Setiap orang yang mendengar nama Hutan Kabut Ungu, hatinya akan gemetar ketakutan – kecuali mereka benar-benar tidak pernah mendengar nama tempat tersebut. Hutan Kabut Ungu merupakan legenda yang tabu untuk dibicarakan, setiap kali namanya disebut – suara yang menyebut Hutan Kabut Ungu selalu redup seakan tidak ingin angin membawa pergi kata-katanya. Tidak ada yang ingin mendapatkan kutukan dari tempat tersebut, takut bahwa ‘penghuni’ Hutan Kabut Ungu mendengar percakapannya.

Orang-orang mulai berbisik-bisik mengenai kabar ini.

Selain menyeramkan, kisah dan mitos seputar Hutan Kabut Ungu juga melahirkan legenda. Dalam catatan sejarah Tanah Ema, sejumlah tokoh legendaris pernah menjadikan Hutan Kabut Ungu sebagai Kawah Candradimuka mereka. Beberapa kaisar dari Kekaisaran Bren pernah menjadikan ‘kunjungan’ ke dalam Hutan Kabut Ungu sebagai pembuktian kelayakan mereka untuk naik tahta. Dan ketika mereka kembali dari situ, mereka berubah sepenuhnya, aura mereka konon bak dewata yang menitis ke alam manusia.

“Aku pergi.”

Vasu hanya cukup mengatakan satu kata, dan semuanya menjadi kembali hening.

“Aku ikut.”

Christine juga tampaknya tidak perlu berpikir terlalu lama.

“Jangan, Christine – tinggallah di sini. Jangan ikut denganku.”

“Kamu tidak bisa menahanku Vasu.” Aura gadis kecil itu berubah drastis, seluruh perhatiannya bergumpal menjadi keseriusan yang pekat. “Flora adalah sepupuku, dan nasibnya di luar sana tidak pasti, dan dia kemungkinan berada di tempat yang paling buruk di seluruh Ema. Jika kamu pikir aku akan diam, aku tidak akan tinggal diam!”

Suara kecilnya bergema, dan semua orang bisa mendengar dengan jelas gadis kecil ini tak memiliki rasa takut.

Vasu menghela napas panjang, irisnya yang cokelat merona menatap ke dalam sepasang iris biru yang memesona dan tengah berkaca-kaca. Vasu paham, seseorang bisa melatih tidak memunculkan rasa takutnya, namun bukan berarti tidak ada rasa takut di sana.

“Pertama-tama.” Vasu berkata pelan, namun sangat jelas, “Aku bisa menahanmu. Kamu tahu itu Christine.”

“Dan kedua.” Vasu melanjutkan, “Jika dia bukan sepupu dekatmu, apa yang akan kamu lakukan?”

“Eh…” Christine tersentak, pikirannya yang baru saja diburu oleh kekacauan mendadak tersentak, dan semua kekacauan tersebut runtuh.

Di balik tubuh kecilnya, bagaimana pun juga Christine adalah penyandang gelar jenius muda Tanah Ema. Dua kalimat dari Vasu menjadi pemicu kesadarannya kembali, yaitu berpikir secara jernih dan mempertimbangkan dengan seimbang. Kedekatannya dengan Flora membuat Christine menjadi berat sebelah dalam mengambil keputusan yang terburu-buru.

Keputusan yang diambil secara tergesa-gesa dan dalam kondisi batin yang keruh bisa membuat seseorang melewatkan hal-hal yang penting dalam pengambilan keputusan tersebut. Dengan demikian, Christine menenangkan pikirannya.

“Lalu apa saranmu Vasu? Aku hanya tidak ingin diam saja di sini menunggu.”

“Jika kamu memang benar-benar ingin ikut serta, katakanlah, seberapa besar kemungkinanmu bisa keluar dari Hutan Kabut Ungu setelah masuk ke dalamnya?”

“Aku tidak yakin, guru pernah berkata, dia paling banyak memiliki kemungkinan satu di antara seribu untuk bisa keluar hidup-hidup dari Hutan Kabut Ungu. Itu tentu saja tidak memperhitungkan luka atau cedera serius yang diderita hanya untuk mendapatkan kemungkinan keluar hidup-hidup. Dan guru adalah salah satu puncak kekuatan para ahli di Kekaisaran Bren. Jika dibandingkan dengan diriku sendiri, maka aku sangat jauh dari itu.”

