Jika memandang ke arah langit yang bergelora dengan hempasan badai dan tarian topan. Maka orang akan berpikir bahwa dia sedang berada di dunia yang sepenuhnya berbeda.  Ombak-ombak tinggi ratusan hingga ribuan elo mengancam untuk mencabik apa pun yang berada dalam terjangan mereka. Manusia yang menemukan diri mereka ada begitu dekat dengan semua ini akan kehilangan keberaniannya.

Dan belum lagi ditambah sepasang mata yang memandang buas ke arah mereka.

Kepanikan melanda awak Sang Mutiara Angin, Christine meminta Vasu untuk memutar balik kemudi karena situasi yang tak terduga ini benar-benar mencengkeram urat nyali mereka. Energi semesta yang misterius seperti menekan ke dalam jiwa mereka.

 

Vasu diam dan membatin ke dalam dirinya, “Siapa Sakra Manavendra ini?”

“Aku tidak tahu, aku tidak pernah mendengar namanya. Tapi jika prakrta ini mengenalnya, maka dia pastinya tahu tentang Ema.”

“Rukhal..”

“Apa?”

“Apa kamu juga termasuk sosok prakrta?”

“Bisa iya, bisa juga tidak.”

“Maksudnya?”

“Aku lahir dari salah satu lautan energi primordial, samudra prasuta paling awal, lautan susu yang menjadi sumber kelahiran seluruh semesta. Dalam pemahaman ini, aku bisa dikatakan termasuk prakrta. Tapi, secara umum para prakrta tidak lahir di samudra prasuta, tapi lahir dari energi semesta purba yang tersisa di alam semesta yang kita kenal saat ini.”

“Jadi Rukhal lahir dari sumber yang sama dengan lahirnya alam semesta, sementara para prakrta umumnya lahir dari sisa-sisa sumber yang sama tapi mereka lahir di alam semesta ini.”

“Ya, oleh karena itu ada sebutan lain bagi kami yang lahir di lautan energi primordial, yaitu adiprakrta.”

“Jadi seperti itu ya.”

“Lalu apa rencanamu untuk menghadapi prakrta ini, apa perlu bantuanku?”

“Sementara tidak perlu, tapi jika butuh, aku tidak akan segan.”

Vasu tampak tersenyum sendiri, mengakhiri percakapan batinnya dengan Rukh.

Anak laki-laki dengan sinar mata yang terang tersebut kemudian beranjali sambil membungkukkan badan memberikan tanda sebuah salam, pada suara yang entah datang dari mana.

“Yang Mulia Prakrta, mohon maafkan kelancangan kami yang tanpa niat sengaja mengusik Yang Mulia. Kami terpaksa datang untuk mencari sahabat kami yang hilang di Hutan Kabut Ungu. Mengenai warisan Sakra Manavendra, kami tak pernah mendengarnya sebelum ini. Mohon Yang Mulia Prakrta bermurah hati pada kami yang malang ini.”

Sepasang mata misterius itu memandang ke arah Vasu, seakan berusaha menemukan setiap rahasia yang anak laki-laki ini mungkin sembunyikan di balik kata-katanya.

“Bicaralah lebih rinci…”

Vasu menghela napas panjang, setidaknya suara berikutnya cukup datar tanpa praduga walau masih memberikan aura dari keberadaan yang bermartabat tinggi. Seperti rakyat jelata berjumpa rajanya, meski pun raja tidak berkata-kata dengan emosi, namun cukup membuat kaki sang rakyat menjadi lunglai.

“Yang Mulia Prakrta, kami mencari sahabat kami, namanya Flora.”

Lalu Vasu melukis mandala dengan telunjuk tangan kanannya, dan mandala tersebut berubah menjadi potret seorang gadis muda.

“Ini adalah sahabat kami Flora, dan sepengetahuan kami, Flora saat ini berada di dekat pusat Hutan Kabut Ungu. Kami tidak tahu bagaimana dia bisa sampai berada di sana. Dan saat ini kami mengkhawatirkan keadaannya. Mohon Yang Mulia Prakrta bermurah hati membantu kami dan memberikan kami jalan.”

Sepasang mata itu lalu melihat ke arah potret Flora, lalu sejenak berada dalam posisi separuh terpejam. Ia menyebar relung kesadarannya ke seluruh semesta Hutan Kabut Ungu. Vasu yang bisa merasakan ini menjadi takjub walau tidak terlalu kaget, sementara Lisa dan Christine tentu tidak bisa menyembunyikan kekagetan mereka.

“Hmm… dari apa yang kulihat, tampaknya memang sahabat kalian ada di ‘tempat itu’. Dan entah bagaimana dia bisa sampai ke tempat itu. Karena seharusnya sahabat kalian itu harus melewati wilayahku sebelum sampai di sana. Kecuali…” Suara itu menjadi ragu sejenak.

Tentu saja Vasu melihat keraguan ini, tapi dia memilih diam saja, bukan pada tempatnya dia memotong pembicaraan sang prakrta. Awak Mutiara Angin lainnya juga tidak akan berani membuka mulut jika melihat Vasu saja tetap bergeming.

Lalu suara itu kembali melanjutkan, “Kecuali salah satu dari empat penjaga lainnya sepertiku yang membawanya langsung ke sana. Tunggulah sebentar.”

