Sungguh megah tampak gerbang yang muncul di langit Bikendi. Keagungan terpancar dari guratan dan ukiran yang menghiasinya. Hanya dengan melihatnya, seseorang akan merasa begitu kecil, seakan-akan tempat di baliknya tidak layak dipijak oleh manusia yang fana. Dan kabut putih di sekitar gerbang agung tersebut menambah kesan mistik yang diberikan.

“Gerbang Seribu Kahyangan, ini tidak akan berakhir baik.” Fionnuala menarik Vasu dan meletakkan anak itu di belakangnya, seakan-akan melindunginya.

“Eh…” Vasu terkaget, “Jadi ini adalah salah satu gerbang langit yang digunakan kahyangan untuk memindahkan sejumlah besar dewata?” Tentu saja Vasu pernah membaca tentang beberapa jenis gerbang langit. Tidak seperti portal teleportasi, gerbang kahyangan merupakan wujud nyata dari pintu ke mana saja yang bisa membuat penggunanya memindahkan populasi suatu ras dalam jumlah besar.

Tapi apa yang membuat Vasu heran adalah tindakan Fionnuala, seakan dia bertemu bahaya besar. Bukankah yang seharusnya merasa khawatir adalah Vasu, tapi mengapa sang dewi begitu khawatir?

“Ya, dan gerbang seribu kahyangan lebih tepatnya adalah alat transportasi bagi balatentara kahyangan untuk menjelajahi ketiga semesta.”

“Saya tahu itu, tapi mengapa Nona tampak gugup?”

“Jika yang muncul gerbang lain, aku tidak akan khawatir. Tapi pemilik gerbang ini, walau hingga akhir zaman, aku akan tetap ingat?”

“Pemilik gerbang?”

“Ya, jika kamu lihat di atas gerbang, terdapat penanda dari kelompok yang memiliki gerbang itu. Di kahyangan terdapat sejumlah klan, bangsawan, keluarga yang berpengaruh sejak dahulu kala, mereka mewarisi sejumlah gerbang langit dari leluhur mereka. Dan gerbang langit ini adalah milik klan Lazar.”

Ketika mengucapkan nama Lazar, sorot mata Fionnuala menjadi sedingin es. Seperti seseorang yang bertemu musuh lama.

“Oh… apa ini masih tentang pemuda dungu dari klan Lazar itu?”

Tiba-tiba suara Ikcr terdengar dalam nada seperti orang yang baru bangun tidur.

“Eh…, kamu ingat?”

“Tentu saja, dia orang yang menyebalkan, bahkan dulu berharap bisa merebut nona naga dari tuanku yang terdahulu. Hmm…, seingatku, dia juga mengejar-ngejarmu di kahyangan?”

“Ya. Manouel Lazar.”

Ikcr dan Fionnuala mengobrol seperti dua sahabat lama yang bertemu kembali.

“Apa dia berbahaya?” Vasu menatap gerbang seribu kahyangan dengan pandangan dingin.

“Jika dalam situasi berbeda, sama sekali tidak. Tapi situasi saat ini… akan sangat berbahaya.” Fionnuala menekan luka di dadanya, berusaha menghentikan darah yang mengalir.

Situasi mereka memang tidak menguntungkan. Fionnuala terluka parah, sedangkan Vasu baru saja menghabiskan nyaris seluruh energinya. Keduanya memang tidak dalam posisi siap bertempur lagi.

“Beri saya gambaran tentang dia yang ada di balik gerbang itu?” Vasu bertanya pada Fionnuala, karena dia tidak mengenal klan Lazar.

“Singkatnya, dewa yang bernama Manouel Lazar adalah anak salah didik di klan Lazar, sebagai salah satu jenius, dia diberikan banyak kelonggaran, dan kesalahan-kesalahannya hanya dipandang sebelah mata. Dia ambisius, namun tidak sanggup menggenggam seluruh kahyangan karena ketidakbecusannya sendiri, dan dia juga pendendam. Dia menginginkanku, namun aku menolaknya, dan justru membongkar banyak kegiatan busuknya di kahyangan. Jika saja bukan karena pengaruh klan Lazar, dia pasti sudah lama dipancung. Kali ini dia pasti menginginkanku, meninggalkan saksi juga bukan karakternya.”