Christine menundukkan kepalanya, kini jika dia berpikir kembali dia ingin menerobos Hutan Kabut Ungu, seberapa besar kesempatannya berhasil? Itu pun termasuk kemungkinan menemukan sepupunya, Flora. Mungkin satu di antara sejuta? Ah, itu seperti berharap pada keajaiban saja.

Mereka yang mendengar pernyataan Christine juga terdiam. Apalagi warga biasa, bagi orang-orang ini, kembali membayangkan kengerian Hutan Kabut Ungu sungguh membuat mereka bergidik. Jangan-jangan hanya dengan memandang Hutan Kabut Ungu dari kejauhan sudah membuat sang nyawa lompat dari badan mereka.

“Bagus jika kamu menyadari hal itu.” Kata-kata Vasu kembali terdengar tenang. “Tapi menyadari itu saja tidak membantu lebih banyak dari itu.”

“Aku tahu.”

“Jika Christine menanyakan apa saran dariku. Maka saranku kamu tetap tinggal di sini, atau tidak ikut masuk ke dalam Hutan Kabut Ungu. Jika kamu tetap ingin menerobos ke dalam Hutan Kabut Ungu, keberadaanmu akan hilang dari Tanah Ema sebelum menjadi legenda.”

“Aku mungkin tidak memiliki kemampuan, tapi aku masih memiliki keterikatan dengan Flora. Jika dia berada di posisiku, kurasa dia akan melakukan tindakan bodoh yang serupa. Dan jika pun aku tidak kembali, maka aku bukanlah jenius muda pertama dalam sejarah Ema yang musnah sebelum puncak pencapaiannya. Namun jika itu membuat sedikit kemungkinan aku bisa menolong Flora, maka bagiku itu sudah cukup.”

Vasu menggelengkan kepalanya, karena dia tahu bahwa gadis berambut keemasan ini tidak akan mengubah keputusannya. “Baiklah jika demikian, jika ini akan menjadi perjalanan terakhirmu, setidaknya kamu tidak menyesalinya Christine.”

Semua yang mendengar kata-kata Vasu memandang Christine dengan mata yang berembun. Gadis kecil ini kelak bisa menjadi puncak legenda kekuatan di Tanah Ema, namun dia lebih memilih menolong sepupunya dan musnah bersama upaya itu, tidak ada yang pernah bisa selamat dari ‘kutukan’ Hutan Kabut Ungu. Setidaknya para orang dewasa bisa berpikir demikian.

Tapi di balik kegelisahan banyak orang, wajah Christine dihiasi senyuman yang misterius. “Aku tidak akan menyesal.” Katanya dengan tenang. “Dan aku juga tidak akan khawatir, karena kamu ada di sisiku.” Katanya dengan tawa kecil yang menggoda.

“Aku…?” Vasu agak keheranan karena tidak menduga datangnya kata-kata Christine tersebut.

Tentu saja juga orang lain yang mendengar pernyataan gadis kecil itu juga keheranan.

“Vasu, jika aku harus mencari seluruh orang di Tanah Ema yang tanpa rasa takut masuk ke dalam Hutan Kabut Ungu, mungkin orang seperti itu tidak ada. Tapi jika aku mencari orang yang bisa keluar masuk Hutan Kabut Ungu dengan sesuka hatinya – maka setidaknya aku bisa menemukan satu orang yang saat ini ada di hadapanku.”

Ahh… Semua orang terkesima. Jika bukan salah satu jenius muda Tanah Ema yang mengatakannya, mungkin mereka akan menganggap semua itu angin lalu.

Kedua murid madya Puncak Benderang setelah berpikir sejenak juga menganggukkan kepala mereka. Kekuatan Tuan Muda mereka mungkin tidak sebanding dengan para jenius muda, namun ada sesuatu yang membuat mereka merasa merinding jika harus berhadapan dengan tuan muda mereka dibandingkan berhadapan dengan salah satu jenius muda. Seperti kata pepatah, samudra dalam mungkin terlalu rendah untuk menyaingi gunung tinggi dalam membelah angkasa, namun sekali samudra bergejolak, langit pun tak akan bisa tenang.

Maka bisik-bisik di antara masyarakat Desa Buido tidak terhindarkan, walau suara mereka dibuat sangat kecil dan pelan.

“Apa yang membuatmu berpikir demikian?”

“Vasu, seberapa yakin kamu bisa menjelajahi Hutan Kabut Ungu.”

