Gunung Tienz, Lembah Para Naga. Seorang pria tua duduk menghadap menghadap meja batu sambil menuangkan secangkir teh hangat. Wajahnya ringan tanpa beban, walau tidak bisa menyembunyikan kerutan yang dua tahun terakhir bertambah dalam. Selama sejuta tahun dia telah menjaga makam para leluhur, dinasti para naga yang pernah berjaya tak tertandingi di bawah langit. Walau saat ini, ras manusia telah menjadi pengganti menjadi ‘penguasa’ di atas daratan dan samudra namun belum bisa menandingi masa kejayaan para naga yang juga menguasai langit. Selagi dia menikmati kenangan masa lalunya, desahan kecewa anak laki-laki di hadapannya. Dia melahap kue manis dengan tergesa-gesa. Wajahnya menunjukkan ekspresi kesal. “Kamu masih memikirkan sesuatu yang berlalu lebih dari dua tahun?” “Kakek, bukannya kakek tahu bahwa benda itu adalah pusaka seluruh ras. Mengapa kakek berikan pada dia?” “Ha ha…, tusuk gigi itu?” Si kakek melihat ke lembah di hadapannya, sebuah kerangka naga raksasa melingkar di tengah lembah tertutup oleh kerimbunan hutan. Kepala naga itu kehilangan tanduk kanannya, dan ada rantai yang melingkar di leher dan tampak terputus, tempat sebuah benda tampaknya pernah tergantung di situ. “Mengapa kakek selalu mengatakan pusaka itu sebagai tusuk gigi. Almarhum yang mulai raja sebelumnya mendapatkan pusaka itu dengan susah payah, dan menjadi kehormatan ras kita!” “Cucu kakek yang manis, memang sebagian besar dari kita menganggap benda itu pusaka. Tapi kakekmu ini ingat sekali, bahwa bahkan kakaknya yang juga adalah raja itu, hanya menggunakan benda tersebut sebagai tusuk gigi. Dan hanya sekali dalam sejarah kita dia menggunakannya untuk membelah salah satu dari tiga bulan, yang pecahannya jatuh ke Tanah Ema dan saat ini menjadi danau Bulan Sabit di Puncak Benderang, di mana si kecil Lutz membangun gubuknya.” “Kakek, apa karena kakek menyukai manusia yang bernama Lutz itu, lalu memberikan pusaka kepada anak itu? Bahkan kakek mengizinkannya masuk ke perpustakaan abadi dan mempelajari teknik rahasia api para naga. Aku pun tidak boleh masuk ke sana.” Anak tersebut semakin merengut. Si kakek hanya tertawa, “Bahkan tanpa mengizinkannya masuk, dia bisa mengetahui semua isi perpustakaan abadi, jadi bedanya kakekmu ini mengizinkannya masuk atau tidak?” “Aku tidak paham, bagaimana dia bisa tahu kalau dia tidak pernah melihatnya?” “Cucu, kamu masih terlalu kecil. Sejarah kita lebih panjang dari ras manusia, pun demikian, kita hanya tahu sedikit dari sejarah Eon di mana seluruh kehidupan datang dan berpulang. Tapi ada salah satu mitos yang paling tua, kakekmu ini tahu benar, meski anak itu sendiri belum tahu, bahwa dirinya adalah pewaris ‘Lembayung Ema’ – yang bermakna, kita tidak bisa menahannya, dan tidak bisa menyembunyikan apapun darinya.” “Lembayung Ema? Apa itu Kek?” Anak kecil itu menjadi bertambah penasaran, dia pernah mendengar semua legenda dan mitos di Eon dan Tanah Ema, Benua Soma, hingga Wilayah Misterius Ludr. Tapi istilah Lembayung Ema adalah sesuatu yang tak pernah dia dengar. “Ah…, bahkan kakekmu ini sendiri tidak punya cukup wawasan untuk menjelaskannya padamu.” “Apa, katanya kakek tahu?” “Hmm…, apakah kamu tahu era kejayaan para naga?” “Ya kakek, menurut hikayatnya, para naga berjaya selama ratusan atau mungkin ribuan juta tahun, hingga pada dua juta tahun yang lalu ras kita perlahan menyusut, dan raja terakhir mangkat sejuta tahun yang lalu, dan ras manusia mulai muncul dan menguasai daratan serta lautan.” “Ya, ras manusia termasuk baru saja berjaya, setidaknya penanggalan mereka baru memasuki akan memasuki tujuh ratus milenia. Tapi mereka telah ada sejak lama bersama ras naga. Hanya saja mereka bukanlah ras memiliki riwayat yang sepanjang kita.” “Lalu, apa hubungannya semua itu Kek?” “Apa kamu tahu di mana pusat peradaban kita dulu?” “Menurut legenda, seharusnya berada di pusat Wilayah Ludr.” “Benar sekali, tapi sekarang, kakek rasa, sudah tidak tersisa ras kita lagi di sana. Dan bahkan manusia pun tidak berani terlalu dalam menjelajah Wilayah Ludr yang merupakan tanah terluas di Eon. Tapi di sanalah dulu kemegahan peradaban para naga berdiri membentang luas, bahkan sebanding dengan seluruh Tanah Ema ini.” Kakek tua berhenti sebentar untuk meneguk teh hangatnya. “Ras kita sangat perkasa, namun di sisi lain kebanggaan kita juga memunculkan rasa angkuh. Tidak cukup hanya menguasai bumi dan lautan, kita juga mencoba menggenggam langit.” “….” “Bahkan tidak jarang, para kesatria kita berperang melawan para dewata yang menjadi menjaga langit sebagai gerbang masuk ke wilayah mereka. Awalnya hanya perselisihan kecil, makin lama makin besar. Dan perang sering pecah. Sebuah perang besar bisa memakan korban ratusan dan ribuan di kedua belah pihak. Selama ribuan tahun langit, bumi dan lautan menjadi lebih merah atas Ludr.” Si kecil terbengong. “Aku tidak tahu kalau sampai terjadi demikian.” “Ya, para dewata memang hebat. Tapi pada akhirnya perang berakhir, Ludr menjadi wilayah peradaban para naga. Para dewata menutup gerbang mereka, dan kembali ke alam mereka, jarang sekali muncul kembali ke Eon. Dan tidak ada yang pernah tahu mengapa mereka mendadak menutup gerbang, para leluhur saat itu hanya berpikir bahwa mungkin para dewata ketakutan akan kekuatan