Naskah 5 – Nagi dari Samudra Timur

Tepi Danau Bulan Sabit – suara hum hum hum… yang riang terdengar seperti dendangan merdu di sekitar hulu Sungai Sika. Jika ada orang awam yang mendengar lantunan ini, maka mungkin ia akan berpikir bahwa gita bidadari surga baru saja turun ke bumi. Tapi suara itu bukan tanpa pemilik. Wajah oval, dengan mata seperti permata biru yang berkilai di kedalaman samudra, menatap jauh ke arah apa yang dicarinya di tepi danau, sementara rambut yang bergelombang keemasan diikat dengan rapi sebagaimana gaya rambut kaum bangsawan. Ah itu dia… Mata biru itu tiba-tiba bersinar lebih cemerlang, dia menemukan apa yang dicarinya sejak tadi pagi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba menghilang setelah semua kejadian yang menggemparkan sehari sebelumnya. Dan dia pun mempercepat langkahnya, namun tidak berarti berlari, dengan satu langkah jarak sepuluh langkah terlampaui dengan mudah seakan-akan dia berjalan di atas awan. – Hmm…, |Naga Meliuk di Awan| – tidak keliru memang dikatakan sebagai ilmu meringankan tubuh paling anggun di tanah Ema, tidak hanya mampu bergerak dengan cepat, namun hanya mengangkat langkah sedikit di atas permukaan tanah tanpa memperlihat jejak apapun – Vasu menatap anak perempuan yang menuju ke arahnya dengan cepat. Vasu mungkin tidak memiliki pandangan seperti Elang – tajam dan menembus – tapi walau tampak seperti sepasang mata Panda yang bulat dan menggemaskan, pemahamannya saat melihat sebuah teknik jauh lebih dalam dari siapapun ia pernah temui di Ema, bahkan tidak mahaguru pun berani mengatakan talenta anak ini lebih rendah dibandingkan dirinya sendiri. Sehingga Vasu bisa tahu apa yang ada di balik teknik yang tampak begitu surgawi itu. Ketika melangkah ada dua lapis elemen air yang tak kasat mata dikendalikan, satu melapisi permukaan daratan, satu laki melapisi kaki pengguna teknik tersebut, sehingga satu permukaan elemen air akan meluncurkan permukaan elemen air lainnya. Namun karena area untuk mengaktifkan elemen air terbatas, atau sengaja dibatasi oleh penggunanya, saat ini anak gadis bermata biru itu hanya mengaktifkan elemen air setiap dan melingkupi jarak sepuluh langkah. Mungkin terkesan sederhana, namun tidak semua pendekar yang memiliki kedetakan dengan elemen air bisa melakukan hal yang sama, paling luas area yang bisa dipengaruhi adalah lima langkah, bagi yang dapat melakukannya bisa dikatakan sangat berbakat – hanya saja, sepupu Flora di usia yang sangat belia bisa mengaktifkan dalam jarak sepuluh langkah dan menggunakannya sedemikian hingga tampak begitu alami bisa dikatakan jenius, itupun jika tidak ada kejutan lain bahwa sebenarnya sepuluh langkah bagi anak gadis ini adalah batasannya. Christine berhenti di depan Vasu dengan anggun. Sejenak, waktu terasa berhenti di antara kedua anak manusia ini, mereka melihat ke dalam mata masing-masing. “Tuan Muda Vasu, senang berjumpa Anda di sini.” Christine membungkukan badan seraya menyapa dengan sopan. “Nona Rheine, sayalah yang merasa senang bisa berjumpa dengan Nona di sini.” Meskipun mereka dua anak kecil, namun kehidupan mereka sudah membawa mereka terbiasa berada dalam kehidupan sosial masyarakat dewasa, termasuk mengenai etiket dan formalitas yang merupakan bumbu di dalamnya. “Jadi, Tuan Muda Vasu sudah tahu siapa saya?” “Nona terlalu merendah. Siapa yang tidak mengenal ‘Rheine ke-3, Naga Biru Langit dari Timur. Nama Nona telah lebih dahulu termasyhur sampai ke kota kecil kami sebelum kami diberi keberuntungan untuk dikujungi oleh salah satu dari empat anak ajaib dari Tanah Ema.” “Mohon Tuan Muda Vasu tidak terlalu menyanjung, salah satu dari empat anak ajaib, saya takut bahwa saya masih tidak layak akan sebutan