Naskah 4 – Hasrat Melanglang Buana

Sehari setelah semua peristiwa di Balairung Agung, Puncak Benderang tampak sibuk. Pagi hari, matahari hanya baru beranjak sedikit dari cakrawala Timur, sinarnya berusaha merayap di antara awan dan embun untuk bisa meloncat ke dalam salah satu bangunan di ketinggian 3000 meter dari permukaan laut.

Meski pun udara dingin, perapian tidak menyala di ruangan tersebut. Pemilik ruangan sedang terduduk di atas ranjang yang berada di dekat jendela. Dia baru saja menghabiskan semangkuk sup panas.

Jadi, mengapa kamu datang?”

Suara pemilik ruangan tampak kurang berkenan dengan tamu yang sedang duduk di kursi pada salah satu sisi ranjangnya. Di situ ada sosok remaja tampan dengan pakaian resmi yang sangat rapi, dia tersenyum, namun senyumannya seperti mengandung sejuta arti.

Hei, Flora yang manis, bagaimana kamu bisa berkata seperti itu? Aku sungguh mengkhawatirkanmu. Lihatlah, kakakmu ini terbang melintasi belantara yang kejam hanya menggunakan sampan udara, mengayuh sekuat tenaga agar segera bisa melihat adik kesayanganku.”

Kata-kata memelas dari Sith membuat Christine tersenyum geli menahan tawa. Dia tidak pernah melihat apa yang dilihatnya semalam, sebuah sampan udara bisa sampai di ketinggian itu hanya dengan satu orang yang berusaha mengayuh sekuat tenaga. Dia nyaris berpikir semalam itu serangan zombie ketika sampan berlabuh darurat di halaman Puncak Wisma Utama, dan dari kepulan debu ada sosok yang berlari dengan wajah pucat.

Jika saya aura orang itu tidak asing, Christine pasti sudah menyerang dan melumpuhkannya dalam sekejap. Sayangnya, dia mengenal sosok itu.

Sith Lobane datang tergesa-gesa semalam, dan tentu saja Christine paham. Jika dia pernah melihat salah satu kakak yang begitu memanjakan adiknya, maka Sith adalah yang pertama yang akan dia ingat.

Walau Christine tersenyum, tapi Flora tidak tampak senang. Dia ingin menghabiskan waktunya dengan Vasu, tapi malah sejak dia terbangun, dia tidak melihat Vasu sama sekali.

Flora, kenapa kamu begitu ceroboh. Mereka jelas lebih unggul darimu, tapi malah sengaja menerima tantangan konyol itu. Untung Vasu sedang ada di Puncak Benderang, jika tidak…” remaja itu terdiam sejenak. “Uh…, aku tak bisa bayangkan bagaimana jika aku kehilangan lentera hidupku…”

Sith mungkin akan memenangkan piala Oscar jika berperan dalam sebuah melodrama sebagai komedian. Tapi itu tentu saja – sesuai tujuan asalnya – membuat Flora semakin mendengus, setidaknya dia tidak tampak muram lagi, walau emosi yang ditunjukkan akan membuat orang yang melihat menjadi geli.

Flora menghela napas panjang, dia tidak tahu bagaimana harus menghadapi Sith. Dia hanya memang ke arah jendela dan melihat taman kecil yang dikelilingi kolam dengan ikan koi.

Aku akan memanggilkannya untukmu.”

Suara sepupunya memecah keheningan yang sesaat itu.

Tentu saja Christine tahu apa yang dipikirkan oleh gadis yang duduk lemah di atas ranjang di hadapannya itu. Dia pasti memikirkan Vasu, sehingga Christine mengambil inisiatif untuk memanggil orang yang mungkin bisa mengubah suasana di ruangan itu.

Flora hanya mengangguk dan tersenyum tipis sebelum Christine meninggalkan gadis itu dengan kakaknya.

Keluar dari ruangan, langkah kaki kecil Christine mulai menuruni Puncak Benderang. Dia berhenti sejenak untuk menarik napas panjang, mengangkat dan menengadahkan telapak tangan kanannya ke udara, lalu menutup kedua kelopak mata mungilnya.

Hmm… irama yang sangat menarik.” Gumamnya.

Tepi Danau Bulan Sabit

Lima ribu… dua ratus… delapan puluh delapan…”

Swuhssss….

Lima ribu… dua ratus delapan puluh sembilan…”

Keringat sudah membasahi tubuh kecil Vasu. Sudah hampir tiga jam dia berdiri di tepi danau Bulan Sabit mengayunkan pedangnya ke arah danau tanpa sela apalagi istirahat.

Bos…, ini matahari sudah cukup tinggi…” Suara itu terngiang kembali di dalam batin Vasu.