Sepasang mata raksasa itu kemudian lenyap tak berbekas, lautan yang bergelora perlahan-lahan menjadi tenang. Langit bersinar jingga keemasan pertanda semburat keagungan melingkupi semesta tempat mereka berada. Gelombang demi gelombang energi purba beriak di atas lautan, sayangnya selain Vasu dan beberapa orang, tidak semua bisa merasakannya.

 

Sementara itu, di sebuah semesta lainnya yang terpisah jauh hingga tak terkirakan. Seorang remaja laki-laki duduk menegak minuman anggur dari sebuah botol bambu sederhana, dia duduk di atas gundukan padang pasir.

Sejauh mata memandang adalah padang pasir. Semesta dari padang pasir.

Yang mengejutkan lagi, padang pasir ini meluas hingga jutaan bahkan milyaran kali dari ribuan hasta.

Di sebelah remaja laki-laki ini, tampak melayang sosok yang transparan, sosok feminin dengan pesona yang sanggup mengguncang selaksa semesta, bahkan para dewi pun aku malu membandingkan diri dengan kecantikan sosok ini.

Sementara sekitar beberapa puluh ribu hasta di hadapan laki-laki remaja ini, bersimpuh sosok raksasa setinggi seratus depa, empat pasang tangannya masing-masing menggenggam senjata yang berbeda-beda. Hanya saja, di atas lehernya sudah tidak terdapat lagi kepala yang menandakan keagungannya, karena kepala sang raksasa telah bergelimang darah tak jauh di hadapan tubuhnya yang kaku dan dingin. Jika dilihat lebih saksama lagi, tubuh raksasa ini dipenuhi oleh luka yang menganga dengan kucuran darah membentuk sungai-sungai darah mengerikan.

Sosok perempuan itu menghela napas panjang, lalu melihat ke arah langit, di sana terdapat sejumlah mentari yang masing-masing dikelilingi oleh tujuh hingga sebelas planet. Mentari-mentari tersebut redup, dan planet-planetnya kering kerontang, dan jika seseorang datang ke planet-planet ini, maka dia bisa menemukan sisa-sisa peradaban agung yang musnah belum lama akibat peperangan hebat.

“Yang Mulia Kaisar Eravata, terima kasih telah membantuku mengakhiri semua mimpi buruk ini.” Kata sang sosok feminin kepada remaja laki-laki.

Kaisar Eravata, demikian dia dipanggil, sandang yang dikenakannya sederhana. Raut wajahnya mungkin tidak asing, dia seperti manusia kebanyakannya, hanya saja keberadaannya bagi mereka yang dapat merasakannya – adalah keberadaan yang menyatu dengan semesta. Mungkin yang sedikit tidak biasa adalah, dia masih terlihat terlalu muda untuk wajar disebut sebagai kaisar.

“Jangan berkata demikian, aku bahkan menganggap diriku gagal, satu lagi adiloka musnah, lautan prasuta mengering menjadi gurun tandus. Ah, ini sungguh memalukan. Aku gagal…, aku sungguh gagal…” Kembali dia meneguk anggurnya.

“Yang mulia, Yang mulia tidak bisa dipersalahkan, semua yang memiliki awal akan memiliki akhir, demikianlah rta mengatur segalanya. Ini merupakan keniscayaan yang tidak bisa kita elakkan. Mungkin mahapralaya ini adalah kehendak langit bagi adiloka tempat kami berasal. Yang kusayangkan, mahapralaya ini hadir dalam bentuk perang berkepanjangan akibat keserakahan insan-insan. Jika ada yang gagal, maka akulah yang gagal dalam mencegah keserakahan ini berakar begitu dalam sehingga tumbuh menjadi bencana yang menghancurkan kami.”

“Ha ha ha…., aku dengar bahkan ada yang menginginkanmu menjadi pendamping hidup. Mereka sungguh serakah. Menginginkan penjaga adiloka sebagai permaisurinya.” Kaisar Eravata tertawa lepas, “Tapi aku tak bisa menyalahkan mereka, tidak ada banyak keberadaan sememikat keberadaanmu. Sayangnya setelah ini….”

Melihat remaja laki-laki itu murung, sang sosok feminin tersenyum lemah, “Telah menjadi takdir bagi para adiprakrta, jika adiloka mereka musnah bersama samudra prasuta, maka waktu bagi adiprakrta seperti diriku juga akan berakhir. Tidak ada yang bisa mengubah ini, tidak juga kedua kakak Yang Mulia – para mahaputeri kekaisaran.”

Kaisar Eravata menggelengkan kepalanya, “Tidak kedua kakakku juga tidak bisa mengubah apa pun. Tapi jika adikku ada di sini, dia pasti melakukan sesuatu.”

“Pangeran keempat?”

“Ya, sayangnya dia sedang melayari sebuah lautan samsara, reinkarnasinya saat ini tidak akan bisa membantu kita. Tapi… dia sudah melakukannya berulang kali, entah berapa mahakalpa telah ia lalui.”

“Kami para adiprakrta pernah mendengar tentang pangeran keempat. Tentang pencapaiannya, dan tentang legendanya. Aku sendiri sangat ingin dapat berjumpa dengannya. Sayang waktuku tidak banyak lagi.”

