Ema 25 – Raga Vajra Emas

Dia lahir sekitar sepuluh juta tahun yang lalu, dan kemudian sembilan juta tahun yang lalu dianugerahi gelar paling berbakat di antara para dewata belia. Delapan juta tahun yang lalu dia telah ikut berperang di baris terdepan setiap kali kahyangan mendapatkan ancaman. Tujuh juta tahun yang lalu dia adalah satu yang terkuat di antara para dewata, mendapatkan gelar panglima surgawi. Selama dua juta tahun dia merasa berada di atas angin. Dua juta tahun kemudian dia merasakan kebosanan, berada di puncak adalah sesuatu yang bisa membuat orang merasakan kesepian.

Tiga juta tahun yang lalu, kahyangan mendapatkan ancaman – terbesar dalam sejarahnya. Sehingga seluruh perhatian, upaya dan energi dicurahkan untuk mengatasi ancaman ini. Dunia fana nyaris kehilangan pengendalinya. Beberapa dunia mengalami peningkatan anarki yang luar biasa, Eon mengalami ekspansi luar biasa salah satu ras terkuat di alam semesta – para naga.

Fionnuala merasakan tekanan yang amat hebat, dia yang terbiasa berada di puncak, kini hampir tidak bisa menemukan jalan keluar. Bersama dewata lain yang tak kalah hebat, mereka nyaris ditekan perang yang berkepanjangan. Selama satu juta tahun, entah berapa ratus hingga ribu dewata gugur setiap harinya. Bahkan jika kahyangan didukung oleh maha-padma dewata, jika siklus perang ini terus berlangsung, niscaya pilar-pilar kahyangan akan runtuh satu persatu.Read more

Ema 24 – Fionnuala

Dari balik langit-langit yang runtuh, di antara serpihan debu dan puing yang berjatuhan dalam semburat cahaya. Mahluk agung bergelimang kemuliaan tersebut datang bak mentari turun dari langit. Kehadirannya membawa campuran rasa takjub sekaligus takut pada orang-orang yang melihatnya.

Namun sekali lagi, pandangan dan raut wajah Vasu tetap tenang, seperti permukaan danau musim gugur yang tak takut terusik oleh datangnya musim dingin.

“Jadi seperti inikah jika seorang dewa turun ke jagat fana? Tidakkah ini seperti teatrikal yang berlebihan?”

Vasu bergumam pelan, namun tentu saja orang yang di sekitarnya bisa mendengar, lagi pula mereka bukan orang-orang biasa.

Sosok dewata turun ke dunia? Apa ini nyata? Apa yang terjadi sebenarnya? – Pun mereka bukan orang-orang biasa, namun bertemu dengan keberadaan yang hanya ada dalam mitologi, mereka tidak bisa lagi mempertimbangkan apakah yang hadir di hadapan mereka benar-benar dewata atau hanya artis peniru.Read more

Ema 23 – Lokasi

Pria muda yang ada di hadapan Vasu dan Christine tersenyum pahit, “Apa…? Kalian tidak senang melihatku? Wajah kalian seperti baru melihat setan saja.” – Pria itu mendengus, wajahnya kesal, namun kelusuhan lebih mewarnai guratan ekspresi serta aura lelah dan putus asa yang menyelimutinya. Dia bagaikan orang yang baru naik turun tujuh pegunungan dan berenang menyeberangi tujuh lautan.

Tentu saja pemuda itu tampak demikian, dia tidak lain adalah Sith Lobane. Tuan Muda dari Lobane. Kakak kandung Flora dan penerus ‘takhta’ Lobane.

“Tidak, bukan begitu, kami hanya tidak berpikir Kak Lobane sudah sampai di sini.” Christine segera berusaha memperbaiki situasi.

“Hah.., sudahlah.” Sith melambaikan tangannya. “Kalian ikutlah denganku.”

Vasu dan Christine langsung mengikuti Sith dari belakang. Mereka membelah lautan manusia yang bergumul dengan kesibukan mereka masing-masing. Di kiri dan kanan akan terdengar suara orang dalam pelbagai dialek saling tawar menawar barang dan jasa. Pun demikian, ini tidak menghalangi ketiga orang tersebut melakukan percakapan singkat.Read more

Ema 22 – Alasan

Setiap orang yang mendengar nama Hutan Kabut Ungu, hatinya akan gemetar ketakutan – kecuali mereka benar-benar tidak pernah mendengar nama tempat tersebut. Hutan Kabut Ungu merupakan legenda yang tabu untuk dibicarakan, setiap kali namanya disebut – suara yang menyebut Hutan Kabut Ungu selalu redup seakan tidak ingin angin membawa pergi kata-katanya. Tidak ada yang ingin mendapatkan kutukan dari tempat tersebut, takut bahwa ‘penghuni’ Hutan Kabut Ungu mendengar percakapannya.

