Naskah 28 – Ekspedisi Empat Panji

Istana Langit Selatan – Di dalam sebuah balairung agung, Raja Langit Selatan – Soini VIII, Yang Mulia Patroclus Soini, raja langit generasi ke delapan di Langit Selatan pandangannya menatap tajam ke arah salah satu sudut jagad kahyangan.

Mengenakan gelungan mahkota keemasan, dialah penguasa atas wilayah Langit Selatan – bersama tiga raja langit yang lain menjadi pilar bagi kekaisaran langit. Soini VIII adalah seorang dewa langit agung yang telah bertahta selama kurang lebih seratus juta tahun.

Tentu saja Soini bukanlah wangsa yang pertama kali menjadi pilar langit Selatan. Siapa pun yang memiliki kekuatan dan dapat merebut tahta raja langit, dia ‘berhak’ menjadi raja langit – selama dia tidak menentang kehendak dan titah kaisar langit. Sedemikian hingga pergantian wangsa bukanlah sesuatu yang aneh, kadang sebuah wangsa dapat bertahan hingga ratusan bahkan ribuan generasi. Wangsa Soini baru pada generasi kedelapan, dan masih termasuk muda dalam catatan hikayat kahyangan.

Dewa langit agung adalah salah satu pencapaian yang tak semua dewa bisa mengharapkannya.

Mereka yang lahir di alam kahyangan akan lahir sebagai nirkalam insani, sosok insan yang sudah nyaris tidak terbelenggu oleh waktu – mereka tumbuh dewasa dan menua, namun karena saking panjangnya usia mereka, seakan-akan waktu tidak berpengaruh dan mereka nyaris menjadi mahluk yang abadi.

Bagi manusia di dunia fana, ketika mereka mencapai tahapan mahaguru atau kelompok rathi, saat mereka meninggalkan dunia fana – mereka memiliki kesempatan besar untuk bereinkarnasi sebagai nirkalam insani di jagad kahyangan.

Tapi manusia yang bisa mencapai tahapan mahamaharathi, setelah sepuluh ribu tahun di alam fana akan mulai mendapatkan sembilan cobaan dan enam rintangan dari langit setiap sepuluh ribu tahun sekali. Jika insan ini bisa melalui sembilan cobaan dan enam rintangan terakhir, maka dia bisa langsung menjadi dewata dan naik ke alam kahyangan.

Jika mereka lahir di kahyangan melalui reinkarnasi, seorang manusia akan kehilangan ingatannya dan menjalani kehidupan baru sebagai dewata. Tapi jika seorang manusia naik ke kahyangan setelah melewati sembilan cobaan dan enam rintangan, maka dia bisa mempertahankan ingatannya dari semenjak dia terlahir sebagai manusia.

Insan nirkalam adalah anak tangga pertama kehidupan sebagai dewata di kahyangan, ini adalah hukum semesta yang tak dapat diubah.

Insan nirkalam memberikan kesempatan nyaris dalam bentu keabadian, jika langit melihat dia mampu meningkatkan potensi dan kemampuannya dalam memahami rahasia langit, maka akan diberikan padanya sebuah cobaan dan rintangan – jika sang insan nirkalam lolos, maka dia akan naik menjadi ardhadewa atau ardhadewi, yang merupakan insan setengah dewa atau setengah dewi. Jika mereka gagal, ganjarannya adalah masuk kembali ke dalam roda reinkarnasi dan terlahir menjadi manusia biasa di alam fana.

Terdengar tidak mengenakkan? Itu lebih melegakan dibanding kehidupan alam kahyangan yang sesungguhnya.

Kekuatan adalah yang mutlak berkuasa, di jagad manapun konsep ini tetap berlaku. Entah mereka tersenyumbi dalam topeng perdamaian, ataukah terbuka dalam kekejaman tirani.

Insan nirkalam adalah populasi terbesar di jagad kahyangan, jumlah mereka mencapai jutaan hingga milayaran pada sebuah kota, dan ada jutaan kota di kahyangan membuat populasi insan nirkalam berfluktuasi antara nonilliun hingga tredesilliun.

Dan kehidupan di jagad kahyangan tidak berbeda dengan alam tengah. Di antara insan nirkalam ini banyak yang bekerja sebagai petani, pedagang, buruh, nelayan, seniman dan sebagainya. Bahkan ada kisah di mana

Ketika mereka berhasil naik menjadi ardhadewi-ardhadewi, mereka bisa memiliki sebidang tanah sendiri di kahyangan. Hal ini sebuah tanda yang bagus, karena mereka tidak perlu lagi menyewa tempat tinggal untuk hidup, bergantung dengan majikan, atau terpaksa tidur di belantara dengan risiko menjadi mangsa mahluk buas yang ada di situ.