“Kamu ingin bertemu dengannya?”

“Salah satu mimpiku sejak dulu. Maafkan kelancanganku, namun walau adiloka kami kecil, tapi nama pangeran keempat seperti legenda yang menyalakan pelita kami.”

Terdiam sejenak, Kaisar Eravata menganggukkan kepalanya.

“Kalau begitu, tunggulah sejenak.”

Kaisar Eravata melukis mandala dengan tangan menggunakan anggur yang dia tuangkan ke udara. Dan sebuah cermin mewujud dari situ. Bayangan seorang perempuan agung tampak di balik cermin itu.

Mata perempuan itu terbuka dan memandang sang kaisar. Mata keemasan dengan rambut hitam panjang disertai aura agung yang menyejukkan.

“Eravata, ada apa?” Tanya sang perempuan dari balik cermin.

“Kak Ruyi, maafkan aku gagal dalam tugas kali ini. Tapi aku juga ingin meminta kakak dapat membantu seseorang.”

Perempuan yang disebut Ruyi itu menoleh ke arah sang sosok feminin.

“Hamba memberi hormat pada Tuan Putri Ruyi.”

“Selain nona, siapa lagi adiprakrta yang melewati mahapralaya?” Ruyi bertanya dengan tenang.

“Hanya hamba.”

Lalu Ruyi menatap Eravata, lalu menatap kembali sosok itu, “Siapa namamu?”

“Kay, Tuan Putri.”

“Kay, adiloka bukan tanggung jawab kami, kekaisaran kami tidak bertanggung jawab atas lahir dan musnahnya pelbagai semesta utama. Tapi karena adiloka tempatmu berada telah kehilangan ikatan penciptaan, maka aku bisa menawarkanmu untuk memenuhi satu permintaan terakhirmu.”

Sepasang mata Kay walau tenang tampak ada lecutan sinar keriangan sesaat.

“Namun ingatlah Kay, aku tidak bisa memberikanmu keabadian, karena mata air amritha yang dapat membuatmu abadi hanya lahir di lautan purba yang kini telah kering di semestamu.”

“Hamba tahu waktu hamba hanya sekejap saja, ada mimpi lain yang hamba ingin penuhi saat ini, yaitu berjumpa dengan dia yang dijuluki ‘terbijak di kolong langit’ – pangeran keempat.”

Ruyi diam tenang, walau hatinya cukup terkejut dengan permohonan yang tidak biasa ini. Pada awalnya dia bertanya-tanya, permintaan apa yang tidak bisa dikabulkan oleh Eravata bagi adiprakrta malang ini. Ruyi hanya bisa tersenyum pahit, namun bagaimana pun juga dia telah berjanji.

“Baiklah Kay, aku akan mengirimmu ke suatu tempat. Di sana namamu bukan lagi Kay, tapi Mattea. Dan kamu tidak boleh menyebutkan apa pun tentang masa lalu dan keinginanmu untuk bertemu adik keempatku, tidak juga tentang pelbagai mahapralaya yang sedang mengancam banyak adiloka, dan tentu saja tidak juga tentang kekaisaran. Di sana kamu akan bertemu dengan seorang anak bernama Vasu, dia adalah satu-satunya kesempatanmu bertemu pangeran keempat, jadi jangan sia-siakan ini. Aku tidak akan mengatakan hal lainnya, karena seharusnya adiprakrta tahu apa yang menjadi batasan bagi rahasia antar alam semesta.”

“Terima kasih Tuan Putri Ruyi.”

Ruyi mengibaskan tangan kanannya di udara, embun-embun kristal berhembus menembus lapisan ‘cermin’ dimensi di antara mereka, dan dengan cepat menyelimuti tubuh Kya, Mattea.

Sekali lagi Mattea beranjali dan membungkuk ke hadapan Eravata, “Terima kasih Yang Mulia.”

Tubuh tembus pandang Mattea segera terbenam seluruhnya ke dalam embun-embun kristal yang seketika berpendar dalam cahaya keemasan yang menyejukkan, lalu kemudian seakan sirna dari pandangan semua orang.

Ruyi menatap ke arah Eravata, “Ini langkah yang sangat berisiko.”

Eravata hanya tertawa pahit, “Dia adik kecilku, aku tak bisa membantunya di saat dia sulit, setidaknya mengirimkan sosok adiprakrta ke sampingnya, mungkin akan meringankan bebannya. Mengarungi seribu samsara memiliki risiko yang melebihi apa pun, dia dapat musnah seketika, dan kita tidak akan pernah melihatnya lagi.”

“Dia tidak akan musnah hanya karena mengarungi seribu samsara.”

“Kelahiran dan kematian, siapa yang akan tahu apa yang terjadi di masa depan. Walau kita dapat meramalkan masa depan baginya. Tapi bukan berarti demikian yang akan terjadi. Meski pun aku memegang kendali atas kekaisaran yang dapat meleburkan pelbagai semesta, aku sendiri tidak akan yakin penuh bisa mengarungi seribu samsara.”

“Erav, kamu mungkin tidak akan sanggup bahkan melewati sepuluh samsara, apalagi seribu. Dan adik kita tengah berada di ujung lingkaran, sembilan ratus sembilan puluh sembilan kelahiran dan kematian, dan kini adalah kehidupan yang terakhir, dan mungkin yang terberat. Kita akan menjaganya, namun yang lebih penting lagi, semesta juga akan menjaganya.”