Pemilik suara adalah pedang yang dia ayunkan sejak matahari belum terbit. Dia melihat ‘bos’-nya berlatih tanpa henti, satu siklus ayunan penuh hampir setiap dua detik.

Setiap ayunan berisi kesungguhan yang jarang ditemukan dalam praktisi ilmu pedang manapun. Satu ayunan tampak sederhana, tapi tidak ada gerakan yang percuma. Satu ayunan tampak lembut, namun jika seseorang cukup peka, ia bisa melihat riak energi yang pecah pada akhir ayunan setiap kali pedang menyentuh ruang terakhir dalam siklusnya. Riak energi yang dihasilkan begitu lembut, namun merambat ke seluruh permukaan danau dan meluas ke pelbagai sisi sebelum pada akhirnya melebur bersama energi alam lainnya dan lenyap tanpa jejak.

Untuk dapat mengayunkan pedang seperti itu, dibutuhkan kesungguhan yang luar biasa. Seorang praktisi harus dapat ‘membuang’ munculnya pelbagai pikiran lain dalam batin yang bisa menjadi suatu ‘pemborosan’ energi, sehingga seluruh energi yang dilepaskannya murni tersalurkan ke dalam satu siklus ayunan pedang.

Jika di sana hanya ada ayunan pedang, maka hanya ayunan pedang yang ada.

Vasu dalam dunianya yang lain, membawa teknik ini ke Tanah Ema. Sebenarnya ini bukan teknik pedang, namun sebuah contoh sederhana oleh salah satu mentornya dalam menyederhanakan sesuatu yang disebut sebagai ‘Zen’ – walau pada akhirnya, contoh sederhana ini malah banyak disalahartikan sebagai sebuah ‘teknik’ yang dikenal dengan ‘pengguna dan pedang menyatu’ di mana pengguna teknik pedang tidak melihat pedang sebagai bagian yang terpisahkan dari jiwa dan raganya.

Vasu tidak belajar Zen untuk bisa menggunakan pedang. Namun jika dia menemukan dirinya sedang ‘berpikir terlalu banyak’ – maka dia akan merasa sangat cepat lelah. Oleh karena itu dia mencoba menyelami Zen – dia tidak suka dengan pemborosan energi ini, dan tanpa sengaja mendapatkan dirinya mengayunkan pedang ratusan atau ribuan kali setiap hari.

Tapi ada sesuatu yang tidak biasa. Vasu merasakan, di Tanah Ema, dia sangat cepat lelah, bukan batinnya, namun fisiknya sangat cepat lelah. Dia baru mengayunkan seribu kali, dan dia sudah mulai merasakan tangannya gemetar – ini tidak pernah terjadi di dunia asalnya, kecuali ketika ia baru mengayunkan pedang untuk satu atau dua bulan pertama.

Dua tahun sejak mendapatkan pedang yang dia pegang saat ini, dia berusaha meningkatkan capaiannya tanpa sadar. Dulu dia hanya bisa sampai seribu, kemudian menjadi dua ribu, dan kini ia bisa mencapai lebih dari lima ribu ayunan per satu rangkaian aktivitas ‘menyelami’ Zen ini.

Ini …” Vasu membatin saat menyelesaikan ayunan terakhirnya.

Bos… apa ada yang keliru?”

Hmm… kurasa tidak ada, aku bahkan tidak ingat proses tadi, bagaimana aku tahu ada yang keliru atau tidak?”

Vasu hanya mengangkat bahunya, dan menyarungkan kembali pedangnya. Pedang dan sarungnya menyatu membentuk toya kayu yang tampak kokoh.

Dia terduduk di tepi danau, pandangannya tampak lepas merangkul seluruh permukaan air yang tenang dan menjadi cermin bagi langit yang cerah.

Sementara itu, Christine sudah tiba di tepi Sungai Sika, ia melihat sejumlah warga tepi sungai yang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.

Dari corak kegiatan mereka, sebagian merupakan pedagang, sedangkan yang lain tampaknya adalah petani.

Hanya saja, tujuan Christine bukan untuk berjalan-jalan. Dia berjalan menuju sumber “irama yang menarik” tadi. Irama itu seperti cepat – bahkan sangat cepat, dan kadang lambat, bahkan sangat lambat. Muncul dalam siklus seperti planet yang mengelilingi bintangnya. Hanya saja, irama tersebut datang sebagai riak energi yang sangat halus, sesuatu yang tidak bisa dihasilkan oleh alam, atau setidaknya tidak ada dalam ensiklopedianya.