Oleh karena kebanyakan insan nirkalam dan ardhadewa berasal dari reinkarnasi yang sudah melupakan kehidupan mereka di alam manusia. Maka kondisi batin mereka ketika mencapai tahap puncak sebagai manusia – yang biasanya selalu memiliki pelayan – kini sudah tidak lagi ada di ingatan mereka, sehingga situasi menjadi pekerja yang mencari penghidupan di alam dewata menjadi sesuatu permakluman yang umum bagi mereka.

Jika seorang ardhadewa berhasil melalui dua cobaan dan rintangan, maka mereka akan naik menjadi dewa atau dewi di kahyangan, jika gagal – mereka akan masuk ke dalam jalur reinkarnasi dan terlahir menjadi insan nirkalam.

Ujian langit memang terdengar tidak mengenakkan, antara seseorang naik kelas jika berhasil, atau justru turun kelas jika gagal. Tidak ada istilah tetap tinggal di kelas semula jika gagal. Dan semua dimulai lagi dari awal.

Namun pada tahapan dewa atau dewi baru penghuni jagad kahyangan bisa diizinkan turun ke alam fana para manusia.

Jika dewa atau dewi berhasil melewati tiga cobaan dan rintangan langit, dia akan menjadi dewa atau dewi agung.

Jika dewa atau dewi agung berhasil melewati empat cobaan dan rintangan langit, dia akan menjadi dewa atau dewi alam langit bawah.

Jika dewa atau dewi alam langit bawah bisa melewati lima cobaan dan rintangan langit, dia akan naik menjadi dewa atau dewi alam langit tengah.

Jika dewa atau dewi alam langit tengah bisa melewati enam cobaan dan rintangan langit, dia akan naik menjadi dewa atau dewi alam langit atas.

Jika dewa atau dewi alam langit atas bisa melewati tujuh cobaan dan rintangan langit, dia akan naik menjadi dewa atau dewi langit purna.

Jika dewa atau dewi alam langit purna bisa melewati delapan cobaan dan rintangan langit, dia akan menjadi dewa atau dewi langit agung.

Ya, inilah tahapan yang dicapai oleh Soini VIII, dan bukan sesuatu yang mudah. Jika untuk naik dalam setiap tahapan hanya ada kemungkinan satu di antara seribu, maka mencapai tahapan dewa langit agung dari insan nirkalam, kemungkinannya hanyalah satu berbanding seribu sektilliun. Yang bisa dikatakan nyaris mustahil.

Tidak salah auranya begitu agung, memandang jagad kahyangan Selatan bagaikan maharaja yang melihat bentangan kekuasaannya dari menara tertinggi. Tidak ada yang bisa lepas dari pengamatannya di Kahyangan Selatan jika dia hendak menemukannya.

“Ini…” Pandangannya menjadi lebih tajam, dan beberapa pejabat kerajaan juga melihat ke arah yang sama.

Mereka merasakan kekacuan energi kahyangan di salah satu wilayah Kerajaan Langit Selatan.

“Energi ini bukan dari kahyangan. Cepat selidik apa yang terjadi di sana.”

Namun belum sempat para pejabat bergerak, seluruh ruang diselubungi oleh energi misterius. Dan panji-panji kekaisaran bersinar.

Semua pejabat berlutut, termasuk sang raja sendiri, Soini VIII. Karena ini adalah tanda titah Kaisar Langit telah turun.

Sebuah suara digjaya mulai bergema di dalam ruangan.

“Patroclus Soini, Raja Langit Kerajaan Langit Selatan, terimalah titah Kaisar Langit.” Kata suara misterius tersebut.

“Hamba mendengarkan titah Kaisar.” Jawab sang raja dengan penuh hormat.

“Hari ini, salah satu dewa langit dalam wilayah pengawasan Raja Langit Kerajaan Langit Selatan telah melakukan kesalahan besar, melanggar hukum kekaisaran. Manouel Lazar dari Wilayah Kerajaan Langit Selatan telah membuat keonaran di Tanah Ema, dan menyebabkan kematian jenderal kekasiaran, Dewi Fionnuala dalam pembakaran api suci. Atas kesalahannya ini, Kaisar memutuskan hukuman penggal kepada Manouel Lazar dan menjatuhkannya reinkarnasi di antara para manusia. Pelaksanaan hukuman ini diserahkan tanggung jawabnya pada Raja Langit Selatan. Sekian titah Kaisar Langit.”

