Naskah 6 – Cakrawala Elemental

Seorang gadis remaja duduk di sofa dalam sebuah ruang kerja yang dipenuhi dengan buku-buku yang bertumpuk-tumpuk membukit. Sejumlah gulungan papirus berserakan di lantai. Semburat cahaya rembulan warna-warni menerobos ruangan melalui mozaik transparan yang menjadi sebagian atap ruang kerja memberi bentuk oval dengan corakan geografi yang khas. Corakan itu bisa mengagetkan banyak orang, karena tidak pernah ada yang memiliki pengetahuan lengkap akan apa yang digambarkan di dalamnya.

Yang menjadi atap dari ruang kerja tersebut adalah peta raksasa Eon yang begitu detail dalam gaya klasik, berisi tulisan dalam bahasa purba yang barangkali telah lama punah. Dan diujung “Selatan” pada corakan mozaik itu, sebuah bentangan kecil yang didampingi di sebelahnya oleh corak bentang yang lebih besar, jika Vasu atau Christine melihatnya mereka akan kaget karena yang diperlihatkan di sana adalah Tanah Ema, dan kemungkinan di sebelahnya adalah Benua Soma.

Tapi siapa yang memiliki pengetahuan akan Eon? Bahkan jika dikatakan yang tertua seperti Long di Tanah Ema tidak pernah tahu seberapa besar Eon, bahkan pengetahuannya akan Soma dan Ludr juga tidak terlalu banyak. Tapi yang ada di sini adalah Eon, seluruhnya! Siapa yang sanggup memetakan seluruh Eon, bahkan memiliki seratus nyawa pun seorang kartografer senior masih jauh dari bisa memetakan sepersepuluh Eon. Jika dia bukan seorang kartografer senior, maka tidak mungkin membuat peta sedetil ini.

Tok… tok… tok…, suara pintu diketuk mengakhiri keheningan di dalam ruangan. Gadis remaja tadi meletakkan buku besar yang dipangkunya, dan kemudian berdiri dengan lembut serta anggun. Bagai lukisan malaikat yang hidup, gadis itu berjalan ke arah beranda, sambil berkata, “Masuk.”

Seorang perempuan muda, kemungkinan berusia belum separuh millenium atau jika di Bumi mungkin baru memasuki usia dua puluhan awal, masuk dengan mengenakan pakaian pelayan. Meski mengenakan pakaian pelayan, namun aura yang merekah dari wajahnya tidak lebih rendah dari aura seorang bangsawan. Jika gadis yang seperti malaikat adalah sang majikan, tentu pelayannya sangat layak bagai seorang bangsawan.

“Apa kabar terbaru dari pangeran keempat?” Gadis itu bertanya sambil mengambil beberapa gulungan papirus di rak-rak tua yang menempel pada dinding batu.

“Yang mulia sedang melakukan pertandingan persahabatan antar pendekar.” sang pelayan menjawab dengan sangat sopan.

“Bukankah acara pertandingan dibatalkan karena kejadian kemarin?”

“Ini tidak berhubungan dengan perayaan di Puncak Benderang, seseorang datang kepada Yang Mulia untuk meminta ‘petunjuk’ dan demikianlah pertandingan ini dimulai.”

“Oh…” gadis itu menoleh kepada pelayannya, “Siapa yang cukup percaya diri bertanding dengan seseorang yang mampu mengusir serombongan utusan dari Kastil Serigala Bintang Hitam – walau dia hanya seorang anak kecil?”

“Yang mengajukan pertandingan adalah Rhein ke-3.” Wajah pelayan tersebut sama sekali tidak memperlihatkan perubahan ekspresi saat menyampaikan informasi ini.

Gadis remaja itu terdiam sejenak, rambut hitam pendeknya disapu angi malam, ketika ia menoleh ke arah beranda, seperti rembulan yang melihat Eon dari langit dengan penuh kelembutan.