“Aku tidak tahu.”

“Seberapa yakin kamu bisa keluar dengan selamat dari Hutan Kabut Ungu.”

“Aku tidak tahu.”

“Seberapa banyak yang kamu tahu tentang Hutan Kabut Ungu.”

“Hampir semuanya, kecuali yang tersembunyi yang belum pernah ditemukan, atau tercatat ditemukan.”

“Hah…” Christine menghela napas panjang, “Entah mengapa aku tidak heran mendengar kamu mengetahui semua tentang Hutan Kabut Ungu. Kamu hampir seperti perpustakaan berjalan. Kadang aku berpikir, apa yang tidak kamu ketahui tentang Ema?”

Vasu hanya tersenyum pahit, dia teringat bagaimana dia menghabiskan waktu di perpustakaan kota Yoria dan juga di Lembah Para Naga. Di sana dia seperti pusaran raksasa yang menghisap semua literatur dan rekam catatan yang dikumpulkan para naga selama ratusan ribu hingga jutaan tahun. Kapasitas sukma yang luar biasa besar membuat Vasu mampu menyimpan semua informasi tersebut dengan baik dalam ingatannya. Jika ada yang mengatakannya sebagai perpustakaan berjalan, mungkin itu tidak keliru. Pengalamannya di Bumi mengingatkannya padanya, mereka yang menguasai informasi mampu menguasai dunia.

Hanya saja informasi bukanlah tidak memiliki kelemahan, dunia senantiasa berubah, dan perubahan merupakan lawan sepadan dari informasi yang dimiliki seseorang.

“Aku tahu banyak, tapi aku tidak tahu semuanya.” Jawab Vasu dengan tenang.

“Kamu terlalu rendah hati.” Christine tersenyum manis. Senyuman yang bisa melelehkan hati siapa pun yang melihatnya. “Lalu menurutmu, bagaimana kita akan mencapai tempat tersebut. Hutan Kabut Ungu tidak jauh dari sini, sekitar tiga ribu Pal ke arah Timur Laut. Jika kita memiliki bahtera langit militer, kita bisa mencapainya dalam setengah hari.”

“Tidak, itu terlalu lama.”

“Haruskah kita menggunakan teleportasi ke sana?”

“Tidak, itu terlalu berisiko. Pertama karena tidak terdapat titik teleportasi permanen di sekitar Hutan Kabut Ungu, akan menjadi masalah jika kita mendarat di lokasi yang rawan. Maka pilihan yang terdekat adalah kota Bikendi. Jaraknya hanya seratus lima puluh Pal menuju Hutan Kabut Ungu, dan merupakan kota terdekat dengan neraka dunia itu. Kita akan menuju ke sana.”

“Dan bagaimana kita akan berteleportasi? Jangan katakan kita harus menuju kota terdekat dari sini dulu sebelum mencapai Bikendi?”

Vasu tersenyum dan mengeluarkan Ikcr dari sarungnya, lalu menancapkan wujud pedang tersebut tegak lurus ke permukaan tanah.

Dengan tancapan Ikcr sebagai pusat, empat berkas cahaya mulai menjalar ke empat arah seperti menari dan kemudian menghasilkan lebih banyak berkas cahaya lagi bagaikan lukisan di atas permukaan tanah.

Setelah tiga hembusan napas, Christine bisa apa yang muncul di atas permukaan tanah di sekitar mereka seluas sepuluh langkah adalah sebuah mandala ruang dan waktu, salah satu bentuk sihir teleportasi tinggi tinggi. Dan lebih lagi, mandala terakhir mempresentasikan enam puluh empat lingkaran luar yang saling terkait.

Christine nyaris tidak percaya apa yang dia lihat. Hanya penyihir tinggi tinggi yang bisa menggunakan mandala ruang dan waktu, dan mampu membuat mandala ruang dan waktu yang memiliki enam puluh empat sisi, ini bermakna tidak hanya mandala ini mampu mengirimkan orang ke mana pun dan kapan pun di seluruh Eon, namun juga ke dalam enam puluh empat dimensi mitologi yang hanya muncul di teks kuno di mana dataran yang yang tampak hanyalah salah satu dari enam puluh empat dimensi tersebut.

Selama penggunanya tahu ke mana tujuannya, tidak mungkin terjadi kesalahan dalam teleportasi.

