Jauh di Utara, membentang jalur Seribu Pegunungan Menghujam Langit, puncak-puncak seperti ujung-ujung kapak yang tersembunyi di balik awan-awan yang tak pernah pudar. Sejauh mata memandang dari kejauhan adalah puncak-puncak seputih salju, dengan dataran tinggi berpasir nan gersang di lapis bawahnya, dan paling bawah adalah kawasan hutan yang luas hingga ke wilayah dataran.

Pegunungan ini membentang dari Timur ke Barat menjadi pembatas sepertiga wilayah dataran bagian Utara dan dua pertiga dataran di wilayah bagian Selatan dari Tanah Ema. Membagi Tanah Ema menjadi dua wilayah dataran, Selatan merupakan tempat peradaban manusia selama jutaan tahun terakhir. Sementara wilayah Utara adalah wilayah yang misterius.

Misterius dalam artian, karena tidak ada yang dapat mencapainya tercatat dalam sejarah peradaban wilayah Selatan. Seribu Pegunungan Menghujam Langit adalah benteng alam yang tak tertembus oleh manusia selama jutaan tahun. Sedangkan wilayah pantai dataran utara bukanlah pilihan yang baik untuk berlabuh, sebagian merupakan jurang-jurang yang terjal dengan tanaman-tanaman beracun yang mematikan. Badai besar juga adalah pemandangan umum di wilayah Utara ketika para pelaut melihat dari kejauhan. Dengan kata singkat, berlabuh di wilayah utara adalah bunuh diri.

Di kaki-kaki Seribu Pegunungan Menghujam Langit, terdapat tiga kerajaan yang saling berbatasan. Masing-masing memiliki sekitar empat hingga tujuh kota besar selain ibukota masing-masing, puluhan kota kecil, dan ratusan desa.

Kerajaan dengan luas paling kecil ada di tengah, diapit oleh dua kerajaan yang lebih besar. Dengan panji bergambar kristal salju putih enam sisi – kerajaan ini mengayomi sebuah negeri yang luas, bernama negeri Hutan Salju. Nama ini diambil dari sejarah berdirinya kerajaan yang pusatnya berada di lembah Sungai Salju Seribu Tahun, yang aslinya berupa dataran hutan subur dengan suplai air melimpah dari mencairnya salju di Seribu Pegunungan Menghujam Langit.

Sungai Salju Seribu Tahun begitu lebar, hingga mata memandang dari satu sisi tidak akan bisa melihat sisi yang lainnya. Sungai ini yang nantinya akan pecah bercabang menjadi ratusan sungai yang mengalir ke wilayah Timur, Barat, dan Selatan dari dataran Selatan Tanah Ema. Sehingga sungai ini juga mendapatkan sebutan sebagai Bunda Dataran Selatan. Hanya beberapa sungai yang tidak berasal dari Sungai Seribu Tahun, salah satunya adalah Sungai Sika dari Danau Bulan Sabit yang hilirnya berada di wilayah Puncak Benderang.

Tapi jika orang seseorang melihat dengan lebih cermat lagi dari salah satu sisi tertentu Sungai Salju Seribu Tahun di dekat kaki Seribu Pegunungan Menghujam Langit, ada sebuah titik kecil di cakrawala di atas permukaan air yang tenang. Demikian juga kalau di lihat dari sisi lainnya, titik ini terlihat – seakan-akan berada tepat di tengah-tengah sungai. Ini memberikan gambaran betapa lebar sungai tersebut.

Tapi dari mana orang bisa melihat titik ini?

Tepat dari dua kota kecil yang sejajar di pinggir sungai, Kota Padang Salju di Barat, dan Kota Savana Salju di Timur.

Di batas masing-masing kota, di tepi Sungai Salju Seribu Tahun, terdapat gerbang yang terbentu dari dua pilar raksasa dengan busur berornamen yang menghubungkan ujung-ujung atas mereka. Di tengah busur terdapat pahatan kristal salju berukuran besar dengan tulisan jelas pada masing-masing gerbang tak berpintu itu, yaitu “Gerbang Barat” di Kota Padang Salju, dan “Gerbang Timur” di Kota Savana Salju.

