Naskah 7 – Rukh Kalpavriksha

Malam ini adalah malam terakhir Festival Jalan Emas di seluruh Tanah Ema, dan Kota Yoria pun masih menunjukkan kemeriahan yang menggairahkan. Beberapa sudut jalan dihiasi oleh tarian asap yang berasal dari sisa pembakaran kembang api, dan tentu saja percikan dan letupan kembang api masih bisa ditemukan di mana-mana bersama gelak tawa baik anak-anak hingga orang dewasa.

Sisi jalan kota dipadati oleh pedagang pelbagai jenis makanan dan minuman beserta kudapannya. Aroma manis, rempah, gurih, semuanya berbaur bersama suka cita warga Kota Yoria, terutama mereka yang berpasang-pasangan dengan memilih menggelar alas duduk di bawa benderang Bunga Ema, tentu saja banyak keluarga juga melakukan hal yang sama.

Seorang kakek mengambil empat kembang gula dari salah satu penjual, dia dan penjual bercakap-cakap sejenak sebelum membayar, lalu segera kembali pada tiga anak kecil yang menunggu pada sebuah sampan yang dihiasi lampion warna-warni di tepian sungai Sika. Berdampingan dengan mereka perahu yang lebih besar kadang melintas bersama sampan-sampan kecil. Kadang terdengar suara merdu musik dari perahu yang melintas.

“Lihat mereka…” Si kakek mengarahkan pandangannya untuk menunjuk dua anak perempuan yang asyik duduk di bagian depan sampan sambil menyalakan kembang api silih bergantu, mereka tampak gembira. “Itu yang disebut kanak-kanak, sesuai dengan usia mereka. Tapi, kenapa yang satu ini tidak terlihat seperti anak-anak sama sekali?” Kini ia melirik pada anak laki-laki di belakangnya yang mengenakan wajah datar sambil berdiri mengayuh sampan menyusuri keramaian sungai Sika yang menjadi sunyi ketika terpantul dalam bayang sepasang mata mungilnya.

“Kakek, kita sudah membicarakan hal yang sama berulang kali.” Senyum simpul anak laki-laki dengan nadanya yang ‘dibuat’ kekanak-kanakan akan membuat banyak hati sesak oleh sosoknya yang menggemaskan.

Tapi si kakek hanya mengerutkan dahinya, sambil sesekali melambaikan tangan membalas sapaan orang-orang yang berpapasan dengan sampan mereka.

Rasanya baru kemarin dia menemukan anak laki-laki tersebut di antara puing reruntuhan salah satu desa korban perang di wilayah paling Selatan dari Ema. Dia membawa anak tersebut ke Puncak Benderang dan membesarkannya seperti keluarga sendiri, memberikannya segenap kemampuan dan keahlian yang dia miliki, hingga beberapa tahun lalu setelah tidak ada yang bisa diajarkannya lagi, dia mengutus si anak ke lembah para naga mengunjungi naga terakhir dari zaman keemasan para naga yang masih bertahan hidup – Long. Dia bahkan menggoda apakah si anak bisa mendapatkan salah satu pusaka di sana sebagai ujian baginya, tapi siapa yang menyangka si anak malah membawa kembali senjata pusaka yang pernah digunakan oleh raja naga terakhir di Tanah Ema. Bahkan ketika ia masih muda, Long tidak memberikannya kesempatan banyak saat mengunjungi lembah para naga walau dengan ’embel-embel’ gelar jenius dari Selatan. Tapi si kecil ini, tidak hanya mendapatkan senjata pusaka, namun juga belajar teknik elemen api kebanggaan para naga, tentu saja walau dia tidak tahu, kemungkinan si kecil juga belajar elemen lainnya, karena naga terdiri dari banyak sub-ras yang memiliki elemen unik masing-masing, dan anak ini seperti sumedra tanpa dasar yang bisa melahap teknik, jurus, rapalan atau sihir apapun yang diajarkan.

Kini si kakek paham, dia tidak bisa lagi menahan anak laki-laki tersebut di Puncak Benderang. Jika dia memiliki takdir di Tanah Ema, maka kemungkinan besar tempatnya adalah di luar sana di dunia yang luas. Walau mungkin si kakek belum sadar, takdir kelak menunjukkan bahwa Tanah Ema hanya batu lompatan pertama bagi si kecil.

