Keheranan masih menyelimuti wajah-wajah yang tertinggal di Desa Buido. Mereka memandang ke arah perginya bahtera langit yang sudah cukup lama lenyap di batas cakrawala. Bagi mereka yang mengenal siapa Nandha, keheranan muncul karena bukan sifat penerus perguruan Gatto Celeste untuk mundur terbirit-birit seperti itu. Bagi yang tidak mengenal siapa Nandha, mereka keheranan bahwa ada sosok hebat sudah lari dari desa mereka dalam kondisi yang menyedihkan.

Setelah tersadar dari keheranannya, Christine berjalan santai menuju arah Vasu dan yang lain. Meski pun dikatakan santai, satu langkah ringannya bisa menempuh jarak seratus langkah, sehingga dalam lima kali langkah – dia telah tiba di depan Vasu. “Tadi itu di luar dugaan. Aku tak menyangka dia ‘lari’ secepat itu. Padahal masih ada beberapa jurus dan teknik yang ingin kucoba.”

Vasu tertawa, “Hei hei…, dia itu bukan kelinci percobaan.” Siapa yang mau menjadi lawan duel Naga Biru Langit dari Samudra Timur hanya untuk dijadikan percobaan teknik bertarung, jika ada orang yang mau – dia pasti sengaja sedang menguji tingginya langit dan dalamnya lautan, atau dia orang yang buta.

“Christine, aku akan pergi sekarang, Jika ada lagi yang menarik, jangan lupa hubungi aku.” Suara itu bergema dari langit, Anna tampak berkata dengan tenang, tapi semua orang yang melihat raut wajahnya akan tahu – nona muda itu sedang berusaha keras menahan tawanya. Svarupa-nya kemudian menghilang setelah melihat Christine menangguk.

Namun keheningan tak bertahan lama, dipecah oleh kata-kata Ellena yang bergemetaran, “Nona Rhein ketiga, mohon maaf sebelumnya kami tidak mengenali Nona. Maaf jika kami lancang.” Dia membungkuk, diikuti oleh kelima anggota kelompok pemburu lainnya.

Empat jenius muda di Tanah Ema adalah nama besar, mereka adalah masa depan fondasi kekuatan militer, perang, dan dunia para ahli. Dan tidak mungkin bagi nama-nama ini mencapai keberadaan setara dengan keberadaan para dewata. Hari ini, Desa Buido dikunjungi tiga dari empat jenius muda, dua di antaranya bahkan berduel di padang terbuka hanya beberapa ratus langkah dari embarau desa, dan satunya sudah bermalam di desa mereka, namun mereka tidak menyadarinya. Ini seperti seorang dewi turun dari kahyangan, namun mereka tidak menyadari bahwa sang dewi ada di antara mereka.

“Kak Elle, mohon tidak seperti itu, jika tidak, aku menjadi tidak nyaman. Ayo kita kembali ke dalam desa, matahari sudah cukup tinggi, Renatta pasti sudah lapar – mari kita sarapan terlebih dahulu.”

Mendengar kata-kata Christine ini, Ellena dan yang lain merasa lebih lega. Mereka takut bahwa semua jenius muda seperti Nandha, yang arogan, merendahkan, dan membawa aura yang menyesakkan. Tapi Christine seperti seorang putri dari kahyangan, lemah lembut dan bersahaja.

 

Suasana Desa Buido kembali tenang. Namun sebagaimana kicauan burung yang meramaikan pagi, kicauan orang-orang desa tentang duel pagi ini di Timur desa mereka juga ramai tak berhenti, baik di rumah masing-masing, di jalan-jalan, hingga ke ladang dan persawahan. Seperti menjadi topik yang lebih renyah disantap dibandingkan sarapan pagi mereka. Apalagi kemudian mereka tahu siapa-siapa saja yang muncul di sana, termasuk tiga anak paling berbakat dan paling ‘mengerikan’ di Tanah Ema.

“Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat.”

“Tentu saja, sejak ribuan tahun riwayat desa kita, mana pernah ada peristiwa seperti ini, ini adalah sejarah yang tidak akan pudar.”

“Jika kita menceritakan ini ke desa-desa tetangga, pasti tidak akan ada percaya.”

“Pastinya, karena kudengar bahkan istana kerajaan pun jarang bisa mengundang kedatangan satu dari anak-anak jenius ini, apalagi mengundang tiga sekaligus – itu sangat mustahil. Siapa yang akan percaya desa kecil kita kedatangan ketiganya sekaligus.”

