Naskah 29 – Warisan Sakra Manavendra

Vasu memandang ke arah dinding kabut ungu raksasa, dia menutup matanya berusaha memandang menembus ke balik dinding misterius itu. Namun yang bisa dirasakannya hanya kekosongan yang tak bertepi. Siapa pun atau apa pun yang mampu menghasilkan fenomena seperti ini, pastilah lebih misterius daripada fenomena ini sendiri.

“Semuanya bersiap!”

Suara membahana kapten Sang Mutiara Angin mengingatkan kembali para awak dalam nada yang tegas. Mereka semua tahu, bahwa memasuki hutan kabut ungu bisa bermakna tidak akan dapat kembali lagi. Namun tahu saja tidak cukup, antara mengetahui melalui apa yang dibaca dan didengar dengan mengalami sendiri tentunya adalah dua hal yang berbeda.

Semua orang bisa menyembunyikan rasa waswas di balik wajah yang tenang, namun jantung mereka sendiri sudah mulai berdegup kencang.

Vasu tahu bahwa hutan kabut ungu dibangung dalam sebuah formasi mistik yang membuat kekacauan pada pengindraan seseorang yang pada akhirnya menjadikan seseorang kehilangan persepsi terhadap posisinya sendiri. Seberapa tinggi pun kemampuan seorang ahli yang masuk ke dalam hutan kabut ungu, maka bisa dipastikan tidak akan mampu lepas dari dampak formasi mistik ini.

Untuk dapat lolos dari keniscayaan ini. Maka formasi mistik yang dapat menangkalnya harus diterapkan. Vasu menatap ke arah Lisa yang tampak tenang saja.

Menyadari Vasu melirik ke arahnya, Lisa tersenyum sambil berkata, “Aku hanya bisa membantu hingga satu atau dua lapis saja dari ranah hutan kabut ungu ini, sisanya kuserahkan kembali pada Tuan Muda Vasu.”

“Aku paham.” Jawab Vasu singkat.

Sang Mutiara Angin melesat dengan kencang dan secepat kilat meninggalkan langit Bikendi.

 

“Masuk!” Teriak sang kapten.

Seketika itu juga semua orang yang berada di atas Sang Mutiara Angin merasakan keanehan yang langsung membuat tubuh mereka merinding.

Di saat yang bersamaan mereka seperti berada di ruang hampa yang mahaluas, melayang-layang tanpa tahu arah, atau tepatnya tanpa bisa meresapi di mana mereka sebenarnya berada. Tidak ada Sang Mutiara Angin yang mereka pijak, tidak ada wajah-wajah kenalan yang baru saja mereka ajak mengobrol, atau lebih pas dikatakan – mereka tidak bisa melihat, merasakan, dan juga mendengar – tapi mereka tahu mereka tidak buta apalagi tuli.

Ini mengerikan!

Setiap orang yang sedang mengalami ini menyadari, mengapa mereka yang masuk ke dalam hutan kabut ungu tidak pernah keluar kembali untuk menceritakan kisah mereka.

“Harus bergeming!” Inilah yang ada di dalam benak semua orang, kesepakatan mereka bersama sebelumnya.

Tidak tahu waktu berlalu berapa lama, mulai terdengar alunan gita lembut – lantunan yang perlahan-lahan rlalu berasepakati rang.mua orang.ri, mengapa mereka yang masuk ke dalam hutan kabut ungu tidak pernah   tmenjadi merdu di antara ketidakpastian yang memenuhi semua awak Sang Mutiara Angin.

Di sana, Lisa, salah satu dari empat jenius muda Tanah Ema, berdiri dengan keanggunan yang misterius. Dengan gemulai, dia mengangkat dan saling menggenggamkan kedua tangannya di depan dada, sambil melantunkan syair dengan penuh kekhusyuan.

Tentu saja tidak ada anggota ekspedisi lain yang menyaksikan langsung situasi ini oleh karena mereka tidak dapat bergerak, apalagi menoleh. Tapi mereka tahu siapa pemilik suara ini. Seperti mitosnya, salah satu suara paling merdu di Tanah Ema.

Bahkan Vasu sendiri sempat kaget saat mendengar suara lantunan syair oleh Lisa, ‘Jika ada yang membuat tembang bidadari kahyangan kehilangan nuansa karismatiknya, maka suara inilah yang bisa.’

Perlahan, rangkaian formasi dan mandala sihir menari-nari di sekitar Sang Mutiara Angin. Dan kabut ungu mulai tersisihkan ke tepian bahtera.

“Fuuuhhhh….”

Christine menghela napas panjang, demikian juga yang lainnya. Tubuh mereka sudah kembali bisa merasakan atas dan bawah lagi. Orientasi mereka sudah pulih, dan mereka bisa menemukan bahwa masing-masing dari mereka masih ada di posisi semula.

“Aku nyaris tak percaya apa yang baru saja kualami.” Kata salah satu dari mereka.