“Ini mungkin sudah suratan. Aku tidak ingin anak itu terlibat dengan kekuatan kerajaan dan kekaisaran di Tanah Ema. Dia adalah haparan Eon yang dipilih oleh Ema untuk datang ke dunia ini. Dia tidak boleh terlalu terikat secara emosianal dengan salah satu kelompok. Tapi kurasa, karena kita tidak bisa membesarkannya secara eksklusif di negeri ini, maka pilihan terbaik adalah membiarkannya tumbuh dan berkembang di luar sana. Aku hanya berharap, dia tidak tumbuh menjadi kekuatan yang pada akhirnya harus kita tumpas, karena jika hal itu terjadi, maka akan menjadi sejarah terburuk dalam triliunan tahun riwayat Eon. Dan bisa menjadi akhir dari silsilah dinasti kita yang selama ini menjadi penjaga gerbang terakhir di Eon.” – Gadis itu mengakhiri monolognya dengan desahan napas panjang.

Pelayan itu terdiam sejenak, lalu menyampaikan sesuatu yang tidak diduga oleh sang gadis, “Tetua Mutiara Langit juga sedang mengamati pertandingan antara pangeran keempat dan Rheine ketiga.”

Mendengar hal tersebut, si gadis hanya mengerutkan alisnya dan kemudian ekspresinya segera menjadi kalem kembali.

“Biarkan saja anak kecil itu menonton, dia sudah menjadi pelindung spiritual bagi Kekaisaran Bren sejak cikal bakal kekaisaran itu sendiri. Dia sudah lama tidak menganggap dirinya sebagai utusan kahyangan, kita tidak perlu terlalu khawatir. Aku masih bisa mentoleransi jika adikku terlibat dengan gelap terang di Tanah Ema untuk saat ini, tapi jika sampai kahyangan ikut campur, aku sendiri yang akan ke alam para dewata dan memberikan mereka pelajaran apa artinya jika seorang kakak melindungi adiknya.” Kata-katanya pelan dan dalam, seakan-akan jika dia mengatakan hal tersebut karena dia mampu mewujudkannya.

Pelayan yang mendengarkan kata majikan mudanya menarik napas dalam dan tidak berani menghembuskannya kembali. Dia sangat mengenal karakter tuan puteri yang dilayaninya selama entah berapa lama sudah. Dia mungkin tampak seperti tiga ratus atau empat ratus tahun bagi penduduk Eon, tapi keberadaannya sendiri lebih purba dan lebih misterius dibandingkan Eon. Dia tidak pernah melihat tuan puteri ini menggunakan kemampuannya, namun dia tahu gelar tak terkalahkan di urutan kedua di seluruh Eon yang pernah didengarnya bukanlah isapan jempol. Tidak ada yang berani bertindak sesuatu yang membuat buruk suasana hati sang puteri, tidak penguasa kahyangan ataupun penguasa neraka, apalagi hanya sekadar para raja atau kasiran di Eon – yang mungkin tidak semua dari mereka bahkan tahu jika ada sosok seperti majikannya berada di puncak, sambil melihat kekuatan para manusia, siluman, raksasa, yakhsa, ruh, dan banyak lagi bentuk kehidupan yang saling berebut kekuasaan dan berlomba menjadi yang terhebat tanpa pernah tahu langit di atas langit yang menjadi naungan mereka.

“Adik, jangan berbicara demikian. Kita tidak memiliki kendali akan perjalanan hidup kita, apalagi akan perjalanan hidup orang lainnya. Kita boleh berharap, namun janganlah melekat pada pengharapan tersebut.”

Suara lembut nan berwibawa datang dari pintu masuk ruang kerja. Sosok perempuan muda memasuki ruangan dengan senyuman ramahnya. Ada ribuan rupa yang dapat disebut sebagai rupawan, cantik dan anggun, namun bahkan dewi kahyangan yang paling cantik dan anggun pun bisa dikatakan hanya merupakan turunan dari paras ayu perempuan muda ini. Jika ada asal muasal dari segala keindahan dan kecantikan di seluruh Eon, maka perempuan muda ini bisa jadi merupakan inspirasi dari semua itu.

“Yang Mulia…” Sang pelayan terkaget, dan segera memberikan salamnya.

