Ema 15 – Putri Bergaun Putih

Jauh di Utara, membentang jalur Seribu Pegunungan Menghunjam Langit, puncak-puncak seperti ujung-ujung kapak yang tersembunyi di balik awan-awan yang tak pernah pudar. Sejauh mata memandang dari kejauhan adalah puncak-puncak seputih salju, dengan dataran tinggi berpasir nan gersang di lapis bawahnya, dan paling bawah adalah kawasan hutan yang luas hingga ke wilayah dataran.

Pegunungan ini membentang dari Timur ke Barat menjadi pembatas sepertiga wilayah dataran bagian Utara dan dua pertiga dataran di wilayah bagian Selatan dari Tanah Ema. Membagi Tanah Ema menjadi dua wilayah dataran, Selatan merupakan tempat peradaban manusia selama jutaan tahun terakhir. Sementara wilayah Utara adalah wilayah yang misterius.

Misterius dalam artian, karena tidak ada yang dapat mencapainya tercatat dalam sejarah peradaban wilayah Selatan. Seribu Pegunungan Menghunjam Langit adalah benteng alam yang tak tertembus oleh manusia selama jutaan tahun. Sedangkan wilayah pantai dataran utara bukanlah pilihan yang baik untuk berlabuh, sebagian merupakan jurang-jurang yang terjal dengan tanaman-tanaman beracun yang mematikan. Badai besar juga adalah pemandangan umum di wilayah Utara ketika para pelaut melihat dari kejauhan. Dengan kata singkat, berlabuh di wilayah utara adalah bunuh diri.Read more

Ema 14 – Strategi Sang Naga

Matahari belum terbit, dan angin terasa dingin menusuk tulang. Beberapa siluet orang tampak bergerak keluar gerbang bagian Timur. Sementara ratusan lainnya melihat dari balik embarau tanpa berani melangkah keluar dari Buido.

Semalam Vasu menyampaikan pada kepala dan para tetua desa, bahwa kemungkinan pagi ini akan terjadi hal yang tidak diinginkan, dan masyarakat desa sebaiknya tetap tinggal di dalam desa. Vasu telah menyusun formasi pelindung di sekitar desa Buido, Dirghakalam Suryagatravarana dan Dirghakalam Candragatravarana – sepanjang matahari dan rembulan bersinar, tidak ada makhluk dunia fana yang bisa menembus formasi pelindung ini. Vasu yakin, bahkan jika Joanna sendiri yang mencoba menerobos, maka penyihir heptagon tersebut akan menyerah pada akhirnya.

Ada dua alasan mengapa Vasu membuat formasi ini, pertama adalah melindungi warga desa dari ancaman kedatangan para ahli dari Gatto Celeste pagi ini. Dan untuk jangka panjang, memberikan perlindungan pada si kecil Renatta.Read more

Ema 13 – Kidung Napas Kehidupan

Malam turun larut di Desa Buido, namun suasana tidak mencerminkan malam-malam seperti biasanya. Obor-obor menyala di sepanjang jalan, rumah-rumah diterangi lampion dan lilin. Suara warga yang bekerja dengan peralatan pertukangan berdenting dan bertalu, dengan diiringi nyanyian serangga malam dengan sesekali diselingi suara kokok ayam yang mungkin salah menduga hari telah pagi.

Puluhan warga sibuk membenahi atap-atap bangunan di sisi Timur yang rusak sejak sehari sebelumnya. Kini mereka sudah bisa bernapas lega, karena suasana tegang yang menyelimuti Buido sudah berakhir ketika seorang anak yang asing muncul dan menunjukkan kemampuan layaknya adiinsan.

Sementara, jauh dari keramaian, di bagian Utara dari Buido, sebuah bangunan dua lantai tampak senyap di sekitarnya terkecuali dua orang berjaga mengenakan zirah ringan dengan tombak di tangan mereka.Read more

Ema 12 – Karma Dunia Dunia

“Vasu… siapa Vasu…?” Kelima murid dari Gatto Celeste tersebut membatin. Jika ada pendekar muda hebat – setidaknya dalam seratus atau seribu daftar pendekar muda windu ini – mereka pasti sudah pernah mendengar namanya meski tidak pernah berjumpa.

