Dia lahir sekitar sepuluh juta tahun yang lalu, dan kemudian sembilan juta tahun yang lalu dianugerahi gelar paling berbakat di antara para dewata belia. Delapan juta tahun yang lalu dia telah ikut berperang di baris terdepan setiap kali kahyangan mendapatkan ancaman. Tujuh juta tahun yang lalu dia adalah satu satu yang terkuat di antara para dewata, mendapatkan gelar panglima surgawi. Selama dua juta tahun dia merasa berada di atas angin. Dua juta tahun kemudian dia merasakan kebosanan, berada di puncak adalah sesuatu yang bisa membuat orang merasakan kesepian.

Tiga juta tahun yang lalu, kahyangan mendapatkan ancaman – terbesar dalam sejarahnya. Sehingga seluruh perhatian, upaya dan energi dicurahkan untuk mengatasi ancaman ini. Dunia fana nyaris kehilangan pengendalinya. Beberapa dunia mengalami peningkatan anarki yang luar biasa, Eon mengalami ekspansi luar biasa salah satu ras terkuat di alam semesta – para naga.

Fionnuala merasakan tekanan yang amat hebat, dia yang terbiasa berada di puncak, kini hampir tidak bisa menemukan jalan keluar. Bersama dewata lain yang tak kalah hebat, mereka nyaris ditekan perang yang berkepanjangan. Selama satu juta tahun, entah berapa ratus hingga ribu dewata gugur setiap harinya. Bahkan jika kahyangan didukung oleh maha-padma dewata, jika siklus perang ini terus berlangsung, niscaya pilar-pilar kahyangan akan runtuh satu persatu.

Ketika para dewata meminta petunjuk pada para mahadewata di alam yang lebih tinggi, pesan yang disampaikan hanyalah bahwa kahyangan hanya bisa diselamatkan oleh seorang adi-insan, yang saat ini bisa ditemukan di salah satu alam bawah, tepatnya di Eon. Namun terdapat peringatan bahwa para dewata tidak boleh menyinggung adi-insan ini, atau akibatnya hanya akan mempercepat kehancuran kahyangan.

Lalu Fionnuala menerima tugas untuk menjadi duta dan turun ke Eon menemukan manusia ini. Oleh karena dia seorang dewata, maka jika dia turun ke alam bawah begitu saja, dia bisa menciptakan kekacauan yang tidak diinginkan. Sehingga Fionnuala menggunakan avatar fananya, dan tak lama kemudian bertemu dengan sang ‘Lembayung Ema’ – dua juta tahun yang lalu, tepat sesaat setelah adi-insan ini nyaris memusnahkan seluruh ras naga dari Eon.

Bertemu dengan sang adi-insan membuat Fionnuala menyadari banyak hal, dan menemukan dirinya tak lagi hampa, dan tak lagi kesepian. Namun itu hanya berlangsung sesaat, karena untuk menyelamatkan kahyangan, sang adi-insan bersama sakti pilihannya yang merupakan keturunan terakhir ras naga agung menemui pralina mereka.

Kedamaian memang kembali ke alam para dewata, namun tidak pada batin Fionnuala. Rasa bersalah memenuhi hatinya. Dan dia berjanji akan menjaga keturunan sang adi-insan dengan sebaik-baiknya. Sampai saat ini, dua juta tahun telah berlalu, dan apa yang dia jaga tumbuh menjadi sebuah kekaisaran yang paling besar di Tanah Ema.

Dua juta tahun cukup untuk membuat hati yang kesepian menjadi kering, bahkan bagi seorang dewata sekali pun – menjadi dingin dan kering.

Dan kini di hadapannya, berdiri seorang anak laki-laki yang bahkan mungkin belum tanggal semua gigi susunya. Berdiri tanpa rasa takut yang biasa dia lihat di antara mahluk fana lainnya, dan bahkan berani menyatakan akan mengakhiri hidupnya.

Bagi seorang mahluk fana berani mengeluarkan kata-kata yang setara dengan pernyataan untuk memenggal kepala seorang dewata, sudah lama Fionnuala tidak menemukannya – setidaknya tidak sejak ia kehilangan orang itu dua juta tahun yang lampau.

