Naskah 26 – Tarian Pedang Empat Musim

Gelombang energi menyapu seluruh Ema, suar paradoks ruang-waktu menembus bumi dan langit. Di salah satu taman kekasiaran Bren, sang kaisar sedang memandangi papan caturnya, sementara kepala Akademi Ksatria dan Sihir Agung Bren baru saja menyelesaikan giliran langkahnya dengan menyiup secangkir teh gingseng.

Tiba-tiba seluruh tubuh mereka merinding, angin yang cukup kencang menerpa seluruh wilayah Bren, beberapa tenda rubuh dan debu beterbangan. Meskipun wilayah ibu kota dilindungi oleh tabir energi, dan angin tak dapat masuk, namun suar paradoks ruang-waktu tetap tak terbendung.

Lalu sesaat setelahnya, sang kaisar dan kepala akademi sama-sama menoleh ke arah yang sama.

“Betapa dashyat aura ini, apakah maharati? Bukan! Atimaharati? Bukan juga. Ini… mahamaharathi…”

Bidak catur yang dipindahkan kaisar nyaris terjatuh dari tangannya yang gemetar.

“Yang mulia…” Kepala akademi menunjukkan ekspresi khawatir.

“Tidak apa-apa kawanku, kurasa sepertinya Tanah Ema akan memasuki sejarah baru.”

“Sejarah baru yang mulia?”

“Ya, sejarah baru yang mungkin dibayar dengan mahal.”

“Apakah Yang Mulia maksudkan bahwa ‘yang terpilih’ telah muncul di Tanah Ema?”

“Aku tidak pernah percaya ramalan kuno itu, apalagi mengaitkan sejarah kekaisaran ini dengan sebuah ramalan, seakan-akan kita tidak berdaya untuk menentukan sendiri takdir rumah dan tempat kita bernaung selama ini. Tapi jika itu datang, maka biarlah itu tiba.”

Kaisar tidak berkata-kata apa lagi, wajahnya memancarkan ketenangan yang menentramkan hati siapa pun yang memandangnya. Dan karena itulah dia layak menjadi raja diraja di seluruh wilayah Bren. Namun hatinya gundah memandang ke cakrawala nan jauh, ‘Wahai Dewi Fionnuala, apakah ini pertanda ujian langit akan dimulai di Tanah Ema?’ – batinnya.

Tidak jauh dari langit Bikendi, di antara adonan angin, debu dan awan yang bergulung setelah ledakan dua bintang. Sepasang iris biru menyala di antara awan.

“Ups…, yang tadi itu nyaris saja. Menggunakan penginderaan spiritual yang diperkuat berkali-kali dengan suar paradoks ruang-waktu. Jika tidak hati-hati, hampir saja kehadiranku diketahui. Ah kakak, sepertinya ada monster yang hadir di dalam keluarga kita.”

Wajah cantik penuh pesona tersebut menggelengkan kepalanya, lalu kembali lenyap di antara angin, walau kesadarannya masih tetap mengamati langit Bikendi.

Tubuh Vasu yang berpendar bermandikan cahaya semesta kemudian meredup kembali, kini prana yang dipancarkannya turun drastis. Hanya sebatas sanku bala, membuatnya tampil setara seorang mahaguru.

Fionnuala tersenyum kecut, “Mengapa menurunkan kapasitas pranamu? Tak kusangka selama ini aku bisa melewatkan seseorang sepertimu berjalan di atas Tanah Ema.”

“Nona, saya hanya ingin menggunakan pedang untuk mengakhiri penderitaan Nona di Tanah Ema, mengapa harus menggunakan kekuatan yang dapat meluluhlantahkan Tanah Ema?”

Vasu kembali ke dalam tubuh kecilnya.

“Aku sudah kalah, ini tak usah dilanjutkan lagi. Aku mungkin bagian dari para dewata, namun dalam avatar fanaku ini, tidak mungkin bagiku mengalahkanmu. Seseorang yang bisa mencapai mahamaharathi.”

“Tidak … tidak…, saya berjanji hanya akan menggunakan tahapan prana yang saat ini saya tunjukkan. Tidak akan lebih lagi, Nona masih bisa menang.”