Dan semakin matahari tinggi, tampaknya perbincangan semakin bertambah hangat, kadang diselingi bumbu panas tentang legenda dan mitos laga dari para jenius muda.

 

Bubur hangat tersaji dengan semburat wangi khas rempah-rempah lokal, membuat liur tak tertahankan bagi yang mencium aroma dan melihat tekstur nikmatnya. Ruang makan di rumah Ellena dipenuhi gelak tawa, empat orang di dalamnya adalah Vasu, Christine dan pemilik rumah Ellena serta si kecil Renatta.

Sesekali Vasu mengelap bibir Renatta yang belepotan dengan bubur dan bumbu, tampaknya si kecil sudah mulai belajar untuk menolak disuapi. “Bagaimana, Renatta suka bubur buatan kakak?”

“Umm… enak…, lebih enak dari bubur Mama Elle…” Renatta kecil kembali menyuap bubur dengan sendok kecil ke mulut mungilnya, yang lagi-lagi berakhir belepotan.

“Ren…” Ellena kehabisan kata-kata melihat tingkah putrinya.

 

Siang berlalu dengan cepat, dan senja pun mulai menghampiri. Christine menghabiskan waktu dengan menyendiri di kamar yang disediakan oleh Ellena. Dia memulihkan kembali prana yang digunakan saat berduel dengan Nandha, serta menyelami wawasan yang diperoleh dari duel tersebut. Meski pun hanya beberapa saat, namun bisa merasakan kehebatan Gatto Celeste adalah pelajaran berharga yang tidak boleh disia-siakan.

Ellena sendiri mengadakan pertemuan dengan kepala dan tetua desa. Perbaikan bangunan yang rusak masih memerlukan beberapa hari lagi. Tapi masalah bakat terpendam yang dimiliki Renatta, Ellena tidak menyampaikannya. Berkat nasihat dari Vasu dan Christine, maka tetua dan kepala desa hanya diberi tahu bahwa orang-orang dari Gatto Celeste keliru mengenali bakat Renatta. Pada akhirnya, semua sampai pada kesimpulan agar bersyukur bahwa kesalahpahaman tersebut tidak sampai menimbulkan bencana di Buido.

Vasu menemani Renatta berjalan-jalan di pinggir Desa Buido. Mereka menikmati setapak ke perkebunan kapas milik warga.

“Renren… pelan-pelan, kita tidak sedang lomba lari.” Renren adalah panggilan kecil untuk Renatta.

“Tidak, Ren suka lari, jika sudah besar Ren ingin seperti Mama Elle…” Gadis kecil itu tidak memelankan langkahnya. Lesung pipit menghiasi pipi tembemnya.

“Kenapa ingin seperti Mama Elle?”

“Agar Ren bisa menjadi kuat, dan bisa berburu bersama Mama Elle. Ren tidak suka ditinggal setiap kali Mama Elle pergi berburu…”

“Apa Ren ingin bertambah kuat?”

“Humm….” Renatta mengangguk.

“Kakak bisa mengajarkan beberapa cara bela diri pada Ren, apa tertarik?”

“Humm… humm…” Anggukannya disertai sepasang mata yang membulat besar.

Vasu menemukannya lucu dan menarik. “Tapi Renren harus berjanji pada kakak, jika sudah kuat, jangan jahat pada yang lemah.”

Kata-kata Vasu sederhana, sehingga Renatta paham maksudnya.

“Lalu janji juga, Renren tidak boleh bilang pada siapa pun tentang belajar bela diri, termasuk pada Mama Elle, jika tidak – Mama Elle bisa khawatir. Ini rahasia kita berdua.”

“Ya ya…, Renren suka rahasia.”

Vasu tersenyum, untungnya saat masih kecil, anak perempuan belum mengembangkan kemampuan mengerikan mereka – yaitu bergosip, jika tidak – rahasia apa yang bisa dijamin di muka bumi?

Renatta dan Vasu berjalan menuju sebuah bukit kecil dengan pohon Oak tua di tengah-tengahnya. Vasu memberikan penjelasan mengenai beberapa hal mendasar mengenai bela diri dan teknik pengembangan prana dalam bahasa yang diterjemahkan ke dalam dunia anak-anak. Di luar sangkaan Vasu, ternyata Renatta paham semua itu dan bahkan tahu lebih banyak. Rupanya dia suka membaca buku-buku bertopik sejenis yang disimpan oleh ibunya.