Di atas sana, tiba-tiba Fionnuala tersenyum tipis mendengar pernyataan Vasu.

“Kamu tidak takut melihat kehadiranku, itu adalah satu hal yang mengejutkanku. Dan kemudian berkata akan mengakhiri keberadaanku di Tanah Ema? Aku tidak tahu apakah kamu bodoh atau terlalu percaya diri.”

“Saya mungkin bodoh, namun saya rasa saya tidak akan menilai kemampuan diri saya sendiri secara berlebihan.”

“Oh…, dengan hanya kemampuan dasar beberapa dasa bala? Kamu benar-benar anak manusia yang unik.”

“Maaf…” Vasu terdiam sebentar dan mencubit bibir bawahnya seperti memikirkan sesuatu. “Tolong beri saya waktu sebentar.”

Fionnuala tak bisa mencegah keheranannya melihat gelagat anak di hadapannya. Karena dari mana pun dilihat, kondisi Vasu tidak mungkin mampu menggulinya, bahkan para ahli yang saat ini berserakan di Bikendi hampir sebagian besar bisa melumat anak kecil ini.

Vasu mengangkat dua tangan kecilnya menghadap ke atas sejajar dengan bahu. Orang-orang bisa melihat petir-petir kecil bermunculan dan menari di atas kedua telapak tangan mungil itu. Diikuti dengan terbentuknya kabut putih tipis yang semakin lama semakin menebal.

“Eh…, bukankah dia pengguna elemental angin? Mengapa aku melihat percikan petir dan kabut aneh? Apakah dia pemilik dua elemen?”

“Tapi dua elemental saja tidak akan cukup menghasilkan fenoma itu, belum lagi dia dari Puncak Benderang, dia pasti juga memiliki elemen es.”

“Apakah anak itu adalah seorang ahli elemental triagon?”

“Entahlah, mungkin lebih, bisa jadi tetragon atau lebih lagi?”

“Aku tak bisa percaya ini, sudah lama tidak muncul ahli elemental triagon apalagi tetragon.”

Orang-orang mulai berbisik satu sama lain, seperti air bah, prediksi-prediksi mengenai potensi Vasu semakin cepat tersebar.

Bahkan Kalysta tidak bisa menahan rasa penasarannya, “Nona Christine, apakah Vasu ahli elemental triagon atau tetragon?”

Christine menggelengkan kepalanya, “Bahkan jika seorang ahli elemental octagon atau selebihnya, dia tetaplah hanya akan menjadi seorang ahli, tapi sejauh yang kukenal, dia bukanlah ahli …”

“Maksud Nona?”

“Jika seorang ahli triagon bertemu bertemu ahli heptagon, dia akan menyebut ahli heptagon sebagai monster. Tapi jika seorang ahli heptagon bertemu Vasu, maka dia akan terlambat menyadari bahwa dia bertemu monster bahkan bagi para monster.”

Jawab Christine membuat Kalysta dan yang lain termasuk kedua Vincent menelan ludah mereka. Ahli heptagon adalah salah satu puncak kekuatan di Tanah Ema, dan bagi mereka menemukan monster bagi para monster adalah sesuatu yang tidak terbayangkan.

Beberapa puluh kilometer dari langit Bikendi, dua sosok berdiri melayang di antara awan. Satu pasang iris biru menyala, dan satu pasang iris jernis keemasan memandang ke arah langit Bikendi.

“Haruskah kita membantunya?” Tanya sang pemilik iris biru menyala dengan rambut hitam lurus yang pendek sebahu. Suara tenang namun penuh ketegasan.

“Tidak perlu. Tanpa gunung tinggi untuk ditaklukan, dia tidak akan pernah tumbuh menjadi keagungan yang menaungi seluruh semesta.” Kata-kata lembut mengalir pelan dari pemilik iris jernih keemasan dengan rambut hitam panjang yang menari diterpa angin.

“Kakak, kenapa kamu selalu tampak percaya dia tidak akan ditimpa bencana? Kakak tahu kan anak itu pembuat masalah. Dia akan selalu membuat masalah yang mengundang bahaya.”

