Sejauh mata memandang adalah hamparan hutan pinus hampir seluas seribu kilometer persegi dan dikelilingi oleh hutan subtropis yang membentang hingga ke cakrawala. Di tengah hutan punius, terdapat sebuah bukit yang hanya ditumbuhi oleh tumbuhan perdu, terkecuali di puncak bukit terdapat sebuah pohon pinus besar menjulang ke langit – seakan menyerukan bahwa ia adalah raja yang bernaung di bawah langit atas semua pepohonan di sekitarnya.

Di bawah sang raja pohon, terdapat batu pualam besar kecokelatan dengan permukaan datar. Dan di atasnya duduk bersila sosok anak kecil dengan mengenakan jubah abu-abu muda berlengan panjang. Matanya tertutup menghadap ufuk Timur yang mulai menggeliat warna jingga pertanda matahari segera terbit di batas cakrawala yang hijau.

Anak kecil ini adalah Vasu, gurat wajahnya tampak tenang – tidak tampak seperti anak kecil sama sekali. Kedua tangannya berada di atas lutut membuntuk mudra Vishnu. Napasnya teratur, dan ini adalah aktivitas rutinnya setiap pagi, menyelaraskan aliran prana secara bergantian melalui nadi ida dan pingala, dan membersihkan sushuma. Meski pun Vasu tidak terlalu peduli, namun selama dia masih bernapas, maka selama itu sthula sarira-nya masih terikat dengan lingkaran karma, dan karena itu dia masih harus menjaga tubuhnya dengan sebaik mungkin.

Aliran prana yang hangat di sisi pingala – kanan, bergantian dengan yang sejuk di di sisi ida – kiri, mengalir dengan harmoni di dalam tubuh Vasu. Baginya ini sudah cukup baik untuk menjaga daya hidup tubuhnya. Ketika sebuah prana vayu sudah ‘hidup’ di dalam tubuh seseorang, maka keempat sisanya akan mengikuti.

Perlahan matahari terbit di ufuk Timur, sinarnya cemerlang seperti memberi energi ke seluruh planet. Vasu membuka matanya perlahan-lahan, dan sinar matahari tanpa segan menerobos masuk ke dalam dua bola mata kecil itu, seakan mereka dipanggil untuk itu.

Vasu menarik napas panjang, vayu prana – energi kehidupan – langsung membludak masuk melalui pingala dan ida, kemudian mengisi seluruh tiga ratus lima puluh ribu nadi di dalam tubuhnya dan membuat mereka mengembang hampir dua hingga tiga kali lipat. Setelah beberapa saat Vasu kedua tangan Vasu membentuk mudra vayu apana dan dia menghembuskan napas melalui mulut, seketika bersama bergeraknya vayu apana di dalam tubuhnya, napas panas keluar bersama dengan uap putih yang jernih – ini menandakan tubuh Vasu cukup bersih, mungkin karena dia hampir selalu mempraktikan ini selama ratusan tahun.

Membersihkan nadi adalah teknik yang dipelajari Vasu sebelum ia mengenal dunia Eon. Ketika menjadi bagian dari rombongan pengungsi, seorang nenek tua mengajarkan anak-anak di pengungsian teknik ini untuk menjaga kesehatan raga dan batin mereka.

Vasu kemudian menemukan banyak teknik lainnya, yang bisa dikatakan teknik lanjutan, namun tetap saja setiap pagi yang tidak pernah ia lewatkan adalah ‘olahraga’ dan ‘olahbatin’ yang ringan ini. Jika dia memiliki cukup waktu, dia akan mulai mengayunkan pedang dan membuat vayu samana dan vayu vyana ‘menari’ di dalam tubuhnya.

 

Beberapa saat kemudian, Vasu meluruskan kakinya dan menyandarkan tubuhnya dengan santai di batang si raja pohon. Udara pagi yang segar membalut tubuh dan kesadarannya, langit yang biru terang membuat energi dalam tubuhnya berjingkrak – seakan berkata mereka siap untuk hari yang baru.

“Bos, belakangan ini sepertinya kemampuanmu terbang hingga langit ke tujuh.” – sebuah suara masuk ke dalam batin Vasu diiringi oleh tawa cekikikan.

