Dari balik langit-langit yang runtuh, di antara serpihan debu dan puing yang berjatuhan dalam semburat cahaya. Mahluk agung berkelimah kemuliaan tersebut datang bak mentari turun dari langit. Kehadirannya membawa campuran rasa takjub sekaligus takut pada orang-orang yang melihatnya.

Namun sekali lagi, pandangan dan raut wajah Vasu tetap tenang, seperti permukaan danau musim gugur yang tak takut terusik oleh datangnya musim dingin.

“Jadi seperti inikah jika seorang dewa turun ke jagad fana? Tidakkah ini seperti teatrikal yang berlebihan?”

Vasu bergumam pelan, namun tentu saja orang yang disekitarnya bisa mendengar, lagi pula mereka bukan orang-orang biasa.

Sosok dewata turun ke dunia? Apa ini nyata? Apa yang terjadi sebenarnya? – Pun mereka bukan orang-orang biasa, namun bertemu dengan keberadaan yang hanya ada dalam mitologi, mereka tidak bisa lagi mempertimbangkan apakah yang hadir di hadapan mereka benar-benar dewata atau hanya artis peniru.

Wujud seperti manusia mengambang di tengah ruangan, jika bukan karena aura yang menyesakkan di dada mereka – maka tidak mungkin mereka akan percaya bahwa sosok tersebut adalah dewata.

Ketika Vasu memandang sosok dewata itu, dia teringat pada lukisan kuno akan Artemis – sosok yang sanggup memburu apapun di dunia ini, dan ketika ia menetapkan target buruannya, maka mereka tak akan lolos. Namun sekilas lagi tampak seperti Freija, menawan dan memikat hati – namun tidak akan runtuh dalam peperangan sehebat apapun.

Sosok tersebut memandang Vasu, mengenaka jubah merah menyala senada dengan warna pupil kedua matanya yang menatap tajam serta rambutnya yang seakan menari bebas di udara.

“Jadi kamu tahu bahwa aku adalah seorang dewi dari alam kahyangan. Maka sekarang katakan padaku, siapa yang sudah menggunakan teknik terlarang penciptaan sukma, sehingga dapat kupenggal segera kepalanya.”

Pertanyaannya diajukan tidak secara acak. Ketika dia pertama kali membuka mata di Bikendi, maka tidak ada aura mahluk fana yang lolos dari penginderaan dewatanya. Ketika penginderaan dewata menyapu jantung kota, sang dewi bisa merasakan batin setiap orang yang terisi oleh kekhawatiran atau ketakutan, namun di antara semua yang tampak wajar itu – ada satu yang tidak wajar, batin seorang anak kecil yang tenang seperti kolam kecil yang tak menghiraukan datangnya badai.

Dan anak kecil ini berada di posisi di mana sang dewi merasakan teknik terlarang baru saja digunakan. Maka jika ada yang menjadi target interogasinya.

Kata-kata sang dewi lembut di telinga, bagai ibu yang memanggil anaknya, namun ketika sampai di dalam batin yang mendengar, maka efeknya bagaikan manusia lemah yang lunglai mendengar auman sang raja rimba di hadapannya.

Maka setiap orang di ruangan itu hanya bisa berpikir dengan sebuah tanda tanya besar – inikah dewata?

Hanya saja, kolam tenang yang tak acuh akan datangnya badai itu mulai berbicara, “Oh dewi, mengapa Anda berkata demikian? Tidak layak diucapkan oleh dewi seperti Anda.”

Padangan tajam sang dewi seakan-akan mencoba mencabik-cabik tubuh dan batin Vasu untuk menemukan informasi di dalamnya, namun sia-sia – ia memanglah sebuah kolam dengan permukaan air yang tenang.

“Apakah kamu yang menggunakan teknik terlarang?”

“Apa menurut pikiran Anda?”

Merasa diremehkan, sang dewi hendak memberikan pelajaran pada anak kecil tersebut. Namun tangan Vasu lebih cepat – dengan kibasan tangan seluruh elemen udara di dalam ruangan bergejolak dan melahirkan gelombang angin hebat yang menghempas ke atas dan mendorong seluruh isi ruangan ke dalam lubang yang dibuat oleh mahluk khayangan tersebut.

Menghadapi ‘topan’ yang mendadak, sang dewi dengan gegas mengibaskan selendang ke depan dan membentuk perisai. Namun ketika dia melihat ke bawah lagi, ternyata dia sudah berada jauh di langit dan memandang kota Bikendi yang kecil di bawah kakinya.