“Kita mengamatinya tumbuh setiap hari, hanya menghadapi seorang dewa, dia masih akan mampu melakukan satu atau dua hal, jika tidak – dia tak akan layak disebut sebagai cakrawala elemental. Lagi pula, di sana ada Rukh Kalpavriksha, namanya saja sanggup mengguncang tujuh semesta.”

“Eh…? Apa hanya karena itu?”

“Tentu saja, yang paling meyakinkan adalah, karena dia merupakan adik kita tercinta.” Pemilik iris jernih keemasan itu tersenyum ramah.

“Ya ya…, aku paham. Jika orang yang dengan satu kata mampu menjadikan alam tujuh semesta berakhir sebagai debu kosmos, aku tidak akan berani berkata lain saat dia memuji adiknya sendiri.”

“Dia adikmu juga.”

“Tentu.”

“Mari kita kembali, tidak banyak yang bisa kita lakukan di sini.”

“Kakak kembali saja dahulu, aku akan tinggal di sini sejenak.”

Pemilik iris jernih keemasan itu melambaikan tanggannya kemudian menghilang seperti menyatu bersama awan dan angin, seakan-akan dia hanyalah angin dan awan yang berlalu di sana.

Sementara pemilik iris biru menyala memandang kembali ke langit Bikendi seraya bergumam, “Adik kecil, perlihatkan pada kakakmu ini tarian pedang empat musim yang selama ini hanya kamu latih penuh rahasia di dalam samudra elemental jiwamu.”

Petir menari di atas kedua telapak tangan Vasu, awan-awan putih berputar dengan cepat semakin memadat. Pelan-pelan membentuk bola putih yang mulai bersinar di kedua tangan Vasu. Dan jika dilihat dari dekat, sejumlah lidah api seputih salju namun sebenderang mentari bisa terlihat termuntahkan silih berganti dalam ukuran yang sangat kecil di permukaan masing-masing bola putih.

Sepasang mata Fionnuala nyaris tak percaya apa yang dilihatnya.

“Kamu dapat menciptakan bintang? … Siapa sesungguhnya dirimu bocah?”

Vasu hanya tersenyum, kedua bolah putih bercaya yang merupakan bintang mini tersebut dia lempar ke atas sekitar sepuluh meter di atas mereka berdua. Bola tersebut berputar dengan cepat seperti saling mengejar satu sama lain. Dan dengan cepat, jarak kedua bola tersebut bertambah dekat satu sama lainnya.

Melihat ini, Fionnuala segera berteriak, “Hei… hentikan itu segera!” Dia tahu apa yang dapat terjadi ketika dua buah bintang bertumbuk. Mungkin ini hanya bintang kecil yang tak lebih besar dari ukuran kepalan tangan anak kecil di hadapannya. Tapi bintang tetaplah bintang, ketika dua bintang bermasa setara bertubrukan, jangankan dewata, seorang cendikia dunia fana pun paham apa akibatnya.

Tahu bahwa sudah terlambat menghentikan tumbukan dua benda angkasa yang muncul tidak pada tempatnya itu. Fionnuala segera menggerakkan tangannya seraya berteriak, “Perisai Sembilan Langit”, maka sebuah kubah energi raksasa dengan segera menutupi kota Bikendi dan semua penduduknya. Sementara satu bola energi mewujud di sekitar tubuh Fionnuala.

DUUM…

Dentuman raksasa menggelegar di langit, energi yang terlepas seperti mampu mengoyak langit dan bumi. Hempasan angin topan menyapu seluruh Bikendi, bahkan mendorong batas Hutan Kabut Ungu hingga seratus meter ke arah dalam. Seluruh pepohonan dan hutan dalam radius sepuluh pal tak tersisa hingga ke akar-akarnya, sisanya ratusan pal lagi mengalami kerusakan, mulai dari rebah, hingga patah tak berwujud.

Meski kota Bikendi dilindungi oleh Perisai Sembilan Langit, namun gelombang kejut hingga menembus perut bumi menghasilkan gempa yang tidak kecil. Untungnya kebanyakan warga Bikendi berada di area terbuka, sehingga tidak ada yang cedera, dan sisanya adalah para ahli yang bisa dengan cekatan mengindari musibah. Ini merupakan keberuntungan, ataukah sudah dalam perhitungan Vasu?