“Hamba, Soini VIII, Patroclus Soini, menerima titah Kaisar dan akan segera melaksanakannya.”

Ruangan kembali menjadi senyap. Semua yang berada di ruangan mendengar jelas titah kekaisaran. Kini mereka bisa menduga apa yang menjadi penyebab kekacauan energi di Langit Selatan.

Patroclus Soini, walau wangsa Soini masih muda, namun bukan bermakna ia tidak tahu artinya ‘membuat kekacauan di Tanah Ema’ – jangankan dewa biasa, bahkan Kaisar Langit pun tidak berani menyentuh Tanah Ema.

Beberapa juta tahun yang lalu, Kekaisaran Langit berkali-kali kewalahan menghadapi percobaan ekspansi oleh ras naga. Namun ras naga ini musnah dalam sekejap mata ketika mereka mencoba meluaskan kekuasaannya ke Tanah Ema.

Patroclus Soini berulang kali mendengar dongeng tentang kemisteriusan dan bahaya Tanah Ema di dunia manusia. Namun baru sekitar dua juta tahun yang lalu dia melihat sendiri kengerian itu. Untungnya saat itu, kahyangan berada pada sisi baik Tanah Ema, dan justru bisa menyelamatkan kahyangan.

Kini saat dia mendengar titah Kaisar Langit, Patroclus Soini menjadi sangat murka. Meski pun klan Lazar memiliki sejumlah pengaruh di kerajaannya, namun salah satu dari mereka sudah mencoba mencubit sisik naga yang bisa berakibat pada malapetaka menimpa Langit Selatan dan mungkin seluruh kahyangan. Jika dia tahu hal ini lebih awal, jangankan menunggu titah Kaisar Langit, dia sendiri akan melenyapkan seluruh klan Lazar bila perlu. Belum lagi ditambah menyebabkan kematian salah satu jenderal kahyangan yang menjadi jembatan antara kahyangan dan Tanah Ema, Patroclus Soini sudah menganggap ini sebagai upaya pemberontakan.

“Kalian semua, dengarkan perintah!” Raja Patroclus Soini mengepalkan tangannya menahan amarah.

“Kami mendengarkan perintah!” Sahut para pejabat yang masih berlutut dengan serentak.

“Atas titah Kaisar Langit, Manouel Lazar akan dijatuhi hukuman mati, penggal kepalanya di depan semua rakyat sepuluh hari dari sekarang, serta dijatuhi hukuman reinkarnasi sebagai manusia di alam fana. Dan umumkan hukuman ini ke seluruh wilayah kerajaan!”

“Kami melaksanakan perintah raja.”

 

Karena luasnya wilayah kerajaan Langit Selatan, biasanya sebuah kabar bisa mencapai tahunan hingga ratusan tahun untuk sampai ke seluruh wilayah. Namun dampak dari titah kaisar tidak bisa diremehkan, hanya dalam tiga hari saja seluruh Langit Selatan tahu akan kabar ini.

Klan Lazar hanya bisa meratapi nasib buruk mereka. Jika ini hanya sekadar perintah militer biasa, mereka bisa menegosiasikannya dengan pihak militer. Jika ini kehendak Raja Langit Selatan, mereka masih berharap keringanan hukuman, walau tak sepenuhnya yakin. Namun ini adalah titah Kaisar Langit, mereka tidak memiliki kuasa dan hanya bisa merelakan salah satu jenius muda di keluarga mereka lenyap dalam catatan sejarah klan.

Hukuman akan dilaksanakan dalam tiga bulan, dan bisa dipastikan menjadi ajang yang disaksikan langsung oleh jutaan dewata di Langit Selatan.

 

Malam telah turun kembali di langit Bikendi. Udara dingin membawa warganya terlelap, walau tampak tak mengacuhkan kejadian siang sebelumnya, namun apa yang mereka saksikan merasuk ke dalam alam mimpi, hal ini tak bisa dipungkiri dari raut wajah mereka yang sedang terlelap – dari rakyat biasa, para prajurit militer, hingga para ahli dan pendekar.

