Milenium ke-600, Abad ke-54, Tahun ke-10, Bulan terakhir, Tanggal terakhir.

Keledai itu bersantai di pinggir pohon banyan rindang, ia sudah dilepas dari gerobaknya. Saat ini sedang menikmati tegukan dari air telaga di dekatnya. Dia tampak sangat lega setelah menempuh perjalanan jauh.

Sungguh keledai yang unik…”

Penjaga kedai menyerahkan segelas susu hangat pada anak yang duduk di hadapannya.

Iya Paman, aku menemukannya sekitar setahun yang lalu. Diberikan oleh seorang yang baik hati.”

Pemilik kedai itu hanya tertawa. “Tuan muda Vasu, sudah lama Tuan Muda tidak muncul di kedaiku, mungkin sekitar lima atau enam tahun. Lihatlah, Tuan Muda tidak berubah sama sekali.”

Ha ha…, Paman Pong, bagaimana aku bisa berubah dengan cepat. Guru saja sekarang memasuki usia yang kedua ribu, dan dia masih tampak muda. Apalagi aku yang baru sedikit di atas dua ratus tahun.”

Vasu adalah anak-anak sesuai yang wajar di Tanah Ema. Anak-anak seusianya masih bermain dan kadang membantu keluarga untuk hal-hal yang ringan.

Aku hanya berusia kurang dari sepuluh di sisi satu, dan di sisi yang lain sudah melebihi dua ratus.

Pikiran Vasu kembali tenggelam bersama dengan susu yang dia teguk perlahan-lahan.

Tidak jauh dari mereka, orang-orang berlalu lalang. Tapi jalan kecil di pinggir kota pun cukup ramai. Vasu merasa beruntung tidak memilih masuk melalui gerbang utama kota, jika tidak, dia tidak tahu seberapa panjang baris antrean yang diperlukan sebelum dia bisa lewat.

Jalan kecil ini merupakan jalan yang selalu dia lewati bersama gurunya sejak puluhan tahun lalu ketika mereka perlu turun gunung dan meninggalkan kota. Namun ketika itu jalanan tidak seramai saat ini.

Tentu saja Vasu tahu, mengapa kota menjadi ramai saat ini. Festival Jalan Emas, merupakan perayaan tahunan di Candrapura, namun setiap sepuluh tahun sekali, bertepatan juga dengan Istana Puncak Benderang menyelenggarakan pesta dasawarsaan bagi sang mahaguru.

Guru, mengapa kita merayakan ulang tahunmu setiap sepuluh tahun sekali, padahal guru selalu mengajakku ke kota setiap tahun untuk memilihkan hadiah bagiku?”

Sosok tua dengan rambut yang sudah memutih serta rambut wajah yang dibiarkan tumbuh memanjang, kini memandang wajah Vasu dengan kalem, “Nak, jika aku setiap tahun ada kemeriahan, bagaimana mungkin para murid bisa belajar meningkatkan diri mereka dengan baik. Tapi jika aku tidak membiarkan mereka sedikit bersenang-senang, mereka akan segera jenuh.”

Lalu gurunya menjelaskan, bahkan jika Vasu tumbuh menjadi tua seperti dirinya, ribuan tahun, maka perayaan hari kelahiran bukanlah sesuatu istimewa.

Demikian Vasu mengingat gurunya dalam beberapa pertemuan awal mereka. Awal dalam hal ini bermakna bisa jadi satu atau dua dasawarsa, mengingat Vasu tahu bahwa gurunya hanya mengizinkan perayaan ulang tahun setiap sepuluh tahun sekali.

Dia tahu, walau gurunya keras, tapi tidak kejam pada para muridnya. Murid utamanya hanya tujuh orang, tapi perguruan Puncak Benderang sendiri memiliki ribuan murid yang secara hierarki memiliki beberapa tingkatan, mulai dari murid utama, murid madya, murid pratama, hingga murid nirta. Nirta bisa dikatakan kelas bawah dari perguruan, tapi jumlah mereka banyak sekali.

Banyak dari para nirta ini setelah keluar dari perguruan setidaknya menjadi pimpinan pasukan kerajaan, biro pengawal, dan sebagainya ke seluruh Tanah Emi.

Sedangkan murid pratama, biasanya akan menjadi penasihat militer, duta kerajaan, pemimpin kota atau provinsi. Jumlah mereka tidak banyak hanya ratusan, namun keahliannya tidak diragukan.

Murid madya, hanya berjumlah puluhan. Mereka biasanya tidak meninggalkan perguruan, dan tetap menjadi bagian dari perguruan dan menurunkan ilmu-ilmu perguruan kepada para murid lainnya atau murid baru. Beberapa di antaranya memegang posisi administratif di dalam perguruan atau menjadi duta perguruan.

Murid utama hanya berjumlah tujuh orang. Mereka tidak terlalu mencampuri urusan perguruan. Mereka adalah orang-orang yang telah mencapai puncak kedigjayaan seorang pencari. Mereka tidak ikut serta urusan politik seperti perang dan sebagainya. Karena bisa dibayangkan, jika salah satu saja turun ke medan perang, maka dalam kurang dari semenit, jutaan balatentara musuh bisa menjadi debu.

Keberadaan mahaguru dan para murid utama menjadi pilar spiritual bagi kekuatan kerajaan Candragatha. Meskipun mahaguru sendiri tidak menyatakan keterikatan kepentingan terhadap kerajaan, namun keberadaan Istana Puncak Benderang di wilayah kerajaan Candragatha menjadikan kerajaan dan kekaisaran lain enggan mencoba mencengkramkan kekuasaan mereka.

Peperangan juga terjadi di tanah Ema, kerajaan-kerajaan runtuh dan muncul, demikian juga dengan kekaisaran. Tanah Ema adalah tanah yang berlumuran darah. Wilayah Candragatha yang termasuk kecil cukup beruntung merasakan kedamaian dalam seribu tahun terakhir, ketika Istana Puncak Benderang Berdiri.

Tuan Muda Vasu…”

Vasu kemudian terbangun dari lamunannya.

Ah, maaf Paman Pong, aku tidak begitu mendengarkan. Bisa Paman ulangi, apa yang Paman bilang tadi?”

Ha ha…, Tuan Muda, jangan terlalu banyak melamun. Orang tua ini hanya berkata, bahwa belakangan ini Nona Flora sering mencari Tuan Muda, dan menanyakan apakah Tuan Muda ada melewati jalur ini?”

Oh, kakak mencariku?” Vasu berpikir sebentar, Flora Lobane adalah murid utama paling muda. Usia Flora dan Vasu hanya terpaut sekitar empat puluh tahun. Dan mereka sering bertengkar di Puncak Benderang, semua orang tahu itu.

Flora sering protes pada guru mereka, mengapa jika turun gunung, guru hanya mengajak Vasu, dan dia tidak pernah diajak.

Wajah Vasu langsung menjadi pucat jika mengingat ada murid utama yang mencari masalah dengannya. Dia ingat sekali, sepuluh tahun yang lalu, Flora melemparnya ke luar Puncak Benderang – ya, secara harfiah melemparnya! – hingga Vasu terlempar sampai hutan Lebah Api.

Dia tidak tahu bagaimana Flora bisa melemparnya sampai tepat jatuh di kolam kesukaan Ratu Lebah Api, dan kelanjutannya, dia hanya ingat lari sekuat dan sekencangnya dari ribuan lebah api yang masing-masing sebesar serigala dengan sengat sebesar rebung bambu. Itu mimpi buruk, di mana ia berlari lebih dari lima ribu kilometer hanya untuk keluar dari hutan Lebah Api.

