Gerakan pedang seakan menari dengan tenang dan anggun, pelan menghanyutkan. Meskipun pelan, namun dalam sepuluh hembusan napas, lebih dari seratus gerakan sudah muncul dari tangan mungkin Vasu – seolah-olah melukis pada kanvas udara bebas. Kadang gerakan ini memberikan gerakan angin yang hangat, gelombang yang panas, getaran yang sejuk, atau aura dingin membekukan dengan tak putus-putus.

Dalam bagai samudra, tinggi bagai langit. Sederhana seperti sebuah siulan, sekaligus rumit seperti orkestra megah. Meriah seperti langit malam dengan sungai-sungai bintangnya, tenang seperti langit biru membentang tanpa awan.

Ketika orang berpikir pedang itu akan bergerak, ternyata justru diam. Ketika orang berpikir pedang itu berhenti, justru bergerak tak putus-putus.

Antara Te’oma dan Gaetana yang sudah mempelajari pedang selama ratusan tahun, mereka bisa mengaku bahwa di antara seribu pendekar pedang terbaik – walau bukan terkuat – mereka bisa bersaing dengan lima puluh peringkat teratas. Namun di hadapan permainan pedang Vasu, mereka dipaksa tunduk seperti melihat matahari yang menyilaukan.

Dengan membaca kitab Pedang Empat Musim, mereka sudah bisa memasuki satu dari selaksa langkah untuk mengungkap misterinya. Namun setelah melihat tarian Pedang Empat Musim langsung dari penciptanya, mereka tahu bahwa setiap langkah dari selaksa langkah tersebut begitu jauh seperti melintasi sepuluh cakrawala.

Memanfaatkan apa yang ditampilkan oleh Vasu, maka Te’oma dan Gaetana perlahan-lahan mencerna wawasan yang mereka terima. Dengan wawasan yang semakin mendalam, pemahaman ilmu pedang mereka seakan melompat hingga langit ke tujuh. Jika sebelumnya mereka berani berkata bahwa bersaing di lima puluh peringkat teratas, kini mereka berani berkata bahwa mereka dapat bersaing di dua puluh peringkat teratas di Tanah Ema setelah lebih dari dua jam menyaksikan Vasu memainkan pedang dengan nyaris tak berkedip. Kecintaan mereka akan pedang sungguh mengagumkan.

Pada akhirnya, Vasu berhenti dan menghembuskan napas panjang, lalu melirik ke arah keduanya. “Apa yang kuperlihatkan barusan, kurasa dapat kalian capai dalam dua puluh tahun ke depan. Selama kalian giat berlatih, maka hal ini tidak-lah mustahil. Dan setelah kalian mencapai tahapan ini, maka kemudian…”

Vasu berhenti, dan menutup matanya. Dia tidak menggerakkan pedangnya, membuat suasana hening yang tidak biasa.

Semua warga yang melihat bingung, terutama anak-anak. Setelah memperlihatkan jurus-jurus pedang yang hebat, mengapa sekarang dia hanya diam?

“Oh…, itu…?” Christine terbelalak melihat – dia ragu, utamanya karena dia tidak percaya.

“Rupanya, Nona Rhein juga bisa merasakannya?” Gaetana berkata pada Christine namun pandangannya tetap pada Vasu.

“Apa yang kalian bicarakan, mengapa aku tidak melihat atau merasakan sesuatu yang aneh?” Ellena dan yang lainnya kebingungan.

Gaetana hanya tersenyum, dia lalu mengeluarkan sebuah cermin bulat kecil dari dalam lipatan jubahnya. Dengan seksama, ia membiarkan sinar surya jatuh pada permukaan cermin dan dipantulkan dengan terarah ke sekitar Vasu yang terlindung oleh teduhnya rerimbunan pohon tua.

Lalu, semua yang menyaksikan tidak bisa menahan decak keheranan mereka. Seperti melihat langit runtuh, mengerikan sekaligus tidak percaya.

Setiap berkas cahaya yang dipantulkan lurus ke sekitar Vasu tiba-tiba saja terpotong dengan seketika, ada yang jatuh ke tanah, ada yang tergeser – seperti buluh bambu yang terpangkas di udara. Hanya saja ini bukan buluh bambu, tapi berkas cahaya.

Tidak ada berkas cahaya yang bisa menembus tubuh Vasu, semua orang bisa melihat setiap berkas cahaya yang mendekat akan tertebas tanpa ampun. Terdapat ruang ranah kalibut yang tak kasat mata di sekitar tubuh kecil Vasu yang bergeming. Sebuah wilayah yang sanggup menundukkan dan membuat hukum alam tidak berdaya.