Fionnuala menggelengkan kepalanya, “Nak, kamu masih muda. Atau lebih tepatnya kamu mengingatkanku ketika aku masih muda dulu. Melanglang buana ke seluruh penjuru kahyangan hingga tidak menemukan lawan lagi adalah hasratku, aku selalu menantang semua dewata yang kutemui, termasuk para panglima perang kahyangan. Namun, setelah lama berada di Tanah Ema, aku menyadari, menang dan kalah bukan segalanya. Nak, silakan ambil kemenanganmu, dengan seseorang sepertimu di Tanah Ema, maka keberadaanku tidak lagi bermakna.”

Seorang dewi yang semula datang hendak menemukan siapa yang menggunakan teknik terlarang menemukan dirinya hendak memberikan pelajaran pada generasi muda, tapi kemudian dia mendapati bahwa justru dia-lah yang mendapatkan banyak pelajaran.

Fionnuala bertanya pada hatinya, apakah kini saat dia kembali ke kahyangan?

Ketika datang, Fionnuala dipenuhi dengan amarah. Namun sekarang, seluruh egonya telah diguyur padam oleh keberadaan anak laki-laki di hadapannya. Dan ketika kesadarannya mulai pulih, dia bisa melihat anak di hadapannya tidak seperti yang dia bayangkan ketika datang ke Bikendi. Selama ini dia telah tinggal di Tanah Ema dalam bayang-bayang yang diciptakannya sendiri akan benar dan salah.

“Menang dan kalah memang tidak bermakna bagi Anda Nona, dan bagi saya juga demikian. Tapi melewatkan kesempatan mengenal Anda melalui pedang, akan sungguh sangat disayangkan. Saya tidak tahu lagi kapan bisa berjumpa dengan seorang dewi yang pernah memimpin balatentara kahyangan di garis terdapan, hidup manusia pendek, kesempatan tidak datang dua kali. Apalagi setelah Nona bersedia kembali lagi ke kahyangan, maka kesempatan ini dan akan datang kembali.”

Kedua pasang mata Fionnuala menunjukkan rasa kagum. Bukan karena ternyata Vasu memiliki pengetahuan akan dirinya yang tidak banyak diketahui manusia, namun juga memilih untuk berhadapan demi sebuah kesempatan.

“Siapa kamu sebenarnya?”

“Nona Fionnuala, nama saya Vasu, dan sudah lama saya mendengar tentang nama besar Nona.”

“Tidak banyak orang yang tahu tentang keberadaanku dan identitas asliku. Vasu, tampaknya kamu bukan anak biasa.”

“Saya hanyalah anak biasa yang kebetulan berada meniti jalan kanuraga seperti pendekar lainnya.”

“Tidak ada anak biasa yang bisa menantang dewata begitu saja di siang bolong, dan membuat seorang dewata menyerah kalah tanpa berperang, dan tampaknya mengetahui banyak hal mengenai bumi dan kahyangan. Apakah kamu masih bisa menyebut dirimu anak biasa?”

“Saya tidak bisa menemukan sebutan lainnya.”

“Jika kamu hanya anak biasa, lalu apa sebutan bagi anak-anak lainnya di Tanah Ema?” Fionnuala terdiam sejenak, pandangannya jatuh jauh di belakang Vasu di antara kaki langit yang membentang, penginderaan kedewataannya melingkupi seluruh Ema, dan dia masih menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kenyataan bahwa anak di hadapannya bisa tidak pernah kentara dalam radarnya selama ini. “Baiklah, tunjukkan teknik pedangmu Nak!”

Fionnuala menarik seluruh auranya, membuat dia bagaikan manusia fana biasa yang melayang di langit. Namun tatapan matanya jauh lebih tajam dari seluruh pedang yang pernah ditempa oleh manusia. Melihat ini, orang bisa tahu bahwa sosok ini memiliki jiwa yang ditempa dalam pertarungan hidup dan mati yang tak terhitung jumlahnya.

Vasu juga menarik auranya, dan dengan menggunakan prana ia menciptakan empat bola cahaya yang melayang di sekitarnya. Tidak… ini bukan sebuah bintang, hanya bola-bola cahaya yang padat akan prana langit dan bumi.

Orang-orang di Bikendi mulai bisa menarik napas lebih lega, perpaduan dua aura mengerikan di langit sudah membuat mereka merasa sesak seperti tertimpa gunung. Namun tetap saja jantung-jantung manusia di Bikendi ini tidak bisa berdenyut lebih pelan, dan justru bertambah kencang, karena mereka tahu, babak kedua sebentar lagi akan dimulai.