Dan Vasu juga teringat mimpi-mimpi buruk lainnya, tidak terlupakan didorong jatuh ke Kawah Api dan Es, dipaksa menjadi umpan untuk raja lobster di Laut Teka, dan selanjutnya.

Pong melihat Vasu yang menjadi pucat hanya tertawa saja. Sebetulnya dia ingin menyampaikan bahwa Flora terakhir kali berkata akan menendangnya sampai ke Soma – benua seberang tanah Ema, jika Vasu tidak kunjung pulang.

Tapi tentu saja, bukan berarti hubungan mereka buruk.

Beberapa saat kemudian, bayangan besar mulai menutupi wilayah tersebut. Semua orang melihat ke langit.

Beberapa bahtera langit mengambang di angkasa dengan layar yang dikembangkan dan panji-panji kebesaran bergerak pelan di langit Kota Yoria.

Yoria termasuk kota kecil, hanya kurang dari lima ratus kilometer persegi, beberapa wilayahnya masih cukup asri dan alami. Populasinya mungkin hanya sekitar seratus hingga dua ratus ribu warga.

Wow lihat…! Itu bahtera langit dari Sidrith!”

Salah satu bahtera melewati tempat Vasu dan Pong berada, sehingga menarik perhatian orang-orang di sekitar. Kebanyakan bahtera menggunakan lambung dan geladak dari kayu Luri, salah satu tanaman yang banyak tersebar, kayunya kokoh dan ringan. Masing-masing memiliki cirinya.

Kota Sidrith di Selatan misalnya, bahtera langit mereka memiliki layar berwarna biru langit, dan di bagian akil terdapat pahatan gelombang dengan arca tiga ekor burung layang-layang dari perunggu yang saling melingkar.

Kota pelabuhan Sidrith memiliki kebanggaan tersendiri dengan kekuatan maritimnya yang sangat terkenal. Armada mereka dikenal ganas dan gesit di lautan. Mereka juga menjadi kota yang menghasilkan bahtera langit bagi wilayah Candragatha, dan Ema pada umumnya.

Letak Sidrith dan Yoria berjauhan, jalan darat bisa ditempuh hampir setahun. Sementara dengan bahtera langit bisa dalam dua bulan. Tentu saja hanya sedikit orang yang bisa memiliki bahtera langit.

Adalah kebanggan tersendiri bisa mengarungi benua dan samudera menggunakan bahtera langit. Status seseorang bisa melambung tinggi jika memiliki bahtera langit. Tapi harganya nyaris tidak masuk akal.

Vasu sendiri pernah mendengar bahkan untuk alat transportasi sejenis sampan angkasa, harganya bisa mencapai sepuluh juta koin emas, dan hanya beberapa saudagar yang memilikinya. Sedangkan bahtera langit, bisa lebih mahal seribu kalinya.

Tuan Muda Vasu, ayo kita juga bergegas ke tempat guru, sudah waktunya.” Pemilik kedai tersenyum lembut pada Vasu yang sedang mengamati bahtera angkasa.

Oh, iya Paman Pong.” Vasu tersenyum juga. “Mari kubantu merapikan kedai.”

Vasu tahu, Pong adalah salah satu murid madya. Dia berada di sisi kota karena bertugas sebagai perpanjangan Istana Puncak Benderang. Meskipun tidak ada yang berani menerobos masuk untuk berniat jahat, Puncak Benderang juga tidak mungkin lengah. Sehingga beberapa murid madya juga berjaga di sejumlah titik di kota. Ada yang seperti Pong sebagai penjual makanan, ada yang sebagai seniman, ada yang sebagai petani.

Vasu meninggalkan keledainya di dalam kandang milik Pong. Dengan mengibaskan tangannya, kotak sepanjang lima meter yang diangkut gerobak tadi menjadi sepanjang lima puluh sentimeter saja. Lalu Vasu mengikatkan kotak itu dengan kain dan menggendong papan yang sepertiga tinggi tubuhnya itu di punggung.

Ayah, seberapa jauh lagi..” Seorang anak berusia seratus tahun bertanya pada ayah yang menggendongnya.

Sebentar lagi kita akan sampai…” Sang ayah tersenyum.

Vasu hanya berpikir bahwa jarak untuk sampai ke kaki bukit dari gerbang kota sekitar lima puluh kilometer. Setidaknya memerlukan delapan hingga sepuluh jam lagi untuk tiba di kaki bukit. Matahari memang sudah tidak terlalu terik, tapi setidaknya baru tengah malam mungkin mereka akan tiba di kaki bukit.

Guru, apa dia sudah tiba?” – seorang remaja muda perempuan bertanya pada sosok yang sedang berdiri di tepi tebing dan mengamati gumpalan awan di bawahnya.

Flora, kenapa kamu selalu tidak sabar? Di bawah sana ada ratusan ribu orang yang datang. Bagaimana orang tua ini bisa menemukan satu anak kecil yang kamu rindukan?” wajah tua penuh kerutannya tertawa melihat salah satu muridnya tidak tenang sejak pagi.

Flora hanya menggigit tipis bibir bawahnya, “Sudah lima tahun dia tidak kembali, dan di acara besar seperti ini bahkan dia tidak muncul. Sungguh, aku akan melemparnya hingga ke Soma jika dia pulang nanti.”

Tenang saja Flora, dia sudah tiba sejak beberapa jam yang lalu.”

Apa?” Gadis muda itu kaget, lalu dia melihat lagi ke arah gumpalan awan. Matanya berkilat dengan sinar keemasan, mengamati dataran rendah dan sejumlah puncak bukit di bawahnya. Lalu kembali menoleh kepada gurunya, “Tapi guru, aku tidak bisa menemukannya.” – Dia tidak berani menanyakan apakah ada kemungkinan jika sang guru keliru. “Apa dia menyembunyikan auranya?”

Tidak, dia tidak menyembunyikan aura ataupun energinya. Anak itu tidak bodoh, jika dia bersembunyi, pasti aku atau kamu akan mudah menemukannya.”

Iya, jika dia bersembunyi, maka tidak mungkin aku tidak tahu.”

Ha ha…, lihatlah, kamu tampak kebingungan.”

Guru…” – Flora menjadi gelisah, karena tidak paham, bagaimana gurunya bisa mengetahui Vasu sudah datang.

Anak itu, dia tidak menghilangkan keberadaannya, namun dia menyamarkannya. Seperti bunglon, dia ada di sana, tapi kita bisa melewatkan keberadaannya dengan mudah.”

Ratusan hingga ribuan orang bergerak di kota kecil di bawah Puncak Benderang. Mahaguru dan Flora bisa melihat mereka semua dari atas, meskipun deretan awan menutupi pandangan mereka. Jika mereka tahu karakteristik aura seseorang, maka mereka dengan mudah bisa menemukan orang itu, meskipun seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Tapi si kecil Vasu, tidak menjadi jarum, melainkan menjadi jerami. Sehingga, seberapa keras Flora berusaha mencari, dia tidak bisa menemukan pembeda untuk mengenali Vasu.

Flora, temui Vasu. Katakan padanya, jika dia belum menyelesaikan tugas yang kuberikan, dia tidak bisa naik ke Puncak Benderang.”

Eh..” Flora tidak tahu jika Vasu pergi karena menerima tugas dari guru. “Baik guru” – dia tidak berani menolak perintah sang guru.

Dan, jangan terlalu menarik perhatian.”

Guru…, mengapa juga aku bakal menarik perhatian? Apa karena aku gadis kecil yang manis?”

Jika ada seorang gadis kecil yang manis melempar anak laki-laki hingga ke Soma, itu tentu akan menarik perhatian.”

….”

Sang guru melihat murid termudanya turun ke bawah, dan pandangannya kembali ke arah ribuan orang di jalan utama.