tersebut jika melihat sendiri kehebatan tuan muda sehari yang lalu. Dibandingkan Anda, saya sungguh tidak berani mengaku lebih baik.” “Saya? Ah, saya hanya pendatang yang tidak memiliki kemampuan, mohon Nona berbelas kasih tidak menempatkan saya di atas ketinggian yang saya tidak layak.” Vasu terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “Namun, jika boleh saya tahu, apa gerangan yang membawa Nona hingga datang ke tempat terpencil ini?” Anak gadis itu pun tersenyum, “Tuan Muda Vasu, sungguh saya hendak bertemu Tuan Muda, karena ada beberapa hal yang sedianya saya hendak mohonkan pada Tuan Muda.” “Mohon jangan sungkan.” “Ada dua hal yang hendak saya mohonkan pada Tuan Muda…” Wajah gadis kecil itu tetap tampak ramah dan penuh ketulusan. Angin berhembus pelan menyisiri permukaan danau Bulan Sabit, tiba sebagai hembusan lembut di antara kedua anak manusia tersebut. Jika orang menyaksikan dari jauh, mungkin hanya terlihat dua anak kecil yang sedang mengobrol dengan senyuman yang ramah. Namun nyatanya, walau dari wajah mereka semburat suasana hangat dan santai seakan terpancar alami, namun kedua pasang mata mungil menunjukkan keseriusan yang mendalam. Sejenak Christine melihat ke arah Puncak Benderang, sebelum melanjutkan kembali kata-katanya. “Sebenarnya saya selain datang mewakili guru saya untuk menyampaikan ucapan selamat kepada mahaguru, saya juga berencana untuk meminta satu atau dua petunjuk dari murid di Puncak Benderang, guna memperluas cakrawala pandang saya yang masih muda dan jauh dari matang ini. Sebenarnya sepupu Flora sudah bersedia menjadikan kesempatan kami saling belajar dari kemampuan masing-masing pada pertandingan yang rutin diadakan, tapi kesempatan itu tidak pernah datang karena kekurangberuntungan yang terjadi kemarin. Tuan Muda Vasu pasti memahami maksud saya. Sehingga permintaan pertama saya, yang kiranya agak merepotkan, agar Tuan Muda sudi bertukar petunjuk dengan saya.” Mata gadis kecil itu bersinar-sinar penuh harap, tidak terkesan merendahkan ataupun meremehkan. Tapi sesuatu yang benar-benar dia harapkan. Christine datang jauh menempuh perjalanan berbulan-bulan, tentu berharap melihat dan belajar sedikit dari kemampuan para pendekar Puncak Benderang yang terkenal sebagai garda gerbang Selatan di Tanah Ema. Tapi sebagai salah satu jenius muda di Tanah Ema, Christine tidak bisa mengambil lawan tanding secara sembarangan – bukan karena dia meremehkan atau takut, namun karena menghargai martabat mereka yang berada dalam satu jalan besar. Beruntung sepupunya Flora adalah salah satu murid utama, mereka sebaya, dan Flora walau tidak dijuluki sebagai salah satu jenius muda di Tanah Ema, namun bakatnya tidak jauh di bawah. Sehingga Christine dan Flora sebenarnya bisa bertanding untuk saling belajar satu sama lain. Sayangnya, kejadian kemarin merusak semuanya. Orang-orang dari Sekte Serigala Bintang Hitam merusak kesempatan reuni sepasang sepupu itu. Vasu terdiam sejenak, dia bisa menduga banyak alasan mengapa nona muda itu datang padanya, namun bukan untuk alasan yang satu ini. Keterkejutan Vasu hanya berlangsung sementara saja. “Merupakan sebuah kehormatan bagi saya.” Vasu tersenyum dan sambil menatap ke arah danau, dia melambaikan tangan kanannya membuat hembusan pelan merayap di permukaan danau. Seketika permukaan danau menjadi benderang, sebentuk mandala menyala walau hanya dalam sekejap mata, dan dari hamparan cahaya yang meredup dengan cepat, sebuah panggung es mengapung kokoh di atas permukaan danau. Ini adalah panggung yang serupa yang digunakan dalam pertandingan-pertandingan beladiri, kanuragan, sihir, bahkan pertandingan reramuan alkemia juga menggunakan panggung serupa. “Ada hal yang hendak saya lakukan