Jika orang berdiri di masing-masing gerbang, maka ada sebuah jembatan batu yang menjadi jalan ke menuju ke tengah sungai, dan dari posisi ini seseorang bisa melihat titik di tengah sungai tadi dalam gambaran yang paling jelas.

Masing-masing gerbang terdapat dua pos militer, tentara berjaga siang dan malam secara bergantian. Namun tidak ada pemeriksaan bagi siapun yang melintasi gerbang. Sehingga masyarakat berlalu lalang di jembatan yang bisa dilalui sepuluh pedati sekaligus itu.

Jika orang bisa melangkah lebih jauh di atas jembatan, dalam setengah hari dia bisa melihat titik besar tersebut bagai sebuah lotus putih salju raksasa di tengah Sungai Salju Seribu Tahun. Tapi lebih dekat lagi, merupakan kumpulan kastil yang membentuk kesatuan istana dengan dinding benteng hingga bangunan dan atap-atap mereka yang berwarna putih seluruhnya.

Kecuali masyarakat luar, seluruh orang – baik tentara, pelayan, abdi istina, para menteri hingga keluarga kerajaan – semuanya mengenakan pakain putih bersih.

Kumpulan kastil berwarna putih ini berada di sebuah pulau yang dikelilingi oleh tebing curam dengan dinding-dinding dari kristal putih yang misterius – di mana tidak ada tanaman yang tumbuh ataupun hewan yang bersarang. Dinding-dinding ini membentuk pisau-pisau kristal yang runcing ke langit, membuatnya sebagai benteng alami, sekaligus memberi gambaran seperti lotus salju bagi yang melihat dari kejauhan.

Di bagian tengah merupakan istana utama yang terdiri dari banyak bangunan berkubah dan bermenara.

Dan di salah satu menara, sebuah kamar berukuran besar dengan yang isinya tampak begitu mewah, mulai dari ranjang berukir berukuran besar, kursi malas yang menghiasi beranda di sisi lain, belum lagi permadani yang ketika dipijak terasa selembut salju namun memberikan kesan sejuk yang menyegarkan. Bunga-bunga lili putih menghiasi ruangan bersanding dengan pelbagai batuan kristal putih yang dipahat dengan indah.

Seorang anak perempuan sebaya dengan Christine sedang memegang cakram kristal di tangannya sambil duduk menghadap sebuah cermin bersar. Seakan-akan dia melihat masuk ke dalam cermin bukan untuk menemukan bayangan dirinya.

“Tampaknya ini menarik… ha ha…”.

Suara serak dan ringan datang dari sebelah anak perempuan ini, sosok seekor gagak dengan bulu-bulu putih di seluruh tubuhnya dan paruh dan pupil keemasan mengangguk-anggukkan kepala dan tubuhnya. Dia tampak sangat antusias.

Anak perempuan tersebut mengangguk, “Christine menghubungiku melalui kristal komunikasi bahkan sebelum matahari terbit, mengatakan ada sesuatu yang menarik akan terjadi. Dan memang tampaknya si gendut yang menyebalkan itu sedang mencari masalah.”

“He he…, anak itu mengejarmu hingga tak pernah bosan, seakan-akan pandangannya hanya tertuju padamu. Tapi kini baru ada anak perempuan lain, dia langsung putar halauan – malangnya dia mungkin tidak tahu kalau yang dihadapannya adalah Rhein ke-3, manifestasi dari naga biru langit yang merupakan salah satu dari keturunan tiga naga permulaan.” Gagak putih tersebut tak tahan melihat kebodohan anak yang gambarannya muncul dengan wajah bulat di dalam cermin.

“Jangan berkata demikian, dia terlalu dimanjakan sejak kecil. Dan bakatnya dikatakan sebagai salah satu jenius muda di seluruh Ema. Wajar jika sikapnya demikian, tapi … hah… tetap saja – rasanya tidak mau mengakui bahwa aku pernah kenal orang seperti itu.”

“Apa? Tidak… tidak…, itu tidak bisa dibenarkan. Lihatlah dirimu sayangku, kamu adalah ‘Putri Bergaun Putih’ – satu dari empat jenius di Tanah Ema. Kamu di masa depan akan menjadi pemimpin bagi para elit yang menjadi penjaga perbatasan Ema di Utara, memberikan rasa aman bagi dataran Selatan. Tapi demikian, aku akan lebih memilih bersamamu sayangku, daripada mengikuti anak gendut tak tahu malu itu – meski dibayar dengan anggur salju terbaikpun aku tak akan sudi.”