Kabut putih merayap dengan santun ke dalam relung Bikendi, seakan alam menyambut sahabat peradaban manusia yang telah menua. Sinar-sinar lampion dan kristal sihir berpendar di pelbagai sudut jalan dan bangunan, menandakan tarian keheningan sedang mencapai puncaknya.

Di sebuah atap yang datar, antara bayangan nyala lilin di atas sebuah meja yang bersanding dengan uap dari cangkir-cangkir terisi seduhan teh berkualitas tinggi, dua anak gadis berjaga jarak satu sama lain.

Satunya dengan rambut keemasan duduk sebuah kursi kayu pada meja di mana lilin menghiasi hidangan seduhan teh. Parasnya jelita, sesekali memandang ke arah langit malam.

Yang lain dengan rambut hitam panjang tergelar menutupi tudung ungu yang semenjak pagi justru menjadi penutup kepalanya. Berparas ayu dengan pandangan mata yang cerdas. Dia duduk di tepi atap dengan kaki terjuntai saling menyilang.

“Mengapa setiap kali bertemu denganmu, hal-hal yang tidak terduga selalu terjadi. Saat melihatmu tadi siang, aku sudah menduga hal yang tidak baik akan terjadi.” Gadis berambut hitam itu menggelengkan kepalanya, dia adalah Lisa.

Christine masih menengadahkan kepalanya ke langit, membuang pandangannya sejauh mungkin. “Memangnya aku bisa tahu apa yang akan terjadi? Tidakkah kamu bisa melihat, kali ini bukan aku yang membuat ulah?”

“Heh…? Melepaskan anjing tua itu untuk melawan sekelompok dewata, apa yang tadi sudah kulakukan? Jika guru tahu apa yang kulakukan, aku tak bisa membayangkan kesengsaraan apa yang akan menantiku. Lain kali pastikan dirimu mengunjungi kuil Dewi Keberuntungan sebelum mengunjungi kota orang.”

Tentu saja Lisa merujuk pada Qilin Angin dan Api, dengan sebutan anjing tua. Dan meski dia mengeluh, wajahnya terpancar kegembiraan atas pengalamannya hari ini.

“Jangan seperti itu. Ini adalah hari yang paling melelahkan. Kupikir aku sudah tidak akan bisa menikmati bintang lagi saat melihat langit terbelah.” Christine mengedipkan matanya pada langit malam yang bisu.

Sesekali angin malam berhembus membelai wajah kedua gadis ini. Meski pun mereka adalah remaja awal, namun sebagai bagian dari yang disematkan gelar jenius muda, mereka memiliki kemampuan berdiri lebih tinggi dibandingkan ahli lain secara umum. Mereka diberkati oleh ilmu dan teknik pamungkas nan rahasia. Bahkan mewarisi ruh elemental yang bisa dikatakan mesin tempur yang bisa menggilas sebuah kerajaan dengan mudah. Oleh karena para jenius muda ini tidak pernah memiliki ambisi untuk berkuasa, maka masyarakat dan para ahli di Tanah Ema begitu menghormati keberadaan mereka.

Walau keempat jenius muda Tanah Ema terkenal tidak suka ikut campur dalam masalah-masalah yang umum dalam suatu masyarakat, pemerintahan, atau perguruan. Bukan berarti mereka tidak memiliki sikap kesatria. Seperti siang ini, ketika Christine dan Lisa menolong Vasu, mereka bahkan tidak perlu berpikir panjang untuk melompat ke dalam mara bahaya.

 

Sementara itu, Vasu sudah terbaring telentang di atas ranjang di salah satu sudut ruangan yang gelap di antara remang-remang Kota Bikendi.

Tubuh Vasu terasa tidak memiliki energi sedikit pun. Seluruh cakhra dan nadi di tubuhnya terasa hambar dan hampa. Meminjam kemampuan Rukh bukanlah tanpa harga yang harus dibayar. Untungnya tidak ada kerusakan pada raganya, jika tidak – Vasu tidak tahu harus bagaimana.

Vasu kemudian menghabiskan waktu di jagad samudra elemental yang mewujud pada lautan kesadaraannya. Dia menolak undangan Rukh untuk menyeruput secangkir teh, dan memilih bermeditasi untuk mengembalikan prana yang hilang dengan segera.

Segera samudra elemental berinteraksi secara harmonis dengan segenap elemen yang ada di sekitar Vasu. Sungai-sungai prana alam semesta mengalir deras masuk ke dalam tubuh Vasu melalui seluruh pori tubuhnya, menghasilkan ribuan pusaran prana elemental yang saling bersinergi.

