Naskah 21 – Firasat Buruk

Satu bulan itu berlalu dengan cepat, kondisi Desa Buido sudah lama pulih seperti sedia kala. Semua tampak seperti biasa, terkecuali sejumlah anak yang berlatih bela diri pada pagi hari, dan pada siang hari belajar berburu di hutan terdekat. Dengan bimbingan dan perlindungan dari dua murid madya Puncak Benderang, nyaris tidak ada yang mereka perlu khawatirkan.

Cadangan makanan seperti daging dan buah kini bisa dikatakan aman, karena anak dan para remaja yang belajar berburu setidaknya kembali membawa hasil buruan setiap malam beserta dengan sejumlah besar buah serta sayur liar. Mereka akan membawa pulang satu keranjang gendong penuh pelbagai bahan makanan – dan kemudian dibagikan ke semua rumah di desa. Kelebihannya diatur untuk ditukar dengan kebetuhan lain ke desa atau kota terdekat, seperti sandang, logam, dan garam.

Walau sandang bisa dikatakan berkecukupan di Buido, namun sering dalam kondisi yang kurang layak – terutama bagi rumah yang miskin, yang tidak memiliki pria dewasa untuk berkontribusi pada desa dan kerja. Namun dengan didatangkan sandang dari luar, semua warga desa kini bisa berpakaian dengan lebih layak.

Demikian juga dengan logam dan garam, dua komoditas yang sangat vital bagi semua pemukiman manusia. Mereka bisa membuat alat pertanian serta senjata dari logam, sementara logam mahal karena harus didatangkan dari wilayah tambang yang jauh. Demikian juga dengan garam, sebagai bumbu dapur yang esensial – biasanya hanya rumah para tetua yang memiliki garam, itu pun digunakan ketika menjamu tamu penting yang datang ke desa. Buido tidak bisa menghasilkan garam sendiri, karena jauh dari wilayah laut dan tidak memiliki area penambangan garam juga. Garam di desa kecil dan terpencil seperti Buido bisa bernilai lebih mahal dibandingkan emas. Kini penduduk setidaknya bisa mencicipi masakan dengan tambahan garam beberapa kali dalam sepekan, dan mereka sudah sangat gembira.

 

“Jangan gegabah, jangan terburu-buru, bidik sasaran kalian dengan seksama. Ingat anak panah tidak ditembakkan, namun dilepaskan. Sekali kalian melepaskan anak panah dari busurnya, maka tidak bisa ditarik lagi. Dalam banyak pertempuran ini akan menentukan hidup dan mati, adalah keputusan yang kalian buat saat melepas anak panah itu!”

Suara Te’oma mungkin terdengar menggelegar, namun hanya terdengar oleh sejumlah anak dan remaja yang mengikutinya ke dalam hutan. Teknik khusus penyampaian pesan menggunakan prana ini digunakan oleh banyak ahli dengan mudah.

Di hadapan mereka sejumlah rusa berada di padang rumput terbuka, sementara para pemburu muda ini bersembunyi di balik semak belukar yang memiliki latar kanopi hutan setinggi sepuluh hingga dua puluh meter, membuat sinar matahari tidak bisa sampai dan menyembunyikan keberadaan mereka dengan lebih baik.

Peluh membasahi sebagian kening mereka, mengangkat busur yang berat dengan tubuh kecil mereka dan menarik anak panah agar tetap stabil dengan gerakan yang sesedikit mungkin. Bagi anak dan remaja yang baru sebulan mengenal ilmu bela diri, hal ini tidak mudah.

“Bagi mereka yang ingin menempuh jalan ksatrian, menjadi pendekar atau lainnya, maka kemampuan bertahan hidup adalah hal yang paling penting. Di luar sana, ada ratusan pertarungan antara para ahli setiap saatnya di seluruh Tanah Ema. Ini pertarungan! Bukan duel semata. Di mata hidup dan mati dipertaruhkan. Dan tidak akan ada yang membantu dalam situasi seperti ini. Kalian harus bisa hidup dengan tangan kalian sendiri, dan di atas kaki kalian sendiri. Salah satu pelajaran pertama dalam bertahan hidup, adalah kalian harus bisa mengisi perut kalian sendiri. Paham?!”