“Perbatasan apa. Lebih dari puluhan ribu tahun berganti generasi, tidak ada apapun. Wilayah ini damai, dan ini bagus. Kadang aku ingin bisa seperti Christine, bepergian sesuka hatinya. Sementara aku…, aku hanyalah simbol di dalam sangkar kemegahan.”

“Ah…, sayangku….”

Mereka terdiam, dan pandangan masing-masing kembali ke dalam cermin.

 

Sementara itu, di Timur dari Desa Buido.

Nandha menepuk dada dengan tangan kanannya, penuh ekspresi kebanggaan. “Nona, engkau mungkin tidak tahu, tapi sebagai jenius muda yang paling cemerlang di bawah langit Ema – masa depanku dipastikan akan bergemilang kejayaan. Jika Nona mengikuti jenius sepertiku, masa depan Nona akan bersinar seperti rembulan yang tercantik.

Sepertinya di wilayah Bavana, para aristokrat dan bangsawan memiliki kebiasaan memamerkan keanggunan atau kehebatan pasangan hidupnya. Mereka akan berusaha mencari pasangan yang paling baik.

Dan tampaknya naluri si gendut ini cukup tajam. Dia bisa melihat langsung potensi Rhein ke-3, tapi sayangnya dia tidak tahu bahwa itu adalah Rhein ke-3. Jika tidak, mana mungkin dia mencoba menelan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang mampu dia suap ke dirinya sendiri.

“Ketua muda sungguh besar hati. Tapi ada dua hal yang membuat saya tidak bisa memenuhi permintaan tuan muda.”

“Apa..? Apa yang yang membuatmu tak bisa?” – tentu saja Nandha terkejut, karena tidak mungkin akan ada yang menolak permintaannya.

“Pertama, status kita berbeda jauh – ah, saya rasa sungguh tidak layak dibandingkan.”

“Omong kosong, aku tak pernah memandang status. Apa yang lainnya?”

“Yang kedua, saya takut, jika menerima permintaan tuan muda, hidup saya yang malang ini akan selalu dikejar kesulitan.”

“Tidak mungkin! Kesulitan apa yang akan menimpamu? Selama aku ketua muda ini ada, tidak ada kesulitan yang datang padamu, dan tidak akan ada yang berani memberikanmu kesulitan.”

“Apakah yang Ketua Muda maksudkan termasuk ‘Putri Bergaun Putih’? Karena saya khawatir dia akan … ah…” Christine hanya menggelengkan kepala, pernyataannya ambigu.

Tapi pernyataan ini cukup untuk membuat Nandha seperti tersambar petir. Wajahnya mendadak pucat.

Hanya saja sebelum dia sempat berkata, Christine sudah melanjutkan kata-katanya, “Jika Ketua Muda tetap memaksa, maka saya akan menyampaikan hal ini dahulu pada ‘Putri Bergaun Putih’ dan…”

Belum selesai Christine berbicara, Nandha berteriak histeris “Jangan…!”

“Maaf…?” Christine berpura-pura tidak paham, namun tentu saja tidak ada yang melihat bahwa dia sedang berpura-pura.

“Ehm…, maksudku tidak perlu menyampaikan ini padanya. Bahkan tidak usah menyampaikan kita pernah bertemu.” Nandha berusaha mengembalikan ketenangan dan kharismanya. Hanya saja, sepasang matanya tidak bisa menyembunyikan kekhawatirkan. Karena ‘Putri Bergaun Putih’ adalah idolanya – yang selalu dia kejar – atau lebih tepatnya ‘untit’ – sepanjang waktu. Dia tidak bisa membayangkan reaksi gadis itu jika tahu bahwa dirinya sedang berusaha mendapatkan pendamping lain.

Vasu yang dari tadi diam di samping, sedikit banyak paham percakapan mereka. Walau dia tidak kenal siapa ‘Putri Bergaun Putih’ – tapi dia tahu siapa yang dimaksud. Ellena pun demikian, dia mungkin tidak bisa mendengar pembicaraan dari kejauhan, tapi bukan berarti tidak dapat membaca gerak bibir – sehingga dia tidak bisa tidak berpikir bahwa anak-anak sekarang tumbuh besar dengan terlalu cepat.