Ketika gelombang dentuman tersebut menjalar, Vasu membuka seluruh jalur nadi-nadi dalam tubuhnya. Ketujuh cakra utama dalam tubuhnya bersinar cemerlang.

Dalam gelombang dentuman tersebut tidak hanya membawa gelombang suara dan energi, namun juga paradoks ruang-waktu yang dikenal sebagai gelombang gravitasi yang merasuk hingga ke relung seluruh elemen pembangun semesta di sekitarnya. Dan dalam gelombang gravitasi yang dilepaskan oleh tubrukan kedua bintang terdapat jejak penginderaan spiritual Vasu, dengan bantuan gelombang gravitasi, maka Vasu bisa memindai keberadaan dan struktur lautan elemental semesta dalam jarak yang jauh, bahkan teramat jauh yang tidak bisa dia pindai dalam kondisi biasa.

Sementara lautan elemental dalam sukma Vasu mulai berpendar, menyelaraskan dengan gelombang suar dari dalam semesta di sekitarnya. Ketika lautan elemental dalam sukma dan lautan elemental di dalam semesta saling menghubungkan diri dengan bantuan suar paradoks ruang-waktu, mereka terikat menjadi sebuah kesatuan dan energi mereka menari dalam penghujung dualitas menjadi lautan shakti – kekuatan purba yang mengarungi seluruh semesta.

Para ahli tidak bisa merasakan gelombang gravitasi ini, apalagi manusia biasa. Mereka hanya melihat badai raksasa yang muncul bagaikan terbukanya tirai pralaya.

Namun bagi Fionnuala yang merupakan salah satu ujung tombak tertajam di alam kahyangan, dia bisa merasakan suar paradoks ruang-waktu menelusup ke dalam relung keberadaannya. Batinnya seakan menjerit, namun tak sanggup terlontarkan.

Tidak ada cara untuk mengendalikan energi kosmik purba yang tercipta dari perpaduan dua samudra elemental, tidak bahkan jika seseorang mencapai puncak pengendalian prana. Karena dari energi primordial inilah prana dilahirkan. Vasu tidak bisa mengendalikannya, namun ia bisa memandu energi purba ini.

Ada banyak cara dalam memandu shakti, salah satunya melalui mantrika shakti – atau lebih banyak manusia dan ras lain mengenalnya dengan mantra, yang bermakna – hanya mereka dengan batin yang bebas layak memandu energi purba yang tak pernah dapat dikekang ini.

Dengan segera Vasu melafal sejumlah mantra dengan sangat cepat, dalam lima hembusan napas sekitar tujuh juta rangkaian mantra bergema di sekitarnya. Fionnuala yang melihat ini langsung menjadi pucat, karena bahkan dia tahu setiap mantra mengandung kebijaksanaan kuno, dan bahkan dia sendiri cukup beruntung bisa mengenali satu dari setiap seratus mantra yang terucap.

Tidak lama kemudian, ketika seratus hembusan napas berlalu sejak dentuman terdengar. Dan debu mulai turun dari langit. Namun alam semesta justru mulai terasa bergetar dalam frekuensi yang tinggi, namun memiliki panjang gelombang yang pendek. Sepertinya mereka hendak membaskan diri dari sesuatu.

Tubuh Vasu mendadak bersinar terang seperti matahari, dan perlahan-lahan seluruh elemen yang ada di sekitar Bikendi mulai bergerak ke arah Vasu, lalu elemen-elemen di sekitar Bikendi, termasuk Hutan Kabut Ungu, dan tidak lama kemudian elemen-elemen di dataran Tanah Ema mulai bergerak berduyun-duyun dengan kecepatan tinggi ke arah langit Bikendi.

Dan tidak hanya elemen, prana-prana alam semesta juga ikut bergerak seperti terhisap oleh lubang hitam.

Cahaya di sekitar tubuh Vasu tampak mengembang dan bertambah besar seiring dengan menyatunya pelbagai elemen dan prana ke dalamnya.

Dan bertambah mewujud seperti tubuh orang dewasa yang bersinar keemasan dan kadang kebiruan.