“Kami menyebut apa yang ada di sekitar Tuan Muda Vasu sebagai ranah pedang.” Te’oma menyampaikan ini pada yang lain. “Pengguna pedang yang hanya memakai pedang sebagai senjata tidak akan memiliki ranah pedang. Hanya mereka yang benar-benar memasuki jalan pedang bisa melepas ranah pedang. Tapi kebanyakan ranah pedang yang kami saksikan selama ini selalu dihasilkan dari gerakan dan jurus tertentu, sehingga membuat wilayah di sekitar orang tersebut akan menjadi dalam kuasanya. Bahkan hampir setiap teknik yang digunakan oleh pendekar pada tahapan tertentu pemahamannya akan bisa menghasilkan ranah mereka sendiri. Ini adalah puncak dari pemahaman terhadap ilmu olahdiri masing-masing, entah mereka menggunakan tangan kosong, pedang, tombak, busur panah, atau senjata lainnya. Bahkan para penyihir bisa membangun ranah mereka menggunakan elemen terkuat mereka, demikian juga pendekar yang menggunakan elemen dalam olahdiri mereka, misalnya Puncak Benderang kami memiliki gebrakan ranah ‘Langkah Tanah Beku’ sebagai pembuka.”

Mendengar penjelasan Te’oma, mereka yang tidak begitu paham apa yang terjadi mulai menganggukkan kepala. Tentu saja mereka pernah mendengar tentang ranah para ahli. Pendekar atau penyihir yang mencapai tahap membentuk ranah mereka bisa dikatakan memiliki benteng yang tak tertembus, atau dukungan semesta akan keberadaan mereka, sebagaimana kisah legendaris mahaguru Puncak Benderang dengan ‘Langkah Tanah Beku’ konon bisa menghentikan laju sejuta bala tentara.

Jika saja Christine tidak yakin memiliki kekuatan dasar yang jauh melebihi Vasu saat ini, maka dia percaya jika mereka dalam posisi seimbang – maka Naga Biru Langit-nya akan serta merta tercincang habis jika mencoba menerobos masuk ke dalam ranah Vasu. Sekali lagi, sebagai orang yang menyandang gelar salah satu jenius muda di Tanah Ema – ketika melihat Vasu, ia seperti seekor katak yang baru keluar dari tempurung untuk melihat langit.

Christine menghela napas panjang, “Melihat sedemikian hebatnya sebuah ranah pedang, haruskah dulu aku memilih lebih mendalami pedang dibandingkan menggunakan busur panah.” – batinnya sedikit iri, namun wajah manisnya tetap tersenyum. Ia memiliki alasan yang lebih banyak lagi untuk bersaing dengan Vasu.

 

Sementara itu, tidak jauh dari sana – di salah satu menara pengawas yang kosong, atau setidaknya tampak kosong. Dua pasang suara tengah asyik bercakap-cakap.

“Oh, anak itu bisa menggunakan ranah pedang, dan bahkan ranah pedang yang sangat ekstrems. Di Tanah Ema, aku belum pernah melihat pendekar yang mampu menggunakan teknik pedang sedalam itu.”

“Kakak, apa yang sudah kubilang padamu. Jika dia hanya anak biasa, bagaimana mungkin Ema memilihnya, dan bagaimana mungkin Yang Mulia Rukh Kalpavriksha bersedia mengikat diri dengannya?”

“Benar, bahkan di antara kita para ruh dan ruh agung, tidak satupun yang mampu melakukan apa yang anak itu lakukan seperti sekarang. Mengacaukan ruang dan memangkas waktu sesuka hatinya, dan tampak begitu mudah dan sealami bernapas baginya.”

“Apakah ini yang disebutkan dalam legenda itu?”

“Hmm… penguasa ruang dan waktu… mungkin saja. Sebelumnya, hanya Yang Mulia Rukh Kalpavriksha yang layak disebut sebagai penguasa ruang dan waktu. Saat ini, yang bernama Vasu mungkin hanya sampai pada tingkatan Raja Ruang dan Waktu, ada sejumlah tingkatan lagi yang harus dicapainya sebelum benar-benar menjadi penguasa. Tahapan raja, kaisar, dewa, mistik, kosmik, dan pada akhirnya barulah dia bisa sampai sebagai penguasa ruang dan waktu.”

“Jika saja saat itu Yang Mulai Rukh Kalpavriksha tidak bersikeras melindungi Ema, mungkin saat ini dia sudah mencapai puncak kejayaannya – dan mereka yang berasal dari dunia arwah tidak akan diolok-olok oleh dunia lainnya.”