“Kakak, aku tahu itu. Tapi kakak tahu sendiri bagaimana politik di mana pun sama-sama tidak menyenangkan.” Gadis remaja itu tampak menggerutu.

Sang kakak hanya tersenyum ringan, namun senyuman itu seperti samudera tak terhingga yang sanggup mendinginkan api neraka. “Yu, bahkan dinasti yang didirikan oleh keluarga kita juga menggunakan kendaraan sama yang disebut sebagai politik. Kita bahkan menggunakan jalan monarki karena kita tidak memiliki banyak pilihan, kita mencoba mengendalikan banyak hal di dunia ini yang pada akhirnya tak satu pun ada dalam kendali kita. Kekuasaan monarki hanyalah ilusi, kendali kita akan jagad Eon juga adalah ilusi. Jangan sampai ilusi-ilusi ini justru melahirkan ilusi yang lain dalam dirimu Yu.”

Gadis remaja itu terdiam mendengarkan kata-kata kakaknya. Dan dia tidak berkata apa-apa lagi untuk menyangkal itu.

“Jangan khawatirkan pangeran keempat, meskipun semua pihak di luar sana tidak mengetahui hubungan antara kita dan adik keempat, selama dia ada di Tanah Ema, maka Ema akan melindunginya. Biarkan dia bermain-main dulu, dia sudah terlalu cepat tumbuh besar, jika dia tumbuh lebih cepat lagi, maka itu tidak akan baik baginya. Lagi pula, di Bumi, dia hanya anak berusia sepuluh tahun, sudah selayaknya dia menghabiskan sebagian waktunya untuk bermain. Dan sepertinya dia cukup beruntung, mungkin kali ini dia menemukan teman sepermainannya.”

Percakapan ketiga perempuan tersebut berlanjut hingga beberapa jam, sambil memerhatikan cermin besar di hadapan mereka yang dibawa oleh pelayan ke dalam ruang kerja. Cermin tersebut berpendar memperlihatkan citra danau Bulan Sabit dan dua anak yang sedang saling berhadapan di atas sebuah panggung es apung.

Danau Bulan Sabit, Kota Yoria – Vasu melihat naga biru langit sepanjang seribu meter melesat ke arahnya. Dia menutup mata dan mengangkat tangan kanannya setinggi bahu, telunjuk menghadap ke langit dan digerakkan berputar tiga kali. Meskipun banyak pasang mata yang menyaksikan tidak tahu apa maksud dari gerakan itu, apakah hanya keisengan saja?

Christine melihat gelagat aneh Vasu memperlihatkan wajah penasaran, namun demikian, pandangan mata gadis kecil itu tetap terarah tajam pada lawannya. Dia menyaksikan sendiri kemampuan tuan muda Puncak Benderang sehari sebelumnya. Semua teknik yang digunakan Vasu sebelumnya sangat tepat guna, tidak gerak yang sia-sia.

Mengetahui kekuatan teknik keenam Dandelion Beku yang digunakan Vasu, maka Christine hanya bisa melesatkan energi Naga Biru Langit untuk melihat sebenarnya seberapa tangguh lapisan ranah energi yang dimiliki oleh Vasu. Setidaknya Christine berharap bahwa dia menemukan lawan sebanding kali ini, karena setiap kali dia bertanding bersama Flora di masa lalu, Christine selalu menahan kemampuannya sehingga pertandingan seimbang.

Naga Biru Langit membuka rahang raksasanya dan menghantam ranah Pelindung Jagad Es. Semua mata yang menyaksikan pertandingan ini semakin fokus, kebanyakan dari mereka ingin tahu apakah Puncak Benderang akan melahirkan juga satu orang jenius muda di Tanah Ema. Beberapa ratus murid madya yang pada akhirnya ikut naik ke menara bahkan memasang kuda-kuda bersiap untuk guncangan dari gempa yang diakibatkan tumbukan kedua ranah energi.

Psss….

Sejenak suasana hening, namun semua berlangsung dengan cepat. Kebanyakan orang tidak bisa menyaksikan apa yang baru saja terjadi. Mereka bahkan tidak mendengar suara dentuman.