“Prana yang sangat aneh…” Fionnuala bergumam pelan.

“Aku menyebut ini sebagai ‘benih pedang’ – kebanyakan pedang dibuat dengan menempa logam-logam pilihan, tapi karena saya tidak memiliki kapital untuk mendapatkan pedang yang bagus dari para pandai terbaik, maka saya memutuskan menempa pedang saya sendiri dari elemen-elemen yang tersebar di alam menggunakan prana.”

“Aku memang pernah mendengar metode ini, tapi bukankah sekarang tidak ada yang menggunakannya lagi karena lebih mudah menjadikan prana itu sendiri sebagai pedang?”

“Memang benar, tingkat penguasaan pedang beragam, bermula dari menggunakan pedang yang berwujud, kemudian menyatukan pedang tersebut dengan energi, hingga yang terakhir cukup menggunakan energi saja sebagai pedang. Mereka yang dijuluki kaisar pedang mampu menyusupkan prana mereka ke dalam apapun di alam termasuk sehelai ilalang dan menjadikannya pedang yang tertajam, namun hanya sedikit yang mampu menginjak alam dewa pedang di mana hanya dengan pikiran saja mampu menjadikan energi semesta menjadi pedang yang tajam. Nona Fionnuala, bukankah Nona sendiri termasuk salah satu yang berhasil menginjak tingkatan dewa pedang?”

Mendengar pertanyaan Vasu, Fionnuala mengangguk.

“Lalu pasti Nona tahu alam batin yang lebih tinggi dibandingkan dewa pedang?”

Fionnuala tersentak, “Tidak mungkin… jangan katakan kamu telah mencapai tingkatan tersebut?” suara bergetar mempertahankan ketenangan.

“Tidak tentu saja tidak.” Vasu menjawab dengan tenang, “Saya masih memerlukan media untuk menggunakan prana pedang.”

Perlahan-lahan keempat bola cahaya membentuk wujud pedang, masing-masing berwujud identik, sekitar tiga kaki tiga inci. Wujud mereka polos, namun aura yang memancar berbeda.

Satu memiliki lima warna yang menari-nari bak rajahan surgawi tertiup angin Utara. Auranya menyegarkan seperti membawa kehidupan baru ke dunia.

Yang kedua memiliki warna emas agung, bersinar layaknya jubah raja langit yang diterpa sinar surya di tengah hari. Auranya penuh keagungan, kepastian, dan kokoh tak terbantahkan.

Yang ketiga berwarna coklat keabu-abuan redup, seperti mengingatkan pada perabuan yang tak tersentuh oleh waktu di pelukan keabadian. Auranya penuh ketenangan, seperti sosok yang melampaui kebijakan para dewata, melampaui kehidupan dan kematian.

Yang terakhir berwarna putih jernih, seperti salju abadi yang menjadi permata ketiga dunia. Auranya dingin tanpa belas kasih, sanggup menghakimi langit, bumi dan segenap isinya tanpa nurani.

Yang pertama adalah pedang elemental musim semi, yang kedua adalah pedang elemental musim panas, yang ketiga adalah pedang elemental musim dingin, dan terakhir tentunya adalah pedang elemental musim dingin.

Empat pedang, empat musim, empat sifat semesta yang misterius lahir di dalam mereka.

Memang benar Vasu tidak menggunakan prana pedang, namun mengendalikan pedang berwujud dengan prana. Hanya saja pedang berwujud ini melampaui bahkan keberadaan prana pedang yang bisa dimiliki oleh mereka yang sampai pada tingkatan dewa pedang.

Fionnuala tertawa lepas, “Ah…, seniormu ini tidak hanya mengaku kalah dalam adu kekuatan, namun juga dalam adu teknik. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?” Karena seberapa lama pun sang dewi telah mendalami ilmu pedang, ia belum sampai pada dasar kesadaran pedang itu sendiri.

“Nona terlalu merendah, saya belum bertemu seseorang di Tanah Ema yang dapat menggunakan prana pedang, teknik saya ini masih belum pernah digunakan sebelumnya di Tanah Ema karena belum menemukan lawan sepadan. Tapi sekarang saya bertemu dengan Nona Fionnuala, mohon Nona berkenan memberikan petunjuk.”