“Jika memang demikian kata Ketua Muda, maka saya tidak akan menyampaikan pada ‘Putri Bergaun Putih’, tapi saya rasa dia akan tetap tahu kejadian ini.” Christine memiringkan kepalanya ke samping, seakan memasang ekspresi datar.

Walau pun kata-kata tersebut diucapkan dalam ekspresi datar, namun tetap seperti petir yang menyambar bagi Nandha.

“Eh…, apa maksudmu dia tahu?”

Christine hanya mengangkat satu jari ke atas, seakan menunjuk sesuatu di langit. Maka semua orang mulai menelusuri dengan pandangan mereka, apa yang ditunjuk oleh Christine.

“Tidak mungkin, itu…” – Kini Nandha benar-benar berkeringat dingin, sebuah bola bercahaya putih mengambang sekitar sepuluh meter di atas mereka. Nandha tahu benar apa benda tersebut, jika tidak – dia tidak mungkin berkeringat dingin.

Oh… mantra bola pengindraan jarak jauh? – Vasu terkagum, bukan dengan bola mantra tersebut, tapi dengan orang yang menempatkannya. Sekitar saat bahtera langit tiba, Vasu bisa merasakan undulasi pada posisi elemen di udara, nyaris tidak terdeteksi seandainya dia bukan cakrawala elemental. Orang yang melepas mantra ini bisa dikatakan elit di antara elit. Tapi Vasu lebih kagum lagi, tampaknya Christine justru tahu mantra ini akan tiba, mungkin bagian dari ‘jebakannya’.

“Ah…, Anna… ini tidak seperti yang kamu pikirkan…” Nandha dengan wajah pucat dan tangan memberi tanda ‘bukan’ berulang kali berbicara ke arah mantra bola penginderaan jarak jauh tersebut.

Tiba-tiba mantra bola tersebut berpendar, dan muncul dari dalamnya seorang anak perempuan yang duduk di atas kursi yang antik nan kuno. Tapi auranya seperti seorang ratu yang duduk di singgasana. Hanya saja, itu bukan sang ratu yang sesungguhnya, hanya sebuah mantra yang mewujudkan svarupa – personifikasi dari pemiliknya.

“Apa yang kupikirkan bukan urusanmu. Apa yang kamu lakukan bukan urusanku.”

Kata-katanya menggelegar ke seluruh penjuru, sama seperti kata-kata Nandha yang pertama kali diucapkan secara lantang di Buido. Hanya saja, kata-kata dari pemilik mantra svarupa ini lebih dalam dan berwibawa.

“Tidak…, jangan berkata demikian Anna. Ayolah, kita sudah berteman sejak kecil. Ya… ya… sesama sahabat kita bukankah kita sudah sedemikian dekat?” Senyum tipis penuh harap menghiasi wajah Nandha.

Vasu melihat anak laki-laki tersebut dengan ekspresi – sekarang anak ini benar-benar tidak terselematkan lagi.

“Sahabat?” Sosok yang bernama Anna tersebut memicingkan matanya menandakan tiada restu bagi pernyataan tersebut, “Aku tidak mengingat hal itu sebelumnya, itu tidak penting bagiku. Tapi karena ada yang berani mengakui memiliki hubungan denganku tanpa berdasarkan kenyataan yang sesungguhnya, maka dia sama saja dengan memalsukan pengakuanku. Pada orang-orang ini aku tidak akan memberikan maaf.” Lalu sosok tersebut menoleh pada Christine, “Nona, aku lihat Anda memiliki sedikit dasar sebagai seorang pendekar. Mohon Nona bersedia membantu saya memberikan orang ini pelajaran. Maka sepanjang Sungai Salju Seribu Tahun tetap mengalir, saya tidak akan melupakan budi baik Nona.”

Christine menunduk seraya berkata, “Jika ‘Putri Bergaun Putih’ sendiri yang meminta, bagaimana saya bisa menolaknya.” Lalu dia menghadap ke arah Nandha dan berkata dengan lantang, “Ketua muda dengar sendiri bukan, kita tidak memiliki perselisihan, namun kali saya mewakili ‘Putri Bergaun Putih’ memberikan pelajaran pada ketua muda, maka ketua muda hendaknya bersiap.”