“Kak Ruyi selalu yakin akan hal ini.”

“Dan satu lagi, dia sudah memiliki adiprakrta di sisinya.”

“Eh… Apa?!” Wajah Eravata seketika kehilangan wibawanya sebagai kaisar. Adiprakrta adalah penjaga adiloka, mereka tidak akan memiliki waktu menemani seorang anak manusia – apa pun alasannya. Bahkan dia baru bisa mendorong Kay yang kehilangan adiloka-nya untuk berada di sisi sang adik. “Di sini aku pikir aku beruntung bisa menemukan cara membantunya, tapi tak kusangka, ah, mungkin Kak Ruyi memang benar, maha-semesta senantiasa menjaganya.”

Ruyi terdiam sejenak, sebelum lenyap di balik ‘cermin’ dimensi, meninggalkan Eravata sendiri di atas gurun temaram yang gersang dan kering.

Sang kaisar muda melihat seluruh semesta yang padam dan mulai menyusut di atas gurun tak terhingga ini. Bintang-bintang yang pudar saling bertubrukan, jagad raya menjadi semakin sempit, akan memakan waktu hanya beberapa ratus ribu tahun untuk adiloka ini benar-benar lenyap sejak keruntuhannya dimulai.

Eravata menggelengkan kepalanya, “Satu lagi adiloka musnah…., adik cepatlah kembali, atau jika tidak paramalokamu mungkin yang akan menjadi korban misteri rta berikutnya.”

 

Vasu berdiri tenang di atas Sang Mutiara Angin, melihat langit dan lautan yang menjadi tenang, dia merasakan seperti badai yang lebih besar mungkin justru sedang mendekat.

Lisa dan Christine berada di kiri dan kanan Vasu, mereka tampak tidak setenang Vasu.

“Aku mengkhawatirkan Flora.” Bisik Christine.

“Tenanglah, dia tidak apa-apa.” Vasu meyakinkan Christine dengan menepuk pundak gadis kecil itu. “Jika tidak, kita pasti telah diusir dari tadi, namun bukankah kita diminta untuk menunggu?”

Tentu saja Vasu berani berasumsi demikian karena dia telah melihat keberadaan Flora sebelumnya ketika bertarung di atas langit Bikendi. Hanya saja, dia tidak melihat adanya para prakrta ataupun energi primordial di dalam Hutan Kabut Ungu. Walau Vasu paling tahu mengenai Hutan Kabut Ungu dibandingkan awal Sang Mutiara Angin lainnya, namun informasi yang dimilikinya juga tetap terlalu sedikit.

“Seberapa lama lagi kita akan menunggu?” Lisa memberikan pertanyaan yang memancing dengan senyum misteriusnya.

“Tidak lama lagi.”

Meski Vasu berkata tidak lama lagi, namun pada akhirnya semua orang tetap merasa menunggu setidaknya dua hari.

Selama dua hari ini, waktu seakan berlalu dengan begitu tenang. Bahkan Lisa dan Christine sekali dua kali saling beradu kemampuan. Para awak Sang Mutiara Angin tentu saja tidak bosan, karena sangat jarang mereka bisa menyaksikan dua jenius muda Tanah Ema saling beradu tanding.

Sejak dua hari, Vasu berdiri di atas tiang layar utama, mata terpejam, dan kedua tangan menyilang di punggung.

Tak lama berselang setelah Lisa dan Christine mengakhir duel mereka, Vasu membuka kedua pasang matanya. Pandangannya bagai elang yang menyapu seluruh cakrawala. Dan segera setelah itu, senyum tipis tersungging di wajahnya.

Tak jauh dari Sang Mutiara Angin yang mengapung tenang di atas permukaan air, tampak berjalan seorang laki-laki tua bungkuk dengan cangkang besar yang membebani tubuhnya. Namun tak sedikit pun terlihat riak air, seakan-akan laki-laki tua ini berjalan di atas permukaan cermin.

Vasu melayang turun di hadapan Sang Mutiara Angin, langkahnya melayang ringan di atas permukaan air. Dia beranjali dan menunduk memberikan salam.

“Salam Yang Mulia Prakrta.”

Laki-laki tua itu menoleh dengan wajah yang penuh keriput, dengan raut yang meniadakan keterkejutan. “Oh, kamu tahu itu adalah aku?”

“Saya tidak tahu.”

“Tidak…?”

“Saya tidak tahu apakah Anda sosok yang sama atau tidak. Tapi mereka yang bisa melangkah selaras dengan energi primordial tentunya adalah para prakrta.” Vasu tersenyum tenang.

“Ha ha ha…, tidak buruk… tidak buruk…. Nak, kamu tahu tentang prakrta tentunya latar belakangmu tidak biasa. Siapa namamu dan dari mana asalmu?”

“Saya Vasu. Saya adalah berasal dari sebuah kota kecil di Selatan bernama Kota Yoria. Dan mereka ini adalah sahabat-sahabat Saya….” Vasu memperkenalkan para sahabatnya satu per satu.

