Tidak memakan waktu lama bagi area di bagian Timur dari Desa Buido menjadi pusat amukan dari energi murni dan energi sihir – ada dua prana yang seakan-akan beradu dengan dahsyat. Aroma debu yang terangkat, beserta dengan getah rerumputan bercampur di udara dan terhempas kesana kemari. Dalam sekejap padang rumput tersebut berubah menjadi arena tempur yang menakjubkan.

Masyarakat Desa Buido yang melihat dari balik embarau tidak bisa menyembunyikan keheranan mereka. Seakan-akan melihat dua dewa-dewi turun ke dunia fana untuk saling menghunus dan menghujamkan pedang. Berkali-kali sebagian besar dari mereka memekik takut ketika bongkahan batu, es, hingga sabetan pedang angin dan pelbagai energi kasat mata yang menerjang ke arah mereka. Beruntung dengan perisai Dirghakalam Suryagatravarana & Candragatravarana, tidak satu pun bakal petaka tersebut yang berhasil menyentuh Desa Buido.

Serangan Nandha bersifat keras, cepat dan akurat. Sedangkan Christine bersifat lentur, dinamis, dan gesit. Nandha bagaikan harimau yang murka mencoba menyerang Christine dengan segenap daya upayanya, sementara pada saat-saat kritis Christine dengan mudah menghindari serangan tersebut menggunakan jurus ‘Naga Meliuk di Awan’. Bahkan ketika engkau adalah raja rimba, jangan berharap bisa menangkap seekor naga yang terbang bebas di awan.

“Aku nyaris tidak percaya, pertarungan seperti ini hanya pernah kubayangkan dari legenda-legenda.” Edward yang memiliki pandangan tertajam di antara kelima pemburu merasa mengalami kesulitan mengikuti pertarungan di hadapan mereka.

“Vasu, apakah yang kita saksikan sekarang nyata? Selama ini Christine tampak biasa saja, bagaimana dia bisa seperti itu… Maksudku bagaimana itu mungkin?” Dalam rasa ketidakpercayaan, Ellena meminta agar dia ‘dibangunkan’ – barangkali dia merasa mungkin dia sedang bermimpi.

Vasu menikmati sebutir anggur sebelum memberikan komentar pendek, “Nah, yang ini belum seru, karena mereka hanya baru pemanasan saja. Tunggulah sebentar lagi.”

Ah…! Kelima pemburu merasa ingin menjerit. Bagaimana mungkin duel seperti itu belum dikatakan serius. Tapi karena yang berkata adalah Vasu, mereka tidak berani menyangkalnya.

Walau tampak santai, Vasu tidak berhenti mengamati. Namun bukan hanya duel antara Christine dan Nandha yang masuk ke dalam pengamatannya, tapi termasuk suasana langit, pergerakan mentari pagi, arah bertiupnya angin, termasuk para tetua Gatto Celeste yang sedang berdiri tegang jauh di depannya.

 

“Ketua muda, ayolah, tidakkah Anda bisa lebih bersungguh-sungguh?”

Christine mengeluarkan pancingan dengan sambil tertawa geli. Kali ini dia menghindari sebuah tendangan berputar yang tepat membusur di atas kepalanya ketika dia tepat sedikit membungkukkan badan.

Nandha menendang tanah dengan kuat, meluncur ke arah Christine dengan kedua tangan membentuk cakar yang seperti siap mengoyak tubuh lawan. Tubuh Christine menghindar dengan berayun ke belakang, dan berputar searah jarum dengan tumpuan aksis tubuh bagian kiri. Pada saat yang tepat dia muncul di sebelah kanan Nandha dan menggunakan punggung tangan kanannya untuk memberi pukulan pada punggung Nandha.

Kejadian ini sangat cepat, Nandha kaget targetnya lenyap dari pandangan dan muncul di sisi kanannya. Tapi ketika ia hendak bereaksi, refleksnya lebih lambat – hempasan prana dingin yang kuat menghantam punggungnya dari belakang. Nandha yang menggunakan hentakan kaki untuk mendapatkan energi meluncur maju, justru mendapatkan dirinya kini didorong maju dengan lebih kuat lagi. Nandha kehilangan kendali tubuhnya dan melayang terhujam dalam sekejap mata.

Tapi tampaknya dia beruntung, tubuh gemuknya justru menjadi bantalan sehingga cederanya jauh lebih ringan saat menghantam tanah. Debu dan gumpalan tanah beterbangan, dan dari tempat jatuhnya – sebuah cekungan indentasi terbentuk.