kita. Jutaan tahun kemudian, para naga tidak hanya cukup dengan Ludr saja. Kakekmu bisa bilang, bahwa kita dulu terlalu tamak. Akhirnya menyeberangi samudra luas tak terhingga selama ratusan tahun, kelompok pertama tiba di Tanah Ema ini. Di Tanah Ema saat itu sudah ada manusia, sebagaimana juga di Ludr. Tapi jumlahnya sangat sedikit, dan hanya berupa desa-desa kecil. Menurut cerita, para naga penjelajah terpikat dengan keindahan Tanah Ema, dan membangun peradaban di sini, tepatnya di tempat ini, di Gunung Tienz. Hanya saja ras manusia di Tanah Ema agak berbeda, mereka tidak selemah yang ada Ludr. Beberapa malah memiliki kemampuan setara dengan para dewata. Mereka mencari kita ke Gunung Tienz, dan menyampaikan harapan mereka bahwa para naga yang datang ke Tanah Ema tidak mengganggu kedamaian. Mereka mungkin sudah mendengar berita pertempuran antara para naga dan para dewata.” “Lalu, apa yang leluhur kita lakukan?” “Para leluhur… ah, mereka sungguh gegabah. Mereka membunuh utusan ras manusia. Dan begitu kelompok naga berikutnya dari Ludr tiba dengan jumlah yang lebih besar di Tanah Ema, peperangan pun dimulai. Tentu saja hasilnya jelas, kelompok manusia yang memiliki kekuatan seperti dewata tidak banyak, walau banyak yang tangguh, mereka semua dibantai oleh prajurit dari ras kita. Tidak ada yang tersisa, hanya darah dan aroma kematian di mana-mana.” “Jadi, leluhur kita mendirikan peradaban di Gunung Tienz ini dan membunuh semua manusia?” Anak itu nyaris tidak percaya bahwa leluhur mereka sangat kejam dan keji. “Ya, tetapi, dari semua yang datang ke Ema, salah satunya terbang ke Soma, di sana dia bertemu dengan salah satu panglima yang bertanggung jawab memimpin pasukan para naga menguasai wilayah Soma. Dan sungguh mengagetkan bagi panglima tersebut, bahwa naga yang tiba dalam kondisi luka parah. Naga tersebut hanya menyebutkan bahwa ‘jangan pernah menginjakkan kaki di Ema, atau semua akan binasa, semua…’ – Panglima kebingungan akan maksud naga tersebut, namun sebelum bertanya lebih jauh, naga tersebut telah tewas akibat luka yang parah. Kabar ini sampai ke pusat peradaban di Ludr. Dan raja sangat geram, memerintahkan seratus panglima perang yang membawahi hampir seratus ribu pasukan elit kita menyeberangi samudra tak terhingga menuju Tanah Ema. Pasukan ini begitu tangguh, hanya memerlukan sepuluh tahun untuk sampai ke Tanah Ema. Yang mereka temukan hanya sesuatu yang mengerikan, di Gunung Tienz, tidak ada satu pun naga sebagaimana seharusnya. Tapi di lembah di bawahnya, ratusan kerangka naga sudah sebagian terbenam, mereka sudah lama mati. Dan sebab kematian mereka lebih mengherankan lagi. Mereka hanya mati begitu saja, tampaknya mereka membawa perlengkapan tempur, dan siap berperang, tapi entah kenapa atau siapa lawan mereka, mereka mati begitu saja. Ini membuat seratus panglima naga merinding ngeri. Siapa yang bisa melakukan itu, bahkan para dewata tidak sanggup. Semua itu tidak perlu menunggu lama, seratus panglima dan seratus prajurit elit tersebut langsung menemukan jawabannya. Di hadapan mereka, melayang di atas sebidang cahaya lembayung yang membentuk Lotus berkelopak seribu, seorang manusia berdiri dengan mengangkat pedang dan dalam satu kata ‘mati!’ – semua bala tentara naga itu berjatuhan dari angkasa dan tubuh mereka membentur bumi menghasilkan gempa yang mengguncang seluruh Ema. Hanya tersisa satu, pemimpin dari semuanya, sang panglima yang paling senior.” “Hanya dengan satu kata Kakek?!” Anak itu nyaris tak percaya. “Ya, bahkan panglima perang yang tersisa seorang diri kebingungan. Dia kembali ke Ludr dengan menyampaikan pesan dari manusia misterius tersebut, bahwa – para naga tidak perlu mengirimkan siapa pun kembali ke Ema untuk mati, orang tersebut akan datang sendiri ke Ludr dan mengakhiri peradaban para naga. Mendengar ini, raja kalang kabut, tidak tahu harus takut atau marah, atau keduanya. Dia tidak pernah mendengar ada manusia yang bisa membantai seratus ribu prajurit elit naga hanya dalam satu kata. Raja memerintahkan semua pasukan bersiaga, para naga yang memiliki kemampuan sihir tinggi membangun simbol-simbol sihir pelindung di seantero Ludr, benteng-benteng di perkuat, semua upaya dilakukan, tidak ada petinggi yang berani meremehkan situasi ini. Belum pernah peradaban para naga menghadapi bahaya seperti itu. Tidak lama setelah kabar itu merebak, kekuatan militer yang lebih hebat dari perang terbesar melawan para dewata pun muncul di Ludr. Semua warga ras kita merasa tenang, bahkan ada yang berkata bahwa raja takut secara berlebihan. Kemudian, hari itu tiba. Lotus lembayung raksasa melayang di atas Ludr, bingkai kubah lembayung menutupi seluruh Ludr seakan membentuk ‘kurungan’ raksasa. Dan siang itu, seluruh peradaban para naga musnah. Tidak ada naga yang tersisa di atas Ludr. Tidak ada naga yang selamat untuk menceritakan bagaimana itu bisa terjadi.” “Tunggu sebentar Kek, jika tidak ada naga yang selamat, bagaimana ras kita masih bisa ada sampai saat ini?” “Ha ha…, tentu saja masih ada naga, walau tidak di Ludr. Masih ingat panglima yang ada di Soma?” “Ah ya, panglima itu…” Tiba-tiba ingatan anak kembali ke awal cerita. “Dia mendengar kisah tersebut, dan mengambil keputusan, bahwa saat ini bukan waktunya bagi para naga