Fionnuala mengangguk, dari segi tingkatan ilmu pedang, Vasu yang menggunakan pedang yang disalurkan prana saja tentu saja memiliki tingkatan lebih rendah dibandingkan Fionnuala yang mampu menggunakan prana pedang secara langsung tanpa memerlukan pedang itu sendiri. Tapi jika seseorang tidak menelan mentah-mentah konsep ini, maka dia mungkin tersedak ketika menyadari bahwa keempat pedang yang digunakan oleh Vasu adalah pedang yang dibentuk dari prana murni pelbagai elemental di alam semesta.

Kecuali jari telunjuk dan tengah dari kedua tangan Fionnuala yang lurus, jari-jari lain tanggannya menekuk.

Dengan satu kibasan dari tangan kanannya, sebilah prana pedang tajam membelah langit Bikendi membuat rentetan awan sepanjang kaki langit terbelah dua.

Ini terjadi dengan seketika, dan tanpa ampun.

Ketika prana pedang tersebut terlepas, Vasu sudah tidak ada di posisi awalnya. Prana pedang tersebut hanya lewat tepat satu inci di bawah kaki Vasu yang melayang. Meski pun ia bergerak cepat, namun jika terlambat sekejap saja, tubuhnya pasti sudah terbelah dua.

Mau tidak mau, keringat dingin membasahi pelipis Vasu. Walau dia tidak hendak meremahkan salah satu jenderal besar kahyangan tersebut, namun melihat dan merasakan sendiri aksinya memberikan sensasi yang berbeda.

Sudah lama sekali Vasu tidak merasakan sensasi seperti yang sekarang dia rasakan. Jantungnya berdegup kencang seperti seribu ekor kuda yang berlari liar di padang rumput. Darahnya dipompa dengan cepat bak sungai yang dilanda banjir. Seluruh prana dalam tubuhnya mengalir seperti kilat melalui ribuan cakra kecil maupun utama, membuatnya berada dalam kondisi yang paling prima. Raga Vajra Emas memberikan potensi yang berlipat-lipat dari potensi aslinya.

Ketika Fionnuala dan Vasu sama-sama bergerak menyerang, aura langit Bikendi kembali berubah liar dan kacau. Seperti pertempuran antara dewa dan sura yang hanya muncul dalam mitologi.

Kilatan prana pedang Fionnuala dilepaskan berkali-kali, seluruhnya begitu presisi dan datang bertubi-tubi. Tidak bisa dilihat dan tidak bisa didengar, namun ketika tiba seperti mampu merobek ruang hampa di sekitarnya.

Ketika ada kesempatan, Vasu bisa menghindarinya, namun beberapa kali keempat pedangnya menari menghentikan laju prana pedang yang mematikan itu. Bahkan ketika Raga Vajra Emas mampu menahan serangan prana pedang, tapi bukan berarti dia tidak akan tanpa cedera menerima serangan prana pedang seperti itu.

Fionnuala beberapa kali mengerutkan dahinya, dia tidak tahu pedang seperti apa yang mampu menghentikan prana pedang berkali-kali. Beberapa pedang yang ditempa oleh kahyangan mungkin akan mampu menahan prana pedangnya beberapa kali, namun tidak akan lebih dari seratus kali. Tapi keempat pedang Vasu, jangankan hancur setelah berkali-kali menghalangi prana pedangnya, bahkan tidak tampak kerusakan apapun di pada keempat pedang tersebut. Dalam pengetahuannya, hanya ada satu pedang yang sanggup bertahan seperti penampilan keempat pedang tersebut, dan dari keempat pedang di hadapannya – tidak satupun adalah pedang yang dia tahu itu.

Maka dewi ini pun tahu, jika keempat pedang tersebut belum ditaklukan, maka pertempuran ini akan berkepanjangan.

Keduanya bergerak di langit bagai sepasang feniks yang melukis angkasa. Sang dewi yang bergerak anggun, namun setiap geraknya adalah kepastian yang mematikan. Vasu yang bergerak lincah, seperti kelinci yang bermanuver di dalam hutan ketika menghindari, dan seperti rubah yang selalu mencari celah ketika menyerang.

