Seluruh dunia tampak seperti alam yang terselimuti aura putih kental tidak berbatas, tiada sisi atau pusat yang dapat dicerna oleh nalar. Semuanya membuat Vasu terdiam sejenak, dia hanya berdiri di ‘batas antara’ dari aura putih tersebut, di mana bagian bawah beriak seperti perairan yang sangat luas, dan bagian atasnya seperti angkasa yang tidak memiliki ujung.

Apa yang tengah terjadi? Vasu mencoba kembali mengingat-ingat. Baru saja dia berada di sebuah ruang bawah tanah tua bersama sang kakek, direktur balai perpustakaan kota, dan dua lainnya – ya, dua lainnya, Vasu tidak ingin memikirkan itu lebih detail lagi. Tapi kemudian setelah kakek Lutz membuka kotak yang ada di meja dan meletakkan sebuah medali di tangannya, semua terjadi dengan sangat cepat.

Mengapa cepat? Karena ketika medali tersebut jatuh menyentuh telapak tangan mungilnya, ada getaran misterius yang merayap dengan cepat hingga dalam alam batinnya dan berusaha menyeberangi jembatan masuk ke dalam relung sukmanya. Dan dia melihat semua di sekitarnya tampak berhenti, gerakan mata yang terhenti, gerak tubuh yang terhenti, seakan-akan waktu di sekitarnya terhenti. Bukan! Oleh karena dia merupakan ‘cakrawala elemental’, dia bisa melihat bukan waktu di sekitarnya yang berhenti, namun waktu psikologis di dalam dirinya berjalan dengan sangat cepat, persepsinya menjadi begitu cepat sehingga seakan-akan waktu di sekitarnya melambat dan bahkan terhenti.

Namun, belum juga ia bisa memahami lebih jauh, tiba-tiba seluruh alam pandangnya bercahaya, dan dia terdampar di sebuah alam yang dia sendiri tidak tahu di mana ia sedang berdiri.

“Ini…” Vasu ragu-ragu sesaat, namun suara lain segera menegurnya.

“Ah, setelah sekian lama, ada juga anak manusia yang dapat sampai ke sini. Bocah…, terima kasih.”

Suara itu bergema, tidak hanya ada satu suara saja, tapi terdengar seperti kumpulan suara dari banyak ratusan atau ribuan mulut secara bersamaan, suara mereka yang laki-laki dan perempuan, suara anak-anak dan dewasa atau tua, semua suara tersebut menyatu dan memberi kesan keramahan nan agung.

“Maaf, siapakah gerangan Anda sekalian?”

Vasu tidak yakin apa yang sedang terjadi, sehingga ia mulai mencari tahu dengan cara yang paling sederhana – bertanya!

“Kami ada yang banyak, dan kami juga adalah yang satu, kami tak memiliki nama, tapi yang membawamu ke tempat ini, menyebut kami dengan sebutan Rukh Kalpavriksha. Bocah, kamu dapat memanggil kami dengan sebutan apapun.”

“Jika demikian, akan kusebut dengan – Rukhal.” Vasu seperti tak pernah kesulitan memikirkan nama, terutama yang tak wajar di telinga, seperti nama ‘Ikcr’ sebelumnya. Tampaknya, Vasu benar-benar meresapi sebuah karya tulis kuno dengan petikkan khasnya, ‘apalah arti sebuah nama’.

“Itu terdengar baik.”

Dan kali ini pihak yang diberikan nama tampaknya tidak akan protes.

“Tapi, aku masih sulit mencerna apa yang Rukhal katakan, karena begitu banyak yang berbicara bersamaan, dapatkah kamu hanya menggunakan suara tunggal.”

“Suara yang mana yang kamu kehendaki?”

Vasu terdiam sebentar, menimang-nimang sejenak sebelum memilih, “Suara merdu laksana bidadari di kahyangan ketujuh.”

“Permintaanmu terpenuhi.” Sebuah suara lembut namun renyah menjadwabnya. Suara ini terdengar sangat dalam, namun jernih, membuat Vasu teringat bahwa hanya satu orang yang pernah memberikannya kesan suara seperti ini, bagai suara bidadari yang turun ke alam mayapada hanya untuk berbincang dengannya – hanya saja pemilik suara tersebut tidak berada di dunia ini, namun di tempat asalnya.

“Terima kasih.” Vasu tersenyum, namun hanya kehampaan seputih susu di hadapannya. Bukan dia berkeberatan dengan pemandangan ini, hanya saja terasa ada yang kurang baginya.

“Kami percaya kamu memiliki banyak pertanyaan di dalam kepalamu.”