“Entahlah, sepertinya memang terasa demikian.”

Vasu menilai Eon memiliki tahapan olahdiri yang lebih tinggi dibandingkan di Bumi. Misalnya para praktisi bela diri di Bumi memiliki tingkatan tertentu untuk menilai posisi dan pencapaian mereka dibandingkan dengan praktisi lainnya, misalnya saja dari ‘kyu’ hingga ‘dan’ atau dari obi putih hingga obi merah bisa dijatikan rujukan pencapaian.

Di Bumi jika seseorang biasa bertemu dengan praktisi tahapan ‘dan’ atau setingkat, bisa dikatakan seperti langit dan bumi bertemu. Tapi di Eon, praktisi setara ‘dan’ hanya bisa dinilai sebagai tingkat ‘dasa bala’ hingga ‘sata bala’ – memiliki kemampuan seperti sepuluh hingga seratus orang. Namun bagaimana mengukur pencapaian seorang mahaguru? Dia mungkin sudah mencapai tingkatan ‘niyuta bala’ – sejuta pasukan bersenjata lengkap.

Jika di Bumi, Vasu mungkin berada di daftar para elit dengan kemampuan sekitar sapta dasa bala, sekitar tujuh puluh kali kemampuan orang pada umumnya. Ini adalah kekuatan fisik Vasu yang standar dan di Eon ini hanya cukup untuk diterima di sebuah perguruan kecil. Di mana ‘sata bala’ menjadi batas seorang murid pemula seperti di Puncak Benderang – mereka akan masuk kelas Nirta.

Tapi jika seseorang memiliki kekuatan sepuluh hingga seratus kali dari kelas Nirta, atau sekitar ‘sahasra bala’ hingga ‘ayuta bala’ – maka orang ini bisa masuk kelas para murid Madya. Sedangkan murid utama akan sangat gila, memiliki kemampuan sekitar beberapa kali ‘ayuta bala’ hingga beberapa ‘laksa bala’ – mereka sangat mengerikan dan sudah bisa menjadi seorang instruktur sebuah perguruan. Hanya beberapa yang menjadi golongan dengan kekuatan ‘niyuta bala’ akan menjadi sosok seperti mahaguru, dikagumi dan dihormati.

Kekuatan fisik atau bala shakti bukan segala-galanya di Eon, karena kelompok lain seperti Asosiasi Suara dan Aksara sama sekali tidak didominasi oleh mereka yang memiliki kekuatan fisik, namun kekuatan batin yang dalam. Kekuatan ini dikenal sebagai hrdaya shakti, dan salah satu yang paling menonjol dari penerapan hrdaya shakti adalah mantrika shakti– penggunaan mantra untuk mewujudkan imajinasi pelafalnya.

Jika pun ada yang memiliki kekuatan fisik seratus orang, ketika menantang lawan dengan kekuatan batin yang tinggi, maka dengan mudah lawan bisa menghasilkan bola api atau badai topan dengan merapal rangkaian mantra tertentu yang bisa memenangkan pertempuran dengan mudah.

Menurut buku dan gulungan di perpustakaan perguran Puncak Benderang, mereka dengan kekuatan batin digolongan dengan lebih sederhana, yaitu sukma besi, perunggu, perak, dan sukma emas. Mereka yang berada di sukma besi akan memiliki peluang sama tangguh ketika berhadapan dengan yang memiliki kekuatan ‘sata bala’ – seratus orang; sukma perunggu setara dengan ‘ayuta bala’ – sepuluh ribu pasukan; sukma perak setara dengan ‘niyuta bala’ – sejuta pasukan; sedangkan melampaui semua itu, seseorang bisa mencapai sukma emas dengan kesetaraan ‘sanku bala’ – satu triliun pasukan tempur. Namun tentu saja, tidak pernah ada dalam sejarah yang mencapai tingkat ini, semua pendekar, penyihir dan sebagainya – jika bisa mencapai kesetaraan dengan tingkat ‘niyuta bala’ sudah menjadi sosok yang bagai dewa dewi, sakti mandraguna – dapat mendatangkan awan dan badai, membalik isi lautan dan memindah gunung. Tidak ada yang bisa membayangkan tingkat ‘sanku bala’ seperti apa, namun dari pengalaman dan wawasan – banyak ahli tingkat elit di Eon percaya bahwa keberadaan sanku bala tidak mustahil ada.