BOOM

Aura biru langit meledak dari tubuh kecil Christine, seperti samudra yang teramat luas yang siap melahap daratan.

Dengan satu gerakan, seketika Christine meluncurkan sebuah tapak tangan ke arah Nandha. Seperti seberkas cahaya yang melaju cepat di permukaan tanah.

Nandha yang melihat sebuah tapak penuh energi datang kepadanya secara naluri segera melompat ke belakang sambil juga menyambut dengan telapak tangannya. Dua energi biru dan keemasan berpadu menyebabkan tanah bergetar hebat dan udara terbelah terhempas menjadi ribuan arah mata angin yang tajam menyayat.

Angin yang berhembus seketika bagai topan, merundukkan seluruh rumput hingga rebah mencumbu bumi. Bahtera langit yang bersandar bergeser hingga beberapa puluh langkah. Sementara Vasu sudah berada di depan Ellena dan yang lain, menggunakan ranah energinya untuk melindungi mereka.

Vasu bisa melihat bahwa Christine memang sengaja memancing Nandha untuk berduel. Sebagaimana anak perempuan itu memancing Vasu untuk berduel di tepi danau Bulan Sabit. Hanya saja melihat watak Nandha, jika dia mengetahui siapa Christine sebenarnya – dia pasti menolak berduel, dan Christine bukan tipe orang yang berbohong – hanya jenis yang menunda kebenaran terungkap. Sehingga dia harus menggunakan trik di mana Nandha tidak bisa berpikir banyak dengan dibanjiri oleh informasi, lalu memanfaatkan bantuan ‘Putri Bergaun Putih’ yang menjadi pujaan Nandha untuk memberikan bom psikologis – membuat semua alasan berduel menjadi sah sesahnya.

Malangnya, Nandha tidak menyadari hal ini, jika dia bisa cukup tenang seperti Vasu, dia tidak akan mudah terpancing. Tapi Vasu tidak bisa menyalahkannya, kemampuan mental mereka memang berbeda jauh akibat perbedaan takdir asal mereka. Dan Vasu juga tidak menyalahkan Christine mengambil kesempatan ini, karena antara para jenius muda – mereka biasanya menghindari duel untuk tetap menjaga hubungan baik, kapan lagi dia bisa menjajal kemampuan jenius muda lainnya.

Setidaknya dengan ini, Vasu tidak perlu turun tangan langsung mengingatkan orang-orang dari Gatto Celeste untuk menjauhi Desa Buido di masa mendatang. Dan dia bisa menyaksikan duel sesungguhnya antara dua jenius muda di Tanah Ema. Satunya adalah Naga Biru Langit dari Samudra Timur, dan satunya adalah Harimau Emas Naik ke Langit.

Entah dari mana Vasu mengeluarkan beberapa kursi dan sebuah meja bundar dengan set lengkap untuk menikmati teh. Dia mempersilakan Ellena dan yang lain duduk, bahkan menawari Renatta manisan. Sambil menyeruput teh hangat, dia mulai menikmati duel yang membahana dari panggung VIP-nya sendiri.

 

Anna memandang Vasu dari cermin di dalam kamarnya, walau dia menyaksikan duel antara dua temannya yang tidak saling kenal satu sama lain. Namun yang paling menarik perhatiannya adalah pemuda yang di samping Christine sebelumnya. Dia sangat mengenal Christine, jadi Vasu begitu menarik perhatiannya.

Sebelumnya

Naskah 14 - Naga Menjebak

Matahari belum terbit, dan angin terasa dingin menusuk tulang. Beberapa siluet orang tampak bergerak keluar gerbang bagian Timur. Sementara ratusan lainnya melihat dari balik embarau tanpa berani melangkah keluar dari Buido. Semalam Vasu menyampaikan pada kepala dan para tetua desa, ... Read more

Selanjutnya

Naskah 16 - Duel Harimau dan Naga

Tidak memakan waktu lama bagi area di bagian Timur dari Desa Buido menjadi pusat amukan dari energi murni dan energi sihir – ada dua prana yang seakan-akan beradu dengan dahsyat. Aroma debu yang terangkat, beserta dengan getah rerumputan bercampur di ... Read more