untuk sesumbar dan berusaha menguasai Soma. Ada hal-hal yang tidak terduga. Hal yang harus diutamakan adalah keselamatan dan kelangsungan ras. Sehingga dia memutuskan untuk datang ke Ema, dan bertemu orang misterius tersebut.” “Apa? Dia datang ke Ema? Apa dia tidak takut setelah semua itu?” “Tentu saja takut. Tapi dia tidak punya pilihan, sekarang semua naga yang masih tersisa di Eon sangat tergantung padanya. Mereka tidak tahu apakah orang misterius itu akan datang juga memusnahkan naga yang tersisa di Soma. Panglima itu masih muda, dan dia adalah kebanggaan raja yang terdahulu, karena merupakan putri bungsunya. Tapi hubungan mereka tidak baik, dan sang putri memutuskan meninggalkan istana dengan dalih memimpin ekspansi ke Soma. Dia tiba di Ema dengan melepas seluruh energi dan wujud spiritualnya.” “Dia datang sebagai manusia?” “Cucuku, bukankah kamu tahu bahwa sebenarnya kita tidak berbeda dengan manusia, hanya saja ketika kita menggunakan kekuatan dan wujud spiritual kita, maka kita akan mewujud sebagai naga. Sama seperti para dewata.” Anak kecil itu hanya mengangguk. “Panglima itu tiba di Ema setelah terbang selama setahun melintasi laut antara Soma dan Ema. Dan sepertinya orang misterius tahu kedatangan sang panglima, dan menyambutnya di tepi pantai. Setelah beberapa percakapan, mereka saling mengenal lawan bicaranya. Sang panglima meminta agar semua permasalahan di masa lalu dianggap selesai. Ras naga tidak banyak lagi yang tersisa, bahkan tidak mencapai seribu, mereka terancam hilang dari Eon. Panglima meminta orang misterius itu bermurah hati memaafkan kesalahan di masa lalu, dan ras naga sudah bisa dikatakan mendapatkan ganjaran yang setimpal. Dan dia berjanji, bahwa ras naga tidak akan mengulangi kesalahan di masa lalu. Orang misterius itu setuju dengan syarat panglima tersebut tinggal menetap di Ema dan melindungi penduduk Ema yang juga hanya tersisa sangat sedikit setelah pembantaian yang dilakukan para naga. Panglima tersebut cukup melindungi penduduk Ema dari bahaya yang datang dari luar, namun tidak boleh campur tangan jika kekacauan itu disebabkan oleh penduduk Ema sendiri. Sang panglima hanya diizinkan membawa dua naga lagi untuk membantunya, dan tidak boleh ada lebih dari tiga naga di Ema.” “Kenapa aneh sekali Kek, bukankah orang tersebut sangat kuat, mengapa dia malah meminta panglima naga untuk menjaga Ema?” “Ah, itu karena dia tidak bisa selalu berada di Ema. Dia kadang harus pergi dalam jangka waktu yang lama, dan kembali ke Ema hanya sesaat.” “Dia meninggalkan Ema? Apa dia pergi ke Soma atau Ludr?” “Tidak, Eon bukanlah dunianya, dan dia kembali ke dunianya, dan sesekali mengunjungi Eon, terutama Ema. Tidak jelas dunianya dari mana, tapi yang pasti bukan wilayah kekuasaan para dewata. Oleh karena itu, dia sangat marah ketika kembali ke Ema dan mendapati rumah dan orang-orang yang dia anggap keluarga semuanya sudah direngut darinya oleh ras kita. Panglima tentu saja menyetujui hal ini, bagaimana pun dia juga merasa bertanggung jawab sebagai bagian dari ras naga atas apa yang terjadi di Ema. Dia tahu bagaimana rasanya kehilangan kerabat, rakyat, negara, dan peradaban dalam pembantaian; jadi dia sedikit banyak paham apa yang dirasakan oleh orang misterius itu. Sehingga sang panglima datang menetap di Gunung Tienz, membangun lembah para naga sebagai pemakaman naga-naga yang mati di Ema. Dia juga menetapi kata-katanya dan membawa dua ajudan yang merupakan naga belia yang masih kanak-kanak untuk membantunya.” “Wow…, kakek tahu sampai sejelas itu, bahkan aku tidak pernah mendengar ceritanya. Apa kisah itu ditulis di perpustakaan rahasia?” “Ha ha… tidak ada, kisah ini tidak tertulis di mana pun. Bagaimana mungkin kita meninggalkan kisah yang mengerikan seperti itu, walau bagian akhirnya masih dapat diterima.” “Lalu dari mana kakek mendengar cerita ini?” “Kakek tidak mendengar dari siapa-siapa, kakek mengalaminya sendiri.” “Eh…?” “Dua ajudan yang dibawa panglima, adalah anak-anak yang sangat bandel, yang paling tua adalah almarhum raja naga, dan yang kecil adalah adiknya, yaitu kakekmu ini.” Anak itu terbelalak tidak percaya. “Ha ha…, jangan kaget begitu.” “Lalu apa yang terjadi kemudian Kek? Apa orang misterius itu pergi selamanya? Dan apa sang panglima masih ada? Aku ingin bertemu Kek.” “Ah…, mari kakek lanjutkan dulu ceritanya. Singkat kata, orang misterius itu kembali beberapa kali, dan sering kali dia tinggal di sini, lembah para naga, karena orang-orang yang dia kenal di Ema hampir semua sudah tiada. Yang dia kenal hanya panglima kita itu. Akhirnya pada suatu waktu mereka menikah, dan hidup bahagia; kami rasa itu adalah waktu-waktu yang sangat tenang dan indah.” “Eh…, menikah Kek? Kenapa bisa demikian, bukankah mereka harusnya masih punya rasa bermusuhan.” “Cucu, ada hal-hal yang lebih misterius di dunia ini dibandingkan sekadar rasa suka atau benci. Suatu saat kamu akan menyadarinya. Tapi kisah bahagia itu tidak berlangsung lama. Suatu hari, utusan dari para dewata tiba. Mereka datang meminta bantuan sang orang misterius, karena alam para dewata sedang menghadapi bencana yang jauh lebih mengancam daripada perang para naga yang dahulu kala pernah terjadi. Tapi orang misterius tidak mau membantu, jika para dewata sendiri tidak