Pria muda yang ada di hadapan Vasu dan Christine tersenyum pahit, “Apa…? Kalian tidak senang melihatku? Wajah kalian seperti baru melihat setan saja.” – Pria itu mendengus, wajahnya kesal, namun kelusuhan lebih mewarnai guratan ekspresi serta aura lelah dan putus asa yang menyelimutinya. Dia bagaikan orang yang baru naik turun tujuh pegunungan dan berenang menyeberangi tujuh lautan.

Tentu saja pemuda itu tampak demikian, dia tidak lain adalah Sith Lobane. Tuan Muda dari Lobane. Kakak kandung Flora dan penerus ‘tahta’ Lobane.

“Tidak, bukan begitu, kami hanya tidak berpikir Kak Lobane sudah sampai di sini.” Christine segera berusaha memperbaiki situasi.

“Hah.., sudahlah.” Sith melambaikan tangannya. “Kalian ikutlah denganku.”

Vasu dan Christine langsung mengikuti Sith dari belakang. Mereka membelah lautan manusia yang bergumul dengan kesibukan mereka masing-masing. Di kiri dan kanan akan terdengar suara orang dalam pelbagai dialek saling tawar menawar barang dan jasa. Pun demikian, ini tidak menghalangi ketiga orang tersebut melakukan percakapan singkat.

Dari percakapan tersebut, Vasu dan Christine tahu bahwa Flora datang bersama Sith ke Bikendi. Keluarga mereka hendak mencari sejumlah inti kristal dan mutiara Krandanu untuk konsumsi Kota Lobane. Sebenarnya Flora tidak direncanakan ikut, namun karena gadis kecil tersebut merasa kesal setelah kesepian sendiri di Puncak Benderang, dia memaksa ikut kakaknya.

Lalu sehari yang lalu, tiga bangkai Krandanu ditemukan terdampar di tepi Danau Rawa Kabut Ungu. Banyak yang melihat ke sana, termasuk rombongan dari Lobane. Namun tidak lama kemudian, Sith menyadari bahwa Flora terpisah dari rombongan. Setelah setengah hari mencari, Flora dinyatakan hilang. Sith langsung meminta bantuan mayor Bikendi dan juga menghubungi Puncak Benderang karena hal ini.

Jawaban dari Puncak Benderang adalah mereka akan mengirim orang hari ini ke Bikendi. Sith sama sekali tidak tahu siapa yang datang sampai dia melihat Vasu muncul di portal teleportasi Bikendi.
Percakapan mereka berakhir sampai di hadapan salah satu gedung di seberang Kastil Mayor Bikendi. Gedung ini berlantai tiga dengan pilar-pilar besar yang berbaris di depan menyangga beranda lantai atasnya. Di atas pintunya bertuliskan “Γενναίος, ισχυρή και δίκαιη” – Vasu langsung bisa tahu bahwa ini adalah markas para kesatria Bikendi yang terkenal dengan sifat pemberani, kekuatan yang mengerikan, dan adil dalam memutuskan perkara. Mereka adalah idola dan panutan penduduk Bikendi.

Begitu Vasu dan Christine memasuki – Σπίτι του πολεμιστή – balairung para ksatria ini – mereka merasakan aura yang sepenuhnya berbeda. Penuh dengan keagungan dan memberikan rasa perlindungan bagi mereka yang masuk ke dalamnya.

Setelah melewati meja penerima tamu, Sith mengajak keduanya menuju ke bagian belakang bangunan. Sebuah ruangan menunggu mereka di sana. Di dalamnya terdapat tujuh orang, dan mereka bukanlah orang-orang biasa.
“Selamat datang utusan dari Puncak Benderang.” Katanya dengan nada yang ramah. “Perkenalkan, saya Vincent ke-244, hanya orang tua dari generasi lama. Mayor Bikendi saat ini adalah cucu saya, Vincent ke-246. Bolehkah kami tahu siapakah kedua murid Puncak Benderang ini?”
Oleh karena semua orang mendengar hari ini utusan Puncak Benderang akan datang, mereka menduga salah satu murid utama akan datang. Namun yang datang justru dua anak kecil yang mereka ragu identitasnya.
Vasu dan Christine saling memandang, mereka bisa menduga apa yang tengah berlangsung.