“Kami paham!” Serentak suara anak dan remaja menyahut, tegas, namun tidak berani keras.

“Tapi kalian harus ingat, bahwa setiap mahluk hidup memiliki nyawa. Setiap mahluk bisa bertahan hidup berkat mahluk lainnya, termasuk ketika satu mahluk berakhir di perut mahluk lainnya. Ini adalah lingkaran kehidupan. Oleh karena kalian akan membunuh mereka, maka kalian harus memastikan bahwa kalian harus membunuh mereka dengan seketika – jangan membuat hewan-hewan malang ini melewati penderitaan yang tidak perlu.”

“Ya!”

“Bidik dengan baik, dalam hitungan sepuluh, bersama-sama lepaskan anak panah kalian. Dan jangan kalian berani menutup mata setelahnya! Sepuluh, sembilan, delapan….”

Setelah hitungan berakhir, puluhan anak panah melesat menyeberangi savana. Semuanya dengan tujuan yang sama, semnagat yang menyala-nyala. Hanya saja, latihan satu bulan bukanlah sesuatu yang bisa menciptakan keajaiban, hasilnya tentu sudah bisa dibayangkan.

 

Tidak jauh dari sana, tiga pasang mata memandang ke arah guyuran anak panah.

“Mereka cukup bagus.”

“Jika pujian itu disampaikan oleh salah satu pemanah terbaik di Tanah Ema, kurasa tidak sia-sia latihan dasar mereka selama sebulan ini.”

“Heh…, aku tidak berani mengaku yang terbaik jika ada di sebelah monster olahdiri sepertimu. Jika kamu serius berlatih menggunakan busur panah, aku pasti sudah jauh tertinggal di belakang.”

“Sejak kapan aku berubah jadi monster?”

Pasangan mata terakhir melihat dan mendengar percakapan antara kedua pasang mata di sebelahnya merasa dia tidak sedang mendengar percakapan dua anak kecil. Namun karena sudah terbiasa dengan tuan mudanya ketika di Puncak Benderang, dia sudah lama tidak merasa aneh dengan situasi seperti ini.

“Gaetana…”

“Ya Tuan Muda.”

“Dengan perkembangan mereka seperti ini, kurasa dalam enam bulan hingga satu tahun, mereka sudah bisa menguasai dasar-dasar bela diri dengan baik. Setelah itu baru ajari mereka bagaimana memanfaatkan prana dalam pertempuran yang sesungguhnya. Rusa-rusa itu hanya hewan liar biasa, setidaknya mereka harus bisa berhadapan dengan binatang buas, dan beberapa yang terbaik di antara mereka bisa berhadapan dengan raja rimba atau savana.”

“Baik Tuan Muda.”

Gaetana tidak protes sedikit pun, walau dia tahu bahwa menghadapi binatang yang masuk ke dalam golongan raja rimba sebagai raja-raja lainnya seperti savana, tundra, gurun, dan laut tidaklah mudah. Bahkan murid nitra Puncak Benderang akan menemukan hal ini sulit. Hanya murid madya yang bisa unggul satu lawan satu dengan raja rimba, dan beberapa murid madya seperti dirinya dan Te’oma mungkin bisa menghadapi lusinan raja rimba sekaligus karena bakat pedang mereka.

Tapi Gaetana percaya, tuan mudanya bukan orang yang tanpa perhitungan. Jika Vasu memberikan target itu, maka bisa dikatakan peluang tercapai sangat besar. Apalagi mereka memiliki waktu antara lima puluh hingga seratus tahun, dan tampaknya anak remaja di Buido memiliki bakat alami untuk mendalami bela diri. Beserta kitab Pedang Empat Musim, Gaetana bisa percaya diri bahwa dia dan Te’oma bisa mencapai target yang diinginkan tuan mudanya dan di saat yang sama meningkatkan kemampuan ilmu pedang mereka.