Anak ini mengerikan, bahkan dia bisa hapal semua teori dasar di luar kepala. Bahkan jika kemampuannya sebagai ‘elemental jiwa’ bisa membuat orang iri. Vasu bahkan lupa, bahwa dirinya pun bisa belajar dengan kemampuan yang lebih cepat, karena sebagai cakrawala elemental, tentunya elemental jiwa sudah termasuk di dalamnya.

Setelah memastikan bahwa Renatta memahami apa yang dia maksud, Vasu tahu bahwa dia harus membantu anak gadis ini untuk membangun fondasi yang kuat agar tidak berakhir sepertinya – memiliki tapakan nan rapuh, fondasi yang goyah. Karena ketika sampai pada kemampuan cakrawala elemental, namun fondasi dasar tidak kuat, Vasu sudah merasakan betapa sulitnya memperbaiki dasar tersebut. Menghabiskan puluhan tahun di Puncak Benderang hanya untuk membuka kunci pencerahan terhadap dasar yang kokoh.

“Renren, apa yang akan kakak ajarkan selanjutnya disebut sebagai Gaeiado. Selain kakak, tidak ada yang bisa menggunakannya saat ini di seluruh Ema. Ini adalah teknik yang kakak ciptakan.”

“Apakah teknik ini hebat?” Renatta merasa tidak sabar.

“Itu akan sangat bergantung padamu, jika tekun berlatih, maka kakak yakin Renren tidak akan kecewa.”

“Hummm….”

“Gaeiado adalah jalan bumi dan seluruh elemen kehidupan di atasnya. Sangat sesuai untukmu, atau lebih tepatnya, jika bukan Renren maka orang lain akan kesulitan mempelajarinya. Semua di atas Eon ditopang oleh bumi, baik pegunungan, sungai, lautan, bahkan udara dan langit semuanya terhubung melalui bumi Eon. Termasuk di Ema ini. Gaeiado memberikan jalan bagi yang mempelajarinya untuk terhubung dengan Eon, menemukan rahasianya, dan memanfaatkan prana seluruh elemen ini melalui jalinan batin pengguna dan bumi itu sendiri.”

“Apa itu seperti Ren bisa bicara dengan Eon.”

“Ya, seperti Renren belajar bicara dengan Eon. Hanya saja Renren belum tahu bahasa yang digunakan Eon, makanya sekarang kakak akan ajarkan.”

Para pendekar memiliki jalan mereka masing-masing berdasarkan wawasan yang mereka dapatkan dari olahdiri mereka. Ini disebut dengan jalan, marga, do, dao, dan sebagainya. Ada jalan kecil, dan ada jalan besar, bahkan ada tanpa jalan untuk mencapai wawasan mengenai misteri yang paling dalam di dasar seluruh kehidupan.

Sebagai cakrawala elemental, Vasu sampai pada kehadiran ‘tanpa jalan’ – yang dinyatakan sebagai yang tersulit. Hanya saja keisengan dan takdirnya membuat dia ‘mencicipi’ banyak jalan, hingga suatu ketika tiba padanya revelasi mengenai sebuah jalan yang paling dasar dan sederhana, namun mampu membuka banyak kerumitan jalan-jalan lainnya. Vasu memberi nama jalan ini sebagai Gaeiado.

Gaeiado tidak memiliki bentuk yang pasti, bentuknya selalu berubah dan dinamis.

Vasu menunjukkan gerakkan pembuka dengan kuda-kuda sederhana, tangan kanan menggambar rembulan, dan tangan kiri meniru gerak gelombang di lautan. Ini adalah pembuka “Rembulan dan Lautan”.

Rembulan hanya akan tecermin seperti aslinya jika lautan tenang, dan jika lautan beriak, maka rembulan tak akan pernah muncul di permukaan lautan secara utuh.

Ketika melakukan gerak ini, batin seseorang laksana lautan – luas dan agung, namun juga tenang seperti musim dingin tanpa angin. Rembulan adalah batas terjauh jangkauan bumi, maka menjadi jembatan timbang bagi mereka yang ingin merasakan rangkulan prana bumi.

Dengan batas terjauh, kondisi terluas, dan ketenangan yang bergeming. Ini adalah potensi dasar yang harus tampil saat membuka ‘Gaeiado’.