“Salah hormat Senior Vincent.” Christine membuka percakapan, “Saya adalah Christine, Rhein ke-III dari Akademi Sihir Ksatria dan Sihir Agung Bren. Flora adalah sepupu saya, karena saya mengetahui masalah ini, saya bersikeras untuk ikut datang ke Bikendi. Saya tahu kedatangan saya tidak diundang, mohon para senior memaafkan sikap saya yang kurang sopan ini.”
“Oh…” wajah semua orang terkagum. Tentu mereka mendengar tentang empat jenius muda Tanah Ema, dan kini salah satunya ada di antara mereka.
“Nona Christine terlalu merendah. Kami telah mendengar reputasi Nona. Orang tua ini merasa tersanjung kota kecil kami dikunjungi oleh Nona.” Lalu dia melihat ke arah Vasu, “Dan siapa kah anak muda ini?”

“Salam Senir.” Vasu mencakupkan tangan memberi salam, “Saya adalah Vasu dari Puncak Benderang. Saya bukanlah murid Puncak Benderang, tapi Pak Tua Lutz membawa saja sejak kecil untuk tinggal di sana.”

Apa? – semua orang terkejut. Bukan murid Puncak Benderang? Dan menyebut ‘Pak Tua’ pada mahaguru Puncak Benderang yang merupakan salah satu tokoh paling dihormati di seluruh wilayah Ema. Apa yang salah dengan bocah ini? Apakah dia habis dihukum seratus kali pukulan tongkat sehingga otaknya agak tergoncang?

Para ahli lain di Tanah Ema mungkin akan menyebut nama Mahaguru Lutz dengan penuh hormat, sebagai salah satu ahli yang dianggap berjasa besar dalam mengamankan gerbang Selatan Tanah Ema dari serangan luar, sebagaimana mahaguru dari Paviliun Lembah Salju Abadi yang menjadi pejaga gerbang Utara Tanah Ema di Seribu Pegunungan Menghujam Langit. Tapi tentu saja semua itu tidak terlalu dipedulikan oleh Vasu, dia memang selalu memanggil mahaguru Puncak Benderang dengan sebutan ‘pak tua’.

Suasana ruangan menjadi agak canggung. Karena tidak ada yang bisa melanjutkan membalas kata-kata Vasu. Dia tidak terkenal di Tanah Ema sebagaimana Christine, juga bukan salah satu dari para murid utama, dan bahkan bukan murid Puncak Benderang. Orang-orang memandangnya dengan dengan tatapan – ‘memang kamu siapa? Apa yang bisa kamu lakukan?’

“Ehem…” Vincent berdehem dengan suara seraknya, berusaha mencairkan suasana yang tanggung. “Baiklah Nak Vasu, terima kasih sudah datang ke sini. Sebagaimana yang mungkin kalian sudah tahu. Nona Flora menghilang di sekitar Hutan Kabut Ungu. Dan kami khawatir gadis malang ini tanpa sengaja masuk ke dalam hutan. Kami memerlukan tablet pelacak sukma dari Puncak Benderang yang mengikat setiap murid Puncak Benderang untuk menemukan keberadaan Nona Flora, apakah dia berada di luar ataukah di dalam hutan. Bisakah kami menerima tablet tersebut Nak Vasu?”

“Maaf, saya tidak membawa tablet tersebut.” Vasu memberi jawaban datar. “Pak tua itu hanya menyebutkan saya harus datang ke sini segera, jadi saya tidak memiliki waktu untuk mengambil tablet ke Puncak Benderang, saat ini prana saya tidak cukup untuk melakukan teleportasi ke dua tempat yang berjauhan sekaligus.”

Kembali semua yang mendengar tidak percaya apa yang baru saja mereka dengar. Kegusaran mereka berubah menjadi emosi yang meluap.

Salah satu pria bertubuh besar dan kekar menghentak meja dengan tinjunya, membuat meja di ruangan tersebut begetar bersama seluruh bangunan.

“Bocah! Apa kamu pikir ini permainan? Di sana ada anak seumuranmu yang hilang dan mungkin nyawanya dalam bahaya. Satu-satunya hal yang bisa membantu kita menemukannya adalah tablet pelacak sukma. Dan kamu tidak memilikinya? Lalu untuk apa otak bodohmu itu ada di sini?!”