Kakek tua itu mengangguk, “Tentu aku tahu Bren….” “Ah… Gerbang Ungu, pendiri kalian dulu pernah menangis tiga hari tiga malam saat dia masih seumur kalian dan tersesat di dalam sini. Aku harus mengembalikannya sebelum dia mau berhenti menangis.” “Bikendi? Bukankah itu tetangga sebelah, beberapa hari yang lalu aku merasakan ada lecutan energi dahsyat dari sana, apakah semuanya baik saja?”

Di luar perkiraan semua orang, kakek tua ini ternyata cukup ramah.

“Kalian boleh memanggilku Kakek Penyu, aku sudah hidup sangat lama, dan kalian tidak perlu tahu berapa lama.” Lalu dia memandang ke arah Vasu. “Anakku, sahabat kalian ada di sebuah wilayah terlarang. Hanya maharaja yang dapat memasuki wilayah tersebut, atau mereka yang mendapatkan izin dari maharaja. Sebelum kami bertanya, maka akan kuberitahukan bahwa maharaja tidak bisa membantu, karena aku pun sudah lama tidak menerima perintah darinya.”

Maharaja? Tempat apa sesungguhnya Hutan Kabut Ungu ini? Tidak hanya Vasu, namun yang lain juga bertanya-tanya.

“Lalu bagaimana kami bisa menolong sahabat kami?”

“Jika sahabat kalian tiba di tempat tersebut tanpa sepengetahuan keempat pelindung, maka satu-satunya alasan yang dapat disimpulkan adalah maharaja sendiri yang berkehendak demikian. Bagimu tidak ada cara untuk bertemu dengan sahabatmu kecuali bertemu maharaja.”

“Tidakkah itu suatu pertanyaan yang paradoks?” Vasu meninggikan alisnya.

“Kamu tidak bisa bertemu maharaja, tapi bisa bertemu dengan keempat pelindung, hanya saja….”

“Apa kami harus melewati sejenis ujian terlebih dahulu?”

“Tidak perlu…” Sang kakek menggelengkan kepalanya, “Hanya saja, ketiga yang lainnya belum tentu bersedia membantumu Vasu.”

Vasu terdiam sejenak dan kemudian mengangguk, “Tanpa dicoba, bagaimana kita dapat mengetahuinya?”

Kakek Penyu tertawa lepas, “Ha ha ha…, bagus! Kalau begitu, ayo ikut denganku. Tapi jangan semua orang.”

Kakek Penyu mengentakkan kaki kanannya ke permukaan danau, dan tiga buah mandala yang berbeda bersinar tegak lurus di sekitar kami, menyelubungi seluruhnya – termasuk Sang Mutiara Angin dengan cahaya kuning yang begitu menyilaukan.

Semua orang menutup mata, dan saat mereka kembali membuka mata, mereka sudah tidak ada di atas perairan lagi. Namun di sebuah padang sabana hijau yang luas, dengan beraneka kembang rumput yang warna-warni mewangi.

Di hadapan mereka sebuah deretan pegunungan membentengi cakrawala menjulang tinggi hingga menembus awan-awan putih yang mengapung tenang.

“Di mana kita?” Christine menyeletuk.

Siapa pun yang tidak sedang mabuk akan menyadari bahwa mereka telah berpindah dari lokasi awal ke lokasi baru. Dan ini terjadi dalam sekejap mata, tanpa mereka merasa dipindahkan sama sekali, atau tanpa merasa memasuki dimensi perpindahan sebagaimana banyak sihir teleportasi digunakan.

Untuk mencapai apa yang baru saja mereka alami. Tidak pernah terdengar di Tanah Ema sebelumnya. Namun lebih penting dibandingkan keterkejutan mereka, adalah rasa penasaran akan di mana mereka tiba saat ini.

“Kalian pastinya kaget.” Kakek Penyu tersenyum senang, seperti memang sudah kebiasaan membuat kaget para tamunya.

Lalu dia melanjutkan, “Di sini adalah dataran luar istana kekaisaran. Jika kalian datang langsung dengan metode yang kalian gunakan sebelumnya, paling cepat akan memerlukan waktu setahun untuk tiba di sini, tentu itu tanpa menghitung halangan yang kalian temui di perjalanan.”

“Setahun? Tidakkah itu berarti kita akan memerlukan waktu dua tahun untuk setidaknya pulang pergi saja?”

“Jika ditambahkan dengan halangan dan rintangan, kita bisa jadi akan memerlukan waktu yang lebih lama lagi.”

Sejumlah bisik-bisik terdengar dari para awak Sang Mutiara Angin, namun beberapa orang tampak tidak terlalu memperhatikan itu, salah satunya tentu saja Vasu. Dia tidak terkejut, karena informasi ini masih dalam batas perhitungannya.

“Yang Mulia Prakrta, mengapa kita ada di sini?” Vasu mengajukan pertanyaannya.

“Aku sudah memanggil beberapa penjaga lainnya. Sebentar lagi mereka tiba di sini.”

“Ada berapa penjaga di sini Yang Mulia?”

“Tempat ini hanyalah bayangan dari kekaisaran yang sudah lama runtuh, hanya tinggal empat penjaga saja saat ini.”