Setiap ahli yang melatih elemen tertentu bisa menggunakan prana dari elemen tersebut untuk menyembuhkan luka, atau mengembalikan vitalitas raganya. Mereka yang berlatih dan terikat dengan elemen api, bisa bersantai duduk di dekat api unggun pada malam hari untuk mengembalikan kebugaran mereka dengan mengambil sedikit prana dari elemen api ke dalam tubuhnya, dan itu pun dalam bentuk penyerapan yang lambat dan sedikit demi sedikit. Belum ada yang pernah mendengar atau menyaksikan sebuah tubuh bisa diguyur oleh seluruh jenis elemen sekaligus.

Tubuh Vasu bagaikan menyatu dengan alam semesta di sekitarnya. Dan seperti sebuah ruang hampa yang baru saja dibuka, maka seluruh udara mengalir ke dalamnya, demikian juga tubuh anak laki-laki ini menerima prana elemental dari alam di sekitarnya.

Proses ini berlangsung secara terus menerus, bahkan Vasu sendiri tampaknya kehilangan jejak waktu akan berapa lama dia sudah ‘terlelap’ dalam meditasinya.

 

Dalam sebuah bangunan ruang bawah tanah tua, tepatnya di bawah kastil mayor Bikendi. Belasan orang duduk dalam sebuah meja pertemuan besar.

Mereka adalah tokoh-tokoh terkenal di kota Bikendi, seperti Mayor Vincent, perwakilan dari persaudaraan para pengelana, persatuan penyihir, serikat alkemis, kelompok pemburu, dan sejumlah biro perjalanan, pengawalan, pasukan bayaran, wali para saudagar niaga, dan para petinggi militer dari kota Bikendi, dan kerajaan sekitar – termasuk salah satu wakil dari Kekaisaran Bren.

“Terima kasih atas kesediaan sahabat sekalian memenuhi undangan kami untuk hadir di sini malam ini. Langsung ke dalam pokok permasalahan, tujuan kali ini adalah membahas kejadian yang baru saja terjadi di Bikendi.”

Dengan kata-kata singkat tersebut, Mayor Vincent membuka pertemuan tertutup malam ini.

“Setelah menjadi saksi kejadian tadi, maka kami pun merasa malam ini kita akan duduk bersama kembali di sini.”

“Benar sekali, Tuan Vincent, bisakah Anda memberikan kami informasi pembuka untuk pertemuan ini?”

Beberapa anggota pertemuan memberikan persetujuan mereka atas ide ini.

Mayor Vincent lalu menceritakan tentang duduk permasalahan, termasuk identitas Vasu dan kedua jenius muda, serta alasan kedatangan Fionnuala ke Bikendi sampai mengapa terjadi pertempuran di atas langit Bikendi.

Beberapa kali yang mendengarkan uraian sang mayor, maka sebagian besar yang mendengarkan pun beberapa kali menganga. Mereka telah mendengar sejumlah rumor mengenai Tuan Muda dari Puncak Benderang sebelumnya, tapi tentu saja sebelum mendengarkan penjelasan resmi dari sang mayor, tidak ada yang akan menganggap rumor sebagai kebenaran mutlak.

Vasu sebelumnya sempat menemui Mayor Vincent untuk menjelaskan duduk perkara mengapa Gerbang Seribu Kahyangan bisa muncul di langit Bikendi, dan alasan serangan para dewa tersebut. Tentu saja Vasu tidak menjelaskan detil akhir dari Fionnuala, sehingga dia membiarkan anggapan bahwa Fionnuala sudah tidak ada lagi menjadi gambaran yang tidak terelakkan untuk dijadikan simpulan kisahnya bagi mereka yang mendengar.

“Lalu bagaimana tanggapan Kekaisaran Bren?” Tanya salah seorang anggota.

“Kaisar telah memberikan titah, kejadian ini telah diramalkan sebelumnya dan ramalan tersebut memang tidak dibuka untuk publik – hanya pejabat penting dan kaisar sendiri saja yang mengetahuinya – namun ramalan ini akan segera dibuka ke publik untuk mencegah situasi buruk muncul. Serta tampaknya Dewi Fionnuala, sebelum …” wakil dari Kekaisaran Bren tersebut berhenti sejenak, seakan berat untuk mengucapkan kata selanjutnya, “… telah menyampaikan pesan batin pada kaisar, ucapan terima kasih dan selamat tinggal. Dan dengan demikian, kaisar menitahkan agar segenap warga dan pejabat kekaisaran mengenakan atribut berkabung selama sebulan, serta berterima kasih kepada Dewi Fionnuala telah menjadi pelindung spiritual Kekaisaran Bren selama ribuan millenia. Dan Kaisar juga menitahkan untuk mendirikan patung Dewi Fionnuala di pusat ibukota kekaisaran.”