Pun demikian, Christine tidak bisa menyembunyikan rasa takjubnya, “Vasu… ini adalah…”

Vasu tersenyum dan mengambil tangan Christine. “Ayo, kita berangkat.” Dia melambaikan tangan pada orang-orang di sekitar, terutama pada dua murid madya Puncak Benderang, Ellena, Renatta dan lainnya.

Kabut cahaya segera menyelimuti tubuh Vasu dan Christine, dan dengan pendaran yang menyilaukan – keduanya menghilang dari pandangan orang-orang di sekitar.

“Apa yang terjadi pada Kak Vasu dan Christine?” Renatta menarik lengan baju Ellena dengan ekspresi keheranan.

“Mereka pergi untuk menolong seseorang yang mereka kenal.” Ellena membelai rambut putrinya.

Renatta masih menunjukkan ekspresi bingung. Dia tidak terlalu paham apa yang terjadi. Namun tidak seperti gadis kecil ini, kebanyakan dari orang dewasa sedikitnya bisa mencerna apa yang terjadi.

“Dia selalu pergi dengan cepat.” Te’oma tersenyum pahit, walau sebenarnya dia mengkhawatirkan keselamatan baik Flora maupun Vasu.

“Kita tidak bisa membantu banyak, mari berkonsentrasi dengan apa yang harus kita kerjakan di sini.” Geotana menepuk pundak sahabatnya.

Kota Bikendi memiliki luas sekitar empar ratus pal persegi, berbentuk seperti sebuah trapesium jika dilihat dari langit. Di kelilingi oleh tembok batu setinggi seratus elo dengan tebal hampir dua puluh lima elo, membuatnya seperti benteng perang yang tak tertembus.

Pun demikian tidak ada patroli yang ketat, justru kehidupan kota tampak ramai selayaknya kota dagang. Rumah-rumah rata-rata bertingkat dua, beberapa mencapai tingkat empat, tidak tampak wilayah kumuh. Kastil mayor kota tampak berada di pusat kota, sebuah kastil kecil namun dengan halaman yang relatif luas. Di belakang kastil mayor bisa dilihat sejumlah vila milik para pejabat pemerintahan dan militer.

Satu blok di depan kasti mayor adalah bangunan dan gedung pemerintahan dan fasilitas umum kota, seperti barak militer, bank, dan lain-lainnya. Satu blok setelahnya adalah bangunan dari pelbagai perwakilan dan asosiasi, seperti asosiasi suara dan aksara memiliki cabang di sini, lainnya seperti persaudaraan para pengelana, persatuan penyihir, serikat alkemis, kelompok pemburu, dan sejumlah biro perjalanan, pengawalan, dan pasukan bayaran memiliki gedung-gedung mereka. Dengan panji-panji tersendiri yang khas.

Satu blok lagi adalah pasar bebas dan pertokoan. Hampir semua hal bisa ditemukan di sini, dan yang paling utama adalah sejumlah komoditas yang hanya bisa didapatkan dari sekitar Hutan Kabut Ungu.

Meski pun Hutan Kabut Ungu mengerikan dan tidak ada yang berani menginjakkan kaki ke dalamnya. Bukan berarti wilayah sekitarnya tidak dapat dimanfaatkan oleh manusia. Terdapat sebuah danau berawa yang pada salah satu batas Hutan Kabut Ungu, dan sekaligus menjadi pintu masuk menuju Hutan Kabut Ungu oleh mereka yang sudah tidak terlalu memedulikan antara hidup dan mati.

Dan Danau ini disebut Danau Kabut Ungu, yang menjadi alasan berdirinya Kota Bikendi. Di sini manusia dapat bertemu dengan mitologi hidup – krandanu, sebuah istilah bagi pelbagai bentuk kehidupan yang memiliki kecerdasan dan kemampuan sihir, yang secara umum dianggap sebagai ancaman bersama kelompok manusia karena sifat liar dan buas mereka. Krandanu memiliki banyak wujud, jika dipukul rata – mungkin Hi’Wi akan masuk ke dalam golongan krandanu. Hewan atau monster sihir mungkin lebih tepat menggambarkan krandanu.

Kadang dalam beberapa bulan sekali, terdapat bangkai krandanu yang terdapar di pinggir Danau Kabut Ungu. Ini adalah panen besar bagi penduduk Bikendi. Meski pun sudah mati, tetap saja kulit, daging, dan tulang mereka adalah komoditas utama – jika cukup segar, maka darah dan organ dalam juga bisa menjadi panenan yang bernilai jual tinggi.