Teknik pemadatan yang mengerikan.” Dia tersenyum kecil. “Bukan hanya memberikan kompresi pada ruang, namun waktu juga bisa diciutkan sedemikian hingga. Aku bahkan tidak bisa melihat berapa lapis pemadatan yang dilakukannya.”

Sang guru hanya menggelengkan kepalanya sebelum kembali ke sebuah gubuk kecil di tengah hutan di puncak tersebut.

Flora yang telah melompat dari tebing, tubuhnya melayang lembut menembus awan dan turun ke puncak keenam. Puncak Benderang sendiri memiliki tujuh puncak. Puncak tertinggi adalah kediaman guru – sekitar 4000 meter dpl, puncak di bawahnya adalah wisma bagi murid utama – sekitar 3000 meter dpl, puncak selanjutnya adalah area dan pelbagai balai latihan – sekitar 2000 – 2500 meter dpl, puncak madya, terletak di tengah di antara tujuh puncak berfungsi sebagai wisma peralihan para murid madya, berada pada ketinggian 1000 meter dpl. Puncak pertemuan merupakan sebidang lahan luas, dengan sebuah balairung yang bisa menampung sepuluh ribu orang berada di pusatnya pada ketinggian 500 meter dpl.

Pada ketinggian 400 meter dpl merupakan pemukiman bagi para murid kelas nirta, jumlahnya ribuan. Terdapat area latihan di sela-selanya. Terbagi ke dalam beberapa desa kecil dengan administrasinya masing-masing.

Pada ketinggian sekitar 300 meter merupakan puncak gerbang. Dikhususkan bagi menyambut tamu yang datang sepanjang tahun. Terdapat pusat perdagangan, walau pun kebanyakan hanya menjual cindera mata. Ada juga wisma-wisma yang dikhususkan bagi tamu yang menginap.

Kota Yuria sendiri berada pada ketinggian 100 hingga 150 meter dpl, dan memiliki sekitar seratus ribu penduduk. Sebuah kota kecil yang tenang.

Malam semakin larut, namun lampion-lampion menyala dengan indah. Toko, kios, dan rumah di pinggir jalan baik yang besar maupun kecil dihiasi dengan ornamen-ornamen keemasan. Festival Jalan Emas memang semeriah sebutannya.

Jalan utama kota sangat tertata rapi, melewati gedung-gedung pemerintahan di kiri dan kanan jalan. Tidak lama kemudian, Vasu dan Pong menyeberangi Sungai Sika selebar 500 meter, tampak beberapa bahtera langit bersandar tidak jauh dari jembatan – dermaga-dermaga yang dibangun di dekat penginapan kelas atas.

Sungai Sika membelah sepertiga sisi Barat Kota Yuria, sumbernya berasal dari Danau Bulan Sabit yang melingkari sebagian Gunung Puncak Benderang dan perbukitan di sekitarnya. Bisa dibilang, seluruh sisi Selatan dari Puncak Benderang dibatasi oleh sisi cekung Danau Bulan Sabit. Dan dikenal sebagai Danau Bulan Sabit karena bentuknya memang seperti bulan sabit; menurut legenda, raja naga dahulu melahap sebuah bulan di saat purnama, dan kepingan sisanya terjatuh membentuk danau.

Aku mau bolu emas…”
“Bukankah kita sudah membeli banyak? Bagaimana kalau manisan buah Xoqi?”
“Tapi…”
“Ini enak juga kok…”

Vasu memerhatikan bahwa di sisi-sisi jembatan pun banyak yang menjajakan kue dan manisan, bahkan ketika hari larut malam.

Tanah mereka dinamai Tanah Ema karena ada sesuatu yang unik, yaitu pohon Ema. Setiap tahun pada musim ini, pohon Ema akan berbunga, dan bunga-bunganya berpendar cahaya keemasan. Pohon Ema hanya bisa berbunga seperti ini di tanah Ema. Sejak ribuan tahun yang lalu, pohon Ema banyak ditanam di tepi jalan, sehingga ketika musim berbunga tiba – seluruh jalan yang memiliki pohon Ema akan berpendar keemasan. Maka sebutan Festival Jalan Emas pun muncul, entah sudah berapa ribu tahun.

Seandainya seseorang bisa terbang ke angkasa, atau menggunakan bahtera langit. Mereka akan bisa melihat malam di bumi seperti memiliki nadi keemasan yang hidup.

Mereka sungguh semangat sekali, padahal sudah tengah malam.”

Anak-anak berlarian kesana dan kemari.

Tuan Muda Vasu, ini semua karena Embun Ema, bukankah Tuan Muda tahu bahwa bunga Ema yang berpendar melepas uap air keemasan juga. Mereka sepertinya terpengaruh Embun Ema.”

Ya, aku pernah dengar itu.”

Ha ha.., mereka tidak akan tidur sampai festival selesai.”

Itu berarti hampir seminggu.”

Apa yang salah Tuan Muda? Bukankah ini bagus?”

Seminggu penderitaan.”

….”

Memang tidak jarang, anak-anak akan menghabiskan tabungan orang tuanya karena meminta ini dan itu selama seminggu penuh. Pong tidak punya keluarga, atau anak, dia tentu tidak paham maksud Vasu. Bisa dibayangkan selama seminggu penuh, anak-anak tertawa, berlari ke sana sini, dan meminta ini dan itu.

Tiba-tiba, Vasu merasa tubuhnya merinding.

Paman Pong, aku akan berjalan lebih dulu…”

Vasu segera bergegas melangkah maju, dan sekitar 10 meter di depan, dia berjalan di sebelah kanan dari seorang Ibu yang menggendong anaknya.

Pong tampak kebingungan, sebelum bayangan putih mewujud dengan seketika di hadapannya. Seorang gadis berusia sekitar seratus delapan puluhan tahun, dengan mata bulat dan rambut bergelombang kemerahan, muncul dengan senyuman ramah.

Ia mengenakan jubah putih dengan rajutan dandelion di dada kanan. Ini adalah pakaian umum yang digunakan oleh para pendekar dari Puncak Benderang. Bahkan Pong juga menggunakan pakaian yang sama.

Penduduk sekitar sudah sering melihat pemandangan seperti ini, sehingga tidak ada satupun yang kaget. Mereka meneruskan kegiatan mereka masing-masing setelah melihat sesaat.

Ah, Instruktur Flora, ada apa gerangan?” – Dalam situasi resmi, Pong akan memanggil Flora sebagai ‘instruktur’ – karena dia menjadi penanggung jawab terhadap sejumlah murid madya, meskipun usia mereka terpaut ratusan tahun.

Paman, apa Paman melihat Vasu? guru berkata dia sudah datang.”

Iya, tadi dia bersamaku, tapi kemudian berkata akan berjalan lebih awal.”

Oh, terima kasih Paman.” Flora tersenyum kecil, kemudian melihat ke depan, ribuan orang bergerak ke kaki bukit pertama – Puncak Gerbang. Dia tampaknya belum bisa menemukan Vasu, dan berkata sambil menggerutu. “Dia berani menghindar dariku, kali ini, aku akan pastikan dia benar-benar jatuh di Soma.”

….”

Pong hanya diam saja. Jika kamu rindu seseorang, jangan mengancam untuk melemparnya ke seberang, tentu saja dia akan bersembunyi. – Batin Pong hanya tersenyum geli.

Sekitar lima puluh meter di depan Pong, Vasu masih asyik berjalan dan menoleh ke belakang sambil tersenyum serta meletakkan jari telunjuknya di depan bibir.

Wajahnya tampak puas ketika Flora pergi dan tidak bisa menemukannya, meskipun dia tidak benar-benar ‘bersembunyi’.