Kali ini, giliran penjelasan dari wakil Kekaisaran Bren membuat semua orang ternganga. Tampaknya kaisar sendiri tidak terlalu acuh terhadap ‘hilangnya’ sang dewi, dan mengurus situasi ini seperti mengantar kematian seorang jenderal biasa. Bahkan jika pun ada ramalan sebelumnya, bagaimana pun seorang dewi tetaplah seorang dewi, bukan manusia fana biasa.

Namun banyak orang mengenal karakter kaisar yang satu ini, sehingga keterkejutan mereka tidak berlangsung lama. Meski pun memiliki parade militer terbesar dan terkuat di Tanah Ema, namun kekaisaran sendiri adalah sebuah wilayah yang damai, sebagaimana sebagian besar wilayah di Tanah Ema. Bayangkan, bahkan di waktu damai pun mereka memiliki kekuatan militer yang mampu menggetarkan seluruh Tanah Ema, dan ini bukan hanya sekadar parade – para kaisar dari Bren terkenal bijak, sehingga banyak orang bisa menduga pasti ada sesuatu di balik gegap gempita militer selama ini, dan ketakacuhan kaisar pada situasi Dewi Fionnuala saat ini.

“Tapi tetap saja ada masalah-masalah yang tidak bisa dikesampingkan mengenai situasi ini. Saya rasa Kaisar mungkin sudah mempertimbangkan banyak hal.”

Kali ini pendapat datang perwakilan Asosiasi Suara dan Aksara. Dia adalah laki-laki paruh baya mengenakan jubah putih dengan sejumlah bagian rambut yang juga tampak mulai berubah putih keabu-abuan.

“Bersediakan Tuan Nikanor Sarosh menjelaskan lebih lanjut?”

“Mayor, coba kita pikirkan, selama ini kita semua, baik asosiasi saya, kota Bikendi, kelompok pengelana, serikat alkemis, persatuan penyihir, semua bisa berkegiatan secara tenang dan nyaman di Tanah Ema – bukan semata-mata karena kita memiliki keahlian – namun karena stabilitas keamanan, ekonomi dan sosial yang kokoh bagaikan pilar yang mampu menyangga langit. Salah satu dari pilar ini, yang juga merupakan pilar terkuat adalah keberadaan Dewi Fionnuala. Dia tidak hanya dicintai oleh seluruh rakyat Ema, namun juga dikagumi oleh seluruh rakyat Tanah Ema – bahkan oleh mereka yang belum pernah bertemu sama sekali. Dewi Fionnuala laksana cahaya yang menumbuhkan subur pelbagai tanaman di ladang kita, namun membiarkan rumput liar merasa malu untuk turut tumbuh di situ. Kini, ketika pilar ini sudah tidaka da lagi, dapatkan kita semua membayangkan apa yang terjadi di Tanah Ema?”

“Stabilitas ini akan goyah!”

“Oleh karena itu, ada kemungkinan ‘rumput liar’ ini akan mulai tumbuh lagi dengan bebas. Di benua lain di Eon, perang adalah hal yang wajar – setidaknya demikian berita yang tentu sahabat semua sering mendengar, tentu saja kita tidak berharap Tanah Ema akan menjadi demikian. Maka dari itu, saya mengusulkan agar kita mempertimbangkan Mahasabha Mahagiri sebelum semuanya terlambat.”

Para peserta rapat seketika terdiam, Mahasabha Mahagiri adalah pertemuan agung antara seluruh puncak-puncak kekuatan yang berpengaruh di Tanah Ema, baik pengaruh politik, militer, ekonomi, sekte, perguruan dan lainnya. Sehingga siapa pun yang menghadiri Mahasabha Mahagiri bisa dikatakn merupakan orang yang memiliki pengaruh besar dalam organisasinya, dan mewakili suara organisasi atau perguruannya. Maka tidak jarang yang hadir langsung adalah ketua organisasi atau tetua perguruan yang berpengaruh.