Orang-orang mulai berbisik-bisik mengenai kabar ini.

Selain menyeramkan, kisah dan mitos seputar Hutan Kabut Ungu juga melahirkan legenda. Dalam catatan sejarah Tanah Ema, sejumlah tokoh legendaris pernah menjadikan Hutan Kabut Ungu sebagai Kawah Candradimuka mereka. Beberapa kaisar dari Kekaisaran Bren pernah menjadikan ‘kunjungan’ ke dalam Hutan Kabut Ungu sebagai pembuktian kelayakan mereka untuk naik takhta. Dan ketika mereka kembali dari situ, mereka berubah sepenuhnya, aura mereka konon bak dewata yang menitis ke alam manusia.Read more

Ema 21 – Pesan Darurat

Satu bulan itu berlalu dengan cepat, kondisi Desa Buido sudah lama pulih seperti sedia kala. Semua tampak seperti biasa, terkecuali sejumlah anak yang berlatih bela diri pada pagi hari, dan pada siang hari belajar berburu di hutan terdekat. Dengan bimbingan dan perlindungan dari dua murid madya Puncak Benderang, nyaris tidak ada yang mereka perlu khawatirkan.

Cadangan makanan seperti daging dan buah kini bisa dikatakan aman, karena anak dan para remaja yang belajar berburu setidaknya kembali membawa hasil buruan setiap malam beserta dengan sejumlah besar buah serta sayur liar. Mereka akan membawa pulang satu keranjang gendong penuh pelbagai bahan makanan – dan kemudian dibagikan ke semua rumah di desa. Kelebihannya diatur untuk ditukar dengan kebutuhan lain ke desa atau kota terdekat, seperti sandang, logam, dan garam.

Walau sandang bisa dikatakan berkecukupan di Buido, namun sering dalam kondisi yang kurang layak – terutama bagi rumah yang miskin, yang tidak memiliki pria dewasa untuk berkontribusi pada desa dan kerja. Namun dengan didatangkan sandang dari luar, semua warga desa kini bisa berpakaian dengan lebih layak.Read more

Ema 20 – Penguasa Ruang dan Waktu

Gerakan pedang seakan menari dengan tenang dan anggun, pelan menghanyutkan. Meskipun pelan, namun dalam sepuluh embusan napas, lebih dari seratus gerakan sudah muncul dari tangan mungkin Vasu – seolah-olah melukis pada kanvas udara bebas. Kadang gerakan ini memberikan gerakan angin yang hangat, gelombang yang panas, getaran yang sejuk, atau aura dingin membekukan dengan tak putus-putus.

Dalam bagai samudra, tinggi bagai langit. Sederhana seperti sebuah siulan, sekaligus rumit seperti orkestra megah. Meriah seperti langit malam dengan sungai-sungai bintangnya, tenang seperti langit biru membentang tanpa awan.

Ketika orang berpikir pedang itu akan bergerak, ternyata justru diam. Ketika orang berpikir pedang itu berhenti, justru bergerak tak putus-putus.

Antara Te’oma dan Gaetana yang sudah mempelajari pedang selama ratusan tahun, mereka bisa mengaku bahwa di antara seribu pendekar pedang terbaik – walau bukan terkuat – mereka bisa bersaing dengan lima puluh peringkat teratas. Namun di hadapan permainan pedang Vasu, mereka dipaksa tunduk seperti melihat matahari yang menyilaukan.Read more

Ema 19 – Kitab Pedang Empat Musim

Jika seseorang ingin menyimpan rahasia, maka sebaiknya rahasia benar-benar terpendam atau tersembunyi – namun tidak di tempat yang kentara, tapi di tempat yang paling alami dan paling tidak terduga. Rahasia yang paling sulit dilacak adalah yang berasimilasi dalam kenormalan, bukan yang diletakkan dalam kotak rahasia dengan kunci rahasianya.

Keberadaan elemental jiwa bisa mengundang rasa iri, dan lebih buruk lagi – mengundang ketamakan kelompok-kelompok tertentu. Elemental jiwa seperti sebuah harta pusaka bagi banyak ahli dan perguruan, mereka bisa tergiur untuk membuka rahasia di balik keberadaannya.