Vasu sendiri memiliki manifestasi cakrawala elemental di dalam batinya, jadi dia tahu apa artinya sebuah keberadaan yang bahkan melampaui ‘sanku bala’.

Jika Vasu menutup jalur hrdaya ke dalam dimensi cakrawala elemental, maka ia hanya memiliki kemampuan sedikit di bawah ‘sata dala’, namun jika jalur ini dibiarkan terbuka – maka ia adalah legenda hidup di atas Tanah Ema, bahkan mungkin seluruh Eon.

Hanya saja, diperlukan tubuh jasmani yang kuat untuk mendukung energi batin yang melimpah. Jika tidak, maka dampak mengerikan bisa terjadi pada tubuhnya. Vasu sudah merasakan ini saat bertarung dengan orang-orang dari sekte Serigala Bintang Hitam. Jika dia memperpanjang periode pertarungan, maka bisa jadi keadaan akan terbalik.

Tubuhnya yang hanya berkemampuan sedikit di bawah ‘sata bala’ hanya bisa menahan beban kekuatan batin sekelas sukma tembaga, untuk pertarungan dengan sesama kelas murid utama, dia masih bisa setara atau bahkan berada di atas rata-rata dengan mudah. Tapi ketika berhadapan dengan sekelas ‘mahaguru’ Lutz, atau penyihir heptagon seperti seperti ‘Kak’ Joanna – maka Vasu tidak bisa berharap menang dari sepasang suami istri itu.

“Masih jauh Ikcr… masih jauh…” Vasu menggelengkan kepala – targetnya saat ini menjadi meningkatkan kekuatan fisiknya.

Selama Vasu masih bisa memperkuat tubuhnya dengan menggunakan prana – energi kehidupan yang dia serap dari alam di sekitarnya, ia bisa memperkuat tubuhnya secara bertahap dengan cepat dan sekaligus mempertajam batinya sehingga bisa memanfaatkan cakrawala elemental dengan lebih baik.

 

“Hmm … Bos…” Suara batin itu kembali tampak ragu, sebelum melanjutkan, “Kurasa kita mendapat masalah…”

“Masalah apa…?”

“Ada kadal purba raksasa yang datang ke arah kita…, dan tampaknya dia sedang sangat marah.”

Dengan kata-kata itu, Ikrc menghilang menjadi sekelebat cahaya dan masuk ke dalam tubuh Vasu.

Vasu memerhatikan sekelilingnya, pemandangan suasana yang tenang berakhir saat tatapannya mengarah ke cakrawala di Selatan. Seberkas cahaya biru langit bergerak cepat menuju arahnya. Vasu bisa merasakan gelombang aura cahaya itu telah sampai menerpa ke arahnya, terasa semakin kuat dan ganas – Vasu tidak habis pikir jika efek Doppler juga bisa diterapkan pada aura tempur.

Dan tiba-tiba sebuah suara menggelegar di atas puncak tempat Vasu berada…

“KAMU…! Diam di tempat!!!”

Itu adalah ‘mantra suara kilat’ – digunakan untuk mengirim pesan jarak jauh. Namun biasanya digunakan untuk kegiatan mengintai atau memata-matai dengan frekuensi suara rendah yang nyaris terdengar seperti berbisik. Tapi kali ini justru digunakan jauh dari kebiasaan.

“Apa…?” Vasu kaget, namun tidak beranjak. Wajahnya memperlihatkan ekspresi bodoh yang tidak paham maksud pesan itu.

Sekitar lima kali siklus napas, cahaya biru langit itu tiba di puncak bukit si raja pohon, wujudnya adalah naga air biru langit – yang kebetulan tidak bisa disangkal sebagai salah satu ‘kadal purba’. Tentu saja, di seluruh Tanah Ema hanya satu orang yang memiliki naga air seperti itu – maksudnya naga dengan kepangan? Tentu saja hanya orang itu, atau tepatnya anak itu, yang sedang berdiri di atas kepala naga dengan jubah biru langit yang melambai anggun dengan rambut keemasannya di terpa angin.