Sebagian orang di dalam ruangan memandang Vasu dengan sinis, mereka tidak percaya bahwa mahaguru Puncak Benderang mengirim seseorang yang tidak cakap untuk menolong salah satu murid utamanya.

Vasu menutup matanya sambil berkata, “Otak bodoh saya ada di sini untuk menyelesaikan masalah ini, dengan atau tanpa senior sekalian.”

“Kamu…!”

Pria besar itu tidak bisa menahan emosinya lagi dan ingin meraup jubah Vasu. Namun sebelum tangannya bergerak, Vasu membuka matanya – seketika aura pekat kematian menyeruak ke seluruh ruangan. Semua orang tak terkecuali merasakan kengerian ini.

Apa-apaan ini… apa aku bermimpi melihat asura pencabut nyawa di hadapanku – Tubuh besar pria tersebut bergetar, dan butiran peluh mulai menetes di dahinya. Tubuhnya tidak bisa bergerak, bahkan untuk ditarik pun tidak bisa. Seperti seekor ulat daun melihat naga di hadapannya, teror yang muncul di pikirannya telah melumpuhkan semua refleks dan daya juangnya.

Vincent yang merupakan veteran dalam ratusan perang dan pertempuran juga tidak bisa menyembunyikan kengeriannya, ‘hujan dan sungai darah apa yang sudah diciptakan bocah ini, sehingga bahkan dengan pandangan mata saja dia sudah mampu menghadirkan alam kematian sepekat ini, malaikat kematian seperti apa yang dikirimkan Puncak Benderang ke tempatku?’ – batin Vincent tua masih bisa berpikir jernih namun tidak bisa menemukan solusi, dia merasa mereka seperti sekelompok manusia kelaparan dan kelelahan yang tidak sengaja terperosok ke dalam sungai magma – tanpa harapan adalah gambaran yang muncul dalam mata mereka.

Untungnya, Vasu segera menutup mata kembali. Dan seketika suasana kembali seperti sedia kala, tapi tetap sejumlah suara napas terengah-engah dapat terdengar, terutama dari pria bertubuh besar yang mencoba meraih jubah Vasu. Bahkan Christine yang duduk di sebelahnya merasakan buliran keringat membasahi dahinya.

“Kak Sith.”

“Ya…” Sith menjawab Vasu dengan tergagap.

“Ada dua fakta dan dua pertimbangan yang akan kusampaikan pada Kak Sith.” Dengan menarik napas dalam, Vasu melanjutkan kata-katanya.

“Fakta Pertama adalah Flora masih dalam keadaan hidup. Jika tidak, Pak Tua itu tidak akan memilih menyarankan mencari Flora dan membawanya pulang. Fakta ini bisa diambil kesimpulan, bahwa setiap tablet sukma murid Puncak Benderang bisa diketahui Pak Tua itu dengan seketika. Jadi dia pasti tahu bahwa Flora masih hidup.” – Vasu memberikan penekanan berulang pada pernyataan ‘masih hidup’.

“Fakta Kedua, Flora berada di Hutan Kabut Ungu. Dan kemungkinan tidak berada di lingkar luar.”

“Apa…?” Kini Vincent tua yang kaget mendengar pernyataan Vasu. “Bagaimana Nak Vasu yakin bahwa Flora tidak ada di lingkaran luar?”

Ini sungguh mengherankan bagi Vincent. Dibaginya Hutan Kabut Ungu ke dalam sejumlah lingkaran batas, semakin ke dalam maka semakin mengerikan. Dan yang mengherankan lagi, jika benar Flora ada di lingkaran yang lebih dalam, bagaimana nona kecil itu masih bisa bertahan hidup?

“Tunggu sebentar.” Christine memotong pembicaraan, “Bolehkah saya tahu tentang lingkaran luar ini?” Dia tidak memandang ke Vasu, namun ke para senior yang ada di hadapannya.

“Izinkan saya menjelaskan.”

Seorang perempuan muda, usianya mungkin belum mencapai tiga abad bagi penduduk Ema. Mengenakan jubah ungu dan berparas ayu, kata-katanya lembut serta menyejukkan. Vincent tua melihat ke arahnya dan mengangguk.