Mereka berdua benar-benar anak-anak. Di tanah Ema, bayi baru lahir hingga baru belajar berjalan memerlukan waktu sekitar 24 tahun. Sementara seorang perempuan baru bisa melahirkan pada usia 378 tahun dan masih bisa mengandung 944 tahun. Tentu saja tetap jarang ada yang melahirkan sebelum usia empat abad atau setelah usia sembilan abad. Jadi untuk usia Vasu yang sekitar 240-an tahun dan Flora yang berusia 280-an tahun tentu masih anak-anak.

Beberapa orang bisa menembus usia lebih dari dua atau tiga milenia, namun jarang yang bisa melebih satu setengah milenia.

Vasu tersenyum lebih lebar. Dia senang Flora datang mencarinya. Selain gurunya, Flora adalah orang pertama yang menolongnya, di dunia yang asing baginya, Flora banyak membantunya.

Dini hari tiba, Vasu tiba di kaki bukit Puncak Gerbang, puncak pertama dari Puncak Benderang.

Anak tangga menjulang tinggi berjumlah ratusan, mungkin ribuan. Jalan naik selebar 200 meter, dan di ketinggian, tampak gerbang gapura raksasa dengan relief dandelion agung menghiasinya, tersamarkan oleh gelapnya malam, namun menjadi tampak mistis oleh penerangan dari lampion yang jumlahnya ribuan.

Berkat khasiat embun Ema, sepertinya orang biasa pun tidak kelelahan setelah perjalanan jauh, dan hendak naik ke Puncak Gerbang. Biasanya masyarakat Yoria hanya merayakan festival di dalam kota saja, dan para murid di Puncak Benderang akan turun gunung untuk ikut serta merayakannya.

Tapi tahun ini jatuh bersamaan dengan perayaan sepuluh tahunan bagi mahaguru. Puncak Benderang lebih menarik minat masyarakat dan wisatawan.

Aku datang dari Kota Lobane, perlu enam bulan untuk sampai ke sini.”
“Wah, masih untung. Aku sendiri dari desa Pica, jauh di Utara wilayah Sidrith, untuk ke Sidrith sendiri perlu tujuh bulan.”
“Kalau aku cukup beruntung, menumpang seorang saudagar dari ibu kota sampai ke sini.”

Orang tidak hanya datang dari dalam kota, namun juga dari wilayah lainnya di tanah Ema.

Katanya akan ada pertunjukan bela diri di Puncak Benderang”
“Mereka adalah ahli dan kebanggaan Candragatha, kira-kira apa yang akan ditampilkan oleh para murid?”
“Entahlah, sepuluh tahun yang lalu mereka menunjukkan formasi ‘naga membelah samudera’ – dan sepuluh tahun sebelumnya adalah teknik ‘salju menutup matahari’.”
“Ah…, aku hanya ingin melihat ‘dandelion beku’ yang legendaris itu.”

Mereka datang untuk melihat keahlian para ahli penghuni Puncak Benderang. Tentu saja bermimpi juga melihat teknik legendaris milik mahaguru. Tapi tanpa itu pun, Puncak Benderang yang hanya memperlihatkan kemampuannya setiap sepuluh tahun sekali tetaplah menarik perhatian. Puluhan ribu orang dari luar akan memasuki kota hanya untuk menikmati Festival Jalan Emas di Puncak Benderang.

Sudah lima tahun aku tidak menginjakkan kaki di Puncak Gerbang”.

Vasu sangat senang bisa kembali.

Sebelum matahari terbit, Vasu tiba di Puncak Nirta. Dia masuk ke rumah pertama di deretan kanan dari jalan utama menuju ke Puncak Pertemuan.

Tak ada yang senyaman rumah.”

Dia meletakkan kotak yang dibawanya di atas meja dekat perapian. Rumah sederhana itu hanya dua lantai.

Vasu duduk di dekat meja bundar di tengah ruangan lantai dasar. Gelang yang dikenakan di tangan kirinya bersinar, dan sinar tersebut melesat menjadi beberapa bagian ke atas meja. Sebuah tungku mini, sebuah teko kecil, dan cawan teh muncul.

Setelah menuangkan teh yang dipanaskan di dalam teko ke cawan. Vasu tersenyum puas. Selama perjalanan lima tahun, dia tidak sengaja menemukan teh ini di salah satu desa terpencil sebelum naik ke gunung Tienz dan turun ke lembah Para Naga.

Ini sungguh pagi yang damai…”

Oh…, benarkah?”

Suara dari lantai atas nyaris membuat Vasu tersedak.

Flora…?”

Mengapa kamu tidak bilang kalau akan pergi selama ini?” Suaranya setengah terisak. “Lima tahun! Tidak ada yang tahu ke mana kamu pergi! Menghilang begitu saja.”

Kamu tidak bertanya pada guru?”

….”

Vasu tampak sangat ahli membuat suasana hati baik menjadi buruk, dan suasana hati buruk menjadi tambah tidak menentu.

Flora sekarang sudah ada di samping Vasu.

Duduklah dulu. Ini teh yang kudapatkan di perjalanan.”

Flora duduk di sebelah Vasu, mereka mulai mengobrol banyak hal. Seperti pemandangan dua saudara yang sudah lama tidak berjumpa.

Jadi ke mana guru mengirimmu? Bahkan aku pun tidak pernah diberikan misi keluar dari Istana Puncak Benderang seorang diri.”

Tidak jauh, hanya dua tahun perjalanan, ke Lembah Para Naga di wilayah Utara.”

Apa…?” Flora tampak tidak percaya. “Tidak mungkin, tempat itu sangat berbahaya. Bahkan guru pernah nyaris kehilangan nyawa di sana.”

Tapi aku memang berangkat ke sana, pulang pergi saja memerlukan waktu dua tahun. Ah… sungguh melelahkan.”

Mengapa guru mengirimmu ke sana?”

Untuk mengambil sesuatu.”

Apa…?”

Kamu akan tahu nanti siang.”

Ah…” Flora ingat kata-kata gurunya, mungkin Vasu sudah menemukan apa yang diminta gurunya. Tapi mengirim seseorang ke lembah naga, bahkan murid utama pun akan menemukan kesulitan di sana.

Mereka meneruskan mengobrol hal-hal lainnya. Flora tidak mau bertanya lebih banyak lagi, dia justru bercerita banyak hal mengenai Puncak Benderang selama lima tahun kepergian Vasu.

Sebentar…”

Flora menghentikan perbincangan mereka, dan menutup matanya sesaat.

Beberapa saat kemudian…

Siapa?”

Ah, sepupuku.”

Sepupu?”

Iya, tampaknya dia sudah berlabuh di Sungai Sika. Aku akan datang menjemputnya sebentar.”

Flora melambaikan tangan, dan menghilang di depan Vasu.

Pasti sepupunya perempuan, wajahnya tadi menunjukkan ‘waktunya ngerumpi’.”

Vasu pun bersiap, dan keluar dari rumahnya. Matahari sudah mulai menyingsing di ufuk Timur. Waktunya menuju Puncak Pertemuan.

Sebuah bahtera langit keemasan berlabuh dengan anggun seperti angsa yang berenang ke tepian sungai. Seorang anak perempuan tampak turun atas geladak diikuti oleh sekitar selusin pengikut baik laki-laki maupun perempuan, beberapa membawa kotak yang dibungkus dengan kain dengan motif yang indah.

Mata bulat berwarna biru, dengan rambut keemasan yang dihiasi oleh tiara perak, ia turun ke dermaga – bukan dengan berjalan, namun tubuhnya melayang seperti awan musim semi yang bergerak pelan.

Sesaat gadis itu menatap ke arah Puncak Benderang yang menjulang di kanannya. Dia tampak kagum dan sedikit bingung.

Sudah lama menunggu Tuan Putri?”