Sampan mereka lambat laun menuju ke sebuah tempat di tepi Sungai Sika. Sementara dua anak perempuan asyik bercakap-cakap dan menyantap ubi bakar yang hangat dengan lelehan madu di atasnya, si anak laki-laki dengan gerakan lembut di pergelangan tangannya – dia membuat sampan meluncur halus ke tepian sungai, dan berhenti tepat di sisi tempat penambatan perahu.

Berempat mereka turun dari sampan dan berjalan ke salah satu area dengan gerbang besi bermotif lambang khas lima tujuh utama, api, air/es, tanah/bumi, udara/angin, cahaya, kegelapan, dan yang paling misterius eter/akasa dengan ribuan elemen lain mengitari ketujuh elemen utama, gerbang tersebut selebar hampir 100 meter dan setinggi 20 meter, di apit oleh dua pilar tinggi yang masing-masing di atasnya terdapat relief matahari dan bulan.

Vasu sudah berulang kali mengunjungi tempat ini selama berada di Yoria, ini adalah satu-satunya tempat yang bisa meyakinkannya bahwa dia memang berada di ‘dunia yang berbeda’ ketika tahun-tahun pertama tiba di Ema, dan dia bisa belajar bahasa, sastra, budaya untuk segera beradaptasi. Ini adalah perpusatakaan kota Yoria, dan dari sini Vasu juga tahu bahwa seluruh perpustakaan di Ema berada di bawah kendali salah satu perkumpulan paling misterius dan rahasia, mereka menyebut diri mereka “Asosiasi Suara dan Aksara” – ASA, tentu saja kata ‘asosiasi’ hanya sebagai formalitas, karena di jantung kekuatan mereka konon merupakan tujuh orang penyihir legendaris dari tujuh elemen, dan kesemuanya adalah sosok yang misterius, sedangkan sebagian besar tokoh-tokoh di bawah mereka adalah orang-orang atau tepatnya penyihir-penyihir yang eksentrik.

Semua orang tahu, jika mereka bertemu dengan seorang penyihir yang eksentrik dan tampak haus dengan pengetahuan-pengetahuan baru atau kuno, mereka pastilah bagian dari Asosiasi Suara dan Aksara, jika bukan anggota, setidaknya merupakan orang yang masih berhubungan. Meskipun mereka ramah, tapi jika membuat mereka sampai tersinggung, maka mimpi paling buruk dapat menjadi kenyataan. Asosiasi Suara dan Aksara tidak terikat pada pemerintahan mana pun, mereka adalah kelompok netral, namun jika mereka ingin – konon – mereka bahkan bisa bertempur habis-habisan dengan Kekaisaran Bren yang terkenal memiliki kekuatan militer terbesar di seluruh Ema, dan tidak akan ada yang bisa memperkirakan pihak mana yang keluar sebagai pemenang.

Sehingga di satu sisi, memiliki anggota Asosiasi Suara dan Aksara sebagai kenalan dekat mungkin bisa dibanggakan, tapi di sisi lain kadang akan membuat merinding, seperti memiliki seekor naga sebagai tamu di halaman depan rumahmu.

Sayangnya, baik Lutz, Vasu, Flora, maupun Christine, keempat orang ini sangat mengenal baik pimpinan perpustakaan kota Yoria yang merupakan salah satu penyihir eksentrik yang berpengaruh di wilayah Selatan Ema.

Dan sosok itu sekarang sedang berjalan ke arah mereka setelah satu lambaian tongkat sihir di tangan kanannya membuka gerbang besar yang memisahkan mereka. Dia adalah seorang perempuan yang tampak baru saja meninggalkan usia remaja menuju dewasa muda, tapi sudah menjadi rahasia umum usia perempuan ini sebaya dengan mahaguru Puncak Benderang, yang maknanya dia sudah sangat renta! Tapi siapa yang berani memanggilnya ‘nenek’? Tidak ada! Karena itu sama saja seperti mengusik sisik naga.

“Ah, lihatlah ini, siapa lagi kalau bukan si kecil Vasu dan teman-temannya.”

