Naskah 18 – Ruh Desa Buido

Meski pun malam sudah semakin larut, banyak warga yang masih berkumpul di beberapa lokasi di Desa Buido. Perbaikan bagian desa yang rusak memasuki tahap akhir untuk pemolesan, agar bangunan-bangunan tersebut bisa tampak seperti sedia kala.

Awan putih berarak pelan, dan terkadang menyembunyikan rembulan perak yang tergantung di langit. Angin mendesir dingin, menyapu rerumputan dan membawa aroma malam ke seleruh penjuru mata angin.

Tidak jauh embarau Desa Buido, Vasu memerhatikan Renatta kecil yang sedang memeragakan sejumlah teknik yang dia ajarkan siang tadi.

Gaeiado pada awalnya hanya memiliki gerakan pembuka, dan nyaris setelah itu tidak ada hal lain lagi yang khusus ditanamkan. Ini adalah salah satu kelemahan Gaeiado, seperti membuka pintu penjara bawah tanah pertama kali bagi seseorang yang tak pernah melihat dunia – Gaeiado memberikan bentangan dunia baru yang tak terbatas, dan orang bisa mengambil jalan manapun. Hanya saja jika ada yang tidak siap dengan dunia baru ini, dia mungkin akan kembali ke dalam penjara yang gelap karena ketakutan akan sesuatu yang baru. Hanya yang siap bisa melangkahkan kaki mereka ke dunia yang baru ini.

Jika teknik lain seperti lentera di dalam kegelapan, di mana semakin orang mendalami teknik, maka semakin terang lentera itu dan memperlihatkannya lebih banyak gambaran dunia yang bisa dia jangkau. Maka Gaeido seperti mentari yang meledak hebat di tengah malam, membuat malam menjadi siang seketika.

Vasu bisa saja mengajarkan Gaeiado pada banyak orang, namun hentakan awal Gaeiado akan sangat mengerikan bagi mereka yang kapasitas mentalnya tidak cukup untuk tiba di dunia yang sepenuhnya baru.

Setiap teknik umumnya merupakan jalan mereka sendiri menuju pencerahan yang sempurna. Namun Gaeiado tidak hadir sebagai jalan, tapi sebagai awal dan juga akhir yang utuh, ketika seseorang membuka pintu Gaeiado, maka mau tidak mau dia dengan sendirinya telah tiba pada dimensi yang sempurna itu.

“Apa yang Renren pikirkan?” Vasu menanyakan itu sebelumnya, ketika Renatta setidaknya sudah melakukan sekitar seribu kali ulangan gerakan awal Gaeiado.

“Ini sangat aneh…”

“Apa yang aneh?”

“Mama Elle pernah berkata, semakin banyak berlatih sebuah teknik, semakin kita menguasai teknik tersebut. Tapi Ren merasa semakin banyak berlatih, tidak ada perubahan yang dirasakan, justru semakin banyak yang bisa Ren temukan hilang begitu saja. Kak, ini seperti menangkap udara dengan tangan.”

Mendengar jawaban si kecil, Vasu tertawa. “Jika Renren tahu semua itu seperti udara, mengapa berusaha menangkapnya? Nikmati saja dulu kesegarannya, masalah apakah bisa ditangkap atau tidak – jangan pikirkan itu dulu.”

“Humnn…” Renatta mengangguk, walau dia tidak begitu paham, tapi dia tahu kata-kata Vasu masuk akal.

Tidak melihat matahari, orang hanya akan bisa percaya bahwa matahari ada. Dengan melihat matahari langsung, orang bisa menanggalkan kepercayaan dan mencapai pencerahan tentang kebenaran matahari. Ini adalah dimensi kehidupan yang sepenuhnya baru. Namun hanya dengan memberikan perhatian penuh pada matahari, baru orang bisa membuat jarak antara dia dan matahari menjadi tiada, menyatunya – manunggaling – antara manusia dan matahari. Dan di akhir jalan, tidak bisa lagi dicatat dalam sejarah, karena dunia tanpa matahari dan orang – adalah gambaran nirvana yang paling mengerikan bagi kebanyakan orang.