“Ya, bahkan mungkin terlalu banyak.” Memang benar Vasu memiliki banyak pertanyaan, seperti siapa yang sedang dia ajak bicara, hingga bagaimana dia bisa sampai di tempat yang misterius ini.

“Lalu, apa yang kamu tunggu? Tanyakanlah, kita tidak memiliki waktu yang panjang di sini, setidaknya tidak kali ini.”

Vasu hanya menggelengkan kepalanya, dia bahkan tidak tahu siapa yang dia ajak bicara. Lalu sesuatu terlintas di dalam benaknya. “Mengapa Rukhal tidak menampak diri, jika berbincang seperti ini, aku tidak akan merasa nyaman.”

Vasu merasa, tidak ada yang akan bisa tetap waras untuk jangka waktu yang panjang jika dia terus menurus berbincang dengan suara tanpa rupa.

Tiba-tiba, semburat cahaya keemasan muncul di depan Vasu, hanya sekitar lima langkah darinya. Bola cahaya terbentuk dan jatuh ke batas antara dua ruang putih melintang di hadapannya. Bola cahaya tersebut berpendar, dan kemudian tiba-tiba sebuah tunas muncul di atasnya. Dan apa yang terjadi berikutnya membuat Vasu kaget, atau lebih tepatnya takjub. Tunas bercahaya keemasan itu tumbuh semakin besar, bercabang-cabang seperti sebuah pohon yang tiba-tiba tumbuh besar. Bukan seperti! Tapi itu memang sebuah pohon yang menyala keemasan tumbuh dengan cepat, dan dalam sepuluh tarikan napas sudah mencapai tinggi bangunan tujuh lantai.

Batangnya membelah menjadi sepuluh dahan yang secara seimbang dan simetri menyebar ke sepuluh arah, di tengah-tengah mereka terbentuk sebuah ruang kosong menyerupai sangkar raksasa yang terlindung oleh anyaman cabang-cabang ranting, dan di atasnya seolah-olah anyaman daun-daun bercahaya menjadi atap yang begitu indah. Pada akhirnya, di tengah-tengah pohon bersinar tersebut terdapat sebuah pondok sederhana yang cemerlang.

Kini Vasu mulai dapat memahami sedikit, mengapa nama ‘Kalpavriksha’ diberikan padanya.

“Masuklah…” suara tersebut datang dari dalam pondok bercahaya di hadapan Vasu, dan sebuah pintu terbuka.

Vasu melayang masuk ke dalam pondok, di dalamnya ia melihat sebuah ruangan sederhana termasuk sebuah meja bundar seperti dan kursi duduk di sekitarnya. Cangkir dan teko teh yang mengepul ada di atas meja. Dapur sederhana tidak jauh dari situ. Di seberangnya terdapat pojok yang dipadati rak buku, dan sebuah kursi malas di dekatnya. Tidak jauh di depan kursi malas, sebuah perapian kecil menyala dengan api ungu yang lembut.

Tapi tentu saja yang paling menjadi perhatian Vasu adalah sosok wanita yang berdiri di tengah-tengah ruangan dengan senyum yang begitu memikat. Ia tampak dewasa dengan tubuh semampai setinggi hampir dua meter, mengenakan gaun putih panjang yang memperlihatkan keanggunan dan penampilan yang sempurna. Wajah putih yang cerah dengan mata yang tajam dan iris keunguan, seperti mata yang bisa menembus ke dalam setiap sukma yang ditatapnya. Dan ketika berada di dekatnya, Vasu bisa merasakan aroma kesegaran hutan, savana, dan padang bunga bercambur melebur ke dalam sanubarinya – membuatnya merasa sangat nyaman.

“Selamat datang Vasu-kecil, kuharap sekarang kamu merasa nyaman, dan kuharap aku sudah tampil seperti apa yang kamu inginkan.”

“Ah…” Vasu terbangun dari lamunannya, suara itu, dan perasaan yang dia rasakan saat ini, di masa lalu hanya ada satu orang yang memberikannya perasaan ini. “Terima kasih…” Vasu hanya dapat tersenyum kecil.

“Ayo, duduklah.” Wanita yang merupakan perwujudan sosok yang diberi nama Rukhal oleh Vasu menawarkan kursi di dekat meja bundar.

Vasu duduk di sana, dan menerima secangkir teh yang dituangkan ke gelasnya. Dia melihat ke arah wanita itu, dan bertanya, “Apakah ini benar-benar terjadi?”. Vasu tahu, bahwa saat ini ia tidak bisa menentukan, apakah ia berada di alam nyata, atau sebuah dimensi di dalam pikirannya. Atau setidaknya, orang akan berpikir bahwa mereka ada di alam nyata yang aneh, namun Vasu merasakan sesuatu yang mengatakan bahwa ia mungkin sedang bermimpi – sebuah mimpi yang terasa sangat nyata.