sanggup menanggulangi bencana yang terjadi, bagaimana mungkin dia yang hanya manusia bisa. Dan dia juga tidak ingin terlibat dengan urusan di luar Ema. Apalagi kehidupannya sekarang sudah begitu tenang. Hanya saja, utusan dewata itu tinggal hingga beberapa tahun di tanah Ema. Setiap hari memohon kepada kami. Sampai akhirnya, tuan putri kami – mantan panglima para naga, luluh hatinya dan kasihan. Ia membujuk suaminya jika sekiranya ada cara membantu para dewata. Orang misterius itu memahami maksud tuan putri. Jika bencana benar-benar melanda alam para dewata, bahkan Eon pun tidak akan selamat dari dampaknya. Mungkin mereka yang tinggal di lembah para naga bisa melindungi diri, tapi tidak ada yang abadi. Orang misterius itu sadar bahwa hidupnya sudah mencapai batas akhir, dia tidak akan bisa menjaga kami dan juga putranya yang baru berusia beberapa tahun, dan masih bayi. Setelah berbincang panjang lebar, tuan putri dan orang misterius tadi mencapai keputusan, demi masa depan dan ketenangan di Ema khususnya. Mereka berdua memberikan pada utusan para dewata pedang milik orang misterius itu sambil berpesan, ‘Ini adalah senjata yang ditempa dari kepingan kejora triliunan tahun yang lalu, hanya mereka yang dipilih oleh tanah tersuci di Eon, Ema, bisa menggunakannya. Namun saat ini kami sudah menanamkan energi keberadaan kami ke dalamnya, sehingga Nona Utusan bisa menggunakan sedikit dari kekuatannya untuk menyelamatkan alam para dewata.’ Utusan itu sangat senang, setidaknya dia mendapatkan harapan. Dia memenuhi permintaan mereka berdua untuk menjaga putra tunggal mereka setelah ini. Utusan tersebut kembali ke alam para dewata. Dan beberapa bulan setelahnya, tuan putri dan orang misterius yang sudah menggunakan seluruh energi keberadaan mereka untuk pedang yang dipinjamkan kepada utusan para dewata mencapai akhir kehidupan mereka. Mereka meninggalkan Eon selamanya, namun tidak ada penyesalan. Aku dan kakak yang tersisa di Lembah Para Naga membesarkan anak itu sampai beberapa ratus tahun, sebelum utusan itu kembali membawa kabar alam para dewata sudah terselamatkan berkat senjata yang diberikan. Melihat anak yang tumbuh itu, nona utusan mempertimbangkan sesuatu. Oleh karena anak tersebut lebih memiliki energi spiritual sebagaimana ras manusia, utusan dewata itu membawa sang anak untuk dibesarkan di antara manusia. Sementara aku, kakak, dan utusan dewata tetap mengawasinya dari kejauhan, mencegah bahaya yang mengancam nyawanya setiap saat.” “Apa anak itu masih hidup Kek?” “Ha ha…, bagaimana mungkin. Usia manusia tidak sepanjang usia kita, kita bisa hidup seribu kali lebih lama dibandingkan mereka.” “Lalu apa yang terjadi pada anak tersebut?” “Dia tumbuh dan hidup dengan baik. Cerdas dan berbakat. Di akhir hayatnya, dia berhasil menyatukan sejumlah desa, dan membentuk kota kecil yang bernama Bren. Dan seperti yang mungkin kamu duga, keturunannya kemudian membangun kekaisaran terbesar di Tanah Ema, Bren.” “Tapi lambang Kekaisaran Bren adalah angsa, bukan naga, apa berarti mereka tidak mengakui asal usul mereka?” “Tidak, mereka tidak tahu berasal dari para naga, atau darah naga. Tapi di dalam keluarga kekaisaran, ada cabang keluarga yang memiliki sedikit kekuatan spiritual ras naga kita, jika tidak salah mereka dikenal sebagai Keluarga Naga Biru Langit, salah satu yang paling berpengaruh dalam pemerintahan Bren.” “Hmm…, sepertinya aku pernah mendengar tentang mereka.” Si anak terdiam sejenak. “Lalu apa yang terjadi dengan utusan tersebut, apa dia masih di Ema? Bukankah para dewata bisa dikatakan hidup abadi?” “Ah Kakek tidak tahu. Setelah putra pertama tuan putri, Bren, meninggal dunia, utusan tersebut hanya sesekali muncul di Ema. Ha ha…, tapi lucunya, kakakku itu selalu mengejar-ngejar nona utusan tersebut. Karena di antara para dewata pun, kecantikan nona utusan bisa dikatakan tak tertandingi, dengan aura kesuciannya semua yang melihat akan terpikat. Dengan alasan untuk meminta kembali senjata milik orang misterius, kakakku mengejar nona utusan ke manapun dia pergi, menantangnya bertarung, tapi tidak pernah menang dan tidak pernah berani mengucapkan isi hatinya. Sejujurnya, kami berdua tahu, meskipun nona itu seorang dewi, tapi hatinya sudah terpikat pada satu orang, sayangnya orang tersebut sudah beristri, dan pria itu beserta istrinya sudah mengorbankan hidup mereka untuk membantu menyelamatkan alam dewatanya. Kini dia sendiri dan patah hati, kesedihan yang tidak bisa dia utarakan karena hanya akan tidak menghormati sepasang suami istri yang telah membantunya. Suatu ketika dia menjumpai kami di lembah para naga, pamit untuk selamanya, dan menyerahkan pedang orang misterius kepada kakak; karena dia melihat kakak sangat menginginkannya, walau sebenarnya bukan itu yang diinginkan oleh kakakku. Tapi kurasa, mereka sama-sama tahu apa yang sebenarnya terjadi, hanya saja, dunia memang bisa menjadi sebuah panggung sandiwara yang harus dipentaskan. Pedang itulah yang kemudian menjadi pusaka keluarga kita. Tapi karena kakakku, yang juga almarhum raja tidak pernah melihatnya sebagai pusaka, hanya tanda kenangan dari masa lalu kami, dia pun selalu menutup kebenaran kisah ini dengan mengatakan itu sebagai ‘tusuk gigi’ – aku pun hanya mengikutinya saja.” “Kek, aku