“Senang berkenalan denganmu Nona Rhein ke-3, nama saya adalah Kalysta Lutgardis, saya adalah seorang pemusik pengelana. Pun demikian saya masih bagian dari Balairung Ksatria Bikendi. Nona Rhein bisa memanggil saya Kalysta.”

“Senang berkenalan dengan senior Kalysta.” Christine mengangguk ke arah Kalysta Lutgardis.

Kalysta juga mengangguk, sambil mencuri pandang ke arah Vasu yang tampak sedang berbincang dengan Sith, dan membuat Sith bergegas meninggalkan ruangan.

“Nona Christine mungkin belum pernah mendengar banyak tentang Hutan Kabut Ungu, karenanya tidak tahu mengenai lingkaran Hutan Kabut Ungu…”

Kemudian Kalysta Lutgardis menjelaskan bahwa Hutan Kabut Ungu terbagi menjadi tiga wilayah menurut catatan yang dimiliki oleh Kota Bikendi. Hutan Kabut Ungu merupakan kawasan hutan yang melingkar di bagian Ema bagian Selatan dengan garis tengah sekitar empar ribu kilometer. Dikelilingi oleh kabut berwarna ungu sebagai pembatasnya, hingga pada ketinggian sekitar seratus kilometer. Sehingga bisa dilihat dari kejauhan.

Karena keberadaan kabut ungu inilah kemudian orang-orang menamakannya sebagai Hutan Kabut Ungu. Namun menurut catatan, Hutan Kabut Ungu terbagi ke dalam beberapa zona, setiap zona melingkari zona yang ada di dalamnya. Zona yang terluar ditandai dengan kabut berwarna ungu, di dalamnya terdapat zona yang diselimuti kabut biru lalu setelahnya zona kabut hijau, jika masuk lagi akan terdapat zona yang dibatasi kabut kuning. Semakin masuk ke dalam zona tersebut semakin berbahaya.

“Jika hanya berada di zona kabut ungu, maka kami masih memiliki kemungkinan menemukan Nona Flora. Tapi jika apa yang dikatakan Dik Vasu benar mengenai keberadaan Nona Flora lebih dalam dibandingkan lingkar pertama – zona kabut ungu, maka akan sangat berbahaya untuk mencoba melakukan misi penyelamatan ke sana. Mencoba masuk lebih jauh, akan sama saja dengan bunuh diri. Bahkan para mahaguru pun belum tentu selamat di dalam sana.” Kalysta mengakhiri kata-katanya dengan ekspresi yang berat.

“Eh…” Wajah Christine langsung menjadi pucat. Jika para mahaguru tidak mampu masuk ke dalam sana? Bagaimana mungkin dia yang hanya murid utama bisa berharap banyak. Dan kini tampaknya harapan itu tertutup di hadapannya.

Christine menatap Vasu, seolah-olah jika ada yang bisa melakukan sesuatu – entah kenapa dia merasa anak laki-laki ini lebih bisa diandalkan daripada semua orang dewasa yang dia kenal. Meski pun Vasu tampak rapuh dan jauh lemah darinya, entah kenapa tampak seperti lentera dalam kegelapan.

Vasu yang tahu makna tatapan Christine lalu berkata, “Bukankah aku sudah memperingatkanmu sebelumnya bahwa ini tidak mungkin untukmu?”

Tiba-tiba Christine mencekik leher Vasu dan menggoncang-goncangkan tubuh anak laki-laki itu. “Kamu tahu? Kamu itu sangat menyebalkan. Kamu tahu aku menginginkan jawaban yang lain, mengapa kamu memberikan jawaban yang sudah kumiliki? Kamu benar-benar menyebalkan.”

“Ekh… ekh… baik… baik…” Vasu memperbaiki kerah jubah abu-abunya yang sederhana. “Mengapa kamu cepat sekali merasa tertekan. Orang yang mudah tertekan akan cepat menjadi tua dan dipenuhi keriput.” Dia berbicara layaknya tabib yang menasihati orang yang sakit.

Namun Christine hanya balas memandang dengan tajam. Maka Vasu tidak melanjutkan kata-katanya lagi.

“Jangan khawatir, selama Flora tidak berada di zona terakhir yang kutahu, kita masih punya harapan besar.”