Mendengar ini, Vasu mengangguk. Dari latar yang diceritakan, dia tahu skenario apa yang mungkin muncul. Klan Lazar akan menangkap Fionnuala saat sang dewi lemah, dan sisanya akan dilenyapkan – termasuk Vasu dan seluruh orang di Bikendi.

‘Ini tak bisa terjadi’ – Vasu membatin.

Samudra elemental bergerak lemah lembut dan penuh harmoni, meluas hingga ke seluruh kaki langit. Di tengahnya sebuah pohon bersinar dan pondok yang sederhana nyaris tak tampak karena begitu kecil dibandingkan seluruh samudra.

“Kamu sungguh pembawa masalah.” Perempuan berparas cantik menuangkan teh setelah meletakkan sebuah buku bacaan kecil di atas mejanya. “Bagaimana mungkin belum lama aku menemukanmu, masalah yang mengguncang bumi dan langit langsung menemukan jalannya padamu?”

“Rukhal, hei, ini tidak seperti yang kubayangkan.” Vasu menerima secangkir teh dan segera menyeruputnya. Namun karena terlalu terburu, ekspresinya menunjukkan lidahnya sedang tergigit oleh panas.

“Aku tahu.”

“Apa kamu bisa membantu?”

“Bukannya aku tidak ingin membantu, namun entah kenapa perasaanku merasa tidak nyaman, seperti ada sesuatu yang mengawasiku, namun aku tak bisa menemukannya. Makanya jika bisa aku tidak ingin menampakkan diri.”

“Apakah ini sejenis perasaan terancam?”

“Bukan, hanya saja perasaan seperti selalu diikuti secara diam-diam.”

“Apa kira-kira ada hubungannya dengan para dewata di balik gerbang seribu kahyangan?”

“Heh, di balik pintu tua itu hanya ada satu orang tuan muda yang bersolek, tiga orang pembantunya, dan empat ribu lima ratus dayang. Jika aku tidak bisa melihat hal mudah itu, maka sia-sia aku mengarungi banyak semesta sejak dulu.”

“Di balik itu ada empat ribu lebih dewata?” Vasu memandang serius ke arah Rukh, dia tahu apa maknanya jika harus menghadapi empat ribu dewata.

“Apalah artinya, paling hebat mereka hanya bisa membalik bumi dan langit, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi ada yang lain yang membuatku tidak tenang, aku ingin mengetahuinya, namun dengan mengetahui apa yang membuatku tidak tenang – kurasa dunia kita tidak akan pernah sama lagi.”

Vasu terdiam sejenak, mencerna apa yang disampaikan oleh Rukh. Bagi Vasu, menghadapi satu dewata saja sudah akan melelahkan, apalagi ada empat ribu, sementara bagi Rukh itu tidak masalah besar – hanya saja ada sesuatu selain yang berada di balik gerbang langit yang bisa membuatnya khawatir. Vasu hanya tidak bisa membayangkan apa itu.

“Jadi, apa yang harus dilakukan saat ini?”

“Vasu…, ini semua di luar kendalimu. Jika kamu memaksa untuk menghadapi para dewa itu, konsekuensinya akan besar, kota ini dan mungkin sebagian besar Ema akan terkena dampaknya. Kemampuan ini saat ini belum sampai pada tahapan di mana kamu bisa menghadapi mereka tanpa menciptakan bencana sebagai dampaknya. Kamu sudah membuatku bangga dengan bisa menghadapi Fionnuala dengan baik. Untuk yang berikutnya, beristirahatlah sejenak, kamu akan memerlukan itu untuk menolong Flora.”

Vasu tersentak, dia hampir saja lupa bahwa di balik kabut ungu yang menjulang ke langit tidak jauh dari tempatnya berada, ada seseorang yang harus dia selamatkan.