tidak pernah menduga ada cerita seperti itu di balik pusaka kita.” “Ya, pusaka itu tidak pernah merupakan milik ras naga sejak dulu. Dan kini, sepertinya pusaka itu sudah menemukan pemilik barunya. Karenanya kakekmu ini tidak mencegah anak itu mengambilnya.” “Apa…, anak itu adalah yang dipilih oleh Tanah Suci Ema? Kekuatan paling suci di seluruh Eon?” “Entahlah, tapi sepertinya demikian. Ketika anak itu menyentuh pedang tua itu, pedang itu bergetar seperti muda kembali, dipenuhi energi yang kakek rasakan sangat misterius, seperti ketika dulu dia berada dalam genggaman orang misterius itu.” “Apa kakek tahu apa kekuatan pusaka itu? Sampai ras kita yang pernah menguasai Eon tidak sanggup menandingi pemiliknya, yang bahkan membuat alam dewata lolos dari bahaya.” “Kakek tidak pernah tahu. Tapi dari percakapan antara tuan putri dan orang misterius, sepertinya pedang itu memiliki kekuatan untuk memutus ikatan keberadaan.” “Ikatan keberadaan?” “Ya, segala sesuatu di dunia ini berjalan sesuatu dengan hukum sebab akibat, semua terikat antara satu dan yang lainnya. Kehidupan selalu terikat dengan kematian. Awal selalu terikat dengan akhir. Tapi pedang itu bisa memutus semuanya, termasuk keberadaan, seakan-akan sesuatu tidak pernah ada sedemikian hingga tidak memiliki akhir. Ketika makhluk mati, jiwanya bisa terlahir kembali melalui proses reinkarnasi, ini adalah bukti keberadaan mereka. Tapi jika keberadaan mereka diakhiri secara paksa, mereka tidak akan pernah lagi ada seperti mereka memang tidak pernah ada juga sebelumnya. Itulah mengapa, kakek juga menduga, bahwa ketika tuan putri dan orang misterius itu memberikan keberadaan mereka agar pedang tersebut bisa digunakan oleh nona utusan, mereka harus ‘membayar’ dengan mengakhiri keberadaan mereka sendiri.” Walau masih kecil, anak tersebut setidaknya paham dengan apa yang dikatakan oleh kakeknya. Hanya saja, semua itu terlalu tidak masuk akal, bahkan para dewata tidak memiliki kekuatan atau kewenangan mengakhiri suatu keberadaan secara menyeluruh dan totalitas.   Sementara itu, di halaman depan Balairung Agung Puncak Benderang. Vasu membopong tubuh Flora yang lemah ke luar dari arena. “Flora, istirahatlah sejenak di sini.” Vasu meletakkan Flora dengan hati-hati di sebelah Christine sebelum dia berbicara pada anak perempuan itu, “Anda pasti nona sepupu bukan? Tolong jaga Flora sebentar, saya harus kembali sana.” Dia melirik ke arah arena. Vasu dengan satu kali langkah kembali masuk ke dalam arena, seakan-akan langkahnya membuat dia melayang di udara. Sementara Kon tetap berada melayang di udara, bukan karena dia ingin, tapi ketika dia hendak keluar dari arena tubuhnya tidak bisa bergerak. Seluruh arena hingga ke angkasa telah menjadi domain dari tahap pertama dan kedua Dandelion Beku “Langkah Tanah Beku” – “Udara dan Langit Beku”. Kon sudah pernah merasakan teknik ini dari Flora, namun yang diaplikasikan oleh Vasu di hadapannya memberikan dampak yang bagaikan bumi dan langit. Sebelumnya, dia masih bisa bergerak dengan bebas, tekanan domain musuh tidak seberapa. Tapi di hadapan Vasu, domain yang diciptakan benar-benar menunjukkan pada legenda kehebatan teknik Dandelion Beku, dia tidak bisa bergerak sama sekali, bahkan jangan bergerak, berapa saja Kon sangat kesulitan, otot pernapasannya juga terasa ikut membeku. Oregeon dan Emas Hitam yang menyaksikan ini hanya terdiam. Mereka tahu Vasu tidak sedang atau mungkin belum serius, jika dia serius, Kon pasti sudah berubah menjadi bongkahan es beku dan hancur berkeping-keping hanya dengan dua teknik awal saja. Di hadapan mereka, saat ini bukan berdiri seorang anak atau murid dari Puncak Benderang, namun seakan-akan mereka berhadapan dengan penguasa neraka es. Vasu mengeluarkan toya panjang dan menghantamkannya ke tanah. “Guru, Anda tidak perlu turun tangan kali ini. Biar aku, Vasu, yang akan memberikan mereka pelajaran bagaimana seharusnya tidak meremehkan Puncak Benderang. Bila perlu, akan kutendang bokong mereka hingga mereka jatuh lagi di Soma.” Semua murid Puncak Benderang yang lain tertawa, mereka tahu bagaimana Flora setiap hari mengancam akan menendang Vasu sampai ke Soma. Sedangkan Flora mengangkat sedikit senyum sambil bergumam, “Dasar bodoh.” – Tapi tidak satu pun tamu, kecuali para ahli yang paham, apa yang sedang dipertunjukkan oleh Vasu bukanlah hal yang sederhana. Masyarakat awam yang datang mungkin tidak tahu, tapi para ahli tahu bahwa ternyata Puncak Benderang selama ini menyembunyikan naga di antara manusia – kiasan yang menggambarkan potensi kekuatan mahadashyat yang tidak diungkapkan ke dunia luar. Vasu mengangkat toya dengan tangan kanannya dan sekali lagi menghantamkannya secara tegak lurus ke permukaan arena. Seketika itu juga Kon terlempar keluar arena dan jatuh di antara para perusuh lainnya. Ini memperlihatkan betapa mengerikannya kuasa di dalam domain Dandelion Beku yang didirikan di atas arena itu. “Ada yang lain yang mau tampil?” Vasu mengeluarkan suara menggelegar yang membuat sapuan gelombang hingga merundukkan dari rumput yang rendah hingga dahan pohon yang tinggi. Dan seketika membuat suasana hening. Semua tahu, bahwa di dalam suara tadi, emosi kemarahan sungguh menyeruak. “Aku tidak pernah tahu jika Puncak Benderang menyembunyikan