Eiwa 30 – Semesta Strategi

Sekitar sejam kami berjalan kaki menyusuri setapak ke arah Utara. Alasan kami datang ke Rokus tentunya adalah ancaman invasi militer Aelfwine ke Glaedwine. Pada awalnya, aku berpikir bahwa kedatangan kami dengan adanya Nona Snotra dapat mengatasi masalah dengan mudah. Namun apa yang disampaikan oleh Bunda, ternyata di luar dugaanku sebelumnya.

Kapten Ning sendiri saat ini sedang memandu kami di depan, melewati sejumlah bagian yang tampaknya merupakan setapak yang dirahasiakan.

Walau aku berkata bahwa kami ‘berjalan’, aku sendiri sebenarnya tidak berjalan kaki, karena tidak mungkin langkah kaki kecilnya bisa melangkah normal dibandingkan ketiga orang dewasa lainnya. Aku menggunakan sedikit trik mana untuk membuat tubuhku melayang. Tentu saja, sambil menggandeng tangan Eileen, aku memberlakukan trik yang sama. Kami berdua melayang di antara tiga pasang langkah kaki yang gegas. Continue reading “Eiwa 30 – Semesta Strategi”

Eiwa 29 – Perjalanan Tanpa Batas

Menjadi kanak-kanak, bermain dengan bebas, bersekolah, bertemu dengan orang-orang baru, berkenalan dan menjalin pertemanan, tumbuh besar, hingga kemudian menghabiskan hari tua bersama dengan orang-orang yang dikasihi.

Ini adalah pedoman hidup yang adiluhung sejak zaman dahulu kala.

Tapi mengapa aku merasa bahwa, pedoman tersebut tidak berlaku bagiku. Lahir jenius, mengakses seluruh informasi dan pengetahuan hingga ke wilayah terlarang, berlatih bersama seekor naga, mencoba menggagalkan invasi negeri asing.

Tidak satu pun rentetan dari periode tersebut merupakan cerminan masa kanak-kanak yang adiluhung. Ah, lebih dari seratus tahun pengalaman, aku menggelengkan kepala aku masih bisa disebut kanak-kanak?

Dan sekarang aku merasa menemukan kunci atas situasi ini. Continue reading “Eiwa 29 – Perjalanan Tanpa Batas”

Eiwa 28 – Kabar Baik dan Kabar Buruk

Suasana hening tidak berlangsung lama. Dekapan hangat segera merambah tubuh mungilku. Pelukan erat mencegahku dari menarik napas dalam oleh rasa kagetku. Seakan seluruh waktu di dunia ini terhenti, dan hanya ada detak jantung kami yang saling bertepuk satu sama lain.

“Apa kamu tahu betapa ibu mengkhawatirkanmu? Kami mencoba menghubungimu, namun kamu tidak ada dalam rombongan.”

“Bunda…, Eiwa baik saja. Jangan khawatir lagi.”

Aku tahu dia ingin menangis, tapi dia ‘tidak bisa’ menangis di sini, tidak dalam situasi seperti ini. Walau matanya kering, namun degup jantungnya seakan berteriak dan merekah di dalam keperihan dan kepedihan. Bahkan tanpa kata-katanya, aku dapat tahu, karena bagaimana tidak, dari dialah aku hadir ke dunia ini. Continue reading “Eiwa 28 – Kabar Baik dan Kabar Buruk”

Eiwa 27 – Floretta Yvonne

Sepoi angin yang dingin dan tenang menyapu Kota Rokus silir demi silir, memberikan rasa sebuah kota di dataran tinggi yang penuh kesejukan. Namun suasana sebuah kedai teh di dalamnya saat ini sungguh jauh dari kata sejuk.

Sang Saudagar Marcellin tampak mengepalkan tinjunya dengan erat. Sementara Kapten Ning menyadari sesuatu yang ‘tidak beres’ dan mengambil posisi untuk bertindak. Aku sendiri tidak bisa melepas kewaspadaanku, tidak hanya kepada Marcellin, namun juga pada kelompok lainnya, saat ini aku bisa mengawasi enam sosok yang bergerak di balik bayangan – masih kurang empat orang lagi jika benar yang disampaikan oleh Nona Snotra. Continue reading “Eiwa 27 – Floretta Yvonne”

Eiwa 26 – Kemalangan Marcellin

Pria gemuk tersebut berdiri dari tempat duduknya, dan sembari membungkukkan badan ke arah kami, dia memandang ramah ke arah Eileen – namun tersembunyi niat keji di baliknya, yang walau dia sembunyikan, tidak akan bisa lolos dari pandanganku, apalagi dari kejelian Nona Snotra – aku bisa merasakan walau dia tampak santai namun auranya menjadi tajam seperti belati yang terhunus – yang membuatku turut merinding teringat hari-hari dalam kemah candradimuka.

“Maafkan hamba yang tidak mengenali Putri Kerajaan Glaedwine ini. Hamba harap Tuan Puteri memaafkan tindak tanduk hamba yang kurang patut dipertontonkan ini.”

Marcellin tampak benar-benar seperti seorang tamu santun yang menyapa penguasa negeri. Jika sekilas dilihat, dia bak saudagar terpandang.

Eileen menatapnya dalam-dalam, kemudian berkata, “Tuan, Anda berbohong.”

Ups.. Kamu ketahuan. Aku menyindir pria gemuk dalam hati. Continue reading “Eiwa 26 – Kemalangan Marcellin”

Eiwa 25 – Kapten Ning dan Prinsipnya

Berwajah bulat dan tubuh yang lebih bulat lagi, matanya nyaris tersembunyi di balik lemak apalagi ditambah dengan senyumnya yang lebar memperlihatkan gigi geligi yang juga berukuran besar. Dia menepukkan tangan sambil tertawa lebar.