Jelas sekali bahwa perempuan dengan rambut putih mutiara yang dipotong pendek itu hanya berminat pada Vasu. Di matanya bahkan mahaguru sendiri tidak tampak istimewa, hanya seperti peran figuran saja.

“Selama malam ‘sister’ Joanna.” Vasu membalas dengan senyum ramah. Dia tidak terbiasa memanggil dengan sebutan ‘sister’, karena bagaimana pun juga di hadapannya adalah seorang nenek yang berusia nyaris dua ribu tahun, bayangkan, dua ribu tahun! Tapi semua orang memanggilnya demikian, mereka tidak ingin membayangkan akibat dari melalaikan sebutan ini.

Hanya Christine yang tidak demikian, dengan sopan dia tetap menyapa, “Selamat malam Diretur Joanna”.

Wanita yang tampak seperti perempuan muda tersebut adalah pimpinan cabang dari Asosiasi Suara dan Aksara di wilayah Selatan Ema, dan dia memilih menetap di kota kecil Yoria untuk menghabiskan sisa hidupnya dengan tenang.

“Ayo semuanya, aku sudah menunggu kedatangan kalian. Terutama kamu, Vasu. Aku dan kakekmu memiliki sesuatu untuk diberikan padamu.”

Joanna mengantar rombongan masuk ke dalam gedung perpustakaan yang berbentuk seperti kastil tua. Bagian dalam gedung tersebut luar biasa lapang, belasan pilar besar menopang langit-langit setinggi tiga lantai. Ratusan rak buku tersusun rapi di area pusat dan di sekitar dinding, sementara ruang baca ada di antaranya atau pengunjung dapat membaca di sekitar taman. Pada pagi hingga sore, umumnya perpustakaan kota Yoria selalu penuh oleh pengunjung. Bahkan beberapa ada yang memohon izin untuk membaca sampai larut malam karena mereka datang dari tempat atau kota lain yang jauh di wilayah Selatan Ema. Koleksi kepustakaan di sini bisa dikatakan menandingi perpustakaan pusat di sejumlah kerajaan, tentu saja semua itu karena pengaruh seseorang yang menjadi pimpinan di sini.

Flora tampak terkagum-kagum seiring mereka makin masuk ke ruang-ruang terdalam, seakan-akan tempat ini seperti labirin raksasa. Dia termasuk orang yang jarang masuk ke dalam perpustakaan, dia lebih senang mendapat ‘siraman’ ilmu dari gurunya langsung – itu sudah seperti memiliki perpustakaan berjalan, dan gurunya kebetulan sangat memanjakannya, dan hampir selalu membawanya ke pelbagai sudut Ema untuk belajar sesuatu yang baru.

Sementara nona muda Christine juga tidak bisa menyembunyikan kekagumannya. Berbeda dengan sepupunya, Flora, Christine memiliki minat belajar yang tinggi, dia tidak selalu puas dengan apa yang disampaikan para tetua dan gurunya, dia selalu mencari pembandingan dari pelbagai literatur. Sehingga setiap kali mengunjungi sebuah kota, maka perpustakaan setempat adalah tempat yang tidak mungkin ia lewatkan. Tentu saja, dia pernah masuk ke dalam perpustakaan Yoria, namun tidak sampai ruang-ruang terdalam yang tidak semua orang bisa mengaksesnya. Dia tahu, untuk kota sekecil Yoria, maka perpustakaan ini jika dibandingkan dengan kota-kota kecil lainnya, maka akan jelas mana yang merupakan rembulan di langit, dan mana yang lilin kecil di atas bumi.

Sedangkan Vasu? Wajahnya tetap datar, sekitar seratus tahun yang lalu saat pertama kali datang ke tempat ini mungkin ekspresinya seperti anak kecil yang kehausan melihat pajangan es krim di etalase dari luar toko. Hanya saja kini, hampir semua buku telah dibacanya, bahkan ia memiliki beberapa salinan buku yang menurutnya penting, seperti yang berjudul ‘Seribu Cara agar Tidak Mati Mengenaskan di Luar Sana’ yang merupakan pedoman bagi mereka yang hendak melakukan perjalanan dari kota ke kota di tanah Ema dengan melewati rimba penuh bahaya. Jadi sekarang, tidak banyak yang menarik minatnya di sini.