generasi muda sehebat ini. Bahkan bukan merupakan murid utama.” Oregeon berkata sambil menggelengkan kepalanya. “Berhenti berbasa-basi, siapa berikutnya? Yang takut boleh kembali!” “Kurang ajar…!” Salah satu murid melompat masuk ke arena. “Kamu terlalu sombong cuma karena domain yang kuat, biar kali ini aku, Herman, yang memberikan pelajaran padamu.” “Oh, tanpa domain pun tidak masalah.” Vasu menghentakkan kembali toya tersebut dan seluruh domain yang dia dirikan di atas arena lenyap begitu saja. Dia menarik kembali domainnya. Seketika itu juga Herman melompat ke arahnya, seluruh tubuhnya berubah menjadi nyala kehitaman. Semua yang menyaksikan di garis depan mengambil setidaknya sepuluh langkah mundur karena tidak tahan akan panasnya, apalagi tanpa domain Vasu yang mengontrol arena, radiasi panas memancar keluar dengan hebat. “Dandelion Merekah, Surga Membeku” Mendengar rapalan tersebut, Herman memperkuat perisai nyala hitamnya, karena ia sudah melihat bagaimana Kon melumpuhkan teknik tersebut sebelumnya. Tapi sungguh, lagi-lagi berbeda dengan yang diterapkan oleh Flora, hanya ada sinar kecil yang mencuat dengan cepat menghujam langit membuat awan terbelah. Dan nyala kehitaman pun juga padam, memperlihatkan kristal es memanjang tegak lurus dari permukaan tanah sampai ke langit hanya dengan garis tengah sebesar telapak tangan. Yang membuat semua orang terbelalak, setelah nyala api hitam benar-benar padam, kristal es tersebut menembus dada kiri Herman. Para ahli yang menyaksikan ini seketika tahu, Herman sudah tidak bernapas lagi, jantungnya sudah berhenti berdetak karena sudah membeku di dalam kristal es. Mereka melihatnya dengan nyata, namun nyaris tidak percaya, mereka tahu seberapa tangguh perisai nyala hitam yang bahkan membuat genius seperti Flora kesulitan untuk menghancurkannya. Tapi Vasu bisa menembusnya, bahkan membidik dengan tepat di dalam nyala api hitam yang begitu besar yang menghalangi semua pandangan. Dan itu, terlihat tanpa usaha sedikit pun. Christine yang awalnya hanya berpikir Vasu agak sedikit istimewa karena sepupunya begitu perhatian, dan mungkin unik karena bahkan Mahaguru pun kewalahan untuk bisa menemukannya. Kemudian dia kagum ketika melihat teknik ketujuh Dandelion Beku yang menyelamatkan sepupunya diterapkan dengan begitu anggun, dan dia juga tampak ramah. Tapi sekarang dia melihat teror di depannya. Anak seusianya bisa mencabut nyawa seorang ahli dengan bergeming, yang bahkan dia pun mungkin kesulitan walau masih yakin bisa menang dari Herman. Meski sepupunya adalah salah satu jenius di Candragatha, tapi dia sendiri mengingat orang-orang menyebutnya salah satu jenius termuda di Bren. Tapi Vasu di hadapannya, kata-kata jenius mungkin kehilangan arti jika disandingkan, bagaikan bumi dan langit, sesuatu memberi teror pada anak perempuan ini. “Flora, siapa sebenarnya Vasu?” Christine tidak bisa menghindari untuk bertanya. “Hmm…” Flora masih lemah di pangkuan Christine. “Sepertinya kali ini Vasu benar-benar marah, akan benar-benar sulit menghentikannya, guru pun tidak akan sanggup. Ah…, orang-orang perusuh itu sungguh bernasib sial, datang untuk mengusik sarang ular, justru membangunkan naga.” Semua orang diam, Oregeon nyaris tidak percaya apa yang muncul di pandangannya. Bahkan jika dia pun yang turun ke arena, belum tentu dia bisa keluar tanpa mengalami cedera. Dalam pikirannya dia mendengar bagaimana Emas Hitam tadi bergumam, “Anak ini terlalu berbahaya jika dibiarkan tumbuh besar. Kita tidak akan pernah bisa menyentuh Puncak Benderang.” Tanpa pikir panjang Oregeon naik ke atas arena, dan tentu saja membuat semua yang melihat terkejut. Pelindung sekte sampai turun langsung. “Nak, sepertinya kamu punya bakat. Kurasa aku berminat untuk mengujimu sedikit.” Oregeon tidak menunggu konfirmasi pihak Puncak Benderang. Kibasan tangannya memunculkan tombak berwarna hitam pekat, dan aura racun yang mematikan tersebar dari mata tombak. “Mari kita lihat keahlianmu menggunakan senjata.” Pak tua itu meluncur dengan cepat, Vasu segera menghindar hujaman tombak dengan melompat ke kanan dan menahan sabetan tombok berikutnya dengan toyanya. Senyum muncul dari wajah Oregeon, dia tahu gerakan Vasu walau terlatih tapi bukan tipe yang terbiasa bertempur dengan senjata berupa toya. Ia masih berada di atas angin. Oregeon sengaja membuat sejumlah serangan ringan dan menguji kemampuan Vasu, namun cukup membuat Vasu terdesak, sampai akhirnya orang tua itu memutuskan mengakhirnya nyawa lawannya dengan serangan mendadak yang jauh lebih kuat. Oregeon menghujam tomboknya lurus ke apam ke arah dada Vasu, sementara Vasu melakukan hal yang sama. Perhitungan Oregeon, meskipun dia juga akan teruka parah akibat toya yang ganas itu, tapi lawannya tidak akan selamat dari mata tombak beracun. Di saat-saat terakhir, ketika semua orang mengira kedua senjata itu akan beradu, Oregeon memutar sedikit arah senjatanya sehingga kedua senjata saling menghujam berdampingan ke arah sasaran masing-masing, keduanya tidak saling beradu. Oregeon tersenyum, dalam hatinya dia menang, “Matilah kamu Nak!” CLANG… Suara logam beradu memekakan telinga, Oregeon terlempar jauh ke belakang, dia tidak tahu apa yang terjadi karena begitu cepat, tapi dia punya firasat buruk. Darah