Naskah 19 – Kitab Pedang Empat Musim

Jika seseorang ingin menyimpan rahasia, maka sebaiknya rahasia benar-benar terpendam atau tersembunyi – namun tidak di tempat yang kentara, tapi di tempat yang paling alami dan paling tidak terduga. Rahasia yang paling sulit dilacak adalah yang berasimilasi dalam kenormalan, bukan yang diletakkan dalam kotak rahasia dengan kunci rahasianya.

Keberadaan elemental jiwa bisa mengundang rasa iri, dan lebih buruk lagi – mengundang ketamakan kelompok-kelompok tertentu. Elemental jiwa seperti sebuah harta pusaka bagi banyak ahli dan perguruan, mereka bisa tergiur untuk membuka rahasia di balik keberadaannya.

Walau kebanyakan perguruan bela diri, akademi militer, sekolah sihir di Tanah Ema mengakui dasar-dasar kemanusiaan yang mulia, namun tindak tanduk mereka tidak selalu demikian. Di mana ada sisi terang, maka di situ akan selalu ada sisi gelap, ini adalah kenyataan dunia yang tidak dapat dipungkiri. Ketika seseorang tidak bisa melihat sisi gelap dari sisi yang benderang, maka bukan berarti kegelapan itu tidaklah ada.

 

Beberapa hari berlalu, sebuah sampan angkasa menepi di pinggir Desa Buido. Warga desa keheranan melihat sampan angkasa tersebut. Karena selain saudagar dari sejumlah kota, jarang ada yang membawa sampan angkasa ke desa mereka. Dan tampaknya dua orang yang turun dari sampan tersebut bukanlah saudagar atau pedagang, mereka tampak seperti sepasang pendekar.

Kepala desa segera, datang berlari menyambut mereka, dibarengi oleh beberapa tetua.

“Tuan dan Nona Pendekar, selamat datang di desa kecil kami, Desa Buido. Bolehkah kami tahu siapa gerangan kedua pendekar, dan dengan maksud apa datang ke desa kami ini?”

Kepala desa menyambut keduanya dengan menunduk hormat. Beberapa hari yang lalu sudah ada lima pendekar muda, dan kekacauan yang timbul setelah itu, tidak bisa dibayangkan. Mereka khawatir kekacauan yang sama terjadi kembali, walau mereka bisa lebih tenang karena di tempat mereka saat ini tinggal sebagai tamu – salah satu jenius muda di Tanah Ema.

“Salam tetua.” Kedua pendekar muda tersebut mencakupkan tangan memberi salam. Keduanya kira-kira seusia Ellena, yang laki-laki rupawan dan beraura gagah perkasa, yang perempuan jelita dengan aura anggun memesona. “Kami adalah dua murid madya dari Puncak Benderang, saya adalah Te’oma Ruppert, dan ini adalah saudari seperguran saya, Gaetana Harlan.”

“Rupanya Tuan Pendekar Ruppert, dan Nona Pendekar Harlan dari Puncak Benderang. Bagaimana jika Tuan dan Nona Pendekar kami undang ke balairung desa, merupakan kehormatan bagi kami kedatangan dua pendekar dari Puncak Benderang.”

“Terima kasih atas maksud baik tetua, tapi apakah kami dapat bertemu dengan pendekar muda yang sedang bertamu di sini?”

Walau pun kata-kata Te’oma Ruppert tampak lembut dan sopan, namun tetap saja membuat warga di sekitar yang mendengar menjadi berdebar-bedar. Terakhir kali dua orang pendekar berbeda perguruan bertemu, keduanya justru berduel maut.

Edward dan John yang juga segera muncul di antara kerumunan, dengan cepat mencapai posisi kepala desa. Mereka bisa menangkap pembicaraan sebelumnya.

“Kedua pendekar, apakah kalian hendak bertemu dengan Nona Rhein ke-3?” John berkata sambil menunduk hormat pada kedua ‘tamu’ tersebut.

Tentunya John mengira, jika ada tamu penting yang hendak dikunjungi oleh murid madya dari Puncak Benderang, pastinya merupakan salah satu dari jenius muda. Mungkin Puncak Benderang ingin mengundang Rhein ke-3 sebagai tamu kehormatan?