Namun Nandha segera berdiri, tubuhnya terasa nyeri semua, namun dia adalah seorang pendekar dan ketua muda Gatto Celeste. Bagaimana pun dia merasa harga dirinya lebih berarti daripada rasa nyeri di seluruh tubuhnya. Tapi tetap saja dia tidak bisa menyembunyikan kesakitan yang menggeranyanginya.

Karena bakatnya, Nandha selalu menjadi yang teratas di antara murid-murid perguruan Gatto Celeste. Dengan napas yang terengah, dia mengingat lagi akan kapan terakhir kali dia berada dalam kondisi menyedihkan seperti ini. Dia percaya, tidak banyak yang membuatnya bisa merasakan sakit seperti saat ini, karena dia adalah elit. Tapi sekarang seorang anak perempuan tak dikenal di pedesaan terkecil muncul dan menghajarnya sedemikian rupa – apa dia masih layak disebut elit?

Nandha merasa begitu marah. Dia tahu, bahwa mereka baru bertarung hanya dengan teknik dan jurus paling dasar. Dan dia kalah dalam hal yang paling dasar. Meski marah, tapi dia merasa senang, senang karena nalurinya tepat mengatakan pada anak perempuan ini tidak sembarangan sejak pertama kali dilihatnya.

Dengan menghapus sedikit darah yang mengalir di ujung garis bibirnya, Nandha tersenyum sambil mengerahkan prana murni di dalam tubuhnya.

Kuda-kuda yang kokoh seperti harimau yang siap menerkam mangsanya. Kedua tangannya berkilau keemasan. Elemen-elemen di sekitar Nandha tampak bergejolak dan memekik ngeri.

Sementara itu, ekspresi wajah Christine ringan, namun juga serius. Kali ini dia bisa berhadapan dengan salah satu jenius muda di Tanah Ema – ini adalah kesempatan emas yang tidak bisa dilewatkan. Dia tahu harus membuat Nandha lebih serius menghadapi tahap demi tahap, sehingga untuk melihat sampai tahapan mana kemampuan mereka menemukan perbedaan.

Tersungging senyum tipis di wajah Christine ketika melihat nyala keemasan di kedua tangan Nandha, ini menandakan bahwa teknik ‘Harimau Emas Naik ke Langit’ sudah mulai dipentaskan. Christine pun mulai menambah laju prana di dalam tubuhnya, batinnya menjadi lebih tenang dan awas, serta selapis energi biru langit muncul melingkupi seluruh permukaan tubuhnya.

Oleh karena prana yang menghasilkan berwarna biru langit merupakan aura umum dari pemilik elemen air, jadi semua yang melihat menduga bahwa Christine adalah pendekar dengan elemen air. Terutama para tetua dari Gatto Celeste.

“Pantas saja anak perempuan itu berani menghadapi Ketua Muda, rupanya dia adalah pendekar dengan elemen air.”

“Ya, dan tampaknya dia cukup mahir mengendalikan elemennya. Tidak heran jika tadi Ketua Muda sempat disudutkan, pengendaliannya termasuk bagus.”

“Tapi di hadapan teknik ‘Harimau Emas Naik ke Langit’ milik Ketua Muda, dia tampaknya hanya anak jagung yang belum tahu luasnya ladang.”

“Cih…, biar saja, berani menentang perguruan kita, biar dia tahu rasanya.”

“Tapi aku sendiri masih merasa ada yang disembunyikannya.”

Kelima tetua saling berbincang tentang duel ketua muda mereka, walau pun masing-masing memiliki pendapat, namun mereka sama-sama berkeyakinan bahwa ketua muda mereka akan menang – walau pun sempat didesak mundur.

Angin keemasan menari-nari mengelilingi Nandha. Aura biru langit yang tenang berpendar di sekitar tubuh Christine. Dua gambaran yang begitu bertolak belakang saat matahari mulai tampak seutuhnya di ufuk Timur.

Dengan serta merta kedua peduel bergerak serta merta, meluncur ke arah lawannya. Dua buah dentuman sonik yang memekakkan telinga terdengar sesaat sebelum cahaya keemasan dan biru bertubrukan pada kecepatan yang sangat tinggi.

Vasu menelan ludahnya, dia hanya pernah membaca dan mendengar mengenai ‘Harimau Emas Naik ke Langit’ dan ‘108 Telapak Naga Samudra Timur’. Kedua teknik dan jurus pamungkas yang hanya diwariskan kepada penerus perguruan, satunya di pusat Tanah Ema, dan lainnya di wilayah Timur yang makmur.