AH!…” Dia kaget dengan bayangan yang muncul di hadapannya. “Flora, kamu mengagetkanku.”

Ha ha…, maaf…, maaf. Tapi apa yang membuat malaikat dari Kekaisaran di ujung Timur Ema hingga datang ke kota kecil kami ini?”

Flora membuat gerakan menunduk seperti menyambut tamu agung.

Wah, siapa tamu itu?”
“Entahlah, bahkan Instruktur Flora sampai menyambutnya sendiri dengan hormat.”
“Dia pasti orang penting.”
“Tapi anak itu manis sekali, aku ingin putriku nanti seperti dia.”
“Lihat, panji di atas bahtera itu! Angsa Surga! Dia pasti utusan dari Kekaisaran Bren.”

Baik para murid Puncak Benderang maupun warga lokal mulai berbincang melihat tamu yang baru datang.

Sekarang mereka tahu, bahwa bahtera langit yang berlabuh adalah milik Kekaisaran Bren. Sebuah kekaisaran dengan kekuatan militer terbesar di tanah Ema, negeri adikuasa yang sudah melegenda sejak ribuan tahun. Bren sudah mampu berdaulat dan menjaga kedamaian negeri sejak ribuan tahun, sementara Candragatha masih merupakan kerajaan kecil yang selalu mendapat ancaman dari luar dan dalam hingga seribu tahun yang lalu Istana Puncak Benderang berdiri.

Flora, sudahlah. Kamu tahu kenapa aku datang. Guruku memintaku mengantar beberapa hadiah untuk Mahaguru.”

Flora hanya tersenyum saja.

Flora mengantar sepupunya menuju Puncak Pertemuan. Sepanjang jalan mereka mengobrol hal-hal seputar Kota Metropolis Bren dan Kota Kecil Yoria. Dan sepanjang jalan juga mereka menarik perhatian banyak orang.

Di Puncak Pertemuan, sebuah balairung agung menjulang puluhan meter tingginya, dengan pilar-pilar raksasa yang menyangga. Di hadapan bailarung agung terbentang taman dengan pelbagai tanaman hias dan kolam. Terdapat banyak kursi batu di seluruh taman, sehingga orang bisa duduk dan melihat ke arah balairung agung.

Di bagian Barat taman, ada gundukan kecil seperti bukit mungil, di atasnya terdapat sebuah kolam, dan di tengah kolam terdapat pohon Rumah tua yang mungkin sudah berusia sepuluh ribu tahun. Pohon ini besar, namun tidak bisa dikatakan teramat besar, batang utamanya masih bisa dipeluk oleh dua orang dewasa. Di bawah pohon ada batu giok putih besar yang diukir – jika mendekat, orang bisa melihat sajak yang dipahatkan pada batu itu.

Bagi sebagian besar penghuni Puncak Benderang, tempat tersebut bisa dibilang sakral. Namun bagi Vasu, kebetulan saja tempat itu adalah tempat kesukaannya untuk beristirahat.

Vasu duduk bersila di atas batu giok, dia meletakkan kotak yang dibawa di atas kedua pahanya. Sesaat dia melihat ke kolam, dengan mengibaskan tangannya secara lembut, air kolam mulai bergerak berputar searah jarum jam.

Lalu dia menutup matanya, dan tiba-tiba semua menjadi begitu hening. Air yang mengalir berputar, bergerak bertambah pelan, dan akhirnya berhenti. Debu yang melayang juga berhenti, aroma rumput dan angin tidak juga tidak lagi dapat tercium seakan-akan ruang dan waktu terkunci geraknya di sekitar seorang anak yang duduk dengan roman muka yang tenang.

Balairung Agung tampak ramai baik dengan para murid dan pengurus Puncak Benderang, maupun para tamu dari dalam dan luar Yoria.

Mahaguru tampak ditemani oleh murid termudanya, Floria Lobane, menyambut para tamu yang datang membawa hadiah sebagai ucapan selamat. Banyak di antaranya para ahli bela diri maupun kanuragan maupun para pejabat dan saudagar terkenal di Candragatha.

Beberapa di antaranya datang dengan jubah putih, abu-abu, dan biru, yang bersulam lambang pelbagai diagram khas – dan mereka adalah golongan penyihir. Tentu saja karena mahaguru adalah tokoh yang terkenal luas, dan bisa dikatakan sebagai pilar spiritual bagi Kerajaan Candragatha, maka banyak kelompok dan pribadi yang ingin dekat dengannya.

Selamat Mahaguru, kami, Kelompok Saudagar Candragatha mengucapkan selamat dan semoga Mahaguru selalu panjang umur”
“Mahaguru, semoga senantiasa sehat.”

Hanya dalam seribu tahun, Puncak Benderang menjadi tonggak bagi Candragatha, semoga Mahaguru dan Puncak Benderang semakin berjaya!”

Sanjungan dan selamat datang silih berganti, Mahaguru menyambut dengan senyuman ramah. Namun dalam hatinya, hal-hal duniawi tidak terlalu memikat. Kejayaan atau keruntuhan akan datang sesuai dengan siklus dunia, tidak ada yang abadi, dan dia memahami benar hal ini.

Semuanya tampak meriah, orang-orang senang bisa bertemu dengan sahabat lama ataupun mendapatkan kenalan baru di acara seperti ini.

Seorang anak perempuan mendekati rombongan mahaguru dan sedikit membungkukkan badan dengan anggun memberikan salam hormat.

Matanya biru, rambutnya kuning keemasan diikat membentuk sanggul, mengenakan pakaian biru yang menutup seluruh tubuh. Di dadanya terdapat bordiran bunga krisan.

Bibir mungilnya mengucapkan salam sederhana, “Murid memberi hormat dan selamat pada mahaguru. Murid mewakili guru Roseline yang tidak dapat datang untuk menyampaikan ucapan selamat kepada Mahaguru.” Wajahnya bersinar ceria seperti anak yang bertemu lagi dengan orang tuanya setelah lama berpisah.

Sementara beberapa perempuan dan laki-laki dewasa yang mengikuti si kecil itu, juga ikut menundukkan badan, lalu menyerahkan sejumlah kotak yang dibungkus kain indah kepada para murid mahaguru yang menerimanya sebagai hadiah.

Ha ha ha…, rupanya si kecil Roseline itu masih ingat dengan kakaknya yang tua ini. Jadi bagaimana kabar gurumu itu?” Wajah ramah mahaguru menyapa si kecil.

Guru sangat sehat, hanya saja Beliau sedang menutup diri untuk berlatih di tempat terpencil yang kami pun para murid tidak tahu di mana tepatnya Beliau sekarang.”

Oh…, rupanya dia masih sangat bersemangat untuk mencoba melampaui aku. Ha ha…, tidak buruk…, tidak buruk…”

Lalu Flora menarik jubah mahaguru dari sampingnya sambil berikata. “Guru, sepupu Christine sudah datang jauh ke sini dari Kekaisaran Bren, dan dia adalah murid dari adikmu. Biarkan dia tinggal beberapa hari di sini, kami sudah lama tidak bersama-sama. Aku akan mengajaknya berkeliling Yoria. Dan memperlihatkan kemajuan yang dicapai Puncak Benderang.”

Di hadapan pinta murid utama yang paling muda ini, bahkan Mahaguru pun tidak bisa menolak. Bahkan tanpa mengucapkan pun, dia sudah tahu isi hati muridnya, seolah-olah memiliki surya kanta yang menembus isi hati paling kecil yang disembunyikan.

Baik, ajaklah Nona Christine berkeliling Puncak Benderang dan Yoria.” Kata-kata sang guru diakhiri dengan senyuman ramah.

Baik, dan terima kasih guru.”