“Tidak pernah ada pengalaman seperti ini yang pernah kuketahui sebelumnya.” Kata yang lainnya.

“Jadi, inilah mengapa tidak ada yang pernah kembali dari Hutan Kabut Ungu sebelumnya?” Yang lain mencoba menduga-duga.

Hanya Vasu yang memandang hening ke depan seakan-akan mencoba membelah misteri perjalanan mereka. Tapi tak ada seorang pun yang menyadari hal ini.

 

Sang Mutiara Angin melaju dengan kencang, tim ekspedisi bisa melihat bahwa mereka melayang di atas mahkota kanopi yang sesekali menggesek dasar bahtera. Selain dari itu mereka tidak bisa melihat apapun.

“Apa yang kamu pikirkan Vasu?” Christine datang mendekat. Nona kecil ini tampak tidak memiliki kegiatan lain, dan perjalanan ini walau belum sejam berlalu, dia mungkin sudah merasa bosan.

“Jalan…” Jawab Vasu pendek.

“Apa kamu bisa melihat ke mana kita menuju?”

Dalam hal ini, Christine sudah berupaya melihat dengan seksama, namun daya pandangnya tidak bisa menembus jauh ke depan.

Christine melihat ke arah Lisa, dia tahu Lisa bisa melihat menembus ke dalam pekatnya kabut ungu ini. Sudah lama menjadi perbincangan di kalangan para ahli dan pendekar, bahwa Gerbang Ungu memiliki keterkaitan dengan Hutan Kabut Ungu. Entah hal tersebut benar atau tidak, Christine tidak terlalu memedulikannya.

Ketika Lisa tahu bahwa Christine menatap ke arahnya, dia tersenyum dan berkata, “Tuan Muda Vasu tentu bisa melihat lebih baik dibandingkan dengan kemampuanku.”

Christine mengangguk, dia tahu bahwa Vasu adalah perwujudan misteri dari seluruh misteri. Pewaris dari Puncak Benderang, dengan bakat melebihi mahaguru. Keahlian pedang dan sihir tingkat tinggi yang bahkan bisa membuat para ahli pucat oleh kecemburuan. Tidak gentar dengan apapun yang menghadang jalannya, bahkan jika mereka adalah dewa dewi sekali pun. Tidak karena angkuh, namun karena memiliki kemampuan yang melandasi setiap tindakannya. Bahkan jika pun penilaian terhadap kekuatan tempur Vasu jauh di bawah rata-rata yang bisa disebut pendekar ahli di Tanah Ema, tapi saat ini mulai melangkah ke dalam medan perang, siapa yang sanggup menghentikan langkahnya?

Vasu menoleh ke arah Lisa, “Jika lelah, sampaikan agar dapat kugantikan.”

Lisa tidak berkata, hanya mengangguk.

Dan perjalanan pun berlanjut. Beberapa orang kadang bertukar sapa dan cerita, sembari berusaha menebak apa yang ada di balik kabut ini.

Satu jam berlalu…

Dua jam berlalu…

Tiga jam berlalu…

Braakkk…!

Tiba-tiba Sang Mutiara angin terguncang. Oleng ke kiri dan ke kanan seperti bahtera dihantam badai.

Perisai sihir transparan yang melindungi bahtera tampak retak seperti jaring laba-laba yang mulai muncul dan menjalar ke pelbagai posisi.

Ini…?! Wajah para anggota ekspedisi tampak menjadi pucat pasi. Karena di luar dari retakan-retakan perisai sihir transparan merupakan ‘neraka’ dalam arti yang sebenarnya.

Laut yang mengamuk dengan ombak setinggi ratusan bahkan ribuan elo dari pelbagai arah, mampu menelan apapun yang berada di antaranya dengan sekali hempasan. Angin badai topan menggulung dan membuat permukaan laut semakin murka.

Vasu menekuk alisnya, apa yang sebelumnya dia lihat melalui pandangannya kini berubah sama sekali. “Bagaimana bisa di sini menjadi laut?”

“Vasu…!”

Christine berteriak dan menunjuk ke arah Lisa yang kini tampak mengangkat sebuah tongkat dari logam keunguan dengan raut wajah yang tampak sangat buruk. Jelas sekali dia tengah berusaha untuk mempertahankan keutuhan perisai sihir, namun energi yang dimilikinya sendiri sangat terbatas.

Vasu membentuk mudra dengan tangannya seraya berucap, “Jagad Gatravara!”

Sebuah perisai prana keemasan terbentuk di bagian luar perisai sihir.

Melihat perisai yang baru tidak lagi memunculkan retakan, maka suara desahan lega bisa terdengar di mana-mana.

Tim ekspedisi kini memikirkan kembali,mereka baru saja pindah ke lapisan kedua dari Hutan Kabut Ungu, namun juga dua kali mereka mengalami rejatan batin seakan-akan mereka tidak akan kembali lagi ke dunia luar.

