Naskah 14 – Naga Menjebak

Matahari belum terbit, dan angin terasa dingin menusuk tulang. Beberapa siluet orang tampak bergerak keluar gerbang bagian Timur. Sementara ratusan lainnya melihat dari balik embarau tanpa berani melangkah keluar dari Buido.

Semalam Vasu menyampaikan pada kepala dan para tetua desa, bahwa kemungkinan pagi ini akan terjadi hal yang tidak diinginkan, dan masyarakat desa sebaiknya tetap tinggal di dalam desa. Vasu telah menyusun formasi pelindung di sekitar desa Buido, Dirghakalam Suryagatravarana dan Dirghakalam Candragatravarana – sepanjang matahari dan rembulan bersinar, tidak ada mahluk dunia fana yang bisa menembus formasi pelindung ini. Vasu yakin, bahkan jika Joanna sendiri yang mencoba menerobos, maka penyihir heptagon tersebut akan menyerah pada akhirnya.

Ada dua alasan mengapa Vasu membuat formasi ini, pertama adalah melindungi warga desa dari ancaman kedatangan para ahli dari Gatto Celeste pagi ini. Dan untuk jangka panjang, memberikan perlindungan pada si kecil Renatta.

Vasu layak berterima kasih kepada kastil Serigala Bintang Hitam. Sejak serangan ke Puncak Benderang, Vasu memutar otak untuk menyusun formasi sihir yang mampu melindungi area luas. Anak tersebut pada akhirnya menyusun versi besar mandala perisai diri – gatravarana dengan meminjam energi mataharari dan rembulan – surya dan candra, dan menjadikannya nyaris abadi – dirghakalam.

“Sebentar lagi bahtera langit ketua muda akan tiba.”

Perkataan salah satu remaja perempuan memecah keheningan pagi.

Di sisi lain, Honos juga menatap ufuk Timur dengan Vasu di sampingnya. “Apa pendekar yakin akan melepaskan kami begitu saja? Kami bisa menjadi alat tawar yang baik dengan ketua muda kami. Karena mengenal temperamennya, sangat besar kemungkinan ini tidak berakhir dengan baik.”

Honos tahu bahwa ketua mudanya jika menginginkan sesuatu haruslah terpenuhi. Oleh Raja Bavana dan Ketua Perguruan Gatto Celeste, ketua muda sangat dimanja.

Vasu tersenyum kecut, “Walau kalian berlima bisa menjadi jaminan untuk ketua muda. Tapi kelima tua renta yang mendampinginya belum tentu seiya sekata.”

Honos terdiam, seperti tubuhnya baru saja tersambar petir. Dia tidak mengerti bagaimana Vasu bisa tahu bahwa ketua muda disertai oleh lima orang tetua dari Gatto Celeste.

‘Apakah anak ini memang memiliki ‘mata yang melihat segala’? – Honos tidak tahu harus berkata apa.

 

Bersamaan dengan menyingsingnya sang surya di ufuk Timur, sebuah bintik hitam bertambah besar di cakrawala. Dalam beberapa saat gambaran sebuah bahtera langit tampak semakin jelas. Dengan tiang-tiang layar yang megah, dan relief-relief berlapis emas menghiasi tubuh bahtera sepanjang dua ratus elos dan lebar lima puluh elo.

Jika dilihat lebih teliti, bahtera langit ini dapat ditumpangi oleh sekitar dua puluh hingga empat puluh awak. Merupakan bahtera langit model terbaru yang didesain untuk kecepatan dan dapat terbang tinggi untuk menghindari deteksi dari pelbagai menara pengawas. Dan harganya juga tidak murah, ratusan ribu keping emas untuk yang paling murah, dan untuk yang mewah seperti milik ketua muda Gatti Celeste ini bisa bernilai sepuluh kali lebih mahal. Dan Vasu bisa melihat geladak dengan meriam-meriam sihir yang menambah nilai jualnya.