hari ini, sehingga saya memiliki cukup waktu untuk meminta Puncak Benderang menyiapkan panggung bagi kita. Saya harap kebesaran hati Nona Rhein untuk bersedia menggunakan tempat sederhana ini.” Vasu memberikan gerak tubuh mempersilakan Christine untuk naik ke atas panggung apung. Christine mengangguk, dan dengan perpindahan lembut satu langkah kakinya sudah cukup membawanya ke atas panggung. Ia tampak senang, namun juga menyembunyikan takjub akan apa yang dia lihat. Dia tidak pernah melihat sihir digunakan seperti ini, tanpa perapalan mantra atau membuat diagram sihir dengan gerakan tangan atau menggunakan perkakas sihir. Semuanya terjadi dengan seketika, seperti panggung itu sudah ada di sana, dan seseorang hanya tinggal membuka selimut tak kasat mata untuk memperlihatkannya. Christine nyaris tidak percaya, dia tidak percaya jika ada sihir seperti ini, – dia akan lebih percaya apa yang baru dilihatnya lebih menyerupai sulap daripada sihir. Hanya saja, mandala sihir yang muncul walau sesaat adalah bukti yang tidak bisa dibantah bahwa diagram sihir kelas atas baru saja diterapkan, dan karena Christine memiliki kedekatan dengan elemen air, ia bisa merasakan bahwa ada sedikit bagian dari air di danau yang berubah wujud menjadi es – sedikit sebagai pembandingan dari besarnya panggung dengan besarnya danau. Mengubah kondisi fisik elemen bukanlah hal yang aneh, ada jutaan ahli di Tanah Ema yang mampu melakukannya, tapi mengubah dalam seketika mungkin hanya ribuan saja, lalu dalam seketika namun tanpa meninggalkan jejak sihir mungkin hanya ada ratusan ahli yang mampu, tapi di antara ratusan itu, berapa orang yang bisa melalukannya pada usia belia? Apa yang Christine saksikan merupakan teknik yang memerlukan latihan dan pendalaman ratusan tahun, bahkan tidak aneh jika lebih dari satu milinea melatih teknik hingga pada pencapaian ini merupakan sesuatu yang umum. Tapi Vasu melakukannya hanya dengan kibasan tangan seakan-akan itu bukan sesuatu yang rumit. Vasu pun ikut naik ke atas panggung es terapung buatannya, namun langkahnya lebih sederhana tanpa menunjukkan keanggunan sama sekali. Ekspresi anak laki-laki ini tetap tenang, bahkan mungkin terlalu tenang. Satu anak perempuan berdiri dengan senyum ramah, di saat yang sama memancarkan aura bak ratu yang bisa mengendalikan segala sesuatu di sekitarnya. Satu anak laki-laki berdiri dua puluh langkah di hadapannya, dengan senyuman yang sama ramah, tanpa aura unik apapun – tidak menunjukkan ia memiliki kendali akan apapun, aura yang tampak adalah aura yang alami – seperti membiarkan segala sesuatu di sekitarnya mengalir sebagaimana perjalanan alam, Vasu tampak sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari alam di sekitarnya. Vasu memandang anak perempuan di hadapannya – tidak mengherankan anak ini adalah salah satu jenius di tanah Ema, si jenius muda dari Timur, aura dari energi dua elemen ini begitu menyatu nyaris sempurna, sedemikian hingga terasa mengerikan – demikianlah ia memuji Naga Biru Langit dari Timur, yang juga dijuluki Ratu Air dan Cahaya, karena dua elemen air dan cahaya yang menyatu sebagai bakat alaminya. “Nona Rhein, kita bisa mulai.” Christine mengangguk, wajahnya berubah serius – dengan membalikan tangganya sebuah busur panah mewujud dalam balutan sinar putih dan biru. Wajah Vasu pun turut menjadi serius, dia mengenali busur panah itu, salah satu senjata dewata di Tanah Ema, dan setiap senjata dewata merupakan legenda karena yang berhadapan dengan pemegang senjata seperti itu dalam pertempuran yang sesungguhnya sangat jarang ada yang bisa kembali untuk menceritakan kehebatan yang diperlihatkan oleh senjata itu. Seketika dua ranah energi murni mengambil ruang di atas