Flora memeluk gurunya dengan wajah ceria, lalu menarik tangan Christine dan mengajaknya ke luar dari Balairung Agung. Dia tidak sabar menunjukkan Puncak Benderang kepada sepupunya itu. Bagaimana pun, mereka dua anak kecil yang sudah lama tidak bertemu.

Pertama, ayo kita mencari Vasu.”

Siapa Vasu?”

Dia kesayangan Guru.”

Apa dia murid utama? Aku tidak pernah mendengar di antara ketujuh murid utama ada yang bernama Vasu.”

Bukan…, dia bukan murid utama.”

Lalu, apa dia murid madya?” Christine keheranan, dia tahu bahwa Mahaguru tidak memiliki keluarga selain gurunya sendiri, Madame Roseline, dan Mahaguru tidak ikut campur dengan urusan murid madya, karena dia hanya menurunkan teknik aslinya ke murid utama, dan murid utama kemudian bertugas mengajar murid madya. Jadi dia bingung, siapa Vasu ini.

Tidak, dia bukan murid, bahkan bukan golongan Nirta. Tapi dia tinggal di area Nirta. Dia tidak mau menjadi murid atau terikat dengan Puncak Benderang.”

Apa?” Ini membuat Chritine lebih heran lagi. Semua yang tinggal di Puncak Benderang adalah murid atau pengurus, dan mereka semua terikat dengan Puncak Benderang. Tidak masuk akal jika ada orang luar diizinkan menetap di Puncak Benderang.

Sudahlah, jangan pikirkan itu lagi. Anggap saja dia adik kecilku.” Flora tersenyum lebar. “Namun kita harus menemukannya terlebih dahulu.”

Christine hanya tersenyum, mengikuti Flora melangkah ke luar Balairung Agung. “Mengapa kamu tidak mencoba menemukan aura Vasu ini? Kita tidak punya waktu seharian mencarinya di antara ribuan orang bukan?”

Yah, jika menemukannya semudah itu, tidak akan masalah. Jangankan aku, bahkan guru pun belum tentu bisa menemukannya. Apalagi jika Vasu memang benar-benar tidak ingin ditemukan.”

Langkah si kecil Chrsitine terhenti, walau di wilayah Ema dia termasuk sangat … sangat… muda, tapi dia tahu benar bahwa gelar Mahaguru tidak sembarangan. Bahkan di Kekaisaran Bren, hanya sedikit orang yang memiliki kemampuan seperti Mahaguru, dan tidak seorang pun dari mereka disematkan sebutan sebagai Mahaguru. Dia tahu nama-nama para ahli yang setara dengan mahaguru, atau yang terkenal. Namun tidak pernah mendengar Vasu, yang lebih muda dari Flora, dan mampu menyembunyikan diri dari seorang Mahaguru yang memiliki mata batin yang begitu tajam. Ini hampir tidak masuk akal.

Oh ya…” Tiba-tiba Flora juga ikut berhenti. “Aku akan mencoba mengirimkan telepati saja, dan dia akan…”

Belum sempat Flora selesai bergumam, tiba-tiba udara menjadi dingin, dan angin bertiup kencang.

Di langit Selatan muncul segi tiga yang tersusun dari tiga mandala yang berpendar kehitaman. Dari halaman luar Balairung Agung, semua orang menengadah kaget ke arah langit di Selatan.

Segi tiga itu dengan cepat membesar dan membentuk patri simbol sihir yang lebih rumit lagi, lalu area dalam segi tiga tersebut membentuk pusaran berwarna hitam pekat.

Sebuah bahtera langit hitam legam muncul dari pusaran yang ternyata merupakan portal pemindah ruang.

Bahtera ini bukannya mengundang rasa takjub, namun malah memunculkan rasa ngeri orang yang melihatnya.

Hitam legam, sekitar 10 meriam sihir menonjol dari masing-masing sisi geladak. Buritan yang tinggi dengan ornamen sihir yang tidak biasa. Dan layar-layar yang hitam dengan lambang yang tidak asing lagi.

Kastil Serigala Bintang Hitam.”

Ya, benar…, itu bahtera perang langit milik Kastil Serigala Bintang Hitam. Mengapa mereka ada di sini.”

Para tamu menjadi panik. Semua orang tahu, bahwa Kastil Serigala Bintang Hitam adalah salah satu sekte paling – jika bisa dikatakan – biadab, di Benua Soma. Mereka tidak segan-segan membuat gunung mayat dan sungai darah untuk memenuhi ambisi mereka, atau sekadar untuk hiburan jika mereka bosan.

Sekitar lebih dari 150 tahun yang lalu, armada perang Serigala Bintang Hitam menyeberangi samudra dari Benua Soma menuju Tanah Ema; kekuatan militer yang tidak kalah dengan Kekaisaran Bren.

Banyak yang mengira bahwa Tanah Ema akan berubah menjadi neraka ketika armada militer tersebut mulai tiba dan membumi hanguskan beberapa kota dan desa kecil di wilayah pantai Candragatha. Mereka tampaknya ingin melumat kerajaan kecil Candragatha sebelum mulai meluaskan wilayah hingga ke tempat lain, seperti Bren.

Namun, sebelum sempat menginjakkan kaki. Seluruh armada musnah secara misterius secepat kilat datang dan pergi. Tidak tahu apa yang terjadi. Hanya saja, sesaat setelah aura seluruh armada hilang, aura dahsyat Dandelion Beku menyelimuti seluruh wilayah pantai dan memadamkan api akibat perang yang membakar bumi. Sehingga setiap orang berpikir bahwa Mahaguru adalah ahli yang menghadang armada dan menyelamatkan Tanah Ema.

Di sisi lain, Mahaguru selalu menyangkal bahwa dia yang memusnahkan seluruh armada. Tidak ada yang tahu pasti, beberapa mengira karena Mahaguru terlalu merendah, sehingga tidak mau menyombong. Tapi sekarang sebuah bahtera perang langit di sini, dan sedikitnya memberikan jawaban.

Jadi ini Puncak Benderang yang terkenal itu?” Seorang laki-laki tua dengan rambut yang sudah ubanan melihat ke bawah.

Benar kakak, tidak salah lagi. Mahaura tajam dan dingin ini hanya bisa dimiliki satu orang.” Seorang perempuan tua yang berdiri di sebelahnya meyakinkan pendapat rekannya.

Ayo semua, kita turun.” Si lelaki tua memberi perintah.

Dalam sekejap, sepuluh bayangan hitam meluncur dari langit Selatan dan mendarat di halaman depan Balairung Agung. Wajah mereka dingin, dengan semua mengenakan jubah hitam dan ikat kepala hitam mereka tampak enggan menunjukkan keramahan. Mereka sengaja memancarkan aura yang mengancam dan menekan, sehingga semua orang mengambil langkah mundur dan menyingkir.

Lutz, keluarlah!” Teriak si lelaki tua.

Seketika Flora yang berada di depan Balairung Agung mengambil ancang-ancang, dan mengambil posisi di depan sepupunya. Dia tahu, orang-orang di depan sangat tangguh, mereka bahkan berani meneriakkan nama gurunya dengan nada angkuh. Jika mereka tiba-tiba mengambil tindakan, maka satu-satunya yang masih mungkin bisa dia lindungi adalah sepupunya, meski mungkin dia harus kehilangan nyawa. Dia tahu ini situasi yang serius dan kritis.

Hatinya sangat kecut, namun sebuah bayangan segera mewujud di hadapannya. Sebuah jubah bermotif dandelion yang indah berkibar-kibar di hadapan tubuh mungilnya.

Ah, kupikir siapa, rupanya Pelindung Oregeon dan Tetua Emas Hitam dari Sekte Serigala Bintang Hitam.” Sambut Mahaguru.