Gerbang Seribu Kahyangan perlahan terbuka dalam kemegahannya. Aura langit menyeruak menyelubungi jagad manusia. Ribuan sosok yang cemerlang dengan prabawa gemilang perlahan-lahan melangkah melayang ke luar dari balik gerbang.

Paling depan adalah sosok pria muda dengan jubah putih perak berkilau, memegang kipas lipat dengan ornamen merak perak. Dia tampak tampan dengan aura raja muda ketika diikuti dengan tiga laki-laki paruh baya sosok berjubah hijau berdiri tegak di belakangnya.

Dia adalah Manouel Lazar, penerus klan Lazar di kahyangan.

Begitu Manouel melihat Fionnuala – yang tentu saja dia mengabaikan keberadaan Vasu di belakang sang dewa – kedua mata Manouel bersinar garang seakan macan menemukan mangsanya, lidahnya sedikit menjilat bibir atas. Dia tampak seperti anak bangsawan pembuat onar yang baru saja masuk ke dalam rumah bordil.

“Dewi Fionnuala pujaanku, akhirnya kita dapat berjumpa setelah sekian lama terpisah. Aku sangat senang bisa melihatmu kembali.”

“Cukup dengan basa-basinya, katakan apa mau-mu?” Tatapan dingin Fionnuala tampak di wajah sang dewi, walaupun avatarnya juga mulai kehilangan kehangatan akibat daya hidupnya yang makin menipis.

“Oh, jangan bersikap dingin demikian dewi. Begitu aku mendengar kabar bahwa kondisi avatar fana sang dewi meredup. Aku langsung tergesa-gesa datang ke sini. Berharap sang dewi bersedia ikut denganku kembali ke kahyangan. Dan lihatlah, aku telah membawa pengawalan khusus bagimu. Aku percaya kamu cukup bijak tidak akan menyia-nyiakan tawaranku bukan?”

Ekspresi Fionnuala tetap dingin dan kaku, “Heh…, sungguh pas nama besar klan Lazar, bahkan punya mata dan telinga di dalam militer. Tapi semua di kahyangan ada aturannya. Karenanya aku tidak bisa kembali, kecuali pasukan kekaisaran sendiri yang menjemput.”

Lalu Fionnuala melihat ke arah Vasu, dia mengirim pesan batin ‘Maafkan, aku tidak menyangka mereka membawa pasukan berjumlah ribuan. Jika hanya Manouel sendiri dengan satu atau dua bawahan, aku masih bisa menangani. Tidak disangka, dia benar-benar tidak ingin menahan diri. Kali ini, aku membawamu ke dalam masalah. Maafkan aku….”

Namun Vasu tetap bergeming, seakan apa yang sedang terjadi tidak memengaruhi ketenangannya.

Pandangan mata Fionnuala yang penuh perhatian pada seorang anak manusia tidak bisa lepas dari pengamatan Manouel.

“Tuan muda, tampaknya Dewi Fionnuala menaruh perhatian besar pada anak manusia itu.” Bisik salah satu bawahan Manouel.

Manouel hanya mengangguk, dia memikirkan beberapa hal. Tentu saja para dewa yang baru datang melalui gerbang langit tidak mengetahui apa yang sudah terjadi di langit Bikendi. Mereka tidak tahu bagaimana Fionnuala dapat terluka parah.

Tapi dari pengamatan Manouel, tampaknya Fionnuala terluka parah dari sesuatu karena melindungi anak manusia di sampingnya. Dan apapun yang membuat Fionnuala terluka, sepertinya sudah berhasil diatasi. Tiba-tiba Manouel merasa harus berterima kasih pada apapun itu, yang memberikannya kesempatan menangkap pujaan hatinya. Jika bukan karena avatar fana Fionnuala terluka parah, dia tidak akan datang dengan percaya diri walau membawa ribuan pasukan sekalipun.

‘Perempuan ini sedari dulu menginjak-injak harga diriku karena dia punya kekuatan dan kekuasaan di dalam militer. Kali ini dia jatuh dalam kondisi yang mengenaskan. Aku akan menangkapnya dan menjadikannya budak. Saat dia menjadi budak, bahkan raja langit pun tak akan bisa membebaskanmu. Aku akan membuatnya menyesal berani mengabaikanku selama ini.’ Pikiran Manouel sudah dipenuhi keinginan untuk menangkap Fionnuala sepenuhnya.