Semua orang menduga demikian, namun Gaetana Harlan memberi jawaban yang di luar bayangan. “Oh, rupanya Nona Rhein ke-3 juga ada di sini? Kami tidak tahu mengenai hal itu, namun kami datang atas perintah Tuan Muda Vasu untuk datang ke sini.”

Apa…?! Semua orang menunjukkan ekspresi kaget, apakah mereka salah mendengar. Tuan Muda Vasu? Apakah maksud mereka anak muda ‘misterius’ yang bernama Vasu itu? Mengapa mereka memanggilnya tuan muda? Dan bagaimana mungkin kedua murid madya bisa menerima perintah dari Vasu.

Tapi mereka tidak perlu menunggu lama untuk keterkejutan mereka. Vasu, Christine, Ellena dan Renatta tampak berjalan berdampingan menuju arah mereka.

Kedua murid madya, ketika melihat Vasu tiba, langsung memberikan salam hormat. “Tuan Muda, kami segera datang atas perintah Tuan Muda.” Lalu mereka memberikan salam ke arah Christine, “Salam Nona Rhein, senang bertemu Nona juga di sini.”

“Oh, senang bertemu kalian juga.” Christine melihat ke arah Vasu, “Rupanya kamu juga suka menggunakan kekuasaan ya.” Dia tertawa kecil.

Meski pun suara itu tidak keras, namun bukan berarti orang yang disekitarnya tidak mendengar, mereka tidak tuli. Di luar bayangan mereka, dua orang murid madya dari Puncak Benderang tidak datang menemui gadis kecil yang merupakan salah satu jenius di Tanah Ema, tapi anak laki-laki misterius yang bernama Vasu. Tapi siapakah Vasu? Bagaimana dia bisa menggerakkan bagian dari Puncak Benderang yang merupakan kekuatan utama di wilayah Selatan Ema? Pertanyaan ini masih mengganggu mereka.

“Aku tidak menggunakan kekuasaan, hanya kebetulan aku memerlukan bantuan Te’oma dan Gaetana. Tapi jika mereka mengartikan permintaanku sebagai perintah, aku tidak bisa berbuat apa-apa, kamu tahu sendiri kan kondisi pelik di sekitarku.”

Christine hanya mengangguk, karena dia sendiri belum paham – bagaimana Vasu bisa berakhir di Puncak Benderang.

“Kalian pasti lelah dengan perjalanan jauh, ayo kita makan dahulu, Kak Elle sudah membuat menu spesial untuk kalian.”

Tanpa menunggu warga desa yang lain selesai memproses dalam benak mereka kejadian yang baru saja berlalu, keenam orang sudah melangkah menuju rumah Ellena.

 

Sambil menyantap makan, Vasu menjelaskan mengenai situasi di Desa Buido. Apa yang menjadi perhatiannya adalah keamanan desa setelah ‘insiden’ dengan orang-orang dari Gatto Celeste. Bukan berarti di masa mendatang tidak akan terjadi sesuatu yang sama lagi. Vasu tidak bisa tinggal terlalu lama di Buido, karenanya dia meminta bantuan Te’oma dan Gaetana untuk menjaga Buido selama lima puluh hingga seratus tahun ke depan.

“Kami paham akan permintaan dan alasan Tuan Muda Vasu, beberapa orang mungkin akan tertarik menyelidiki penyebab insiden di Desa Buido. Dan bisa jadi merupakan kelompok-kelompok dengan kemampuan mata-mata dan pengumpulan informasi yang tidak bisa diremehkan. Beberapa mungkin akan menimbulkan masalah yang tidak bisa ditangani oleh warga desa.”

Te’oma saling mengepalkan kedua tanggannya, dan digunakan untuk menopang dagunya. Sambil kemudian melanjutkan.

“Tapi setelah kami tidak di sini lagi. Situasi yang sama bisa terjadi kembali. Apakah maksud Tuan Muda, kami hanya memberikan perlindungan sementara? Saya rasa Tuan Muda pasti sudah memiliki rencana lainnya.”