“Jangan berkata demikian, Yang Mulia saat itu datang ke dunia kita hanya untuk satu tujuan, melindungi Ema. Kita tidak tahu darimana Yang Mulia berasal, dan kita tidak tahu apa rencananya. Bahkan kita menduga baik Yang Mulia Rukh Kalpavriksha maupun Ema – keduanya telah jatuh ke dalam tidur abadi. Tapi seperti tidak demikian.”

“Kakak, apa yang terjadi belakangan ini sepertinya membuatku tidak bisa tenang.”

“Tidak hanya kamu, bahkan seluruh dunia arwah bisa merasakannya. Kita tidak tahu apa yang akan datang, tapi jika datang, kurasa kita tidak akan bisa berbuat apa-apa. Dunia Eon mungkin akan berubah sepenuhnya, bahkan melebihi masa-masa ekspansi para naga jutaan tahu lalu.”

“Apakah menurut kakak dia akan sampai pada tingkatan seperti Yang Mulia Rukh Kalpavriksha?”

“Ya, pastinya, bahkan naluriku berkata bahwa dia bisa melangkah lebih jauh lagi – jika tidak ada yang memenggal kepalanya hingga saat itu tiba tentunya.”

“….”

Keduanya hening sejenak.

“Namun tetap saja masih terasa ada yang mengganjal di pikiranku.”

“Maksud kakak?”

“Yang Mulia Rukh Kalpavriksha karena karakter mulianya, bisa dikatakan penuh akan welas asih. Tapi pada anak ini, hanya ada kekosongan yang begitu luas. Kadang terisi warna putih yang cemerlang, kadang hitam pekat yang kelam. Meski pun tidak bisa dirasakan begitu saja, tapi kedua tangan kecil itu adalah tangan yang berlumuran darah. Jika benar seperti ceritamu sebelumnya, maka dia jenis orang yang bisa melepas anak panah tanpa perlu berpikir benar dan salah.”

“Apa maksud kakak adalah….”

“Ya, tidak terang maupun tidak gelap, namun juga terang sekaligus gelap. Dia bisa mendatangkan zaman yang penuh kedamaian, namun juga bisa mendatangkan mahapralaya. Atau dia mendatangkan semuanya. Katakan, bagaimana aku tidak merinding jika membayangkan hal ini?”

“Jika anak ini membawa bencana di masa depan, apakah ada yang dapat menghentikannya?”

“Apa menurutmu sekarang ada yang dapat menghentikannya di Tanah Ema?”

“Saat ini hanya mereka yang setingkat murid utama bisa menahannya imbang – itu pun jika dia tidak bersungguh-sungguh. Kekuatan fisiknya hanya setara sekitar sapta dasa bala, namun hrdaya batinnya mengagumkan – seindah emas murni, dan jika dibakar sepenuhnya – mereka yang mencapai tahapan mahaguru baru mampu menahannya.”

“Benar sekali, dan jika melihat usianya – apa ada yang mencapai tahapan mahaguru, sanku shakti, pada usia belia. Bahkan mereka yang digolongkan jenius baru memasuki tahap guru shakti pada usia dua kali anak ini, dan mencapai tahapan penuh guru shakti pada usia empat kalinya, dan baru mencapai tahapan mahaguru pada usia delapan kalinya. Anak ini berkembang delapan kali, mungkin lebih cepat lagi dibandingkan kumpulan jenius di Tanah Ema. Bayangkan apa yang terjadi dalam beberapa puluh atau ratusan tahun lagi.”

“Apakah kakak berkata anak ini akan mungkin memasuki tahapan Ardharathi atau Rathi dalam waktu dekat? Itu rasanya tidak mungkin. Tidakkah itu bermakna dia akan … akan mencapai tingkat asura suatu saat nanti?”

Suara yang lebih mudah itu bergetar. Tidak berani membayangkan apa yang dia ketahui lebih jauh lagi.

“Adik, bukan tidak mungkin. Bukankah semua dewata pada awalnya lahir dari mereka yang mencapai tahap asura? Dan bukankah semua yang pernah didatangkan Ema setidaknya mencapai tingkat ini?”

Keduanya kembali diam, ingatan dari berjuta-juta tahun kembali diputar secepat kilat. Ratusan anak manusia yang pernah dipanggil oleh Ema ke tanahnya sejak permulaan waktu semuanya bisa mencapai tahapan asura, baik yang kemudian menggemparkan dunia atau yang diam dalam seklusi dari kebisingan dunia. Meskipun mereka berada dalam tingkat asura, bahkan dewata pun tidak berani meremahkan mereka, setidaknya demikian cerita yang diwariskan di dunia arwah terbalut dalam mitos dan legenda.