“Elemen angin yang sangat kuat. Siapa anak ini, aku tak pernah mendengar tentangnya di Tanah Ema.” Sang dewi bergumam, namun tidak menghilangkan aura yang menyilaukan di sekitar dirinya.

Saat Vasu hendak melompat ke atap, Christine menarik pergelangan tangannya.

“Apa kamu gila?” Hardiknya, “Itu seorang dewata, dia bukanlah keberadaan yang kita manusia dapat tandangi. Seberapa hebat pun kamu, apa kamu sudah gila memancing amarah dewata?”

“Jangan khawatir.” Vasu melepaskan tangannya dengan lembut dari cengkraman Christine. “Meski pun dia seorang dewi, namun saat ini dia berada dalam avatar fananya, aku masih bisa melakukan satu atau dua hal.”

“Bukan itu bodoh!” Christine semakin menghardik Vasu, “Dewa dan dewi adalah sesuatu yang bukan kita manusia bisa ‘hadapi’ – mengapa kamu tidak punya rasa takut sama sekali. Tindakanmu bisa mencelakakan semua orang di sini.”

“Hmm…, dia mungkin membunuhku, tapi percayalah, setidaknya tidak akan mencelakakanmu.”

“Bagaimana itu mungkin?” Christine tidak paham dan masih panik.

“Jika dugaanku tepat, dia adalah sang dewi legenderis pelindung spiritual Kekaisaran Bren. Jadi kamu bisa tenang.”

Vasu tersenyum nakal dan melompat ke atap, dengan bantuan elemen angin, tubuhnya meliuk menuju langit.

Christine ternganga mendengar jawaban Vasu.

Keberadaan para dewata adalah mitologi di Tanah Ema, namun bukan berarti mereka tidak ada. Salah satu yang paling dekat dengan Tanah Ema adalah Dewi Pelindung Spiritual Kekaisaran Bren – Fionnuala, yang melindungi leluhur Kaisar Bren sejak ahkhir era para naga.

Nama Fionnuala bukan lagi mitologi, namun legenda hidup. Namun karena dia tidak pernah muncul kecuali saat kaisar sendiri yang menghadap padanya, maka orang-orang antara percaya dan tidak akan keberadaannya.

Semua orang yang berada di ruangan termasuk Christine bergegas melompat ke atap untuk melihat apa lebih jelas kejadian yang akan mengisi langit Bikendi.

“Apakah itu memang benar Fionnuala?” Vincent tua bertanya kepada Christine, suara dan tangannya bergetar. Rasa takut merangkak pasti ke dalam relung batinnya.

“Saya tidak tahu senior, saya sendiri tidak pernah bertemu langsung dengan Pelindung Spiritual Bren. Namun dari apa yang pernah disampaikan menurut catatan sejarah kekaisaran, tampaknya Dewi tersebut memang Fionnuala.

Mendengar jawaban Christine, semua orang menjadi ciut nyalinya. Dikatakan bahwa Fionnuala tidak akan muncul jika tidak ada bahaya besar yang mengancam kekaisaran. Namun kali ini dia muncul karena ‘ulah’ seorang utusan Puncak Benderang, dan seorang anak kecil dalam hal ini.

“Nona Christine, siapa teman Anda itu sebenarnya. Dia seperti tidak takut menghadapi apapun, bahkan kuasa khayangan pun seperti dipandang sebelah mata olehnya.”

Pria kekar yang sebelumnya ‘diberi pelajaran’ oleh Vasu bertanya dengan menahan napasnya. Sementara pandangannya melihat dua titik kecil di langit.

“Senior, saya sendiri berharap mengenalnya lebih jauh lagi. Namun semakin dalam saya menyelaminya, saya hanya menemukan sahabat saya ini bagai palung samudra yang tak berdasar.”

Sementara itu, banyak orang yang panik. Di antaranya tidak sedikit menduga bahwa bencana datang dari Hutan Kabut Ungu.

Namun para pendekar, penyihir, dan ahli lainnya menyadari bahwa ada fluktuasi prana di langit Bikendi. Dan dalam sekejap semua atap bangunan di Bikendi dipenuhi para ahli ini. Saat mereka melihat ke arah langit, seluruh tubuh orang-orang ini langsung merinding.

Mereka biasanya adalah kelompok yang paling tenang ketika ada musibah sedahsyat apapun, namun dalam pengaruh aura dewata miliki Fionnuala, para ahli ini merasa seperti cacing yang terbakar sengatan matahari di atas padang pasir.