Datang dari arah Danau Bulan Sabit, Christine bisa menebak apa yang menghasilkan irama tersebut: seseorang yang sedang berlatih, dan sangat ahli. Jika bukan murid utama, tentu saja mahaguru, atau seseorang yang bukan keduanya, namun memiliki kemampuan seperti keduanya.

Dan keyakinannya begitu kuat, bahwa riak energi ini dihasilkan tidak lain oleh anak laki-laki yang baru ia jumpai hari sebelumnya. Sosok yang turun ke medan laga ketika harapan banyak orang sirna, sosok yang begitu misterius yang bahkan ketika ia bertanya – tidak ada satu pun warga Yoria yang pernah mendengar nama anak itu – namun semua warga Puncak Benderang mengenalnya; ya ini sangat aneh, bahkan ketika warga Puncak Benderang dan Yoria merupakan sebuah kesatuan, tapi sebuah fakta mereka tidak berbagi informasi yang sama tentang satu individu merupakan sebuah tanda tanya besar di hadapan aura misterius individu itu sendiri.

Tapi tentu saja kejadian kemarin membuat nama si anak misterius ini menyebar, tidak hanya sebatas dalam tembok kota Yoria, namun juga ke seluruh Ema, dan mungkin juga hingga ke Soma.

Christine tidak berani menanyakan langsung ke mahaguru, dia juga tidak ingin mengganggu sepupunya yang memerlukan istirahat oleh karena cedera, tapi rasa ingin tahu dan penasaran membuatnya tidak bisa hanya duduk saja.

  • Aku harus menemukannya

  • Walau tidak pasti menjelaskan semuanya

  • Aku harus menemuinya

Pemikiran itu terulang-ulang sejak kemarin, belum lagi ketika Christine menyaksikan sendiri bagaimana anak misterius itu – ketika tabib puncak benderang sudah banyak yang menyerah pada kondisi Floria – dia justru dengan cekatan ‘melakukan sesuatu’ yang dengan segera membuat Christine tahu bahwa sepupunya terselamatkan.

Vasu – ketika Puncak Benderang ditantang, dia maju sebagai penyelamat. Dan ketika sepupunya berada di ambang maut akibat cedera, dalam satu malam sebuah keajaiban terjadi, yang bahkan di Bren mungkin hanya tabib kekaisaran yang bisa menjelaskan apa yang terjadi malam tadi.

Lalu, pada dini hari, dia pergi dan menghilang begitu saja. Para murid Puncak Benderang tidak ada yang tampak keheranan atau berusaha mencarinya. Dia datang begitu saja, dan pergi tanpa jejak, seakan ‘dari kosong kembali ke kosong’. Dan Christine tahu, berusaha mencari jejaknya akan sia-sia, sebagaimana yang dikatakan sepupunya kemarin.

Vasu seperti lautan kabut, yang tiba-tiba mewujud embun baru bisa dilihat, lalu kembali menjadi kabut, dan tidak bisa dibedakan dengan kabut lainnya.

Namun senyum muncul di wajah Christine beberapa jam yang lalu, ketika semua riak energi misterius yang ‘berirama indah’ bergemericik mengalun ke seluruh Yoria.

  • Ini bisa menjadi sebuah petunjuk…

Senyum simpul muncul di wajah gadis kecil itu.

Dia tidak tahu, tapi dia yakin jika menelusuri hingga ke pusat riak ini, ada sesuatu bisa menjadi titik terang rasa penasarannya.

Oleh karena itu, dengan alasan akan memanggil Vasu untuk Floria, Christine segera menuju asal riak energi tersebut.

Gadis kecil ini termasuk ramah, di jalan dia menghampiri beberapa toko untuk membeli oleh-oleh yang hendak dibawa pulang ke Bren. Karena dia tidak mengenakan seragam atau penanda perguruan maupun lainnya, dia jelas tampak seperti warga kecil yang berbaur di sana.

Jalan setapak dari bata merah yang tersusun rapi membatasi tepian sungai Sika berdampingan dengan merona emasnya pohon Ema. Udara masih terasa dingin, tampak dari warga yang masih mengenakan pakaian tebal saat beraktivitas di luar rumah mereka. Tapi mungkin air sungai Sika lebih dingin lagi, sehingga tak seorang pun tampak berminat menyentuhnya.

Demikian, langkah kaki gadis kecil itu menyusuri angin pagi dan hutan kecil menuju ke arah Danau Bulan Sabit di penghujung sungai Sika.

Tepi danau Bulan Sabit kembali tenang sementara kabut mulai menyingkap keindahan hutan di sekitarnya. Beberapa hewan pemamah biak datang untuk minum dari sumber air yang menyegarkan itu. Ada yang tampak seperti rusa, namun memiliki dua pasang mata, ada yang tampak seperti trenggiling, namun bercula.