Seluruh jemari tangan Fionnuala membentuk beberapa mudra berturut-turut dengan cepat. Prana pedang membentuk bayangan-bayangan pedang yang bersinar terang mengisi langit, dan dengan cepat membentuk lautan prana pedang.

“Serang!” Dengan satu kata, lautan prana pedang tersebut bergerak lambat menuju arah Vasu. Tapi tak seorang pun bisa meremahkan gerakan sederhana ini, karena bak tsunami yang bersiap menghantam pesisir, semua yang menghalangi jalannya akan dilumatkan tak tersisa.

Vasu memandang seluruh gelombang prana pedang yang memenuhi langit, keringat dingin membasahi kepalanya. Ini sama saja seperti manusia biasa yang berjalan di bawah hujan anak panah, ke mana dia bisa bersembunyi dari kematian?

Sungguh sebuah pertunjukkan yang layak dari sosok dewi yang menyandang gelar dewa pedang. Di hadapan mahakarya yang menggetarkan hati, Vasu bergeming dengan pandangan mata dinginnya.

“Jika dua pedang berhadapan di medan perang, maka hanya kematian yang bisa melukiskan bahwa seni agung ini sudah dipentaskan dengan sepenuh hati. Mengapa takut akan kematian jika setiap saat memegang senjata yang membawa kematian?” Vasu bergumam pada dirinya sendiri. Jika dia takut akan kematian yang datang padanya, maka dia tak akan pernah bisa melangkah maju dalam hidupnya, ini adalah takdir mereka yang menggenggam pedang, dan dia tak bisa lari dari kehidupan itu sendiri.

Tangan kiri Vasu mengepal membentuk adimudra yang dilekatkan ke diafragma, napasnya pelan dan teratur. Tangannya kanannya terangkat membentuk abhayamudra, dan seketika keempat pedang yang menari di angkasa bersinar lebih terang lagi.

Ketika Vasu memejamkan kedua matanya, keempat pedang tersebut melesat gemilang menuju lautan prana padang, empat buah pedang yang berhadapan langsung dengan jutaan prana pedang. Pemandangan ini seperti empat ekor naga yang bergerak menerjang tsunami, siapapun yang memiliki energi lebih besar akan muncul sebagai jawara.

Sementara ini lautan manusia di Bikendi hanya bisa ternganga, bahkan para ahli pun kehabisan kata-kata. Tidak tahu harus merasakan apa selain takjub dan khawatir. Takjub karena tidak setiap saat mereka dapat menyaksikan pertempuran seperti ini, dan khawatir karena satu sapuan energi saja dari pertempuran itu jika mengarah ke Bikendi, maka mereka semua akan tinggal nama saja.

“Aku yakin Dewi Fionnuala menggunakan prana pedang, dan tak pernah kubayangkan dapat menyaksikannya langsung dengan mata kepalaku. Tapi apakah teknik yang digunakan Vasu, sehingga bisa mengimbangi prana pedang?” Vincent tua benar-benar merasa penasaran, tapi tidak seperti orang lain yang memiliki rasa khawatir, dia sudah terlalu tua untuk khawatir akan meregang nyawa oleh dampak pertarungan di langit Bikendi.

Sepasang mata indah Christine, sebagaimana ribuan pasang mata lainnya, tak lepas dari langit Bikendi. “Saya yakin itu adalah Tarian Pedang Empat Musim dari Kitab Pedang Empat Musim.”

“Eh…” Semua orang yang mendengar kaget.

“Kitab Pedang Empat Musim? Aku belum pernah mendengarnya. Dapatkah Nona Christine memberikan kami kejelasan?” – Tanya salah satu dari yang terdekat. Dengan dua pedang di pinggangnya, orang bisa melihat dia adalah juga ahli pedang.

“Kitab Pedang Empat Musim adalah kitab pedang yang ditulis oleh Vasu sendiri, jadi bisa dikatakan Vasu adalah pencipta teknik pedang ini. Saya pernah membacanya, dan melihat teknik ini dipraktikkan, namun tak menyangka jika bisa digunakan sampai tingkatan seperti ini.” Christine mengingat pertandingannya dengan Vasu di tepi Danau Bulan Sabit, dia berandai-andai, jika itu merupakan duel hidup dan mati, dalam berapa jurus dia sanggup mempertahankan napasnya?

“Nona Christine pernah membaca kitab tersebut? Apakah itu berarti bukan kitab rahasia atau sejenisnya?”