Vasu tersenyum lebar. Kemudian dia menyentuh gelang di pergelangan tangan kirinya, dan semburat cahaya emas memancar dan mewujud sebagai sesuatu yang padat, Vasu mengambil dan meletakkannya ke atas meja di hadapan Te’oma dan Gaetana. Hingga cahaya keemasan itu meredup, tampak sebuah buku lusuh, namun tidak tua, dengan tulisan besar tinta hitam di sampulnya…

Kitab Pedang Empat Musim.

Kedua pasang mata, Te’oma dan Gaetana, membulat dan membesar. Mereka adalah sepasang murid Puncak Benderang yang paling berhasrat belajar ilmu pedang. Salah satu alasan mereka kuat mereka datang langsung memenuhi permintaan Vasu adalah karena di masa lalu, mereka banyak mendapatkan petunjuk teknik pedang dari tuan muda mereka tersebut, mereka merasa berhutang budi pada Vasu atas keberhasilan mereka menekuni jalan pedang. Sehingga meski pun buku di hadapan mereka tampak lusuh dan sangat biasa, mereka tidak berani meremehkannya. Jika perguruan lain mengeluarkan kitab pedang pusaka, Te’oma dan Gaetana masih bisa mempertanyakan kehebatan ilmu pedangnya, namun jika Vasu sendiri yang mengeluarkan kitab pedang, maka mereka yakin sekali ini adalah kitab bertuah.

Vasu berdehem sebelum melanjutkan, mengembalikan halusinasi dan imajinasi Te’oma dan Gaetana ke ruangan. “Seperti yang kalian pikirkan, aku juga tidak bisa membuat murid Puncak Benderang berada di luar perguruan terlalu lama. Dan desa ini tidak bisa melindungi diri mereka saat ini, jika di masa depan mereka masih tidak dapat melindungi diri mereka sendiri, itu bermakna setelah kalian tidak di sini lagi. Sulit dikatakan bencana tidak akan singgah.”

“Tuan Muda, apakah Anda bermaksud melatih mereka ilmu pedang sehingga bisa melindungi diri?”

“Pedang adalah senjata untuk membunuh. Jalan pedang adalah jalan untuk memutus kehidupan. Banyak orang dapat menguasai ilmu pedang dari pelbagai aliran, namun seberapa banyak yang bisa mencapai jalan pedang? Kalian berdua paling berbakat dan paling berpeluang mencapai jalan pedang di antara ribuan murid Puncak Benderang. Kitab ini adalah untuk kalian. Tapi….”

“Ya…?” Keduanya tidak bisa menahan rasa penasaran mereka.

“Seperti yang kalian duga, kalian kuharapkan akan menurunkan ilmu Pedang Empat Musim kepada generasi muda di Buido yang berminat menempuh jalan pedang. Jika di antara mereka kemudian muncul satu orang saja yang bisa mencapai setengah tahap menuju jalan pedang, itu akan cukup untuk melindungi Buido selama satu generasi.”

“Kami paham.”

“Karena aku tidak bisa mengajarkan ilmu-ilmu dari Puncak Benderang kepada orang luar perguruan. Maka aku memutuskan menggunakan Kitab Pedang Empat Musim mengajarkan mereka melalui kalian berdua.”

“Tuan Muda, terima kasih. Bolehkah kami bertanya, seberapa hebat ilmu pedang yang terkandung dalam kitab ini?”

“Sangat sulit dikatakan, tapi jika seseorang memahami esensi kitab ini sepenuhnya – dan dia mencapai tingkatan bala prana seperti si tua Lutz, dia akan dengan mudah membelah Tanah Ema menjadi dua, seperti semudah kita mengiris tahu.”

Perkataan Vasu santai, namun seperti ledakan energi mengguncang yang lainnya, pikiran mereka mendadak berkabut. Membelah Tanah Ema? Siapa yang sanggup melakukan itu? Hanya keberadaan setingkat dewata agung bisa melakukannya. Bagaimana mungkin manusia bisa menyamai dewata? Bahkan Christine yang sudah berkeliling Ema untuk melihat dari dekat para ahli yang berada di puncak-puncak tertinggi ragu ada yang memiliki kemampuan seperti itu. Jika orang lain yang berkata demikian, Christine akan menolak mentah-mentah ide tersebut, tapi yang mengatakannya adalah Vasu – anak laki-laki yang penuh kejutan, dia tidak bisa menolak pernyataan itu mentah-mentah.