Tidak lama kemudian mereka tiba di ruangan paling dalam, pilar utama di tengah bangunan, menjulang tinggi ke atas dihiasi oleh relief dua naga hitam dan putih yang meliuk di antara relief yang melambangkan pelbagai elemen.

“Tunggu sebentar, biar kubuka dulu pintunya”.

Joanna mengangkat tongkat sihirnya dan mengarahkan ke pilar, dan merapalkan sejumlah mantra sihir yang tidak begitu jelas. Namun Vasu bisa melihat, tujuh buah elemen tampak menggeliat di sekitar pilar, seolah-olah mereka ‘tergelitik’ dan menggerakkan wahananya yang berwujud dua relief naga bergerak ke sisi-sisi pilar, dan membuat sebuah lorong muncul di antaranya.

Tapi sebelum itu selesai, suara kecil memecah keheningan yang sesaat itu. “Direktur Joanna, Anda seorang penyihir heptagon?”

Ketidakpercayaan meliputi wajah Christine, dia sendiri adalah pendekar dual-elemen, meskipun demikian ia masih bisa menggunakan ratusan elemen lain walau tidak baik. Sehingga jika dia disetarakan dengan para penyihir, dia akan menjadi penyihir linier.

Kebanyakan penyihir adalah penyihir dengan elemen utama tunggal, sangat jarang dua, lebih jarang lagi tiga. Penyihir tetragon dan pentagon yang menguasai empat dan lima elemen utama sangat langka. Setiap penambahan satu elemen utama, kekuatan dan potensi seseorang meningkat setidaknya seratus kali lipat. Sedangkan penyihir kelas heksagon hanya muncul beberapa millinea sekali, dengan kekuatan enam elemen utama akan sanggup menempatkan diri di puncak, elit di antara para elit.

Tapi penyihir kelas heptagon, sama sekali tidak pernah terdengar. Satu-satunya alasan kenapa tujuh orang legenda dari Asosiasi Suara dan Aksara tidak ada yang berani mengusik adalah ketika mereka menggabungkan kekuatan, bahkan seorang penyihir heksagon akan kewalahan. Dan konon keberadaan yang mampu membayangi kekuatan mereka adalah penyihir kelas heptagon, yang memiliki sinergi tujuh elemen utama. Dan sekali lagi, keberadaan sosok seperti ini tidak pernah tercatat dalam sejarah, karena jika muncul, tidak ada kekuatan di Ema yang bisa menyentuhnya.

“Mengapa kamu kelihatan keheranan?” Joanna menatap Christine dengan wajah tak acuh. “Kamu pasti sudah tahu, bahwa yang di sebalahmu adalah ‘Cakrawala Elemental’ yang bahkan paling mustahil muncul di muka bumi. Jika dia sampai muncul, apa salahnya kakakmu ini ‘hanya’ seorang penyihir heptagon?”

Vasu tersenyum pahit mendengar dirinya ikut diseret-seret. Dia ingat saat Jonna menghabiskan banyak kristal uji potensi sihir untuk mengukur dirinya di sana lalu, wanita itu nyaris tidak percaya dirinya menemukan mitos berjalan yang hanya pernah didongengkan sebagai ‘cakrawala elemental’. Joanna nyaris gila mencoba memonopoli Vasu sebagai pewaris tunggalnya, karena bakat ‘cakrawala elemental’ sungguh tidak terbayangkan.

Kekuatan inti Asosiasi Suara dan Aksara dapat menyaingi Kekaisaran Bren yang memiliki kekuatan militer terbesar di Ema. Dan Joanna sendiri adalah penyihir heptagon yang dengan mudah bisa mengakhiri kedua kekuatan itu, dan itu adalah kekuatan legendaris tujuh elemen utama. Sedangkan samudra elemental terdiri dari jumlah elemen yang tak terhingga, menguasai seluruhnya adalah kedigjayaan yang melebihi apapun. Namun apa artinya cakrawala elemental? Melampaui batasan samudra elemental, semua batasan menjadi kehilangan batasannya, inilah potensi keberadaan cakrawala elemental.