“Aku percaya padamu…” Vasu tersenyum, namun juga menghela napas panjang.

“Ada apa?” Christine bertanya curiga.

“Tidak apa-apa, aku hanya merasa akan ada sesuatu yang buruk akan terjadi dalam waktu dekat.”

“Apa? Dan kenapa kamu terkesan seperti cenayang sekarang?”

“Hanya perasaan saja, dan semoga keliru.”

 

Gelak tawa terdengar di bawah langit biru cerah. Sejumlah remaja berlompatan berlari ke arah savana untuk mendapatkan hasil buruan mereka. Dengan menggendong busur yang berat, langkah-langkah kecil mereka dengan mudah mematahkan rerumpatan dan belukar.

Sementara ratusan rusa yang tidak menjadi korban anak panah telah lama berlari menjauh meninggalkan jejak debu di belakangnya.

Dengan sigap anak-anak remaja tersebut memastikan bahwa buruan mereka telah tewas di ujung mata panah. Hanya mungkin ada satu atau dua yang masih mengeliat kesakitan, dan segera anak yang bertanggung jawab melepas anak panah memastikan penderitaan hewan buruannya tidak berlangsung lebih lama lagi.

Segera setelahnya, rusa-rusa yang tak bernyawa tersebut ditarik kembali ke dalam hutan dan kelompok ini menghilang di bawah gelapnya kanopi-kanopi raksasa.

Di sebuah area di tengah hutan, yang mereka telah siapkan sebelumnya. Tubuh rusa-rusa tersebut digantung pada dahan-dahan yang kokoh, anak-anak remaja ini mulai proses pengelohan hasil buruan mereka. Mulai dari mengeluarkan semua darah, dan menampunya di wadah tersendiri. Lalu menguliti rusa, dan memotong dagingnya dengan hati-hati.

Semua target rusa adalah rusa jantang, atau betina tua. Perburuan dilakukan secara terpilih sesuai instruksi kedua murid madya Puncak Benderang. Anak-anak ini berhasil mengingat, bahwa mereka datang untuk berburu dan bertahan hidup, bukan untuk menghancurkan populasi hewan buruan mereka. Dengan memiliki hewan buruan, mereka memastikan kelangsungan ketersediaan hewan buruan di masa mendatang.

Setiap anak menangani satu hewan hasil buruan mereka, sampai dengan proses pengasapan untuk mengawetkan daging. Jika mereka menemukan kesulitan, lima orang dari kelompok perumbu Desa Buido sudah bersiap memberikan mereka petunjuk.

Setelah semuanya selesai, mereka kembali ke desa dengan membawa buruan mereka ke balai desa di mana banyak warga desa yang sudah menunggu. Tentunya bukan hanya rusa, jika diperjalanan mereka menemukan kelinci liar yang layak diburu, mereka juga tidak menyia-nyiakan untuk melatih berburu hewan yang bergerak dengan cepat.

Beberapa orang dewasa, terutama para orang tua dengan senang menyambut putra dan putri kebanggaan mereka. Hasil buruan para remaja ini sudah sangat membantu kehidupan desa. Bahkan ketika kelompok pemburu ada, mereka tidak membawa hewan buruan sebanyak ini – setiap harinya.

Pada sore hari mereka akan berlatih bela diri lagi. Hanya saja kebanyakan waktu latihan diisi dengan meditasi untuk memperkenalkan pengolahan prana sejak dini pada anak-anak ini.

Sedangkan pada petang hari mereka diajarkan mencari tanaman herbal dan tumbuhan obat, sedangkan pada malam hari mereka belajar meramu obat, menghasilkan pil dan ramuan dengan pelbagai khasiat bagi olahdiri. Pil penguat tulang dan otot, perban penghenti perdarahan, ramuan yang melawan infeksi, hingga campuran obat pengusir serangga – semua mereka pelajari. Jika hasil ‘panen’ mereka cukup berlimpah, maka mereka bisa mandi dengan air yang berisi ramuan penguat fisik serta didampingi bakaran aroma terapi untuk menenangkan batin. Dengan keahlian baru mereka, anak-anak remaja ini bisa bereksperimen selayaknya hidup seperti raja atau ratu.