Sementara itu, Fionnuala mulai mengumpulkan tenaga terakhirnya. Kali ini dia tidak hanya menggunakan prana, namun juga mulai membakar suksma-nya. Jika yang bertanya mengapa, mungkin jawabannya seperti manusia yang walau berhasil menakhlukkan seribu gunung, seribu daratan dan seribu lautan, namun tak bisa lari ketika maut datang menjemput. Untungnya bagi Fionnuala, dia masih bisa memilih bagaimana maut itu datang. Baginya kematian sudah pasti, dia sudah mati di tangan Vasu dalam pertempuran hidup mati sebelumnya, tidak akan dia bersedia mati lagi dan tertangkap jiwanya oleh mahluk rendahan seperti Manouel.

Membakar habis prana akan memberikan energi sebagai ganti kematian yang datang lebih cepat. Membakar habis sukma akan memberikan energi yang maha dahsyat dengan harga tidak hanya kematian, namun juga menghilang dari seluruh keberadaan termasuk siklus hidup dan mati dalam roda reinkarnasi – seperti tidak pernah ada sama sekali di jagad raya.

Harga yang mahal bagi Fionnuala, namun apalah artinya keberadaan jika berada di bawah penindasan? Dia tahu pasti apa maknanya jika tertangkap oleh Manouel.

Tiba-tiba api putih cemerlang berkobar membakar Fionnuala, lebih tepatnya membakar raga dan jiwa sang dewi.

“Apa yang kamu lakukan? Apa kamu sudah gila?” Melihat ini, Manouel menjadi panik, dia tahu pasti apa maknya nyala api putih tersebut. Dia sudah bersusah payah membuka gerbang langit, dan kini semua usahanya akan sia-sia. Begitu api tersebut membakar habis, maka jiwa yang dibakar akan selamanya hilang dari semesta.

Fionnuala hanya membalas dengan senyuman. Dia berbalik ke arah Vasu, dan mencumbu bibir kecil Vasu.

Sebuah mutiara bergerak dari dalam tubuh Fionnuala, lalu ke dalam rongga mulut sang dewi dan menyeberang melalui dua bibir yang menyatu, segera kemudian tertelan oleh Vasu ke dalam tubuhnya dan berubah menjadi lautan energi yang melimpah.

Energi tersebut seperti samudra yang bergejolak, dengan cepat mengisi kembali nadi-nadi yang kering dalam tubuh Vasu.

Melihat ini, Fionnuala tersenyum dalam sebuah senyuman yang damai. Dia menyentuh dada Vasu dan berkata, “Ini adalah aku di dalam dirimu, bahkan jika seluruh semesta kelak melupakanku. Aku berharap kamu tetap mengingatku. Wahai yang dituntun oleh Ema ke dalam dunia kami, kalian telah menunjukkanku makna kehidupan dan kebebasan. Aku berterima kasih untuk itu. Vasu – sahabat kecilku, tetaplah hidup, lanjutkan perjalananmu dan temukan takdirmu di dunia asing ini. Selamat tinggal.”

Dengan kata-kata terakhir itu, api putih berkobar hebat membesar dan kemudian padam tanpa menyisakan apapun – tidak juga abu.

“Aku gagal.” Di atas samudra elemental, kesadaran Vasu yang mewujud menundukkan kepalanya.

“Kamu masih terlalu muda Vasu, kamu ingin menolongnya dari ketidakmenentuan dan keterikatan yang merengut kebebasannya di Tanah Ema dan mengembalikannya ke kahyangan. Itu tidak keliru. Namun yang tidak kamu sadari, bahwa kahyangan pun sebuah keterikatan baginya. Tapi kali ini dia mengambil keputusan dalam tekanan yang hebat, dia tidak perlu mengambil keputusan tersebut seandainya dia tahu bahwa para dewa itu bukan ancaman.”

“Tapi sekarang sudah terlambat.”

“Siapa yang berkata semuanya terlambat?”