Mendengar yang disampaikan Joanna, Christine hanya terdiam, dia tahu bahwa masih banyak hal yang tidak diketahuinya tentang dunia di luar perguruannya.

Melihat nona kecil itu menunduk, Joanna menghela napas panjang. “Nona kecil, apa kamu tahu bagaimana mencapai puncak bagi kita semua?”

Tentu saja kita di sini tidak dimaksudkan bagi masyarakat awam, atau penduduk kebanyakan. Namun mereka yang melatih jiwa dan raganya untuk mencapai kesempurnaan.

Kembali Christine hanya terdiam.

Joanna melanjutkan, “Lutz dan aku adalah contoh dua insan yang menempuh jalan yang sangat berbeda. Satunya memusatkan diri menyelami satu elemen hingga ke relung terdalam misterinya, satunya lagi meluaskan harmoninya dengan lebih banyak elemen – namun bagi yang mengenal terlalu banyak elemen, menyelam semakin dalam akan sangat, meskipun seseorang memiliki bakat yang luar biasa, namun karena usia manusia sangat pendek, kita tidak memiliki cukup waktu untuk itu. Sehingga, Nona Christine juga suatu saat akan berada pada percabangan jalan ini, dan harus memilih jalan mana yang akan ditempuh. Hingga saat itu tiba, janganlah mengkhawatirkan apapun juga.”

“Tapi bukankah memiliki lebih banyak elemen utama membuat orang menjadi semakin kuat?”

“Pernahkah kamu mendengar bahwa harimau raja hutan dapat menghadang sekawanan serigala?”

“Ya…” Christine menundukkan kepalanya, tidak lagi bertanya. Tentu saja dia tahu bahwa kekuatan tidak harus muncul dalam rupa yang sama, tidak juga tentang jumlah.

Mereka berjalan masuk ke dalam lorong yang muncul di antara dua naga, dan sebuah tangga spiral di dalamnya membawa mereka berjalan menuju tempat yang tampaknya berada jauh di dalam tanah.

Christine menggunakan bola-bola cahaya untuk menerangi jalan mereka berlima. Bukan masalah mereka akan kesulitan berjalan dalam kegelapan, tapi hanya karena merasa ada yang kurang jika tidak ada penerangan sepanjang perjalanan.

Setelah sekitar setengah jam, dalam perjalanan yang lambat dan hening. Mereka tiba di sebuah ruang bawah tanah yang sangat polos. Vasu melihat ini seperti ruang penyimpanan anggur di tempat asalnya, hanya saja berukuran agak besar, dan agak repot mencapainya.

Saat mereka melangkah masuk ke dalam ruangan, sejumlah batu bercahaya mulai berpendar di langit-langit dan di dinding, membuat semuanya tampak menjadi lebih jelas lagi.

Di tengah ruangan terdapat meja batu bundar, bagian sisi dan atasnya terukir tulisan kuno yang menyiratkan sajak-sajak misterius, ini adalah salah satu jenis segel yang paling kuno yang dimiliki oleh Puncak Benderang. Sehingga ketika melihat segel rahasia tersebut, sepasang mata Flora langsung membesar dipenuhi rasa ingin tahu.

“Ada kisah lama yang hendak kami sampaikan padamu Vasu.” Jonna menatap Vasu dengan lembut, seakan-akan menjadi orang yang berbeda sama sekali. Dia tidak tampak seperti direktur perpustakaan kota Yoria yang terkenal temperamental.

Joanna menatap ke arah Lutz, yang kemudian mengangguk. Dan dia pun memulai kisahnya.

Lebih dari seribu tahun yang lalu, Lutz dan Joanna adalah sepasang petualang yang melanglang buana ke seluruh pelosok Ema. Puncak Benderang belum berdiri kala itu, dan nama Lutz dan Joanna baru melejit sebagai jenius muda. Hingga suatu ketika petualangan mereka membawa mereka ke Lembah Para Naga di Gunung Tienz.