Te’oma dan Gaetana merinding mendengar pernyataan tersebut, dan dengan hati-hati bertanya kembali.

“Apakah ini merupakan kitab pedang rahasia yang membuat Tuan Muda menjadi ahli pedang?”

“Hmm…” Vasu berpikir sebentar. “Jika dikatakan kitab pedang rahasia, kitab ini memang belum ada yang mengetahuinya sebelum ini selain aku… tapi…”

“Tapi…?”

“Tapi juga tidak rahasia, karena ini hanya kitab yang iseng kutulis saat aku bosan.”

Pernyataan itu seperti ini seperti gempa bumi raksasa yang mengguncang batin mereka yang mendengarnya, seakan-akan mereka merasa selama ini berpijak pada logika yang rapuh. Bagaimana mungkin kitab yang ditulis dengan iseng saat bosan bisa berpotensi memiliki kekuatan yang mengguncang dunia?

Vasu melanjutkan. “Aku tahu apa yang kalian pikirkan.” Dia tersenyum lebar. “Te’oma, Gaetana, kalian sepanjang hari dan malam ini, bacalah Kitab Pedang Empat Musim ini. Besok pagi kita akan bertemu, dan kuharap kalian dapat menunjukkan seberapa dalam pemahaman kalian.”

Te’oma dan Gaetana mengangguk. Mereka tidak berani meremahkan kata-kata Vasu. Mereka akan bersungguh-sungguh membaca kitab ini, jika kemampuan mereka berdua digabungkan dalam sehari semalam tidak mampu memahami kitab yang ditulis iseng oleh tuan muda mereka, maka mereka takut akan kehilangan muka.

Kemudian Vasu juga meminta Ellena untuk memberitahukan pada warga desa, bahwa kedua orang murid madya dari Puncak Benderang akan bersedia melatih mereka ilmu pedang selama lima puluh hingga seratus tahun ke depan. Semua generasi muda, anak yang berusia di atas seratus tiga puluh lima tahun – atau dalam benak Vasu sekitar usia di atas empat tahun di Bumi – bisa ikut serta belajar ilmu pedang jika mereka berminat. Tentu saja di akhir kata, Vasu tidak lupa ‘menyelipkan’ bahwa ada baiknya jika Renatta juga bisa ikut berlatih, karena akan bermanfaat bagi si kecil untuk menjaga diri di kemudian hari.

Ellena menggangguk, dan menyetujui usul Vasu. Dia kemudian pamit untuk bertemu para tetua dan kepala desa membahas ide ini.

Vasu telah mempertimbangkan banyak hal, keberadaan Te’oma dan Gaetana merupakan jembatan solusi bagi semua pertimbangannya. Keberadaan keduanya akan membuat situasi dan rasa aman di sekitar Desa Buido. Tidak banyak yang berani mencari gara-gara dengan Puncak Benderang, apalagi di kawasan Ema bagian Selatan. Kemudian, Vasu juga bisa mempersiapkan Renatta secara diam-diam di bawah binaan keduanya – dan tentu saja tidak akan tampak eksklusif, karena latihan ilmu pedang akan dilakukan bersama anak-anak lainnya. Jika Renatta berjodoh, maka dia bisa membuka rahasia Teknik Pedang Empat Musim, dan akan mempermudah anak tersebut dalam mempelajari Kidung Napas Kehidupan ketika waktunya telah tiba.

 

Kembali pagi tiba di Buido, namun kali ini dengan suasana yang berbeda daripada biasanya. Banyak pasang mata tertuju pada sebuah lahan kosong di pusat desa tidak jauh dari pohon sakral mereka.