Separuh tubuh Naga Biru Langit tersisa di luar batas ranah Pelindung Jagad Es. Dan semakin lama semakin berkurang, seorang tubuh sang naga dengan mudahnya masuk ke dalam ranah Pelindung Jagad Es. Hanya saja bagian yang seharus masuk bahkan tidak tampak di dalam bola putih salju yang melindungi Vasu. Dengan diameter sekitar lima meter, bola itu bersinar terang seperti tidak tampak ada yang menganggunya. Menyala teduh seakan-akan bisa terus benderang hingga akhir zaman.

Vasu hanya memperlihatkan wajah datar dengan mata yang masih terpejam, tidak ada emosi yang muncul ke permukaan. Dalam hatinya dia bergumam – jadi, yang seperti ini juga bisa dilakukan.

Berbeda dengan Vasu yang baru pertama kali mencoba sebuah teknik, Christine sudah puluhan tahun di Bren melatih tekniknya, walau hanya jurus pembuka, namun merupakan teknik kelas atas. Hanya saja, saat Christine melihat tekniknya lenyap tidak berbekas – kembali seperti sulap saja, dia tidak bisa menahan rasa penasarannya. Dia berharap kedua teknik mereka setidaknya seimbang sehingga dia dapat menemukan rival sepadan, tapi sepertinya gadis tersebut sedang menatap langit tinggi saat dia bahkan belum memiliki sayap untuk menggapainya.

Christine menatap Vasu dengan penasaran, “Tuan Muda, bolehkah saya tahu nama teknik yang baru saja Tuan gunakan?” – wajahnya seperti anak kecil yang hendak membongkar mainan barunya.

“Maaf Nona Rhein, saya yakin saya baru saja menggunakan Pelindung Jagad Es.”

“Eh…?” Christine kaget, karena dia tidak pernah tahu jika Pelindung Jagad Es memiliki sifat melumat halus energi dari luar. “Maafkan saya Tuan Muda Vasu, saya hanya tidak tahu jika Pelindung Jagad Es memiliki kemampuan itu.”

“Ah ya, saya juga tidak tahu sebelumnya, sampai saya mencobanya tadi.” Vasu hanya tersenyum, seakan-akan dia memukulkan tinju tangan kanan ke atas telapak tangan kiri dan berkata – Eureka!

Wajah Christine tidak bisa lagi menyembunyikan kekagetannya, dia sendiri disebut sebagai jenius karena mampu melatih teknik Naga Biru Langit sampai tahap nyaris sempurna dalam usia belia, tapi anak laki-laki yang sebaya di hadapannya mampu menemukan mematahkan tekniknya hampir dengan tanpa usaha hanya dengan sebuah variasi teknik yang baru pertama kali dia coba? Ini sulit dipercaya.

“Bersediakah Tuan Muda memberikan saya penjelasan?”

“Hmm… saya hanya menambahkan sekitar satu kuintilion pisau es yang sangat-sangat kecil dalam urutan cakram sejajar pada dinding luar Pelindung Jagad Es, setelah semua permukaan terlapisi dengan cakram berpisau es ini, saya hanya memutarnya secara horizontal di mana lapisan satu dan terdekatnya berputar berlawanan arah.”

“Tapi mengapa saya tidak bisa melihatnya?”

“Saya sendiri juga tidak terlalu paham, namun begitu saja saya memutarkan agak cepat, seluruh realita di sekitarnya akan berakhir. Jadi ini yang menyebabkan tidak ada realita luar yang bisa menyentuhnya.”

“Apa…?” Christine termegap sesaat, seakan-akan dia tidak percaya.

Para ahli, pendekar, penyihir, kesatria seperti halnya Christine memanfaatkan elemen-elemen yang ada di alam untuk bersinergi, dan ketika sinergi ini mencapai puncak, mereka bisa menjadi raja atau ratu yang menguasai elemen mereka. Seperti Christine misalnya, menguasai dua elemen air dan cahaya adalah sesuatu yang membuatnya kelak akan berada di puncak para ahli. Kebanyakan orang hanya bisa menggunakan satu elemen dari entah berapa banyak elemen yang tidak terhingga. Tentu saja Christine bisa menggunakan elemen lain seperti angin, api, atau tanah, namun tidak sebaik ketika menggunakan elemen air dan cahaya, karena dia bukan penguasa dari elemen-elemen lain tersebut.