Kalimat itu adalah kalimat pembuka dari Sutra Jalan Matahari – Tendo. Vasu teringat hal ini ketika membaca sebuah gulungan yang ditemukan di dunia lama. Pada saat itu dia sudah menciptakan Gaieado, namun membaca Tendo – Vasu tetap merasakan seluruh rambut lehernya merinding. Kebenaran itu lebih pahit dibandingkan pil yang paling pahit.

Semua mahluk fana berakal ingin mencapai kesempurnaan agar bisa menjadi penghuni kahyangan, namun bagaimana reaksi mereka jika mengetahui wujud kahyangan yang sesungguhnya?

Tapi bagi Vasu, semua itu tidak penting lagi. Kali ini dia hidup berjalan sesuka hatinya, meski bumi terbelah dan langit runtuh, dia tidak akan terlalu memedulikannya.

Mengesampingkan kenangan mengenai Sutra Jalan Matahari. Vasu kemudian mengajarkan sejumlah gerakan beladiri untuk Renatta. Sejumlah teknik yang Vasu peroleh di dunia lama diajarkan pada si kecil.

Berkat elemental jiwa, Renatta bisa menyerap dengan cepat apa yang diajarkan oleh Vasu. Sejumlah gerakkan beladiri yang paling rumit pun bisa dikuasainya dalam satu – dua jam saja, sedangkan gerakan sederhana hanya memerlukan waktu belasan menit.

Jika orang dunia lama bisa melihat bakat Renatta, mulut mereka pasti ternganga lebar.

Tapi seberapa berbakatnya pun orang, jika belajar berlari di tempat gelap, niscaya mereka akan memerlukan waktu yang lama. Renatta yang sudah membuka gerbang Gaeiado, tidak belajar belari di tempat gelap, namun di dunia berlimpah cahaya – sehingga mengapa perlu waktu lama untuk belajar berlari atau berenang, dengan segera gadis kecil ini bisa melakukannya sealami seperti bernapas.

Vasu bisa tersenyum lega melihat kemajuan Renatta, dalam pertimbangannya – ketika si gadis kecil menerima gulungan Kidung Napas Kehidupan dari Ellena, dia akan menjadi bintang kecil yang benderang di Tanah Ema. Tapi itu mungkin harus menunggu sekitar seabad lagi.

Apa yang masih tersisa saat ini adalah satu isu lagi yang harus diselesaikan.

 

Setelah mengantar Renatta kembali ke rumah, Vasu melangkah ke tengah Desau Buido. Di sana berdiri Ahuehuete Salju Selaksa Warsa, lambang dari Desa Buido yang berdiri selama ratusan generasi.

Suasana yang sepi hanya ditemani oleh semilir angin malam. Vasu melempar senyum tipis ke arah pohon tua itu, dan gulungan angin berkumpul dan berputar di bawah kakinya. Perlahan-lahan mengangkat tubuh kecilnya ke udara, semakin tinggi, dan semakin tinggi.

Tak lama kemudian, Vasu bisa melihat Desa Buido begitu kecil di bawah telapak kakinya. Pendaran lampu-lampu rumah dan jalan membuatnya tampak seperti mutiara yang bergemerlapan di tengah malam. Dengan satu telapak tangan kecil, Desa Buido bisa tertutup dari pandangannya.

Jubah luar Vasu mulai basah oleh gesekan angin yang membawa serta awan malam, namun ia tetap bergeming di atas sana. Hingga kemudian ia berbisik, entah pada angin, “Kupikir kamu agak pemalu, sehingga tak pernah muncul di antara wargamu.”

“Buat apa malu? Aku sudah menyaksikan generasi datang dan pergi silih berganti. Di atas aliran sungai waktu ini, aku sudah mencapai saat-saat akhir usiaku. Aku bukan lagi anak kecil yang pemalu.”

Suara jawaban datang dari belakang Vasu. Jubah putih seperti salju berkibar cerah diterpa cahaya rembulan dan bintang, demikian juga dengan rambut putih dan janggut yang panjang serta kulit wajah keriput yang menandakan usia yang senja. Raut muka yang ramah, serta aura kebijaksanaan yang ditempa oleh waktu mengalir secara alami dari kakek tua ini.