 

“Ada getaran prasuta di lautan ini.”

Suara Rukhal mengingatkan Vasu untuk waspada.

Vasu terdiam sejenak, getaran prasuta bermakna sesuatu yang terkait dengan avyakta – awal penciptaan, energi primordial, asal dari segala prana ada di sini. Vasu tidak bisa merasakannya. Apakah di sini terdapat salah satu prakrta – makhluk paling purba di antara semua ciptaan?

“Rukhal apa pernah ke tempat ini?”

“Sayangnya tidak pernah, tapi kurasa kepingan misteri Ema yang tidak kuketahui kemungkinan besar ada di tamat ini.”

“Mengapa kamu berpikir demikian?”

“Jika ada yang bisa mengekang satu prakrta saja di tempat ini, maka itu bermakna ada keberadaan yang setara dengan Ema di sini, jika tidak maka Ema sendiri yang membawa prakrta tersebut ke dimensi ini.”

Vasu kembali terdiam. Meski pun dia banyak mendengar penjelasan tentang misteri semesta dari Rukhal sepanjang perjalanan mereka. Dia hanya memiliki sedikit konsep tentang hal-hal tersebut.

 

Vasu mengambil alih kemudi Sang Mutiara angin dan membiarkan Lisa beristirahat. Wajah gadis kecil tersebut pucat tanpa cahaya. Sementara Christine tampak membantu menuangkan secangkir teh hangat untuk sahabatnya tersebut.

Vasu pernah belajar menjadi nakhoda, hanya  beda pada bahtera yang dia kemudikan sebelumnya merupakan hasil saripati ilmu pengetahuan dan teknologi di dunianya yang dilengkapi dengan sistem navigasi otomatis dengan panduan satelit pribadi pada orbit yang eksklusif.

Sang Mutiara Angin menghindari hantaman ombak dan badai dengan lincah. Walau memiliki perisai prana, namun Vasu tidak hendak mengambil risiko lebih dari yang dia bisa kendalikan. Perlahan-lahan bahtera tersebut kini mengapung tinggi di atas sentuhan ombak dan hanya menerobos badai angin dan hujan yang semakin mengamuk.

Orang-orang di geladak dapat menyaksikan langit dari gulungan awan-awan yang berpendar biru dengan sejumlah petir yang turun silih berganti menghiasi cakrawala. Jantung mereka berdegup keras, keringat dingin kadang mengucur tanpa mereka sadari.

Satu jam… dua jam… tiga jam…

Tampaknya perjalanan mereka hampir tidak terkendali. Sang Mutiara Angin meluncur dengan anggun di antara badai, seakan-akan sentuhan nahkodanya menjadikannya penari yang memikat di bawah rintik hujan.

Hingga suara salah satu awak memecah keheningan, “Eh… Apakah itu sebuah pulau?”

Setelah memandang dengan lebih saksama, beberapa orang juga mulai bisa melihat bayangan hitam menjulang di atas lautan dan tidak terpengaruh oleh badai. Beberapa bagiannya meninggi dan bagian tengahnya bahkan tersembunyi di balik awan.

Gambarannya menyerupai daratan dengan pegunungan tinggi yang dijumpai oleh para pelaut yang pulang dari samudra. Walau tentu saja bagi penduduk Bikendi – yang sebagian merupakan awak bahtera – mereka tidak pernah melihat pantai apalagi laut oleh karena tempat mereka dilahirkan dan besar, sangat-sangat jauh dari aroma pantai itu sendiri. Mereka hanya pernah mendengar tentang pelayaran dari para pengelana dan kembara yang singgah di Bikendi.

Saat mereka melihat lebih teliti lagi… Dan bahtera semakin dekat lagi.

Blip…!

“Aaaaa…..” Christine berteriak paling keras,tapi yang lain juga tidak kalah ke.

Sepasang mata muncul dari tengah-tengah bayangan tersebut, sepasang mata yang sangat besar, mata melata yang sangat besar!

Mereka merasa seakan-akan jiwa mereka terhisap ke dalam mata tersebut. Ketakutan, keputusasaan, ketidakberdayaan, kini semuana seakan-akan bercampur menjadi satu.

 

Sebuah suara menggelegar di langit.

“Manusia, jika kalian hendak mencari warisan Sakra Manavendra, maka lupakanlah. Kembali ke asal kalian atau selamanya menjadi bagian dari dasar lautan yang mengamuk ini!”

Tidak ada yang bisa berkata apa-apa.

Kecuali satu orang yang menggigit bibirnya hingga berdarah, dan berkata, “Vasu, putar kemudi sekarang!” Christine benar-benar ketakutan.

Tapi Vasu hanya…

Sebelumnya

Naskah 28 - Ekspedisi Empat Panji

Istana Langit Selatan – Di dalam sebuah balairung agung, Raja Langit Selatan – Soini VIII, ... Read more