Lahan kosong tersebut berubah menjadi area berlatih bagi sejumlah anak dan remaja desa. Baru saja matahari menyingsih, mereka sudah menyelesaikan sepuluh kali putara pada lahan kosong yang melingkar dengan garis tengah seratus empat puluh meter. Peluh membasahi tubuh mereka, dan napas mereka berbuah menjadi embun yang datang dan pergi silih berganti dengan cepatnya. Beruntung karena mereka tampak sangat antusias, sehingga tidak tersirat ada keluhan dalam raut wajah setiap anak.

Setelah mereka semua selesai lari, instrukstur Te’oma dan Gaetana mengajari mereka sejumlah kuda-kuda dan gerakan bela diri sederhana. Kebanyakan anak ini bisa belajar dengan cepat, hal yang mungkin sulit ditemukan di kota kecil seperti Yoria. Mungkin karena sejak anak-anak di desa-desa seperti Buido, memiliki fisik yang lebih tertempa oleh alam, dan mental yang lebih polos. Te’oma menemukan dirinya tidak perlu ‘mengumpat’ untuk membuat anak-anak tetap bersemangat.

 

Sementara John dan kawan-kawan kelompok pemburu mengambil alih pengawasan latihan anak-anak. Te’oma dan Gaetana berdiri di hadapan Vasu yang bersandar dengan santai di sebuah pohon tua.

“Jadi sudah seberapa jauh kalian menyelaminya?” Vasu menanyakan mengenai kitab Pedang Empat Musim kepada Te’oma dan Gaetana.

“Ada hal esensial yang tidak dapat kami pahami?” Gaetana memberikan raut yang seakan berkata – bisakah kami mendapat petunjuk lebih?

“Oh, apakah tulisan tanganku sebegitu buruk hingga kalian tidak bisa membacanya?”

“Bukan demikian Tuan Muda, namun ada bagian yang terasa kurang.”

“Kalau begitu, coba sampaikan, apa yang kalian sudah dapatkan, dan apa yang kalian rasakan kurang.”

Te’oma dan Gaetana tahu, bahwa ini seperti ujian ringan untuk mereka. Semua guru biasanya akan menanyakan muridnya, apa yang sudah mereka pelajari, dan apa yang belum mereka pahami. Sehingga petunjuk belajar selanjutnya dapat diberikan dengan tepat oleh sang guru. Walau pun Vasu bukan guru, dan mereka bukan murid, namun metode belajar seperti ini telah diterima secara umum di seluruh Ema.

Maka kedua murid madya Puncak Benderang tersebut mulai mengutip isi kitab Pedang Empat Musim yang diberikan oleh Vasu. Memasukkan pemahaman mereka ke dalamnya, dan memberikan penjelasan dari pengalaman mereka.

Tak lama berselang, tampaknya lebih banyak orang mulai duduk mengerumi monolog oleh kedua murid Puncak Benderang ini, terutama anak-anak yang sudah selesai berlatih kuda-kuda. Bagi mereka, ini seperti kelas belajar yang materinya berisi tentang dongeng indah akan sesuatu yang mereka selalu impikan – menjadi pendekar tanpa tanding. Mendengarkan prinsip ilmu pedang dari seorang pendekar, akan sangat berbeda dari mendengarkan ocehan tentang ilmu pedang di kedai minuman, tentu saja tidak ada yang ingin menyia-nyiakannya.

Te’oma dan Gaetaba bergilir memberikan monolog mereka mengenai Pedang Empat Musim. Mereka mulai dari Pedang Musim Semi, menuju Pedang Musim Panas, Pedang Musim Gugur, dan pada akhirnya sampai pada Pedang Musim Dingin. Setiap musim mengandung ratusan jurus pedang, dan ribuan perubahan, membuat keduanya berpendapat merupakan kitab pedang paling kaya yang pernah mereka jumpai.

Pedang Musim Semi bersifat menyeruak seperti sinar matahari yang menghalau dingin, seperti angin yang menari hangat. Sejumlah teknik atau jurus sangat mendalam, seperti ‘Benih Angin di Ujung Pedang’, ‘Langit dan Bumi Membuka Tirai’, serta ratusan jurus lainnya yang bersifat dinamis dan selalu berubah.