muntah dari mulutnya, dadanya terasa remuk. Tapi samar-samar dia melihat Vasu masih berdiri dengan kuda-kuda menyerang, tangan kanannya menggenggam toya lurus ke depan, dan tangan memegang sebilah pedang panjang yang menyilang di depan dadanya. “Sial…!” Oregeon seketika tahu, pedang tadi sudah menghalangi mata tombaknya untuk menghujam dada Vasu. Vasu kembali ke posisi berdiri tegak, toyanya berpindah ke tangan kiri, dan pedangnya berpindah ke tangan kanan. “Bos, akhirnya kamu menggunakanku juga.” Sebuah suara bergema dalam batin Vasu. “Diamlah…!” “Hei Bos, jangan dingin begitu. Sudah kubilang, jika Bos menggunakanku sejak awal, si tua keriput itu tidak akan punya kesempatan membuatmu kewalahan.” “Tidak, inilah yang aku inginkan.” “Ho…, jadi Bos benar-benar mempertimbangkan saranku sekarang?” “Ya…” “Bagus-bagus… Bos jadi paham kan maksudku.” “Kurasa, walau dengan energi spiritual yang tinggi bisa mengalahkan semua jenis musuh dengan mudah, tapi begitu energi tersebut ditarik, ditahan, atau dihilangkan, tubuh manusia tidak bisa berbuat banyak.” “Benar Bos, energimu banyak, tapi tubuhmu lemah.” “Jangan berkata seperti itu, aku sudah melatih tubuhku selama beberapa tahun terakhir sejak kita kembali dari lembah naga. Jika tidak, tanpa refleks tadi, aku pasti sudah …” “Apa… itu yang Bos sebut latihan? Bos pasti sedang bergurau kan? Itu bahkan tidak cukup untuk membuat tubuh Bos lebih tangguh dari rumput liar.” “….” “Ngomong-ngomong, walau tertusuk pun, tidak akan terjadi hal yang serius pada tubuhmu Bos, jadi tenang saja. Bos bisa membiarkan menusuk beberapa kali, anggap saja dapat terapi akupunktur gratis.” “….” Percakapan itu begitu biasa, namun tidak ada orang lain yang bisa mendengarkannya. “Tuan Pelindung…!” Orang-orang dari Sekte Serigala Bintang Hitam berlarian menuju Oregeon yang masih terduduk bersimbah darah di lantai arena. Mereka tampak panik, tidak menyangka salah satu orang terkuat dari Istana Serigala Bintang Hitam yang terkenal bisa kalah dengan kondisi yang menyedihkan. Emas Hitam memandang Vasu dengan geram. “Semua murid dengarkan, meski harus mengorbankan nyawa, kita harus membalas anak busuk ini! Semuanya, bunuh!” Semua murid dengan serentak menghasilkan api hitam pekat, energi gabungan mereka benar-benar luar biasa. Di tambah dengan Emas Hitam. Vasu langsung mengaktifkan energi dingin melindungi semua tamu dan murid Puncak Benderang. Tubuh Vasu melayang ke udara dengan tanpa beban. Membuat semua ahli yang hadir ternganga, termasuk Christine. ~ Dia jelas bukan pemula, pemula memerlukan banyak formasi sihir untuk bisa menggunakan sihir melayang, bahkan orang-orang dari pihak lawan yang sejak dari melayang masih menunjukkan sejumlah jejak mandala digunakan untuk melayang di udara, tapi anak ini mengangkat tubuhnya ke udara seperti melangkahkan kaki di Ema ~. Tidak ada yang ingin percaya, apa anak ini seorang dewata? “Kalian serigala kecil sangat suka bermain dengan api. Baiklah akan kutemani, tapi ingatlah api bisa membakar.” Vasu menutup matanya sesaat, lalu bergumam, “Aku, Vasu, memanggil utusan neraka api hitam, meminjam kekuatan yang terlarang di atas Tanah Ema, atas kuasa yang diberikan oleh seluruh keberadaan, maka datanglah – Api Hitam – “ Tidak ada yang pernah mendengar rapalan seperti itu. Tapi semua orang menduga itu bukanlah sesuatu yang biasa. Perlahan-lahan bola api berwarna hitam muncul di sekitar Vasu, dan bertambah hingga berjumlah sembilan. Yang menyaksikan nyaris tidak percaya. Para ahli biasanya hanya bisa fokus pada satu jenis kekuatan spiritual, jika itu hanya air maka air saja, jika hanya angin maka angin saja. Tapi Api dan Es adalah dua hal yang bertolak belakang. Dan api hitam itu sangat berbeda dengan milik lawan. Jika lawan menghasilkan api yang pekat, mengerikan, dan membuat orang takut serta lari menjauh. Maka Vasu menghasilkan api yang sejuk, lembut, gelap namun memikat, seperti membuat orang merasa ingin mendekat dan masuk ke dalamnya. Mungkin seperti efek yang membuat serangga mendekati api lilin, dan ketika melompat ke dalamnya mereka mati terbakar. Vasu menghadirkan sesuatu yang indah, namun lebih mematikan. “Bagaimana mungkin ahli yang menggunakan teknik pembeku bisa menggunakan elemen api?” Oregeon hampir tidak percaya. “Mengapa tidak? Panas dan dingin memiliki prinsip yang sama, kamu berikan panas mereka akan menjadi panas, ketika panas diambil maka mereka akan menjadi dingin. Ini pelajaran lumrah di sekolah, jika ini saja kalian tidak paham, pantas saja cuma bisa menghasilkan api murahan seperti itu.” Vasu berkata dengan dingin. “Apa maksud tuan muda ya?” “Dia bilang panas dan dingin adalah hal yang sama.” “Bagaimana itu bisa?” “Katanya bahkan sekolah mengajarkan hal yang sama.” “Benarkah? Sekolah yang mana?” “Entahlah, aku tidak pernah sekolah soalnya.” “….” Orang-orang tidak paham apa yang disampaikan oleh Vasu. Salah satu api Vasu terbang ke arah lawan. Dan mereka bereaksi dengan mengerahkan gelombang api seperti ombak raksasa yang menerjang ke arah arena. Tapi bertemu dengan bola api kecil Vasu, gelombang api hitam milik lawan hanya seperti membentur karang. Mereka redup dan hilang dengan cepat. Begitu sampai di tengah-tengah lawan, bola api Vasu pecah dan percikannya membakar semua