Salah satu legenda di dunia manusia, satu-satunya anak manusia di Tanah Ema yang mencapai tingkat mahamaharathi adalah pendiri Kekaisaran Bren, hanya satu tingkat di bawah asura. Tapi satu tingkat ini bagaikan bumi dan langit bagi manusia biasa.

Sehingga selain yang ‘dipanggil’ oleh Ema ke tanah ini. Tidak ada manusia yang bisa mencapai tingkat asura, apalagi mencapai tingkat deva dan naik ke tanah para dewata.

“Entah kenapa perasaanku mengatakan, anak ini bisa mencapai tahapan asura tidak lama lagi. Namun dia tidak akan terikat hukum para aditya maupun danava, dan tidak terikat hukum para dewata.”

“Apakah itu tidak berbahaya Kak?”

“Aku tidak tahu, tapi semua ini akan kusampaikan pada para tetua.”

“Maksud Kakak, akan menyampaikan hal ini pada Konsili Mahayaksha?”

“Segala sesuatu yang terjadi di satu dunia, akan memengaruhi dunia lainnya. Dunia manusia, alam surga para dewata, dan dunia arwah para yaksha, dan alam bawah para bhuta, dan dunia-dunia lainnya. Terutama alam manusia dan dewata, jika keduanya saling berhubungan – sesuatu yang besar akan terjadi. Jika anak ini mencapai tingkat kedewataan, maka dia akan membawa perubahan besar di Tanah Ema, semua alam lain yang terhubung dengan Tanah Ema akan mau tidak mau terpengaruh. Lagi pula, tampaknya bukan hanya kita para ruh yang berminat dengan anak ini?”

“Maksud kakak, sejumlah bayangan yang selalu mengikuti Vasu dan kelompoknya? Aku bahkan tidak tahu siapa mereka, hanya saja melihat anak tersebut tidak menyadari dirinya diikuti – kelompok ini pasti tidak biasa.”

“Seandainya tidak ada darah yaksha mengalir dalam tubuh kita, maka kita mungkin juga sama tidak sanggupnya menemukan keberadaan kelompok lain. Namun anak ini masih hijau, dia mungkin tidak mempertimbangkan ada sekelompok maharathi mengikutinya, dan jika pun dia ingin – dia tidak akan bisa mendeteksi kehadiran kelompok ini.”

“Sekelompok maharathi…, jika para ahli di Tanah Ema mendengar hal ini, maka dunia akan gempar. Mereka pasti datang dari luar Tanah Ema. Tapi pertanyaannya, dari dunia apa, dan dengan maksud apa?”

“Aku tidak tahu, dan aku juga tidak berani untuk menyelidiki lebih jauh. Jika kelompok pengintai mereka saja terdiri para maharathi, maka kemungkinan yang ada di pucuk pimpinan bisa jadi bukan tokoh sembarangan. Di empat belas loka, dan jutaan dunia, ada terlalu banyak kekuatan yang tidak selalu muncul ke permukaan, terutama mereka yang telah ada sedari awal terciptanya ruang dan waktu. Tidak bijak jika kita – tanpa sengaja – menyinggung orang-orang ini. Mari berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk di Tanah Ema.”

“Apakah kita sedang menyaksikan sejarah di mana sedang berawalnya era yang sanggup melahirkan seorang penguasa ruang dan waktu?”

Keduanya terdiam, melihat sejenak ke arah Vasu – dan kemudian menghilang dari tempat itu dengan hati yang berat.

Sebelumnya

Naskah 19 - Kitab Pedang Empat Musim

Jika seseorang ingin menyimpan rahasia, maka sebaiknya rahasia benar-benar terpendam atau tersembunyi – namun tidak di tempat yang kentara, tapi di tempat yang paling alami dan paling tidak terduga. Rahasia yang paling sulit dilacak adalah yang berasimilasi dalam kenormalan, bukan ... Read more

Selanjutnya

Naskah 21 - Firasat Buruk

Satu bulan itu berlalu dengan cepat, kondisi Desa Buido sudah lama pulih seperti sedia kala. Semua tampak seperti biasa, terkecuali sejumlah anak yang berlatih bela diri pada pagi hari, dan pada siang hari belajar berburu di hutan terdekat. Dengan bimbingan ... Read more