Hmm… rupanya sebagai ahli rendahan yang selama ini hanya bersembunyi seperti kura-kura di gunung kecil ini, juga bisa tahu nama besarku. Ha ha ha….” Pria tua yang dipanggil sebagai Oregeon itu tertawa lebar, namun tetap tidak ramah.

Semua orang menjadi sangat marah, karena kedatangan Sekte Serigala Bintang Hitam ini benar-benar menyinggung mereka. Mahaguru bukan saja seorang ahli, namun juga pengayom bagi wilayah kerajaan, jika ada yang menghina orang yang mereka hormati, tentu saja orang-orang tersebut akan marah. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa, di hadapan seorang ahli yang menjadi pelindung sekte Serigala Bintang Hitam, mereka hanyalah kumpulan semut di bawah kaki gajah.

Apa yang bisa kubantu untuk Pelindung Oregeon?” Mahaguru tetap menunjukkan wajah ramah tanpa menunjukkan emosi marah ataupun takut.

Ah…, langsung saja Lutz. Tidak usah berbasa-basi. Kudengar hari ini kamu merayakan usia yang kedua ribu. Jadi kuucapkan selamat!”

Terima kasih Oregeon.” Ketiga kalinya, Mahaguru tidak menggunakan embel-embel ‘pelindung’ lagi menyebut nama Oregeon.

Kudengar kamu memiliki murid-murid yang sangat berbakat dan cerdas, hari ini aku membawa delapan murid terbaik dari Serigala Bintang Hitam untuk bertanding dengan muridmu Lutz.

Ah, Oregeon. Para murid utamaku sedang tidak ada di sini, kecuali si kecil Flora ini.” Mahaguru menatap ke arah Flora yang kini berada di sampingnya, mata gadis kecil itu berapi-api. “Semua yang lebih senior tidak ada. Aku pun tidak bisa memanggil mereka datang.”

Semua orang tahu, bahwa murid utama sedang meninggal Puncak Benderang. Mereka mulai mengutuk Sekte Serigala Bintang Hitam karena berani-beraninya mengeluarkan tantangan ketika yang ditantang sedang tidak ada. Mereka ingin menang tanpa bertanding, sungguh licik. Dan Mahaguru tidak mungkin menolak permintaan bertanding ini, karena akan merusak nama baik Puncak Benderang. Tapi yang ada saat ini hanya Flora.

Ah tidak masalah, kalau begitu, murid termuda kami yang akan maju menghadapi murid termudamu. Kecuali si kecil Flora takut.” Dia memandang rendah pada anak kecil yang tampak lemah itu.

Aku tidak takut…!” Flora berteriak panjang dengan aura yang menantang.

Ya, Instruktur Flora, jangan gentar. Beri mereka pelajaran.”
“Benar Instrukstur, tunjukkan Puncak Benderang bukan tempat yang bisa diinjak-injak.”
“Instrukur Flora, akan kutraktir segelas susu jika kamu menang.”
“….”

Para murid madya dan nirta memberikan sorakan dukungan kepada Flora. Dan seketika halaman berubah menjadi arena pertandingan.

Mahaguru tidak mengatakan apa-apa lagi, dia tahu murid termudanya itu keras kepala.

Tapi di hadapan anak yang baru berusia sedikit lebih dari 170 tahun. Maka di hadapannya adalah ahli yang mendekati usia seribu tahun. Walau sama-sama menyandang gelar murid utama, tapi tentu saja pengalaman dan kultivasi mereka sangat berbeda, dan kematangan aura yang dipancarkan pun berbeda.

Orang-orang melihat dua ahli ini berhadapan menjadi sangat tegang. Di sisi lain, Oregeon dan Emas Hitam tersenyum tipis, mereka tahu, bahwa mereka akan menang dengan mudah. Dan ini akan membersihkan penghinaan atas armada mereka lebih dari satu setengah abad yang lalu.

Adik kecil, jika kamu takut, lebih baik menyerah saja sekarang.” Murid dari pihak sekte yang bernama Kon mengibaskan tangannya meminta agar Flora keluar saja dari arena.

Oh…, Paman aku tidak takut, Anda bahkan tidak lebih seram dari badut di festival jalan emas.”

Semua orang tertawa serentak, gaya imut Flora tentu sangat memikat, namun bagi lawannya akan terasa menghina.

Kamu…!” Kon berteriak. “Aku ingin melihat sampai di mana kehebatan teknik Dandelion Beku yang tersohor itu, apakah lebih hebat dari Api Serigala dan Nyala Bintang Hitam dari sekte kami!”

Kon mengambil kuda-kuda dan mengangkat tangan kanannya sejajar bahu mengarahkan tepat ke tubuh Flora, dan sebuah bola api yang menyala hitam melesat cepat ke arah Flora.

Fyuussh…

Tanah di sekitar Flora berdiri terbakar nyala api hitam dan meleleh. Namun Flora sendiri bergeming, aura seputih salju menututupi tubuhnya.

Langkah Tanah Beku…” Flora bergumam pelan. Dan seluruh arena menjadi dingin, tanahnya langsung membeku dan nyala api hitam padam.

Wow, itu teknik pertama dari sembilan teknik Dandelion Beku.”
“Iya, menggunakan energi dingin untuk menahan semua energi lain tertanam di wilayahnya.”
“Instruktur memang hebat.”
“Iya, di usia muda sudah bisa menggunakan Langkah Tanah Beku tanpa cela.”
“Itulah mengapa dia dipanggil sebagai si kecil jenius dari Tanah Ema.”

Kembali para murid menunjukkan semangat pada pertandingan yang mereka saksikan, setelah instruktur keenam mereka dengan mudah mematahkan serangan lawan.

Hmm… tidak buruk. Itu baru pemanasan.”

Kon melompat ke udara dan mengibaskan tangannya, sejumlah cakram berpendar hitam terbang ke arah Flora. Wajah si kecil itu menjadi lebih pucat, dia tidak berani lagi berdiri saja, tapi melompat menghindar. Beberapa cakram menghantam tanah, dan berhasil membuat retakan kecil di tanah yang dilindungi oleh energi beku milik Flora.

Tanah arena pertandingan adalah domain milik Flora, jika domain dirusak lawan, maka berarti energi lawan besar.

Beberapa kali Flora melompat sambil memutar tubuhnya untuk menghindari cakram-cakram tersebut. Makin lama, jumlah cakram menjadi makin banyak, dari puluhan, kemudian menjadi ratusan. Kemudian seakan-akan Flora dikurung oleh puting beliung hitam yang semakin lama semakin mempersempit ruang gerakknya.

Wajah Flora tidak lagi tenang, “Udara dan Langit Beku.” Ini adalah teknik kedua, meluaskan domain tempur tidak hanya di tanah, namun juga hingga ke langit.

Seketika seluruh cakram geraknya melambat dan kemudian jatuh dan memudar.

Wajah Kon menunjukkan kaget, dia menghabiskan cukup banyak energi, namun kini tidak hanya cakramnya tidak berdaya, namun juga dia sepenuhnya berada di domain musuh. Dia menghindari berdiri di atas tanah, namun ternyata melayang di udara juga tidak membuatnya lepas dari domain lawan. Dia tidak menyangka, bahwa domain bisa diwujudkan seperti ini.

Flora sendiri tidak mau menunggu lebih lama. Dia tidak mau menjadi terlalu pasif. Dia akan menyerang langsung.

Dandelion Merekah, Surga Membeku”

Aura seputih salju memenuhi tanah, ilusi dan ribuan bunga dandelion tumbuh, dan kemudian mekar dan memancarkan cahaya putih yang melesat ke lurus ke angkasa. Seperti ribuan laser seputih salju menghujam angkasa dari permukaan tanah. Jika saja ada sepasukan di atas arena, mereka pasti sudah musnah oleh teknik pembunuh massal ini.