Selama beberapa tarikan napas, kedua bola cahaya tampak mencapai ekuilibrium – keseimbangan kekuatan prana. Namun dengan segera, tampak ranah bola emas jauh lebih kuat – ini adalah tampilan perkasa teknik ‘Menghentak Rimba’ yang merupakan bagian pertama dari ‘Harimau Emas Naik ke Langit’.

Wajah para tetua Gatto Celeste tersungging senyum, namun hanya sesaat. Telapak tangan Christine membentuk mudra, dan sebuah riak gelombang prana biru langit menyusup dan menembus bola prana keemasan dan membuatnya menjadi rapuh serta kehilangan kestabilan. Inilah teknik pertama, ‘Menyentuh Samudra Tak Berbatas’ dari dua belas teknik pamungkas ‘108 Telapak Naga Samudra Timur’ – sebuah ranah yang mampu tidak memedulikan kekuatan lawan.

Walau cangkir teh sudah berada tepat di bibir Vasu, namun dia tidak menyeruputnya. Sebulir keringat dingin turun perlahan di keningnya. Saat dia berhadapan dengan Christine sebelumnya, dia merasa bisa menghentikan ranah biru langit tersebut setelah membaca banyak literatur, tapi melihat bagaimana Christine melakukan eksekusi yang cepat, Vasu kini merasa tidak yakin penuh bisa menghentikan teknik tersebut tepat pada waktunya.

Di medan duel, Nandha yang terkejut dengan riak gelombang prana yang aneh tidak sempat bereaksi. Riak tersebut masuk menerobos ke dalam sukmanya, membuat dia goyah seperti bambu yang menyambut badai.

Tanpa menunggu lebih lama, Christine maju dan mengerahkan satu telapak lagi yang mengena tepat di dada Nandha – membuat anak laki-laki malang tersebut terpental, berguling beberapa kali di atas permukaan tanah sebelum akhirnya berhenti.

“Argghhh…” Nandha berusaha bangkit sambil memegang dadanya. Ia merasaka nyeri hebat pada dada, dan organ dalamnya terasa remuk, beruntung dia masih sempat membentuk prana melindungi nadhi-nadhi penting, sehingga aliran prana dalam tubuhnya bisa segera menjadi stabil – jika tidak, dia tidak bisa menghentikan perdarahan dalam dan mungkin berakhir mengerikan. Memang tidak sia-sia dia menyandang gelar salah satu jenius muda, dapat mengambil keputusan di saat yang paling tidak mungkin.

Christine tidak melanjutkan menyerang, dia menunggu Nandha sambil melihat kondisi anak tersebut. Baginya ini adalah duel, bukan pertempuran di mana dia harus menjadi malaikat pencabut nyawa.

Dengan napas terengah-engah, Nandha memuntahkan darah kehitaman sebanyak satu genggaman tangan. Dia memandang Christine dengan wajah pucat, lukanya tidak sederhana. “Nona, apakah Anda adalah Rhein ke-3?” – Kini Nandha punya gambaran dan dugaan siapa lawannya.

“Ah…” Christine kaget, “Rupanya nama kecil saya diketahui oleh Ketua Muda, sungguh saya merasa tersanjung.” Merasa tidak ada yang perlu ditutupi, Christine menyampaikan yang sebenarnya.

Tapi sepasang kalimat percakapan kecil ini membawa dampak yang tidak sedikit pada orang di sekitar yang mendengarkannya.

Kelima tetua Gatto Celeste langsung tersentak kaget. Kenyataan apa ini? Ketua muda mereka baru saja ‘melamar’ Rhein ketiga, yang bukan saja salah satu jenius muda di Tanah Ema, namun juga permata paling berharga Kekaisaran Bren. Apakah mereka sudah buta? Menyinggung Rhein ketiga sama saja mengundang bencana! Jika terjadi sesuatu pada duel ini, apa yang akan laporkan pada raja? Apakah bahwa Ketua Muda baru mencoba ‘melumat’ setelah gagal ‘melamar’ salah satu sosok paling penting di dataran Timur Ema? Dan ketua muda yang bodoh itu, bagaimana mungkin dia begitu sembrono berani menantang seekor naga agung, ini sama saja dengan bunuh diri! Apa mereka bisa membuat alasan lain, sementara disaksikan oleh ‘Putri Bergaun Putih’? Tidak.