Vasu menggelengkan kepala, untuk ukuran Desa Buido – penghasil per kepala keluarga setiap bulannya paling banyak beberapa keping perunggu yang cukup untuk membeli garam, dan alat-alat rumah tangga setelah ditabung. Sementara pakaian mereka dapatkan dari kerajinan rumah tangga dan kebun kapas mereka. Demikian juga dengan pangan dari perkebunan dan pertanian mereka, serta hasil dari buruan kelompok pemburu. Sehingga pendapatan sebuah desa kecil seperti Buido hanya beberapa puluh keping perak setiap bulan, dan sebuah keping emas jika mereka beruntung. Namun kini jutaan keping emas sedang menuju ke arah mereka dalam bentuk bahtera langit mewah, bahkan harta tujuh turunan mereka pun tidak akan cukup membuat mereka memiliki kemewahan itu.

Tapi apa yang membuat Vasu mengerutkan dahi bukanlah kemewahan yang ditampilkan. Namun aura keangkuhan yang terasa dari mereka yang berada di atas bahtera. Dari cerita para sahabatnya di Puncak Benderang, Vasu sudah banyak mendengar bahwa di Tanah Ema yang kuat berkuasa atas yang lemah. Mereka yang memiliki kuasa kebanyakan memandang rendah pada mereka yang dianggap rendah.

Yang lebih membuat pusing lagi, orang-orang seperti ini tidak suka berdialog. Tangan mereka lebih ringan dibandingkan mulut. Tapi Vasu tak bisa menyelahkan orang-orang ini, kadang dia sendiri memiliki tempareman yang sama.

Tidak lama kemudian sejumlah formasi mandala bersinar di savana di bawah bahtera langit Gatto Celeste. Dan bahtera tersebut ‘berlabuh’ dengan anggun di atas hamburan cahaya keemasan yang bercampuran dengan percikan embun pagi.

“Pergilah…, temui ketua muda kalian.”

Vasu berkata dengan santai.

Kelima remaja saling bertukar pandang, lalu mereka berjalan ke arah bahtera diiringi dengan lima ekor harimau putih di belakang mereka.

Dari atas bahtera langit, turun enam sosok pendekar. Satu orang anak gemuk bulat, dan dari gambaran yang diberikan oleh Christine, Vasu bisa tahu bahwa anak sebayanya tersebut adalah ketua muda perguruan Gatto Celeste. Dia sudah melihat anak tesebut bersama kelima tetua perguruan dari mata Hi’wi.

Meskipun jarak kedua belah pihak sekitar seribu langkah, namun baik Vasu dan Christine maupun orang-orang dari Gatto Celeste bisa melihat dengan jelas siapa-siapa di hadapan mereka.

Kelima remaja memberi salam dan hormat pada ketua muda mereka, dan tampak membicarakan beberapa hal. Pun demikian Vasu dan Christine bisa tahu jelas isi percakapan itu, tapi mereka tetap bergeming seakan tidak mendengar apapun.

Kelima tetua tampak terkejut, dan wajah mereka pucat. Kelima remaja tersebut adalah kelima murid mereka langsung, mungkin masih muda, tapi bukan berarti lemah. Dan yang membuat mereka lebih marah lagi, ternyata seluruh nadhi di kelima murid mereka tersegel oleh energi asing. Dalam kondisi ini, kelima remaja tersebut tidak akan bisa menggunakan kekuatan dan kemampuan mereka sebagai pendekar – seperti tahanan yang dikekang kedua tangan dan kakinya, namun jika dibiarkan demikian lebih lama lagi, nadhi mereka akan mengecil, menciut dan menjadi terlalu rapuh untuk menampung aliran prana – yang bermakna, akhir riwayat kelima remaja ini sebagai pendekar.

Vasu tentu tahu, bahwa efek ini tidak permanen, karena dia sendiri yang menerapkan segel instans tersebut. Tapi dari sudut pandang kelima tetua akan bisa berbeda, dan tentunya ketua muda memiliki pikirannya sendiri setelah menemukan kelima ‘ajudan’ kesukaannya bernasib demikian.

“Kalian berani tidak memberi muka pada Perguruan Gatto Celeste!” Suara bergemuruh keras memenuhi udara dan langit, setidaknya terdengar sampai sejauh dua puluh ribu elo.

Vasu menghembuskan napas panjang, dia tahu suara ketua muda itu ditujukan padanya, dan ini yang membuatnya sebal tentang orang-orang yang memang tidak bisa diajak duduk bicara.

Christine memandang ke arah Vasu dengan tersenyum, dia juga tampaknya tidak merasa tertekan. Lalu kedua anak itu bergerak ke depan, dan dengan sekejap mata sudah berada lima ratus langkah di depan. Pada posisi di antara kedua pihak.