Kon yang melayang di angkasa wajahnya sangat pucat, sebelum dia berteriak kesakitan, ratusan cahaya putih menghujam tubuhnya dari bawah.

Energi Bintang Hitam” … Aura hitam pekat langsung menutupi tubuh Kon. “Anak kecil, tampaknya kamu ingin benar-benar merasakan kekuatan sekte kami. Rasakan ini, Api Serigala Neraka!”

Api hitam terbentuk di langit dan mewujud sebagai serigala yang berlari kencang ke arah Flora.

Teknik ketiga Dandelion Beku tampaknya tidak terpengaruh pada api tersebut, dan semakin mendekati Flora yang berusaha meningkatkan energi serangannya. Keringatnya bercucuran, ia tahu, ia hanya menguasai sampai teknik ketiga, jika dia tidak memusnahkan nyala api neraka itu, maka nyawanya pasti melayang.

Anggota Sekte Serigala Bintang Hitam tampak was-was, namun lebih tenang. Mereka tahu, bahwa teknik kedua Dandelion Beku cukup untuk mementahkan semua teknik mereka, dan teknik ketiga cukup memusnahkan mereka semua. Tidak keliru jika memang mungkin seluruh armada mereka kalah. Hanya saja kali ini, lawan adalah murid yang masih hijau, tidak memiliki energi dasar yang cukup, mereka beruntung bisa menang kali ini. Setidaknya, membalas kekalahan dan hinaan yang lalu.

Orang-orang dari Puncak Benderang dan Yoria tampak panik, mereka berteriak, dan berdoa. Beberapa meminta Flora keluar dari arena, mereka tidak tega melihat instruktur mereka cedera.

Flora bergeming, dia melepas seluruh luapan energinya, sinar dandelion menyempit dengan cepat dan fokus pada api serigala yang bergerak cepat turun ke bawah. Jika dia harus kehilangan nyawa, dia tidak akan mempermalukan gurunya.

Api serigala semakin membesar dan menyatakan mana energi tempur yang lebih digjaya, rahangnya siap melumat tubuh mungil Flora. Namun Flora hanya berdiri dan tersenyum, dia masih ingat ingin mengajak sepupunya berkeliling…

Dia masih ingat ingin bersama semua yang sudah dia anggap sebagai keluarga di puncak benderang. Dan air matanya menetes, dia ingat seseorang yang selalu bersamanya, yang dia goda dan dia kerjai, seseorang yang seumuran dengannya dan selalu tak acuh. Dia ingin bertemu lagi, tapi mungkin tidak sempat.

Dia melihat seluruh pandangannya telah berubah menjadi nyala hitam mengerikan yang menutup langit, kakinya gemetar menyangga tubuhnya, tangannya yang membentuk muda jatuh, dan dia tidak ingin menyesal sebelum terlambat, dia ingin memanggil sahabatnya untuk yang terakhir kali…

Vasu……..!”

Dan suara tragis itu diakhiri dengan tubuh kecil yang dilalap api hitam raksasa yang memenuhi seluruh arena. Domain Flora sudah pecah, tanah dan udara tidak lagi beku. Seluruh anggota sekte Serigala Bintang Hitam tersenyum gembira. Namun para murid puncak benderang jatuh bersimpuh dan menangis.

Instruktur…!”
“Jangan pergi instruktur…”

Air mata di mana-mana. Bahkan Christine hanya dapat tertunduk dan bersedih. Dia menyesal tidak menyelamatkan sepupunya, dia bisa saja membantu, tapi dia tidak boleh campur tangan, dia berharap Mahaguru membantu di detik-detik terakhir, tapi Mahaguru hanya diam. Mungkin memang benar Mahaguru tidak akan melanggar etika pertempuran, tapi tidak menyelamatkan murid sendiri, itu sungguh… Christine hanya bisa mengepalkan tangannya dan menahan marah.

Semua orang memandang pada nyala api yang berkobar.

Jadi hanya seperti ini kemampuan murid utama Puncak Benderang, sungguh menyedihkan, kukira dia hebat, baru dengan sedikit tamparan saja sudah tidak kuat.” Kon tampak bangga melumat tubuh anak kecil di dalam api di bawahnya.

Kesedihan melanda penghuni Puncak Benderang dan Yoria.

Sebelum tiba-tiba, nyala api menciut dan seketika menghilang. Yang membuat kedua belah pihak kaget.

Sebuah bola putih bersinar sejuk mengambang di atas arena. Simbol sihir Dandelion Beku melingkupi keindahan bola bersinar itu. Dan di dalamnya tampak si kecil Flora yang duduk bersimpuh dan bersandar di dinding dalam bola. Napasnya pendek dan wajahnya masih pucat. Semua orang bisa melihat bahwa dia kehabisan energi murni.

Lutz! Kamu tidak tahu malu ikut campur dalam pertandingan antar para murid!” Si tua Oregeon berteriak.

Mahaguru hanya tersenyum, “Maaf kawan, tapi itu bukan aku.”

Apa…?”

Semua orang kaget. Meskipun hanya legenda, semua orang tahu bahwa teknik ketujuh dari Dandelion Beku adalah ‘Perisai Suci Beku’, dikatakan bisa menahan serangan apapun dan berwujud bola putih bersinar. Dan di hadapan mereka sangat mungkin itu merupakan teknik ketujuh. Kecuali Mahaguru, hanya murid utama pertama, kedua dan ketiga yang menguasai teknik ini, tapi mereka semua sedang tidak ada di sini.

Bohong!” Teriak Emas Hitam yang tahu kemungkinan itu, “Selain kamu Lutz, siapa lagi yang bisa menggunakan teknik ini di sini dan saat ini?!”

Aku!” Sebuah jawaban menggelegar dari bukit di sebelah Balairung Agung, dan sosok anak laki-laki seusia Flora melayang turun ke arah arena sambil membawa kotak panjang.

OH…! Itu Tuan Muda Vasu.”
“Tuan Muda Vasu sudah kembali.”
“Ternyata Tuan Muda ada di sini, hore….!”
“Dengan ini, mereka semua akan dilibas!”

Para murid madya dan nirta semuanya bersorak. Mereka seakan menyambut sosok pahlawan. Flora hanya tersenyum lemah dari dalam bola putih, air matanya menetes, namun bukan karena sedih. Tapi orang lain termasuk masyarakat Yoria dan para tamu tidak mengenal Vasu, mereka hanya melongo keheranan, apalagi anggota Sekte Serigala Bintang Hitam.

Vasu melangkah menyentuh bola tersebut, dan seluruh simbol sihir yang meliuk mulai meninggalkan bola, seperti dandelion yang diterbangkan angin. Flora jatuh di dekapan Vasu, dan mereka saling memandang.

Siapa kamu?” Oregeon bertanya pada Vasu.

Tapi Vasu hanya menatapnya dingin dan berkata, “Aku adalah Vasu.”

Sebelumnya

Naskah 1 - Dandelion Beku

Tetes-tetes air dari stalagtit terdengar menggema bersama dengan langkah kaki pria paruh baya yang menyentuh lantai beku gua purba. Tembakan sinar lampu dioda berkekuatan sedang yang berayun-ayun membuat sejumlah terang yang cukup di depan, namun tidak terlalu bermakna karena terhalang ... Read more

Selanjutnya

Naskah 3 - Pedang Pusaka?

Gunung Tienz, Lembah Para Naga. Seorang pria tua duduk menghadap menghadap meja batu sambil menuangkan secangkir teh hangat. Wajahnya ringan tanpa beban, walau tidak bisa menyembunyikan kerutan yang dua tahun terakhir bertambah dalam. Selama sejuta tahun dia telah menjaga makam ... Read more