Di atas langit samudra elemental, sebuah tetes air bercahaya jatuh dengan kilauan yang cemerlang. Dan kemudian mendarat lembut di atas tangan Rukh.

“Ini…?”

“Ini adalah tetesan sukma, ketika gadis tersebut membakar seluruh prana dan sukmanya, aku mengambil setetes sukmanya. Ini adalah Fionnuala, dalam keberadaan yang paling kecil dan halus. Ini adalah kesadaran spiritualnya yang terembunkan.”

“Apakah kita bisa menolongnya.”

“Aku bisa menghidupkannya kembali, karena memiliki tetesan sukma berarti sebuah jiwa tidak sepenuhnya mati. Tapi…”

“Tapi…?”

“Tapi bukan takdirku untuk membantunya. Entah kenapa gadis ini bertemu dengan dua generasi Lembayung Ema, dan kehidupannya berubah karena kalian. Dia ditakdirkan untuk bertemu denganmu sebagai Lembayung Ema. Jika ada yang bisa mengubah takdirnya atau memberikan dia kesempatan untuk mengubah takdirnya, maka orang itu adalah kamu Vasu, bukan aku.”

“Bagaimana aku bisa membantunya?”

“Untuk saat ini, kamu dapat mengembalikan raga fananya – karena kamu adalah Cakrawala Elemental, tidak sulit bagimu untuk membuat sebuah raga fana bukan? Hanya saja jiwanya adalah jiwa surgawi, jiwa kahyangan, untuk kemampuan saat ini kamu tidak akan mampu membantu memulihkan sukmanya. Untuk dia bisa kembali, baik jiwa dan raganya harus pulih.”

“Aku akan membuat raga dunianya terlebih dahulu.”

Dengan seketika, lautan elemen bergetar mendengar panggilan Vasu. Sejumlah elemen mengalir dan membentuk tubuh manusia sebagaimana tubuh Fionnuala yang telah dijumpai Vasu sebelumnya – lengkap dengan gaun indah sang dewi.

Tubuh itu dibaringkan di atas alas bunga tidak jauh dari pohon Kalpavrikhsa

Rukh lalu meletakkan tetesan sukma sedemikian hingga melayang di atas dahi raga sang dewi yang baru diciptakan oleh Vasu.

“Kamu sudah membuat raga fananya, nanti saat kamu mampu membuat raga spiritualnya, barulah sukma gadis ini bisa dikembalikan.”

“Entah kapan aku akan bisa membuat raga spiritual.”

“Jangan khawatirkan itu saat ini. Bahkan raja langit pun tidak bisa membuatnya. Apalagi kamu yang hanya manusia biasa. Ketika saatnya tiba, kamu akan bisa. Aku hanya dapat membantu menunjukkan jalan, tapi kamulah yang harus melangkah menuju tujuanmu.”

“Terima kasih Rukhal.” Vasu tersenyum, ekspresinya tidak lagi muram. “Sekarang saatnya memberi mereka pelajaran.”

“Hah… baiklah, kali ini aku membantumu. Lain kali, gunakan kemampuan sendiri.”

Vasu yang dari tadi tampak dengan tatapan mata kosong, tiba-tiba berubah memiliki tatapan mata yang tajam.

Tatapan itu menusuk ke arah empat ribu lebih dewata yang berdiri di depan gerbang seribu kahyangan, dan membuat mereka merinding.

“Sial, apa yang terjadi pada anak itu. Dia menerima mutiara energi dari Fionnuala tapi tidak sedikit pun energi yang terpancar dari tubuhnya, justru malah tatapannya menjadi begitu mengerikan.”

“Tuan Muda, sebaiknya kita berhati-hati. Saya merasa ada yang tidak beres.”

“Jangan terlalu berlebihan. Sayangnya Fionnuala sudah tidak ada lagi. Entah mengapa dia menukar hidupnya dengan bocah ini. Tapi anggap saja bocah ini sial, suasana hatiku sedang buruk, dan dia mau tak mau berhubungan dengan kematian Fionnuala. Kalian semua, habisi bocah itu!”