“Jadi, katakanlah pada orang yang renta ini. Mengapa tuan muda dari Puncak Benderang hendak bertemu dengan ruh tua jelata ini?”

Meskipun pilihan katanya merendah, namun tidak tampak aura jelata di dalam nadanya. Sebagaimana ruh-ruh kuno lain yang menghuni dunia arwah, mereka memiliki martabat yang tidak lebih rendah daripada penghuni dunia fana.

“Aku tidak memanggilmu, hanya menyapa. Bukankah tidak sopan jika seorang tamu datang ke dalam rumah, namun tidak menyapa penghuni rumah?”

“Ha ha…, tuan muda memang seperti yang disampaikan oleh para ruh semesta yang lama menghuni Puncak Benderang. Biasanya jika ada yang melihat sosok kami, mereka akan kaget atau takjub, tapi anak kecil, kamu sungguh tak menunjukkan raut apapun, membuat kehadiranku seperti angin lalu saja.”

“Oh…, maafkan jika tidak sesuai dengan harapan.”

“Tidak … tidak…, bahkan ini seperti apa yang orang tua ini bayangkan. Meski pun lemah, tapi getaran yang merambat ke seluruh Ema beberapa malam yang lalu tidak mungkin keliru kami kenali. Hanya pernah muncul sekali dengan keagungannya jutaan dari jutaan warsa yang lampau. Aku tak akan lupa walau belum menitis di dunia fana ini, karena keagungan itu juga menyusup hingga ke dunia arwah. Yang Mulia Rukh Kalpavriksha, Ruh Agung dari Samudra Manthan, hadir sebagai saksi penciptaan Tanah Ema. Kini, walau hanya sedikit, namun aku tidak mungkin keliru sebagaimana ruh-ruh lainnya. Jika Yang Mulia Rukh Kalpavriksha memilih tuan muda sebagai tuannya, maka apalah artinya kami ruh-ruh rendah ini, menjadi budak pun kami sudah beruntung.”

Orang tua itu mengakhir kata-katanya sambil menggeleng kepalanya, seakan mengingat sesuatu di masa lalu.

“Rukhal tak memberitahukan apapun… Dia datang dan pergi begitu saja.”

Mengingat hal yang sama, membuat Vasu juga menghela napas panjang.

“Itu memang tabiat Yang Mulia Rukh Kalpavriksha. Dia datang dan pergi begitu saja, sebagai mana ketika awal penciptaan Ema. Dan sampai saat itu, hanya beberapa kali muncul dalam sejarah dunia arwah, tapi tak pernah muncul dalam citra asli Beliau.”

“Tapi aku masih memiliki pertanyaan.”

“Sayangnya, orang tua ini mungkin tidak dapat membantu tuan muda menjawab pertanyaan itu. Namun jika tuan muda berkenan, maka silakan berbagi apa yang tuan muda pikirkan.”

“Tapi sebelumnya, bisakah aku tahu lebih banyak tentang dunia arwah?”

“Tentu saja, dan kurasa wajar tuan muda berminat untuk tahu lebih banyak. Karena tidak hanya catatan mengenai dunia arwah yang beredar sangat terbatas di Tanah Ema, namun yang dapat berhubungan langsung dengan dunia kami para ruh sangat terbatas, kecuali para dukun pemanggil arwah dan para cenayang, hanya sejumlah penyihir dengan kapasitas sukma yang besar yang bisa menyentuh keberadaan kami. Dan karena tampaknya tuan muda bukan salah satu dari dukun maupun cenayang, maka kurasa tuan muda pastilah memiliki kapasitas sukma yang cukup besar. Sejujurnya, orang tua ini kaget ketika merasa ada anak kecil yang bisa mengenali keberadaannya dalam sekali pandang. Tapi setelah selintas bisa merasakan keberadaan Yang Mulia Rukh Kalpavriksha di dalam diri tuan muda, pastinya semua menjadi masuk akal bagiku.”