Pedang Musim Panas bersifat menekan dan mendorong dengan energi yang melimpah, seakan-akan memandu energi semesta untuk bergerak bersama pedang dan penggunanya. Jurus-jurusnya juga tidak sedikit, di antaranya ‘Tarian Surya Seabad’, ‘Puncak Kehidupan’, ‘Merak Menari di atas Api’.

Pedang Musim Gugur bersifat lembut, namun sekaligus kokoh dan penuh misteri, tidak dapat ditembus oleh kekuatan fisik maupun logika. Jurus-jurusnya lebih banyak tenang. “Ribuan Daun Gugur dari Langit’, ‘Langit Meninggalkan Bumi, ‘Kura-kura Naik ke Darat’.

Sedangkan Pedang Musim Dingin bisa dikatakan memiliki variasi jurus paling sedikit. Namun jurus yang sedikit ini memberikan kesan yang dalam dan dingin, seperti menemukan kesendirian di tundra salju yang luas. Pedang seperti tidak bergerak, namun sekali bergerak pasti mencabut nyawa. Kadang antara Te’oma dan Gaetana harus menarik napas beberapa kali untuk menjelaskan bagian ini, karena menggambarkan musuh yang tidak bisa melihat pedang yang bergerak lambat di depan matanya dan tidak tahu kenapa ia bisa tewas adalah penggambaran yang mustahil. Sayangnya, inilah kesan yang didapatkan dari bagian Pedang Musim Dingin, seperti berjalan di atas salju atau sungai yang beku, kadang orang baru tahu akan bahaya setelah dia terperosok ke dalam salju yang dalam, atau tercebur ke dalam sungai yang membeku.

“Lalu …?” Vasu tersenyum mendengar seluruh monolog dari kedua ‘senior’-nya.

“Tuan Muda, lalu mengapa kami merasa ada sesuatu yang kosong, atau hilang di dalamnya?”

“Karena itu adalah kitab pedang, apalagi yang kalian harapkan?”

“Eh…?” Keduanya kebingungan.

“Kalian tidak akan bisa menyentuh pohon hanya dengan membaca gambaran mengenai pohon, apalagi jika gambaran tersebut dibuat menggunakan bahasa manusia yang penuh keterbatas.”

Vasu berdiri dan melangkah ke ruang kosong yang masih agak lega di tengah kerumunan banyak orang.

Dengan menghunus Ikcr, dan membuatnya berwujud pedang bermata dua, Vasu berdiri dengan tenang sambil memandang langit. “Dulu aku menunjukkan teknik pedang ini pada seseorang, mungkin dia adalah orang terkuat kedua di Tanah Ema setelah Pelindung Spiritual Kekaisaran Bren yang ada dalam mitos itu.” Vasu melirik sebentar ke arah Christine yang tidak tahu harus berkata apa. “Dan dia berkata, teknik pedang ini adalah Pedang Penggembala Takdir, jika seseorang memiliki teknik ini dengan sempurna – maka dia bisa membalikkan langit dan bumi, tidak akan berada di bawah aturan langit, dan tidak seorang pun di seluruh Ema yang bisa menandinginya, termasuk semua yang berada di belahan Utara dari Seribu Pegunungan Menghujam Langit.”

Kata-kata Vasu membuat semuanya hening.

Tidak tertandingi di seluruh Ema, tidak berada di bawah aturan langit. Dan bahkan wilayah Utara yang misterius yang tak pernah tercatat dalam sejarah. Lalu siapa orang misterius yang memberi nama Pedang Penggembala Takdir ini? Dia pasti bukanlah orang sembarangan.

Semua menunggu… menunggu bagaimana Vasu akan memperlihatkan ilmu Pedang Empat Musim.

Sebelumnya

Naskah 18 - Ruh Desa Buido

Meski pun malam sudah semakin larut, banyak warga yang masih berkumpul di beberapa lokasi di ... Read more

Selanjutnya

Naskah 20 - Penguasa Ruang dan Waktu

Gerakan pedang seakan menari dengan tenang dan anggun, pelan menghanyutkan. Meskipun pelan, namun dalam sepuluh ... Read more