panggung pertandingan. Satu ranah energi murni menunjukkan elemen air dan cahaya yang membentuknya, dan satu lagi elemen es yang dingin. Domain milik Christine beriak memberikan gelombang energi ke seluruh danau, bahkan beberapa praktisi di Puncak Benderang bisa merasakan riak energi ini. Puncak Latihan Di bagian paling dalam area Latihan terdapat bangunan berupa pondok kayu dengan atap jerami, di dalamnya beberapa orang duduk dalam posisi melingkari sebuah meja oval besar. Ini adalah ruang pertemuan yang kerap digunakan oleh para murid mudya, tepatnya hanya mereka yang berada dalam posisi sepuluh terbaik bisa duduk di ruangan ini. Sepuluh orang ini juga mendapatkan julukan sepuluh pelindung Puncak Benderang. Mereka memiliki kebanggaan sendiri, dan merupakan wakil langsung dari masing-masing murid utama. Dalam kondisi wajar, mereka bisa dikatakan sepuluh orang terkuat di Puncak Benderang di bawah mahaguru dan para murid utama. Mereka juga memiliki kewajiban menjaga keamanan Puncak Benderang, sehingga dikenal juga sebagai sepuluh pelindung Puncak Benderang. Beberapa di antaranya bahkan memiliki kemampuan hanya sedikit di bawah murid utama. “Hampir saja Puncak Benderang tak luput dari bencana.” – kata salah satu dari mereka. “Ya, aku tak menduga jika para ‘anjing gunung’ itu berani datang ke Puncak Benderang.” “Sepertinya mereka tahu, para senior murid utama hampir semua tidak berada di Puncak Benderang, hanya ada Nona Flora yang paling muda. Dan mereka dengan tidak tahu malunya melempar tantangan pada yang paling muda.” “Kita hampir kehilangan salah satu penerus paling berbakat.” “Tapi untung ada si kecil Vasu, anak itu tidak pernah berhenti memberikan kejutan…” – salah satu murid madya yang berpenampilan kumuh dan beruban tertawa terbahak-bahak karena merasa senang Puncak Benderang memiliki Vasu. Yang lain juga merasakan hal yang sama. Lebih dari seabad yang lalu, mahaguru membawa seorang anak ke Puncak Benderang, anak tersebut tidak diangkat sebagai murid – namun diberikan akses pada semua fasilitas Puncak Benderang, termasuk kitab-kitab rahasia. Pada awalnya beberapa orang mempertanyakan hal yang tidak biasa ini, tapi seiring dengan waktu, mereka bisa melihat betapa berbakatnya anak kecil tersebut dan menyadari bahwa suatu ketika nanti, Puncak Benderang yang tak seberapa ini tidak akan bisa lagi menahan perkembangan anak manusia yang menakjubkan itu. Mereka merasa bangga, apalagi Vasu sangat muda – seperti memiliki keluarga baru bagi mereka. Tiba-tiba di antara percakapan asyik sepuluh orang ini – DING – sebuah sapuan riak energi membuat mereka serentak terdiam dan melihat ke arah yang sama, walau pandangan mereka hanya pada akhirnya membentur dinding gubuk tua di hadapan mereka. “Energi murni yang sangat besar.” “Sudah sangat lama kita tidak merasakan gelombang energi seperti ini.” “Energi ini, seharusnya milik ‘dia’ bukan? Ada apa sebenarnya?” Sebagai pelindung Puncak Benderang, orang-orang ini tahu situasi di Tanah Ema, baik yang tampak di permukaan seperti politik, perdagangan, kekuatan milter dan sebagainya. Serta tidak luput juga kondisi-kondisi di ‘bawah permukaan’ seperti perdagangan di pasar gelap, sepak terjang kelompok pembunuh bayaran, sekte-sekte misterius dan sebagainya. Sehingga mereka bisa mengenali energi murni ini milik salah satu tamu penting mereka. Untungnya mereka bisa merasakan bahwa tidak ada niat mengancam yang ada di dalam riak energi tersebut, jika tidak, maka kali ini musibah mungkin tidak bisa dihindari. Dengan segera, sepuluh orang tersebut bergegas menuju menara pengawas tertinggi yang ada di puncak paling tinggi di Puncak Benderang. Biasanya tidak semua orang diizinkan memasuki wilyaha ini karena harus