Sementara Ellena dan yang lain merasa tubuh mereka lemas, karena gemuruh suara tadi tidak hanya memekakkan telinga, namun juga mengandung aura yang menekan kesadaran mereka. Tapi mereka berusaha tidak bergeming, berharap pada Vasu dan Christine bisa menyelesaikan krisis ini.

Ketua muda Gatto Celeste juga melesat ke arah Vasu dan Christine. Dan dalam sekejap ketiga anak ini berhadap-hadapan.

“Aku adalah Nandha Bavana, ketua muda Perguruan Gatto Celeste. Jadi kalian yang berani menantang perguruanku?”

Wajah ketua muda – Nandha ini menunjukkan arogansi yang begitu tinggi, seakan-akan dia adalah elang di langit yang sedang memandang dua ekor tikus di daratan. Hanya saja, dengan wajah bulat gemuknya, bagi orang dewasa – dia mungkin justru tampak menggemaskan.

Christine tentu melihat ini lucu, tapi dia belum berencana membuka identitasnya, setidaknya sebelum mengerjai anak gendut ini.

“Ah, rupanya Ketua Muda Nandha sendiri yang datang. Kami hanyalah dua pengelana yang namanya tidak layak disebut di hadapan ketua.”

Christine menunduk memberi salam, namun senyumnya membuat Vasu merinding – gadis ini merencanakan apa lagi?

“Humph…, nama kalian tidak penting! Namun karena kalian berani mencederai bawahanku, aku akan memberikan kalian pelajaran betapa tingginya langit.”

Sebagai salah satu jenius muda di Tanah Ema, Nandha telah lama dielu-elukan tanpa tanding di kalangan murid utama di Gatto Celeste. Memiliki kemampuan panca laksa bala, dia tidak pernah takut siapapun. Elemen keemasannya adalah tanah dengan logam utama, pertahannya bisa dikatakan yang terkuat.

“Ketua muda mohon tidak salah paham. Kami memang menahan kelima bawahan ketua, namun itu karena memaksa membawa salah satu warga dari desa kecil ini. Kami takut itu akan mencederai wibawa ketua jika tersebar kabar bahwa ketua muda memerintahkan orang untuk menculik anak kecil dari desa terpencil.”

“Kamu…!” Wajah Nandha merah padam, dia tidak berniat menculik. Hanya membawa anak berbakat ke perguruannya, dia merasa tidak ada yang keliru tentang hal itu. Maka dia segera menyangkalnya, “Omong kosong! Mana mungkin aku menculik orang! Aku hanya meminta mereka mengundang anak berbakat untuk masuk salah satu perguruan hebat di Tanah Ema, ini namanya memberi keberuntungan, mana bisa disebut menculik. Kamu bicara omong kosong!”

Nandha tampak berbicara tersendat-sendat, dia tidak terbiasa berdebat. Tangannya biasa lebih cepat dibanding otaknya. Tapi siapa Christine? Bahkan Vasu pun enggan bersilat lidah dengan gadis kecil ini.

Christine melihat kesempatan emas dalam kepanikan yang berusaha disembunyikan oleh Nandha. Maka dia melanjutkan serangannya.

“Jika demikian, maafkan saya yang buta ini. Tapi bolehkah saya tahu, anak mana yang ketua muda sebut berbakat, karena saya nyaris tidak bisa melihat anak berbakat itu di sini. Jika tidak bagaimana mungkin kami menghentikan bawahan ketua muda.”

“Apa…? Biar kuberi tahu, matamu mungkin buta! Anak itu memiliki aura paling misterius yang pernah kulihat, bakatnya pasti anugerah dari langit.” Nandha membusungkan dadanya bangga, dia tentu saja bisa melihat aura, bukan hanya merasakannya saja. Gadis desa di depannya tidak paham apa-apa, maka dia akan menunjukkannya. “Anak yang kumaksud adalah anak itu! … Eh…”

Nandha sudah memerhatikan keberadaan Renatta sejak turun dari bahtera langit. Namun pikirannya hanya tertuju pada kelima bawahannya, dan apa yang terjadi pada mereka. Kini dia melihat Renatta lebih seksama lagi, justri dia menjadi begitu kaget.