Hanya saja, sudah ribuan tahun sejak Mahasabha Mahagiri diadakan. Dan terakhir diadakan dulu ketika mimpi buruk menghantui Tanah Ema di mana Dewi Fionnuala tidak bersedia ikut campur di dalamnya.

“Apakah akan berujung pada Mahasabha Mahagiri akan ditentukan kemudian, namun saat ini setidaknya kita semua sebagai saksi dari apa yang telah terjadi di Bikendi memiliki kesamaan pandang terhadap kejadian ini. Dan masing-masing dari kita akan membawa kabar ini ke perkumpulan, negeri, serta organisasi kita masing-masing. Hanya mereka yang memegang kekuasaan tertinggi berhak meminta diadakannya perjamuan agung tersebut.”

“Tentu saja Mayor Vincent, kita sudah mendengarkan apa yang terjadi dan kita semua telah menyaksikannya sendiri. Lalu selain itu, jika boleh saya bertanya, apakah Puncak Benderang telah memberikan pernyataan khusus mengenai situasi ini?”

Kembali ruangan menjadi hening, karena semuanya tahu, salah satu aktor utama dari kejadian ini adalah orang dari Puncak Benderang.

“Hmm… sebenarnya saya sendiri tidak tahu apakah ini harus disampaikan atau tidak?”

“…”

“Begini, setelah mengabari Puncak Benderang tentang kejadian hari ini, Mahaguru Lutz hanya memberikan jawaban: ‘Apa…?! Dia masih sempat bermain-main dengan para dewata? Suruh anak bandel itu cepat mencari murid paling muda-ku. Jika dia masih membuang waktu, aku akan memberikannya hukuman yang berat saat dia kembali pulang nanti!’ – Demikianlah pesan singkat dari Puncak Benderang.”

“…”

Apa? Melawan balatentara dari kahyangan adalah membuang waktu? Apa yang dimaksud mahaguru adalah membuang waktu seperti menghabiskan waktu dengan minum-minum di kedai hingga larut malam?

Bagaimana mungkin pertempuran yang bisa mengguncang seluruh Tanah Ema disamakan dengan menghabiskan waktu seperti minum di kedai pinggir jalan? Lalu, hal-hal seperti apa yang tidak membuang waktu bagi penghuni Puncak Benderang?

Membayangkan ini, semua orang menjadi merinding dan merasa Puncak Benderang jauh lebih misterius dibandingkan empat sekolah utama yang melahirkan empat jenius muda di Tanah Ema. Jika yang kecil saja bisa menyapu balatentara dewata seperti menyapu debu di lantai, lalu seperti apa si Tua Lutz itu?

Hampir semua orang di ruangan memiliki bayangan angan serupa, namun tentu saja mereka belum bisa berpikir jernih akibat terlalu banyak kejutan yang menghantam batin mereka sejak siang harinya.

Akhirnya, Mayor Vincent mengakhiri rapat tersebut. Namun dia tidak langsung beristirahat, justru bergegas menuju dermaga udara di sisi Selatan Kastil Mayor Bikendi.

Sebuah bahtera langit telah disiapkan oleh sejumlah pekerja. Bahtera langit yang akan digunakan dalam ekspedisi empat panji besok pagi.

 

Keesokan paginya, warga Bikendi kembali dikejutkan dengan sebuah bahtera langit yang tidak biasa, tertambat dan melayang di Selatan Kastil Mayor Bikendi.

Dikatakan sebagai bahtera, karena memang berwujud seperti bahtera langit pada umumnya, dengan panjang sekitar sekitar empat ratus tiga puluh elo, lebar sekitar seratus lima puluh elo, serta tinggi geladak lima ratus sepuluh elo. Bahtera ini tampak jangkung dibandingkan bahtera umumnya. Layar-layarnya tergulung rapi dari tiga buah tiang layar utama. Dan dari sisi-sisinya, tampak sebuah dek yang memuat rangkaian meriam sihir.

“Aku tak percaya ini, ini… adalah Fregat Bikendi – Sang Mutiara Angin!” Salah satu warga segera mengenali bahtera langit tersebut.

“Apa kamu serius? Kita tidak dalam situasi perang kan?” Warga yang lain tampak panik, dia tidak pernah melihat bahtera langit ini, tapi dia pernah mendengar bahwa Kastil Mayor menyimpan sebuah kapal perang yang bernama Fregat Bikendi – Sang Mutiara Angin.