“Bagaimana kaum kalian bisa datang ke dunia ini, dan tidak berada tetap di dunia kalian. Sementara manusia tidak bisa datang ke dunia kalian?”

“Karena perbedaan elemen penyangga. Dunia kami berjalan atas apa yang disebut dengan kehendak agung, dan di sini keberadaan elemental jiwa menjadi elemen yang terbanyak. Sementara keberadaan elemen lain di dunia arwah sangat sedikit, dalam artian sedikit tentunya dibandingkan dengan keberadaan elemen jiwa. Sementara dunia manusia memiliki elemen jiwa dengan perbandingan yang lebih sedikit, demikian juga pembentuk raga manusia dan bentuk kehidupan lainnya di dunia ini, kadar elemental jiwa sangat sedikit, sehingga ketika berpindah ke dunia arwah kami, raga ini akan sulit dipertahankan. Demikian juga kami para arwah, ketika kami datang ke dunia ini, kami memiliki dua pilihan, mengambil wujud yang memiliki raga melalui proses menitis. Atau kami akan memilih tempat yang kepadatan elemen jiwanya lebih tinggi, sebagaimana misalnya Yang Mulia Rukh Kalpavriksha memilih berada di dalam relung jiwa tuan muda.”

Vasu menganggukkan kepalanya, jika dia membandingkan maka anggap saja dunia fana ini seperti daratan, sementara dunia arwah seperti lautan, dan air merupakan elemen jiwa. Air tidak ada banyak di daratan, tapi ada. Mahluk darat tidak bisa masuk ke dalam air dengan bebas, namun mahluk air bisa hidup di darat jika menemukan tempat yang sesuai dengan air yang cukup atau melimpah. Tentu saja perumpamaan bodoh ini mengesampingkan kenyataan bahwa perairan di daratan berbeda sifat dengan perairan di laut.

“Apakah perbedaan ini yang membuat ruh tampaknya memiliki kedekatan dengan pemilik elemental jiwa?”

“Ya, elemental jiwa seperti magnet alami bagi kami para ruh. Mereka seperti dendang melelapkan dari negeri asal kami, memberikan kami rasa damai yang merindukan.”

Kakek tua itu mengelus-elus janggut putihnya, pandangan matanya menuju ke Desa Buido di bawah sana. Meski pun Vasu tak melihat ke arah sang kakek, tapi dia bisa menduganya.

“Apakah itu alasan mengapa Renatta bisa berakhir di Desa Buido?”

“Ah, tuan muda rupanya hendak menanyakan hal ini sedari awal?”

“Bukan. Tapi ini salah satu pertanyaanku juga.” Nada suara Vasu masih tetap santai.

“Kurasa, saat itu bisa dikatakan sebuah keberuntungan. Bayi kecil mungil muncul tidak jauh dari Buido, muncul begitu saja.”

“Teleportasi?”

“Mungkin, tapi aku tidak yakin. Ruh terdekat mengabariku, dan kami gembira ada pemilik elemental jiwa. Hanya saja kami tetap tidak dapat membesarkannya begitu saja. Karena aku tinggil di antara manusia, aku dan sahabat arwah lainnya memutuskan agar anak ini dibesarkan di Buido. Lalu kami menuntun kelompok pemburu untuk menuju arah bayi tersebut, dan cerita selanjutnya tuan muda bisa menerkanya sendiri.”

“Apa ada petunjuk dengan masa lalunya.”

“Hanya sebuah liontin yang terbawa bersama di dalam keranjang bayi. Dan saya rasa tuan muda tahu akan benda tersebut. Jika ada yang bisa disebut pentunjuk, hanyalah benda-benda tersebut. Keranjang bayinya sendiri tidak terlalu istimewa, namun jika dilihat ketika itu – tidak tampak seperti keranjang bayi yang dibuat di Tanah Ema, atau mungkin dihasilkan di tempat terpencil yang tidak kami – para ruh – tahu keberadaan tempat itu di Tanah Ema. Sedangkan liontinnya, jauh lebih misterius lagi. Apa tuan muda ingin menyelidiki tempat asal gadis kecil itu?”