Anak itu tidak lain adalah nona muda Christine yang tampak tersenyum ramah memandang dari, namun dengan aura gelap yang membuat Vasu agak merinding melihatnya. – Apa aku ada melakukan kesalahan? – tanya anak laki-laki malang tersebut dalam hati.

Tapi jawaban yang datang dari langit adalah… “Mengapa kamu pergi tanpaku?”

“Ah…, benarkah?”

 

Mari kita lihat ke belakang sekitar dua hari sebelumnya. Setelah keluar dari ruang bawah tanah, Lutz dan Joanna meninggalkan Vasu, Flora dan Christine bertiga agar anak-anak tersebut dapat berkeliling Yoria di malam terakhir perayaan Jalan Emas.

Ketiga anak itu benar-benar kemeriahan festival malam tersebut, semua makanan yang disajikan bisa mereka nikmati – tentu saja Flora cukup menunjukkan tanda pengenal dari perguruan, dan semuanya langsung bisa dinikmati – dengan gratis. Walau mereka anak-anak, namun ternyata mereka bisa makan dengan sangat lahap.

Beruntungnya bagi mereka yang membuka kios-kios makanan, tidak semua orang memiliki tanda pengenal seperti ini, jika tidak – mungkin festival Jalan Emas berikutnya tidak akan ada lagi kios makanan.

“Lihat…, daging rusa bakar dengan bumbu pedas..”

“Ah…, kembang gula dari madu lebah giok.”

“Aroma ini…! Pasti kue kembang teratai berkelopak seribu.”

Vasu hanya mengekor dari belakang sambil mendengar percakapan kedua anak perempuan di depannya. Salah satu yang jarang dia lakukan adalah menikmati wisata kuliner, dia merasa suatu saat dia harus mencicipi semua ragam hidangan di Tanah Ema jika tidak ingin katak dalam tempurung.

Tapi lebih dibandingkan asa untuk mencicipi ragam sajian yang menggiurkan, Vasu memikirkan apa yang baru saja terjadi sejak dia tiba kembali di Tanah Ema. Dia masih merasa terlalu lemah, walau dia bisa menangani masalah kemarin, namun semua itu hampir menguras seluruh daya upayanya. Dia tampil bagai langit yang menutupi bumi, sehingga musuh tidak akan berani melakukan perlawanan penuh, seandainya pihak lawan nekat, maka dia belum tentu bisa menyelesaikan masalah kemarin tanpa membayar harga yang mahal.

Hanya dengan melangkah ke tahapan yang lebih tinggi barulah Vasu bisa yakin dia akan dapat bernapas lebih lega. Melalui pelbagai kepustakaan Vasu tahu, bahwa di Tanah Ema, banyak ahli berlatih kemampuan hingga melebihi batas-batas manusia pada umumnya. Mereka mengolah energi kehidupan, prana, atau juga kadang disebut sebagai chi, ki, qi, pneuma, ruah, lung, hingga vitalitas – dan menjadikan jiwa serta raga melebihi manusia menjadi setengah dewa.

Pengolahan energi bisa dari dalam diri atau dari alam sekitar, oleh karena energi ini ada di manapun. Hanya saja tidak semua manusia dapat merasakannya, energi yang tidak dapat dilihat, tidak dapat didengar, dan tidak dapat disentuh, muncul tanpa menciptakan panas dan pergi tanpa mendatangkan dingin.

Energi yang memengaruhi jiwa dan raga ini membentuk kualitas seseorang yang berbeda. Kualitas jiwa atau sukma menjadi dikenal sebagai besi, perunggu, perak dan emas. Sedangkan kualitas raga diukur dengan bala, satu bala atau eka bala adalah kemampuan wajar dari satu orang, yaitu orang itu sendiri, jika dia memiliki kemampuan seperti sepuluh dirinya sendiri, maka ia disebut memiliki kualitas raga dasa bala.

Kualitas jiwa menentukan kemampuan seseorang meresepi dan memahami prana. Dengan kualitas sukma yang makin baik, maka seorang pendekar bisa melepas jurus-jurus yang lebih rumit dan refleks lebih cepat, atau seorang penyihir bisa menghasilkan sihir yang lebih kompleks atau luas dengan mandala-mandala sihir tingkat tinggi.