Vasu melakukan gerakan pembuka ini beberapa kali, kemudian Renatta mengulanginya. Beberapa kali dilakukan secara bersama-sama. Vasu menekankan bahwa Renatta tidak harus mencari perasaan apapun, tidak harus fokus terhadap apapun, jadilah seperti saat berlari, jadilah seperti saat menari – bebas dan lepas.

Selama beberapa jam Renatta berlatih gerakan pembuka bersama Vasu. Tanpa sadar dia menjadi peka bagaimana Vasu menarik prana dari sekitar dan bagaimana gerakkan Vasu selalu berubah ketika alam di sekitarnya berubah, misalnya ketika angin berhembus atau awan melintas di atas mereka.

Tiba-tiba Renatta mendapatkan wawasan mengenai gerakan ini, dia diam sejenak, menutup matanya – dan mulai gerakan pembuka.

Vasu memerhatikannya dengan mata takjub, hanya dalam beberapa jam anak ini sudah bisa membuka wawasannya? Karena gerakkan Renatta saat ini berbeda sepenuhnya dari gerakan awal Vasu. Gerakkannya menggambar rembulannya sendiri yang kesepian, dan lautannya yang ceria menghibur rembulan – lautan yang digambarkan oleh Renatta mencerminkan relung hati rembulan yang mendambakan kebahagiaan. Ini seperti menggambarkan dua keadaan batin dari anak gadis ini, yang selalu ditinggal ibunya untuk berburu, dan selalu menghibur hatinya.

Begitu selesai satu siklus gerakkan, Renatta merasakan aliran prana yang deras dari alam di sekitarnya menyeruak memaksa masuk ke dalam tubuhnya. Sangat cepat seakan-akan nadhi di dalamnya mengembang hebat dipenuhi oleh energi ini.

Renatta cepat melakukan gerakan pembukaan lagi, siklus demi siklus, sesuatu di dalam dirinya membuat dia mengerti bahwa dia harus melakukan gerakan ini.

Lambat laun, energi yang masuk tersebut mulai bergerak perlahan namun tidak berhenti. Tubuh kecil Renatta dipenuhi oleh prana, mau tidak mau dia berkeringat seperti baru saja lari beberapa kali mengelilingi desa tanpa berhenti. Namun anehnya, bukan bertambah lelah, Renatta justru bertambah segar.

Setelah sekitar hampir seratus kali siklus gerakan, Renatta membuka matanya. Matanya tampak bersinar lebih tajam, dia bisa melihat lebih jauh dan lebih jelas. Mendengar lebih jernih, dan merasakan udara di sekitarnya dengan lebih peka. Dia pernah membaca di buku mengenai alam olahdiri, kini ia paham – inilah maksudnya.

“Kakak… kakak…, aku berhasil.” Renatta berteriak kegirangan.

“Ha ha…, kakak tidak menyangka, ada yang bisa menguasai pembuka ‘Gaeiado’ hanya dalam beberapa jam.” Vasu tak habis pikir, jika dia berada dalam kondisi Renatta – mungkin dia tidak akan belajar dengan secepat itu. “Baiklah, kita sudahi sampai di sini, tidak baik berlatih hingga larut malam untuk anak kecil. Ayo kita kembali pulang, yang lain pasti sudah menunggu.”

Renatta mengangguk. Dia menurut pada semua perkataan Vasu. Tapi hatinya penuh dengan suka cita yang luar biasa. Rasanya ingin memberi tahu ibunya, sayang dia sudah berjanji merahasiakan ini semua.

Malam datang, rumah Ellena kembali dipenuhi suasana ceria.

Sebelumnya

Naskah 16 - Duel Harimau dan Naga

Tidak memakan waktu lama bagi area di bagian Timur dari Desa Buido menjadi pusat amukan dari energi murni dan energi sihir – ada dua prana yang seakan-akan beradu dengan dahsyat. Aroma debu yang terangkat, beserta dengan getah rerumputan bercampur di ... Read more

Selanjutnya

Naskah 18 - Ruh Desa Buido

Meski pun malam sudah semakin larut, banyak warga yang masih berkumpul di beberapa lokasi di Desa Buido. Perbaikan bagian desa yang rusak memasuki tahap akhir untuk pemolesan, agar bangunan-bangunan tersebut bisa tampak seperti sedia kala. Awan putih berarak pelan, dan ... Read more