Namun nama Vasu terdengar asing di telinga mereka. Tentu saja warga desa yang hanya orang-orang biasa tidak paham sama sekali, siapa anak tersebut. Tapi dengan melihat apa yang baru saja terjadi, mereka bisa menerima kemungkinan bahwa anak yang bernama Vasu tersebut sama seperti para remaja dari Gatto Celeste.

“Pendekar Vasu, kami mohon maaf tidak mengenal pendekar muda sebelumnya.”

Kini Honos tidak berani gegabah. Serangannya mungkin sederhana, tapi bagi orang biasa sangat mematikan, dan bagi orang yang memiliki kemampuan beberapa dasa bala – setidaknya orang itu akan dibuat cedera sedang hingga berat. Namun Vasu tidak berakhir ke dalam dua kategori tersebut.Read more

Ema 11 – Desa Buido

Setelah percakapannya dengan Hiwi, Vasu membiarkan hewan sakral itu kembali ke langit. Kepakkan kedua sayap yang kokoh seakan membuat seluruh hutan bergetar, dan hewan-hewan bersembunyi semakin ke dalam di liang mereka masing-masing.

“Apa yang kalian bicarakan?” Christine masih memandang Wiverna Hitam tersebut menghilang di langit malam.

“Kurasa dia ingin mengikuti kita, jadi kubiarkan saja begitu.”

Nada Vasu seakan-akan tidak terlalu peduli. Dalam pandangannya, kehidupan memiliki jalan mereka masing-masing, dan dia adalah anak yang bisa selamat bertahan hidup dari masa-masa pelarian dan perang tanpa akhir di dunia asalnya. Apakah kamu mau mengikuti seseorang atau berjalan sendiri, Vasu sudah pernah mengalami semuanya.

Sementara Christine sendiri tidak terlalu memedulikannya, walau sebenarnya dia masih penasaran dengan teknik taut sukma yang digunakan oleh Vasu.Read more

Ema 10 – Hiwi

Malam pekat menyelimuti wilayah hutan yang lebat. Beberapa bayangan melesat cepat di bawah langit mendung yang gelap, meliuk di antara pepohonan yang menebar aroma hutan hujan. Dengan suara derap menderu, tanah basah terlempar ke udara, ranting serta perdu yang malang patah dengan suara yang lirih dan bersahut-sahutan.

“Ngiikkk…!”

Suara dari bayangan paling besar di depan, melaju seakan menolak untuk berhenti.

“Di depan akan ada rintangan bukit terjal, dia pasti akan menikung dan gunakan saat itu satu serangan lagi.”

“Ya!”Read more

Ema 9 – Menuju Dunia Membentang

Sejauh mata memandang adalah hamparan hutan pinus hampir seluas seribu kilometer persegi dan dikelilingi oleh hutan subtropis yang membentang hingga ke cakrawala. Di tengah hutan pinus, terdapat sebuah bukit yang hanya ditumbuhi oleh tumbuhan perdu, terkecuali di puncak bukit terdapat sebuah pohon pinus besar menjulang ke langit – seakan menyerukan bahwa ia adalah raja yang bernaung di bawah langit atas semua pepohonan di sekitarnya.

Di bawah sang raja pohon, terdapat batu pualam besar kecokelatan dengan permukaan datar. Dan di atasnya duduk bersila sosok anak kecil dengan mengenakan jubah abu-abu muda berlengan panjang. Matanya tertutup menghadap ufuk Timur yang mulai menggeliat warna jingga pertanda matahari segera terbit di batas cakrawala yang hijau.

Anak kecil ini adalah Vasu, gurat wajahnya tampak tenang – tidak tampak seperti anak kecil sama sekali. Kedua tangannya berada di atas lutut membentuk mudra Visnu. Napasnya teratur, dan ini adalah aktivitas rutinnya setiap pagi, menyelaraskan aliran Prana secara bergantian melalui nadi ida dan pingala, dan membersihkan sushuma. Meski pun Vasu tidak terlalu peduli, namun selama dia masih bernapas, maka selama itu sthula sarira-nya masih terikat dengan lingkaran karma, dan karena itu dia masih harus menjaga tubuhnya dengan sebaik mungkin.Read more

Ema 8 – Bintang Paling Cemerlang

Seluruh dunia tampak seperti alam yang terselimut aura putih kental tidak berbatas, tiada sisi atau pusat yang dapat dicerna oleh nalar. Semuanya membuat Vasu terdiam sejenak, dia hanya berdiri di ‘batas antara’ dari aura putih tersebut, di mana bagian bawah beriak seperti perairan yang sangat luas, dan bagian atasnya seperti angkasa yang tidak memiliki ujung.