Tentu saja sejumlah besar obat dan ramuan yang mereka hasilkan masih disumbangkan untuk kepentingan desa, dijual ke desa atau kota lain.

 

Pada bulan kedua, di tempat yang dulunya tanah terbuka kini berdiri sebuah bangunan setinggi dua lantai, namun hanya berisi satu lantai saja. Wujudnya seperti dojo yang memiliki empat pintu masuk di masing-masing sisi yang menghadap Utara, Timur, Selatan dan Barat. Di dalamnya terdapat banyak pajangan senjata untuk latihan, terutama pedang, busur dan tombak.

Setiap sisi bangunan berdampingan langsung dengan jalan setapak yang cukup lebar, sehingga orang bisa mengakses dojo ini dari semua sisi.

Di setiap pintu masuk terdapat tulisan “Balairung Pedang Empat Musim” dengan huruf yang besar, dan di bawahnya tertulis, “Di sini pedang empat musim pertama kali disemai, dengan satu pedang di tangan, mengarungi empat musim, di seluruh penjuru dunia tak tertaklukan”.

Kata-kata itu dibuat oleh Te’oma dan Gaetana, mereka percaya bahwa ini akan membawa semangat dan rasa bangga bagi setiap orang yang hendak belajar kitab pedang empat musim. Sebuah kitab pedang yang pertama kali dapat diakses oleh masyarakat awam dan tidak disembunyikan di balik peti rahasia perguruan atau sekte tertentu. Sebuah teknik pedang yang mereka sendiri saksikan sambut mengguncang seluruh Tanah Ema.

Selain itu, sebagai generasi pertama ‘pewaris’ kitab Pedang Empat Musim, Te’oma dan Gaetana merasa seperti ditunjuk oleh Dewa Pedang untuk mengemban misi meningkatkan ilmu pedang di seluruh Tanah Ema.

Tentu saja setelah dua bulan, masing-masing anak dan remaja ini sudah mulai menentukan jalan mereka. Tidak semua memilih jalan pedang, beberapa lebih suka menggunakan tombak, dan yang lain lebih nyaman dengan busur. Hanya sekitar sembilan orang anak dari semuanya yang masih rutin mempelajari ilmu pedang dari Te’oma dan Gaetana, salah satunya adalah si kecil Renatta.

“Renren, kamu belajar dengan sangat cepat. Ah…, jika kamu belajar terlalu cepat, kakakmu ini akan cepat tertinggal di belakang.”

Setelah dua bulan memerhatikan semua anak, tentu saja Gaetana tahu perkembangan masing-masing anak. Namun satu anak yang Renatta ini sangat cepat dalam menangkap penjelasan mereka dalam menerapkan jurus-jurus pedang, bahkan bisa dikatakan mengerikan, sesuatu yang anak biasa pelajari dalam satu atau dua tahun akan bisa diterapkan Renatta dalam satu atau dua jam. Ini kadang membuat Gaetana memberikan waktu esktra bagi Renatta dalam sebuah ‘kelas eksklusif’ – karena gadis kecil ini tidak sulit berkembang optimal jika harus ikut ‘kelas reguler’ bersama anak lainnya.

Dan yang membuat Gaetana kaget bahwa, wawasan Renatta akan Pedang Empat Musim sering kali lebih dalam dibandingkan Gaetana dan Te’oma. Namun si kecil justru terlihat canggung dalam dasar-dasar menggunakan pedang, seperti bagaimana dia masih sering keliru dalam menggenggam pedang, atau di akhir latihan dia tampak kebingungan karena lupa di mana meletakkan sarung pedangnya. Percaya atau tidak, dalam waktu singkat Renatta berhasil mencuri perhatian kedua murid madya ini.