Kualitas raga menentukan kemampuan seseorang dalam membangun jembatan antara prana dalam dirinya dan di luar dirinya, terumata berkaitan dengan elemen-elemen yang ada di dalam dirinya dan di alam semesta. Dengan kualitas raga yang lebih baik, seorang pendekar akan mampu membangun tubuhnya lebih kuat, atau lebih tahan racun dengan mengaitkan prana ke elemen-elemen tertentu di dalam tubuhnya, seorang penyihir dalam mendatangkan halilintar yang lebih dahsyat dengan mengaitkan atau mengolah prana alam melalui metode-motode tertentu. Dengan kata lain, bisa dikatakan raga menjadi kapasitor dan konduktor energi kehidupan yang lebih besar dan efisien dengan kualitas raga yang lebih baik.

Inilah yang menjadi target Vasu dalam waktu dekat, dan tentu saja kemajuan olahdiri tidak akan terjadi jika dia hanya menjadi katak di dalam tempurung Puncak Benderang.

 

“Apa yang kamu lamunkan?”

Sebuah kata-kata membuyarkan pikiran Vasu. Christine sedang memegang manisan yang ditusuk bersusun pada sebatang tusukan bambu datang ke arahnya sambil tersenyum.

“Bukan apa-apa Nona Rhein…”

“Bisa tidak kita menyingkirkan sejenak formalitas yang membosankan ini? Panggil aku Christine, dan aku tidak akan memanggilmu dengan sebutan Tuan Muda.”

Christine melahap salah satu manisan, dan pandangan matanya seakan berkata-kata – formalitas itu hanya merusak suasana seperti ini.

“Ya tentu saja bisa…”

Vasu menerima satu tusuk kembang gula dari Christine, sementara dia memerhatikan bahwa Flora masih asyik mencoba memenangkan sebuah boneka dari kios lomba memanah sasaran bergerak.

“Jadi, apa yang kamu lamunkan?”

“Hanya sesuatu untuk masa depan?”
“Apa aku tidak salah dengar?” Christine menahan tawanya. “Kita masih kecil, mengapa memikirkan masa depan sekarang? Vasu terdengar seperti orang yang sudah tua.”

“Apa itu aneh?”
“Tidak juga, tapi itu jika kita sudah bertambah usia sekitar seratus tahun lagi.”

Tentu saja Vasu paham apa maksudnya, seratus tahun lagi di Tanah Ema, bermakna sekitar lima hingga enam tahun di Bumi. Sekitar usia enam belas tahun, seorang anak bisa mulai memilih menekuni cita-cita dan mimpinya, apakah menjadi profesional, artis, atlit, karir militer, dan sebagainya. Di Tanah Ema, usia sekitar 350-an tahun, anak setara dengan anak usia 16-an tahun di Bumi, seorang anak bisa memilih menjalani kehidupan sebagai ahli beladiri, ahli sihir, atau ahli olahdiri, sebagaimana mereka ingin menjadi petani, pedagang, nelayan, abdi negara dan sebagainya. Tentu saja selalu ada pengecualian bagi yang terlahir sebagai jenius seperti Flora dan Christine.

“Seratus tahun terlalu lama…” Vasu hanya menggelengkan kepalanya.

“Jadi apa rencanamu untuk masa depan?”

“Kurasa akan dimulai dengan meninggalkan Puncak Benderang, dan melihat dunia yang luas ini. Tapi aku belum yakin akan pergi ke mana.” Walau pelan, namun kata-kata Vasu mengandung kesungguhan yang jelas.

Christine menunjukkan mata yang berbinar, tiba-tiba dia melihat sosok yang sangat mirip dengan dirinya. Ingin pergi melihat dunia yang luas, walau sayangnya dia masih disibukkan sebagai ‘primadona’ perguruan, sehingga dia merasa tidak nyaman meninggalkan guru dan teman-temannya. Tapi di depannya ada seorang anak yang memiliki potensi yang sama, menjadi primadona, namun tidak memiliki beban untuk itu, dia berkata meninggalkan rumahnya seakan dia selama ini hanya singgah saja.