“Kami mendengar perintah!” Seruan memenuhi langit Bikendi.

“Ini buruk.” Gadis kecil berjubah ungu di sebelah Vincent. “Christine…!” Gadis itu berteriak pada Christine.

“Ya…” Christine kaget.

“Panggil nagamu, hanya ruh elemental yang bisa memberikan kita sedikit waktu untuk menyelamatkan Vasu.”

Christine mengangguk. Tidak ada kekuatan yang bisa menahan para dewata, bahkan jika Christine memanggil naganya sekali pun, naga tersebut hanya sebuah ruh elemental – bukan wujud hewan sakral yang asli. Tapi setidaknya, saat ini tidak ada pilihan lain.

Baik Christine dan gadis berjubah ungu itu sama-sama melesat ke langit sambil mengucapkan rangkaian mantra yang terdengar rumit.

Dalam satu hembusan napas keduanya tiba di sebelah Vasu.

Christine dengan jubah biru bercahaya, menunggang di atas kepala naga biru langit. Dia bagaikan dewi dari era purba yang turun ke bumi.

Sementara, di sisi Vasu satunya lagi. Gadis kecil berjubah ungu berdiri di atas punggung Qilin Angin dan Api. Rambut hitam yang teruntai dengan tiara bercahaya, dan sebuah tongkat bermahkota api yang menyala ungu.

“Eh…” Christine melihat ke arah gadis itu. “Apa itu kamu Lisa?”

Gadis itu tersenyum, memandang melalui Vasu pada Christine. “Aku tidak percaya kamu bisa melupakanku secepat itu. Sayangnya, si gendut dengan Singa Gunung Emas, dan Nona bergaun putih dengan Gagak Matahari Salju-nya tidak di sini. Jika mereka ada, ini pasti akan jadi lebih seru lagi.”

“Aku baru saja bertemu mereka beberapa waktu yang lalu, tak kusangka bertemu denganmu di sini. Sayangnya situasi kita tidak terlalu baik untuk mengobrol saat ini.” Lalu dia melihat ke arah Vasu. “Jadi Tuan Muda Vasu, apa rencananya sekarang?”

Vasu melirik ke dua gadis di sampingnya. Dia menghela napas panjang. Keduanya memiliki sinar mata yang jernih seakan-akan menyampaikan pesan ‘kami tak takut pada kematian’. Dia tahu Christine punya sifat keras kepala seperti itu, tapi dia tidak mengenal gadis satunya lagi – yang berjubah ungu. Hanya saja, dari percakapan mereka dan Qilin Angin dan Api – Vasu tahu gadis ini adalah Lisa, salah satu jenius muda dari Tanah Ema.

“Berikan aku waktu sepuluh siklus napas dalam. Setelah itu, serahkan semuanya padaku.”

Vasu berkata dengan tenang, dan kedua gadis di sebelahnya paham apa yang dimaksudkan oleh Vasu.

Sepuluh siklus saja.

Ketika ratusan dari ribuan pasukan para dewata itu turun, langit bagaikan runtuh. Naga dan Qilin menyeruak menuju langit dengan dua pengendaranya yang masih belia. Naga Biru Langit dengan elemen cahaya dan air, Qilin Angin dan Api dengan elemen yang sesuai namanya, menyapu barisan terdepan lawan.

Benturan energi tak terelakkan, senjata-senjata langit berusaha menerobos, namun Naga Biru Langit dan Qilin Angin dan Api bukanlah ruh elemental sembarangan – seandainya salah satu saja dalam wujud asli mereka sebagai hewan spiritual, maka bahkan raja langit pun akan segan menghadapinya, apalagi sepasukan dewa biasa.

Kedua belah pihak bertarung dengan sengit, dua melawan ratusan. Bumi melawan langit.

“Apa mataku melihat keliru? Dua jenius muda Tanah Ema sedang berhadapan dengan ratusan dewa dan mereka masih bisa bertahan?”

“Tidak kawan, jika kamu salah melihat – maka aku juga berarti buta! Ini tidak terjadi dalam jutaan tahun sekali pun.”