Vasu termangu, pada sebuah batu pualam yang legam dan datar, ia duduk dalam posisi teratai. Napasnya pelan dan dalam seperti penyu ribuan tahun.

Bos, apa yang Bos pikirkan?” – suara batin itu mengusik seperti ingin tahu.

Ikrc….” – Vasu hanya menjawab pelan tanpa mengubah ekspresinya.

Siapa itu Ikrc …?”

Nama yang kuberikan untukmu.”

….”

Apa…? Kamu tidak suka?”

Yah…, aku memang tidak pernah punya nama, jadi setiap pemilik sebelumnya memberikan panggilan sesuka hati mereka. Tapi Bos…, Ikrc…, itu terdengar seperti ‘mabuk’.”

Hmm…, aku hanya teringat mitos tua di tempat asalku.”

Mitos…?”

Seorang anak bernama Ikarus – aku suka menyingkatnya dengan sebutan Ikrc mencoba terbang dengan sayap buatan, namun ia terbang terlalu dekat dengan matahari – sang surya, sehingga sayapnya terbakar dan dia jatuh lalu kehilangan nyawanya.”

Yukh…, malang sekali nasibnya.” – Tentu saja, sebagai sebuah pusaka, dia tidak bisa melihat kisah itu sebagai sesuatu yang mengerikan, karena dia sendiri tidak yakin akan terbakar jika berada terlalu tinggi di angkasa.

Memang.”

Tapi bos…” Dia diam sejenak, “Apa hubungannya semua itu denganku Bos? Aku tidak merasa mirip dengan tokoh itu.”

Anggap saja matahari adalah apa yang kupikirkan.”

….”

Yap, setelah menanyakan ‘apa yang sedang bos pikirkan’ – sekitar subjek pertanyaan menjadi mentari yang bisa membakar tanpa ampun, dan si penanya menjadi objek yang dipenuhi nasib malang.

Surya semakin tinggi, dan suara-suara hewan semakin beragam. Hanya saja, tidak ada suara atau tanda keberadaan manusia selain dirinya, dan ini membuat alam terasa sangat nyaman.

Aku akan meninggalkan Puncak Benderang.” Kata-kata yang kalem namun penuh kepastian menembus keheningan yang sesaat.

Apa yang dialaminya sehari sebelumnya mengubah sedikit banyak pertimbangannya. Vasu memang pernah berpikir untuk menjelajahi Ema ‘ketika waktunya’ tiba, namun siapa yang menyangka, kini waktu itu tiba – setidaknya demikian yang ia rasakan – lebih cepat dari yang dia duga sebelumnya.

Vasu ingin melihat dunia baru ini seperti apa, namun bukan berarti dunia ini aman sentosa sebagaimana situasi umumnya di Yoria. Di luar sana, sifat “kanibal” bukanlah sesuatu yang janggal. Hukum rimba menjadi aturan yang begitu alami. Yang memiliki kekuatan akan berkuasa atas yang lemah, entah dengan kebijakan ataupun dengan penindasan.

Vasu ingin melihat dunia ini, dan lebih dari itu, dia tahu betapa lemah dirinya saat ini. Meskipun peristiwa kemarin membuat banyak orang meliriknya sebagai si cerdas, genius kecil dari puncak Benderang, namun hanya dia sendiri yang benar-benar paham, di mana kelemahannya mewujud pada peristiwa kemarin.

Sedemikian hingga, tekadnya meninggalkan Puncak Benderang semakin kuat. Sudah saatnya dia melalang buana.

Tapi, tepat sebelum dia memikirkan ke mana akan sebaiknya pergi. Udara di sekitar Danau Bulan Sabit tiba-tiba bergetar lembut, aura biru lembut menyelubungi alam dengan cepat seakan menutupi aura keemasan matahari di langit.

Vasu melirik ke arah jalan setapak yang membelah hutan, salah satu setapak yang membuka jalan dari dan ke Yoria.

Bos… aura ini…” suara Ikrc menunjukkan sedikit kaget dan penasaran.

Ya, ini aura ‘Sang Ratu’ – ‘Rheine’ ke-3 – Naga Biru Langit yang genius dari Timur.” Vasu tersenyum simpul, sementara masih bertanya-tanya, mengapa dia bisa datang sampai ke tempat ini.

Sebelumnya

Naskah 3 - Pedang Pusaka?

Gunung Tienz, Lembah Para Naga. Seorang pria tua duduk menghadap menghadap meja batu sambil menuangkan ... Read more

Selanjutnya

Naskah 5 - Nagi dari Samudra Timur

Tepi Danau Bulan Sabit – suara hum hum hum... yang riang terdengar seperti dendangan merdu ... Read more