendirinya akan menjadi anak adiinsan, kita tidak bisa mencegah ini terjadi.”

“Pasti ada hal lain yang kamu pertimbangkan Vasu.”

“Iya memang, berbeda dengan pemilik elemen lainnya – terdapat puluhan hingga ribuan cara melatihnya, yang mana elemental jiwa tidak memiliki kemawahan tersebut. Dulu pendiri Gerbang Ungu menyadari kemampuan elemental jiwa menghubungkan pelbagai elemen di alam semesta, sehingga dia menyebut kemampuan ini sebagai Nyanyian Semesta. Dari situ dia melihat betapa dahsyatnya kemampuan elemental jiwa, dan kemudian melalang buana dan membuat namanya termasyur di Belantara Barat. Mengapa di belahan Barat Ema tidak terdapat satu pun kerajaan?, karena tidak ada yang tersisa akibat sepak terjang ahli ini, dan tidak ada juga yang tersisa untuk menulis sejarah kelam ini. Jika tidak ada seorang ahli lain yang menghentikannya, mungkin saja seluruh Ema sudah musnah di tangannya. Inilah yang membuat elemental jiwa mengerikan. Ahli ini kemudian diasingkan di belahan Barat, dan di akhir hidupnya membangun Gerbang Ungu – meninggalkan sebuah gulungan pusaka yang disebut ‘Gita Pralaya Langit dan Bumi’ – di mana pun dia berada di bawah langit dan bumi, elemental jiwanya sanggup menciptakan akhir sebuah zaman.”

“Jadi ada kisah seperti itu…” Christine tertegun mendengar cerita Vasu. Tapi dia tidak tahu jika Vasu mengetahui ini secara tidak sengaja juga dari perpustakaan para naga.

“Oleh karenanya Kak Elle, mohon simpan ini untuk Renatta, jika waktunya telah tiba – berikan gulungan ini padanya, dan biarkan dia menentukannya jalannya.”

Ellena menerima sebuah gulungan, yang segelnya hanya bisa dibuka oleh seorang pemilik elemental jiwa.

“Apakah ini gulungan ‘Gita Pralaya Langit dan Bumi’?” Christine menatap gulungan misterius tersebut.

Vasu menggaruk kepalanya, “Sayangnya bukan, ini adalah gulungan ‘Kidung Napas Kehidupan’, jalan lain yang bisa ditembuh untuk mengembangkan Nyanyian Semesta dari elemental jiwa.”

“Jadi ada teknik yang lain selain yang digunakan oleh pendiri Gerbang Ungu?”

“Sebenarnya Kidung Napas Kehidupan dan Gita Pralaya Langit dan Bumi satu kesatuan, sebuah koin tergantung dari mana seorang praktisi melihatnya.”

Vasu berkata dengan santai, dan sebuah gulungan lain muncul lagi di tangannya. Pada segel gulungan terdapat aksara kuno, yang Christine dapat membacanya sebagai “Gita Pralaya Langit dan Bumi”.

“Eh… bukankah kamu bilang gulungan tersebut ditinggalkan di Gerbang Ungu?” Kekagetan Christine seakan seperti dia melihat pencuri makam kaisar sedang memperlihatkan hasil memamerkan hasil galiannya sambil bersiul-siul bangga.

“Yang dimiliki Gerbang Ungu adalah salinannya, atau lebih tepatnya edisi revisi dari edisi asli ini. Karena gulungan yang pertama kali ditulis oleh pendiri Gerbang Ungu terlalu ekstrim, maka dia membuat edisi kedua yang lebih cocok untuk mereka yang tidak memiliki elemental jiwa, namun masih bisa ‘agak’ merasakan keberadaan elemen ini.”

Christine menjatuhkan tubuhnya ke atas rerumputan yang mulai basah oleh embun malam, dia tidak ingin memikirkannya lagi. Jika dia mendengarka Vasu lebih banyak lagi, dia takut jika saat kembali ke Bren dia harus menuntut para pustakawan untuk memperbarui semua sejarah Tanah Ema untuk beberapa puluh ribu tahun.

Keheningan pun datang dalam tirai nyanyian serangga malam.

“Dik vasu, bolehkah kakak tahu apa keistimewaan Kidung Napas Semesta ini?”

Vasu melihat ke arah Ellena yang sepertinya baru saja selesai mencerna pembicaraan mereka.

“Kak Elle, bayangkan saja jika seseorang bisa meniupkan napas kehidupan kepada semua benda atau mahluk yang memiliki elemen apapun di alam semesta ini.”

Seketika Ellena menutup mulutnya, takut dia berteriak kaget. Bukankah itu kemampuan yang hanya dimiliki para dewata? Apakah ini putrinya akan menjadi setara dengan dewata? Dia tidak bisa membayangkannya.

“Ah, sudah larut malam. Ayo kita kembali saja. Bukankah besok pagi kita harus menyambut tamu?”

Christine seperti sudah merasa cukup, dia tersenyum sambil mengulurkan tanggannya pada Vasu yang kini berusaha membopong Renatta sedemikian hingga gadis kecil itu tidak terbangun dari tidur lelapnya.

Sebelumnya

Naskah 12 - Karma Dua Dunia

“Vasu... siapa Vasu...?” Kelima murid dari Gatto Celeste tersebut membantin. Jika ada pendekar muda hebat ... Read more

Selanjutnya

Naskah 14 - Naga Menjebak

Matahari belum terbit, dan angin terasa dingin menusuk tulang. Beberapa siluet orang tampak bergerak keluar ... Read more