Mungkin hal ini juga yang diharapkan oleh Vasu. Walau dia bisa meminta Te’oma dan Gaetana untuk menjaga Renatta, namun dia tidak menyatakannya secara langsung. Dia lebih memilih mengatakan untuk menjaga desa Buido selama lima puluh hingga seratus tahun, dan melatih anak-anak muda di Buido bela diri. Namun membiarkan bakat Renatta mengambil alih perhatian keduanya, sehingga mau tidak mau, Gaetana dan Te’oma akan tergerak untuk menjaga Renatta dengan sebaik-baiknya. Bagi Vasu, lebih baik Gaetana dan Te’oma menjaga Renatta karena memang mereka inginkan dibanding karena mereka diminta untuk itu.

Melihat aktivitas di dalam dojo, Vasu bisa bernapas lega. Setidaknya dia bisa yakin, semua yang di sini akan berjalan dengan baik. Hanya saja masih ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak tenang, dan dia tidak suka perasaan seperti ini – yang datang tanpa sebab yang jelas.

Sudah dua bulan dia merasakan perasaan ini, seperti bencana yang tidak terelakkan. Dia tidak bisa membaca tanda alam, tidak bisa membaca bintang, apalagi meramalkan masa depan. Tapi entah kenapa, sesuatu membuatnya kejernihan pikiran terganggu.

 

Tiba-tiba di cakrawala Selatan tampak seberkas sinar putih meluncur dengan cepat menuju Desa Buido, dengan aura yang dingin yang mencekam.

Vasu segera melesat menuju perbatasan Selatan Buido, dia tahu cahaya putih tersebut – dan dia tahu firasat buruknya mungkin akan menjadi kenyataan. Pun demikian, tidak ada kekhawatiran di raut wajahnya.

Te’oma dan Gaetana segera menyusul, demikian juga dengan Christine. Dua orang dari Puncak Benderang tahu apa yang sedang melesat cepat menuju ke arah mereka, sementara Christine bisa menduga.

Tidak lama kemudian, kedatangan berkas cahaya putih tersebut mulai menampakkan wujudnya. Vasu dan yang lain bisa melihat, seekor burung paragon bercahaya – feniks dengan nyala api putih.

Ketika burung tersebut mendekat ke arah Vasu, wujudnya berubah menjadi orang tua dengan jubah panjang dan tatapan mata yang syahdu.

Melihat ini, kedua murid madya Puncak Benderang setengah berlutut dengan satu kaki sambil memberi salam hormat, “Salam Kakek Guru.”

Meski pun demikian, wujud Lutz tidak menunjukkan perubahan raut wajah. Hal ini karena yang ada di situ bukan dirinya, namun bagian dari ingatan yang dikirim menggunakan prana – sehingga mewujud seperti sang mahaguru sendiri.

Wujud ini melihat Vasu, “Ini adalah pesan yang kusampaikan dengan tergesa-gesa. Dengarkanlah baik-baik. Murid Utama Flora menghilang di perbatasan Hutan Kabut Ungu. Segera temukan jejaknya, jika memungkinkan bawa dia kembali pulang ke Puncak Benderang.”

Begitu pesan itu tersampaikan, wujud Lutz pecah menjadi ribuan keping cahaya yang jatuh ke bumi, meredup dan hilang.

“Apa…? Hutan Kabut Ungu?” Christine tampak terkejut dan panik. “Vasu, ini tidak bagus… sama sekali tidak bagus.”

Vasu tahu betapa seriusnya situasi ini, jika ada neraka di atas Ema…, maka Hutan Kabut Ungu layak mendapatkan sebutan itu. Dia mengepalkan kedua tangannya dengan erat, dan keputusan bulat sudah ada dalam batinnya.

Sebelumnya

Naskah 20 - Penguasa Ruang dan Waktu

Gerakan pedang seakan menari dengan tenang dan anggun, pelan menghanyutkan. Meskipun pelan, namun dalam sepuluh ... Read more

Selanjutnya

Naskah 22 - Tiba di Bikendi

Setiap orang yang mendengar nama Hutan Kabut Ungu, hatinya akan gemetar ketakutan – kecuali mereka ... Read more