Tapi seluruh elemen mengikuti hukum yang sama, yaitu keberadaan mereka, dan keberadaan mereka adalah realita bagi mereka. Realita adalah hukum yang sangat kuat, meskipun banyak filsuf yang berpendapat realita kita hanyalah ilusi, namun hingga saat tidak ada yang bisa membantah bahwa elemen membawa realita mereka untuk hadir di jagad fana ini.

Christine bertanya-tanya, bagaimana realita bisa runtuh? Dia tidak percaya, tapi tidak ada penjelasan lain. Tiba-tiba Christine teringat kata-kata gurunya di Bren, bahwa seberapa hebat seseorang selama ia masih mengikuti hukum kausal di dunia yang fana ini, maka paling mampu akan menemukan dirinya di dalam lautan elemen yang tak terbatas. Lalu muncul pertanyaan, apa yang terjadi seandainya seseorang mencapai tepian dari lautan ini? Gurunya hanya tertawa, dan berkata, bagaimana mungkin lautan yang tak terbatas bisa memiliki tepian? Tapi sang guru tidak menyalahkannya. Memang ada catatan kuno di Bren, bahwa ada yang dapat mencapai batas ini, yang bahkan tidak dewata sekali pun bisa mencapainya. Tapi untuk mencapai ini seseorang harus berada di akhir jalan, akhir dari seluruh elemental, yang juga merupakan awal dari semuanya. Catatan kuno itu menyebutnya sebagai “cakrawala elemental”, suatu pencapaian di mana seseorang tidak lagi terikat pada hukum realita yang membangun langit dan bumi, keberadaan orang seperti ini hanyalah mitologi, karena jika dia sampai ada, maka elemen bisa dilahirkan dan dimusnahkan dengan mudah – yang mana bermakna, dia akan sanggup menciptakan dan menghancurkan semesta dengan sekehendak hati. Mitologi ini sendiri mengerikan, apalagi jika membayangkan itu menjadi kenyataan.

Hanya saja, Christine melihat, dan tidak mungkin tidak melihat. Elemennya hilang tak berbekas. Dan kini ia juga mulai memikirkan tentang pagung es apung yang muncul dengan mudah, dan tentang bagaimana Vasu bisa menggunakan elemen api saat melawan pendekar-pendekar dari Serigala Bintang Hitam.

“Nona Rhein…, apakah ada masalah?” Vasu tampak ragu melihat Christine yang jatuh ke dalam lamunan.

“Ah, bukan apa-apa Tuan Muda.” Christine kembali tersenyum. “Maaf, saya hanya sedikit tertegun, mari Tuan Muda…”

Gadis berambut emas itu kembali bersemangat, dia sudah lama tidak merasa seperti ini, seakan-akan dia sedang menantang langit, sesuatu yang tampak begitu dekat, namun sangat jauh. Jantungnya berdetak dengan kencang, seiring ia mulai melayang ke udara dan melepas ratusan anak panah ke arah Vasu, ia tampak seperti malaikat maut yang berparas anggun menari di udara. Christine tahu tidak mungkin menang, namun dalam hatinya dia tidak ingin melepaskan kesempatan ini – pemilik cakrawala elemental, dengan ini aku bisa mengukur seluruh kemampuan dan perkembanganku selama ini – dan dengan demikian, tarian air Naga Biru Langit berubah menjadi semakin ganas.

Kendali Christine akan elemen air dan cahaya menjadi semakin mengagumkan di saat cuaca di sekitar mereka ikut berubah, mendung kelam terbentuk dengan cepat, sementara angin bertiup semakin kencang, satu anak panah bisa berubah menjadi ribuan tembakan salvo yang tidak memberi ruang berkelit – laksana topan yang menyapu apapun di hadapannya.