“Satu-satunya salinan yang ada saat ini berada di tangan dua murid Puncak Benderang, Te’oma Ruppert & Geatana Harlan. Mereka adalah pewaris Kitab Pedang Empat Musim dari Vasu. Dan kini keduanya membuka sebuah dojo khusus untuk menyebarkan teknik pedang ini. Jadi kurasa Vasu tidak berniat merahasiakannya.” Ada sedikit senyum bangga di wajah Christine ketika menyampaikan informasi ini.

Semua yang mendengar ini nyaris tak percaya. Setiap ahli tahu, baik dia seorang ahli beladiri, pendekar, penyihir, tabib, pengelana dan sebagainya – bahwa setiap teknik yang bisa mengguncang langit dan bumi hanya dapat dipelajari oleh sekelompok orang terpilih, dan teknik ini biasanya hanya diajari pada mereka yang memiliki hubungan guru dan murid. Seperti misalnya teknik Dandelion Beku dari hanya diwariskan pada para murid utama Puncak Benderang, dan kemudian sejumlah dasarnya diwariskan pada murid madya, orang di luar Puncak Benderang tidak akan biasa menguasai teknik Dandelion Beku.

Jika sebuah kitab yang penciptanya mampu bertarung seimbang dengan seorang dewa bisa didapatkan dari sebuah dojo, maka tidak akan mustahil para peminat pedang akan berbondong-bondong datang ke dojo tersebut untuk mendapatkan rahasia ilmu yang mengguncang langit Bikendi saat ini.

“Apakah Nona Christine tahu rahasia di balik tening pedang tersebut?”

“Sayangnya…” Christine menggelengkan kepala, “Semakin saya membaca kitab tersebut, semakin saya memahaminya, semakin banyak yang tidak saya mengerti.”

“Itu adalah waktu.” Sebuah suara menjawab dari salah satu sudut atap yang berlubang.

Christine dan yang lain segera menoleh. Di sudut atap tersebut berdiri dalam tubuh mungil yang tertutup jubah ungu yang berkibar tertiup angin. Dengan sepasang mata fuchsia pucat, wajahnya memancarkan ketertaringan, keingintahuan, serta perhatian yang mendalam akan langit Bikendi.

Dalam ingatan Christine, dia tidak pernah bertemu dengan anak perempuan sebayanya tersebut, namun entah mengapa keberadaan anak tersebut dan ketenangan dalam raut wajahnya membuat Christine justru merasa was-was.

Sepasang mata fuchsia pucat tetap menerawang tenang tengadah ke langit Bikendi. “Usia yang belia, bakat tak terbatas, langit pun tak cukup tinggi, gelombang gravitasi yang melahirkan suar paradoks ruang-waktu, dan misteri waktu yang dibalut dalam tarian pedang empat musim.” Suara lembutnya berhenti sejenak, “Kurasa, aku menemukan apa yang kucari selama ini.” Semburat sinar di matanya melonjak kegirangan.

║BOOM║

Suara dentuman kembali menyapu seluruh wilayah Bikendi dan sekitarnya. Keempat pedang seperti empat naga yang ganas berusaha menyobek dan melululantahkan barisan gelombang prana pedang.

“Teknik pedang yang sangat ganas.” Fionnuala menggigit bibir bawahnya. Sudah lama dia tidak dipaksa menggunakan segenap kemampuannya meski pun berada dalam avatar fananya. Jika dia melepaskan prana pedang ini ke Tanah Ema, setidaknya separuh peradaban akan lebur, tapi ketika berhadapan dengan empat pedang milik Vasu – prana pedangnya nyaris tidak bisa bergerak maju, dan justru seperti digerogoti sedikit demi sedikit.

Dengan rasa yang setengah tidak percaya, Fionnuala menepuk keduatangganya lurus di depan dadanya. “Ada permulaan, maka ada akhir. Jika ini adalah pengakhiran bagiku, maka biarlah langit runtuh bersama sisa napasku. Kitab Pedang Langit – Teknik Rahasia – Sejuta Pedang Melebur Langit!”

Seluruh prana pedang bersinar terang dan kemudian menyala hebat, langit menjadi membara bagaikan kobaran api akhir zaman. Prana pedang bertambah ganas dengan panas yang bisa melelehkan bumi dan langit.