“Aku pernah melihatnya, maksudku pernah melihat gambarnya di salah satu buku sejarah Kota Bikendi. Sang Mutiara Angin dipesan oleh Mayor dari era lima puluh ribu tahun yang lalu untuk menghadapi serangan krandanu yang tiba-tiba membludak pada masa itu. Dan perlu waktu seribu tahun untuk membuatnya di Galangan Sihir milik militer kekaisaran Bren. Hampir seluruh bagian Fregat Bikendi kita dibuat dari bahan-bahan terpilih dan dilapisi rajahan sihir tingkat tinggi. Ini adalah senjata pamungkas Kota Bikendi.” Kata warga yang pertama kali kaget dengan nada bangga yang tidak dapat disembunyikan.

“Hei lihat, mereka menaikkan panji di tiang utama.”

Semua orang melihat ke arah tiang utama yang terletak di tengah di antara tiga tiang kapal.

Panji-panji naik satu per satu, benar sekali, bukan satu panji milik Kota Bikendi saja, namun ada empat panji yang dinaikkan. Sepasang tombang menyilang dan terikat oleh rantai ungu, ini adalah lambang di dalam panji Balairung Ksatria Bikendi. Dua buah monolith raksasa yang bersinar, ini adalah lambang pada panji Gerbang Ungu. Perisai biru dengan gambar pedang, tombak, anak panak, serta gulungan sihir merupakan lambang pada panji Akademi Kesatria dan Sihir Agung Bren. Dan pada panji terakhir adalah gambar dandelion perak di atas kain putih bersih, ini adalah panji dari Puncak Benderang.

Setelah sekitar dua jam berlalu, dan matahari mulai meninggi. Kumpulan warga di bagian Selatan Kastil Mayor justru bertambah banyak.

Tak lama kemudian, antara para pekerja, Vincent ke-246 dan ke-266 muncul dan disambut meriah oleh warga. Tampaknya warga sudah lupa kejadian yang kemarin, atau perhatian mereka teralih oleh adanya Sang Mutiara Angin.

Vincent ke-266 menjelaskan bahwa Sang Mutiara Angin dipinjamkan kepada Balirung Ksatrian Bikendi untuk memenuhi permintaan dua sekolah, yaitu Akademi Kesatria dan Sihir Agung Bren serta Puncak Benderang. Tujuannya adalah memasuki Hutan Kabut Ungu untuk mencari dan menemukan murid utama paling muda dari Puncak Benderang, yaitu Flora Lobane. Dalam hal ini, Kota Bikendi mendapatkan permohonan kesertaan untuk ikut dalam ekspedisi ini adalah perwakilan dari Gerbang Ungu.

Ekspedisi ini akan dinamakan sebagai Ekspedisi Empat Panji, dengan pemimpin ekspedisi adalah Kalysta Lutgardis dari Balairung Kesatria Bikendi.

 

Tidak lama kemudian, Vasu menemukan dirinya telah berada di bawah layar depan sambil menikmati angin sendalu. Sang Mutiara Angin telah membumbung tinggi di atas Bikendi, dan sebentar lagi akan menyalami perbatasan Hutan Kabut Ungu.

Pandangan tajam dari anak berjubah abu-abu itu menembus hingga ke relung-relung yang dalam dari Hutan Kabut Ungu. Lalu dia mendesah, “Ini…, bagaimana pun juga jika dilihat, adalah perangkap.”

“Tapi kamu masih tetap masuk ke dalamnya.” Gadis kecil berambut keemasan menggenggam tangan anak laki-laki-laki tersebut. Rasa takut tidak bisa disembunyikan dari matanya.

“Mungkin kita adalah ngengat yang tak bisa tidak terbang menuju nyala api lilin.” Gadis berjubah ungu di sisi satunya lagi juga melepaskan pandangannya pada Hutan Kabut Ungu.

Vasu memejamkan matanya, dia tidak tahu apa yang menunggu di balik kabut tersebut, tapi dia tidak bisa mundur, dan dia tidak ingin mundur.

Sebelumnya

Naskah 27 - Kekacauan di Langit Bikendi

Sungguh megah tampak gerbang yang muncul di langit Bikendi. Keagungan terpancar dari guratan dan ukiran ... Read more

Selanjutnya

Naskah 29 - Warisan Sakra Manavendra

Vasu memandang ke arah dinding kabut ungu raksasa, dia menutup matanya berusaha memandang menembus ke ... Read more