Semua yang mendengar berubah ekspresinya. Zona terkahir? Apa itu masih mungkin?

“Maaf Dik Vasu.” Kalysta mencoba mencari tahu bagaimana itu bisa mungkin. “Bolehkah kakak ini tahu apakah selama Flora tidak masuk ke dalam zona kabut kuning, kita masih bisa menolongnya? Bagaimana itu mungkin?”

Pandangan Vasu beralih ke arah Kalysta, namun dia juga tahu bahwa semua orang di ruangan itu mulai menaruh perhatian pada percakapan yang akan muncul di antara mereka. Karena jangankan zona kabut hijau sebelum zona kabut kuning, bahkan zona kabut biru yang menjadi batas antara zona kabut ungu dan zona kabut hijau adalah tempat yang mematikan.

“Kakak senior yang cantik, saya tidak berbicara tentang zona kabut kuning. Tapi Hutan Danau Hitam di pusat Hutan Kabut Ungu. Yang bermakna, setelah melewati zona kabut kuning, kita masih akan memasuki zona kabut merah, jika Flora masih ada di sini, maka saya yakin masih bisa membantunya. Tapi jika sudah masuk ke dalam Hutan Danau Hitam, maka …” Vasu menghela napas panjang, “Itu akan memusingkan.”

“Vasu, kupikir zona kabut kuning adalah yang terakhir?” Christine bertanya keheranan.

Vasu tersenyum dan memencet hidung Christine, “Bagaimana mungkin mereka memanggilmu jenius muda Tanah Ema jika kamu sendiri jarang mengunjungi perpustakaan? Sebagai murid Akademi Ksatria dan Sihir Agung Bren, tidakkah kamu malu tidak mengetahui hal ini?”

“Huff… apa yang tidak kutahu?”

“Tidakkah kamu tahu mengapa catatan yang banyak beredar menunjukkan bahwa zona kabut kuning dianggap sebagai zona terakhir?”

Christine hanya menggelengkan kepalanya.

“Oh…, betapa malangnya nasib pendiri Akademi Ksatria dan Sihir Agung Bren, dan mungkin dia akan jatuh pingsan mengetahui hal ini…” Vasu mengangkat tangannya sambil menggelengkan kepalanya.

“Apa…?” Wajah Christine menjadi merah padam, dia tidak terima jika dikatakan mempermalukan akademinya, “Apa maksudmu mengatakan itu?”

Di seberang meja, Kalysta dan beberapa orang tidak bisa menahan tawa melihat ‘drama’ kedua anak ini.

Kalysta pun menyela percakapan mereka, “Nona Christine, faktanya kita mengetahui bahwa terdapat zona kabut kuning adalah berkat Yang Mulia Kaisar Bren III yang menjalani ujian kelayakan sebagai kaisar dengan memasuki Hutan Kabut Ungu, beliau sempat menyaksikan sekilas keberadaan zona kabut kuning ketika berada di zona hijau. Namun beliau tidak meneruskan masuk ke zona kabut kuning. Dan …”

“Saya paham…” Christine akhirnya kembali tenang, “Dia adalah pendiri Akademi Ksatria dan Sihir Agung Bren.”

Kalysta kembali memandang ke arah Vasu, “Jadi apakah Hutan Danau Hitam ini adalah zona terakhir?”

“Dalam sepengetahuan saya – ya, tapi itu bermakna Hutan Danau Hitam adalah yang terakhir.”

Jawaban Vasu adalah jawaban diplomatis, karena dia sendiri tidak bisa menjamin bahwa tidak ada zona lain di balik Hutan Danau Hitam.

Sebelum Kalysta bisa melanjutkan pertanyaannya, Sith membuka pintu dan datang dengan tegopoh-gopoh membawa kotak sebesar paha orang dewasa dan meletakkannya di meja.

“Aku mendapatkan semuanya, dan masing-masing sepuluh buah.” Katanya dengan terengah-engah.

“Terima kasih.” Vasu sangat memerlukan apa yang di dalam kotak tersebut. Karena sejak awal dia berencana mengumpulkan benda-benda tersebut di setibanya di Bikendi.

Vasu segera membuka kotak dan mengeluarkan isinya. Potongan fosil pohon oak purba, sebotol cairan yang terbuat dari ekstrak bunga magnolia dan embun padang rumput Selatan, lalu sejumlah batu permata berwarna putih salju.