“Sungguh lucu sekali.” Kata pria gemuk ini.

“Tuan…, Anda adalah?” Kapten Ning Teófilo mencoba bertanya dengan sopan. Walau dia seorang kapten, namun terlihat dari sikapnya, dia cukup tenang dan tidak terbawa oleh rasa tinggi hati.

Pria gemuk itu melambaikan tangannya, “Tidak penting siapa saya, tapi Kapten. Mendengarkan ucapan bocah, Anda tampaknya langsung percaya. Jika besok keponakanku yang masih bau kencur datang ke sini dan berkata di salah satu kedai sebelah bahwa mereka adalah mata-mata Aelfwine karena mereka berasal dari suku asing, apa Anda akan menangkap mereka juga?”

“Maksud Anda Tuan?” Continue reading “Eiwa 25 – Kapten Ning dan Prinsipnya”

Eiwa 24 – Brigade Bulan Salju

Mandala ruang dan waktu kembali bersinar cemerlang, kali ini karena Nona Snotra yang membukanya di hadapan kami. Aku dan Eileen ikut berjalan di belakang Nona Snotra memasuki bola cahaya yang mengapung di udara dengan anggunnya. Dengan menggenggam tangan Eileen yang tampak ragu, aku meyakinkannya bahwa semua akan baik saja.

Angin bertiup hangat dan dingin silih berganti. Di hadapan kami adalah julangan pegunungan tinggi yang puncak-puncaknya diselimuti oleh salju abadi dan awan-awan yang menjadi tirainya sepanjang masa. Inilah tanah legendaris, tempat langit dan bumi bertemu, tanah mitologi di mana konon para dewa bertakhta. Tidak ada manusia yang bisa mencapai puncaknya, sehebat apa pun dia.

Dan sebuah celah gelap yang sempit seakan membelah pegunungan Glyndwr tepat di hadapan kami, seperti irisan pedang yang memotong balok kayu. Ini adalah celah Tefvik, satu-satunya area pegunungan Glyndwr yang tidak tertutup oleh salju abadi. Sebagai gantinya, pepohonan tumbuh dengan subur dalam kanopi-kanopi yang gelap. Continue reading “Eiwa 24 – Brigade Bulan Salju”

Eiwa 23 – Kewaskitaan Eileen

Pandangan Nona Snotra begitu tajam ke arah langit yang kini bergema dengan tarian cahaya keemasan. “Oh…, jimat penyelamat satu jiwa ribuan tahun. Aku hampir lupa tentang benda itu.” Kali ini Nona Snotra menggaruk-garuk kepalanya seakan mencoba mengingat sesuatu.

“Kak Snotra tahu itu diagram sihir apa?” Aku nyaris berteriak, karena suara angin begitu memekakkan telinga.

“Tentu saja aku tahu, kurasa Eiwa juga sudah bisa menduga kan?”

“Ya, tapi itu apa sebenarnya?”

“Entahlah, kita akan lihat nanti.” Continue reading “Eiwa 23 – Kewaskitaan Eileen”

Eiwa 22 – Langit Membuka Jalan

Apakah Nona Snotra seorang kesatria sihir? Tapi bukankah Nona Snotra sendiri yang berkata bahwa dia seorang penyihir? Sementara aura pedang yang kurasakan tadi, mau tidak mau tidak akan muncul jika seseorang tidak berlatih pedang selama puluhan atau ratusan tahun hingga mencapai kesempurnaan dan tahap tertinggi – Seraf Pedang.

Tampaknya Nona Snotra memahami pertanyaan yang muncul dalam benakku, dia membelai kelapaku dan berkata, “Eiwa, saat waktunya tiba, kamu akan belajar pedang dari yang terbaik. Namun saat ini, manfaatkan waktu untuk berlatih sihir dengan sepenuh hati. Bukankah kamu ingin menolong negerimu yang diambang bahaya? Berusaha menangkap dua merpati sekaligus bisa membuat kehilangan kesempatan mendapatkan seekor merpati.”

Aku terdiam, aku paham apa yang disampaikan oleh Nona Snotra. Dengan bahaya yang masih mengancam Glaedwine hanya tinggal beberapa belas hari saja. Aku harus berlatih sebaik-baiknya. Walau pun dengan kemampuanku saat ini setara Santomagi, namun tidak ada jaminan pihak musuh juga tidak memiliki kartu mereka sendiri. Continue reading “Eiwa 22 – Langit Membuka Jalan”

Eiwa 21- Tiada Sihir yang Tak Retak

Alkisah seorang laki-laki perkasa beladiri dengan gagahnya, rambut panjangnya terbuai dalam tiupan angin yang bercampur aroma darah. Tampak tiga sayatan dalam yang merobek dadanya, sementara darah segar mengucur di ke atas tanah yang luluh-lantah.

Tak jauh darinya, terbaring seekor naga bercakar-tiga yang langka dengan kondisi yang jauh lebih parah dari laki-laki perkasa tadi. Tiga dari empat tanduk peraknya patah, ratusan sisiknya berceceran penuh darah, dan ribuan lagi patah, gosong, beku, atau berubah wujud mengerikan. Orang bisa membayangkan berapa banyak mantra sihir yang digunakan untuk merobohkan sosok hewan sakral tersebut.

Namun, sebelum berbicara lebih jauh lagi, sosok lagi perkasa itu tidak lain adalah aku – Eiwa! Continue reading “Eiwa 21- Tiada Sihir yang Tak Retak”