Tak hanya itu, kekuatan yang semula hanya tampak beberapa dasa bala dalam diri Vasu meningkat dengan cepat, menjadi sata bala, kemudian ayuta, lalu niyuta, koti, dan semakin lama semakin melejit membuat Fionnuala tidak bisa menyembunyikan wajah pucatnya, dan para ahli di sekitar Bikendi seakan merasa ditimpa gunung karena tekanan prana yang luar biasa.

Kekuatan itu naik seperti brahmastra yang diluncurkan dari bumi ke langit. Dan pada akhirnya, Vasu membuka matanya – kekuatannya berhenti pada tahap mahapadma shakti, satu tredesilyar lebih tangguh dibandingkan mahluk fana manapun.

Ketika Fionnuala turun ke dunia, dia membatasi kekuatannya hanya pada kelompok Rathi, dia hanya mencapai puncak vrnda shakti. Tapi apa maknya berhadapan dengan sosok yang mencapai tahapan mahapadma shakti? Itu bermakna jika ada seseorang yang satu milyar kali kali lebih tangguh dari Fionnuala, maka orang itu sedang berhadapan dengan sosok yang masih sepuluh ribu kali lebih tangguh darinya, dan itulah Vasu saat ini.

Kini Fionnuala tahu bagaimana perasaan manusia yang berhadapan dengan dewi kematian yang mampu membantai satu kota tanpa mengedipkan mata. Karena saat ini di hadapannya berdiri sosok yang jika berada di kahyangan akan mampu membantai nyaris seluruh dewata yang ada.

“Apa ini…?” Ketika pikirannya mulai bisa berjalan, Fionnuala hanya bisa bergumam dengan kata-kata yang terputus.

“Ini? Ini adalah teknik raga vajra emas, tidakkah Nona pernah mendengar?” Kata-kata Vasu berubah, suaranya seperti orang dewasa dan tubuhnya juga adalah tubuh dewasa. Auranya agung menyelimuti seluruh Ema. Fionnuala tahu, bahkan para ahli di seluruh Ema saat ini sedang merasakan tekanan energi oleh prana yang dihasilkan Vasu.

“Tentu saja aku tahu? Tapi tidak ada manusia yang pernah menggunakan raga vajra emas semengerikan ini!”

“Ah…” wajah Vasu berubah masam, dia memerhatikan kedua tangannya, dan kemudian menggelengkan kepalanya.

Melihat ekspresi Vasu yang sepertinya merasa tidak puas, Fionnuala merasakan firasat yang lebih buruk dibandingkan ketika kedua bintang mini bertubrukan di hadapannya.

“Apa…?” Fionnuala sudah bersiaga penuh seandainya Vasu mulai bertindak, karena sadar bahwa satu jentikan jari dari mahapadma shakti akan mampu melenyapkan seluruh Tanah Ema dari Eon.

Vasu tersenyum, “Maaf Nona, saya hanya sedikit salah perhitungan.” Dalam wujud dewasanya, dia sangat tampan dengan rambut hitam yang sedikit terbakar kemerahan, bahkan bagi seorang dewi seperti Fionnuala, ekspresi Vasu cukup untuk meluluhkan hatinya jika bukan karena kekuatan Vasu yang saat ini lebih mengerikan dibandingkan dengan senyumnya.

Dan sekali lagi tubuh Vasu bersinar terang.

Sebelumnya

Naskah 24 - Fionnuala

Dari balik langit-langit yang runtuh, di antara serpihan debu dan puing yang berjatuhan dalam semburat cahaya. Mahluk agung berkelimah kemuliaan tersebut datang bak mentari turun dari langit. Kehadirannya membawa campuran rasa takjub sekaligus takut pada orang-orang yang melihatnya. Namun sekali ... Read more

Selanjutnya

Naskah 26 - Tarian Pedang Empat Musim

Gelombang energi menyapu seluruh Ema, suar paradoks ruang-waktu menembus bumi dan langit. Di salah satu taman kekasiaran Bren, sang kaisar sedang memandangi papan caturnya, sementara kepala Akademi Ksatria dan Sihir Agung Bren baru saja menyelesaikan giliran langkahnya dengan menyiup secangkir ... Read more