“Mereka bertiga…”

“Ya, mereka bertiga sama seperti halnya aku…”

Hah… Vasu menghela napas panjang. Empat sosok prakrta bisa menjaga sebuah wilayah yang paling misterius di Tanah Ema, apalagi yang lebih masuk akal dari semua ini. Pantas saja ada kiasan, bahkan kahyangan tidak akan mau membuat masalah dengan Hutan Kabut Ungu.

Dalam lamunan singkatnya, Vasu menyadari ada yang menarik lengan bajunya. “Vasu, mengapa kamu memanggil Kakek Penyu dengan sebutan Yang Mulia Prakrta?”

Suara Christine mungkin pelan, namun semua orang bisa mendengarnya.

“Karena demikianlah para Mritha menyebut kami, anak kecil.”

Sebuah suara anggun membelah udara, dan seorang wanita cantik nan anggun dengan gaun dan tiara merah api tampak muncul dari pusaran api keemasan di belakang kami. Di sisinya ada seorang pria dewasa dengan jubah keemasan berornamen, bermata merah dengan rambut keemasan juga.

“Mritha…?”

Christine tampak kebingungan.

“Mritha adalah sebutan bagi semua makhluk yang kehidupannya terbelenggu dalam rantai kehidupan dan kematian. Semua yang memiliki awal sebagai kelahiran dan akhir berupa kematian secara alami disebut dengan Mritha.” Wanita itu kembali menjelaskan dengan ramah.

“Oh, kenapa aku tidak pernah tahu tentang hal itu?”

“Karena dunia kalian terbatas oleh banyak sekat. Tanah Ema memang sangatlah luas, namun tidak terlalu luas bagi peradaban kalian yang semakin maju – hanya saja, semaju apa pun peradaban kalian, kalian belum tiba pada posisi di mana kalian bisa mengenal peradaban yang lebih tinggi tingkatnya. Bagi kalian yang belum menembus sekat ini, akan memerlukan banyak upaya.”

Christine tampak menjadi bertambah bingung. Tapi tidak dengan Vasu, dan wanita tersebut menyadari hal ini, “Jika kamu masih bingung, sepertinya temanmu itu bisa menjelaskannya kepadamu.”

Christine menoleh ke arah Vasu. Dengan senyum simpulnya, Vasu hanya berkata, “Tidak sekarang, nanti akan kujelaskan lagi. Kita datang untuk hal yang lebih penting.”

Kakek Penyu mengangguk, dia menyetujui sikap Vasu yang bisa tetap tenang dan mengambil langkah yang sesuai dalam situasi yang bagi banyak orang tidak akan bisa tenang. Banyak orang senang memberikan penjelasan, memperlihatkan seberapa dalam pengetahuannya dengan segera, ini tidak keliru, namun jika ada sesuatu yang lebih penting dari itu dan seseorang tidak bisa menahan diri untuk tetap menunjukkan pengetahuannya, maka bisa jadi dia akan menyesalinya.

Tidak hanya Kakek Penyu, kedua prakrta yang lain juga tampaknya memberikan persetujuan atas sikap Vasu.

“Para Yang Mulia sekalian, kami percaya kalian semua sudah mengetahui maksud kami datang kemari. Kami berharap, Yang Mulia sekalian bersedia membantu kami.” Vasu memberikan salam dengan beranjali.

“Tentu saja kami tahu maksud kalian. “Sang prakrta wanita mengangguk ramah, “Namun pertama, izinkan kami memperkenalkan diri, karena sangat jarang ada yang berkunjung ke tempat kami, kalian mungkin tidak mengenal kami. Kalian dapat memanggilku Nyonya Feniks, dan ini Raja Harimau.” Dia menunjuk pada pria perkasa beraura keemasan di sebelahnya. “Lalu kalian pasti sudah mengenal Kakek Penyu, sedangkan satu lagi belum tiba adalah Nona Nagi, dia sepertinya sedang sibuk dengan sesuatu. Kami berempat adalah penjaga kekaisaran, kalian para Mritha di Tanah Ema lebih mengenalnya sebagai Hutan Kabut Ungu – dan tetap saja sebut seperti itu, karena nama kekaisaran kami sudah lama hilang dan yang tersisa hanyalah tempat bernaung yang berupa belantara dan sabana.”

“Kakek Penyu membawa kalian ke tempat ini, karena sabana ini merupakan tempat yang teraman bagi para Mritha dalam Hutan Kabut Ungu. Namun seberapa bahaya tempat lainnya di dalam Hutan Kabut Ungu, kami percaya bahwa kalian tidak akan ingin mengetahuinya.”

“Dan kami tahu bahwa kalian mencari sahabat kalian hingga datang kemari. Sesungguhnya kami juga terkejut, karena nyaris tidak pernah ada Mritha yang bisa bertahan masuk ke dalam Hutan Kabut Ungu, umumnya bangsa kalian akan cukup terjebak di lapisan terluar Hutan Kabut Ungu, kecuali…” Nyonya Feniks memandang ke arah Lisa, “Kecuali nona kecil ini yang tampaknya mewarisi apa yang dulu kami hadiahkan kepada pendahulunya.”

“Sahabat kalian ada di suatu tempat di atas sana.”

Nyonya Feniks itu menunjuk ke arah puncak gunung dari pegunungan yang tertinggi. Di mana awan-awan tampak menjadi mahkotanya.