Merek bertemu Long, namun tidak bisa menandingi kehebatan naga purba itu. Tentu saja pada akhirnya mereka saling mengenal satu sama lain, Lutz serta Joanna akhirnya paham misteri berakhirnya era para naga di Eon. Dan yang lebih menarik minat mereka adalah legenda tersembunyi tentang sosok pelindung Ema. Satu orang dengan kekuatan yang bisa memusnakahkan bentuk kehidupan tertinggi dan terkuat di Ludr dengan sekita, yang membuat bahkan para dewata untuk mencari pertolongannya. Lutz dan Joanna merasa jika mereka bisa menemukan rahasia ini, mereka dapat meningkatkan kemampuan mereka.

Sayangnya mereka tidak memiliki banyak pengetahuan tentang legenda tersembunyi ini. Long mengatakan bahwa mereka akan sia-sia saja mencarinya di perpustakaan abadi milik para naga, karena jika para naga sebelumnya memiliki pengetahuan akan sosok yang mengerikan tersebut, ras mereka tidak akan berada dalam ambang kepunahan, dan peradaban mereka tidak akan musnah dari muka Eon.

Lalu mereka memutuskan untuk berkelana ke seluruh Ema, mencari desa-desa paling purba yang mungkin masih bertahan dari awal peradaban pasca era para naga. Mungkin saja mereka masih memiliki petunjuk tentang legenda tersembunyi ini.

Joanna bahkan bergabung dengan Asosiasi Suara dan Aksara untuk mendapatkan petunjuk tentang penemuan arkeologi dari era para naga, karena jika ada yang memiliki petunjuk tentang ini maka hanya asosiasi penyihir penggila buku dan pustaka ini yang paling mungkin untuk itu.

Hingga pada suatu saat setelah lebih dari dua ratus tahun mencari petunjuk, mereka menyeberangi pusat tanah Ema dan melihat sebuah pohon Ema yang aneh. Jika pada hari biasa, mungkin mereka akan melewatkannya, karena tidak ada tanda-tanda peradaban di sana. Tapi itu malam festival Jalan Emas, pohon tersebut bersinar benderang, namun tidak seperti pohon Ema pada umumnya, sinar pohon ini menunjukkan suatu keagungan yang mendalam.

Hanya dengan melihat pohon tersebut bersinar pada bunga-bunganya yang bermekaran, Lutz dan Joanna mendapatkan wawasan yang melimpah mengenai jalan kedigjayaan yang mereka tempuh. Dalam sehari semalam, Joanna yang semula hanya penyihir kelas pentagon melompat kelas menjadi penyihir kelas heptagon – dua lompatan yang tidak pernah terdengar sebelumnya, dan dua lompatan yang jaraknya tidak terbayangkan. Dari sosok penyihir elit biasa, Joanna tiba-tiba menjadi elit di antara para elit.

Lalu pada hari ketiga, kekuatan dan kemampuan dua orang pengelana tersebut masih terus meningkat dan semakin dalam. Mereka duduk bersila, seakan-akan bermeditasi untuk menyerap aura lembayung keemasan dari pohon Ema misterius di hadapan mereka. Hingga sebuah suara membangunkan mereka.

“Kalian berdua, kemarilah, aku telah melihat kalian mencari sesuatu di seluruh Ema-ku. Tapi jawaban bukanlah sesuatu yang kalian harapkan bukan?”

Lutz dan Joanna hanya terdiam, mereka masih sangat muda ketika itu. Tentu saja tujuan akhir mereka adalah meningkatkan kemampuan mereka. Tapi kini, mereka tiba-tiba berada dalam kondisi luar biasa yang bahkan melampaui mimpi mereka, lalu peduli apa dengan jawaban?

“Aku sudah memberikan kalian pengetahuan kuno mengenai apa yang hasrat terdalam dari kedua hati kalian kehendaki. Kini aku ingin meminta bantuan kalian, katakanlah ini merupakan takdir di mana kita dapat bertemu.”

“Sampaikanlah wahai Ruh Agung.” Lutz tidak berani menolak setelah apa yang mereka berdua dapatkan. Dan suara agung ini begitu misterius, bahkan dia menyebut Tanah Ema sebagai ‘Ema-ku’. Jiwa petualang mudanya membisikkannya bahwa dia harus menerima permohonan bantuan ini. Dia tidak tahu siapa pemilik suara tak berwujud tersebut, sehingga memutuskan menyebutnya sebagai Ruh Agung.