“Menurutmu sendiri? Apakah ini benar-benar terjadi?” Rukhal memberikannya senyuman manis yang menggoda.

“Entahlah, aku tidak yakin. Aku tidak yakin jika sedang berada di alam nyata.”

“Menurutmu, di mana kita saat ini berada?”

Vasu melihat sejenak ke arah jendela kayu, di luar sana di balik rerimbuhan dahan yang bercahaya, sejauh mata memandang adalah dunia putih tanpa batas. Atau mungkin memiliki batas, hanya saja batas tersebut juga memancarkan cahaya putih.

“Aku tidak tahu di mana kita berada, ini hanya tampak seperti ‘Kshir Sagar’ – tapi juga rasanya bukan.”

Rukhal menatap Vasu dengan lembut, “Memang, tempat ini terlalu tenang jika disebut sebagai lautan kosmis di mana seluruh alam semesta berasal. Tapi, untuk bisa menyebut nama lautan susu, aku akan memberikanmu pujian. Seperti seluruh semesta, alam semesta ini di mana Eon berada, dan alam semesta tempatmu berasal di mana Bumi berada, semuanya berasal dari Ksiroda, dari Keberadaan Agung yang tiada berawal dan tiada berakhir. Seperti halnya juga aku, berasal dari tempat yang sama. Dan mungkin karena aku merindukan – apa yang dapat kusebut kampung halaman – aku membangun dimensi ini menyerupainya, tapi bagaimana pun aku membentuknnya, dimensi ini tidak pernah sama seperti ‘Kshir Sagar’ itu.”

Vasu bisa melihat semburat eskpresi kesepian di wajah Rukhal. Ia ingin mengatakan sesuatu, namun Rukhal lebih dahulu melanjutkan kata-katanya.

“Tapi kita tidak akan membahas itu, waktu kita tidak banyak. Aku menunggu sudah sejak lama, untuk seseorang datang ke sini. Mereka yang dipilih Ema sebelumnya tidak ada yang mencapai tempat ini. Atau lebih tepat dikatakan, Ema tidak mengizinkan mereka mencapai tempatku ini, karena hanya Ema yang bisa membuka kunci ke dimensi ini.”

“Rukhal, kamu bilang, bahwa aku dipilih oleh Ema?”

“Tentu saja, apa kamu tidak percaya?”

Vasu menunduk dan menyeruput kembali teh di cangkirnya, suasana di dalam pondok tersebut sangat tenang, ada banyak hal yang ingin ditanyakannya – tapi rasanya semua menjadi bukan sesuatu yang mendesak. “Aku hanya mendengar legenda, atau mungkin bagi sebagian orang hanya mitos, tapi itu semua benar?”

“Cakrawala elemental adalah buktinya.” Rukhal berjalan menuju jendela dan memandang ke kejauhan yang tak terhingga. “Di alam semesta ini, jika ada yang bisa mengenali lahirnya cakrawala elemental adalah Ema, yang pernah menjadi bintang tecemerlang di seluruh jagad raya.”

“Bintang…, apa itu seperti sosok atau tokoh yang terkenal, dan dipuja banyak orang?” Vasu terbayang dengan sejumlah ‘bintang’ yang biasanya muncul di layar televisi di dunia asalnya.

Rukhal melepas tawa lebar, “Ha ha ha…, terkenal? Dipuja?” Tapi kemudian senyumnya berubah pahit. “Mungkin dia dipuja, dan mungkin tidak ada yang tidak mengenalnya kecuali bentuk kehidupan yang terpencil seperti di Eon. Tapi yang kumaksud bintang, adalah bintang dalam arti sesungguhnya, seperti saat kamu melihat langit di malam hari. Atau yang paling cemerlang di siang hari sebagai bintang yang paling terdekat.”

“…”

“Kenapa? Apa kamu pikir bintang bukanlah bentuk kehidupan? Apa kamu tidak pernah mendengar ada kebudayaan atau kiasan yang menyebutkan bahwa setelah seseorang meninggal akan menjadi bintang di langit?”

“Apa… itu benar?” Vasu menatap tajam wanita di depannya, ini sudah kesekian kalinya dia dibuat bertanya – apakah itu benar, karena belum pernah selama ini dia kehilangan kata-kata. Orang bisa menyebutnya sebagai kutu buku, Vasu selalu memiliki banyak hal untuk bisa diungkapkan, walau kebanyakan waktu dia hanya suka diam saja.