Perisai energi dibentuk di sekitar Bikendi oleh para ahli yang bisa merasakan sengatan panas seakan matahari dua kali lebih dekat di langit.

Vasu bisa melihat rangkaian lidah api yang tajam menyala menjadi wujud langit yang baru, seakan-akan dia sedang berada di tengah lautan lahar panas. Tidak ada satupun jalan keluar, kecuali membuat sendiri satu.

“Ada banyak jalan untuk menyelami misteri alam semesta. Ketika aku meneguk segelas air, maka segelas air adalah jalanku. Ketika aku meniup seruling, maka lantunan seruling adalah jalanku. Ketika aku mengambil sebilah pedang, maka pedang adalah jalan dan juga kehidupanku.”

Vasu menutup dan membuka kembali kedua matanya, sinar matanya tenang seakan menjadi dua buah mutiara yang bergeming cemerlang di dalam lautan api.

“Dengan pedang aku menari. Menari melewati empat musim. Dengan pedang aku menghabiskan waktu, menjadi candu di setiap napasku. Dengan pedang aku mengarungi dunia, hingga tiba ketika empat musim tiada. Aku adalah pedang, dan pedang adalah aku.”

Setiap kata-katanya merupakan kesadaran yang merebak dan mekar dalam batin Vasu. Seluruh prana dalam tubuhnya mengisi ribuan cakra yang berputar secara harmonis, saling menopang keberadaan satu dan lainnya.

“Pada awalnya hanya ada pedang, pada akhirnya juga hanya ada pedang. Awal adalah akhir, dan akhir adalah awal. Semua wujud pedang yang lain hanyalah ilusi. Dengan mengakhiri tarian waktu, maka ilusi dapat diakhiri. Pedang Nirvana – Pedang Pemadam Waktu – Pedang Pembantai Ilusi!”

Keempat pedang yang sebelumnya menari menahan jutaan prana pedang, terbang saling mendekat dan kemudian menyatu membentuk sebuah pedang dengan aura keemasan yang agung. Dan melayang ke arah genggaman Vasu.

Vasu terbang dengan pedang keemasan terhunus menuju arah Fionnuala.

Lautan prana pedang yang menyala tak bisa membendung Vasu dan pedangnya yang melesat cepat menembus tembok api raksasa tersebut.

Setiap bidang langit yang menyala tidak dapat menyentuh Vasu. Justru di mana pun ujung pedang keemasan menusuk, seakan-akan ruang terobek keberadaannya, dan waktu lenyap dari dalamnya. Hanya ketika Vasu lewat dari sebuah posisi, maka ruang-waktu kembali dalam kewajarannya di posisi tersebut.

Fionnuala yang melepaskan energi pedang hanya bisa tersenyum, dia tidak bisa melepas energi lebih besar dari yang sudah dilepasnya, atau Bikendi dan wilayah di sekitarnya hanya akan menjadi sejarah saja.

Dari tangan lembut sang dewi, sebuah pedang terwujud. Jernih seperti kristal yang bisa melukiskan keindahan tiga semesta. Walau dia sudah menduga sebelumnya, bahwa ada seseorang yang sanggup menyudutkannya untuk menggunakan salah satu senjata kahyangan, tapi dengan menggenggam pedangnya sendiri saat ini, kenyataan yang pahit ini sungguh terasa berbeda. Jadi dia masih akan tetap kalah walau telah menggenggam senjata utamanya.

Melihat Vasu yang datang mendekat, hanya dalam beberapa ratus langkah, namun itu bermakna juga hanya sekejap mata, Fionnuala merasa seekor anak feniks yang menari di antara lautan api datang ke dalam dekapannya.

Keduanya berhadapan dengan pedang terhunus. Satunya adalah seorang dewi yang memimpin balatentara kahyangan, satunya adalah anak manusia yang misterius. Namun ketika dua pasang tatapan mata saling bertemu, semburat senyum penuh ketulusan menghiasi wajah keduanya.

|KLANG| |TRING|

Suara dua senjata beradu merdu di langit Bikendi, disusul oleh keheningan yang terasa begitu panjang.

Fionnuala menarik napas panjang dan menghembuskannya, hanya untuk pertama kali dadanya terasa sesak sekaligus hangat. Dia melihat pedang kahyangannya hanya tinggal gagang yang retak, dan darah merah segar terasa mengalir dingin di dadanya, dan anak seorang anak kecil yang menempel padanya.