“Bukan kami tidak ingin membantu kalian, tapi tempat itu bukan hanya terlarang, namun kami sendiri mungkin tidak akan selamat dalam perjalanan menuju ke sana.”

Kata-kata Nyonya Feniks terkesan datar, ramah dan tanpa penekanan. Hanya saja fakta di dalam kata-kata itu membuat banyak orang termasuk Vasu mengerutkan alisnya. Vasu berpikir, jika sejumlah prakrta saja tidak dapat yakin bisa selamat dalam mencapai puncak itu, apalagi dia.

Lalu Nyonya Feniks melanjutkan, “Jika Mritha ada yang hendak mendaki puncak terlarang, tentu saja kami akan mencegahnya.” Lalu dia kini menatap Vasu, “Namun jika ini adalah permintaan sang pewaris penolong kami, maka kami tidak akan bisa menolaknya.”

Lud dup! Jantung Vasu berdegup kencang. Pewaris? Tentu saja pastinya wanita ini tidak akan berbicara tentang Puncak Benderang. Vasu tahu itu, maka satu-satunya yang dimaksudkan adalah pewaris Lembayung Ema! Apakah…

“Maafkan saya, bolehkah saya bertanya, apa hubungan antara Yang Mulia Sakra Manavendra dan…”

“Sssttt…!” Nyonya Feniks meletakkan telunjuk kanannya tegak lurus dengan bibirnya yang memesona seraya tersenyum, “Pewaris kecil, jika engkau hendak tahu sesuatu, engkau harus menemukannya sendiri, naiklah ke atas sana, dan engkau mungkin akan menemukan jawabanmu.”

Tatapan mata Vasu jernih menembus angkasa seakan membelah mahkota awan-awan dan melihat jauh ke puncak gunung tertinggi. Jawaban? Itulah salah satu yang dicarinya sejak datang ke dunia ini. Apakah di atas sana terdapat jawaban baginya?

Sudah berapa lama dia berada di dunia ini, jika dia masih berada di Bumi, tentu saja sekarang rambutnya telah beruban semua – itu pun jika dia masih bernapas. Namun Vasu tahu, sejumlah misteri semesta tidak akan bisa diungkapkan begitu saja.

“Kalau begitu, aku akan ke sana.”

“Aku juga ikut!” Christine mengepalkan tinjunya.

“Jangan!” Vasu menahan langkah Christine, “Aku sendiri tidak yakin bisa mencapai puncak dengan selamat. Kita tidak ingin menambah masalah lebih dari ini.”

Ah! Christine terkejut, Lisa juga, demikian halnya dengan yang lain. Siapa yang tidak menyaksikan ‘pertempuran di langit Bikendi’ – dan siapa yang tidak mengetahui kemampuan sosok pahlawan muda dari Puncak Benderang ini. Kata-kata Nyonya Feniks mungkin memberitahukan mereka tentang bahaya, namun mereka tidak bisa mengukurnya, sementara kata-kata Vasu adalah ukuran yang mutlak, karena mereka telah pernah menyaksikan apa yang dapat Vasu lakukan. Bahkan ketika mereka tidak mampu membayangkan, tapi mereka tahu apa yang dimaksud menolak suapan lebih banyak dari yang bisa dimakan.

“Apa engkau yakin Anak?” Tanya Nyonya Feniks. “Kami tidak bisa melindungimu di sana.”

“Tidak yakin sama sekali, namun saya rasa saya akan bisa sampai di sana.”

“Apakah kamu memiliki sesuatu untuk melindungi dirimu?”

“Bisa dikatakan begitu.”

Vasu memiliki Rukh Kalpavriksha di sisinya. Jika prakrta tidak bisa naik ke puncak, bukan berarti kemampuan adiprakrta tidak bisa. Kehendak sendiri sudah cukup mendorongnya untuk melaju terus hingga mencapai Flora, di mana pun anak itu berada di sana.

Saat Vasu hendak mengangkat kakinya untuk langkah pertama, langit di atas sabana bersinar terang. Seperti ribuan surya bersinar bersama-sama!

Walau itu hanya sekejap mata, namun membuat orang-orang selain menutup mata, harus menundukkan kepala dan menutup kedua mata dengan lengan mereka masing-masing. Bahkan beberapa berteriak silau.

Kecuali para prakrta yang bisa melihat apa yang terjadi di atas mereka.

“Mandala pemindah!” Teriak Kakek Penyu.

“Seseorang menerobos masuk wilayah kita!” Ujar Raja Harimau.

Vasu juga menutup matanya, dia hendak melihat, namun ada sesuatu yang tidak hanya menutup pandangan tapi juga menutup indrianya. Sementara dia mendengar Rukh berucap, ‘Ini tidak mungkin!’ dari dalam batinnya.

Vasu tidak tahu apa yang membuat para prakrta terkaget, dan lebih mengagetkan lagi tidak juga ia pernah tahu ada sesuatu yang bisa membuat Rukhal terkejut!

Jika ini adalah sesuatu yang berbahaya, maka aku harus membawa semua orang ke luar dari sini! Vasu menggemeretakkan giginya. Dia menyiapkan tubuh dan batinnya untuk pertempuran.