“Tidak perlu, jika para ruh tidak pernah melihatnya, maka kita tidak perlu memikirkannya. Jika memang suatu saat asal-usulnya datang membawa masalah, maka anggaplah itu sesuatu yang harus dia hadapi sebagai bagian dari takdirnya.”

“Ya, tidak ada gunanya memikirkan masalah itu sekarang ketika kita tidak memiliki petunjuk lebih banyak. Lalu apa yang lain yang tuan muda hendak tanyakan.”

“Bagaimana aku bisa menemukan bintang yang paling cemerlang?”

Vasu ingat pesan terakhir dari Rukhal, bahwa petunjuk baginya adalah sebutan bagi bintang yang paling cemerlang. Dan mungkin menjadi petunjuk bagi alasan keberadaannya di dunia yang disebut Eon ini.

“Sayangnya, orang tua ini tidak paham akan bintang. Meski pun sudah hidup dalam waktu yang teramat lama di bawah langit penuh bintang. Namun bintang tak pernah memiliki tempat yang istimewa, mereka datang dan pergi, dan muncul silih berganti mengikuti musim. Entah mana yang paling cemerlang, aku tidak tahu, karena mereka tidak pernah muncul bersamaan. Dan ada bintang yang lahir serta mati, baik yang redup maupun yang terang.”

Vasu mengangguk, dia juga sudah memikirkan kemungkinan jawaban ini. Perpustakaan Yoria juga menyimpan pelbagai peta bintang, mereka adalah petunjuk bagi banyak orang yang bepergian jauh dari malam hari. Dan memang benar, setiap musim bisa menghasilkan beberapa kali perubahan rasi bintang di langit. Mungkin karena di dunia ini belum ada ukuran yang disebut ‘magnitudo’ – sehingga Vasu tidak menemukan catatan mengenai bintang yang paling cerah. Dan berpikir kembali mengenai rentang waktu yang mahapanjang telah berlalu sejak terciptanya Tanah Ema, sebagaimana generasi serta peradaban datang dan pergi, demikian juga dengan bintang. Entah berapa yang menjadi kerdil biru, katai merah raksasa, atau mengalami supernova mereka.

Ataukah mungkin yang disampaikan oleh Rukhal merupakan metafora? Mungkinkah yang dimaksudkan adalah hal yang berbeda?

Vasu merasa dia masih jauh dari bisa menemukan alasan kedatangannya di Tanah Ema, dan mengapa petunjuk untuk membuka jalan ke arah tersebut hampir tidak ada. Pak Tua Long dari Lembah Para Naga yang memiliki hubungan langsung dengan Lembayung Ema terakhir juga tidak memiliki banyak petunjuk. Yang tersisa hanya ‘penjaga spiritual’ Kekaisaran Bren, karena bagaimana pun juga, Kekaisaran Bren merupakan keturuan langsung dari Lembayung Ema sebelumnya. Apakah dia harus mengunjungi wilayah Kekaisaran Bren? Dan jika pun dia datang, belum tentu akan bertemu dengan sang ‘penjaga spiritual’ yang bahkan kaisar sendiri tidak bisa bertemu kecuali atas kehendak sang penjaga spiritual.

Kahyangan mungkin memiliki jawabannya. Tapi itu bermakna, Vasu harus mencapai tahapan di mana ia memiliki keberadaan dan kekuatan yang sejajar dengan dewa-dewi, dan untuk saat ini – kemungkinan ini adalah menemukan langit di balik langit sementara kaki masih berpijak di bumi.

Sebelumnya

Naskah 17 - Membangun Dasar yang Kokoh

Keheranan masih menyelimuti wajah-wajah yang tertinggal di Desa Buido. Mereka memandang ke arah perginya bahtera ... Read more

Selanjutnya

Naskah 19 - Kitab Pedang Empat Musim

Jika seseorang ingin menyimpan rahasia, maka sebaiknya rahasia benar-benar terpendam atau tersembunyi – namun tidak ... Read more