Sepertinya, sudah waktunya bagiku juga untuk melihat dunia yang luas – namun pemikiran ini hanya dipendam oleh Christine tanpa diutarakan. Lalu dia melihat Vasu, dan mulai mempertimbangkan – sepertinya jika ada teman seperjalanan akan lebih menyenangkan.

“Jadi kapan Vasu akan berangkat?” Christine menunjukkan minat yang sangat sedikit, karena tampaknya tidak ingin membiarkan letupan idenya terbaca. Walau dia sendiri tidak yakin kenapa menyembunyikannya.

“Entahlah… mungkin besok, mungkin sebulan lagi, mungkin tahun depan.”

“Eh…?!” – Anak ini tidak belum memutuskan kapan dia akan pergi? – Christine tidak tahu harus bilang apa.

“Kenapa?” Vasu keheranan dengan reaksi anak gadis bermata biru di depannya itu.

“Tidak apa-apa, kabari saja jika kamu jadi melalang buana.”

Percakapan mereka berlanjut hingga tengah malam, saat festival mencapai puncak kemeriahannya. Christine selalu berusaha bertanya mengenai rencana perjalanan Vasu. Flora yang tahu kemudian tampak tidak setuju jika Vasu meninggalkan Puncak Benderang, dengan argumentasi mahaguru belum tentu setuju, tapi sebenarnya dia takut tidak ada teman bermain. Di sisi Vasu sendiri, dia tidak pernah memberi jawaban pasti, karena ide ini baru muncul sejak pagi – dia merasa ada persiapan yang masih kurang, dan hanya saja dia tidak tahu apa persiapan itu.

 

Demikianlah kisah dua malam sebelumnya, dan sekarang Vasu melihat bayangan naga purba biru langit melayang di hadapannya. Dan sosok anak yang manis seperti madu surgawi turun melayang dari atas kepala sang naga dan turun di hadapannya.

Mata biru gadis tersebut dikelilingi oleh garis merah, dan kedua pipinya basah. Vasu berpikir, mungkin gadis ini baru saja menangis, atau karena dia terbang terlalu cepat di atas kepala naga – angin membuat matanya perih dan berair. Hanya saja Vasu lupa mempertimbangkan bahwa kemungkinan yang berikutnya adalah tidak mungkin, bagi mereka yang mengolah diri hingga ke tahapan seorang murid utama, mata menjadi pedih dan berair karena melaju melawan tahanan udara adalah tanda kegagalan sebagai murid utama yang tidak mungkin terjadi.

Vasu tidak tahu apa yang terjadi tapi dari kata – mengapa pergi tanpaku – maka Vasu bisa memikirkan beberapa hal. Dan dia hanya berkata, “Ayo kita lanjutkan perjalanan” sambil tersenyum lembut. Jika memang Christine akan mengatakan sesuatu, Vasu yakin gadis itu akan mengatakannya saat perjalanan nanti.

Maka kedua bayangan abu-abu muda dan biru langit yang kecil melayang-layang dari ujung ke ujung puncak pinus, melintasi hutan pinus dari atas – dan dengan segera menghilang di cakrawala.

Hanya tertinggal sebuah batu pualam besar di bawah raja pohon yang kini berisi guratan aksara berbunyi – Dari sini perjalanan dimulai, kisahku di dunia kedua.

Sebelumnya

Naskah 8 - Bintang Tecemerlang

Seluruh dunia tampak seperti alam yang terselimuti aura putih kental tidak berbatas, tiada sisi atau pusat yang dapat dicerna oleh nalar. Semuanya membuat Vasu terdiam sejenak, dia hanya berdiri di 'batas antara' dari aura putih tersebut, di mana bagian bawah ... Read more

Selanjutnya

Naskah 10 - Hi'wi

Malam pekat menyelimuti wilayah hutan yang lebat. Beberapa bayangan melesat cepat di bawah langit mendung yang gelap, meliuk di antara pepohonan yang menebar aroma hutan hujan. Dengan suara derap menderu, tanah basah terlempar ke udara, ranting serta perdu yang malang ... Read more