“Benar sekali, walau andainya aku mati setelah ini, aku tidak akan menyesal menjadi saksi pertempuran ini.”

“Ruh Elemental Naga Biru Langit serta Qilin Angin dan Api memang pantas menyandang nama besar mereka sebagai mitos paling mistik di Tanah Ema selain Singa Gunung Emas dan Gagak Matahari Salju.”

Bisak-bisik di antara para ahli di Kota Bikendi tidak bisa ditahan. Baru saja mereka menyaksikan pertarungan antara Vasu dan Fionnuala sudah memberi mereka kejutan batin, dan kini pertarungan antara manusia dan dewata justru bertambah berjumlahnya.

Ratusan dewata kini menjadi ribuan di hadapan Lisa dan Christine dalam hitungan lima siklus napas. Dan luka yang diderita kedua gadis itu tidak ringan, darah mengucur di beberapa bagian tubuh yang terbuka dengan lebam di banyak tempat. Jika bukan karena bantuan ruh elemental mereka, mungkin nyawa mereka sudah lama melayang.

“Habisi mereka!” Manouel berteriak pada ajudannya.

“Serang!” Pasukan dewata kembali berteriak gemuruh. Memaksa Christine dan Lisa memacu ranah elemental mereka hingga batas kemampuan mereka.

Pelbagai senjata sakti saling bertabrakan di langit, membuat suara yang lebih dahsyat dibandingkan guntur musim hujan.

Christine dan Lisa masih dapat menghalaunya, puluhan dan ratusan senjata bisa dibalikkan meski beberapa luka muncul sebagai gantinya, namun ketika aura dari tiga ribu senjata dewata melesat ke arah mereka, seakan-akan mereka bisa melihat kematian akan segera memeluk diri mereka. Tidak ada harapan yang tersisa.

“Langkah Tanah Beku…”

Sebuah suara datang ke telinga Christine dan Lisa, disertai dengan sayupan angin dingin yang menyejukan.

Seketika seluruh ribuan senjata dewata itu berhenti di udara, seakan waktu berhenti di antara mereka. Bahkan ketika sapuan angin menyentuh ruang di antara para dewata yang bergerak menyerang, serentak mereka juga terhenti seolah-olah bagai ribuan arca yang menghiasi langit.

Christine nyaris tidak percaya, ini adalah ranah dan teknik awal Dandelion Beku milik Puncak Benderang, namun ketika Vasu menggunakannya saat ini – seakan-akan teknik ini tidak berasal dari alam para manusia.

Seharusnya tidak ada yang bisa membekukan para dewata, apalagi hanya manusia biasa.

“Kalian datang dari kahyangan ke atas langit Tanah Ema untuk membuat kekacauan. Kalian pikir siapa kalian bisa berbuat sesuka hati. Apakah raja langit sudah bosan dengan tahtanya di kahyangan sehingga membiarkan beberapa tikus mengotori Tanah Ema?”

Suara itu menggelegar, setidaknya sepertiga orang di Tanah Ema mendengarnya.

Penuh dengan wibawa dan kebesaran, seakan-akan diucapkan oleh penguasa langit dan bumi. Membuat semua yang mendengar ciut nyali dan gemetar hatinya.

“Jika aku tidak membiarkan kalian begitu saja, kahyangan mungkin lupa mengapa Tanah Ema merupakan tanah terlarang bagi mereka.”

Vasu dengan aura yang adiluhung dan adijaya, menggerakkan tangannya dengan pelan dan pasti. Ribuan dandelion salju sebesar jarinya bertebaran dan bergerak menuju ke seluruh dewata yang membeku.

“Dandelion merekah, surga membeku.”

Kuntum bunga-bunga tersebut perlahan masuk ke dalam jantung masing-masing dewata. Dan membuat mereka begitu ketakutan. Jika ada sesuatu yang bisa masuk ke dalam raga spiritual mereka, berarti itu adalah sesuatu yang sangat berbahaya.

