Eiwa 40 – Misi Bunuh Diri

Tidak pernah ada yang berbicara tentangnya di rumah, tidak juga di tempat lainnya. Aku telah lama berpikir bahwa topik tersebut mungkin saja adalah sebuah tabu pada keluarga kami. Aku pun telah lama memutuskan untuk tidak bertanya, walau sesekali atau dua kali aku menemukan seseorang menghubungkanku dengannya.

Seseorang yang mendapatkan penghormatan dari pribadi-pribadi yang tidak sedikit berpengaruh di Glaedwine, tentunya ayah pasti bukan sosok sembarang. Namun seperti apa dia?

“Eiwa, di mana Kak Snotra.”

Suara lembut datang membangunkanku dari lamunan.  Saat aku menoleh, Eileen tampak memandangku dengan penuh tanda tanya. Continue reading “Eiwa 40 – Misi Bunuh Diri”

Eiwa 39 – Perpisahan Sementara

Keheningan panjang muncul di atas kolam yang membeku. Aku ternganga seakan-akan ada gadamala yang tersangkut di tenggorokanku.

“Kupikir dia betina?”

Aduh…, seharusnya aku tidak menanyakan itu. Memang benar, penasaran itu bisa membunuh. Aku mengelus-elus pipiku sendiri yang sekarang dihiasi sejumlah bekas cakaran.

“Seharusnya kamu tidak menanyakan itu.”

“Aku tahu.”

“Baiklah, jika demikian, aku akan menunggumu di akademi jika demikian. Aku akan meninggalkan negeri ini, dan mungkin tidak akan kembali untuk jangka waktu yang lama, sampai lima tahun lagi.”

“Kak Snotra akan pergi…?”

“Eiwa, tiada pesta yang berlangsung selamanya. Ada beberapa hal yang hendak kuselesaikan terlebih dahulu. Kita akan bertemu lagi nanti.”

Nona Snotra tersenyum dengan sebuah senyuman yang sangat langka, ah! aku harus mengingat senyuman ini, jika aku bisa menjual lukisan Nona Snotra yang tersenyum, aku pasti akan mendapatkan banyak keuntungan! Ho ho…, aku memang genius. Continue reading “Eiwa 39 – Perpisahan Sementara”

Eiwa 38 – Strategi Demi Masa Depan

Beberapa orang tampak berlalu lalang dengan bergegas, meja-meja balairung kota dipenuhi dengan pelbagai gulungan, tumpukan berkas, peta juga maket miniatur wilayah Rokus dan pegunungan dan lembah Glyndwr beserta sejumlah hutan pinus yang ada di sekitarnya.

Orang-orang begitu sibuk, jika tidak sedang melihat langsung pada bangunan balairung balai kota, mungkin aku akan menduga bahwa saat ini aku sedang berada di tengah pasar rakyat.

Beberapa orang bahkan menunggang kuda dengan tergesa, melesat ke pelbagai sudut dan sisi kota dengan membawa kotak-kota berukuran sedang hingga besar. Continue reading “Eiwa 38 – Strategi Demi Masa Depan”

Eiwa 37 – Dua Sisi

Bermandikan cahaya atau terselubung kabut misteri, demikian dua sisi Ordo Singa Putih dan Kelompok Gagak Bayangan. Mereka adalah dua sisi mata pedang dan dua sisi perisai Glaedwine. Jika Ordo Singa Putih muncul ke permukaan, maka bergerak di antara bayangan mereka adalah Kelompok Gagak Bayangan.

Kedua kelompok khusus ini hanya menjawab pada satu orang – Flamecape Corinne Cyril – yang merupakan jenderal tertinggi angkatan perang Kerajaan Glaedwine.

Ini adalah pertama kali aku melihat kedua kelompok ini, selama ini hanya mendengar kisah mereka dari nenek, atau membaca dari buku-buku.

Ordo Singa Putih mengenakan zirah tipis yang sepertinya dibentuk dari emas putih dengan ornamen lambang kerajaan di bagian dada, serta membawa satu pedang dan satu belati masing-masing ditempatkan di pinggang kiri dan punggung bawah bagian belakang. Aku bisa melihat formasi sihir pada zirah yang mereka kenakan, yang tentunya tersembunyi dari mata orang biasa. Continue reading “Eiwa 37 – Dua Sisi”

Eiwa 36 – Mendung Peperangan

Angin Timur berhembus pelan, seakan tidak hendak bergegas. Kami telah kembali berada di Rokus, tepatnya di panggung batu terbuka di pusat kota. Iring-iringan warga kota bergerak dengan lambat dan tenang menuju gerbang kota menuju ke tempat yang menjadi perlindungan bagi mereka di saat perang benar-benar tidak terhindarkan lagi.

Sejumlah perempuan dewasa menggendong bayi dan menggandeng balita, anak-anak perempuan menuntun para lanjut usia, sementara anak laki-laki membantu para pemuda dan pria dewasa untuk mengangkut pelbagai bingkisan yang kemungkinan besar adalah sandang dan pangan baik dengan sendiri-sendiri, ataupun bersama menggunakan pedati dan kereta.