Dengan mengubah ukuran Ikcr menjadi sebesar belati, Vasu memotong fosil oak purba hingga cukup dalam genggaman tangannya. Lalu menggoreskan sejumlah aksara dan diagram di atasnya. Terakhir, dia meletakkan semua itu ke dalam mangkuk yang direndam dengan cairan ekstrak bunga magnolia dan embun padang rumput selatan.

Tangan Vasu bergerak cepat, dengan dua jari ia menggambar mandala di sekitar mangkuk, dan sekita mandala demi mandala lahir melayang di udara. Dalam waktu tiga hembusan napas, lebih dari seribu mandala kecil berpendar dengan prana yang padat di sekitar mangkuk, menarik seluruh energi semesta ke dalam mangkuk tersebut.

Semua yang menyaksikan hanya bisa membelalakan mata atau membuka mulut lebar keheranan. Karena pengalaman mereka selama ratusan tahun membuat mereka familiar dengan apa yang dilakukan oleh Vasu – yaitu menciptakan tablet pelacak sukma – dan dilakukan dari bahan mentahnya.

Proses ini berlangsung dalam waktu yang cukup untuk memanaskan seteko teh. Seluruh sinar yang menari di atas meja di antara mangkuk menunjukkan aliran prana yang kental dan tajam, setiap gerakan sangat efektif dan efesien, dan setiap sentuhan memperhatikan detil pengejawantahan sihir tingkat tinggi. Dan pendaran akhir menunjukkan bahwa proses sudah selesai.

Hasil akhirnya adalah tiga buah tablet sejenis. Tablet-tablet tersebut berwarna hitam dengan aksara dan diagram yang menyala putih salju menghiasi sisi-sisinya.

Haruslah diketahui bahwa untuk membuat sebuah tablet pelacak sukma tidak mudah. Tidak semua perguruan dan sekolah memiliki ahli di bidang ini, sehingga sekolah atau perguruan kecil kadang harus membeli dengan harga yang mahal di pasaran. Dan proses pembuatan satu tablet pelacak sukma bisa menghabiskan waktu seharian, membuat benda ini cukup langka di pasaran.

Apa yang ditunjukkan Vasu bukan saja kecapakan dan keahlian dalam membuat tablet pelacak sukma, namun juga bukti pemahaman akan sihir dan alkemia kelas atas, namun juga sebuah seni dari seorang praktisi olah-sukma yang luar biasa cerdas.

Tapi semua orang tahu, tanpa cetakan sukma dari pemilik sukma itu sendiri, sebuah tablet pelacak sukma tidak akan lengkap. Dan tanpa cetakan sukma dari Flora, tentu saja tablet ini tidak akan bisa menjadi tablet pelacak sukma untuk menemukan Flora. Jadi tidak ada yang tahu apa maksud Vasu membuat tablet pelacak sukma, dan tiga sekaligus – walau pun mereka harus mengakui dalam batin mereka bahwa apa yang baru mereka lihat ada di luar imajinasi terliar mereka.

Vasu membentuk sejumlah mudra, dan membuat ketiga tablet tersebut melayang di hadapannya. Dalam gumaman kecilnya, “Kuharap Flora memaafkanku untuk ini.” – semua orang bisa mendengar dan merasakan sesuatu yang tidak seharusnya terjadi akan diwujudkan.

“Penciptaan jiwa adalah hal yang terlarang, namun bukan tidak mungkin diwujudkan. Berkumpulah seluruh elemen penciptaan semesta, penciptaan jiwa. Semua yang hadir di jagat raya, hadir di dalam raga. Mewujudlah elemental energi termuni, terbentuklah wahai sukma.”

Mantra pendek tersebut – walau sebenarnya bukan mantra – adalah permulaan. Seluruh energi elemental yang ada di Bikendi dan sekitarnya terserap dengan cepat ke dalam tiga tablet yang mengambang di depan Vasu.

Hal ini membuat seluruh ahli di Bikendi terkejut, mereka yang cukup sensitif terhadap prana alam semesta melihat bagaimana energi elemental yang mereka kenal mengalir deras menuju salah satu titik di pusat Bikendi.