“Mungkin iya, mungkin juga tidak. Reinkarnasi bisa menjadi sesuatu yang nyata, juga bisa menjadi sesuatu yang hampa. Sukma atau jiwa sebuah bentuk kehidupan dibentuk oleh benih jiwa, salah satu bentuk energi paling murni, dan kemudian terdapat bentuk energi yang lembut yang dekat dengan benih ini, membentuk banyak unsur, di antaranya seperti ingatan, keinginan, pikiran, batin, dan sebagian membentuk ruh. Sedangkan unsur-unsur energi yang tidak murni dan juga tidak lembut tunduk berkumpul dalam harmoni dan hukum mereka masing-masing, mereka membentuk tubuh dari setiap bentuk kehidupan, tanah, perairan, udara, hingga partikel-partikel terkecil di seluruh alam semesta; dan bentuk ini dikenal sebagai elemental mereka adalah energi yang mewujud yang dapat diamati dengan mudah – tentu saja mudah di sini menjadi relatif bagi setiap bentuk kehidupan.”

Vasu hanya mengangguk, sampai sejauh ini dia masih bisa mencerna sebagian penjelasan Rukhal.

“Benih sukma bisa dikatakan abadi, setidaknya itu yang dipercaya oleh kebanyakan literatur…”

“Tunggu dulu, literatur mana yang mengatakan hal tersebut, aku tidak pernah membacanya.” Vasu mulai berpikir, perpustakaan mana yang harus dia bongkar kali ini.

“Hmm…, anak bodoh, ini bukan literatur seperti buku yang bisa kamu ambil di sembarang tempat, namun catatan yang ditinggalkan sebagai jejak di seluruh alam semesta. Tanpa memahami alam semesta, seseorang tidak akan bisa menemukan jejak catatan ini.”

“Ah…” Vasu menunduk lemas, ini seperti di luar jangkauannya.

“Aku mengatakan dipercaya, karena hal ini tidak bisa dibuktikan.”

“Bagaimana mungkin?”

“Benih sukma adalah energi yang paling murni, dikatakan mengisi seluruh alam semesta, bahkan membentuk alam semesta, dan abadi – secara teori. Tapi bentuk energi lembut yang tidak terlalu murni yang membentuk batin, pikiran, dan ruh yang kita gunakan untuk berkomunikasi dan mencerna informasi saat ini adalah bentuk yang tidak abadi, selalu berubah, tidak murni, dan sangat terbatas bahkan terkotak-kotak antara satu bentuk kehidupan dan bentuk kehidupan lainnya. Jadi apa yang dialami dan menjadi kesadaran batin dari satu orang belum tentu sesuatu yang sama bagi orang lainnya. Sampai saat ini, tidak ada bagian dari energi lembut – pikiran, atau akal – yang bisa menyampaikan dengan tepat bagaimana bentuk energi murni – benih jiwa.”

“Sama sekali tidak ada?”

“Tentu saja ada, apa kamu pikir energi lembut tidak bisa mencapai energi yang murni? Apa kamu berpikir kita tidak bisa menghilangkan garam dari air laut sehingga ketika dicampur dengan air tawar rasanya tidak menjadi asin?”

“Oh…, jadi apa benih sukma ini bisa dijangkau.”

“Duh, memberi tahumu tidak akan membuatmu memahaminya. Kita sudah menyimpang jauh dari pembicaraan awal. Mari kita kembali pada topik kita.”

Vasu hanya mengangguk, dan dia tidak tahu bagaimana bisa kisah tentang Ema menjalar ke arah energi dan elemen yang peling ini.

“Jika benih jiwa kebetulan hadir di sebuah bintang, termasuk planet, dia akan melekat pada kehidupan di dalamnya, seperti kamu yang lahir di tempat asalmu, yang mana memberikanmu hidup. Namun ada benih jiwa yang kemudian menjadi inti kehidupan dari benda-benda di angkasa, termasuk bintang. Suatu saat di masa lalu, sebuah benih sukma memberikan kehidupan pada energi lembut yang paling cemerlang di pusat jagad raya, dan dari situ lahirlah Ema, sebuah bintang tecemerlang. Itulah awal, dan akhir cerita kita.”

“Apa…!?” Vasu ingin berkata, apa hanya itu? Namun lawan bicaranya sudah membalik cangkir tehnya.

“Kali ini, hanya sampai di sini. Kita akan memiliki banyak waktu suatu saat nanti.”