Segera sang dewi memeluk anak tersebut, dia merasakan air mata membasahi dadanya dan bercampur dengan darah segarnya, di mana si kecil membenamkan kepalanya.

“Jangan bersedih Vasu – jika itu memang namamu. Kurasa aku tahu mengapa kamu datang padaku. Dan aku sungguh berterima kasih untuk itu. Seberapa lama aku sudah berada dalam sangkar penyangkalan yang kubangun sendiri?”

Sang dewi terdiam sejenak, pandangannya kembali menyapu seluruh Tanah Ema, dan waktu dua juta tahun yang dia habiskan di Tanah Ema seakan menguap begitu saja.

“Hei…., tadi itu adalah tarian pedang yang terindah yang pernah kusaksikan.” sang dewi membelai rambut Vasu, “Tapi lain kali, jangan lagi melakukan tindakan yang ceroboh. Hidupmu adalah sesuatu yang sangat berharga, jangan dipertaruhkan begitu saja. Sekarang berhentilah menangis.”

“Aku tidak menangis.” Suara Vasu bergetar, dia masih membenamkan kepalanya dalam pelukan Fionnuala.

|PLOK| Fionnuala memukul kepala Vasu, membuat anak laki-laki tersebut tersentak.

“Ha ha…, itu hukumanmu karena menggunakan teknik terlarang saat aku masih mengawasi Tanah Ema. Setidaknya aku memenuhi tujuanku datang ke sini.”

“Ughh…” Vasu mengusap-usap kepalanya yang terasa berdenyut. ‘Perempuan ini tahu benar bagaimana tidak melupakan urusan masa lalu’. “Aku juga sudah selesai.” Vasu berusaha keluar dari dekapan Fionnuala.

“Jadi katakanlah, siapa kamu sesungguhnya Vasu?” Tampaknya Fionnuala sudah tidak lagi menggunakan sebutan ‘Nak’ untuk memanggil Vasu, “Dari mana kamu berasal? Aku tidak ingin meninggalkan dunia fana ini dan menjadi arwah penasaran?” Dia tertawa geli, sambil tetap mendekap Vasu, meski wajahnya semakin pucat karena darah yang mengalir dari dadanya tak kunjung berhenti, menjadi bukti waktu-waktu terakhir sang dewi di Tanah Ema sedang bergulir.

Vasu tersenyum, dia menengadahkan tangannya dan seketika Ikcr muncul di situ dalam wujud aslinya.

Melihat ini, Fionnuala tersentak kaget, tapi kemudian segera tertawa lepas.

“Satunya membuat tinggal di Tanah Ema entah berapa lama, satunya justru membuatku meninggalkan Tanah Ema. Kalian sungguh keberadaan yang tak pernah terduga.”

Semua yang menyaksikan di Bikendi tak bisa mencerna apa yang mereka saksikan. Langit yang tenang, sosok dewi yang terluka parah dan tampak begitu bahagia. Seorang anak laki-laki di pelukannya yang misterius; bagaimana mungkin Puncak Benderang bisa menghasilkan sosok yang bisa mengalahkan dewata?

Setiap orang memiliki pikirannya masing-masing.

Ketika Vasu menatap wajah pucat perempuan di hadapannya, hatinya merasa ada yang kosong. Dia memang tidak mencari kemenangan dari pertarungan ini, namun kematian sang dewi sendiri.

“Ini tidak bagus.” Tiba-tiba ekspresi Fionnuala berubah drastis menjadi siaga.

Langit di atas mereka berdua bersinar terang, sebuah gerbang raksasa mewujud. Dan aura kahyangan yang begitu pekat merebak hingga seratus pal ke segela arah.

“Sial” Vasu menggerutu, ini adalah hal terburuk dalam perhitungannya, tapi tampaknya hari ini bukan hari baiknya.

Sebelumnya

Naskah 25 - Raga Vajra Emas

Dia lahir sekitar sepuluh juta tahun yang lalu, dan kemudian sembilan juta tahun yang lalu ... Read more

Selanjutnya

Naskah 27 - Kekacauan di Langit Bikendi

Sungguh megah tampak gerbang yang muncul di langit Bikendi. Keagungan terpancar dari guratan dan ukiran ... Read more