melewati area Puncak Kediaman. Namun status kesepuluh orang ini sendiri bukanlah tidak istemewa, sehingga mereka bisa ‘lewat’ dengan mudah. Menara dua puluh lantai tersebut setinggi sekitar seratus meter, dan di ruang teratas, dari beranda yang menjorok di sisi utara – sebuah meja bundar dengan sepasang kursi antik saling berhadapan. Di salah satu kursi duduk seorang laki-laki tua dengan memegang secangkir teh yang beraroma khas, dia adalah Lutz, mahaguru Puncak Benderang. “Anak itu sungguh pintar dalam memilih daun teh. Tapi apa dia cukup cerdas agar bisa keluar dari situasi ini.” Sepasang matanya yang masih jernih memandang ke arah sekitar empat ribu meter di bawah sana, Danau Bulan Sabit yang tadi tampak tenang kini hampir sepertiganya tertutup oleh wujud naga biru langit raksasa yang meliak-liuk seperti mengintai mangsa di bawahnya. Tentu saja naga ini tidak akan melihat ke arah atas di mana banyak pasang mata mengintainya. “Sepertinya, ada cukup banyak orang yang tertarik dengan situasi ini.” Lutz meneguk teh seraya sesekali melepas pandangan ke beberapa arah di langit. Vasu berada di dalam ranah “Langkah Tanah Beku”, wajahnya tenang, dan batinnya pun tidak panik. Naga raksasa tiba-tiba mengapung di udara di hadapannya. – “Raj Nagastra, hanya bisa dipanggil melalui busur legenda itu, yang satu ini pastilah perwujudan naga biru langit, kupikir itu hanya mitos. Ini akan sedikit merepotkan, jika salah langkah sedikit saja, membayangkan hasilnya sudah membuatku merinding.” Vasu hanya berucap dalam batinnya, ini memang bukan pertama kalinya dia berhadapan pada yang berhubungan dengan naga, setidaknya Lembah Para Naga sudah menjadi tempat belajar yang baik baginya. Jadi dia memiliki pengetahuan yang cukup lengkap tentang naga. Ini juga yang membuat Vasu tahu, bahwa dengan kemampuannya saat ini, bukan saat yang tepat untuk meremahkan kekuatan seekor naga dari mitologi, meskipun yang hadir di hadapannya saat ini adalah wujud energi saja tanpa termasuk wujud fisik. Mitos mengatakan Naga Biru Langit sudah mati jutaan tahun yang lalu, namun satu atau dua orang dapat terpilih untuk bisa memanggil kekuatannya kembali ke dunia. Dan bagaimana ini bisa terjadi, tidak banyak yang tahu. Pemandangan danau Bulan Sabit menjadi berubah pagi itu. Seekor naga raksasa melayang di atas danau, dan segumpal bola putih salju raksasa di hadapannya yang seakan tidak peduli dengan kehadiran mitos yang bisa membuat hati banyak orang gentar, bahkan orang awam akan lari ketakutan melihat ular besar – apalagi naga raksasa. “Tuan Mudah Vasu, izinkan saya memulai.” – Christine mengangkat busurnya dan mengarahkan bidikannya pada Vasu, ia menarik tali busur tanpa anah panah lalu melepaskannya bersama dengan menghembuskan napas panjang. DING Suara dentingan tersebut diikuti oleh raungan dahsyat yang menggetarkan hingga ke relung sukma, Vasu bisa membayangkan ketika suara itu sampai ke Yoria, maka kepanikan bisa tidak terhindari. Namun Vasu tidak bisa memikirkan itu terlalu lama, naga yang wujudnya terbentuk dari air murni berselubung cahaya kebiruan itu melesat dengan cepat ke arahnya – membuka mulutnya yang lebar seakan rahang-rahangnya siap melumat bola putih salju yang merupakan ranah energi Vasu. “Ini tidak bagus…” Vasu mengerutkan dahinya ketika gelombang energi lawan tiba di hadapannya, di saat bersamaan ia melihat senyum tipis di wajah Christine.

Sebelumnya

Naskah 4 - Hasrat Melanglang Buana

Sehari setelah semua peristiwa di Balairung Agung, Puncak Benderang tampak sibuk. Pagi hari, matahari hanya ... Read more

Selanjutnya

Naskah 6 - Cakrawala Elemental

Seorang gadis remaja duduk di sofa dalam sebuah ruang kerja yang dipenuhi dengan buku-buku yang ... Read more