Terutama yang paling menggiurkan adalah inti kristal atau mutiara yang terdapat di dalam tubuh krandanu. Krandanu dewasa mampu menghimpun prana langit dan bumi menjadi bagian dari energi kehidupan mereka, hal ini menjadikan mereka bentuk kehidupan yang kuat dan hebat, sekaligus mengerikan, oleh karenanya diperlukan pendekar kelas atas atau penyihir tingkat tinggi untuk bisa menandingi krandanu yang mengamuk ke wilayah manusia.

Prana langit dan bumi ini terkumpul dalam tubuh mereka membentuk dalam darah, cairan dalam sumsum, kristal dalam organ dalam, dan bisa membentuk mutiara pada krandanu tertentu. Sehingga konsumsi tubuh krandanu bermanfaat bagi seseorang untuk meningkatkan prana mereka, walau pun tentu saja tidak mendapatkan prana yang utuh dan murni. Sementara inti kristal dan mutiara mengandung prana yang lebih murni, sehingga bisa digunakan untuk pelbagai kebutuhan, semisalnya menjadi alat olahdiri, penggerak peralatan sihir, hingga senjata yang memerlukan prana seperti meriam prana.

Yang unik dari inti kristal dan mutiara krandanu di Hutan Kabut Ungu adalah tingkat kepadatan prana mereka mengagumkan. Seandainya Hutan Kabut Ungu bukan tempat yang mematikan, maka sudah lama akan menjadi wilayah kolonosasi manusia, sebagai mana hutan-hutan lain di Tanah Ema.

Ini yang membuat juga Bikendi menjadi kota istimewa, karena tidak berada di bawah kekuasaan besar manapun, namun hampir semua kerajaan dan negara memiliki perwakilan di satu-satunya pemukiman manusia di pinggir Hutan Kabut Ungu ini. Bahkan Kekaisaran Bren memiliki wilayah mereka sendiri di salah satu sudut kota. Pendiri kota Bikendi cukup cakap mengelola hubungan multilateral dengan pelbagai pihak sehingga membuat keseimbangan pengaruh di dalam Bikendi, tidak ada kekuatan tunggal yang berani macam-macam di dalam kota ini, atau mereka akan menjadi musuh banyak kekuatan besar lainnya dari seluruh Tanah Ema.

Jika seluruh kekuatan di dalam Kota Bikendi bergerak tanpa memandang afiliasi mereka, maka sebuah kerajaan kecil seperti Candragatha akan dengan mudah ditahlukan. Ini menunjukkan betapa mengerikannya kekuatan yang berdiam di dalam Bikendi, dan betapa diperlukan seorang pimpinan yang cakap dalam mengelola Bikendi selalu berada dalam keseimbangan.

Di pusat kota, sebuah panggung berukuran seratus meter persegi menyala terang dengan kilatan dan tarian cahaya, mandala berpendar dan mewujud.

Namun tidak ada orang yang terlalu memerhatikannya. Pemandangan aktifnya portal teleportasi adalah pemandangan wajar bagi orang-orang di Bikendi. Dan dari dalam panggung bermandikan cahaya tersebut. Dua anak, laki-laki dan perempuan muncul.

Mereka tentu saja dalah Vasu dan Christine. Ini pertama kalinya mereka berada di Bikendi. Namun bukan bangunan unik dan keramaian kota yang menarik perhatian Vasu, tapi kelompok orang di depannya.

Vasu kaget, demikian juga Christine, mereka serentak berkata… “Eh…, Lobane? Kamu juga di sini?”

Sebelumnya

Naskah 21 - Firasat Buruk

Satu bulan itu berlalu dengan cepat, kondisi Desa Buido sudah lama pulih seperti sedia kala. Semua tampak seperti biasa, terkecuali sejumlah anak yang berlatih bela diri pada pagi hari, dan pada siang hari belajar berburu di hutan terdekat. Dengan bimbingan ... Read more

Selanjutnya

Naskah 23 - Mendatangkan Amarah Langit

Pria muda yang ada di hadapan Vasu dan Christine tersenyum pahit, “Apa...? Kalian tidak senang melihatku? Wajah kalian seperti baru melihat setan saja.” - Pria itu mendengus, wajahnya kesal, namun kelusuhan lebih mewarnai guratan ekspresi serta aura lelah dan putus ... Read more