Sementara orang-orang yang ada di dalam ruangan kembali mendapatkan parsel kekagetannya. Di atas ketiga tablet tersebut, tiga bola cahaya menari identik di masing-masing permukaan tablet seraya menyerap seluruh energi elemental dengan rakusnya dari lingkungan sekitar. Sementara orang-orang di dalam ruangan berusaha mengunci prana di dalam tubuh mereka agar tidak ikut terserap oleh ketiga bola cahaya misterius tersebut.

Ketika masing-masing bola cahaya menunjukkan perubahan wujud menyerupai manusia kecil, Vincent ke-244 nyaris melompat dari kursinya.

“Ini tidak mungkin…, bagaimana mungkin kamu bisa melakukannya. Bukankah ini adalah teknik terlarang oleh atma bodha, salah satunya adalah membentuk jiwa sintetis.”

Mereka yang mendengar ucapan Vincent tua menjadi ciut nyalinya. Dalam atma bodha ada banyak sekali teknik terlarang, seperti menghancurkan jiwa seseorang, membangkitkan jiwa yang sudah mati, mengunci jiwa seseorang, dan salah satu yang paling ekstrem adalah membuat duplikasi jiwa seseorang atau membuat jiwa sintetis. Ini adalah tindakan yang melangkahi kedaulatan langit. Mereka yang berani melakukannya akan menghadapi murka langit. Dalam jutaan tahun hikayat Tanah Ema, hanya beberapa kali pernah ada rekam jejak teknik terlarang ini, dan tidak pernah ditemukan faktanya secara otentik karena seakan-akan praktisinya menghilang ditelan angin.

Tapi kali ini mereka menyaksikan sendiri duplikasi jiwa di hadapan mereka, dan tiga jiwa sekaligus.

Ketika wujud cahaya itu masuk ke dalam tablet, maka proses pengikatan rekam sukma telah selesai dilakukan.

Vasu menghela napas lega. Ternyata ini tidak semudah yang ia duga. Sekarang ia bisa mulai proses pencarian Flora ke dalam Hutan Kabut Ungu.

Namun belum juga selesai Vasu menikmati perasaan leganya, tiba-tiba seluruh bulu kuduknya berdiri.

Di langit Bikendi awan ini bergulung berkumpul dengan cepat, satu, dua… kemudian dengan cepat ratusan suara halilintar bersahutan di langit. Angin kencang bertiup dari segala penjuru.

“Oh sial…” Tiba-tiba suara Ikcr terdengar di dalam benak Vasu, “Sesosok dewa akan turun ke bumi, dan tampaknya dia tidak dalam suasana hati yang senang.”

Mendengar ini, Vasu segera mengambil ketiga tablet yang melayang di hadapannya – tepat sebelum sebuah petir bak naga turun dari khayangan menyambar balairung ksatria Bikendi dan memporak-porandakan atap serta membuat sebuah lubang raksasa di mana Vasu dan yang lain bisa melihat langit mengamuk dari ruangan tersebut dengan jelas.

Seberkas sinar dengan aura keagungan seperti matahari turun dari langit.

Melihat ini, batin semua orang bergetar hebat, mereka merasakan kekuatan yang bisa membalikkan bumi langit turun ke Bikendi.

“Apa kamu perlu bantuan?” Ikcr kembali membatin kepada Vasu.

“Pada waktunya nanti.” Vasu tidak berkomentar banyak, wajahnya tetap tenang.

Sebelumnya

Naskah 22 - Tiba di Bikendi

Setiap orang yang mendengar nama Hutan Kabut Ungu, hatinya akan gemetar ketakutan – kecuali mereka benar-benar tidak pernah mendengar nama tempat tersebut. Hutan Kabut Ungu merupakan legenda yang tabu untuk dibicarakan, setiap kali namanya disebut – suara yang menyebut Hutan ... Read more

Selanjutnya

Naskah 24 - Fionnuala

Dari balik langit-langit yang runtuh, di antara serpihan debu dan puing yang berjatuhan dalam semburat cahaya. Mahluk agung berkelimah kemuliaan tersebut datang bak mentari turun dari langit. Kehadirannya membawa campuran rasa takjub sekaligus takut pada orang-orang yang melihatnya. Namun sekali ... Read more