Apa yang tengah terjadi? Vasu mencoba kembali mengingat-ingat. Baru saja dia berada di sebuah ruang bawah tanah tua bersama sang kakek, direktur balai perpustakaan kota, dan dua lainnya – ya, dua lainnya, Vasu tidak ingin memikirkan itu lebih detail lagi. Tapi kemudian setelah kakek Lutz membuka kotak yang ada di meja dan meletakkan sebuah medali di tangannya, semua terjadi dengan sangat cepat.

Mengapa cepat? Karena ketika medali tersebut jatuh menyentuh telapak tangan mungilnya, ada getaran misterius yang merayap dengan cepat hingga dalam alam batinnya dan berusaha menyeberangi jembatan masuk ke dalam relung sukmanya. Dan dia melihat semua di sekitarnya tampak berhenti, gerakan mata yang terhenti, gerak tubuh yang terhenti, seakan-akan waktu di sekitarnya terhenti. Bukan! Oleh karena dia merupakan ‘cakrawala elemental’, dia bisa melihat bukan waktu di sekitarnya yang berhenti, namun waktu psikologis di dalam dirinya berjalan dengan sangat cepat, persepsinya menjadi begitu cepat sehingga seakan-akan waktu di sekitarnya melambat dan bahkan terhenti.Read more

Ema 7 – Rukh Kalpavriksha

Malam ini adalah malam terakhir Festival Jalan Emas di seluruh Tanah Ema, dan Kota Yoria pun masih menunjukkan kemeriahan yang menggairahkan. Beberapa sudut jalan dihiasi oleh tarian asap yang berasal dari sisa pembakaran kembang api, dan tentu saja percikan dan letupan kembang api masih bisa ditemukan di mana-mana bersama gelak tawa baik anak-anak hingga orang dewasa.

Sisi jalan kota dipadati oleh pedagang pelbagai jenis makanan dan minuman beserta kudapannya. Aroma manis, rempah, gurih, semuanya berbaur bersama suka cita warga Kota Yoria, terutama mereka yang berpasang-pasangan dengan memilih menggelar alas duduk di bawa benderang Bunga Ema, tentu saja banyak keluarga juga melakukan hal yang sama.

Seorang kakek mengambil empat kembang gula dari salah satu penjual, dia dan penjual bercakap-cakap sejenak sebelum membayar, lalu segera kembali pada tiga anak kecil yang menunggu pada sebuah sampan yang dihiasi lampion warna-warni di tepian sungai Sika. Berdampingan dengan mereka perahu yang lebih besar kadang melintas bersama sampan-sampan kecil. Kadang terdengar suara merdu musik dari perahu yang melintas.Read more

Ema 6 – Cakrawala Elemental

Seorang gadis remaja duduk di sofa dalam sebuah ruang kerja yang dipenuhi dengan buku-buku yang bertumpuk-tumpuk membukit. Sejumlah gulungan papirus berserakan di lantai. Semburat cahaya rembulan warna-warni menerobos ruangan melalui mozaik transparan yang menjadi sebagian atap ruang kerja memberi bentuk oval dengan corakan geografi yang khas. Corakan itu bisa mengagetkan banyak orang, karena tidak pernah ada yang memiliki pengetahuan lengkap akan apa yang digambarkan di dalamnya.

Yang menjadi atap dari ruang kerja tersebut adalah peta raksasa Eon yang begitu detail dalam gaya klasik, berisi tulisan dalam bahasa purba yang barangkali telah lama punah. Dan di ujung “Selatan” pada corakan mozaik itu, sebuah bentangan kecil yang didampingi di sebelahnya oleh corak bentang yang lebih besar, jika Vasu atau Christine melihatnya mereka akan kaget karena yang diperlihatkan di sana adalah Tanah Ema, dan kemungkinan di sebelahnya adalah Benua Soma.Read more

1 2 3 4 5 8