Tentu aku pernah membaca tentang pengungsian, namun kali ini baru menyaksikannya sendiri secara langsung. Raut wajah mereka, gerak tubuh mereka, sinar mata mereka, seluruhnya menjadi bahasa yang tak dapat diungkapkan semata-mata oleh kata-kata, apalagi kemudian untuk dituang ke dalam lembar-lembar atau gulungan yang menjadi dingin di rak-rak perpustakaan.

“Kek, mengapa kita pergi?” Continue reading “Eiwa 36 – Mendung Peperangan”

Eiwa 35 – Kesadaran Sebuah Negeri

Tidak jarang aku berpikir, bertanya-tanya, apakah raut wajahku begitu mudah untuk ditebak? Mengapa sering kali orang-orang seperti bisa mudah tahu apa yang sedang kupikirkan?

“Eiwa, apa pun yang sedang kamu rencanakan, sebaiknya lupakan saja.”

Nona Snotra mengingatkanku dengan nada datarnya yang khas.

“Tapi ini tentang perang, tentang kehidupan banyak orang di Glaedwine!”

Aku setengah berteriak. Continue reading “Eiwa 35 – Kesadaran Sebuah Negeri”

Eiwa 34 – Tersembunyi

Kendali terhadap mana merupakan bagian yang teramat penting dalam memanfaatkan karakter Kayu Euphrosyne, detail yang ditampilkan tidak mungkin akan muncul dengan baik tanpa adanya kendali yang akurat.

Setelah sekitar dua jam mendapatkan ‘omelan’ dari Nona Snotra, akhirnya kami bisa melihat citra yang kami perlukan, pasukan dari Aelfwine!

Tiga buah kapal perang utama dengan lima tiang dan puluhan meriam dan ratusan awak termasuk para prajurit dan penyihir. Dua puluh empat kapal perang penghancur dengan dua hingga tiga tiang dan meriam ukuran besar di geladak yang dapat berotasi hampir dua ratus tujuh puluh derajat ke segala arah kecuali ke bagian ekor. Dan sekitar empat kapal angkutan di bagian belakang yang tampaknya memuat pasokan logistik untuk perang. Continue reading “Eiwa 34 – Tersembunyi”

Eiwa 33 – Sihir si Kecil

Dalam menghadapi peperangan, dua hal menjadi sangat penting bagi sebuah negeri, pertama adalah informasi, sementara yang kedua adalah strategi. Perang bisa menjadi seperti tarian yang tidak pernah disaksikan sebelumnya, atau seperti angin yang membumbungkan layang-layang, kadang arah geraknya tidak selalu bisa sekadar diduga terlebih dahulu.

“Jadi, apa masukan Nona?”

Mayor Bram tampak bertanya-tanya.

Dan aku pun bisa menduga apa yang terjadi selanjutnya.

“Eiwa, temukan di mana mereka berada.”

Nona Snotra melemparkan sesuatu ke arahku, yang segera kutangkap dengan sigap. Dalam genggamanku, ada sebuah ‘mutiara’ yang tidak asing lagi. Jika tidak salah, Nona Snotra menyebutnya dengan nama ‘Mata Selaksa Semesta’. Continue reading “Eiwa 33 – Sihir si Kecil”

Eiwa 32 – Para Pilar Rokus

Bunga-bunga cermin tertanam rapi mengelilingi areal menara dalam bentuk heksagramagi. Bunga dengan seribu kelopak menyerupai cermin ini merupakan fondasi bagi sihir kamuflase. Formasi sihir juga bisa kurasakan tertata rapi di bawah permukaan tanah, persis seperti teori dalam buku-buku sihir tingkat lanjut.

Kami berjalan menuju ke anak tangga yang terbuat dari susunan rapi bata merah. Pintu masuk menara tersusun dari dua daun pintu yang masing-masing gagangnya berupa ornamen kepala singa dengan cincin pengetuk. Relief Pegunungan Glyndwr dengan awan-awan rendah dan pemandangan Kota Rokus menghiasi kedua daun pintu.

Kapten Ning mengetuk pintu beberapa kali. “Kami sudah tiba!” Sahutnya agak keras.

Pintu dibuka dengan pelan, tampak seorang laki-laki paruh baya berpakaian pelayan menyambut Kapten Ning. Dan sejenak setelah mereka berbincang pendek, laki-laki yang ternyata bernama Hossam itu mempersilakan kami ikut masuk. Continue reading “Eiwa 32 – Para Pilar Rokus”

Eiwa 31 – Menara Mata Tevfik

Untuk mendapatkan sebuah julukan atau sebutan yang unik di sebuah wilayah kerajaan, seseorang harus memiliki keahlian eksklusif, atau keahlian umum pada tingkatan maestro. Tentu saja seseorang bisa memberi julukan pada dirinya sendiri, tapi siapa yang akan mengakui itu?

“Raja Semesta Strategi?”

“Ya, tidak ada yang bisa menandinginya dalam menelurkan strategi. Bahkan Nenek Corrine sendiri sering tidak mampu menghasilkan strategi sebaik yang dirumuskan Aloys.”

Raut wajah Bunda tersenyum tipis, seperti mengenang masa lalu, namun…

“Bunda, maafkan Eiwa, membuat Bunda mengingatkan pada…”

“Eiwa, tidak mengapa. Bunda juga minta maaf karena selama ini tidak banyak berbicara tentang Aloys padamu. Bunda khawatir, Eiwa akan sedih.” Continue reading “Eiwa 31 – Menara Mata Tevfik”