Dari semua ahli tersebut, tampak seorang pemuda paruh baya bersama beberapa orang melesat dari kasti mayor menuju tempat Christine dan yang lainnya.

“Kakek apa yang terjadi?” Dia bertanya pada Vincent tua.

Meskipun kharisma pemuda tersebut tidak kalah dari seorang raja, namun ras was-was tidak bisa disembunyikan dari raut wajahnya. Dan dia tentunya adalah Vincent ke-246, mayor Kota Bikendi saat ini.

Vincent tua melihat ke sekitar, dan dia tahu kepanikan sedang melanda Kota Bikendi.

Dengan telunjuk tangan kanannya, Vincent tua membentuk diagram sihir di hadapannya. Dan dengan suara lantang berkata, “Warga Bikendi, harap jangan panik.” Seketika hiruk pikuk Bikendi menjadi senyap. Mereka tahu persis siapa pemilik suara tersebut, seseorang yang pernah memimpin Bikendi lebih dari satu milineum yang lalu. “Di atas langit kita adalah Yang Mulia Sang Dewi Fionnuala – Pelindung Spiritual Kekaisaran Bren. Dengan keagungan dan kemurahan hati Beliau Yang Mulia Sang Dewi, maka tidak akan ada bencana yang jatuh pada Bikendi saat ini.”

“Kuharap demikian.” Vincent tua bergumam menutup kata-katanya, gumaman yang halus yang tidak terdengar oleh siapa pun kecuali dirinya.

Para ahli dan warga biasa di Kota Bikendi terhenyak mendengar kata-kata ini, mereka tidak menduga bahwa dalam hidup mereka bisa menyaksikan dewi dari legenda Tanah Ema.

Beberapa di antara ahli mulai mengeluarkan mutiara perekam – sebuah alat sihir yang digunakan untuk merekam kejadian yang disaksikan. Dan untuk mendapatkan gambaran yang nyata, gambar dapat dibesarkan sesuai dengan kehendak penggunanya.

Suara-suara mulai berhamburan di atap-atap dan jalanan Bikendi. Meski pun merasa takut, mereka tidak ingin melewatkan kesempatan sekali seumur hidup yang tidak mungkin didapatkan orang lainnya.

“Oh lihat, tampaknya selain Dewi Fionnuala ada yang lain lagi di atas sana.”

“Benarkah, apakah dia juga seorang dewata?”

“Entah…, hei… ini tampak seperti seperti bocah laki-laki.”

“Huss… jangan bicara sembarangan, bagaimana kalau ternyata dia juga dewata, bisa melayang nyawamu bicara sembarang.”

Perbincangan makin riuh, orang-orang berkumpul dalam kelompok mereka masing-masing, terutama yang memiliki mutiara perekam akan dikelilingi oleh mereka yang tidak memiliki.

Ada yang mengagumi kehadiran Dewi Fionnuala, ada juga yang mencoba menebak bocah laki-laki yang saat ini melayang di hadapan sang dewi. Namun tidak ada yang bisa menduganya, hingga salah satu saudagar berceletuk agak keras karena kekagetannya.

“Eh… aku tahu bocah itu…! Dia adalah Tuan Muda Vasu dari Puncak Benderang!”

Semua kepala mengarah pada saudagar tersebut.

Teman di sebelahnya menyenggol perutnya buncit sang saudagar sambil bertanya, “Apa maksudmu dengan Tuan Muda Vasu?”

“Tidakkah kamu ingat, beberapa bulan lalu saat Festival Jalan Emas, aku mengunjungi Puncak Benderang untuk memberi hormat dan selamat ulang tahun pada Mahaguru, saat itu kelompok elit dari Sekte Serigala Bintang Hitam menyerang Puncak Benderang – mungkin karena dendam. Dan saat itulah Tuan Muda Vasu muncul, sendiri memukul mundur serangan Sekte Serigala Bintang Hitam – bahkan membunuh murid utama mereka yang mencoba menodai Puncak Benderang, kudengar murid itu adalah jenius muda dari sekte. Menurut rumor yang beredar di Puncak Benderang, Tuan Muda Vasu adalah satu-satunya orang yang menguasai seluruh teknik Dandelion Beku sesempurna sang mahaguru sendiri.”

Sang saudagar mengakhiri penjelasannya dengan ekspresi penuh rasa bangga, karena dia bisa mengenali anak laki-laki yang sedang bersama Dewi Fionnuala.