Vasu bergerak berpindah dengan cepat, langkahnya tidak kalah ringan dibandingkan “Naga Meliuk di Awan” yang digunakan oleh Christine. Kadang ia hanya menghindari hujan anak panah, kadang ia melakukan gerakan menyapu dengan kedua tangan dalam lingkaran besar dan kecil, membuat anak panah jatuh kehilangan energinya. Vasu juga tampak bersemangat, dan senyumnya semakin lebar, seperti anak kecil yang bermain di bawah hujan. Dia tidak tampak kewalahan sama sekali, – Ah, tidak disangka, dulu saat belajar pada Sifu Yang dan Sifu Chen, kupikir ini hanya untuk kesehatan saja, ternyata bisa berguna dalam situasi ini, atau haruskah aku berterima kasih pada Pendeta Zhang Sanfeng? – Anak kecil itu tersenyum kecil seakan berkata, jadi inikah yang disebut sebagai Taijiquan?

Di puncak menara, Flora yang tiba dengan dibopong oleh kakaknya melihat situasi di danau Bulan Sabit dengan duduk di samping gurunya. Sesekali dia melihat langit yang kelam, dan badai yang berkecamuk di bawah, atau sesekali bayangan naga muncul meraung dan kemudian lenyap tak berbekas.

“Guru, aku tahu mereka berdua hebat, terutama sepupu Christine, tapi aku tak menyangka mereka sehebat ini.” Flora tidak bisa menyembunyikan rasa takjubnya.

“Tentu saja, jika kamu juga rajin berlatih, kamu bisa mencapai tingkat mereka saat ini dalam beberapa… hem.. ratus tahun lagi mungkin. Tentu saja gurumu ini akan melatihmu dengan serius, karena guru tidak ingin penerusnya terlalu lemah.”

“Eh…” Flora terkejut, “Aku sebagai penerus? Bukankah lebih baik kakak seperguruan atau Vasu saja?” Flora tahu kemampuannya paling rendah di antara semuanya, tapi juga tahu gurunya tidak main-main dengan kata-katanya.

“Semua kakak seperguruanmu sudah setuju, tidak perlu diperdebatkan lagi. Mengenai Vasu, gurumu ini masih ingin berumur panjang, menjadikan cakrawala elemental sebagai penerus sama saja memancing kecemburuan langit.” sang mahaguru hanya bisa tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.

“Guru, apa itu cakrawala elemental? Apakah ada hubungannya dengan Vasu?”

“Ha ha…, Flora dengarkanlah, kadang tak acuh ada untungnya. Gurumu hanya bisa mengatakan, di masa depan jangan membuat permusuhan dengan Vasu apapun alasannya, karena jika tidak, bahkan jika raja para dewa sendiri yang membantumu, dia juga tidak akan bisa berbuat apa-apa.”

Flora menelan ludahnya, ia tidak yakin apa yang didengarnya baru raja. Bahkan raja para dewa, jangankan raja para dewa, seorang dewa tingkat bawah pun masih jauh di luar bayangan manusia yang paling hebat. Hanya sedikit dalam sejarah manusia yang berani menantang dewata, tapi apa maknanya raja para dewa – suatu kekuatan yang tidak bisa dibayangkan, lalu membandingkan itu, apa Vasu sebenarnya?

Namun, menyingkirkan semua pikiran itu, karena tidak ada gunanya saat ini, Flora hanya berkata, “Guru, mengapa juga membuat masalah dengan Vasu? Paling dia yang lebih membuat masalah, karena itu aku akan menendangnya hingga ke Soma.”

Sang guru hanya tertawa lebih keras, mungkin dia tidak perlu khawatir akan masa depan murid-muridnya.

Sementara itu, pertandingan di danau Bulan Sabit semakin menjadi-jadi, seakan kedua anak tadi belum mencapai puncak aksi mereka. Sementara yang menyaksikan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.

Sebelumnya

Naskah 5 - Nagi dari Samudra Timur

Tepi Danau Bulan Sabit – suara hum hum hum... yang riang terdengar seperti dendangan merdu ... Read more

Selanjutnya

Naskah 7 - Rukh Kalpavriksha

Malam ini adalah malam terakhir Festival Jalan Emas di seluruh Tanah Ema, dan Kota Yoria ... Read more