Apa yang terjadi? Mengapa dia menjadi anak biasa? Sebelumnya aku yakin anak itu memiliki aura istimewa. Apa aku salah melihat? Ah, tidak mungkin…, kelima tetua juga meyakinkanku.

Gelombang keterkejutan juga menyapu wajah kelima tetua Gatto Celeste. Mereka yakin melihat sesuatu pada anak gadis itu, aura yang tidak mereka pernah lihat sebelumnya. Tapi kini, anak tersebut menempel polos pada seorang perempuan muda, dan tampak seperti anak biasa – yang menunjukkan rona ketakutan.

“Tidak mungkin! Aku tidak mungkin salah lihat!”

Nandha menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya apa yang dia lihat.

Ellena tahu apa yang tengah terjadi. Vasu sengaja meminta Renatta dibawa serta untuk menunjukkan bahwa gadis kecil itu hanya gadis biasa. Karena Ellena tidak pernah bisa melihat aura, dia tidak tahu apakah ‘segel’ yang diberikan Vasu bekerja atau tidak. Namun dengan melihat reaksi pihak lawan, dia tahu bahwa setidaknya dia bisa sedikit bernapas lega.

“Ketua muda mungkin tidak keliru. Mungkin yang ketua muda lihat saat itu adalah aura cantik gadis kecil ini, saat dia tumbuh dewasa, dia akan menjadi pendamping yang pantas untuk ketua muda. Karena ketua muda begitu ternama, tentu harus mendapat pendamping yang layak. Jika demikian alasannya, tentu kami tenang menyerahkan anak beruntung kepada tuan muda, karena masa depannya akan cerah.”

Wajah Nandha langsung merah, kata-kata manis adalah kelemahannya. “Ha ha…, ya ya…, aneh memang, apa mungkin aku melihat aura kecantikan. Tapi dia masih kecil. Tapi jika dia tumbuh dewasa, sepertinya memang layak mendampingi ketua muda ini.” Lalu, Nandha melirik ke arah Christine, karena suasana hatinya membaik, kini dia bisa melihat gurat wajah gadis kecil tersebut – dan seketika dia kaget karena seperti melihat bidadari turun dari kahyangan. “Ehmm… tapi aku tidak mengincar gadis kecil, sebagai ketua muda perguruan, aku masih memiliki akal sehat. Jika pun ada yang hendak kujadikan pendamping, tentu itu adalah Anda Nona, karena Nona sungguh memesona.”

Mendengar ini, Vasu hampir membuka mulutnya lebar. Tampaknya anak yang bernama Nandha ini tumbuh dewasa jauh lebih cepat sehingga bisa dikatakan menyalahi hukum alam. Mungkin bagi Vasu yang memiliki jiwa orang planet lain, berusia dua ratusan tahun wajar memiliki pemikiran dewasa, tapi di Tanah Ema – berusia dua ratus tahun hanyalah seumur jagung. Dan parahnya lagi, anak yang bernama Nandha ini memiliki penyakit tebal muka yang serius – cukup serius untuk segera mendapatkan pertolongan dokter, tabib, atau mungkin psikiater.

Sedangkan Christine tersenyum lebar, seakan-akan malu-malu, namun Vasu bisa melihat matanya seperti menatap kelinci kecil yang masuk ke dalam perangkap buruannya. Apapun itu, Vasu bisa tahu si gendut di hadapannya akan segera menemui nasib malang.

Vasu hanya diam, namun seluruh rambut di tubuhnya berdiri. Nandha tidak sepertinya, yang bisa merasakan bencana akan datang dari gadis yang penuh trik ini. Naga sendiri sudah berbahaya untuk dihadapi langsung, namun bagaimana jika naga itu sendiri cukup licik dan menerapkan perangkap bagi lawannya? Tubuh Vasu merinding, namun dia ingin tahu, apa langkah yang akan terjadi selanjutnya?

Sebelumnya

Naskah 13 - Kidung Napas Kehidupan

Malam turun larut di Desa Buido, namun suasana tidak mencerminkan malam-malam seperti biasanya. Obor-obor menyala ... Read more

Selanjutnya

Naskah 15 - Putri Bergaun Putih

Jauh di Utara, membentang jalur Seribu Pegunungan Menghujam Langit, puncak-puncak seperti ujung-ujung kapak yang tersembunyi ... Read more