Orang-orang yang bersama dengan Christine tentu mendengar hal ini, dalam hati masing-masing dari mereka membenarkan pernyataan sang saudagar bahwa anak laki-laki itu bernama Vasu. Namun berita tentang Vasu yang mampu seorang diri memukul mundur serangan Sekte Seringala Bintang Hitam adalah sesuatu yang tidak mereka duga, bahkan membunuh jenius muda mereka adalah hal yang tidak bisa dibayangkan.

Namun melihat Vasu berani menentang seorang dewi tanpa rasa takut, mereka bisa yakin bahwa tidak lagi aneh Vasu berani menghadapi Sekte Serigala Bintang Hitam seorang diri.

“Apa kamu yakin bahwa itu adalah Tuan Muda Vasu dari Puncak Benderang?” Salah satu sahabat saudagar itu bertanya lagi.

“Tentu saja, aku di sana melihat bertempuran Tuan Muda Vasu melawan para murid utama Sekte Serigala Bintang Hitam, bahkan ketika dia juga mengalahkan tetua mereka.”

“Tapi jika itu benar, bukankah seharusnya Tuan Muda Vasu ini menguasai elemen es. Mengapa yang di atas sana sepertinya sangat ahli dalam mengendalikan elemen angin?”

“Eh…” sang saudagar hanya bisa menganga.

Tentu saja seseorang yang menguasai teknik Dandelion Beku berarti mampu mengendalikan elemen es, namun bisa mengendalikan juga elemen angin, itu hampir tidak mungkin. Jenius dua elemen sangat jarang, dan jika benar, maka mereka sedang menyaksikan lahirnya salah satu jenius muda Tanah Ema.

Kata-kata sang saudagar tentu didengar oleh Fionnuala dengan penginderaan dewatanya, namun tidak demikian halnya dengan Vasu, penginderaan spiritualnya menapis percakapan seperti itu karena dia memusatkan perhatiannya pada sosok dewata yang ada di hadapannya.

Sang dewi memandang Vasu dengan penuh misteri.

“Jadi kamu bernama Vasu dari Puncak Benderang?”

“Oh, Anda mengenal nama saya Dewi Fionnuala? Ini sungguh merupakan kehormatan.” Vasu tersenyum ceria.

“Tampaknya kamu tidak berasal dari aliran hitam, mengapa kamu menggunakan teknik terlarang?”

“Apa Anda yakin itu adalah saya?”

“Siapa lagi yang sanggup untuk itu?”

“Entahlah…”

Melihat Vasu hanya mengangkat bahunya, Fionnuala merasa anak di hadapannya terlalu meremehkan banyak hal.

“Nak, kamu sungguh perlu diberi pelajaran. Tampaknya Puncak Benderang tidak mengajarimu dengan baik.”

“Jika Nona Fionnuala bisa membuat saya berkata ‘menyerah’ hanya dengan avatar fana Anda, saya akan menjawab semua pertanyaan Anda.”

Vasu tersenyum nakal, dia tidak lagi menganggap dewi hadapannya asing, namun seperti teman ngobrol. Tentu saja sang dewi tidak berpendapat sama.

“Dengan kemampuanmu saat ini? Meskipun aku hanya hadir dalam avatar fanaku, namun apa yang dapat kamu lakukan?”

Vasu hanya tersenyum, seakan-akan senyuman tersebut menyimpan sejuta misteri yang siap membukakan tabirnya ke hadapan semesta.

“Nona Fionnuala, Anda sudah lama memerhatikan Tanah Ema. Mungkin sudah saatnya Anda mengakhiri tugas Anda. Saya akan menjadikan Anda sebagai saksi salah satu karya sederhana saya, Tarian Pedang Empat Musim, yang sekaligus akan menjadi penanda akhir era Anda di Tanah Ema, wahai sahabat saya yang malang.”

Mata Vasu mengandung perasaan simpati yang mendalam, yang oleh Fionnuala tidak bisa dia jelaskan.

Sebelumnya

Naskah 23 - Mendatangkan Amarah Langit

Pria muda yang ada di hadapan Vasu dan Christine tersenyum pahit, “Apa...? Kalian tidak senang melihatku? Wajah kalian seperti baru melihat setan saja.” - Pria itu mendengus, wajahnya kesal, namun kelusuhan lebih mewarnai guratan ekspresi serta aura lelah dan putus ... Read more

Selanjutnya

Naskah 25 - Raga Vajra Emas

Dia lahir sekitar sepuluh juta tahun yang lalu, dan kemudian sembilan juta tahun yang lalu dianugerahi gelar paling berbakat di antara para dewata belia. Delapan juta tahun yang lalu dia telah ikut berperang di baris terdepan setiap kali kahyangan mendapatkan ... Read more