 

Sementara Nandha tersenyum pahit, hatinya kacau. Dia merasa sial sekali. Jika dia tahu bahwa yang dihadapinya adalah Naga dari Samudra Timur, meskipun dia adalah Harimau di Tengah Ema, dia tetap bukan lawannya. Tapi sekarang sudah terlambat, dia sudah merasakan buah keteledoran yang berdenyut nyeri di dadanya. Kenapa dia tidak menyadari sebelumnya?

Tunggu dulu! Tiba-tiba Nandha teringat sesuatu. Bukankah Rhein ketiga dan Putri Bergaun Putih adalah sahabat sejak kecil? Jadi ini berarti? Sekali lagi, dia merasa tidak pernah sesial ini seumur hidupnya. Dan tiba-tiba ketakutan menyelimutinya, seakan-akan di balik Christine, dia melihat seekor naga raksasa yang siap melahapnya.

“Tidak-tidak…, aku sudah tidak mau bermain lagi. Sudah cukup sampai di sini.” Sambil menyapu darah di bibirnya, Nandha melesat menuju bahtera langit tanpa menoleh ke belakang – aura naga itu dapat membuat kakinya lemas seketika. “Ayo kita pergi.” Dia berkata kepada semua orang dari Gatto Celeste.

“Eh…” Vasu, Christine dan Anna tidak percaya bahwa Nandha pergi begitu saja.

 

Di atas bahtera langit yang melayang menjauh dari Buido, Nandha mengatur napasnya sambil meneguk sejumlah ramuan obat.

“Duh…, kalian ini.” Dia memandang kesal pada lima remaja yang dia utus ke Buido. “Mengapa kalian tidak mengatakan bahwa lawan kalian adalah Nona Rhein ke-3? Jika sudah begini … aduh… duh … duh…, aku jadi kehilangan muka.”

“Maafkan kami ketua muda.” Honos membungkuk khawatir, dia juga tidak menyangka bahwa anak perempuan itu adalah salah satu jenius muda seperti ketua muda mereka. “Kami tidak tahu bahwa beliau adalah Nona Rhein ke-3. Dan kami tidak menyangka, karena lawan kami sebelumnya hanyalah anak laki-laki yang selalu di sebelah Rhein ke-3. Dan tampaknya dialah yang memimpin, sehingga Nona tersebut sebagai Rhein ke-3 jauh dari bayangan kami.”

Mendengar penjelasan Honos, baik Nandha maupun kelima tetua kaget kemudian termangu. Anak laki-laki tersebut memang tampak tidak biasa. Tapi mampu membuat Rhein ke-3 mendengarnya, tentu saja ada sesuatu di baliknya.

Nandha sendiri membayangkan, Rhein ke-3 saja sudah begitu mengerikan. Apalagi jika ternyata dia menantang anak laki-laki tersebut, seberapa mengerikan anak itu? Lalu Nandha mengingat kembali penjelasan awal Honos saat bagaimana dia dikalahkan dalam sekejap mata oleh anak tersebut, dan aura kematian yang pekat yang dirasakannya. Mau tidak mau, mengingat informasi ini kembali membuat bulu kudul Nandha berdiri semua. “Setidaknya, aku tidak mendapatkan kesialan pamungkas hari ini, langit masih memiliki mata.”

Semua yang berada di atas bahtera langit Gatto Celeste tampak muram, hari ini mereka mendapatkan kejutan, tapi kejutan yang sungguh tidak diharapkan. Bahkan ketua muda perguruan paling ternama di Pusat Tanah Ema sampai cedera. Mereka tidak bisa membuat perhitungan karena lawan adalah Rhein ketiga yang berpengaruh besar di Tanah Ema. Dan munculnya anak laki-laki yang bisa membuat Rhein ketika mengikutinya. Pertanda apakah ini?

Sebelumnya

Naskah 15 - Putri Bergaun Putih

Jauh di Utara, membentang jalur Seribu Pegunungan Menghujam Langit, puncak-puncak seperti ujung-ujung kapak yang tersembunyi di balik awan-awan yang tak pernah pudar. Sejauh mata memandang dari kejauhan adalah puncak-puncak seputih salju, dengan dataran tinggi berpasir nan gersang di lapis bawahnya, ... Read more

Selanjutnya

Naskah 17 - Membangun Dasar yang Kokoh

Keheranan masih menyelimuti wajah-wajah yang tertinggal di Desa Buido. Mereka memandang ke arah perginya bahtera langit yang sudah cukup lama lenyap di batas cakrawala. Bagi mereka yang mengenal siapa Nandha, keheranan muncul karena bukan sifat penerus perguruan Gatto Celeste untuk ... Read more