Walau kebanyakan perguruan bela diri, akademi militer, sekolah sihir di Tanah Ema mengakui dasar-dasar kemanusiaan yang mulia, namun tindak tanduk mereka tidak selalu demikian. Di mana ada sisi terang, maka di situ akan selalu ada sisi gelap, ini adalah kenyataan dunia yang tidak dapat dipungkiri. Ketika seseorang tidak bisa melihat sisi gelap dari sisi yang benderang, maka bukan berarti kegelapan itu tidaklah ada.Read more

Ema 18 – Ruh Buido

Meski pun malam sudah semakin larut, banyak warga yang masih berkumpul di beberapa lokasi di Desa Buido. Perbaikan bagian desa yang rusak memasuki tahap akhir untuk polesan, agar bangunan-bangunan tersebut bisa tampak seperti sedia kala.

Awan putih berarak pelan, dan terkadang menyembunyikan rembulan perak yang tergantung di langit. Angin mendesir dingin, menyapu rerumputan dan membawa aroma malam ke seluruh penjuru mata angin.

Tidak jauh embarau Desa Buido, Vasu memerhatikan Renatta kecil yang sedang memeragakan sejumlah teknik yang dia ajarkan siang tadi.

Gaeiado pada awalnya hanya memiliki gerakan pembuka, dan nyaris setelah itu tidak ada hal lain lagi yang khusus ditanamkan. Ini adalah salah satu kelemahan Gaeiado, seperti membuka pintu penjara bawah tanah pertama kali bagi seseorang yang tak pernah melihat dunia – Gaeiado memberikan bentangan dunia baru yang tak terbatas, dan orang bisa mengambil jalan mana pun. Hanya saja jika ada yang tidak siap dengan dunia baru ini, dia mungkin akan kembali ke dalam penjara yang gelap karena ketakutan akan sesuatu yang baru. Hanya yang siap bisa melangkahkan kaki mereka ke dunia yang baru ini.Read more

Ema 17 – Tapakan nan Rapuh

Keheranan masih menyelimuti wajah-wajah yang tertinggal di Desa Buido. Mereka memandang ke arah perginya bahtera langit yang sudah cukup lama lenyap di batas cakrawala. Bagi mereka yang mengenal siapa Nandha, keheranan muncul karena bukan sifat penerus perguruan Gatto Celeste untuk mundur terbirit-birit seperti itu. Bagi yang tidak mengenal siapa Nandha, mereka keheranan bahwa ada sosok hebat sudah lari dari desa mereka dalam kondisi yang menyedihkan.

Setelah tersadar dari keheranannya, Christine berjalan santai menuju arah Vasu dan yang lain. Meski pun dikatakan santai, satu langkah ringannya bisa menempuh jarak seratus langkah, sehingga dalam lima kali langkah – dia telah tiba di depan Vasu. “Tadi itu di luar dugaan. Aku tak menyangka dia ‘lari’ secepat itu. Padahal masih ada beberapa jurus dan teknik yang ingin kucoba.”

Vasu tertawa, “Hei hei…, dia itu bukan kelinci percobaan.” Siapa yang mau menjadi lawan duel Naga Biru Langit dari Samudra Timur hanya untuk dijadikan percobaan teknik bertarung, jika ada orang yang mau – dia pasti sengaja sedang menguji tingginya langit dan dalamnya lautan, atau dia orang yang buta.Read more

Ema 16 – Duel Naga dan Harimau

Tidak memakan waktu lama bagi area di bagian Timur dari Desa Buido menjadi pusaran amukan dari energi murni dan energi sihir – ada dua Prana yang seakan-akan beradu dengan dahsyat. Aroma debu yang terangkat, beserta dengan getah rerumputan bercampur di udara dan terhempas ke sana kemari. Dalam sekejap padang rumput tersebut berubah menjadi arena tempur yang menakjubkan.

Masyarakat Desa Buido yang melihat dari balik embarau tidak bisa menyembunyikan keheranan mereka. Seakan-akan melihat dua dewa-dewi turun ke dunia fana untuk saling menghunus dan menghunjamkan pedang. Berkali-kali sebagian besar dari mereka memekik takut ketika bongkahan batu, es, hingga sabetan pedang angin dan pelbagai energi kasat mata yang menerjang ke arah mereka. Beruntung dengan perisai Dirghakalam Suryagatravarana & Candragatravarana, tidak satu pun bakal petaka tersebut yang berhasil menyentuh Desa Buido.

Serangan Nandha bersifat keras, cepat dan akurat. Sedangkan Christine bersifat lentur, dinamis, dan gesit. Nandha bagaikan harimau yang murka mencoba menyerang Christine dengan segenap daya upayanya, sementara pada saat-saat kritis Christine dengan mudah menghindari serangan tersebut menggunakan jurus ‘Naga Meliuk di Awan’. Bahkan ketika engkau adalah raja rimba, jangan berharap bisa menangkap seekor naga yang terbang bebas di awan.Read more

1 2 3 4 8