“Ada sesuatu yang hendak kutitipkan, Rukh Kalpavriksha namanya” – sebuah kotak bersinar melayang ke tangan Lutz – yang menerima dengan hormat kotak berukuran sebesar sebuah buku tersebut.

“Dengarkanlah baik-baik. Rukh Kalpavriksha akan kalian berikan pada seseorang di masa mendatang, dan dia adalah satu-satunya ‘Cakrawala Elemental’ di Ema-ku. Berikanlah padanya ketika masanya tepat. Dan kalian sepasang suami istri akan tahu kapan waktunya tiba. Dan jika suatu saat terdapat masalah yang bahkan kalian tidak dapat selesaikan, maka ‘Cakrawala Elemental’ itu akan dapat membantu kalian. Ini semua yang hendak kuminta dan kusampaikan, sekarang aku harus pergi.”

Segera suasana menjadi hening, hanya suara alam yang terdengar. Pohon Ema tadi berubah menjadi pohon Ema biasa, seakan-akan tidak pernah ada sesuatu apapun di situ. Lutz dan Joanna saling bertukar pandangan, mereka tidak tahu harus bagaimana. ‘Cakrawala Elemental’ adalah sebuah mitos yang konon berasal dari sebuah teori purba, dan sudah dinyatakan tidak mungkin ada oleh banyak ahli sepanjang peradaban manusia di Tanah Ema. Tapi mereka sudah terlanjur menerima titipan dari Ruh Agung tersebut.

Pada akhirnya, Lutz dan Joanna memutuskan untuk membahas hal ini dengan Long. Dan mereka mutuskan untuk menyegel ‘rahasia’ ini di salah satu tempat paling terpencil di wilayah Selatan Ema, yang jauh dari hingar bingar dunia peperangan. Dan kota kecil Yoria terpilih.

Lutz mendirikan Puncak Benderang, dan teknik Dandelion Beku-nya menjadi ternama di Selatan. Sementara Joanna masuk ke bagian terdalam Asosiasi Suara dan Aksara dan mendirikan perpustakaan di Yoria. Berdua mereka membangun ruang rahasia, dan mengunci ‘rahasia’ mereka di sana.

Oleh karena banyak hal yang terjadi dalam seribu tahun berikutnya di Tanah Ema, mereka nyaris melupakan ‘rahasia’ tersebut, hingga pada suatu ketika, Lutz menemukan Vasu. Dan di sana mereka terkejut, sekaligus gembira luar biasa, bahwa mitos yang mereka kira selama ini mustahil, bisa muncul di hadapan mereka.

Dan Vasu kecil – yang lebih kecil dari usianya saat ini – mendapatkan bimbingan dari dua orang tersebut. Satu yang ahli dalam mengembangkan energi dan elemen di dalam diri seseorang, dan satu lagi ahli memanfaatkan energi dan elemen yang ada di sekitar diri seseorang. Sepasang suami istri pendekar dan penyihir.

Hingga suatu hari, untuk mengetahui apakah saatnya sudah tepat. Mereka mengirim Vasu pada Long untuk diuji. Dan mereka rasa, mereka sudah mendapatkan jawabannya.

“Demikianlah akhir cerita dariku.” Lutz mengakhir ceritanya, dan sepasang tangannya membentuk mudra, diikuti reaksi di sekitar meja bundar yang mulai bercahaya keputihan.

Ketiga anak yang ada di sana bisa melihat sebuah kota kuno yang ada muncul di hadapan mereka. Dan mereka, bisa mengingat kembali istilah ‘Rukh Kapavriksha’ yang baru pertama kali mereka dengar hari itu.

Sebelumnya

Naskah 6 - Cakrawala Elemental

Seorang gadis remaja duduk di sofa dalam sebuah ruang kerja yang dipenuhi dengan buku-buku yang ... Read more

Selanjutnya

Naskah 8 - Bintang Tecemerlang

Seluruh dunia tampak seperti alam yang terselimuti aura putih kental tidak berbatas, tiada sisi atau ... Read more