Langit yang tadinya benderang, kemudian menjadi gelap secara perlahan-lahan, hingga semuanya gulita! Yang tersisa hanya seberkas cahaya yang jatuh beberapa ratus depa di hadapan mereka semua.

Cahaya tersebut tidak menyilaukan lagi, namun sebaliknya – justru menghangatkan!

Entah mengapa Vasu merasa begitu familier dengan cahaya tersebut, mungkin bukan wujudnya, namun aura yang dipancarkannya. ‘Mengapa aku begitu merasa kenal dengan cahaya ini?’ – pikirnya, sedemikian hingga tubuhnya yang sudah bersiaga penuh untuk bertempur, kembali melunak dan tenang.

Bersama dengan semua itu, sebuah bola cahaya berpijar-pijar melesat menuju mereka semua. Dan hanya butuh waktu satu hembusan napas, sejak cahaya terang menyeruak di atas langit hingga bola cahaya tiba di hadapan mereka – tepatnya di hadapan Vasu.

“Apakah kamu Vasu?”

Jika Vasu pernah berpikir melamunkan seperti apa melodi kahyangan, mungkin kini dia mendengarnya kembali. Sebuah suara yang lembut, menawan hati dan di sisi yang sama sarat akan kehangatan serta penuh akan keagungan.

‘Suara ini … seperti mendengar ketika Rukhal berucap.’ Pikir Vasu, sementara mulutnya tetap menjawab. “Ya, itu aku.”

Pada awalnya ada suara, dan kemudian cahaya itu mewujud rupa yang sungguh jelita. Jika ia muncul di alun-alun sebuah kerajaan, niscaya kecantikannya dapat meruntuhkan kerajaan. Jika ia muncul di perbatasan antara dua negeri, maka perang antar negeri tidak bisa terelakkan lagi untuk mempersuntingnya. Baik di Bumi maupun di Kahyangan, akan terjadi hal yang serupa. Sehingga tidaklah mengherankan, semua yang ada di sana kehilangan akal mereka dengan terbengong-bengong.

Mata gadis cahaya itu berkaca-kaca, “Aku menemukanmu! Akhirnya…. Hiks … Hiks…” Dia memeluk Vasu erat-erat dan mulai menangis. “Dimensi ruang dan waktu itu, entah mengapa, aku menunggu selama berabad-abad.”

“Hei … hei…” Vasu tidak tahu harus berkata apa, bagaimana mungkin ada gadis yang menangis di hadapannya, gadis yang tidak dia kenal sama sekali. Apakah gadis ini baru saja berkata bahwa dirinya terjebak dalam dimensi ruang dan waktu? Lalu siapa gadis ini sebenarnya, dan bagaimana dia bisa mengenal dirinya? Vasu tidak bisa berpikir sama sekali.

“Vasu…, kamu membuat seorang gadis menangis. Itu jahat sekali.” Christine melirik ke arah Vasu, dengan nada menyindir, sambil menikmati kebingungan anak laki-laki itu.

Vasu melirik masam ke arah Christine, “Aku bahkan tidak pernah bertemu gadis ini sebelumnya.” Sambil menggerutu, yang merupakan pemandangan asing di wajahnya.

Menyadari dirinya tampak keliru, gadis cahaya itu membenahi posisinya, “Maafkan aku, aku hanya terlalu bahagia. Aku berpikir telah terjadi suatu kekeliruan, pada akhirnya aku hampir menyerah, namun entah mengapa tiba-tiba aku bisa menemukanmu.”

“Kamu mencariku?” Vasu memiringkan kepalanya keheranan.

“Ya, karena…” Gadis itu tampak tersipu malu, “Karena kamu adalah takdirku.”

Boom!

Seperti sebuah bom dijatuhkan di tengah-tengah mereka.

“Ini …”

Para awak Sang Mutiara Angin saling menoleh satu sama lainnya. Apakah Tuan Muda Vasu baru saja dilamar? Siapakah bidadari ini? Oh, Tuan Muda Vasu sangat beruntung. Dan pelbagai macam suara bergema di dalam kepala mereka masing-masing.

Sementara para prakrta tentu terkejut, tapi bukan karena kecantikan sang gadis, tapi pada gelombang prana yang terpancar dari gadis tersebut – aura samudra prasuta yang paling purba. Gadis ini adalah adiprakrta?

Sedangkan di dalam, Rukh hanya berkomentar ringan, ‘Anak ini pasti punya magnet untuk para adiprakrta, dan entah mengapa aku tidak kaget.’

Vasu sekejap merasa jiwanya entah melayang ke mana – ‘Apakah aku berada di episode film yang salah? Dan ada apa dengan semua tentang takdir ini?’ Dia baru saja hendak menemukan jawaban akan misteri keberadaannya di dunia ini, dan sekarang ada yang datang mengatakan bahwa dia adalah takdirnya. Vasu sungguh tidak tahu harus tertawa atau menangis.

Sebelumnya

Naskah 29 - Warisan Sakra Manavendra

Vasu memandang ke arah dinding kabut ungu raksasa, dia menutup matanya berusaha memandang menembus ke balik dinding misterius itu. Namun yang bisa dirasakannya hanya kekosongan yang tak bertepi. Siapa pun atau apa pun yang mampu menghasilkan fenomena seperti ini, pastilah ... Read more