Mereka tak perlu waktu lama untuk menemukan jawabannya. Satu per satu dengan ekspresi yang dingin, para dewata itu jatuh ke muka bumi, seperti layang-layang yang kehilangan angin. Ketika mereka tidak mencoba mencari penyebabnya, mereka menemukan jantung mereka telah berubah menjadi bongkahan es.

Sementara Manouel berdiri gemetar bersama satu ajudannya yang tersisa. Dia tidak percaya apa yang baru saja disaksikannya.

Dewata muda ini tidak bodoh, dia menyadari seketika alasan Fionnuala terluka bukanlah karena musuh misterius, namun karena bocah yang ada di hadapannya. Membunuh dewa-dewa dengan begitu mudahnya, mungkin dia tidak akan kesulitan membunuh Fionnuala yang merupakan jenderal di antara para dewa. Tapi tentu saja Manouel tidak pernah tahu kisah yang sebenarnya.

“Siapa kamu…?!” Manouel berteriak, namun hatinya ciut.

“Sampaikan pada mereka di kahyangan, bahwa ada langit di atas langit!”

Ketika tangan kanan Vasu membentuk abhayamudra, seketika dada Manouel terasa sesak dan tubuhnya terlempar melewati gerbang seribu kahyangan, terpelanting berkali-kali hingga akhirnya terenti setelah seribu pal dari gerbang seribu kahyangan dengan dada yang terasa remuk. Nasib ajudannya tidak jauh lebih baik, terpelanting hingga tiga ribu pal setelah melewati gerbang seribu kahyangan dengan darah segar muntah dari mulutnya.

Dengan satu kibasan tangan Vasu, gerbang seribu kahyangan retak dan hancur berkeping-keping, memutus jembatan antara dunia kahyangan dan dunia manusia.

Semua orang yang menyaksikan itu nyaris tidak percaya. Nama empat jenius muda Tanah Ema bukan dielukan karena tidak ada yang sama jenius dengan mereka, namun karena empat orang tersebut yang bisa mewarisi ruh elemental dari masing-masing perguran atau sekolah mereka, sehingga kemampuan mereka bertarung bersama ruh elemental sudah bisa dikatakan menggetarkan langit dan mengguncang bumi. Pun demikian, mereka masih kesulitan menghadapi bala tentara kahyangan.

Lalu siapa bocah yang bernama Vasu? Dengan mudahnya membalikkan keadaan.

Tentu saja tidak ada orang yang tahu, di balik Vasu adalah salah satu keberadaan yang paling mengerikan di seluruh alam semesta – Rukh Kalpavrikhsa.

Hanya sepasang mata dengan iris biru menyala yang bisa melihat semua yang terjadi dengan jelas. Pemilik iris ini tersenyum, dan kemudian hilang dari langit Bikendi.

“Eh…”

“Ada apa Rukhal?”

“Aku merasa perasaanku jauh lebih nyaman.”

“Mungkin setelah melepas sedikit energimu yang selama ini tertahan, kamu merasa lebih baik?”

“Tidak, hanya saja perasaan ada yang mengawasi sejak tadi tiba-tiba saja sudah hilang.”

“Itu hanya perasaanmu saja, jangan berlebihan.”

“Mungkin…”

“Sudah jangan dipikirkan lagi. Kita harus menolang Flora sekarang.”

Dan dengan demikian, ketenangan kembali mengisi langit Bikendi.

Sebelumnya

Naskah 26 - Tarian Pedang Empat Musim

Gelombang energi menyapu seluruh Ema, suar paradoks ruang-waktu menembus bumi dan langit. Di salah satu taman kekasiaran Bren, sang kaisar sedang memandangi papan caturnya, sementara kepala Akademi Ksatria dan Sihir Agung Bren baru saja menyelesaikan giliran langkahnya dengan menyiup secangkir ... Read more

Selanjutnya

Naskah 28 - Ekspedisi Empat Panji

Istana Langit Selatan – Di dalam sebuah balairung agung, Raja Langit Selatan – Soini VIII, Yang Mulia Patroclus Soini, raja langit generasi ke delapan di Langit Selatan pandangannya menatap tajam ke arah salah satu sudut jagad kahyangan. Mengenakan gelungan mahkota ... Read more