lawan. Mereka semua mati tanpa sempat menjerit kesakitan, hanya wajah tak percaya saja yang menjadi akhir ekspresi mereka. Dan dengan cepat, nyala api hitam itu tidak menyisakan apapun, bahkan tidak juga debu. “Bos, kamu benar-benar kejam tahu.” Suara itu kembali menggema di batin Vasu. “Mereka akan melakukan hal yang sama pada kita jika mereka lebih kuat.” “Tapi aku suka sikap Bos. Ha ha ha….” “Ini akan membuat mereka berpikir beribu kali sebelum mencari masalah lagi dengan Puncak Benderang. Sebentar lagi aku akan pergi jauh, mungkin tidak bisa melindungi semua yang ada di sini. Setidaknya membuat kesan ini, tidak ada yang akan mempersulit rumah kita.” Vasu menatap ke arah bahtera langit yang masih mengambang di langit Selatan. Dan seketika semua yang berada di atas menciut nyalinya. Mereka hanya orang biasa yang mengantar orang-orang hebat dari istana mereka, tapi kini mereka melihat neraka menjadi kenyataan di hadapan mereka, dan mungkin sebentar lagi, neraka itu akan datang menjemput mereka. “Kalian semua yang di atas sana. Kembalilah pulang, apa yang kalian lihat menjadi pesan kelompok kalian agak tidak berulah lagi di sini dan di seluruh Tanah Ema. Jika masih berani datang, jangan salahkan takdir bahwa kalian hanya akan tinggal sejarah di Eon!” Suara Vasu tidak terpotong, dan tidak terbendung, tidak ada kepalsuan. Membuat bahtera langit yang tadinya dengan gagah menunjukkan meriam-meriam sihirnya, mundur secara perlahan-lahan dan menghilang ke dalam pusaran sihir yang sama yang mengantarnya ke Puncak Benderang. Semua orang bersorak-sorai ketika mereka kembali dari kaget yang menerpa mereka selama beberapa waktu sebelumnya. Vasu berlari ke arah Flora, menggenggam tangannya. “Bagaimana Flora? Di mana yang terasa sakit? Beri tahu aku.” Wajah Vasu yang tadi tenang selama melawan musuh, berubah penuh kekhawatiran. Dia tidak bisa menunjukkan kelemahan di depan lawan, tapi Flora sudah seperti keluarganya sendiri, tentu saja dia khawatir. “Apa kamu sudah menendang mereka kembali?” Flora tersenyum lemah. “Ya, jangan khawatir.” “Aku tidak apa-apa, hanya kehabisan energi spiritual, dengan istirahat beberapa bulan, aku akan pulih kembali.” “Iya…” Vasu duduk di sebelah Flora. Dia tidak berkata apa-apa lagi. Para murid madya dengan sigap mengambil alih situasi pasca kekacauan tadi. Tamu-tamu dipersilakan kembali masuk ke dalam Balairung Agung. Mahaguru hanya memandang tiga anak yang masih duduk di hadap Balairung Agung. Dia memikirkan sesuatu untuk memecah suasana yang kurang nyaman itu. “Vasu, kamu sudah kembali.” “Iya Guru.” “Apa tugasmu di Gunung Tienz sudah usai?” “Iya Guru.” “Ha ha… apa pedang ini tanda bahwa kamu sudah menyelesaikan tugas?” Mahaguru memandang Vasu dengan senang dan bangga, karena kali ini dia bahkan membawa pusaka raja naga yang melegenda itu. Tentu saja Mahaguru bisa tahu pedang itu dengan sekali lihat. “Tidak Guru, ini diberikan padaku. Kakek Long memberikan guru sesuatu yang lain, ini….” Vasu menyerahkan kotak panjang yang selalu dia bawa kepada gurunya. “Hmm… apa yang penjaga Lembah Para Naga itu berikan padamu. Sampai sihir kompresi dimensi serumit ini diterapkan pada kotaknya?” “Entahlah, katanya sih lebih berharga dari emas permata.” Mahaguru menyentuhkan jari ke tengah kotak. Sihir kompresi dimensi yang berlapis-lapis itu lepas secara serentak, seperti dam yang mendadak bocor, energi besar lepas dari dalamnya. Mahaguru kaget luar biasa, dia mencoba menghindar, tapi terlambat. Dengan suara ‘Pup’ – sebuah tanduk naga raksasa tiba-tiba muncul di udara, cukup besar bagi lima orang untuk dapat memeluknya, dan panjang hingga bangunan sepuluh lantai. Wajah Mahaguru menjadi pucat, dia tidak bisa menghindar, jika dia melompat keluar, sihir kompresi dimensi akan kehilangan kontrol. Maka tanpa perlu ditanya lagi, dengan suara menggelegar dan gempa yang menggetarkan seluruh Puncak Benderang, tanduk naga raksasa itu jatuh menimpa tubuh Mahaguru. “Si tua konyol Long itu….!” Suara Mahaguru yang tidak biasa muncul dengan nada kesal. Vasu hanya tertawa, mengingat bagaimana dia mendapatkan tanduk itu. Di Gunung Tienz, Lembah Para Naga “Kenapa Kek?” “Entahlah, telinga Kakek gatal tiba-tiba.” “Mungkin ada yang mengatai-ngatai Kakek.” “Ah…, kamu bisa saja.” “Ngomong-ngomong, anak itu kira-kira sedang apa ya?” “Ha ha…, kuharap dia sudah menyerahkan kado yang kutitipkan untuk Si Kecil Lutz. Dia pasti akan senang sekali menerimanya, seperti sesenang ribuan ton emas jatuh menimpanya. Ha ha…” Sepertinya di masa lalu, kedua kakek ini punya hubungan yang saling … ah, sesuatu yang sebaiknya tidak dibicarakan.

Sebelumnya

Naskah 2 - Vasu

Milenium ke-600, Abad ke-54, Tahun ke-10, Bulan terakhir, Tanggal terakhir. Keledai itu bersantai di pinggir pohon banyan rindang, ia sudah dilepas dari gerobaknya. Saat ini sedang menikmati tegukan dari air telaga di dekatnya. Dia tampak sangat lega setelah menempuh perjalanan ... Read more

Selanjutnya

Naskah 4 - Hasrat Melanglang Buana

Sehari setelah semua peristiwa di Balairung Agung, Puncak Benderang tampak sibuk. Pagi hari, matahari hanya baru beranjak sedikit dari cakrawala Timur, sinarnya berusaha merayap di antara awan dan embun untuk bisa meloncat ke dalam salah satu bangunan di ketinggian 3000 ... Read more