Mereka melangkah ke luar pondok pohon yang bercahaya itu. Lalu Rukhal meniupkan napas lembus ke arah dasar di mana akar-akar pohon bercahaya itu tertanam. Seketika seluruh warna putih susu pudar, digantikan oleh kegelapan pekat, hanya ada mereka dan pohon yang bercahaya.

Namun perlahan-lahan, mata Vasu mulai menyesuaikan, dia melihat cahaya demi cahaya bermunculan, seperti kunang-kunang yang muncul dari balik ilalang malam. Tapi kemudian Vasu menyadari, mereka bukan kunang-kunang, di Tanah Ema mungkin gambaran yang terbentang di hadapannya mungkin tidak bisa ditemukan, namun di Bumi di era teknologi, gambaran ini sudah ada sejak masa lampau. Hamparan nebula yang tidak terhingga dan mungkin jutaan galaksi yang mengisi jagad yang tadinya gulita.

“Ini adalah jagad raya yang kukenal.” Rukhal memandang ke arah hamparan nebula itu dengan tenang. “Namun hanya satu dari sekian banyak jaga raya yang pernah kusinggahi. Satu dari banyak semesta yang ada. Dan di satu semesta ini aku bertemu dengan anak itu, dan pertemuan itu mengubah hidupku. Jika bukan karena sesuatu hal terjadi di masa lampau, kami mungkin masih ada bersama dan bahagia, tapi tidak ada yang abadi. Aku tidak akan bercerita tentang masa lalu, namun aku ingin meminta sesuatu, karena Ema telah memanggil dan memilihmu, maka itu bermakna hanya kamulah harapan kami. Maafkan kami jika memanggilmu ke dunia yang asing ini, dan kami tidak bisa menjanjikan apapun, tapi aku sendiri berharap kamu bisa membantu kami.”

Dengan menekuk sedikit lutut, Rukhal menunduk di hadapan Vasu – seperti seseorang yang berada di ambang keputusasaan.

“Aku akan membantu.” Vasu tidak perlu mempertimbangkan apapun. “Tapi boleh kutahu, mengapa aku?”

“Ema adalah bintang, bentuk kehidupan tertinggi di antara elemen, yang tecemerlang di antara energi yang berwujud. Dan aku adalah Kalpavriskha, setiap Kalpavriksha lahir untuk mengabulkan permohonan, setiap bentuk dari energi yang lembut dapat terpenuhi. Apakah kamu pernah menemui seseorang yang berkuasa atas dua wujud energi ini namun tidak terlalu peduli akan hal itu?”

Vasu kali ini terdiam, dia tidak pernah bertemu orang hebat seperti itu. “Tidak, tidak pernah kurasa?”

“Mengapa tidak pernah?”

“Aku tidak terlalu peduli.” Vasu merasa dia bahkan tidak tahu konsep itu sebelumnya, dan jika pun dia tahu, dia merasa tidak akan terlalu memikirkannya.

Rukhal tersenyum, “Lihatlah, kamu baru saja menjawab pertanyaanmu sendiri. Sekarang aku harus pergi.”

“Tunggu sebentar Rukhal, kamu belum memberi tahu bantuan apa yang kalian perlukan?”

“Ingatlah bagaimana orang-orang menyebut bintang tecemerlang di langit malam.” Rukhal menunduk, dan memberikan kecupan ringan di bibir mungil Vasu, dan dia tersenyum lembut pada bocah laki-laki itu.

Dengan senyum terakhir itu, segala sesuatu di hadapan Vasu menjadi redup dan kemudian lenyap. Vasu memejamkan mata, dan sesaat setelah membuka kedua matanya, dia sudah berada kembali di ruang bawah tanah bersama yang lain, dengan sebuah kotak kosong terbuka di hadapannya – dan sebuah tanda tanya besar di dalam kepalanya.

Sebelumnya

Naskah 7 - Rukh Kalpavriksha

Malam ini adalah malam terakhir Festival Jalan Emas di seluruh Tanah Ema, dan Kota Yoria pun masih menunjukkan kemeriahan yang menggairahkan. Beberapa sudut jalan dihiasi oleh tarian asap yang berasal dari sisa pembakaran kembang api, dan tentu saja percikan dan ... Read more

Selanjutnya

Naskah 9 - Menuju Dunia Membentang

Sejauh mata memandang adalah hamparan hutan pinus hampir seluas seribu kilometer persegi dan dikelilingi oleh hutan subtropis yang membentang hingga ke cakrawala. Di tengah hutan punius, terdapat sebuah bukit yang hanya ditumbuhi oleh tumbuhan perdu, terkecuali di puncak bukit terdapat ... Read more